Ada yang istimewa di hari Jumat pagi itu. Ya, selepas doa bersama dan istighotsah yang dilaksanakan seluruh warga sekolah, ada kesibukan tersendiri di dapur Bintaraloka.
Memotong waluh, dokumentasi Bu AmiMemasak kolak, dokumentasi pribadi
Tampak beberapa guru mengupas dan memotong pisang, nangka dan waluh. Sementara di kompor, satu panci besar santan sedang dimasak.
Aha, rupanya sedang ada kesibukan membuat hidangan istimewa berupa kolak.
Tentang kolak
Santan , pisang, dan daun pandan direbus bersama, dokumentasi pribadi
Dari berbagai sumber didapatkan keterangan bahwa kolak berasal dari kata khalik yang artinya pencipta.
Zaman dulu para wali menggunakan adat dan kebiasaan setempat sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ada banyak hidangan yang dipakai sebagai media penyebaran agama. Hidangan hidangan tersebut mempunyai filosofi tertentu dan kolak adalah salah satunya.
Nama kolak yang berasal dari kata khalik mengandung makna bahwa kita harus selalu mengingat pada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Pembuatan kolak sendiri tidak begitu rumit. Pertama, siapkan bahan berupa santan kelapa, gula merah atau gula putih, daun pandan dan isian kolak. Isi bisa bermacam-macam sesuai selera. Yang digunakan sebagai isi siang itu adalah waluh, pisang dan nangka.
Kedua, rebus semua bahan jadi satu , kecuali nangka. Ya, nangka dimasukkan terakhir saat santan sudah mendidih supaya aromanya tidak hilang.
Jika sudah mendidih, masukkan kolak ke dalam mangkuk dan siap untuk dinikmati.
Apa filosofi lain dari kolak?
Kolak sudah hampir matang, dokumentasi pribadi
Kolak selalu menggunakan santan (santen dalam bahasa Jawa). Santen bermakna pangapunten atau mohon maaf. Artinya sebagai sesama manusia kita harus bisa saling memaafkan karena manusia tempatnya salah. Kita sering melakukan kesalahan pada sesama baik disengaja maupun tak disengaja.
Dalam kolak sering digunakan umbi-umbian atau polo pendem. Maknanya jika sudah saling memaafkan mari kita pendam segala kesalahan yang sudah dilakukan.
Kolak selalu mempunyai rasa manis, maknanya dengan selalu mengingat pada Sang Khalik, saling memperbaiki hubungan dengan sesama manusia semoga hidup kita akan terasa manis.
Hmm, filosofi indah dari sebuah hidangan kolak. Dan ups… Ternyata kolak sudah matang dan siap dinikmati.
Siap untuk dinikmati , dokumentasi pribadi
Mari kita nikmati hangatnya semangkuk kolak lengkap dengan keindahan filosofinya…. 🙂
Merah putih benar benar mewarnai Bintaraloka pagi itu. Asseroris dan perlengkapan dengan nuansa merah putih bertebaran di mana-mana. Ada bendera, sticker, pita, topi dan banyak lagi. Beberapa siswa bahkan membawa spanduk untuk perlengkapan kelas. Ya, pagi itu, sehari sebelum 17 Agustus diadakan Perayaan HUT RI ke 78 di sekolah.
Siap jalan sehat , dokumentasi Pak FabiJalan sehat, dokumentasi Addin
Acara hari itu ditandai dengan jalan sehat yang diikuti seluruh warga sekolah. Rute yang diambil tidak begitu jauh. Sekitar Jl Dr Cipto, Jl. Diponegoro, Jl Thamrin dan kembali lagi ke SMP Negeri 3.
Peserta jalan sehat , dokumentasi Addin
Seperti tahun- tahun kemarin berbagai lomba diadakan untuk memeriahkan perayaan ini.
Berbagi ceria di lomba tujuh belasan,dokumentasi Fabi
Lomba fashion, balap karung, estafet air, pecah plastik, estafet bola pingpong, tarik tambang dan banyak lagi. Jenis lomba selalu bervariasi karena setiap angkatan mempunyai kreativitasnya sendiri sendiri.
