Masjid Ar Rahman Simbol Cinta dan Rindu Seorang Hamba pada Tuhannya

Ini adalah tulisan ketiga dari cerita jalan jalan Eksplor Blitar bersama teman teman alumni SD. Tulisan pertama berjudul “Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran Blitar” dan yang kedua berjudul “Berkunjung ke Penangkaran Rusa Maliran, Kesambi Trees Park Blitar“. Sengaja saya tulis dalam tiga judul karena setiap tempat mempunyai kekhasan dan menyimpan cerita manis tersendiri.

Sepur kelinci kami mulai berjalan meninggalkan Kesambi Trees Park Kabupaten Blitar, dan kini menuju Masjid Ar Rahman Blitar.

Masjid yang sangat terkenal. Dalam beberapa kesempatan ke Blitar saya ingin mampir ke sini tapi belum kesampaian, dan kali ini dengan sepur kelinci, kami diberi kesempatan untuk mampir ke sini.

Siang semakin terik. Jalanan yang kami lewati lumayan ramai mungkin karena semakin ke tengah kota. Di kiri kanan jalan banyak buah nanas dijual dalam bentuk ikatan. Ya, Blitar terkenal sebagai daerah penghasil nanas madu di Jawa Timur.

Nanas madu produk unggulan Blitar, dokumentasi pribadi

Setelah sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya sampailah kami di depan Masjid Ar Rahman Blitar. yang  berlokasi di Jl. Ciliwung No.2, Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Masjid ini mudah dijangkau di pusat kota dan sering menjadi tujuan wisata religi. 

Di bagian depan masjid, kami langsung disambut dengan gerbang yang berbentuk Al Quran. Gerbang tersebut merupakan miniatur dari Gerbang Mekkah, sebuah gerbang lengkungan monumental di Makkah al-Mukkarramah jalan dari Jeddah–Jalan Raya Mekkah, yang merupakan pintu masuk ke Mekkah.

Ciri khas dari masjid ini adalah dilengkapi dengan payung-payung raksasa yang memberikan keteduhan bagi para jemaah, mengingatkan pada payung-payung di Masjid Nabawi. Jumlah total ada tujuh payung, empat payung permanen dan tiga payung elektrik yang bisa membuka dan menutup seperti di Masjid Nabawi.

 Penggagas berdirinya masjid Ar Rahman yaitu Abah Hariyanto mempunyai pengalaman spiritualyamg sangat mendalam tatkala beribadah haji pertama kali di Masjid Nabawi, dan beliau ingin setiap saat bisa merasakan berada di suasana khusyuk ketika beribadah di sana.

Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan pada tanggal 24 Desember 2018, dan selesai pada tanggal 25 Desember 2019.

Memasuki masjid ini terasa kesan yang benar benar berbeda. Ornamennya sangat artistik dan didominasi dengan kubah kubah melengkung dengan dominasi warna putih, tembaga dan emas.

Ruang jamaah putri, dokumentasi pribadi

Begitu masuk kami langsung diarahkan ke pintu kiri tempat jamaah perempuan. Setelah memasukkan bawaan termasuk sandal di loker dan menguncinya, kami langsung menuju tempat wudhu. Hari itu pengunjung banyak sekali mungkin karena akhir pekan sehingga banyak orang jalan jalan dan melakukan sholat di Ar Rahman.

Langit-langit Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi

Azan Ashar baru saja berkumandang. Selesai wudhu kami segera masuk area sholat. Karena kami melaksanakan sholat jamak, oleh petugas masjid kami diarahkan ke tempat tersendiri, tidak sholat Ashar berjamaah bersama yang lain. Ruangan dipenuhi dengan asap wewangian yang memberikan sensasi rasa tenang.

Ornamen yang cantik, dokumentasi pribadi

Duduk sebentar setelah melaksanakan sholat membuat saya bisa melihat ornamen langit- langit dan sekitar masjid dan mengambil foto-foto.

Menurut informasi masjid ini dibangun di tanah seluas 5000 meter persegi dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk. Arsitektur khas Mamluk (abad 13-16 M) ditandai dengan penggunaan batu kokoh, kompleks bangunan multifungsi (masjid, madrasah, makam), dan detail dekorasi rumit seperti muqarnas, pahatan batu, serta pola geometris. 

