Oktober adalah bulan yang istimewa. Bulan yang kental dengan nuansa Sumpah Pemuda ini dipenuhi dengan berbagai agenda sekolah, dan salah satunya adalah Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos).
OSIS adalah wadah bagi peserta didik di sekolah untuk mencapai tujuan pembinaan dan pengembangan siswa yang sesuai dengan visi-misi sekolah.
Pengurus OSIS adalah peserta didik yang dipilih berdasarkan prestasi, dan keaktifan peserta didik di lingkungan sekolah. Menjadi pengurus OSIS harus mempunyai wawasan yang luas, pandai berinteraksi.
Persiapan Pilketos , dokumentasi Addin
Melalui OSIS jiwa kepemimpinan seorang peserta didik atau siswa bisa dikembangkan.
Betapa pentingnya memiliki jiwa kepemimpinan bagi seorang generasi muda, karena dengan jiwa kepemimpinan, para pemuda akan mampu mengarahkan dan menggerakkan kehidupannya ataupun kehidupan orang-orang di sekitarnya untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang akan dicapai.
Karena tidak mudah untuk mencetak seorang pemimpin maka pemilihan ketua OSIS melalui sebuah proses yang lumayan panjang.
Mulai dari seleksi wawancara, hingga LDK, dan kemudian dilanjutkan dengan penentuan kandidat, kampanye dan debat sampai akhirnya pemilihan.
Pemilihan ketua OSIS untuk masa jabatan 2023-2024 kali ini dilaksanakan pada hari Selasa 23 Oktober 2023. Ada tiga kandidat yang mengikuti yaitu Pramesti-Kirana, Sybia -Medinna dan Ailsa -Fachri.
Proses pemilihan, dokumentasi AddinProses pemilihan, dokumentasi Addin
Sebagai perwujudan demokrasi, Pemilihan Ketua OSIS dilaksanakan di lapangan volley secara bergiliran dengan menggunakan akun dari SIM Bintaraloka.
Semua memberikan suara, tak terkecuali Bapak/Ibu guru. Setelah memilih, seperti layaknya pemilu tangan pemilih distempel. Stempel memberikan makna bahwa yang bersangkutan sudah melaksanakan hak pilihnya dengan baik.
Pemberian stempel , dokumentasi pribadi Bapak dan Ibu guru juga ikut memilih, dokumentasi pribadi
Proses pemilihan selesai kira-kira pukul delapan pagi. Sesudah memilih banyak yang menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan memberikan senyum manisnya. Ciiiz…..😊
Klepon. Sebuah nama yang singkat tapi menimbulkan sensasi tertentu bagi para penggemarnya.
Mendengar kata klepon akan terbayang kue berbentuk bulat kenyal yang berwarna hijau dengan taburan kelapa di atasnya. Tak ketinggalan ada gula merah yang ada di dalamnya, sehingga saat masuk mulut, dengan manisnya kue ini akan menyemprot lidah kita. So sweet.
Karena perilakunya yang seperti itulah beberapa menamakan kue ini kue kaget nyemprot. He.. .he.. tidak salah juga sih..
Tidak hanya di Indonesia, Belanda juga mengenal kue klepon ini.
Dalam buku Indisch leven in Nederland karya J. M. Meulenhoff, diperoleh informasi bahwa klepon sudah ada di Belanda sejak tahun 1950 an. Konon yang membawa kuliner ini ke Belanda adalah seorang imigran asal Pasuruan, Jawa Timur.
Klepon, sumber gambar: Genpi
Kue klepon dibuat dari tepung beras dan tepung ketan yang dicampur dengan daun suji dan air, diuleni lalu dibentuk bulat-bulat. Di bagian dalamnya dimasuki gula merah yang akan lumer ketika bulatan adonan tadi direbus dalam air panas.
Menyajikan klepon cukup taburi dengan parutan kelapa dan letakkan di piring saji.