Setelah gerak jalan, kegiatan dilanjutkan dengan lomba fashion. Agar peserta lebih bersemangat fashion diawali dengan penampilan bapak dan ibu guru.
Fashion guru, Dokumentasi Fabi
Aha, bagaimana rasanya tiba-tiba menjadi ‘model dadakan’? Yang pasti seru.
Sesudah lomba fashion lomba yang lainpun menyusul. Agar berjalan sesuai waktu yang ditentukan, lomba diadakan di beberapa lokasi. Pelaksanaan dikoordinasi oleh OSIS dan Kesiswaan.
Semua kelas wajib mengirimkan wakil untuk menjadi peserta dari setiap mata lomba. Bukan hanya siswa, guru juga harus berpartisipasi dalam berbagai lomba yang diadakan.
Gembira merayakan HUT RI selalu menjadi agenda rutin sekolah tiap tahun. Bukan sekedar hura-hura, tapi ada banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini. Di antaranya adalah :
Satu : Meningkatkan keakraban dan kekompakan kelas. Ya, mengirim wakil, memberi dukungan pada wakil kelas membuat warga kelas merasa senasib sepenanggungan. Kemenangan kelas adalah kegembiraan bersama.
Lomba teklek, dokumentasi pribadi
Dua: Menanamkan semangat juang dan belajar berkompetisi secara sehat. Setiap wakil kelas akan berjuang semaksimal mungkin agar mendapat hasil yang terbaik. Namun demikian jika belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan tidak perlu kecewa. Kalah dan menang dalam kompetisi adalah sesuatu yang biasa.
Tiga: Meningkatkan rasa percaya diri dan tanggung jawab peserta. Peserta yang sudah dipilih dan dipercaya oleh warga kelas tentunya harus tampil secara maksimal agar hasilnya tidak mengecewakan. Tampilan yang maksimal memerlukan rasa percaya diri yang kuat, utamanya untuk lomba -lomba yang bersifat individu, seperti pecah air atau joget ambyar.
Empat : Meningkatkan gotong-royong dan kerjasama siswa. Banyak lomba yang memerlukan kerjasama siswa, seperti estafet air, oper bola pingpong juga tarik tambang. Kerjasama dan kekompakan amat menentukan keberhasilan tim peserta lomba.
Suasana merah putih di area lomba, dokumentasi pribadi
Hari yang luar biasa. Ada yang berteriak gembira karena menang. Ada yang tergelak melihat kelucuan tampilan peserta, dan banyak pula yang memberikan semangat pada kelasnya. Lapangan benar-benar penuh dengan sorak sorai warga sekolah.
Akhirnya semoga perayaan HUT RI ke 78 ini bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan kekompakan dan kerjasama warga sekolah dalam menghadapi berbagai tantangan yang akan dihadapi demi kemajuan bersama.
Cerdas Cermat adalah sebuah lomba atau permainan dimana ada beberapa regu yang diberi pertanyaan, dan regu-regu tersebut berebut menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.
Cerdas cermat tentunya bukan hal yang asing bagi kita semua. Dalam beberapa event lomba ini masih sering diadakan. Tujuan utamanya untuk mengasah kemampuan kognitif pesertanya.
Zaman saya masih sekolah dulu, TVRI selalu menayangkan acara Cerdas Cermat satu minggu sekali. Pernah menggunakan judul Cepat Tepat ataupun Cerdas Cermat.
Cepat Tepat , sebuah acara di salah satu stasiun televisi, sumber gambar: Sumsel Satu
Bahkan ada acara TVRI zaman dulu yang menggunakan konsep Cerdas Cermat yaitu Kelompencapir.
Kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa) diadakan dengan peserta para petani dan diberi pertanyaan berkisar tentang dunia pertanian. Biasanya Kelompencapir ditayangkan di akhir acara Dari Desa ke Desa. Seru sekali.
