Kembali ke Pangan Lokal Nusantara bersama Jajanan Aneka Kukusan

Monggo kukusannya ..,” seorang pedagang makanan menyapa saya ramah tatkala saya baru keluar dari sebuah toko.

“Kukusan?” tanya saya tertarik sambil menuju meja jualan yang tidak begitu besar, tapi tertata rapi. Di atas meja tersusun dengan rapi aneka bothok, pepes, juga nagasari. Ya, aneka makanan tersebut memang melalui proses pengukusan dalam pembuatannya.

“Ibuk mau beli bothok lagi?” tanya anak saya mengingatkan. Oh ya, saya baru ingat di rumah masih dua ada bothok kenikir sisa kemarin.

“Lainnya bothok sama nagasari ada Bu?” tanya saya.

“Oh, ada..,” jawab penjualnya ramah. Dengan sigap ia segera membuka semacam dandang besar yang diletakkan di atas kompor. Bau sedap langsung menguar. Aha… Aneka umbi-umbian atau pala pendhem seperti pohong, ketela, mbothe dan bentul  memenuhi bagian dalam dandang, ditambah dengan pisang juga waluh.

Aneka kukusan, dokumentasi pribadi

Sangat menarik. Jika sebelumnya jajanan kukusan yang dijual banyak didominasi oleh dimsum , siomay dan sebangsanya, sekarang berbagai macam pala pendem atau umbi-umbian kukus mulai dijual di pinggir jalan.

“Wiih, pohong sama bentulnya.., medhuk sekali..,” kata saya senang. Dari beraneka macam umbi-umbian keduanya memang favorit saya. Pohong atau ubi kayu juga bentul yang dikukus mempunyai rasa gurih, dan punel. Apalagi jika sedikit ditaburi air garam saat mengukusnya. Maknyus pokoknya.

Mbothe, ketela dan waluh, dokumentasi pribadi

Saya segera mengambil ketela, pohong, bentul dan mbothe, lalu membayar pada Mbak Win, penjualnya. Harganya perpotong dua ribu rupiah, jadi untuk satu pohong, dua bentul, satu ketela dan satu mbothe cukup membayar sepuluh ribu rupiah.

Sekilas tentang Umbi-umbian

Umbi umbian adalah bahan makanan lokal yang kaya karbohidrat kompleks, serat, vitamin dan mineral. Bahan makanan ini sangat cocok untuk diversifikasi pangan pengganti nasi.

Umbi umbian tumbuh dengan baik di daerah tropis seperti Indonesia.

Pohong atau ubi kayu salah satu jenis tanaman umbi-umbian, sumber gambar: https://share.google/L0bRBNz39tonxeinQ

Ragam umbi umbian yang ada di Nusantara seperti singkong, ketela, bentul atau talas, mbothe juga gembili adalah bahan makanan yang kaya berbagai zat yang diperlukan oleh tubuh kita.

Singkong kaya akan sumber energi, ketela kaya akan beta karoten terutama yang berwarna ungu atau oranye, sementara itu bentul dan mbothe memiliki tekstur yang lunak dan bisa berfungsi sebagai sumber karbohidrat alternatif yang mengenyangkan. Kedua umbi ini sangat baik untuk melancarkan pencernaan, mengontrol gula darah karena indeks glikemik yang rendah.

Sebelumnya berbagai macam umbi-umbian ini bisa dijumpai di pedagang gorengan. Nah, seiring berjalannya waktu, dimana kesadaran masyarakat akan kesehatan makin meningkat orang mulai mengurangi gorengan dan tertarik pada jajanan umbi yang dikukus.

Menurut Mbak Win yang sudah menjual ‘kukusan’ selama dua-tiga bulan ini, peminat jajanan kukusan semakin banyak. Setiap hari ia bisa menjual satu dandang besar aneka kukusan mulai jam enam dan paling siang pukul sepuluh pagi.

” Bukan hanya di sini Mbak, di Jalan Kawi juga ada yang jual kukusan,” kata Mbak Win.