Sambil duduk santai , ngobrol bersama sahabat atau keluarga kiranya klepon adalah hidangan yang patut direkomendasikan.
Klepon pelangi, Sumber gambar: Cookpad
Dalam perkembangannya klepon tidak hanya berwarna hijau, tapi juga memakai warna lain. Bahkan ada juga klepon pelangi. Cantik sekali..
Tahukah pembaca bahwa selain cantik dan lezat, ternyata ada filosofi manis yang terkandung dalam hidangan ini?
Dibalik adonan klepon yang sepertinya tidak ada rasanya tersimpan manis yang luar biasa. Maknanya jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Bisa jadi penampilan yang biasa biasa saja ternyata menyimpan keistimewaan yang luar biasa.
Hidangan klepon kurang lengkap tanpa adanya taburan kelapa. Taburan kelapa membuat klepon teras makin sedap.
Perjuangan untuk mendapatkan daging kelapa, sumber gambar: InfoPublik
Ini bermakna bahwa segala sesuatu perlu perjuangan untuk meraihnya. Bukankah sebelum dihidangkan kelapa harus diambil dari batoknya, dikupas lalu diparut? Perlu perjuangan untuk mendapatkan taburan kelapa penyedap klepon.
Hmm, tidak hanya lezat. Dibalik kenyal dan manisnya klepon ternyata ada filosofi baik di dalamnya.
Jadi, tunggu apa lagi.. yuk, mari menikmati klepon bersama secangkir kopi agar hangat terasa di hati…
Bau lilin yang dipanaskan menguar ke mana- mana. Kain mori putih dibeber di atas meja yang sudah dilapisi spon berair dan ditutup plastik kaca.
Dengan hati-hati, narasumber mencelupkan alat pembuat cap dengan motif tertentu ke dalam lilin panas, lalu segera meletakkan cetakan tadi dengan agak menekan ke atas kain.
Membuat batik cap, dokumentasi pribadi
Cetakan dibuka, dan taraa.. motif cantik langsung tercipta di atas kain tadi.
Sekelompok anak memperhatikan keterangan narasumber, sementara yang lain memvideo ataupun mencatat segala keterangan yang disampaikan.
Proses pewarnaan, dokumentasi pribadi
Beberapa pertanyaan yang muncul dijawab dengan sabar oleh Pak Afaf, sang narasumber hingga siswa merasa puas.
Di atas adalah gambaran suasana ketika siswa SMP Negeri 3 Malang melakukan Outdoor Learning ke SMKN 7 Malang. Outdoor Learning ini bertujuan untuk mengajak siswa praktek membuat batik topeng Malang.
Pengarahan dari Pak Vigil dan Bu Ari, dokumentasi pribadi
ODL dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Oktober 2023 dengan diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri atas siswa dan guru pendamping.
Siap berangkat ODL, dokumentasi pribadi
Pemberangkatan peserta dari SMP Negeri 3 ke SMKN 7 dilaksanakan pukul tujuh pagi dengan menggunakan 25 buah mikrolet. Sebelum berangkat, ketua projek tema dua yaitu Pak Vigil memberikan arahan pada siswa di aula Bintaraloka bersama Ibu Ari Susani.
Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi
Menurut Pak Afaf, bukan hanya SMP Negeri 3 Malang, bahkan siswa dari negeri Jiran kita Malaysia, juga tertarik belajar pembuatan batik di SMKN 7 Malang.
Belajar membuat batik topeng Malang adalah salah satu kegiatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema kedua yaitu Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka.
Projek ini mengambil dimensi berkebhinekaan global, kreatif, mandiri dan gotong royong
Mengapa harus batik?
Berbagai motif batik hasil karya SMKN 7, dokumentasi pribadi
Batik sebagai karya Bangsa Indonesia harus kita hargai dan kita lestarikan keberadaannya.
Batik merupakan perpaduan antara seni dan teknologi leluhur bangsa Indonesia.
