Pramuka Bintaraloka Raih Berbagai Kejuaraan pada Event Grapika.com

Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi suasana. Rasa lelah pun sirna ketika Barakacem (Barakuda Cempaka), regu Pramuka dari SMP Negeri 3 Malang, berhasil meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi Grapika.com yang digelar di SMK Negeri 4 Malang pada hari Sabtu, 27 Desember 2025.

Lomba Grapika.com sendiri merupakan ajang untuk Pramuka Penggalang se-Malang Raya yang diadakan oleh Pramuka Pandugrafika, dengan partisipasi dari 27 regu yang mewakili 22 pangkalan.

Briefing oleh pelatih dan pembina, dokumentasi Pramuka

Benarlah bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Setelah menjalani latihan sekitar satu bulan, sederet prestasi berhasil ditorehkan oleh Pramuka Bintaraloka, antara lain:

· Juara Umum Pangkalan Terbaik
· Regu Tergiat 1 Putra
· Regu Tergiat 1 Putri
· Juara 1 Battle yel
· Juara 1 Gravie
· Juara 1 Komik Bercerita Putra
· Juara 1 SSC Putra
· Juara Madya 3 SSC Putri
· Juara Madya 1 Pionering
· Juara Madya 1 Komik Bercerita Putri
· Juara Madya 2 SMS Putri
· Juara Madya 3 SMS Putra

Suasana lomba Grapika.com

Satria, salah satu peserta yang mengikuti lomba pioneering, yel, dan battle, mengungkapkan bahwa ajang ini sangat menyenangkan. Grafika merupakan salah satu event yang sangat dinantikan, sekaligus menjadi lomba terakhirnya di jenjang SMP.

Selain sebagai wadah meraih prestasi, kegiatan ini juga memperkuat ikatan kebersamaan dalam keluarga besar Pramuka Bintaraloka.

Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Pramuka in action, dokumentasi Pramuka

“Melalui kegiatan ini, kami membuktikan perjuangan kami di berbagai bidang. Susah dan senang kami jalani bersama. Apapun hasilnya, sukses atau tidak, kami terima dengan lapang dada karena yang terpenting adalah evaluasi untuk perbaikan,” tambah Satria.

Harapannya ke depan Dewan Galang Pramuka Bintaraloka dapat terus menjaga “Korsa”, yaitu semangat kebersamaan dan solidaritas, serta selalu berusaha maksimal untuk mencapai tujuan.

Pramuka Bintaraloka in action, dokumentasi Pramuka

Selamat kepada Barakacem, para pelatih, dan pembina. Semoga kemenangan ini dapat memotivasi siswa lainnya untuk terus berprestasi.

Salam Pramuka.

Menghidupkan Kembali Majalah Sekolah , Sebuah Perjalanan Literasi di Tahun 2025

Ada banyak peristiwa di tahun 2025. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya dan tim majalah berusaha kembali menerbitkan majalah sekolah yang sempat “mati suri” selama beberapa tahun.

Ya, dalam satu tahun ini kami berhasil tiga kali  menerbitkan majalah sekolah. Sebuah perjalanan literasi yang penuh perjuangan tapi sangat menyenangkan.

***

“Bagaimana kalau kita hidupkan lagi majalah sekolah?” pertanyaan itu langsung muncul ketika kira-kira akhir tahun 2024 saya berdiskusi dengan seorang teman.

Wah, usul yang menarik ini, pikir saya.

“Tapi biayanya bagaimana?”

Sebagaimana diketahui semua kegiatan sekolah harus dianggarkan di awal lewat dana BOS. Jika tidak dianggarkan berarti biaya untuk kegiatan tersebut berarti tidak ada.

” Biar biayanya tidak banyak, atau bahkan tak berbiaya, kita buat e magazine saja. Pakai Canva, jadikan PDF lalu dimasukkan di website perpustakaan,” jawab teman saya yakin.

Ya, kami adalah teman yang sama sama penggemar baca, sering berdiskusi bareng dan sama-sama punya obsesi untuk terus meningkatkan kegemaran membaca di kalangan siswa. Dan majalah adalah salah satu media yang menarik untuk meningkatkan minat baca siswa, karena dengan media ini siswa diajak menelusuri kembali berbagai peristiwa yang ada di sekolah.

Tim majalah sedang berdiskusi, dokumentasi Nadia

Tentang majalah sekolah, sebenarnya kami sudah punya. Majalah tersebut dicetak dengan ukuran A5 dan terbit setiap satu semester. Saat itu, setiap penerimaan rapor pada  siswa akan akan satu majalah. Ketika itu masih ada SPP, jadi biaya diambil dari sini.

Seiring berjalannya waktu banyak perubahan kebijakan dalam pendidikan terutama dalam hal pembiayaan. Karena tidak ada dana akhirnya majalah pun  berhenti di jilid 24. Apalagi pandemi melanda dan banyak kegiatan berhenti, akhirnya majalahpun mati suri.