Pintu masuk tempat sholat, dokumentasi pribadi

Setelah berjalan-jalan di sekitar masjid, kami menuju loker untuk mengambil barang barang . Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri untuk mengambil minuman yang disediakan. Ada tiga jenis minuman yang disediakan dalam sebuah termos besar yaitu kopi, teh dan jahe, dan jamaah boleh mengambil sesukanya dengan menggunakan gelas yang tersedia.

Hmmm, sedap sekali rasanya menikmati minuman hangat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.

Berfoto di depan Asmaul Husna, dokumentasi pribadi

Masjid Ar Rahman bukan hanya sekadar bangunan megah, tetapi juga simbol dari kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT dan kerinduannya akan suasana Masjid Nabawi. Masjid yang juga diharapkan dapat menjadi tempat yang membawa keberkahan dan kedamaian bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, dan ini saatnya kami kembali ke stasiun. Ya, kereta Doho Penataran arah ke Malang akan berangkat pukul 17.20.

“Sampun? Balik Stasiun?” tanya Pak Ali, Sang Driver sepur kelinci dengan ramah.

“Inggih Pak, langsung stasiun,” jawab kami hampir bersamaan.

Matahari kian meredup. Kereta kami mulai berjalan seiring senja yang menyapa Bumi Bung Karno. Sungguh perjalanan yang mengesankan. Sehari eksplor Blitar dengan tiga tempat tujuan : Candi Penataran, Kesambi Trees Park dan Masjid Ar Rahman. 

“Kapan kapan jalan lagi ya..,” kata seorang teman di dalam kereta.

“Bagaimana kalau ke Bali? Mampir ke rumahku,” tanya seorang teman yang memang tinggal di Bali dan kali ini sedang sambang ke Malang.

Ayo, tapi nyelengi dhisik,” jawab yang lain diiringi derai tawa kami yang ditelan suara deru kereta api.

Explore Blitar: Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika sepeda motor saya terhenti di Kayutangan. Rombongan lari yang lumayan panjang membuat kami tidak bisa meneruskan perjalanan beberapa saat.

“Ayo, sudah ditunggu,” kata seorang teman lewat WhatsApp. Aih, pasti semua sudah siap, pikir saya. Ya, rencananya pagi itu kami bersepuluh akan mengadakan jalan jalan ke Blitar.

Jalan- jalan kali ini diadakan oleh teman alumni SD. Sangat menyenangkan. Sudah lama sekali rasanya kami tidak bertemu, apalagi jalan- jalan bersama.

Setelah rapat yang lumayan panjang lewat grup WhatsApp, akhirnya kami memutuskan untuk jalan jalan ke Blitar di hari Sabtu (18/04).

Di stasiun Kota Baru, dokumentasi pribadi

Tujuan sudah ditentukan yaitu tiga destinasi di kota Blitar. Candi Penataran, Penangkaran Rusa dan Masjid Ar Rahman .

Untuk transportasi, ke Blitar kami naik kereta api , sedangkan keliling Blitar menggunakan sepur kelinci. Sepur kelinci? Pasti asyik, pikir saya.

Sekitar jam tujuh lebih lima menit saya tiba di stasiun Kota Baru. Dan benar, teman-teman sudah datang dan mereka tampak berfoto- foto di depan stasiun.

“Sudah lengkap? Ayo masuk sekarang,” kata teman-teman. Sebuah pengumuman memberitahukan bahwa kereta api Doho Penataran arah perjalanan Blitar akan segera datang.

Setelah melakukan cek tiket dan KTP kami segera menunggu dekat jalur dua, tempat kedatangan Doho Penataran nanti.

Wajah- wajah tampak begitu cerah. Tas besar berisi bontotan tak lupa juga dibawa. Begitu kereta api datang, bersama penumpang yang lain kami segera masuk kereta dan tepat pukul 07.29 keretapun berangkat.

Perjalanan pagi yang sangat menyenangkan. Biasalah emak-emak, di kereta kami bertukar makanan dan saling mencicipi. Obrolan mengalir tiada henti, gayeng pokoknya.

Di ruang tunggu stasiun, dokumentasi pribadi

Tepat jam 10.21 kereta kami masuk stasiun Blitar dan di depan pintu kedatangan kami menunggu datangnya kereta kelinci.

Oh ya, bagi yang belum tahu kereta kelinci adalah mobil besar yang dimodifikasi tempat duduknya sehingga semua menghadap ke depan seperti dalam kereta api atau sepur. Satu sepur bisa memuat 10-12 penumpang.

