Semaraknya Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 bersama Rujak Merah Putih 

Kapan terakhir kali anda rujakan bersama teman? Aha, di sebuah hari perayaan Agustusan kemarin kami para guru Bintaraloka mengadakan acara rujakan.

Acara yang pernah menjadi lambang keakraban dalam pertemanan di masa lalu ini kami lakukan setelah jalan sehat pada hari Jumat (14/08). 

Di kisaran tahun 80-90 rujakan adalah acara istimewa yang selalu ditunggu saat kumpul bareng teman. 

Rekreasi bersama pasti ada acara rujakan. Silaturahmi ke rumah teman ada acara rujakan, bahkan mengerjakan tugas kelompok masih disisipi dengan acara rujakan.

Ilustrasi rujak manis, sumber gambar: IDN Times

Entah kenapa, rujakan selalu membuat acara kumpul-kumpul menjadi lebih afdhol,  gayeng dan akrab.

Sekilas tentang Rujak, jenis makanan ini sering juga dinamakan salad Jawa. 

Rujak adalah salah satu hidangan tertua dan makanan Jawa Kuno. Hal tersebut terungkap dalam Prasasti Taji Jawa Kuno (901 M). 

Nama rujak diyakini berasal dari bahasa Jawa angrujak yang berarti menghancurkan, memotong halus, atau menyayat. 

Penamaan ini merujuk pada berbagai bahan untuk membuat rujak yang biasanya dipotong-potong menjadi ukuran lebih kecil terlebih dahulu sebelum disajikan

Orang Jawa sering memasukkan rujak ini sebagai sajian  dalam upacara pranatal seperti neloni (perayaan tiga bulan usia kandungan) atau mitoni (tujuh bulan usia kandungan).

Dalam kedua upacara ini rujak yang dibuat juga khusus yaitu rujak buah dengan resep  gula merah, asam jawa, cabe dan sedikit garam. Hanya bedanya buah pada rujak untuk neloni atau mitoni dipasrah halus.

Rujak seperti ini sering dinamakan dengan rujak gobet.

Rujak gobet, sumber gambar: Cookpad

Rujak yang dibuat pada kedua upacara ini disuguhkan pada para tamu dengan harapan agar ibu maupun bayi yang dikandung sehat dan diberikan kelancaran pada proses persalinan.

Ada sebuah mitos yang mengatakan jika rujak yang dibuat terasa manis, maka bayi yang dikandung ibunya adalah perempuan. Tapi jika rujaknya terasa pedas, maka bayinya laki-laki. He..he…

Dalam berbagai acara, kehadiran rujak membuat suasana lebih terasa segar. Di samping karena mudah membuatnya, bahan bakunya yang terdiri atas buah-buahan segar makin disukai karena kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat semakin meningkat.

Rujakan yang kali ini dilakukan di Bintaraloka kami namakan Rujak Merah Putih. Bisa jadi karena yang membuat rujak semua mengenakan baju bernuansa merah putih, atau bisa juga karena rujak tersebut dibuat dalam suasana perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81, dimana semangat keIndonesiaan kami demikian membara.

Dalam berbagai acara, kehadiran rujak membuat suasana lebih terasa segar.

Untuk bahannya peserta membawa seikhlasnya. Ada yang membawa buah-buahan, kerupuk, tahu dan yang paling penting ada yang bersedia membuatkan bumbu. 

Sebelum menikmati hidangan tentu saja kami bersama sama mengiris buah dan menatanya di atas meja.

Menyiapkan rujak, dokumentasi pribadi
Menikmati rujak bersama , dokumentasi pribadi

Kehadiran rujak Merah Putih pagi itu benar-benar membuat suasana lebih ceria.  Kebersamaan antar guru kian terasa. Ya, kehadiran aneka buah, kerupuk, tahu dalam balutan bumbu gula merah, kacang tanah, cabe, asam dan bawang membuat suasana terasa begitu manis, semanis rujak juga senyum kami hari itu.

