Jumat yang benar-benar sibuk. Setelah berkegiatan pokja di pagi hari, menjelang pukul 08.00 seluruh siswa kelas tujuh segera berkumpul di aula. Ya, sekarang saatnya kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan yang selalu dinanti oleh para siswa.
Dalam kegiatan projek tema Aku Keren Dengan 4R ini sekolah menghadirkan narasumber istimewa. Tiga orang ibu yang merupakan orang tua dari alumni SMP Negeri 3 Malang. Ibu Ratna, Bu Eka dan Bu Nopi, beliau bertiga adalah pengusaha, juga pelaku UMKM komunitas sulam di kota Malang.
Bu Ari memperkenalkan ketiga narasumber, dokumentasi P.Fabi
Siswa masuk aula dengan penuh semangat. Alat dan bahan yang diperlukan sudah pula dibawa. Sebelum acara dimulai, untuk meningkatkan semangat seperti biasa siswa diajak menyanyi dahulu oleh Ibu Ami dan Ibu Triana.
Wajah berseri tampak dimana-mana. Tergambar rasa penasaran pada siswa, mereka akan diajak membuat karya apa.
Membuat mangkuk kancing,dokumentasi P. Fabi
Sesudah menyanyi, doa dan sambutan Ibu Kepala Sekolah, acara intipun dimulai. Siswa dibagi menjadi empat kelompok besar. Tiap kelompok mendapatkan materi yang berbeda.
Menyiapkan bahan, dokumentasi P.Fabi
Adapun materi yang dipelajari siswa adalah:
Membuat gantungan kunci bunga dari kain perca
Memanfaatkan compact disc untuk membuat lukisan mozaik
Membuat kipas lukis
Membuat mangkuk kancing
Proses pembuatan karya berjalan lancar. Siswa tampak bersungguh sungguh mengikuti arahan dari ibu-ibu narasumber.
Guru pendamping, dokumentasi P.FabiGuru pendamping membagikan bahan, dokumentasi P.Fabi
Kelancaran acara hari ini juga tak luput dari kerja keras bapak/ibu guru pendamping projek yang selalu menemani siswa dan siap membantu jika ada yang mengalami kesulitan.
Sesudah mendapatkan ilmu tentang ketrampilan tersebut, diharapkan siswa bisa mentransfernya pada teman yang lain, sehingga dalam satu kelompok bisa membuat keempat jenis ketrampilan tersebut.
Kerajinan dari CD, dokumentasi P.Fabi
Sekitar pukul sepuluh acara di aula diakhiri dan nantinya akan dilanjutkan di kelas masing-masing pada jam ke 5 -6.
Melalui acara ini selain bisa belajar berkolaborasi, meningkatkan kreatifitas juga kesungguhan dalam menghasilkan suatu karya, siswa juga belajar menghargai benda-benda bekas di sekitar kita.
Gantungan kunci bunga, dokumentasi pribadiBerfoto di akhir acara, dokumentasi P.Fabi
Begitu banyak barang bekas di sekitar kita. Dan ternyata dari barang tersebut bisa dihasilkan sebuah karya yang tidak hanya cantik namun juga bisa memiliki nilai ekonomi yang menarik.
Indonesia termasuk dalam sepuluh negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar akhirnya muncul masalah yang harus benar benar diwaspadai yaitu sampah.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan bahwa produksi sampah nasional mencapai 175.000 ton per hari. Rata-rata satu orang Indonesia menyumbang sampah sebanyak 0.7kg per hari.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 21,88 juta ton pada 2021. Meski jumlah tersebut mengalami penurunan 33,33% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 32,82 juta ton, namun masih termasuk besar.
Poster karya siswa yang berisikan pentingnya 4R, dokumentasi pribadi
Ada beberapa fakta yang perlu diketahui tentang sampah: 1. Kota metropolitan dan kota besar adalah penghasil sampah terbesar di Indonesia. Termasuk di dalamnya Jakarta, Surabaya Bandung dan Jogjakarta. Menurut KLHK rata-rata produksi sampah harian di kota metropolitan adalah 1.300 ton dan kota besar adalah 480 ton.
2. Jumlah sampah secara nasional banyak didominasi oleh sampah rumah tangga.
3. Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar nomor dua di dunia. Dari data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), diketahui bahwa 3,2 juta ton sampah yang dibuang ke laut adalah sampah plastik. Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.
4. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah sampah plastik terus mengalami peningkatan.
Semakin memprihatinkannya isu sampah membuat kepedulian terhadap sampah dan pengelolaannya harus mulai ditanamkan sejak dini, jika kita masih peduli dengan kelestarian bumi.
Ada empat prinsip pengolahan sampah yang dikenal dengan 4R. 4R meliputi :
Presentasi tentang pentingnya 4R, dokumentasi pribadi
1. Reduce : reduksi atau mengurangi. Sedapat mungkin kurangi penggunaan barang sekali pakai supaya tidak menghasilkan banyak sampah. Contoh: menggunakan tas yang bisa dipakai berkali -kali untuk mengurangi kenggunaan kantong kresek sekali pakai.
2. Replace : Replace yaitu mengganti barang yang biasa kita digunakan dengan barang yang lebih ramah lingkungan. Contohnya dengan mengganti penggunaan kantong plastik biasa dengan plastik biodegradable yang lebih mudah diuraikan.
3. Recycle : recycle yaitu mendaur ulang kembali sampah-sampah atau bahan-bahan yang sudah tidak lagi berguna menjadi bahan lain dengan melalui beberapa proses pengolahan. Misal membuat pupuk kompos.
4. Reuse : Reuse artinya menggunakan kembali sampah, seperti bahan-bahan yang terbuang atau tidak terpakai. Banyak sampah yang dapat kita gunakan kembali, seperti kertas, kemasan plastik, dan botol bekas untuk dijadikan hiasan atau barang lain yang berguna.
Di Bintaraloka kesadaran untuk melaksanakan 4R ditanamkan pada siswa salah satunya lewat kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Projek ini mengambil tema Aku Keren Dengan 4R dan merupakan tema kedua projek.
Sebelum pelaksanaan projek dilakukan perancangan kegiatan projek oleh tim, dan selanjutnya sosialisasi pada orang tua dan siswa di aula.
Rapat merancang kegiatan projek oleh tim tema dua, dokumentasi pribadi
Dari sosialisasi tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan projek meliputi pemberian materi dari berbagai narasumber, menonton film bersama, membuat karya berupa poster atau bahan daur ulang juga yang tak kalah menarik adalah Outdoor Learning.
Di minggu pertama kegiatan yang dilakukan adalah menonton film bersama tentang sampah plastik. Sesudah menonton film siswa diminta membuat catatan penting berkaitan tentang sampah plastik. Ya, film berkisah tentang semakin banyaknya sampah plastik di lautan dan betapa sampah tersrbut sangat membahayakan kehidupan mahluk hidup di lautan.
Bersama narsum Bapak Sulaiman Sulang, dokumentasi P. Fabi
Masih di minggu pertama di hari Jumat sekolah menghadirkan narasumber Bapak Sulaiman Sulang,S.S.,M.AP. Beliau adalah koordinator Adiwiyata SMK Negeri 6 Malang. Dalam paparannya Bapak ‘Sule’ menyampaikan tentang segala hal berkaitan dengan sampah dan 4R.
Di minggu kedua kegiatan siswa difokuskan pada pembuatan poster, display poster juga presentasi. Poster dibuat di kertas A3 dengan menggambar manual.
Mendisplay poster, dokumentasi P. FabiMendisplay poster, dokumentasi P. Fabi
Bagaimana hasilnya? Wow, siswa mempunyai kreatifitas yang luar biasa. Hal tersebut bisa dilihat dari foto-foto karya yang ditampilkan di sini.
Proses penilaian, dokumentasi pribadi
Sesudah didisplay di hari Rabu, siswa secara bergantian melakukan presentasi di aula di hari Kamis dan Bapak /Ibu guru melakukan penilaian dengan memberikan pertanyaan berkisar pada ide, proses dan tahapan pembuatan poster.
Penilaian dititik beratkan pada karakter siswa saat mengerjakan tugas, seperti keterlibatan dalam pembuatan poster, aktif dan sopan dalam presentasi, kesesuaian gambar desain poster dengan tema yang diangkat.
Secara umum siswa mengatakan projek kedua ini sangat menyenangkan. Tidak masalah meski di projek satu dan projek dua mereka tergabung dalam kelompok yang berbeda. Dengan teman yang bagaimanapun mereka harus bisa bekerja sama dan saling mengisi. Untuk itu diperlukan gotong royong, kreativitas, integritas dan berbagai karakter baik lainnya.