Ada kejadian lucu di sini. Seorang teman yang bagian pesan sepur tiba- tiba hpnya rusak dan tak bisa dihubungi. Karena merasa bertanggung jawab atas perjalanan ini, ia langsung mencari lokasi sepur kelinci di arah yang berlawanan dengan kami. Bingung saling mencari (tidak ada HP pula), akhirnya teman ini meminta bantuan polisi untuk diantar ke lokasi sepur kelinci. Ya ampun… Mau jalan jalan saja kok sampai melibatkan Pak Polisi.. he..he..

Sepur kelinci, dokumentasi pribadi

Setelah sampai parkiran kereta kelinci, driver kami Pak Ali langsung mempersilakan kami masuk, dan taraa….. perjalanan Explore Blitarpun siap dimulai.

Kereta kami terus berjalan menembus lalu lintas Blitar yang tidak begitu ramai. Jendela samping yang terbuka membuat suasana terasa sejuk. Beberapa di antara kami mengeluarkan perbekalan karena tidak sempat sarapan tadi pagi.

Dalam sepur kelinci , dokumentasi pribadi

Setelah satu jam perjalanan, kami memasuki kawasan wisata Candi Penataran.

Tentang Candi Penataran

Cantiknya Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Candi Panataran termasuk komplek candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan peninggalan kerajaan Kediri dan Majapahit.

Berlokasi di Desa Penataran Kecamatan Nglegok Blitar, candi ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, dan berjarak kira-kira 12 km dari pusat kota.

Selain berfungsi sebagai tempat suci pemujaan Dewa Siwa dan candi negara (state temple) pada masa Kediri hingga Majapahit, candi ini juga digunakan untuk upacara penangkalan bahaya Gunung Kelud serta tempat penyucian diri. 

Ada banyak Relief di sekitar dinding candi. Relief tersebut menceritakan tentang Ramayana dan Krisnayana.

Relief sekitar candi, dokumentasi pribadi

Di tempat wisata ini saya menyempatkan diri untuk mencicipi nasi soto yang dijual oleh kedai di luar area candi. Kombinasi rasa lapar dan sedapnya nasi soto hangat membuat makan jadi lahap. Ditambah lagi, dari kedai ini kami bisa melihat Candi Penataran dari kejauhan. Aih.., cantik sekali.

Di Penataran kami tidak hanya belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah

Soto lezat di siang itu, dokumentasi pribadi
Pemandangan candi dari kejauhan, dokumentasi pribadi

Memasuki wilayah Candi, kami segera mengisi buku dan berkeliling di area candi. Karena akhir pekan, pengunjung hari itu lumayan banyak. Ada rombongan keluarga, bahkan sekolah.

Cuaca yang cerah dan hawa yang panas tidak membuat semangat kami surut. Apalagi beberapa teman sudah siap dengan payung dan topi.

Berjalan- jalan di area candi , berfoto bersama atau makan bekal bareng di bawah pohon serasa waktu diajak berhenti sejenak merayakan kembali kehangatan pertemanan kami di masa sekolah. Indahnya masa sekolah, gurau dan canda sesekali menghiasi perbincangan kami kala itu.

Ya, di Penataran kami tidak hanya sedang belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah.

“Ayo, jam 12.15 segera balik ke parkiran,” kata seorang teman yang menjadi leader kami. Saya melirik arloji. Jam 12.10. Wah, benar-benar waktu terasa berjalan begitu cepat.

Setelah berfoto bersama (untuk yang ke sekian kalinya), bergegas kami menuju sepur kelinci yang sudah setia menanti.

Berfoto di depan Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Semangaat, perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu penangkaran rusa dan Masjid Ar Rahman sudah menanti. Bagaimana cerita pengalaman kami berikutnya? Tunggu kisah selanjutnya ya…

Salam jalan-jalan…😀

De Karanganjar Koffieplantage : Tentang Blitar, Kopi dan Masa Lalu

Hari semakin sore ketika mobil kami memasuki kawasan De Karanganjar Koffieplantage Blitar. Ini adalah destinasi ketiga kami  dalam perjalanan sehari di Blitar setelah Kampung Coklat dan Museum Bung Karno.

Diiringi hujan yang begitu deras dan langit yang agak gelap kami segera menuju pintu masuk lokasi De Karanganjar Koffieplantage Blitar, atau perkebunan kopi Karanganjar.

