Mengenal Sejarah, Sebuah Cara untuk Lebih Mencintai Kota Tempat Tinggal Kita

Ketika kita berkeliling kota Malang, pernahkah kita memikirkan apa sejarah di balik keindahan Balai Kota? Jalan Ijen atau Kayutangan? Bagaimana rencana tata kota di zaman dulu sehingga Malang bisa tertata seperti sekarang ini?

Betapa banyak bangunan atau tempat bersejarah yang kita lalui tiap hari, tapi kita sendiri sebagai warga Malang tidak tahu cerita apa yang ada di balik bangunan tersebut.

Berkaitan dengan dengan hal tersebut, maka salah satu kegiatan dari kokurikuler kelas sembilan yang mengambil tema ” Malang Heritage”, mengundang seorang pemerhati sejarah untuk memberikan paparan tentang berbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kota Malang. 

Acara yang berlangsung sekitar dua jam ini dilaksanakan pada hari Kamis (15/10), dan diikuti sekitar 280 siswa dengan narasumber Pak Irawan, seorang pemerhati sejarah yang merupakan Arema asli.

Siswa mengajukan pertanyaan tentang bangunan bersejarah di Kota Malang, dokumentasi pribadi

Acara demikian gayeng. Siswa  mengikuti semua penjelasan narasumber sembari membuat catatan. Ada rasa takjub ketika melihat foto-foto di masa lalu. Betapa sepi dan  indahnya kota Malang saat itu. Seperti dalam dongeng, mungkin itu yang terbersit dalam benak mereka.

Narasumber membuka penjelasan dengan sebuah pertanyaan apakah siswa tahu akan sejarah SMP Negeri 3 Malang?

SMP Negeri 3 Malang, dulu bernama MULO Wilhelmina, sumber gambar: koleksi Bintaraloka

Sekilas sejarah SMP Negeri 3 Malang, dulu sekolah ini bernama MULO Wilhelmina. Dan dinamakan Wilhelmina karena berlokasi di Jalan Wilhelmina yang kemudian berubah menjadi jalan Dr Cipto. 

“Jalan Wilhelmina ini adalah distrik pertama yang dibangun di Kota Malang,” lanjut Pak Irawan.

Dijelaskan lebih lanjut, pembangunan tata ruang Kota Malang telah dikembangkan sejak era kolonial Belanda. 

Pengembangan tata kota ini dibuat berdasarkan Bouwplan atau rencana pembangunan kota. Bouwplan di Malang dirancang oleh kotapraja Malang dengan memanfaatkan perspektif kedudukan gunung di sekeliling dan sungai yang membelah kota. Rancangan tata kota ini menjadi rancangan kota terbaik di Hindia Belanda saat itu.

Delapan Blouwplan untuk pengembangan Kota Malang saat itu meliputi:

Pelaksanaan Blouwplan I dimulai pada Mei 1917 yaitu dengan keputusan untuk membangun perumahan bagi orang Eropa. Perumahan baru ini dinamakan Oranjebuurt atau daerah Orange yang dihuni keluarga kerajaan Belanda. Ini adalah  perumahan pertama di Malang. 

Daerah Oranjebuurt banyak menggunakan nama anggota keluarga kerajaan Belanda sebagai nama jalan. Mulai Wilhelmina Straat (sekarang Jalan Dr Cipto), Juliana Straat (Jalan RA Kartini), Emma Straat (Jalan Dr Sutomo), Willem Straat (Jalan Diponegoro), Maurits Straat (Jalan MH Thamrin) hingga Sophia Straat (Jalan Cokroaminoto).

Perencanaan tata kota selanjutnya adalah Blouwplan II yang difokuskan untuk kawasan pusat pemerintahan yang mulai dibangun pada tahun 1922. Kawasan ini dinamai Gouverneur-Generaalbuurt yang meliputi Gedung Balai Kota Malang, Alun Alun Tugu Kota Malang, Hotel Splendid hingga sekolah SMA Negeri Tugu.

Kawasan ini banyak menggunakan nama gubernur jenderal terkenal era Hindia Belanda seperti Daendels boulevard (sekarang Jalan Kertanegara), Van inhoff straat (Jalan Gajahmada), Speelman straat (Jalan Majapahit), Maetsuucker straat (Jalan Tumapel), Riebeeck straat (Jalan Kahuripan), Van Oudthoorn straat (Jalan Brawijaya), Idenburg straat (Jalan Suropati), Van den Bosch (Jalan Sultan Agung), Van Heutz straat (Jalan Pajajaran) hingga Van Der Capellen Straat (Jalan Sriwijaya).