Semangat Cerdas Cermat , dokumentasi pribadi
Dalam beberapa hari ini pembelajaran matematika dengan Cerdas Cermat dilakukan di kelas 7.1 dan 7.2.
Tujuannya jelas, agar siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran matematika.
Siswa begitu antusias dalam mengikuti cerdas cermat di kelas kali ini. Tepuk tangan berkali kali terdengar. Guru membacakan soal demi soal, sementara siswa yang dibagi menjadi empat regu bergantian menjawab.
Semangat Cerdas Cermat, dokumentasi pribadi
Di dekat papan tulis ada siswa yang diberi tugas untuk menulis nilai yang diperoleh tiap regu.
Nilai seratus langsung dihadiahkan pada regu yang bia menjawab soal dengan benar. Jika regu yang ditunjuk tidak mampu menjawab benar, maka pertanyaan dilempar pada regu yang lain. Regu yang bisa menjawab benar pertanyaan tersebut mendapat nilai 75.
Aha, suasana semakin seru. Apalagi ketika babak adu cepat. Siswa saling membantu menghitung dan memberikan semangat pada temannya yang menjawab.
Lalu bagaimana persiapan sebelum pembelajaran dengan Cerdas Cermat ini dilaksanakan?
Membagi siswa menjadi empat kelompok. Karena kebetulan jumlah siswa di kelas saya adalah 32, maka tiap kelompok berisi empat siswa.
Memastikan bahwa komposisi kelompok berimbang. Ada siswa dari kemampuan level atas, sedang juga bawah. Ini bisa dipilah dari hasil test diagnostik.
Membuat perangkat soal. Soal yang diberikan pada empat regu harus berimbang tingkat kesulitannya dan materinya sama, supaya adil.
Cerdas Cermat menggunakan materi di mana siswa harus memecahkan masalah sederhana dan cepat. Seperti melakukan operasi hitung, tanya jawab yang merupakan uji pengetahuan. Materi yang rumit dan memerlukan analisa kurang pas untuk metode ini.
Harapannya dengan Cerdas Cermat siswa akan semakin menyukai matematika.
Siswa menyimak pertanyaan dalam Cerdas Cermat, dokumentasi pribadi
Ya, berawal dari suka pada matematika tentunya siswa akan lebih bersemangat dalam belajar matematika dan pada akhirnya prestasi merekapun akan semakin meningkat.
Apa guna keluh kesah Apa guna keluh kesah Pramuka tidak kenal bersusah Apa guna keluh kesah
Lagu-lagu penyemangat diperdengarkan pagi itu di kawasan Jl. Simpang Balapan Malang. Meski pagi begitu dingin, wajah wajah tampak begitu berseri di area CFD Malang.
Siswa SD, SMP dan SMA memenuhi jalan dengan berbagai atribut pramuka mereka. Tanda-tanda kecakapan khusus, juga aksesoris tertentu membuat penampilan mereka kali ini begitu istimewa.
Suasana persiapan peserta, dokumentasi pribadi
Ya, hari ini diadakan Lomba Gerak Jalan Kreasi yang yang diadakan Kwarcab Kota Malang sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka di Kota Malang
Menurut penjelasan Kak Herry Ka. Kwarcab Kota Malang, lomba ini diikuti sekitar 300 calon Pramuka Garuda yang terbagi dalam regu regu sesuai sekolah masing-masing.
Suasana pemberangkatan peserta oleh Kak Herry, dokumentasi pribadi
Dalam lomba kali ini regu Bintaraloka mendapat nomor peserta 10.
Peserta terdiri atas pramuka putera dan puteri dengan dipimpin oleh pratama Yoga Bara Putra, siswa kelas 9 SMP Negeri 3 Malang.
Penampilan Bintaraloka pagi ini begitu luar biasa. Atraksi dengan menggunakan bendera Morse, gerakan-gerakan yang menghentak dan asyik membuat penonton berkali-kali memberikan applaus untuk tampilan mereka.