Yang dinamakan pintu masuk bentuknya adalah serupa pintu gerbang besar yang dibukakan oleh penjaga yang bertugas di dalamnya. 

Dari informasi yang kami dapatkan di tempat ini kami bisa menemukan cafe, museum dan rumah Lodji.

Petunjuk lokasi di De Karanganjar Koffieplantage, dokumentasi Ayu

Sesudah membeli tiket masuk yang berbentuk kartu pos, kami segera masuk. Karena perut sudah lapar, tujuan pertama kami adalah cafe.

Sebenarnya untuk masuk ke cafe kami harus berjalan kaki, tapi karena cuaca kurang mendukung sore itu mobil kami dipersilakan masuk dan parkir tidak jauh dari cafe.

Ucapan selamat datang, dokumentasi Ayu

Van Harte Welkom in Onze Grootouders Cafe. Sebuah tulisan menyambut kedatangan kami di dekat pintu masuk. Artinya kurang lebih dengan sepenuh hati selamat datang di Onze Grootouders Cafe. Onze Grootouders sendiri bisa diartikan Our Grandparents. 

Begitu masuk cafe suasana tempo dulu langsung terasa. Deretan buku-buku, lukisan dan hiasan , termasuk juga radio, mesin hitung zaman dulu dan berbagai pernak pernik sangat menunjang tampilan lawas cafe ini.

Pernak pernik di OG cafe, dokumentasi Ayu
Lukisan dan pernak pernik di OG Cafe, dokumentasi pribadi
Lukisan dan foto lawas di OG cafe, dokumentasi pribadi

“Ayo kita duduk dulu, pesan makanan, lalu silakan jalan- jalan,” kata leader kami.

Setelah pesanan beres kamipun berjalan- jalan di sekitar cafe. Hanya bertiga, saya, Kimi anggota terkecil dari rombongan kami dan Mbak Ayu seorang penulis novel sejarah.

Saya dan Mbak Ayu sama-sama  mempunyai ketertarikan yang besar dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mbak Ayu sudah kedua kalinya ke sini, karena itu banyak dokumentasi di artikel ini hasil jepretannya saat berkunjung sebelumnya di mana saat itu cuaca sedang terang.

Dari berbagai informasi, ternyata De Karanganjar Koffieplantage ini berdiri sejak tahun 1874 dan termasuk salah satu perkebunan kopi tertua di Indonesia.

Karanganjar Koffieplantage , dokumentasi Ayu

Pada era Kolonial Belanda,  Blitar yang berada dekat gunung Kelud dijadikan salah satu daerah pusat pengembangan kopi di Jawa Timur. 

Saat itu banyak perkebunan kopi dibuka di sini dan salah satunya adalah De Karanganjar. 

De Karanganjar Koffieplantage didirikan oleh H. J. Velsink dan Hendrik Van Vredenberg kemudian dikelola oleh perusahaan Belanda NV. Kultuur Mij Karanganjar. 

Pada tahun 1957 perkebunan ini dinasionalisasi oleh  Sukarno, presiden pertama RI.

Bagian depan sebelum masuk Rumah Lodji, dokumentasi pribadi

Dari cafe kami terus berjalan memasuki Roemah Lodji. Lodji berasal dari kata lodge yang artinya benteng. Tentu saja bangunannya bukan berupa benteng, mungkin lodge di sini merujuk pada bangunan yang besar.

Di Rumah Lodji ini kita bisa mengenal lebih dekat  Keluarga Roeshadi yang telah tiga generasi mengelola perkebunan ini lewat berbagai koleksi barang-barangnya.

Suasana ‘lain’ sangat terasa. Apalagi ada sayup- sayup suara gending yang menemani perjalanan kami. Hujan yang turun semakin deras membuat suasana sepi kian terasa 

Kimi yang berjalan di dekat saya memegang tangan saya erat-erat. “Kok serem ya..,” bisiknya.

Satu hal menarik di Rumah Lodji ini adalah adanya kamar yang didedikasikan untuk Presiden Sukarno, yang pada tahun 1957 datang dan beristirahat di De Karanganjar Koffieplantage selama beberapa jam.

Kamar Bung Karno , dokumentasi Ayu

Dari Rumah Lodji kami masuk Moesioem Noegroho. Nama museum ini diambil dari nama salah satu pemilik perkebunan ini yaitu Herry Noegroho. 