Salam Merdeka… 🇮🇩🇮🇩

Gempita Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bumi Bintaraloka 

Luar biasa meriah. Kata- kata tersebut sangat pas untuk menggambarkan suasana gempita perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bintaraloka.

Ya, perayaan yang dilaksanakan sejak hari Rabu (12/08) ini benar benar menggambarkan semangat dan kebersamaan seluruh warga Bintaraloka.

Perayaan HUT kali ini diisi dengan berbagai lomba siswa maupun guru, jalan sehat dan upacara.  Ada berbagai lomba siswa yang diadakan seperti paduan suara, poster manual, fashion show, video blog, makan kerupuk, estafet sarung, menara bola dan banyak lagi.

Salah satu nomor lomba siswa: memasukkan paku dalam botol, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: fly ball, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: memakai kemeja dengan balon, dokumentasi BBC

Menariknya lomba-lomba tidak hanya menguji ketrampilan dan kesigapan siswa tapi juga pengetahuan literasi dan numerasi termasuk kewarganegaraan, seperti lomba cerdas cermat antar kelas.

Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Lomba cerdas cermat , dokumentasi BBC
Final cerdas cermat , dokumentasi pribadi

Dalam perayaan ini Si Ciput dan tim Literasi Numerasi juga tidak mau kalah dengan mengadakan lomba mading kelas dan Aku Cinta Indonesia. 

Aku Cinta Indonesia adalah lomba berbasis game yang bertujuan untuk menguji pengetahuan umum siswa tentang Indonesia.

Lomba Aku Cinta Indonesia, dokumentasi pribadi

Sebuah catatan tersendiri adalah ternyata kreativitas siswa dalam membuat mading patut diacungi jempol. Berbagai kreasi mading yang begitu bagus sempat membuat dewan juri bingung untuk menentukan pemenangnya.

Penilaian Mading, dokumentasi pribadi
Kreativitas mading siswa, dokumentasi pribadi

Selain lomba-lomba tersebut, pada hari Jumat (14/08) keluarga Bintaraloka juga mengadakan jalan sehat di sekitar sekolah yang diadakan setelah apel peringatan HUT Pramuka.

Persiapan jalan sehat, dokumentasi pribadi
Jalan sehat, dokumentasi BBC

Nuansa merah putih membuat suasana ceria kian terasa. Semua berjalan penuh semangat sambil melambaikan bendera merah putih kecil di tangan.

Tidak hanya siswa, guru juga tidak mau kalah. Sementara siswa berlomba dengan dikoordinir OSIS, gurupun mengadakan beberapa nomor lomba untuk ikut memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini. Sebutlah lomba menara bola, tangkap ikan, perang naga dan lainnya.

Lomba guru, dokumentasi BBC
Semangat para guru, dokumentasi pribadi

Pengumuman para pemenang lomba dilaksanakan pada puncak perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 yaitu tanggal 17 Agustus 2026 sesudah upacara bendera.

Hari yang luar biasa. 

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Segala lomba, jalan sehat, dan kreativitas yang ditampilkan hakekatnya bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata semangat kebersamaan dan rasa cinta tanah air. 

Lagu-lagu Nasional yang dilantunkan siswa pada lomba paduan suara adalah nada dari hati sebagai wujud cinta pada negeri.

Paduan suara, dokumentasi BBC

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Selamat ulang tahun ke-81 Republik Indonesia. Semangat kemerdekaan akan tetap hidup di hati kita semua, khususnya di lingkungan Bintaraloka tercinta.

Salam Merdeka ….!

Jelajah Kampung Sekabrom, Stadsklok dan Gedung PLN, Cerita Jalan Sore Bersama History Funwalk Malang

Mentari Kota Malang bersinar lembut. Cuaca benar-benar cerah dan sangat mendukung kegiatan kami hari itu. Aha, di Sabtu(15/08) sore itu kami akan jalan-jalan bersama History Funwalk Malang. 