Sesudah penilaian, dokumentasi pribadi Sesudah penilaian, dokumentasi pribadi Sebagian dari penilai dan tim projek tema dua, dokumentasi P. Dian
Ya, hal yang sangat sesuai dengan tujuan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yaitu membentuk karakter pelajar Pancasila dengan cara belajar memecahkan masalah tentang isu yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari.
Azan Ashar baru saja berkumandang. Bergegas kami segera menunaikan sholat dan segera bersiap-siap. Ya, hari Jumat sore itu keluarga Badan Dakwah Islam(BDI) Bintaraloka akan mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang bertempat di Pondok Pesantren Darul Hikmah Al Hasani – Merjosari.
Rombongan berangkat dari Bintaraloka sekitar pukul empat sore. Setelah briefing sebentar oleh Ibu Utin Kustianing dan Bapak Muhaimin di masjid Bintaraloka, siswa langsung naik mikrolet yang sudah siap di halaman sekolah.
Ada sekitar lima puluh siswa yang mengikuti LDK tahun ini. Kegiatan ini disambut dengan antusias, karena sudah dua tahun kegiatan serupa tidak bisa dilaksanakan karena pandemi. Kegiatan berlangsung mulai Jumat sore hingga Sabtu pagi dengan pendamping Ibu Utien, Pak Muhaimin, Pak Faqih dan Pak Abid.
Berangkat ke Pondok Pesantren, dokumentasi pribadi
Sore itu siswa putra maupun putri tampak rapi dengan busana muslim mereka. Tas ransel besar berisi baju, segala perlengkapan pribadi dan perlengkapan sholat juga siap menemani.
Perjalanan menuju pondok berjalan lancar. Meski jalan menuju pondok beberapa masih berbatu dan naik turun, semua itu tak mengurangi semangat siswa untuk siap mengikuti kegiatan LDK.
Sekitar pukul setengah lima kami tiba di Pondok Pesantren Darul Hikmah Al Hasani. Rombongan diarahkan menuju lantai dua. Lagu Hubbul Wathon Minal iman langsung kami nyanyikan bersama begitu semua duduk bersama.
Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Hubbul Wathon minal Iman Wala Takun minal Hirman Inhadlu Alal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Hubbul Wathon minal Iman Wala Takun minal Hirman Inhadlu Alal Wathon Indonesia Biladi Anta ‘Unwanul Fakhoma Kullu May Ya’tika Yauma Thomihay Yalqo Himama Kullu May Ya’tika Yauma Thomihay Yalqo Himama
Tiba di Pondok Darul Hikmah Al Hasani, dokumentasi pribadi
Rasa lelah karena berdesak-desakan dalam mikrolet atau jalanan yang naik turun langsung terlupakan karena sambutan pengurus pondok yang begitu hangat.
Semua menyanyi dengan semangat. Ya, salah satu tujuan dari LDK ini adalah menanamkan rasa cinta tanah air, selain juga meningkatkan ukhuwah, jiwa kepemimpinan, dan meningkatkan rasa cinta terhadap alam semesta.
Acara pembukaan dilaksanakan sekitar lima belas menit kemudian. Bertindak selaku pembawa acara adalah Ibu Utin Kustianing, S. PdI, dan acara berisikan sambutan dari pengurus pondok, sekolah dan pembina BDI.
Melalui acara tersebut sekolah mengucapkan terima kasih pada pengurus pondok yang telah berkenan menerima siswa guna belajar tentang banyak hal. Baik tentang kehidupan di pondok pesantren maupun materi LDK.
Pembina BDI juga berpesan kepada siswa supaya mengikuti kegiatan dengan baik. Berada di pondok tentunya banyak hal baru yang dipelajari, utamanya kemandirian.
Bapak Muhaimin, pembina BDI
Pembukaan berakhir tatkala azan Maghrib berkumandang. Semua segera mengambil air wudhu dan sholat Maghrib berjamaah. Sesudahnya acara dilanjutkan dengan pemberian materi pada siswa.