Bouwplan III menjadi rencana perluasan kota berikutnya, yaitu pembangunan kawasan pemakaman untuk orang Eropa di Kecamatan Sukun yang kini dikenal sebagai Kuburan Londo. Luasnya mencapai 3.740 meter persegi.

Kuburan Londo Sukun , Sumber gambar: Telusuri

Bouwplan IV dilaksanakan mulai tahun 1920 dengan  pembangunan perumahan kelas menengah ke bawah di daerah Celaket dan Lowokwaru.

Pembangunan Jalan Ijen, kawasan olah raga di kawasan Semeru masuk dalam Bouwplan V.  Prencanaan tata kota dalam Blouwplan V ini  ini  kental akan pertemuan jalan besar dengan hiasan taman bunga.

Bouwplan VI pada 1932-1940 dimulai dengan pembangunan perumahan Eilandenbuurt atau daerah pulau pulau. Seperti Jalan Lombok, Jalan Jawa, Jalan Sumba, Jalan Flores, Jalan Madura, Jalan Bali, Jalan Kangean, Jalan Bawean, Jalan Sapudi hingga Jalan Seram.

Selain itu, pasar pasar rakyat seperti Pasar Bunul, Pasar Kebalen, Pasar Oro oro Dowo, Pasar Embong Brantas, Pasar Lowokwaru, Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo menjadi bagian dari Bouplan VI yang dibangun pada tahun 1932 hingga 1940.

Jalan Semeru, sumber gambar: Best Juliant

Bouwplan VII menjadi perencanaan lanjutan dari Bouwplan V yang dimulai pada 1940. Pembangunan ini menjadi pengembangan kawasan Jalan Ijen, yakni dengan dibangunnya perumahan elit.

Terakhir, Bouwplan VIII yang dimulai pada 1935-1942 dengan area seluas 179.820 meter persegi. Area ini dibangun untuk kawasan industri yang lokasinya dekat dengan jalur rel kereta api. Kawasan industri itu bisa ditemui di wilayah sekitar Stasiun Kota Lama dan area perluasannya di Blimbing yakni di Jalan Tenaga.

Pembangunan ala kolonial Belanda ini akhirnya berhenti seiring dengan masuknya Jepang ke Malang pada 1942, dan selanjutnya pembangunan dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.

Sebelum acara tanya jawab narasumber juga menjelaskan tentang Monumen Pahlawan TRIP yang merupakan makam dari 35 Tentara Republik Indonesia Pelajar yang gugur dalam agresi militer Belanda pada bulan Juli 1947.

Monumen Pahlawan TRIP, dokumentasi pribadi

Tanya jawab dan diskusi berlangsung sangat menarik. Pak Irawan beberapa kali memberikan pertanyaan yang langsung dijawab dengan antusias oleh anak- anak.

Beberapa pertanyaan juga muncul dari anak anak. Misal mengapa dinamakan Kota Malang? Mengapa beberapa sekolah Zaman Belanda memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan?

Belajar sejarah  adalah sebuah cara yang hangat untuk  mencintai kota tempat tinggal kita.

Sebuah pembahasan menarik muncul juga tentang jembatan Buk gluduk.

Ya, jembatan yang berdekatan dengan stasiun Kota Baru ini masih kokoh berdiri sejak dibangun tahun 1890-1897. Dinamakan Buk gludug karena jembatan kayu ini berbunyi ‘gludug-gludug’ ketika dilewati pedati atau cikar. Kata ‘buk’ berasal dari kata ‘brug’ dalam bahasa Belanda yang artinya jembatan. Alhasil, jembatan inipun dinamakan ‘Buk Gludug’.

Jembatan buk gluduk, dokumentasi Pak Ir

Hari yang luar biasa. Antusias siswa, kesabaran narasumber dalam menjawab pertanyaan serta memberikan paparan adalah chemistry yang sangat mengasyikkan untuk bersama-sama belajar sejarah Kota Malang.