“Pohong dan bentul paling cepat habis,” tambahnya.

“Wah, besok saya pesan dua pohong dan dua bentul ya,” jawab saya

“Siyaaap,” Mbak Win tersenyum ramah.

Pala pendhem, sumber gambar:Jamupedia

Di samping untuk menjaga kesehatan kehadiran jajanan kukusan membuat kita lebih mengenal jenis makanan tradisional kita yang sempat agak ‘terlupakan’ di kalangan anak muda. 

Jajanan kukusan Mbak Win mengajak kami menjaga kesehatan sekaligus melestarikan tradisi pangan lokal Nusantara.

Ya, beberapa jenis umbi- umbian tidak dikenal oleh anak zaman sekarang. Bahkan ketika saya mengenalkan bentul, anak saya cukup heran. Dia tidak menduga bahwa bentul yang menjadi merk sebuah rokok terkenal (Bentoel) adalah nama sejenis umbi.

Dari sekadar penghilang lapar, jajanan kukusan Mbak Win ternyata menyimpan makna lebih dalam. Ia bukan hanya menawarkan rasa gurihnya pohong, lembutnya bentul, manisnya ketela, waluh dan pisang rebus,  tetapi juga mengajak kita kembali ke akar kuliner Nusantara yang kaya akan gizi. 

Akhirnya ada satu kuliner baru yang mewarnai pagi kami setiap hari. Ya,  jajanan kukusan Mbak Win yang mengajak kami menjaga kesehatan sekaligus melestarikan tradisi pangan lokal Nusantara.

Salam Kuliner..

Ayam Madu, Kejutan Kuliner Saat Lebaran 

Ada sebuah kejutan manis di saat saya bersilaturahmi ke rumah adik di Mojokerto tahun ini. Ayam madu, ya, sebuah hidangan dikeluarkan dari dapur setelah sekian menit yang lalu bau tumisan bumbu menguar dari dapur menjelajah seisi rumah. Harum dan sedap.

“Bude, monggo dhahar,” ajak keponakan saya. Tanpa menunggu lama saya segera menuju dapur. Meja makan kecil sudah tertata rapi. Tempe goreng, sayur, sambal tersedia di sana. Satu piring dengan hidangan berwarna kecoklatan sangat menyita perhatian saya.

“Ah, rupanya ini, sumber bau sedap tadi,” kata saya. 

“Rio pintar masak sekarang,” kata adik saya sambil tertawa.

“Ayam madu, Bude,” kata Rio, keponakan saya memperkenalkan hidangan yang ada di meja.

“Oh ya? Baunya sedap sekali,” kata saya sambil mengambil dua potong daging ayam dan meletakkan di piring nasi saya.

“Pintar sekali memasaknya Le, sering membuat ayam madu?” tanya saya lagi. Keponakan saya tertawa. Dari cerita-cerita bersama ibunya saya tahu bahwa di kosnya, setiap hari keponakan saya inj memasak sendiri.

“Ah, pantas masakannya enak sekali, ” kata saya.

Nama hidangan ayam madu terus terang baru saya tahu dari dialog di film Upin Ipin. 

Saat itu saya berpikir, bagaiman ya rasanya ayam madu? Ayam selama ini saya kenal sebagai hidangan yang identik dengan rasa asin dan gurih. Ya, saya hanya tahu ayam Laos, ayam goreng krispi, ayam bumbu merah, kare atau opr ayam. Lha ini ada ayam madu, berarti kan manis? Wah jadi penasaran. 

Tentang Ayam Madu

Ayam madu, dokumentasi Rio

Dari berbagai sumber, ternyata ayam madu adalah resep masakan yang merupakan adaptasi kuliner China yang disesuaikan dengan lidah lokal, serta terinspirasi dari jajanan khas Korea .

Hidangan ini menonjolkan rasa manis, gurih, dan juicy, dengan bahan utama ayam, madu, kecap manis/asin, dan jahe sebagai penyeimbang rasa, seringkali disajikan dalam versi krispi atau panggang 

Berikut resep dan cara membuat ayam madu. Karena yang dihidangkan kemarin adalah versi panggang, maka resep berikut adalah Ayam Madu Panggang.