Adapun materi-materi yang diberikan pada siswa dalam acara LDK ini adalah:
Ustadz Dedi Novianto, dokumentasi Bu Utien
1. Kajian kitab tentang Cinta Tanah Air untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme oleh ustadz Khofi,M.Pd (dari Pesantren) 2. Materi kepemimpinan “Memimpin Diri Sendiri untuk menjadi muslim/muslimah sejati (Ustadz Dedi Noviyanto, S.Pd.I, M.Pd.I) 3. Materi “Muhasabah diri” (ustadz Drs. Junaedi, M.Pd/ Pengawas PAI kemenag Kota Malang).
Kebersamaan dan ukhuwah demikian terasa. Tentu saja, siswa harus makan bersama, sholat bersama dan mengikuti kajian bersama.
Makan malam bersama, dokumentasi Nesya
Keesokan harinya sesudah sholat Subuh berjamaah, siswa mengikuti kegiatan istighotsah yang diadakan oleh pondok dan kuliah subuh oleh Pak Muhaimin S. Ag.
Sesudahnya tibalah pada acara yang sangat menyenangkan. Siswa diajak melakukan kegiatan tadabur alam dengan pemandu dari pesantren.
Tadabur alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal Allah swt yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya.
Tadabur alam, dokumentasi NesyaGame saat tadabur alam, dokumentasi NesyaGame saat tadabur alam, dokumentasi Nesya
Tadabur alam akan membersihkan diri dan jiwa kita dari energi-energi negatif yang mungkin telah bersemayam di hati dan fikiran kita dan sebagai rasa syukur atas karunia Allah yang maha luas.
Dalam kegiatan ini siswa diajak berjalan menuju lokasi terbuka dan diajak melakukan berbagai game di sana.
Melalui game ini diharapkan bisa menumbuhkan karakter baik dan jiwa kepemimpinan pada siswa selain juga menguatkan rasa syukur atas keindahan karunia alam yang dianugerahkan Allah swt.
Setelah tadabbur alam, semua kembali ke pondok untuk melakukan giat pagi dan sarapan pagi.
Sekitar pukul 9 pagi acara dilanjutkan dengan pemilihan dan pelantikan pengurus BDI tahun 2022/2023. Pelantikan dilakukan oleh Ibu Utien dan Bapak Muhaimin, S. Ag selaku pembina BDI SMP Negeri 3 Malang.
Pelantikan pengurus baru, dokumentasi Bu Utin
Harapannya semoga pengurus baru yang terpilih bisa amanah dalam menjalankan semua tugas yang dibebankan dan senantiasa dalam lindungan Allah swt.
Setelah penutupan, acara diakhiri dan siswa maupun guru mulai meninggalkan PP Darul Hikmah Al Hasani.
Pembina BDI SMP Negeri 3 dan Pengurus Pondok Darul Hikmah Al Hasani, dokumentasi pribadi
Semoga kegiatan yang tidak terlalu lama ini bisa memberikan kesan yang manis dalam diri siswa, utamanya bisa menumbuhkan jiwa-jiwa yang haus akan ghirah Islamiyah untuk selanjutnya bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jumat pagi selalu dinanti. Itu yang terjadi di Bintaraloka. Ada Jumat sehat, jumat bersih, Jumat literasi dan Jumat Aksi.
Aha, jika di Jumat kemarin kami senam dan bergoyang bersama, Jumat ini kami nonton konser bersama.
Acara yang dipandu Mister Heri ini benar benar menguras perhatian. Sejak pukul tujuh siswa sudah duduk di lapangan volly untuk menunggu aksi yang akan dimunculkan. Apalagi sekarang saatnya kelas sembilan beraksi. Pastinya mereka akan berusaha tampil dengan aksi terbaik supaya tidak kalah cetar dengan adik-adiknya.
Bersama Mister Hery pembawa acara, dokumentasi Apple
Jika kelas delapan di aksinya banyak menunjukkan aksi olah raga dan seni, kelas sembilan banyak menampilkan seni, khususnya tari dan nyanyi.
Tampilan tari kreasi dari kelas 3.5.1 dan 3.5.6 membuat suasana Jumat begitu semarak. Kostum putih-putih ataupun selendang orange yang berkilau tertimpa sinar matahari membuat tampilan tari dan dance demikian cantiknya.