History Fun Walk Malang adalah komunitas walking tour atau wisata jalan kaki edukatif di Kota Malang yang mengajak masyarakat menyusuri kawasan bersejarah dan bangunan peninggalan kolonial Belanda sambil belajar sejarah. Komunitas ini didirikan pada Mei 2023 oleh anak-anak muda pemerhati sejarah lokal

Bersama anak saya, saya mendaftar untuk ikut kegiatan. Ya, sudah lama sekali kami ingin ikut jelajah bangunan bersejarah di kota Malang, dan baru kali ini kesampaian.

Jelajah Kampung Sekabrom

Kampung Sekabrom di era tahun 90, lukisan Effendy Yusa

Sebelum mulai perjalanan kami lebih dahulu berkumpul di rooftop Instasemeru, Jalan Semeru Malang. Setelah briefing sejenak untuk menentukan lokasi apa saja yang akan dikunjungi perjalananpun dimulai. 

Sebelum turun dari rooftop saya sempat menjepret Kampung Sekabrom dari atas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagi saya. Betapa tidak? Sekitar tahun 90 an saya pernah tinggal di kampung ini. Meskipun hanya dua tahun, tapi ada banyak cerita yang terukir saat saya dan keluarga tinggal di sana.

Kampung Sekabrom dari rooftop Instameru, dokumentasi pribadi

Sekabrom adalah singkatan dari Semeru Kayutangan dan Bromo. Artinya kampung ini terletak tepat di pertemuan Jalan Semeru, Kayutangan dan Jalan Bromo. Lokasi yang sangat strategis karena begitu keluar gang (ada tiga gang) kita bisa langsung ke jalan besar yaitu Jl Semeru, Kayutangan atau Jl Bromo.

Kami terus berjalan menyusuri gang menuju kampung Sekabrom yang lokasinya masuk dalam wilayah Kayutangan. Dengan dipandu dua orang leader dan fotografer perjalanan sore itupun dimulai. 

Berjalan menyusuri Kampung Sekabrom serasa membuka kembali jejak kenangan masa lalu. Mengapa? Jalan yang kami lalui sore itu adalah jalan yang dulu setiap hari harus saya lewati, entah untuk ke Pasar Talun, berangkat kuliah ataupun mengantar kue ke toko.

Meski sudah banyak mengalami perubahan, namun kehangatan suasana Sekabrom masih sangat terasa. Pedagang yang berjualan di sekitar pos, anak kecil yang bersepeda juga orang- orang yang berlalu lalang di sekitar jembatan. 

Sejenak saya berhenti di pos Sekabrom yang dibangun tepat di atas sungai. Dinamakan pos, tapi fungsinya kira-kira seperti aula kecil dan sekarang menjadi balai RW.

Balai RW, dokumentasi pribadi

Di sini dulu kami jamaah putri di kampung mendirikan sholat tarawih juga shalat malam setiap hari di bulan Ramadhan. Mengapa di pos? Ya karena langgar yang ada masih kecil, hanya cukup untuk jamaah putra.

Suara gemericik air sungai yang mengalir benar benar terasa syahdu. Rumah kami saat itu tepat berada di dekat sungai tersebut, karenanya suara air sungai adalah irama yang menemani keseharian kami. Bentuk rumah-rumah yang ada sudah jauh lebih bagus daripada dulu. 

Menyusuri sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Sungai terasa demikian akrab dengan kehidupan kami. Peristiwa yang  berkaitan dengan sungai banyak kami alami sebagai warga Sekabrom. Seperti banjirnya sungai saat musim hujan, sungai yang kotor karena dipakai untuk membuang sampah (saat itu) atau sungai yang tiba-tiba berwarna coklat kemerahan seperti membawa tanah yang terkikis dari hulu sungai 

“Banyune kemlandan,” kata orang- orang saat air sungai menjadi kecoklatan saat itu. Kata ibuk saya yang orang asli Sekabrom kemlandan artinya mirip orang Belanda. Maksudnya warna sungainya jadi kemerahan mirip warna rambut orang Belanda. He..he…bisa saja.