Barang koleksi di museum ini sebagian besar milik Herry Noegroho dan puteranya Wima Brahmantya yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Herry Noegroho sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Blitar pada tahun 2005- 2016.

Di Moesioem Noegroho , dokumentasi Ayu
Koleksi benda benda antik, dokumentasi Ayu

Di dalam museum ini banyak terdapat koleksi benda-benda pusaka milik leluhur juga lukisan lukisan yang cantik. Satu hal yang menarik adalah adanya koleksi Batik Tutur asli Blitar yang pernah dibawa ke Negeri Belanda selama satu abad lebih.

Batik tutur, dokumentasi Ayu

Dari museum kami segera kembali ke cafe. Di luar rupanya ada acara perkemahan dari sebuah komunitas anak-anak. Ya, De Karanganjar Koffieplantage ini memang bisa menjadi destinasi wisata edukasi, karena di sini kita juga bisa belajar budidaya dan pengolahan kopi.

Kembali ke cafe, ternyata pesanan kami sudah siap. Berbagai macam makanan sudah menunggu demikian juga minuman hangat. 

Kami langsung makan. Hawa yang dingin membuat lapar kian terasa, dan membuat kami makan dengan lahap.

Satu hal yang menarik, peracik makanan bahkan yang menyajikan makanan di sini adalah orang bule.

Oh ya, kami sempat berkenalan dengan Benita, salah seorang bule asal Jerman yang sedang mengisi liburan di Indonesia dengan menjadi volunteer.

Berfoto bersama Benita, dokumentasi Buz

Untungnya leader kami, Ibu Arie adalah guru Bahasa Inggris, sehingga pembicaraan kami dan Benita terasa demikian hangat.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Cafe sudah tidak menerima  pesanan makanan dan minuman, karena pukul lima cafe sudah ditutup.

Setelah puas makan dan berkeliling , kami segera beranjak dari Onze Grootouders Cafe untuk menuju mobil. Kian sore hawa dingin kian terasa.

Hujan masih turun begitu deras.

Mobil kami terus berjalan meninggalkan halaman De Karanganjar Koffieplantage. Sebuah cafe di antara perkebunan kopi yang dikemas dengan nuansa sejarah yang demikian kental. Berjalan di area ini membuat kita seolah terlempar ke masa lalu menyusuri jejak peristiwa yang pernah terjadi Blitar era kolonial Belanda. 

Blitar ternyata punya banyak cerita. Sebenarnya kami ingin terus menjelajah, tapi karena waktu jua yang membuat kami harus segera balik ke Malang.

Roemah Lodji, dokumentasi pribadi

“Pulang?” tanya Kimi. Rupanya ia sudah mulai lelah dan mengantuk.

“Ya, kita pulang,” kata saya sambil tersenyum. 

Mobil kami terus melaju melalui jalan yang berkelok-kelok. 

Berjalan-jalan sehari di Blitar memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Kampung Coklat, Museum Bung Karno, De Karanganjar Koffieplantage, semua punya cerita sendiri-sendiri bagaikan mozaik yang memperindah tampilan kota ini.

Menurut rencana sebenarnya satu destinasi lagi akan kami datangi yaitu Candi Penataran. Tapi waktu tidak memungkinkan, karena sebentar lagi langit akan gelap.

Matahari perlahan tenggelam dan mobil kami terus berjalan menuju kota Malang. Deretan pepohonan seolah berlarian dilihat dari dalam mobil kami yang melaju kencang. 

Blitar, kami akan kembali, bisik hati saya.

Menyusuri Jejak Sang Proklamator: Refleksi di Museum, Perpustakaan dan Makam Bung Karno

Mobil kami berjalan laju di tengah  lalu lintas kota Blitar yang tidak begitu ramai.

“Selanjutnya kita ke Museum?” tanya Bu Ari pada Mas Andre driver kami.

“Siapp,” jawab Mas Andre. Jawaban favorit kami. Ya, Mas Andre selalu siap mengantar kami ke mana saja.

Dari Kampung Coklat, destinasi berikutnya adalah Makam sekaligus Museum dan Perpustakaan Bung Karno.

Ini adalah kunjungan saya kedua ke Makam Bung Karno. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu saya ke sini bersama teman- teman SD.

Suasana jalan menuju museum terasa lebih ramai dari biasanya. Sangat berbeda. Ya, banyak orang mengenakan baju putih dan bawahan hitam di jalanan.