Bahan-bahan

Bahan-bahan ayam madu, gambar by Chat GPT

500 gr  fillet ayam, di cuci bersih, marinasi dengan air jeruk nipis dan sedikit garam

5 siung bawang putih dihaluskan

2 cm Jahe dihaluskan

1 sdm saus tomat

3 sdm saus tiram

2 sdm kecap manis

3 sdm madu

1 sdt garam

1/2 sdt merica bubuk

50 ml Air

2 sdm Margarin (untuk menumis)

Cara Membuat

1. Siapkan semua bahan, lalu panaskan margarin dan tumis bawang putih serta jahe hingga harum, masukkan ayam, aduk sampai berubah warna.

2. Masukkan  saus tomat, saus tiram, kecap manis, dan madu. Masak dengan api kecil sambil diaduk. 

3. Tambahkan garam, lada dan air.. Masak hingga ayam matang dan air menyusut.

Lebaran benar-benar membuat talenta- talenta tak terduga muncul. Siapa sangka ternyata para  keponakan ini ternyata juga  pintar memasak.

4. Siapkan oven teflon , lalu panggang ayam sampai matang dan berwarna coklat keemasan sambil dioles sisa bumbu ayam nya.

4. Ayam madu siap disajikan. Pastikan ayam matang sempurna sebelum dihidangkan.

Simpel sekali cara membuatnya, tapi jangan ditanya rasanya. Nasi hangat dengan ayam madu adalah pelengkap silaturahmi istimewa sore itu. Irama derasnya hujan membuat hidangan kian terasa hangat dan sedap.

Aih, lebaran benar-benar membuat talenta- talenta tak terduga muncul. Siapa sangka ternyata para  keponakan ini ternyata juga  pintar memasak.

“Enak sekali Le, Bude harus praktek di Malang nanti,” kata saya sambil menambah lagi sedikit nasi ke piring saya yang hampir kosong. 

Nasi Gegok, Sebuah Kelezatan dalam Balutan Kesederhanaan

“Bu, tidak usah bawa bekal, karena sudah saya pesankan nasi gegok di teman saya,”

Sebuah pesan tiba tiba masuk WhatsApp saya.

Nasi gegok? Wah, saya baru tahu ini. 

“Wah, terima kasih. Nasinya yang bagaimana se itu?”

Asli, saya belum pernah tahu nasi gegok ini. Mendengar namanya juga baru kali ini.

“Nanti bisa dilihat kalau sudah datang,” kata teman saya. Jawaban yang bikin penasaran, apalagi di bagian belakang pesan masih ditambah dengan emoticon senyum sambil mengedipkan mata.

Kira-kira jam setengah tiga saya diberitahu bahwa nasi sudah datang dan diletakkan di meja.  Aha, sambil bersiap- siap pulang saya segera membuka kresek putih yang ada di meja. 

Sebuah bungkusan daun pisang dengan aroma sedap ada di dalamnya. Ooh, ini rupanya nasi gegok itu. Baunya cukup menggoda apalagi bungkusannya padat berisi dengan balutan daun pisang yang sepertinya habis dipanggang.

Nasi gegok, nasi dalam balutan daun pisang, dokumentasi Buz

Tanpa menunggu lama kresek putih saya masukkan tas untuk nanti saya nikmati bersama anak anak di rumah.

Penasaran dengan nasi yang satu ini akhirnya saya browsing ke sana sini.

Apakah nasi gegok itu?

Ternyata nasi gegok yang punya nama lain sego gegog ini  adalah kuliner khas Trenggalek yang berasal dari Kecamatan Bendungan sekitar tahun 1970-an. 

Sego gegog adalah hasil kreativitas warga setempat untuk membuat bekal petani agar mudah dibawa ke sawah agar praktis dan tahan lama.