Bagian tepi sungai sekarang berpagar tinggi. Pagar yang dibuat dari bata dan semen. Sebuah langkah yang sangat pas karena dulu saat hujan, air sungai meluap sehingga pemandangan di depan rumah seperti lautan. Tidak ada batas antara jalan dan sungai, sehingga sangat berbahaya seandainya ada pejalan kaki yang belum kenal dengan daerah tersebut. Bisa- bisa tercebur ke dalam sungai karena mengira luberan air tersebut adalah genangan air biasa.

“Ini jalan ibuk pas mau kuliah dulu,” kata saya pada anak saya yang setia berjalan di dekat saya. Kami terus berjalan hingga ujung sungai dimana di sana terdapat semacam gerojogan besar. Dulu kami menamakannya   rolak. Anak-anak kecil benar benar dilarang bermain di sini, terutama oleh orang tua mereka. Bahaya, itu pesannya.

Menurut narasumber, sungai di Kayutangan ini adalah sodetan sungai Brantas yang sudah dibangun sejak zaman Belanda. Dulu airnya lumayan bersih dan ada sekitar 12 jenis ikan hidup disini. Namun seiring berjalannya waktu, air semakin kotor dan hanya sekitar tiga jenis ikan yang ada di sini.

Rolak atau gerokogan di bagian atas sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Satu hal yang selalu saya ingat, dulu di dekat gerojogan ini banyak karamba dipasang  untuk memelihara ikan. Nah, ketika hujan deras dan debit air sangat besar, banyak karamba yang ambrol. Kami yang tinggal di daerah yang lebih rendah banyak yang membawa jaring kecil untuk menangkap ikan yang lepas dari karambanya.

Masih terbayang kehebohan orang-orang saat hujan deras. Ada rasa khawatir karena air meluap, tapi juga gemas melihat ikan-ikan besar yang berloncatan.

Stadsklok dan Gedung PLN

Berfoto di Stadsklok dengan latar belakang Toko Avia, dokumentasi History Fun Walk Malang

Dari Kampung Sekabrom kami melanjutkan perjalanan ke pertigaan Kayutangan dimana terdapat jam kota atau Stadsklok.  Stadsklok  tersebut dibangun sekitar tahun 1925-1926 bersamaan dengan dibangunnya Balai Kota Malang dibawah perintah Wali Kota Malang, Bussemaker. 

Lokasi Stadsklok ini sangat strategis karena terletak  di pertigaan penghubung jalan poros utama yang menghubungkan pelintas dari arah barat (Batu dan Kediri) serta utara (Surabaya dan Pasuruan). Di dekat jam ini terdapat kompleks pertokoan dan toko besar yang masih berdiri hingga kini adalah toko Avia yang terletak tepat di belokan dari Oro- oro Dowo ke arah Celaket.

Meskipun hampir tiap hari saya melalui jalan ini untuk ke sekolah, tapi sejarah Stadsklok dan sekitarnya baru saya ketahui sore itu. Setelah berfoto bersama, perjalananpun kami teruskan menuju Kantor PLN yang ada di depan Stadsklok.

Bangunan kantor yang selama ini saya anggap biasa saja ternyata menyimpan sejarah yang panjang. Berlokasi di Jalan Basuki Rahmat, kantor ini adalah bangunan bersejarah yang dibangun sekitar tahun 1930. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor perusahaan listrik swasta Belanda, ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij). Gedung ini menjadi saksi sejarah perkembangan infrastruktur kelistrikan di Malang, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang (saat bernama Shobu Denki Sha), hingga dikelola oleh PLN setelah kemerdekaan. 

Kantor PLN yang berlokasi di depan Stadsklok, dokumentasi pribadi

Dari Kantor PLN kami masuk kampung sekitar Avia untuk menuju Jembatan Kahuripan yang terletak di Jalan Kahuripan Malang. 

Jika selama ini saya selalu melalui jembatan Kahuripan di bagian atas, kali ini rombongan kami menyusuri bagian bawah Jembatan Kahuripan. Cerita tentang Jembatan Kahuripan dan kunjungan ke beberapa tempat yang lain akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya saja ya..😊 

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Sore yang begitu hangat. Sekabrom yang penuh kenangan, juga Stadsklok dan Gedung PLN yang dulu cuma saya lewati tanpa rasa penasaran, kini terasa begitu dekat dan bermakna. 