Nah, kembali ke cerita di atas, setelah melalui beberapa diskusi lanjutan, akhirnya kami sepakat membentuk tim penyusun majalah. 

Membuat tim majalah ternyata juga bukan hal yang mudah. Karena tidak semua siswa bisa desain Canva, bersama perpustakaan kami membuat pelatihan desain untuk anak- anak. 

Karena beberapa anggota tim masih harus belajar menulis dengan baik, kami harus siap jadi editor, ataupun memberikan pelatihan singkat bagaimana cara membuat paragraf yang baik. Ya, dalam tim kami ada guru bahasa juga guru kesenian untuk mencermati tulisan dan desain yang dibuat anak-anak.

Launching majalah edisi pertama (25) , dokumentasi pribadi

Ternyata dalam perjalanan, tidak semua siswa ‘tahan’ dengan kegiatan pembuatan majalah. Beberapa keluar dan akhirnya yang tersisa sekitar delapan anak yang menjadi tim inti. Tim inilah yang gigih , mau menyisihkan sebagian waktunya untuk bekerja menuntaskan majalah sekolah. 

Tugas saya sebagai pengisi konten berita di website sekolah ternyata sangat membantu kerja tim karena berbagai peristiwa di sekolah sudah tercatat rapi di website sekolah.

Hasil tidak mengkhianati usaha. Setelah melalui proses yang lumayan lama (sekitar tiga bulan) akhirnya majalah sekolah kami kembali terbit di akhir bulan Februari 2025. Launching dilaksanakan pada saat perayaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pada majalah perdana ini kami tulis edisi 25, melanjutkan majalah terdahulu.

Agar tidak mengeluarkan banyak biaya majalah yang baru terbit ini dibuat dalam bentuk digital atau e magazine. Dan rencananya diterbitkan empat bulan sekali.

Pada penerbitan jilid ke 26 tim majalah kami semakin solid. Apalagi saat itu beberapa siswa yang pintar desain bergabung di tim. 

Pada penerbitan kali ini selain dalam bentuk e magazine, majalah kami cetak lima eksemplar untuk perpustakaan. Jadi siswa yang ingin membaca majalah dalam bentuk fisik mereka bisa datang ke perpustakaan.

Menjelang penerbitan edisi 27 sebuah masalah timbul. Anggota tim berkurang drastis karena tim awal sebagian besar adalah siswa kelas 9. Ya, di kelas sembilan siswa sudah mulai lebih fokus ke pelajaran. Lebih-lebih mereka harus menghadapi TKA. Akhirnya kami harus mencari anggota tim lagi yang langsung kami ambil dari kader literasi yang berminat untuk bergabung.

Hal yang sungguh kami syukuri adalah tim yang baru ini mempunyai semangat yang tidak kalah dengan kakak- kakaknya. 

Berfoto bersama untuk kolom salam dari redaksi, dokumentasi Nadia

Dengan tekad dan kesungguhan akhirnya majalah edisi 27 terbit saat penerimaan rapor semester gasal kemarin. Berbeda dengan dua edisi sebelumnya untuk edisi terbaru ini selain dalam bentuk e magazine kami juga open PO. Jadi bagi yang berminat boleh memesan edisi cetaknya pada perpustakaan.

Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.

Ide ini sebenarnya muncul begitu saja ketika beberapa orang tua siswa memesan majalah dalam bentuk cetak karena putra putri mereka kami masukkan dalam artikel siswa berprestasi. Selain itu beberapa orang tua juga pesan karena putra putri nya terlibat dalam penyusunan majalah ini. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kami duga. 

Akhirnya di era di mana segala sesuatu menghilang dalam scroll, majalah sekolah memberikan sebuah pernyataan bahwa beberapa cerita pantas untuk dihentikan, dipegang, dan disimpan.

Majalah terbaru , dokumentasi pribadi

Sungguh, 2025 adalah tahun literasi yang luar biasa. Dengan menerbitkan kembali majalah sekolah, kami berusaha mengajak siswa untuk meninggalkan jejak literasi lewat berbagai peristiwa penting di sekolah. 

Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.

Playlist “Bapak”, Lagu-lagu yang Setia Menemani di Kala Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang turun dari langit, sering membuat genangan, kadang juga kenangan..

(quotes hujan)

Di bulan-bulan seperti ini, hujan kian rajin membasahi bumi. Bukan hanya membuat suasana terasa basah, namun kedatangan hujan bisa membangkitkan perasaan nostalgia, karena suara rintik, aroma petrichor, dan udara yang sejuk, sering memicu ingatan pada masa lalu, membuka kembali lembaran kenangan bersama orang-orang tercinta.

Aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya saat hujan adalah membaca dengan ditemani minuman hangat, atau mendengarkan musik. Hal yang terakhir ini paling sering saya lakukan bersama bapak dulu.