Sego gegog adalah akronim dari “sega genem godhong gedhang” (nasi yang dibungkus daun pisang), kuliner ini populer karena perpaduan nasi yang gurih, sambal teri pedas, dan aroma khas daun pisang yang dikukus. 

Karena pengucapan konsonan g dan k di akhir kata hampir sama sego gegog sering dinamakan juga Sego gegok atau nasi gegok.

Nah, bagaimana cara membuatnya? Menurut teman yang pandai memasak cara membuatnya mirip cara membuat arem-arem. Hanya jika arem- arem berisi   sambal goreng atau ayam suwir, nasi gegok ini  berisi sambal teri.

Bahan yang diperlukan adalah nasi aron (setengah matang), teri, jahe, sereh, bawang merah, bawang putih, cabe rawit, garam dan penyedap rasa secukupnya.

Cara membuat nasi aron cukup cuci bersih beras masak dengan magic com sampai seten, lalu masak dengan magic com hingga setengah matang.

Isinya dibuat dengan cara menghaluskan bumbu yang terdiri atas bawang merah, bawang putih, cabe rawit, garam dan penyedap, lalu ditumis. Saat menumis masukkan lengkuas, jahe dan sereh supaya harum.

Nasi gegok disajikan dengan dipotong-potong, dokumentasi Buz

Sambil diaduk aduk, ke dalam bumbu tersebut dimasukkan teri yang sudah digoreng dulu sebelumnya.

Jika sudah, siapkan daun pisang untuk membungkus. Agar tidak mudah pecah, daun pisang sebaiknya dijemur atau dibakar di atas kompor dengan api kecil.

Letakkan nasi aron di daun pisang, lalu tambahkan bumbu yang ditumis tadi, kemudian lalu tutup lagi dengan nasi aron dan bungkus yang rapi. Terakhir, kukus kira kira 15 menit.

Nah, nasi gegok atau sego gegog siap untuk dinikmati. Bisa ditambah tumis sayur supaya lebih maknyus, atau dipotong-potong seperti yang ada di foto.

Sekilas seperti lemper tampilannya. Rasanya sedap, pedas, enak dinikmati hangat- hangat.

Sumber gambar: cookpad

Ada paduan kesederhanaan dan kelezatan dalam sajian nasi gegok atau sego gegog. Saya membayangkan bagaimana para petani dahulunya menikmati hidangan ini sambil ngobrol saat istirahat menggarap sawah. Pasti nikmat sekali.

Nah, bagaimana pembaca ? Ingin mencoba? 

Salam Kompasiana 😊

Pecel Sebagai Salah Satu Salad Terbaik di Dunia

Pagi itu tiba tiba ada sebuah cup plastik kecil di meja saya. Dari seorang teman. Penasaran saya segera membuka. Dan ternyata isinya bumbu pecel… .

Wuih mantap… . Sudah lama saya tak bikin pecel, pikir saya. 

Saya ambil sedikit dan saya icipi. Enak.

Menilik dari rasanya sepertinya bumbu pecel khas Blitar. Kacangnya agak kasar, rasa pedas dan manisnya begitu kuat.

Sambel pecel khas Blitar, dokumentasi pribadi Buz

Keesokan harinya, saya ada janji untuk mengantar teman yang akan balik ke Bandung. Di pintu stasiun teman saya tiba- tiba memberikan bingkisan dalam sebuah tas kecil. 

Ketika ngobrol di sebuah kedai sambil menunggu jam, saya buka tas tersebut. Isinya? Subhanallah, bumbu pecel lagi.

Jelas tertera dalam kemasannya bahwa ini adalah bumbu pecel khas Madiun.

Sambel pecel khas Madiun, dokumentasi pribadi

Alhamdulillah, kehadiran bingkisan sambel pecel dua hari berturut-turut membuat keinginan saya untuk membuat tulisan tentang pecel makin membara. 

Apalagi pecel, makanan kebanggaan kita mendapat predikat yang membanggakan baru- baru ini, yaitu dinobatkan sebagai salah satu salad terbaik di dunia.