Salam jalan-jalan, berfoto di area Stadsklok, dokumentasi pribadi

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Salam dari Kota Malang

https://www.kompasiana.com/yuli91129/6a87f65cc925c436954e0dfd/cerita-tentang-jelajah-sekabrom-stadsklok-dan-gedung-pln-kota-malang?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Referral&utm_campaign=Sharing_Mobile

Dari Mobil BYD hingga Hangatnya Silaturahmi di Pawon Ratu Roso

Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat lima menit. Baru saja kami menyelesaikan kewajiban kami di akhir pekan yaitu finger pulang pukul 14.00 wib.

Jumat ini kami tidak langsung pulang sesuai rencana kami akan bersama sama menuju Pawon Ratu Roso untuk sebuah acara silaturahmi dan pembubaran beberapa panitia kegiatan.

“Grab saja ya?” tanya teman saya yang merupakan pelanggan setia kendaraan moda daring ini. Kami namakan teman ini artis Grab karena tiada hari tanpa nge grab,  alias setiap hari pulang pergi dari rumah ke sekolah beliau selalu naik Grab.

“Iya, ayo ngegrab saja,” jawab kami. Meski banyak di antara kami yang membawa sepeda motor, tapi untuk menjelajah daerah baru kami tidak berani bersepeda. Ya, dari pada kesasar.

Setelah pemesanan dilakukan kamipun mendapatkan driver. Dan menurut aplikasi driver akan datang sekitar 7 menit. Suasana depan sekolah yang crowded karena banyaknya penjemput membuat kami tidak begitu peduli pada jenis mobil apa yang akan menjemput kami. Yang penting ada, begitu seperti biasanya.

“Nomor berapa Bu?” tanya saya.

Teman saya menyebut sebuah nomor. Tumben plat L , pikir saya.

Tak berapa lama mobilpun datang. Platnya persis yang disebutkan teman tadi dan karena banyak sekali kendaraan di depan sekolah akhirnya mobil berhenti agak jauh dari pintu gerbang.

Bergegas kami menuju titik yang diinfokan. Dan taraa…, sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggu kami. BYD, mobil listrik baru yang begitu cantik. Aha… sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Bayangkan selama bertahun- tahun menjadi pengguna angkutan moda daring, kami sama sekali belum pernah mendapat mobil listrik seperti ini.

Di dalam mobil BYD, dokumentasi Ahfi

“Permisi ya, Pak, ” ucap kami berempat sambil memasuki mobil. Drivernya sangat ramah, dan mempersilakan kami duduk.

“Wah, mantap ini Pak. Tumben juga kami dapat BYD,” kata teman kami senang.

Drivernya tersenyum ramah. Pak Slamet namanya. Rupanya Pak Slamet baru saja membawa penumpang dari Surabaya ke Malang, dan nyantol di aplikasi kami.

Mobilpun melaju. Aih.., anteng sekali rasanya. Mungkin karena pengalaman pertama naik mobil listrik, kami jadi begitu antusias. Berbeda dengan mobil biasa, naik mobil ini memang terasa lebih anteng.

Sekilas tentang BYD

Dari atap mobil kita bisa melihat pepohonan di luar, dokumentasi pribadi

BYD (Build Your Dreams) adalah perusahaan teknologi multinasional asal Tiongkok yang menjadi salah satu produsen kendaraan listrik dan baterai terbesar di dunia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1994 di Shenzhen, Tiongkok, dan berfokus pada solusi energi terbarukan serta transportasi tanpa emisi.

Meski baru masuk di Indonesia tahun 2024 mobil ini mengalami lonjakan penjualan yang luar biasa pesat. Hingga pertengahan 2026, BYD menguasai sekitar 35% hingga 40% pangsa pasar mobil listrik di Indonesia.

Berbagai komentar muncul dari kami berempat, dan suasana makin heboh ketika Pak Slamet sang driver membukakan penutup bagian atas mobil sehingga kap atas yang ada di atas berupa kaca  sehingga sinar matahari bisa masuk dan kami bisa melihat pepohonan lewat kaca atap mobil.