“Ada apa ya? Sepertinya ada acara?” tanya saya. Saya ingat, dulu pernah diberi tahu oleh Bapak penarik becak di daerah museum ini bahwa di Bulan Juni selalu ada banyak acara di Blitar terutama di area Makam Bung Karno.

“Bulan Bung Karno, Bu. Bung Karno itu lahir di bulan Juni, wafat di bulan Juni dan menemukan Pancasila tanggal 1 Juni,” kata Si Bapak waktu.

Mobil kami terus melaju menuju parkiran. Turun dari mobil kami kami bisa membaca beberapa spanduk yang terpasang di jalan jalan.

Ternyata hari itu bertepatan dengan diadakannya haul Bung Karno. Kami baru sadar bahwa kami datang ke Museum pas hari wafatnya Bung Karno yaitu tanggal 21 Juni.

Tentang Makam,  Perpustakaan dan Museum Bung Karno 

Koleksi lukisan Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Perpustakaan dan Museum Bung Karno  ini berlokasi di kompleks Makam Bung Karno Jl. Kalasan No. 1, Blitar, Jawa Timur.

Komplek makam sendiri menempati area seluas 1,8 hektar dan dibagi menjadi tiga yaitu halaman, teras, dan pendopo/mausoleum. Pembagian  ini sesuai dengan kepercayaan Jawa mengenai tiga tahap kehidupan  yaitu janin, kehidupan, kematian.

 Proses pembangunan Museum Bung Karno diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo, arsitek asal ITB, dan  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2004.

Pesan Bung Karno, Koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Dalam museum ini kita bisa lebih mengenal sosok besar tersebut lewat berbagai barang koleksi yang dipamerkan, seperti jas yang digunakan Bung Karno saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, koper yang digunakan Bung Karno saat keluar masuk tahanan,  termasuk koleksi keris yang demikian kental dengan budaya Jawa.

Dalam museum ini juga dipamerkan berbagai macam lukisan dan foto- foto, seperti rumah masa kecil Bung Karno atau Kusno (nama kecil beliau), foto di masa sekolah, masa perjuangan, pesan-pesan, juga foto-foto ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama.

Sebuah foto yang sangat mengesankan bagi saya adalah ketika Bung Karno sungkem pada Ibunda beliau Ida Ayu Nyoman Rai. 

Foto Bung Karno sungkem pada Ibunda, koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Foto ini dibuat pada tahun 1953 ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Foto yang menunjukkan betapa besar bakti beliau pada sosok Ibunda ini seolah memberikan nasehat bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, Ibunda adalah tetap sosok yang yang harus kita hormati dan kita sayangi, karena beliaulah yang selalu tulus berdoa di setiap langkah kita .

Di museum ini juga banyak miniatur yang menunjukkan rumah tempat Bung Karno diasingkan. Seperti rumah di Bengkulu, Ende juga Brastagi.

Dari Museum kami masuk ke area perpustakaan yang berada di sampingnya persis.

Bung Karno adalah sosok yang gemar membaca, karena itu perpustakaan, museum dan makam dijadikan dalam satu kompleks.

Ah ya, kami sempat berfoto-foto di depan patung besar Bung Karno yang sedang membaca.

Berfoto di depan patung Bung Karno, dokumentasi Buz
Berfoto di depan patung Bung Karno sedang membaca, dokumentasi Buz

Begitu masuk museum , bau buku dan kamper langsung menyambut kedatangan kami. Aura adem dan nyaman sangat terasa. Setelah mengisi daftar tamu, kami mulai masuk menyusuri lorong di sekitar rak buku.

Beberapa buku yang sudah dibaca ada di atas meja. Luar biasa, buku- buku yang sangat bagus. Kebanyakan buku sejarah, ataupun tokoh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Ketika jam sudah menunjukkan jam setengah dua kami bergegas mencari mushola untuk sholat Dhuhur.

Sesudah sholat rencananya kami langsung menuju makam yang tidak jauh dari perpustakaan.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Untuk menuju makam kami harus melalui beberapa tangga naik. Ternyata di area makam baru saja ada acara, dan ketika kami tiba di sana ada kesibukan pembongkaran tenda- tenda sesudah dipakai acara di pagi harinya.

Dari baliho besar yang ada di depan makam, di bulan ini ada acara Haul ke 55 Bung Karno. Tiga acara besar dalam haul tersebut diadakan pada tanggal 6, 20 dan 21 Juni.