Pecel. Siapa yang tidak kenal hidangan ini? Bagi kami warga Jawa Timur pecel adalah hidangan khas yang bisa kami temui di banyak warung. Karenanya tak heran jika banyak antara kami yang mengagendakan pecel sebagai menu sarapan setiap hari.

Penjual pecel di Pasar Klojen, dokumentasi pribadi

Banyak orang berjualan pecel warung, restoran, kedai kaki lima, bahkan di kantin sekolah pun ada tempat khusus yang menjual pecel. 

Saat membeli kita bisa membayar secara tunai maupun QRIS. Ya, betapa para penjual sudah sangat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Membayar belanjaan pecel dengan QRIS, dokumentasi pribadi

Di sekolah, dengan harga Rp8000,00 saja kami sudah bisa menikmati sepiring nasi pecel lengkap dengan peyek kacang dan tempe atau tahu.

Pecel adalah hidangan asli Jawa Timur yang terbuat dari aneka sayuran segar seperti bayam, kangkung, selada atau kacang panjang ditambahi taoge dan disiram dengan  saus kacang.  

Warung menyajikan nasi pecel, sumber gambar: Pinterest

 Dalam penyajiannya sering nasi pecel dilengkapi dengan tempe, tahu, telur atau mendol. Di beberapa tempat bahkan pecel ditambah dengan sayur lodeh. 

Aih, apapun tambahannya pecel selalu terasa sangat mengena di hati.

Konsep hidangan pecel mirip salad dari Eropa yaitu aneka sayuran disiram sambal kacang sebagai toppingnya.

Bahan utama sambal pecel adalah kacang tanah, bawang, cabai rawit yang dicampur dengan bahan lainnya seperti daun jeruk purut, bawang, asam jawa dan garam.

Ada kabar gembira tentang makanan yang sangat merakyat ini yaitu pecel berhasil menempati peringkat dua untuk hidangan salad terbaik di dunia versi Taste Atlas.

Taste Atlas, salah satu organisasi yang sering melakukan ulasan terhadap kuliner di seluruh dunia, dan baru-baru ini menentukan lima salad terbaik di dunia yaitu dakos, salad khas Kreta (Yunani), pecel dari Indonesia, mechouia Salad dari Tunisia, Horiatiki Salata dari Yunani dan Shopska Salata dari Bulgaria.

Menurut catatan saya dari hasil diskusi dengan teman teman yang pintar masak ataupun bergelut di bidang catering, ada tiga macam pecel yang banyak kita kenal yaitu pecel Blitar, pecel Kediri dan pecel Madiun.

Lalu apa bedanya?

Aneka bumbu pecel , dokumentasi pribadi Buz

Bumbu pecel dari Madiun, Blitar, dan Kediri memiliki ciri khas masing-masing yang membuatnya unik, yaitu:

1. Bumbu pecel Madiun biasanya memiliki rasa yang lebih manis, tekstur halus dan tingkat pedas yang tidak begitu kuat. Dalam pecel Madiun aroma daun jeruknya sangat terasa.

2.  Bumbu pecel khas Blitar biasanya lebih kasar, kental dan lebih pedas dibandingkan dengan pecel Madiun. 

3.Bumbu pecel dari Kediri punya cita rasa pedas dan manis yang lebih kuat. Kadang dalam bumbu pecel Kediri ditambahkan sedikit terasi, sehingga aromanya yang lebih tajam dan lebih gurih.

Kehadiran pecel dalam sebuah acara, dokumentasi pribadi Buz

Kesimpulannya antara ketiga bumbu pecel dibedakan pada variasi penggunaan daun jeruk, cabai rawit dan tekstur kacang yang kasar atau halus.

Nah, bumbu pecel khas mana yang pembaca suka? 

Kalau saya, dari daerah manapun bumbu pecelnya tidak masalah. Asal ada nasi hangat,  lauk yang sesuai dan ngobrol bareng teman, pecel selalu enak untuk dinikmati.