“Wuiiih, mantap…,” kata kami sedikit norak. Layaknya emak-emak kamipun berfoto mengabadikan pengalaman ini.

“Kalau nanti turunnya mau buat konten silakan, ibu-ibu biasanya kalau naik mobil saya ngonten juga,” kata Pak Slamet sambil tertawa. Waduh… Jadi malu. He..he…

Perjalanan dari sekolah hingga Araya terasa begitu singkat. Hingga akhirnya sampailah kami di halaman Pawon Ratu Roso. 

Suasana Pawon Ratu Roso yang asri dan lawas terasa begitu sejuk. Selain tempat makan di sini juga disediakan resort, tempat bermain dan persewaan kuda. Beberapa pengunjung tampak berfoto di sekitar area Pawon Ratu Roso.

Kami segera turun dan bergabung dengan teman- teman untuk mengikuti acara hari itu. 

Acara yang berlangsung kira- kira 1,5 jam diisi dengan pembubaran panitia HUT, Purnawiyata sekaligus kokurikuler, dan dilanjutkan dengan makan dan saling melempar tebak- tebakan berhadiah. 

Hangatnya suasana makan bersama, dokumentasi pribadi

Sedapnya sayur asem, bakwan jagung, tempe goreng, sambal dan pepes menjadi penghangat silaturahmi di sore itu.

Suasana kian hangat ketika tiap perwakilan dari MGMP harus memberikan pertanyaan pada para hadirin. Peserta yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapat hadiah. 

Tebak- tebakan berhadiah, dokumentasi pribadi

Namanya saja tebak- tebakan. Pertanyaan yang diberikan kadang nyambung, kadang juga tidak. Yang penting seru.

Di bagian luar Pawon Ratu Roso, dokumentasi Ahfi

Sekitar jam setengah lima acara segera diakhiri. Pawon Ratu Roso mulai bersiap- siap untuk tutup. Ya, tempat makan ini ditutup pukul 17.00.

Satu demi satu kami meninggalkan Ratu Roso dengan segala ceritanya. 

Perjalanan sore itu memberikan pelajaran pada kami bahwa kebahagiaan sering datang dalam kemasan yang tak terduga. Seperti BYD dengan atap kacanya yang membuat kami bisa melihat pepohonan di atas tatkala mobil berjalan, juga keramahan Pak Slamet yang memperbolehkan kami sedikit heboh di dalam kendaraan.

Gayeng, dokumentasi pribadi

Tapi di atas semuanya hari itu kami juga belajar bahwa segala macam kepanitiaan bisa dibubarkan, tapi semangat silaturahmi dan kebersamaan akan selalu terpatri di hati kami.

Salam jalan-jalan 😊

Drama Cacar Air : Dari Puskesmas Hingga ke UGD

Libur semester genap yang baru saja berlalu menyisakan cerita yang tak terlupakan bagi kami.  Betapa tidak? Liburan yang kami rencanakan untuk diisi dengan jalan-jalan, cari inspirasi tulisan, mencoba Transjatim, berubah total karena ulah virus yang tiba-tiba merusak semua rencana. 

Ya, cangkrang atau cacar air tiba- tiba datang menyapa. Cacar air yang tidak bisa dianggap remeh meski menurut berbagai sumber cacar air ini adalah penyakit yang nantinya bisa sembuh sendiri 

Kejadian bermula ketika menjelang liburan saya sering merasakan agak demam di malam hari. Seperti agak nggreges begitu, tapi segera hilang ketika minum parasetamol atau dipakai tidur. Mungkin kecapekan, pikir saya. Jelang libur adalah saat rapotan dan kegiatan kokurikuler. Kesibukan benar- benar luar biasa dan rasa demam tiap malam hari saya abaikan dan esok harinya kembali beraktivitas.

Begitu rapotan selesai datanglah si cangkrang. Mula-mula saya tahu dari dua bintik berisi air yang muncul di lengan atas. Itupun tahunya tidak sengaja ketika mengenakan mukenah mau sholat Subuh.