Aksi Pramuka Bintaraloka, dokumentasi pribadi
Sesudah atraksi di hadapan dewan juri, peserta melakukan gerak jalan di area Car Free Day. Penilaian terhadap peserta juga dilakukan di sepanjang jalan yang dilalui peserta.
Penampilan salah satu peserta , dokumentasi pribadi
Sebuah kerja keras akan memberikan hasil yang manis. Itulah yang terjadi pagi ini. Hasil kerja keras Pramuka Bintaraloka akhirnya membuahkan gelar juara satu dalam Lomba Gerak Jalan Kreasi pagi ini.
Para pendamping, dokumentasi Hertika
Akhirnya selamat tim Bintaraloka. Baik pada peserta maupun pendamping. Semoga gelar juara kali ini bisa menjadi inspirasi bagi siswa yang lain untuk lebih berprestasi.
Malam semakin larut. Jam dinding mengeluarkan bunyi tik…tik…tik… Jarum-jarumnya seperti berkejar-kejaran. Beberapa saat lagi pasti akan menunjukkan pukul delapan.
Nodi mulai menguap. Anak yang masih duduk di kelas empat SD itu sudah mulai mengantuk. Berkali-kali dikucek-kuceknya matanya yang mulai terasa berat.
PR dari Bu Guru tinggal satu nomor lagi.
“Buk, pahlawan itu apa?” tanya Nodi sambil memandang Ibuknya yang duduk tak jauh darinya.
Ibuk meletakkan jahitan tangannya. Setiap malam Ibuk selalu menemani Nodi dan adik-adiknya belajar.
“Orang yang berjasa untuk bangsa dan negara,” jawab Ibuk.
“Orang yang berjuang untuk kemerdekaan?” tanya Nodi lagi.
“Bisa..,” kata Ibuk sambil mengangguk.
“Kalau sudah merdeka berarti tidak ada pahlawan, ya?” lanjut Nodi.
“ Eh, orang yang berjuang untuk kemajuan lingkungan sekitarnya juga bisa disebut pahlawan, Le,” ralat Ibuk kemudian.
“Berarti bukan yang berjuang di zaman kemerdekaan saja ya Buk?”
Ibuk tersenyum melihat semangat bertanya Nodi, “Tidak, Nodi.., sekarangpun banyak pahlawan. Ada pahlawan kebersihan, pahlawan pendidikan, dan banyak lagi..,”
“PR Nodi sudah selesai?” tanya Ibuk sambil meraih buku tulis Nodi dan memeriksanya.
Nodi menggeleng.
“Nodi masih bingung dengan satu pertanyaan, tapi itu buat minggu depan, Buk,” jawab Nodi.
“Apa pertanyaannya?” tanya Ibuk.
“Sebutkan contoh sosok pahlawan atau pejuang di lingkungan sekitarmu,”jawab Nodi. Ia menguap lagi.
Demi melihat Nodi yang semakin mengantuk, Ibuk membantu Nodi merapikan buku-bukunya.
“Tidur saja,Le, besok dilanjutkan,”
Nodi mengangguk. Ia segera berangkat ke kamar dan tak berapa lama kemudian iapun mengikuti jejak kedua adiknya yang sudah tertidur pulas.
****
Minggu yang cerah. Tidak ada yang lebih indah daripada hari Minggu. Hari dimana semua bisa dikerjakan dengan irama yang santai. Hari di mana Nodi bisa berlama-lama dengan bapak, ibuk dan adik-adiknya di rumah.
Nodi berlari menyambut bapak yang membawa dua keranjang penuh belanjaan. Bapak baru saja pulang dari pasar. Cepat-cepat Nodi meraih satu keranjang. Dua adiknya yang masih kecil ikut di belakangnya.
“Berat Le, hati-hati.., ” kata bapak Nodi sambil tersenyum.
“Haa segini sih, keciiil.., ” kata Nodi sambil menjentikkan jarinya. Adin dan Sisi adiknya mengikuti tingkah Nodi dengan lucu.