Di balik tempat tempat yang hampir tiap hari kita lalui, ternyata banyak tersimpan cerita yang mungkin belum kita ketahui. Adalah penting untuk mengetahui sejarah kota kita. Tahu sejarah membuat kita merasa menjadi bagiannya, bahkan mencintainya, karena belajar sejarah  adalah sebuah cara yang hangat untuk  mencintai kota tempat tinggal kita.

Salam dari Kota Malang 😊

Hotel Pelangi, Saksi Sejarah yang Berulangkali Ganti Nama

Jam menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Ruang makan hotel sudah mulai ramai oleh para peserta pelatihan. Saya segera mengambil piring. Saya pilih nasi, sop, ayam goreng, tempe dan jus jeruk sebagai minumannya.

Saya mengambil tempat duduk di meja makan yang berisi empat orang. Tiga orang teman  sudah duduk sambil menikmati hidangan. Teman yang mendadak kenal pas pelatihan. Sama sama guru dari SMP, SMA dan SMK di kabupaten dan kota Malang.

Suasana ruang makan, dokumentasi pribadi

Sambil menikmati hidangan kami ngobrol ringan. Tentang apa saja. Yang terbanyak adalah tentang daerah sekitar hotel tempat kami mendapatkan pelatihan.

Lagu diperdengarkan di ruang makan dengan suara yang tidak terlalu keras. Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Beri Aku Nasi Goreng). Sebuah lagu yang digubah oleh Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien pada tahun 1977.

Lagu yang bercerita tentang kerinduan Wieteke pada makanan Indonesia.

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij..

Belum selesai. Selanjutnya suasana dihangatkan oleh lagu Bunga Anggrek (Als de Orchideen Bloeien) gubahan Ismail Marzuki.

Vibesnya benar-benar terasa…Kuno tapi menyenangkan.

*****

Hotel Pelangi di malam hari, dokumentasi pribadi

Sejak tanggal 18 Agustus kemarin saya mendapatkan tugas untuk mengikuti sebuah pelatihan menulis. Pelatihan ini diikuti oleh guru guru SD, SMP, SMA dan SMK yang ditunjuk.

Pelatihan yang dilaksanakan sampai tanggal 20 Agustus ini diadakan di Hotel Pelangi Jl. Merdeka Selatan sekitar Alun alun Merdeka Malang. 

Sangat menarik, karena hotel yang berjarak kira kira 10 menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumah ini setiap hari saya lewati. Tapi tak pernah sekalipun saya menginap di sini.

Dulu sekali saya pernah masuk ke sini karena  mendapat undangan untuk halal bihalal, tapi itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Tentang Hotel Pelangi

Hotel Pelangi termasuk salah satu bangunan kuno di Kota Malang, dokumentasi pribadi

Begitu mendengar kata Hotel Pelangi banyak di antara teman-teman saya yang memberi tanggapan menarik. Horor, singup, antik dan banyak lagi. Semua berintikan pada satu hal yaitu hotel ini termasuk bangunan kuno, dan seperti lazimnya bangunan kuno pasti ada cerita cerita ‘lain’ di baliknya.

Hotel ini memang sangat menarik. Nuansa lampau sangat terasa, hingga tak salah jika sejak tahun 2016 hotel ini dimasukkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

Syarat sebuah bangunan dapat dijadikan cagar budaya di antaranya memiliki usia lebih dari 50 tahun, masa jaya juga lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai sejarah, dan Hotel Pelangi telah memenuhi semua itu.

Hotel Lapidoth, sumber gambar: ngalam Wearemania.net

Hotel yang dibangun pada tahun 1860 ini semula bernama Hotel Lapidoth, sesuai nama pendirinya yaitu Abraham Lapidoth, seorang pengusaha Belanda yang tinggal di Malang.

Lapidoth membangun hotel ini karena melihat prospek yang bagus dari Malang sebagai tempat wisata, dan benar saja di masa itu Hotel Lapidoth ternyata mendapat banyak kunjungan wisatawan.

Seiring berjalannya waktu di tahun 1870 dimana di Indonesia sedang dilakukan tanam paksa, di Malang sedang digalakkan penanaman kopi dan tebu. 

Malang semakin mendapat banyak kunjungan dari pengusaha dan pekerja, dan nama hotel berubah menjadi Hotel Malang.