Lho, kok ada semacam cangkrang ya? pikir saya heran. Padahal saya sudah pernah kena? Kata orang orang kalau sudah pernah kena cangkrang tidak akan pernah kena lagi? Tapi anehnya badan saya tidak panas alias normal saja suhunya.

Khawatir bintiknya bertambah banyak, agak siang sayapun ke Puskesmas.

Setelah diperiksa dan ditanya-tanya sebentar, akhirnya dinyatakan bahwa saya terkena cacar air dan  diberi obat dengan takaran yang unik. Acyclovir diminum 5×2, ibuptofen jika terasa sakit, vitamin sehari satu kali, dan acyclovir salep untuk obat luar.

Sekilas Tentang Cacar Air

Anak terkena cacar air, sumber gambar: Alodoc

Penyakit cacar air (varicella) adalah infeksi virus sangat menular yang disebabkan oleh Varicella zoster. Penyakit ini memicu ruam berupa bintil kemerahan yang berisi cairan dan terasa sangat gatal di sekujur tubuh.

Apakah orang yang sudah pernah cacar air bisa terkena lagi? Menurut Alodokter meski kemungkinannya kecil ternyata bisa. Beberapa penyebabnya adalah karena infeksi pertama terlalu ringan, terkena cacar air waktu bayi juga karena imunitas tubuh yang turun.

Saya agak heran dengan dosis acyclovir ini. 5×2, berarti saya harus minum 10 obat satu hari. Subhanallah.., buanyak sekali.

Tapi syukurlah dengan minum obat teratur cangkrang tidak muncul lagi, dan dua bintik yang ada di lengan yang sempat terasa sakit sudah hilang pula.

Selesai? Ternyata belum.

Beberapa hari kemudian ganti anak saya yang kena. Kali ini ditandai dengan demam yang tidak begitu tinggi tapi selalu muncul jelang malam hari.

“Kalau masih panas, besok kita bawa ke Puskesmas,” kata saya. Saat itu ia demam di hari kedua.

Karena paginya masih demam, sesuai rencana jam 9 an kami akan ke puskesmas. Jelang keberangkatan ke Puskesmas tiba- tiba saya melihat ada beberapa bintik berisi air di daerah lehernya.

“Lho, ini cangkrang Le,” kata saya. 

“Ketularan ibuk, ini,” tambah saya.

Bergegas hari itu kami berangkat ke Puskesmas dan mendapat obat yang sama. Acyclovir, Ibuprofen dan vitamin. Hanya yang membedakan kali ini dosis acyclovirnya 4×1.

“Lho, dosisnya kok beda ya?” tanya anak saya heran. 

“Iya ya? Mungkin kondisi tubuhmu dianggap lebih kuat jadi obatnya cukup sedikit saja,” kata saya mereka- reka.

Acyclovir dan obat tetes mata, dokumentasi pribadi

“Apa kita tanyakan saja?” ajak saya

“Tidak usah Buk, biar saja,” jawab anak saya. Mungkin karena demam dan pusing dia enggan masuk kembali ke ruang periksa guna bertanya ke dokter. 

Singkat kata sejak hari itu obat diminum empat kali sehari dan byur…. cangkrangpun bermunculan. Banyak sekali terutama di daerah punggung, perut dan wajah.

“Kok buanyak ya?Jangan jangan obatnya kurang ..?” tanya anak saya khawatir.

Saya yang sudah pernah dua kali kena cangkrang tidak begitu panik. 

“Mungkin keluar dulu semua, lalu pelan- pelan habis Le..,” jawab saya menenangkan.

Suatu sore tiba- tiba anak saya merasakan matanya pedih seperti kelilipan. Matanya terus berair. Saya segera menyodorkan tisu.

“Hati hati, kalau menghapus, jangan sampai air cangkrang  kena mata,” kata saya mengingatkan. Ya, hal yang membuat kami khawatir adalah beberapa bintik cangkrang muncul di sekitar mata.