Jadi…monggo pecelnya…

Roemah Khatulistiwa, Ketika Bahagia Bukan Hanya Karena Rasa

Jumat sore selalu membuat hati terasa ringan. Ya, di hari yang menandai diawalinya libur akhir pekan itu, kami pulang satu jam agak awal. Jam 14.00 lebih kami sudah siap di parkiran.

Kemana sepulang sekolah hari itu? Setelah sedikit rapat tujuan pun ditentukan. Roemah Khatulistiwa. Itu hasil kesepakatan kilat kami. 

Tak berapa lama sepeda motor kami pun berjalan membelah keramaian kota Malang.

Hmm , bulan Januari dan Pebruari memang istimewa, langit yang mendung langsung mencurahkan air yang dikandungnya.

Sepeda motor kami berjalan semakin cepat. Di depan sebuah resto kami berhenti, dan sepedapun kami parkir. 

Pisang goreng, jeruk hangat dan kopi susu yang siap menemani

Hujan turun semakin deras. Beberapa pengemudi di jalan depan paviliun RSSA mempercepat jalan kendaraan mereka.

Kami segera masuk dan mencari tempat duduk yang ternyaman.

Ya, sebuah meja panjang dengan beberapa tempat duduk akhirnya menjadi pilihan kami. 

Seorang pegawai  mendatangi kami untuk menanyakan pesanan. Akhirnya pilihan kami jatuh pada jeruk hangat dan kopi susu. Tak lupa dua piring pisang goreng agar obrolan sore itu bertambah gayeng.

Sejarah Roemah Khatulistiwa, dokumentasi pribadi

Bertempat di sekitar RSSA dan SD Klojen,  Resto Roemah Khatulistiwa sangat mudah dijangkau. Resto yang merupakan bagian dari koperasi Kesdam Brawijaya ini menyediakan berbagai menu dengan harga terjangkau.

Roemah Khatulistiwa pertama kali berdiri tahun 2014 dengan nama Khatulistiwa dan menjual menu soto Solo saja.

Seiring dengan berjalannya waktu usaha semakin berkembang dan nama resto berubah menjadi Rumah Khatulistiwa pada tahun 2022.

Resto ini memperbanyak varian menu yang disediakan dengan berbagai makanan dari Sabang sampai Merauke. Berbagai macam makanan disediakan untuk mengobati kerinduan konsumen pada kampung halaman. Sebutlah gado-gado, rawon, aneka nasi bakar, aneka soto dan lainnya.

Aneka soto, dokumentasi pribadi
Makanan pengobat rindu, dokumentasi pribadi

Ya, betapa makanan sering menimbulkan kenangan akan indahnya kampung halaman tercinta.

Menurut Roemah Khatulistiwa, perkara makan bukan masalah sepele. Ia harus kita prioritaskan karena selain dibutuhkan oleh tubuh kita sebagai pemasok energi, lewat makan kita bisa menemukan kebahagiaan. 

Bahagia karena rasa, dokumentasi pribadi

Bukankah jika kita makan sesuatu, dan rasanya cocok di lidah, maka akan timbul rasa bahagia di hati kita? Seperti yang tertulis di sebuah gambar di Roemah Khatulistiwa yaitu “Bahagia Karena Rasa”.

Pesan untuk selalu memperhatikan waktu makan, dokumentasi pribadi

Obrolan terus berlanjut. Tentang sekolah, PMM, dunia nyata, dunia gaib dan banyak lagi.

Kopi susu , juga jeruk hangat sudah mulai tandas, demikian juga pisang goreng hangat sudah berpindah dengan manis ke perut kami.

Hari semakin sore. Ketika hujan sudah mulai reda, pembicaraan pun diakhiri. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada pegawai resto kami menuju parkiran. 

Menjelang pulang, dokumentasi pribadi

Aha, meski hawa terasa dingin, tapi hati kami begitu hangat. Bagaimana tidak? Ada bahagia dalam hati kami semua. Bukan sekedar bahagia karena rasa, tapi juga bahagia karena kami bisa tertawa dan ngobrol bersama. He..he…

Jadi, kapan jalan-jalan lagi…?