Ya, di sore hari, bapak biasanya masih harus menuntaskan jahitannya dan saya selalu membantu beliau. Saya bagian memasang kancing, sementara Bapak membersihkan benang- benang di antara jahitan. Kegiatan itu biasanya kami lakukan bersama dengan diiringi alunan musik kesukaan kami.

Dalam pandangan saya untuk urusan “unen-unen” bapak punya selera yang istimewa.

Tape deck, sumber gambar: Carousel

Di bupet kecil kami ada tape merek Sony , amplifier Sansui dan equalizer yang ukurannya cukup besar. Merek equalizer nya saya lupa. Perangkat itulah yang sehari-hari menemani bapak dalam menjahit.

Sebagai pengiring menjahit biasanya bapak menyetel dengan volume yang tidak terlalu keras, yang jelas musik harus ada. Berbeda dengan di pagi hari saat bersih-bersih atau membangunkan kami, bapak akan menyetel dengan volume yang agak keras, agar semua bersemangat dan segera melakukan berbagai aktivitas.

Bapak selalu menyetel musik sesuai suasana. Pagi hari ketika kami memerlukan semangat ada lagu-lagu Queen, Deep Purple dan sejenisnya. Menjelang siang lagu lagu manis mulai mengisi ruang dengar kami seperti lagu dari Jim Reeves, Pat Boone, Mat Monroe, semakin siang menuju ke sore ada berbagai instrumen yang mempermanis suuasana seperti dentingan gitar Francis Goya, atau alunan piano Richard Clayderman.

Untuk kaset, Bapak punya koleksi yang begitu banyak. Seingat saya 150 lebih dalam berbagai genre musik. Ada pop, jazz, rock, bahkan keroncong.

Ya, dalam keseharian kami selalu ada musik dan musik. Bapak secara tak sengaja membentuk selera kami dan mendengarkan musik adalah tali yang menghubungkan ingatan kami terhadap momen-momen tertentu.

Suatu malam bapak berkata kepada saya ketika kami mendengarkan lagu A Whiter Shade of Pale dari Procol Harum. Saat itu saya sedang mengerjakan PR di samping beliau yang membetulkan jahitan.

” Mbesok kalau kamu dengar lagu-lagu ini pasti ingat Bapak, Nduk,” kata beliau di tengah obrolan kami. Saya hanya tertawa saat itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, ketika beliau sudah tiada lagu- lagu bapak selalu membangkitkan kenangan akan hangatnya kebersamaan dengan beliau dimanapun saya berada.

Ya,dalam banyak kesempatan ketika bepergian saya sering berhenti sejenak ketika tiba-tiba mendengarkan lagu kesukaan bapak. 

Suatu saat, pas jalan-jalan di Kayutangan bersama anak saya, tiba- tiba seorang pengamen menyanyikan lagu A Whiter Shade of Pale. Saya langsung berhenti.

“Ayo dengar lagu dulu Le,” kata saya sambil duduk di kursi yang ada di trotoar sampai lagu habis. Seiring mengalirnya lagu itu kenangan akan Bapak terus tergambar. Ya, saya benar benar merasakan momen ketika kami sedang ngobrol berdua di ruang tamu saat itu.

Demikian juga ketika anak saya wisuda di UGM, saya langsung mbrebes mili ketika kelompok paduan suara menyanyikan lagu Close to You. Ya, lagu dari Carpenter ini adalah juga favorite bapak.

Ketika era tape mulai tergerus dengan kedatangan MP3 dan yang lain, saya berusaha kembali mengumpulkan lagu- lagu kenangan itu lewat Spotify.  Melalui playlist yang saya buat saya bisa merasakan kembali keindahan kenangan mendengarkan lagu lagu bersama orang-orang tercinta terutama bapak.

Saya punya beberapa macam playlist dengan judul “Bapak”. Ya, genre musik yang disukai bapak beraneka ragam. Playlist yang pertama berisi lagu lagu instrumen, ada lagu- lagu dari Paul Mauriat, Francis Goya, Richard Clayderman, Idris Sardi di sana. Playlist kedua berisi lagu lagu manis dari Elvis Presley, Jim Reeves, Pat Boone, juga Bimbo. Playlist berikutnya berisi lagu-lagu slowrock dari Queen, Deep Purple, Scorpion dan sejenisnya.

Playlist-playlist itu yang setia menemani saya sekarang ketika menikmati sore yang dihiasi hujan, karena setiap tetes hujan bulan hanya sekadar membuat genangan, melainkan juga membuka lembaran kenangan. 

Melalui alunan lagu-lagu dari playlist “Bapak”, beliau selalu hadir kembali dalam rindu. Mengingatkan saya kembali pada dialog-dialog kecil, tawa, dan kehangatan sore-sore yang basah. 

Ya, hujan selalu bisa merajut kembali kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di balik rintiknya, ada cinta yang terus mengalun, seiring alunan musik kesukaan saya dan bapak.