Pada tahun 1908 setelah Abraham Lapidoth meninggal, hotel ini berpindah pengelolaannya pada pemerintah Hindia Belanda. Nama hotel berubah menjadi Hotel Palace.

Pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia, termasuk juga Kota Malang nama hotel berubah lagi menjadi Hotel Asoma.

Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1945 ketika Jepang kalah, hotel kembali beralih nama menjadi Hotel Palace. 

Tahun 1947 Hotel Pelangi dibumihanguskan Belanda, sumber gambar: Malang Tugu.id

Di masa agresi militer pertama tahun 1947 ketika Malang dibumi hanguskan, Hotel Palace mengalami imbasnya dan mengalami kerusakan di bagian menara kembarnya.

Akhirnya hotel ini dibeli oleh seorang pengusaha kontraktor dari Banjarmasin yang bernama H. Sjachran Hoesin. Tahun 1953 hotel ini diberi nama Hotel Pelangi. Arsitektur hotel tetap dipertahankan dengan nuansa kolonial yang demikian kental.

Berjalan dan menikmati interior hotel ini membawa kita seolah terlempar ke masa lalu. Di bagian pintu masuk ruang makan terdapat tulisan Lodji coffeeshop dengan angka tahun 1915.

Depan pintu masuk ruang makan, dokumentasi pribadi

Potret Malang Tempo Dulu yang bertebaran di mana mana membuat kita teringat pada masa lalu, seperti jalan kereta api di Embong Brantas, Kantor Pos, gambar bemo kendaraan bermotor di saat itu dan banyak lagi.

Foto Pasar Besar tempo dulu, dokumentasi pribadi
Kantor Pos tempo dulu, dokumentasi pribadi

Lukisan keramik yang ada di ruang makan juga tampak demikian cantik, menggambarkan suasana pedesaan Belanda di masa lalu.

Lukisan keramik suasana desa Belanda, dokumentasi pribadi

Balkon yang ada di ruang makan juga tampak unik. Saya langsung membayangkan film zaman dulu yang ada adegan pesta atau berdansa bersama, lalu sang pemilik pesta muncul di balkon. Aha…

Ada berbagai cerita yang mewarnai hotel ini sehingga hotel ini agak angker menurut sebagian orang. Tidak salah kalau sebelum berangkat pelatihan teman saya berkata dengan nada bergurau,” Nanti kabari kalau sudah ketemu dengan Noni Belanda ya…,” Waduh… .

Sejarah Hotel Pelangi, dokumentasi pribadi

Begitulah sedikit cerita tentang Hotel Pelangi. Dengan arsitektur dan nuansa yang demikian khas, hotel ini telah berulang kali ganti nama, sebagai penanda dan saksi sejarah berbagai peristiwa yang terjadi di Malang kota tercinta. 

Salam dari Kota Malang.

Dari Arena Pekan Seni dan Keterampilan (Pentas) PAI Kota Malang 2023

Sabtu pagi itu suasana di SMP Negeri 6 Malang lebih ramai dari biasanya. Meski seharusnya Sabtu adalah hari libur, tampak kesibukan di masjid dan kelas-kelas sekitarnya. Ya, hari itu diselenggarakan Pentas PAI Tingkat SMP se Kota Malang.

Tentang Pentas PAI

Lomba cerdas cermat, dokumentasi pribadi

Pekan Ketrampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) adalah ajang unjuk keterampilan dalam bidang keagamaan, yang diadakan mulai tingkat kota, provinsi dan nasional.

Dari situs kemenag RI, tujuan Pentas PAI ini adalah:

Suasana lomba cerdas cermat PAI, dokumentasi Utien

a. Memberikan kesempatan kepada para siswa yang beragama Islam untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri, bakat, minat, kemampuan dan potensi pada aspek ketrampilan dan seni Pendidikan agama Islam.

b. Membangun aspek Emotional Quotien dan Spiritual Quotioen yang baik.

c. Membangun ukhuwah Islamiyah di kalangan guru, orang tua, siswa dan pengelola pendidikan.

Pelaksanaan Pentas PAI Kota Malang dibuka oleh Kepala kantor Kemeneterian Agama Kota Malang : H.Ahmad Shamton, S.Hi.