Dance, dokumentasi BuzTari kreasi, dokumentasi Apple
Selain tari tampilan lagu-lagu membuat suasana lapangan volly Bintaraloka tak ubahnya lapangan konser. Lihat saja, penonton melambaikan tangan dan ikut menyanyi bersama saat lagu yang dibawakan sangat mereka kenal.
Ada yang menampilkan lagu Celengan Rindu, Jadi Kekasihku Saja , Asal Kau Bahagia , Cinta Terbaik juga Pupus. Sangat kekinian.
Kolaborasi 9.6 dan 9.3, dokumentasi AppleJadi Kekasihku Saja, tampilan 2.3.1, dokumentasi AppleDuet 9.5, dokumentasi AppleCinta Terbaik, dokumentasi Apple
Tiap kali reffrain lagu, sontak satu lapangan ikut menyanyi.. Hmm, benar-benar lagu yang sangat mengena di hati penontonnya.
Berbeda dengan kelas 7 dan 8, pada tampilan kelas 9 ada kolaborasi antar kelas. Seperti antara kelas 9.7 dan 9.8, juga antara 9.7 dan 9.3.
Di samping aksi kelas 9, ada juga tampilan yel dari kelas 7. Yel yang ditampilkan adalah yel 7.2 yang seminggu sebelumnya ditampilkan di Perayaan Projek Tema Aku Bijak Berinternet.
Yel 7.2, dokumentasi Buz
Kelas 7.2 membawakan yelnya dengan penuh semangat dan percaya diri sehingga mendapat applaus meriah dari para penonton.
Pukul delapan pagi acara Jumat Aksi ditutup dengan penampilan lagu Pupus. Tampilan yang manis, dan sempat membawa penontonnya kembali ikut bersenandung.
Pupus, dokumentasi Apple
Bel berbunyi.., saatnya masuk kelas dan mengikuti pelajaran kembali. Bagaimana kisah Jumat Aksi berikutnya? Tunggu ceritanya ya…
“Ssh…Cup Le, ” bisik Mbak Sur lembut sambil menggoyang-goyangkan Danang dalam gendongannya .
Bayi berumur tujuh bulan itu meringkuk dengan napas yang agak memburu. Demam membuat badannya begitu panas.
” Sudah dibawa ke Puskesmas, Mbak? ” tanya Mbak Menur tetangganya. “Sudah, kemarin, ” jawab Mbak Sur sambil terus menenangkan Danang yang makin gelisah. “Apa kata dokter? ” tanya Mbak Menur lagi. ” Disuruh banyak makan, minum, memang musimnya flu .., “ “Dikasih sirup? “ “Bukan.. Puyer.., “ “Sekarang usum DB lho, “ Kata-kata Mbak Menur membuat Mbak Sur makin gelisah.
Danang menangis lagi “Mbak, tak tidurkan dulu ya.., ” kata Mbak Sur pamitan dan segera masuk rumah. “Iya Mbak.., ” jawab Mbak Menur sambil masuk ke rumahnya yang persis bersebelahan dengan rumah Mbak Sur.
Di ruang tengah Mas Pardi sedang asyik dengan tabloidnya. Bal-balan. Dari hari ke hari pulang kerja langsung duduk dan baca. Itu saja kegiatannya. Bahkan anak sakitpun kadang tidak ditoleh.
“Mas, mbok anaknya dilihat.., ” kata Mbak Sur jengkel. Masak anak sakit dibiarkan saja, pikirnya. Tidak bingung sama sekali.
“Masih panas ta? ” tanya Mas Pardi sambil meletakkan korannya. Dipegangnya dahi Danang. Si Bayi menggeliat. “Sudah obatan kan? ” tanya Mas Pardi lagi. “Barusan…, biar tidur dulu wes, ” kata Mbak Sur sambil masuk kamar.
Sepuluh menit menemani si bayi membuat Mbak Sur bablas ketiduran. Seharian ia banyak menggendong Danang yang rewel sehingga badannya terasa begitu capek.
Mas Pardi melihat jam dinding. Ketika jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, bergegas diambilnya kresek kecil. Isinya kacang kulit dan rokok. Dengan pasti ia segera keluar menuju rumah tetangga sebelah.
“Sudah main, ta? ” tanya Mas Pardi pada Mas Tarno tetangganya. “Masih iklan, ayo masuk, “ Keduanya duduk di depan TV. Di sana sudah siap gorengan dan akua. “Tak tambahi.., ” kata Mas Pardi sambil meletakkan kreseknya. Mas Tarno tertawa senang. Sepak bola dan kacang…. pasangan yang benar- benar klop. Nonton bola terasa gayeng sambil nyamil kacang.