Baliho Haul Bung Karno ke 55, dokumentasi pribadi

 Acara meliputi doa dan tahlil, kenduri brokohan, selametan Akbar, pagelaran wayang kulit, pengajian dan ziarah nasional.

Sebagai catatan Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga, saatnya kami harus meninggalkan lokasi menuju destinasi berikutnya. Apalagi langit sudah tampak mendung.

Sebelum balik ke mobil kami sempat berfoto-foto dan membeli asesoris kecil- kecil seperti gelang, cincin dari manik-manik pada pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. 

Membeli gelang dan cincin manik-manik, dokumentasi pribadi

Berjalan-jalan di Perpustakaan, Museum juga area Makam Bung Karno ini membuat kita bisa begitu merasakan aura semangat, perjuangan dan kegigihan Sang Proklamator.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri

Bung Karno

Semangat dan cita-cita yang tak henti menginspirasi generasi masa kini agar tetap gigih dalam perjuangan untuk  menghadapi berbagai macam tantangan yang ada.

Ya, kita semua terus berjuang. Meski dalam bentuk yang berbeda dengan masa Bung Karno dulu, tidak berarti perjuangan kita lebih ringan, bahkan bisa jadi lebih berat.

Tekadkan semangat juang, dokumentasi Buz

Bukankah Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Satu Hari di Blitar, Sebuah Perjalanan Manis di Kampung Coklat

“Saya OTW dari Arjosari,”

Sebuah pesan singkat masuk WhatsApp saya. Bergegas saya menyiapkan tas yang berisi berbagai macam perbekalan (isinya cuma makanan ringan, mukena dan minyak kayu putih), dan taraaa, kami siap untuk melakukan perjalanan pagi itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih ketika ,mobil kami terus melaju di tengah ramainya lalu lintas kota Malang. Kali ini perjalanan kami lakukan berenam. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu anak kecil.

Oh ya, tiga orang dewasa sudah termasuk Mas Andre driver, teman, sekaligus fotografer kami.

“Ini ke mana saja?” tanya Mas Andre pada kami.

“Ke mana dulu terserah Mas Andre, yang penting destinasi kita ada empat yaitu Kampung Coklat, Museum Bung Karno, Cafe de Karanganjar dan Candi Penataran,” jawab kami. Ya, sesuai rencana hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Blitar, atau istilah kerennya eksplor Blitar.

“Siyaap..,” jawab Mas Andre ramah.

Perjalananpun dimulai.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Kondisi lalu lintas normal saja. Tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Mungkin libur sekolah baru saja dimulai sehingga masih banyak yang menikmati liburan di rumah. 

Memasuki Kabupaten Blitar terasa suasana yang sedikit berbeda di Malang. Jalan di sini tidak terlalu ramai, tidak terlalu lebar namun suasananya begitu nyaman.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di kawasan Kampung Coklat. Sebuah bangunan tinggi dengan dominasi warna coklat seolah menyapa kehadiran kami.

Dekat pintu masuk Kampung Coklat , dokumentasi pribadi
Dinding -dinding yang penuh informasi, dokumentasi pribadi

Berbagai informasi mengenai coklat ada di mana-mana. Sangat cocok jika Kampung Coklat ini menyatakan dirinya sebagai tempat wisata edukasi tentang coklat.

Setelah membeli tiket kami pun masuk. Dua puluh ribu per orang, sangat murah untuk tempat wisata edukasi sebagus itu.

Sejarah coklat dan Kampung Coklat

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Mendengar kata coklat, yang sering tergambar dalam benak kita adalah minuman berwarna coklat yang sedap dan manis, atau bahkan permen kecil kecil dalam bentuk batangan dengan rasanya yang begitu khas. Tidak salah, tapi dengan melihat tanaman coklat dan buahnya, kita akan memahami bahwa untuk mengolah biji coklat  menjadi minuman, permen atau campuran kue tentu memerlukan proses yang  lumayan panjang.

Coklat adalah bahan makanan yang diperoleh dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan tanaman tropis. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah dibudidayakan di berbagai daerah tropis di seluruh dunia.

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Dikutip dari history.com, coklat pertama kali dikonsumsi  oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Sekitar tahun 1544 coklat mulai masuk benua Eropa lewat Spanyol, di mana saat itu delegasi dari Guatemala  mengunjungi Istana Spanyol dan membawa hadiah yang di antaranya adalah minuman cokelat. 