Lomba pidato PAI, dokumentasi pribadi

Sesudah pembukaan, kontingen masing-masing sekolah mulai berlaga di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Semua peserta berusaha menunjukkan performa terbaiknya. Adalah sebuah kebanggaan jika bisa membawa gelar juara yang bisa mengharumkan nama sekolah. Lebih-lebih, para juara akan mewakili kota Malang ke Pentas PAI di tingkat provinsi.

Lomba kaligrafi, dokumentasi Utien

Berbagai lomba yang diadakan dalam Pentas PAI adalah:

  1. Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), dengan juri Ustad Sulaiman Fadli dan
    H.M. Sholeh
  2. Pidato keagamaan, dengan juri Syamsul Arifin, M.Pd dan Drs. Nur Kholiq
  3. Cerdas Cermat PAI, dengan juri Muhammad Alfash Mufassirin, Ahfa Daffa ‘Alian Tarif
  4. Kaligrafi dengan juri Ust. Ony Setiawan dan Ust. Alvan Sujevri

Acara Pentas ditutup sore hari oleh Bapak Nur Wachid, S.Ag , selaku ketua MGMP PAI kota Malang.

Adapun juara-juara dalam Pentas PAI kota Malang tahun 2023 adalah sebagai berikut:

Hasil akhir Pentas PAI kota Malang 2023, dokumentasi Utien

Akhirnya selamat pada para peserta dan juara Pentas PAI. Semoga prestasi yang diperoleh bisa menjadi motivasi bagi para siswa yang lain untuk membuat prestasi yang membanggakan sekolah.

Sebuah Pagi di Car Free Day

Rungkad……Entek entekan
Kelangan kowe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu

Lagu dari Happy Asmara menghentak semangat kami pagi itu. Pertigaan Jalan Semeru dan Ijen sudah dipenuhi manusia. Ada yang menggunakan kostum komunitas masing-masing, banyak pula yang tidak. Tiap orang mengambil jarak sekitar dua lengan agar tidak saling bertabrakan ketika melakukan gerakan.

Pas di pertigaan ada sebuah panggung kecil untuk para pemandu senam.

Suasana Car Free Day, dokumentasi pribadi

Aha, itu adalah suasana Car Free Day di kawasan Semeru dan Ijen pagi ini.

Suasana Car Free Day kota Malang seperti biasa selalu ramai. Event yang di adakan setiap hari Minggu itu sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semua bergerak ( atau bergoyang?) selaras irama mengikuti sang pemandu senam. Ada sekitar lima orang yang menjadi pemandu senam di atas panggung. Gerakannya lincah, gemulai namun bertenaga.

Bergerak bersama , bergoyang bersama, dokumentasi pribadi

Wajah ceria tampak di mana-mana. Sedikit berlawanan dengan cuaca kota Malang pagi ini yang begitu mendung.

Selesai lagu Rungkad, irama mulai sedikit selow. Lagu Malang Seger berkumandang. Peserta senam semakin banyak, semua bergoyang sesuai irama. Saya dan dua orang teman menjadi bagian dari semuanya

Ketika irama beralih lebih keras, mulai dilakukan senam aerobik. Nah, ini…. Gerakan kami mulai tak karuan.

Ya, kami jarang ikut senam bersama seperti ini, jadi gerakannya jadi sering salah. Kami berpandangan sejenak lalu tertawa.

Jalan-jalan di CFD, dokumentasi pribadi

“Gak apa-apa… yang penting keluar keringat..,” kata teman saya menghibur diri, dan kamipun terus bergerak dengan penuh semangat.

Setelah empat lagu dan berkeringat, kamipun beranjak meninggalkan tempat senam. Jalan-jalan, itu agenda kami pagi itu.

Bagi kami warga Malang, Car Free Day selalu memiliki magnet tersendiri. Di kawasan itu tua, muda, anak kecil ikut bergembira bersama. Ada yang berjalan-jalan bersama keluarga, bertemu komunitas, bermain, mencari hiburan, promosi kegiatan, dan yang lainnya.

Berdatangan ke CFD, dokumentasi pribadi

Begitu banyaknya yang datang di CFD dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangannya. Dagangan bisa berupa makanan, baju, aksesoris juga mainan.

Penjual mainan di CFD, dokumentasi pribadi

Pedagang mainan ada di mana-mana. Persewaan mainan juga. Ada persewaan scooter yang mematok harga Rp10.000 tiap15 menit pemakaian. Wah, sangat menarik. Apalagi saya lihat penyewa scooter selalu datang silih berganti.