Hal yang membuat batik memiliki daya tarik dibanding motif kain yang lain adalah karena corak motifnya banyak mengandung makna dan penuh dengan filosofi yang erat akan adat dan budaya dalam kehidupan manusia.
Motif batik yang lain, dokumentasi pribadi
Indonesia memiliki beragam motif batik yang memiliki fislosofinya masing-masing. Sebutlah batik kawung yang merupakan motif batik yang bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris.
Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian. Motif kawung menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna.
Ada juga motif batik truntum. Batik ini menggambarkan cinta yang selalu bersemi, karenanya saat upacara pernikahan, mempelai biasanya mengenakan batik truntum.
Indonesia memiliki banyak batik khas karena hampir tiap daerah memiliki corak khasnya masing-masing. Ada batik Blitar, Tulungagung, Madura, Solo, Jogja bahkan Malangan.
Topeng sebagai motif khas batik Malangan, dokumentasi pribadi
Lalu apa ciri khas batik Malangan? Batik Malangan sering menggunakan ornamen topeng, tugu, singa, dan bunga teratai sebagai motif utama.
Tugu berasal dari relief candi di Malang dan monumen kota Malang. Bunga teratai adalah bunga yang disukai Kendedes dan tumbuh disekitar monumen Tugu.
Singa merupakan simbol yang sering digunakan penduduk Malang sebagai supporter kesebelasan Arema, sedangkan topeng Malang merupakan kebudayaan dan seni asli dari daerah Malang.
Berkaitan dengan usaha melestarikan batik dan kebudayaan seni asli Malang inilah siswa diajak belajar membuat batik topeng Malang.
Dalam ODL ini siswa mendapat paparan tentang cara membuat batik tulis dan batik cap. Karena tingkat kesulitan batik tulis lebih tinggi, saat praktik siswa diajak membuat batik cap.
Alat untuk membuat batik cap, dokumentasi IqbalLilin dan canting, dokumentasi Iqbal
Ada tiga tahap utama dalam pembuatan batik cap yaitu pembuatan motif, pewarnaan dan ngelorot atau penghilangan lilin.
Penyempurnaan motif dengan menggunakan canting, dokumentasi pribadi Proses ngelorot, dokumentasi pribadi
Proses pembuatan motif dan pewarnaan dilaksanakan di SMKN 7 sedangkan ngelorot dilaksanakan di SMP Negeri 3 Malang.
Kegiatan yang luar biasa. Siswa tampak begitu antusias. Apalagi batik-batik cantik yang tercipta adalah hasil desain mereka sendiri.
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Akhirnya semoga kegiatan ini bisa meningkatkan kecintaan siswa pada batik, sehingga mereka akan semakin menghargai batik sebagai karya cipta asli anak negeri yang penuh filosofi.
Perkenalan saya dengan Kompasiana terjadi tiga tahun yang lalu. Tepatnya Oktober 2020, ketika pandemi sedang merajalela di negeri ini.
Semua berawal dari anjuran anak saya yang juga menggeluti dunia kepenulisan. Anak saya membuatkan akun Kompasiana ketika tahu saya punya banyak tulisan di blog.
“Daripada dibaca sendiri, ‘kan lebih baik kalau yang baca banyak, Buk?” katanya saat itu. Saya menurut saja. Lagipula senang juga jika tulisan saya dibaca oleh banyak orang.
Apa yang saya peroleh dari Kompasiana setelah tiga tahun bergabung? Banyak. Yang paling bisa dirasakan, kepercayaan diri dalam menulis semakin tinggi.
Semula saya agak ragu apakah tulisan saya bisa dinikmati pembaca atau tidak. Tapi komentar dan apresiasi teman- teman sungguh meningkatkan semangat dan rasa percaya dalam diri saya untuk terus menulis.
Hingga tahun ketiga ini, hampir 500 tulisan yang sudah saya buat. Kalau dihitung rata rata satu tulisan tiap dua hari. Bagi saya cukup lumayan, meski banyak teman yang jauh lebih produktif daripada saya.