Dengan cekatan Nodi membawa keranjang itu ke dapur di mana Mas No dan Mas Pri sudah menunggu. Mas No dan Mas Pri adalah orang yang bekerja pada Bapak Nodi. Keduanya bekerja di rumah Nodi sejak Nodi masih duduk di TK.
Bapak Nodi adalah pembuat dan penjual bakso Malang. Bakso yang terkenal lezat dengan isinya yang bermacam-macam. Banyak yang mengatakan, jika pergi ke Malang selalu sempatkan membeli bakso Malang, ditanggung pasti ketagihan.
Tiap hari di rumah Nodi selalu ada kesibukan membuat bakso. Aroma daging giling yang diberi bumbu dan berbentuk bulat itu selalu memenuhi rumah yang tak begitu besar itu. Selain membuat bakso, Mas No dan Mas Pri juga membuat siomay, tahu kukus dan siomay goreng.
Saat libur Nodi selalu ikut membantu. Tugasnya adalah menggulung mie. Dengan telaten bapak mengajarinya. Ya, berbeda dengan bakso Solo yang mie nya diurai, bakso Malang mienya digulung.
Biasanya semua pekerjaan itu selesai menjelang duhur, dan sesudah istirahat sejenak, bakso mulai dijual berkeliling kampung.
Nodi selalu ingat cerita ibuk tentang perjuangan bapak dalam berjualan bakso. Dari mulai punya satu gerobak hingga akhirnya mempunyai tiga gerobak. Ketiganya dijalankan oleh bapak, Mas No dan Mas Pri.
Sumber gambar: Bakso Endeus
Sesekali ibuk juga membantu membuat bakso, meski dalam keseharian ibuk lebih banyak disibukkan oleh menemani Nodi dan kedua adiknya.
Dengan berjualan bakso bapak bisa menampung tenaga kerja dari orang -orang sekitar rumah. Seperti Mas No dan Mas Pri. Bahkan Ketika ada pesanan yang banyak beberapa tetangga membantu di rumah, dan tentu saja oleh Bapak akan diberi sedikit uang lelah.
Dalam berbagai acara kampung bapak Nodi juga sering memberikan sumbangan. Misal ketika kemarin ada rapat persiapan HUT Proklamasi, Bapak Nodi hadir dan menyediakan konsumsi untuk panitia yang hadir.
Apa konsumsinya? Semangkuk bakso tentu! Semua sudah kenal dengan lezatnya Bakso Pak Man, bapak Nodi.
Pendeknya bapak benar-benar sosok yang sangat membanggakan. Kerja keras, kesabaran dan kedermawanannya adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh Nodi dan adik-adiknya.
Malam itu sehabis sholat Isyak bapak menghampiri Nodi yang sedang tekun belajar.
“PR ,ya Le? “
Nodi menghentikan pekerjaannya.
“Benar Pak, “jawabnya.
Bapak mengelus kepala Nodi dengan bangga.
“Sekolah yang pinter ya Le, biar nanti hidupmu enak.., jauh lebih sukses dari Bapak, ” kata bapak Nodi lagi.
Nodi tersenyum.
” Iya Pak, tapi Nodi nanti ingin tetap berjualan bakso, seperti Bapak, ” jawab Nodi.
Bapak Nodi terkejut.
“Nodi ingin sekolah yang pintar, berjualan bakso dengan armada yang lebih banyak, Nodi juga ingin punya restoran bakso dan bisa buka cabang di mana-mana, ” lanjut Nodi yakin.
Terima kasih Bapak, Bapak telah memberi banyak teladan pada Nodi. Tentang bagaimana berjuang dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga, bahkan membantu orang-orang sekitar.
Tiba-tiba Nodi tahu, apa jawaban dari pertanyaan di PR kemarin. Ya, Nodi sudah menemukan sosok pahlawan atau pejuang itu. Bapak adalah pahlawanku, bisik hati kecil Nodi.