Persewaan scooter anak anak, dokumentasi pribadi

Di CFD kita juga bisa naik dokar (delman). Ongkosnya Rp10.000 perorang untuk satu kali naik. Sebenarnya kami ingin juga naik, tapi saat itu penumpang didominasi anak kecil, akhirnya kami mundur dulu.

Dokar dengan tarip Rp10.000,00 per orang, dokumentasi pribadi

Setelah sekian tahun tidak ke CFD, ada banyak yang berbeda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah makanan yang dijual.

Satu stand makanan yang begitu laris adalah stand yang menjual makanan kekinian. Nama makanannya banyak yang menggunakan bahasa asing sehingga kami tidak berani mampir.

Makanan kekinian, dokumentasi pribadi

He..he.. benar benar kurang update. Masalahnya sebenarnya cuma takut tidak cocok di lidah saja.

Setelah berputar-putar di lokasi perbelanjaan yang berada di halaman Museum Brawijaya, kami memutuskan untuk istirahat dan makan soto ayam di pujasera. Menurut informasi dari teman- teman, pujasera ini selalu buka meski tidak pas penyelenggaraan CFD.

Soto ayam maknyus, dokumentasi pribadi

Nah, di pujasera ini makanan yang dijual cukup akrab dengan lidah kami. Seperti rawon, ayam geprek, soto ayam, soto daging dan lain-lain. Minumnya? Kami pilih es degan saja. Tapi esnya sedikit, maklum, hari masih pagi.

Duduk di pujasera sambil mengamati lalu lalang orang-orang sungguh mengasyikkan. Kebetulan di dekat Pujasera adalah stand mainan anak berupa kolam tempat memancing. Banyak sekali anak kecil yang duduk di situ dengan didampingi orang tuanya.

Kolam pemancingan anak anak, dokumentasi pribadi

Tak lama menunggu, soto ayam yang kami pesan datang. Wow, satu mangkuk penuh. Nasi, soto ayam, telur, sambel dan kerupuk. Benar-benar hidangan pagi yang mantap.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Pulang, itu tujuan utama. Ya, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saatnya kami melakukan kegiatan yang lain di rumah.

Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan diri mampir ke pedagang aksesoris. Biasalah, emak-emak, selalu tidak tahan melihat barang-barang cantik. Di situ kami membeli beberapa jepit dan karet pengikat rambut.

Membeli aksesoris, dokumentasi pribadi

Menuju tempat parkir, kami harus melewati tempat kami senam tadi. Di lokasi senam pengunjung semakin banyak, irama lagu semakin menghentak dan tampak pesertanya banyak yang masih muda. Aih, cocok sekali dengan iramanya.

Di tempat parkir bergegas kami mengambil sepeda. Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas parkir sepeda kami melaju keluar lokasi CFD di sepanjang jalan Semeru.

Tampak banyak pengunjung yang berdatangan, demikian pula yang pulang seperti kami. Ada yang sekedar berkeringat seperti kami, banyak pula yang pulang dengan membawa banyak belanjaan.

Ada yang datang dan pergi, di CFD. Ada yang datang untuk berkegiatan ataupun rehat dari segala kegiatan yang sudah dilakukan selama satu minggu.

Ya, meski banyak yang berubah dari waktu ke waktu, CFD tetap menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang setiap hari Minggu.

Semoga bermanfaat, salam Minggu pagi…😊

Jalan-jalan Sekitar Kajoetangan Sehari Jelang Ramadhan

Suasana jalan tidak begitu ramai pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Berempat kami naik sepeda motor berputar-putar sekitar kota Malang.

Sehari menjelang Ramadhan adik dan keluarganya datang ke Malang. Di samping ada agenda mengunjungi teman -temannya, yang tak kalah penting adalah nyekar ke makam ibuk dan bapak.

Kami berboncengan dua dua. Jalan Kawi yang biasanya dipadati kendaraan tampak sepi. Sepeda motor kami melaju bebas, dan Kajoetangan menjadi tujuan utamanya.

Kawasan Kajoetangan, sumber gambar : Terrakota

Di dekat jembatan penyeberangan Kajoetangan sepeda motor kami parkir, dan kami berjalan sepanjang trotoar.