Bersama Kompasianer Mbak Naz, dokumentasi pribadi
Tulisan yang saya buat banyak berkisar tentang dunia sekolah. Ya, saya menulis apa yang saya lihat. Di samping untuk bercerita, saya juga ingin memberi inspirasi pada siswa saya bahwa menulis adalah dunia yang mengasyikkan.
Hal lain yang saya dapatkan dari Kompasiana adalah banyak teman. Bergabung di grup KPB, Kompasianer Pendidik juga Pulpen membuat kami bisa saling bertegur sapa.
Saya merasa mempunyai banyak saudara dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai manca negara.
Saling menyapa, menunjukkan foto makanan pas sarapan atau makan siang, membuat pertemanan kami terasa demikian akrab. Ya, betapa banyak keunikan di daerah kami masing-masing.
Lewat grup whatsapp, biasanya kami juga bertukar tips atau hal hal penting lainnya.
Pertemanan bahkan bisa berlanjut sampai copy darat juga.
Copy darat pernah saya lakukan dengan Mbak Naz dan Bu Yayuk.
Dengan Mbak Naz kami pernah ketemuan di Matos (Malang Town Square). Ketika itu Mbak Naz mengantar putrinya mencari tempat kost di daerah Malang karena putrinya diterima di Universitas Negeri Malang.
Dengan Bu Yayuk bahkan kami pernah menikmati Mie Bakar Celaket bersama. Gara- gara Kompasiana kami sadar bahwa kami sebenarnya tetangga dekat sekali.
Sekolah Bu Yayuk di SMP Cor Jesu dan saya di SMP Negeri 3 Malang. Hanya sepuluh menit jalan kaki.
Bersama Bu Yayuk saya pernah diajak berjalan-jalan menjelajah SMP Cor Jesu yang ternyata sangat mempesona.
Di dalam museum mini SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi
Ternyata banyak sekali benda-benda bersejarah di sana. Waktu itu saya diajak menikmati benda benda koleksi museum mini Malang Ursulin Gallery, seperti piano buatan Jerman sekitar tahun 1895, koleksi foto-foto lawas mengenai bangunan CorJesu sebelum dan sesudah agresi militer Belanda 21 Juli 1947.
Bersama Kompasianer Yayuk di SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi
Bahkan benda-benda administrasi sekolah seperti rapor dan buku tata usaha di masa lalu tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca besar
Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan itu saya dapatkan karena berkenalan dengan Bu Yayuk lewat Kompasiana.
Lewat Kompasiana juga akhirnya saya bisa bertemu kakak kelas saya semasa SMA, penulis yang sangat produktif Pak Budi Susilo.
Ikut serta dalam berbagai event lomba adalah moment yang sangat menyenangkan. Lebih-lebih ketika menang dan mendapat hadiah. Wow… Sesuatu rasanya..
Tumbler hadiah dari event lomba KPB, dokumentasi pribadi
Ya, banyak yang saya peroleh setelah tiga tahun bergabung di Kompasiana. Saling silaturahmi , dan berbagi inspirasi dengan sesama Kompasianer, itu yang paling membahagiakan.
Sebenarnya saya ingin sekali ikut Kompasianival sebagai ajang pertemuan dengan teman teman Kompasianer. Namun sepertinya belum bisa karena di samping jauh, juga diadakan pas agenda kegiatan agak padat.
Singkatnya antara saya dan Kompasiana ada kedekatan yang sangat. Setidaknya itu menurut perasaan saya, karena beberapa teman atau siswa memanggil saya dengan sebutan Bu Kompasiana atau Bu Kompas. He..he.. padahal antara keduanya sangat berbeda.
Akhirnya menjelang ulang tahunnya yang ke 15, saya berharap semoga Kompasiana senantiasa menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami untuk berbagi cerita , inspirasi dan menebar kehangatan silaturahmi.
Suasana politik negeri yang kian menghangat dengan dimulainya pendaftaran paslon peserta Pemilu rupanya menular di Bintaraloka tercinta.