Apakah keluarnya air mata adalah efek dari cacar air? Apa langkah yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kami pun browsing. Dan ternyata ada informasi yang menakutkan yang kami dapatkan dari browsing ini.

Acyclovir salep, dokumentasi pribadi

Dalam artikel yang kami baca dijelaskan bahwa cacar air yang mengenai area mata sangat berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Jika virus menyerang mata, risikonya meliputi infeksi kornea, peradangan saraf mata (Herpes Zoster Oftalmikus) hingga  kerusakan jaringan permanen.

Ya Allah, ngeri rasanya. Penyakit yang mulanya kami anggap ringan’ ternyata menyimpan akibat yang mengerikan.

” Kita  ke dokter saja ya?” tawar saya demi melihat anak saya yang semakin cemas. Ya, daripada kami mereka reka sendiri, browsing ke mana-mana, lebih baik tanya pada ahlinya.

Anak saya langsung setuju. Untungnya di sekitar rumah ada dokter praktek. Singkat kata kami datang ke dokter sore itu.

Dari dialog sekaligus pemeriksaan akhirnya kami diberi resep yang isinya acyclovir dan vitamin. Bedanya acyclovir di sini dosisnya dinaikkan sedikit.

Sesampai di rumah hati terasa lebih lega, sebab tadi diterangkan dokter bahwa proses penyembuhan cacar air ini rata- rata tujuh hari, dan ini masih hari ke empat.

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Jelang Maghrib tiba-tiba mata anak saya berair lagi. “Kok pedes ya..,” katanya takut.

Saya segera telpon ke dokter menanyakan kalau matanya terus berair bagaimana

“Dibawa ke spesialis mata saja Bu,” jawab dokter singkat. Deg…,  kekhawatiran kembali datang. Setelah diskusi sebentar tanpa menunggu lama kami segera ke UGD RS  yang tak jauh dari rumah saya.

Sesampai di sana ternyata dokter spesialis mata tidak ada (praktiknya sudah selesai) dan kami disarankan untuk ke dokter umum yang juga ada di RS saja. Kami setuju. Ya, daripada kami pulang ‘tidak membawa apa- apa’ dan hati yang luar biasa cemas.

Di dokter umum anak saya segera diperiksa termasuk juga daerah mata dan sekitarnya

“Aman kok Mas, tidak apa-apa. Hanya memang cacarnya banyak sekali. Sudah minum obat apa?” 

“Acyclovir dokter, 4×1,” jawab anak saya.

“Lha, cuma 4×1? Tidak ‘ngaruh’ itu,” kata dokter tersebut sambil menuliskan resep acyclovir 5 x 2, ditambah dengan obat tetes mata. Lha, sama dengan dosis saya kemarin, pikir saya. 

Obat segera ditebus, dan kami bergegas pulang. 

Hati lebih tenang  dan mulai malam itu anak saya minum obat dengan dosis yang baru yaitu 5×2. Subhanallah, sesudah dua kali minum obat, dia bisa lebih tenang, tidur bisa enak dan mata tidak mbrebes lagi. Sebelumnya karena bintik- bintik terus keluar dia mengeluh badannya sakit semua. 

Dua hari berikutnya bintik- bintik mulai mengering, mengecil dan sampai  obat habis bintik bintik tinggal menyisakan bekas- bekasnya.

Lega sekali rasanya. Sungguh, seminggu terakhir liburan yang luar biasa. Benar-benar cacar air telah menciptakan drama. Pelajaran penting yang bisa kami dapatkan adalah jangan pernah menyepelekan penyakit. Terbukti dari cacar air yang mulanya kami anggap ‘ringan’ ternyata bisa menciptakan drama kecemasan hingga sampai  membawa kami berkunjung ke UGD.

Sekedar berbagi cerita , salam sehat 😊

Artikel ini dimuat di Kompas.com :

https://katanetizen.kompas.com/read/2026/07/24/220028785/liburan-yang-tak-terlupakan-karena-cacar-air?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=traffic_share-ae2a5c764ad904293952289c51b35871