Lama sekali tidak merasakan hawa Kajoetangan bersama adik. Padahal Kajoetangan menyimpan ribuan kenangan bagi kami.

Kami pernah tinggal di daerah Kajoetangan sekitar tahun 1990 selama dua tahun. Jadi daerah daerah kampung Kajoetangan juga toko-toko yang berderet di sepanjang Kajoetangan terasa begitu akrab bagi kami.

Tentunya banyak yang berubah. Seperti Rajabally yang dulu menjadi ikon Kajoetangan sekarang berubah menjadi Cafe Lafayette.

Tempat berfoto yang asyik, dokumentasi pribadi

Kajoetangan semakin cantik. Dengan pembenahan di sana-sini kawasan ini menjadi tempat yang asyik untuk berfoto ria. Bahkan sering dipakai sebagai lokasi foto prewedding oleh pasangan yang akan menikah.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Bangku-bangku dan lampu taman yang berjejer berpadu dengan kedai kopi atau tempat berjualan makanan yang ditata dengan apik membuat suasana heritage semakin terasa.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Mengapa daerah ini dinamakan Kajoetangan?

Kawasan ini sebelumnya bernama Jl. Jend Basuki Rachmat. Dikembalikan lagi ke nama Kajoetangan sejak walikota Pak Sutiaji.

Ada empat alasan berbeda yang membuat daerah ini dinamakan Kajoetangan. Alasan tersebut adalah:

Pertama : daerah ini dinamakan Kajoetangan karena sebelum tahun 1914 terdapat petunjuk lalu lintas berbentuk telapak tangan dan terbuat dari kayu. Petunjuk tersebut berada disebelah timur pertigaan Jalan Oro-Oro Dowo dan Kajoetangan.

Penunjuk jalan yang dulunya dari kayu berbentuk tangan, sumber gambar: Malang Voice

Kedua : dinamakan Kajoetangan karena di kawasan ini banyak pohon berderet di sepanjang jalan yang menyerupai deretan tubuh manusia. Tangkai pepohonan seakan tangan yang menjulur ke arah jalan.

Ketiga: dinamakan Kajoetangan karena terdapat pohon yang menyerupai tangan di ujung jalan menuju arah Alun-Alun. Ketika itu kawasan Alun-Alun Jalan Merdeka mulai berkembang.

Keempat, menurut keterangan Oei Hiem Hwie, seorang warga asli Malang, sewaktu ia masih kecil, jalan-jalan di kawasan ini banyak ditanami pohon yang daunnya berbentuk aneh. Daun mirip telapak tangan yang mengembang.

Bahwa kayu tangan adalah nama tanaman, ternyata disebutkan di dalam buku botani ilmiah berbahasa Belanda berjudul Nieuw Plantkundig Woordenboek voor Nederlandsch Indië.

Dalam buku tersebut diterangkan bahwa tanaman “kayu tangan” memiliki nama ilmiah Euphorbia Tirucalli L.

Disebutkan pula bahwa masyarakat Jawa menamakan tanaman ini dengan kayu tangan dikarenakan ketika tanaman ini tumbuh bentuknya mirip dengan tangan.

Depan sebuah cafe, dokumentasi pribadi

Berempat kami bergantian foto di sepanjang jalan Kajoetangan. Hawa yang sejuk dan sangat bersahabat membuat jalan-jalan tak terasa melelahkan. Hanya sayang pagi itu tidak ada konser musik seperti yang kami harapkan.

Ya, Kajoetangan adalah salah satu tempat warga Malang unjuk seni. Karenanya di salah satu bagian Kajoetangan terdapat jadwal pagelaran musik di Kajoetangan.

Jadwal pagelaran musik di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Matahari semakin naik, ketika jam menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh jalan- jalan pun diakhiri.

Kami segera menuju parkiran mengambil sepeda. Lalu- lalang kendaraan mulai banyak. Kajoetangan terus berbenah. Perubahan terjadi di mana-mana. Pada kampung-kampungnya, juga toko-tokonya yang beberapa beralih usaha.

Ya, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Tidak ada yang tidak berubah selain dari perubahan itu sendiri.

Salam satu jiwa….😊

Sumber bacaan :

https://www.terakota.id/asal-usul-nama-jalan-kayutangan-kota-malang/