Televisi Digitec empat belas inchi benar-benar kotak ajaib yang menghipnotis keduanya. Mas Pardi dan Mas Tarno begitu khusyuk menatap para pemain yang begitu piawai menggocek bola.
Sebenarnya sudah lama Mas Pardi ingin punya televisi sendiri. Ia ingin bisa nonton sepak bola yang selama ini hanya bisa ia nikmati lewat tabloid atau koran. Tapi begitulah. Tiap kali mengumpulkan uang, uangnya selalu katut untuk keperluan yang lain, hingga televisi yang diidam-idamkan belum juga bisa terbeli.
Tapi tak apa. Kebetulan Mas Tarno tetangganya bisa membeli TV. Karena daya listrik di rumahnya kurang, Mas Tarno mengambil listrik dari rumah Mas Pardi untuk menghidupkan televisi.
Nyalur kata orang kampung. Meski menurut aturan tidak boleh, yang penting tidak ketahuan karena rumah mereka hanya berjarak satu gang sempit. He..he.. Simbiosis mutualisme katanya.
Sebagai gantinya Mas Tarno sedikit memberikan uang listrik ke Mas Pardi tiap bulan. Berapa besarnya? Ah, itu urusan istri-istri mereka. Mbak Sur dan Mbak Menur. Yang penting semua lancar, semua senang.
Malam semakin larut. Danang kembali rewel. Mungkin lapar karena tadi sore belum sempat makan. “Ayo maem dikit ya Le… ,” Mbak Sur menggendong Danang sambil membawa mangkuk kecil berisi bubur instan .
“Ayo, sedikit lagi…, “ Meski sulit, akhirnya bubur dalam mangkuk habis juga, sekaligus puyer.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Karena gerah Mbak Sur mengajak Danang mencari udara segar di depan rumah. Sejuknya angin juga kerja obat membuat Danang mulai mengantuk.
Mbak Sur tampak lega, meski juga resah. Ya, ibu mana yang tak gelisah jika anaknya sakit ? Dielusnya kepala si kecil yang mulai terkantuk-kantuk.
Gemerisik suara pertandingan bola terdengar dari rumah sebelah. Ah ya, ini kan malam Senin? Waktunya Liga Italia, Mas Pardi pasti di sebelah, pikir Mbak Sur.
Sesekali Mas Pardi suka nobar dengan teman-temannya di poskamling. Tapi sejak Mas Tarno punya televisi nobarnya pindah ke sebelah.
Ketika Danang semakin tenang Mbak Sur beranjak masuk rumah. Tiba tiba.. “Ayo.. Ayo… Oper.. !” “Apik wes, goool!” “Gool…!! “ teriakan terdengar silih berganti dengan begitu kerasnya. Bahkan ‘gol’ yang terakhir membuat Danang terlonjak dalam gendongan.
“Huaaaa…! ” teriak Danang ketakutan. Bayi itu menangis keras-keras. “Astaghfirullah..! Kebacuut…,”teriak Mbak Sur gemas.
Kejengkelannya pada Mas Pardi kian menjadi. Sudah anak panas tidak ikut nunggu, ditinggal nonton bal-balan, teriak-teriak pula.
Tanpa banyak cakap Mbak Sur masuk rumah. Ia tahu benar apa yang harus dilakukan. Dilepasnya steker yang menghubungkan TV rumah sebelah dengan rumahnya. Steker itu tersembunyi di dekat pintu dapur.
Pedhot wes, pikirnya puas.
“Lhoooo! “ “Waduh, mati…! “ teriakan gembira di rumah sebelah langsung berubah jadi kecewa.
Bergegas Mbak Sur masuk ke kamar dan segera menutup pintu.
Tak berapa lama ada sedikit suara kesibukan dari arah dapur.
“Lepas ya cop- copannya? ” tanya Mas Tarno. “Iya, paling dipancal kucing ini tadi.., “jawab Mas Pardi. Sementara keduanya sedang sibuk memeriksa steker dan stop kontak, Mbak Sur cepat-cepat memejamkan mata. Senyum kemenangan tergambar jelas di wajahnya.