Di awal abad ke-17, cokelat mulai banyak disuka dan menjadi minuman yang digemari di kalangan istana di Eropa. 

Coklat akhirnya menyebar di kalangan kaum elit Eropa dan seiring berjalannya waktu permintaan akan coklat terus meningkat dan makin terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sejarah Kampung Coklat, dokumentasi Ayu

Mengenai sejarah Kampung Coklat sendiri, bermula di tahun 2004 ketika seorang peternak ayam bernama H. Kholid Mustofa mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung. 

Kholid lalu merintis usahan baru dengan merawat 120 pohon kakao milik keluarganya yang ditanam pada tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

 Sejak saat itu, ia mulai fokus menjalankan usaha tersebut dan mempertimbangkan untuk membuka lapangan pekerjaan demi kesejahteraan para petani coklat di daerahnya.

Melalui magang di PTPN XII Penataran, Nglegok, Blitar dan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Kholid terus mendalami teknik budidaya kakao yang benar

Kholid terus berusaha memberikan edukasi lewat kelompok-kelompok taninya tentang budidaya kakao ini.

Usaha Kholid terus maju dengan semakin banyaknya bibit kakao yang dikembangkan dan berakibat semakin banyaknya coklat yang dipasok ke tempat industri pengolahan coklat.

Tidak berhenti di situ, Kholid lalu belajar bagaimana cara mengolah coklat sendiri yang kemudian dipasarkan di Blitar dan Solo..

Pada puncaknya pada tahun 2014 Kholid  memutuskan untuk membuat wisata edukasi tentang coklat yang diberi nama Kampung Coklat dan berlokasi di jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,

Potongan-potongan cerita sejarah coklat, termasuk sejarah berdirinya Kampung Coklat ini ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar yang ada di dinding di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tempat wisata ini. Selain mengetahui tentang coklat yang meliputi sejarah, budidaya dan pengolahannya, kita juga  bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat coklat bagi kesehatan.

Kami sebenarnya ingin melihat cara pengolahan coklat, tapi sayang saat itu stand pengolahan coklat sedang tutup. Namun tak apa, banyak masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa kami kunjungi.

Animal Feeding, dokumentasi pribadi
Kebun kakao, dokumentasi Buz

Selain berbagai informasi tentang coklat, di sini kita juga bisa melihat Kebun Kakao yaitu perkebunan coklat, juga Animal Feeding yang merupakan tempat peternakan berbagai macam binatang.

Lahan keduanya begitu luas, karenanya jika tidak ingin berjalan kaki, pengunjung bisa naik kendaraan yang disediakan untuk berkeliling di sekitar Kampung Coklat.

Di kebun coklat , dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan berbagai wahana permainan anak juga ada. Oh ya, kami sempat naik Perahu Ceria. Apa itu? Dengan tiket sepuluh ribu rupiah per orang, kami bersama naik  perahu di sepanjang sungai kecil yang di kiri kanannya banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Sangat mengasyikkan. Benar-benar membuat hati ceria.

Perahu Ceria, dokumentasi Buz

Dua jam  mengitari Kampung Coklat sepertinya belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu kami tentang coklat dan segala pernak- perniknya. Maksud hati ingin menjelajah lebih jauh lagi, namun kami harus segera meneruskan perjalanan menuju destinasi yang lain.

Sebelum meninggalkan Kampung Coklat kami sejenak duduk di cafe untuk menikmati aneka minuman coklat dan cemilan. Suasana ramai kian terasa. Semakin siang pengunjung semakin banyak.

Gallery Coklat tempat membeli oleh oleh, dokumentasi pribadi

Paduan kopi dan coklat dari minuman hangat yang saya pesan terasa begitu sedap juga manis. Saya tiba tiba tersenyum membaca sebuah quotes di salah satu sudut area ini.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya, he..he…, bisa saja.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya

Kampung Coklat

Setelah belanja oleh-oleh sebentar di Gallery Coklat, kami segera menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. 

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kampung Coklat bukan sekedar tempat wisata, tapi kaya akan edukasi, baik lewat informasi di sudut-sudutnya, maupun berbagai wahana yang ada di dalamnya.

Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Kampung Coklat

Blitar ternyata menyimpan banyak cerita, padahal ini baru destinasi pertama. Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan. Â