Betapa tidak? Bintaraloka juga sibuk mempersiapkan pemilihan Ketua OSIS atau Pilketos minggu-minggu ini.
Jika yang di pusat pemerintahan masih sibuk dengan pendaftaran paslon peserta pilpres, Bintaraloka sudah mulai disibukkan dengan kampanye dan debat calon kandidat ketua OSIS.
Suasana debat dan penyampaian program kandidat ketua OSIS, dokumentasi pribadi
Pilketos sendiri nantinya akan dilaksanakan pada tanggal 24:Oktober 2023 bersamaan dengan pelaksanaan Lomba Bulan Bahasa.
Ada tiga kandidat yang beradu program hari ini. Berikut adalah kandidat dan rincian program mereka:
1. Pramesti -Kirana
Kandidat ini mengusung program unggulan Bintaraloka Science Day dan Bintaraloka Fun Writing untuk meningkatkan kompetensi siswa SMP Negeri 3 Malang dalam bersains, juga menulis. Slogan Pramesti dan Kirana adalah: Melangkah Maju Pilih Nomor Satu
Kandidat 1 dan programnya, dokumentasi Jasmine
2. Sybia-Medinna
Dengan program unggulan Finding Talent, Bintaraloka Belajar Bersama, ECO Friendly day, juga voice box, Sybia dan Medinna ingin meningkatkan iklim belajar di Bintaraloka yang kondusif juga kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan sekitar.
Slogan kandidat ini adalah: Raih Cita dengan Cinta, Pilih Nomor Dua.
Kandidat 2:dan programnya, dokumentasi Jasmine
3. Ailsa-Fachri
Dengan slogan ‘Tunjukkan Inovasi, Gerakkan Aksi No 3 Berkolaborasi’, Ailsa dan Fachri mengusung program unggulan Pentas Seni Tahunan, Bintaraloka berbicara dan Bintaraloka Bersuara. Fachri adalah satu-satunya kandidat putra dalam Pilketos tahun ini.
Kandidat 3 dan programnya, dokumentasi Jasmine
Nah, itu adalah program dari masing-masing kandidat. Sangat menarik bukan? Semua pada intinya adalah untuk kemajuan sekolah kita tercinta SMP Negeri 3 Malang.
Program tidak hanya disampaikan lewat kampanye, tapi juga tempelan poster atau banner yang dipasang di jalan-jalan yang strategis di lingkungan sekolah.
Poster kandidat dipasang di dinding sekolah, dokumentasi pribadi
Dalam acara debat pagi ini, para kandidat juga diminta menjawab pertanyaan dari Ibu Uci, mister Sony dan Pak Aksan berkaitan dengan disiplin, karakter dan kebersihan sekolah.
Dengan dipandu oleh MC Regan dan Amira, acara berlangsung gayeng dan seru.
Layaknya calon politisi mereka bisa menjawab dengan baik pertanyaan yang disampaikan. Ya, sebagai calon pemimpin mereka harus bisa mengambil langkah yang tepat dalam memecahkan suatu masalah.
Para pemberi pertanyaan, Bu Uci, Mr Sony dan Pak Aksan, dokumentasi pribadi
Pertanyaan tidak hanya datang dari guru namun juga dari siswa. Ya, layaknya sebuah pesta, pilketos adalah sebuah pesta demokrasi yang harus disambut dengan gembira dan penuh semangat.
Pembawa acara Regan dan Amira, dokumentasi pribadi
Semua pihak ikut terlibat dalam pilketos ini, baik panitia, calon maupun pemilih.
Bapak/Ibu guru pendamping siswa, dokumentasi pribadi Bapak/Ibu guru PPG, dokumentasi pribadi
Karenanya ayo tentukan pilihanmu! Jangan golput. Karena bagaimanapun wajah Bintaraloka ke depan ditentukan oleh para calon pemimpin yang ada di dalamnya.