Ketika Waktu Serasa Diputar Ulang di Kampoeng Heritage Kajoetangan 

Sebuah pagi di Kayutangan. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Suasana tidak begitu ramai, beberapa toko masih belum buka, sementara yang lain sedang bersiap- siap menerima pengunjung.

Bertiga, saya dan dua orang keponakan berjalan di sepanjang jalan Kayutangan sambil menikmati segarnya udara pagi. 

“Ke Kampung Heritage ya?” ajak saya.

“Siyap…,” jawab keponakan-keponakan cantik ini. Ya, dalam dua hari mereka ada tugas ke UM dan menginap di rumah saya. Rencananya siang nanti akan balik, dan sebelum berangkat ke stasiun mereka saya ajak jalan- jalan ke Kayutangan Heritage.

Kami terus berjalan memasuki gerbang  Kampoeng Heritage. Dinginnya bediding tidak mengurangi semangat kami.

“Monggo..,”

Deretan pedagang yang berjajar di sebelah kanan jalan menyapa ramah. Ada berbagai macam makanan dan cinderamata yang dijual.

Di sebuah pos kecil kami membayar tiket masuk dan sebagai gantinya kami mendapat tiga buah postcard tanda masuk dengan gambar foto bangunan di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Loket pembayaran tiket, dokumentasi Tya
Tiket tanda masuk, dokumentasi pribadi

“Bangunan ini nanti bisa dicari di dalam kampung, Bu,” kata si Bapak ramah sambil menunjukkan foto ukuran postcard.

Tiket masuk ke sini terbilang murah yaitu Rp5000,00 per orang.

Tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan

Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kawasan cagar budaya di Kota Malang yang diresmikan sebagai destinasi wisata pada 22 April 2018. 

Kampung ini berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmad Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Malang.

Siap menjelajah Kampoeng Heritage Kajooetangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu pemukiman tua di Kota Malang, kampung ini ada sejak zaman kolonial dan diperkirakan memiliki akar sejak abad ke 13. Karenanya kampung Kajoetangan adalah saksi perjalanan sejarah dan berbagai perubahan yang ada di Kota Malang 

Di Kampoeng Kajoetangan kita bisa melihat  perpaduan bangunan rumah perkampungan khas Indonesia yang berdampingan dengan bangunan bernuansa kolonial yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hal yang sangat unik karena bukan hanya menunjukkan estetika, tapi juga bukti adanya  adaptasi budaya yang sudah berjalan dari masa ke masa.

Bertiga kami terus berjalan. Beberapa orang menyapa ramah. Menurut bapak yang menjual tiket,  pengunjung kawasan ini selalu banyak. Selain ingin menikmati suasana perkampungan, banyak pengunjung yang melakukan selfie karena perpaduan tempat tinggal dan gerai-gerai kopi menciptakan tempat-tempat foto yang menarik.

Ah ya, di sebuah spot foto, saya menemukan Radio Siegfried. Radio besar buatan Jerman di era 1950-1960 dan  pernah menjadi radio kebanggan keluarga kami.

Bertemu radio Siegfried , dokumentasi pribadi Tya

Menurut keterangan Kampoeng Kajoetangan ini memiliki 23 spot rumah yang bernuansa heritage. Bangunan tertua di sini dibangun tahun 1870 dengan arsitektur atap yang tinggi, jendela dan ventilasi yang besar menyesuaikan dengan daerah tropis.

Rumah 1870, sumber gambar: detik.com

Nuansa lawas sangat terasa dari bentuk pintu, jendela, lantai juga bagian atas rumah. Menurut pemiliknya sejak tahun 1870 rumah ini hanya mengalami satu kali renovasi yaitu ketika menambahkan satu kamar di bagian belakang dan pengecatan rumah.

Kembali kami berjalan.

Di depan rumah dengan cat hijau kami berhenti. Tulisan Hamur Mbah Ndut atau Rumah Mbah Ndut terpampang di bagian depannya, sementara di sebelah kiri ada kedai kopi cantik yang siap melayani pengunjung jika mau ngopi di tempat itu.

Kedai Hamur Mbah Ndut , dokumentasi pribadi

Menjelajah rumah Mbah Ndut membuat kita seakan terlempar ke masa lalu. Rumah yang dibangun tahun 1923 itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Bentuk pintu, jendela juga ubinnya yang berwarna kuning, ditambah dengan berbagai perabot lama, membuat suasana jadul sangat terasa. 

Suasana lawas makin kental dengan adanya  susunan barang pecah belah di lemari kaca. Benar-benar serasa bernostalgia. Zaman dulu lemari atau bupet yang berisikan barang pecah belah adalah hiasan yang ada di setiap rumah.

Lemari berisikan barang pecah belah, dokumentasi pribadi

Dari Hamur Mbah Ndut kami mampir ke rumah Nya’ Abbas Akub. 

Nya’ Abbas Akup adalah seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang bernada komedi dan fenomenal. Sebutlah Bing Slamet Koboi Cengeng, Ateng Minta Kawin dan banyak lagi.

Di rumah ini kita bisa melihat poster-poster film lawas karya Nya’ Abbas Akub yang  sangat booming di masanya, juga berbagai barang termasuk sepeda motor era tahun 70 an.

Sebuah sudut di rumah Nya’ Abbas Akub, dokumentasi Zifa

Sebelum pulang kami menyempatkan dulu untuk berfoto di sekitar sungai Kayutangan. Sebagai orang yang pernah tinggal di kawasan ini saya pernah merasakan meluapnya air sungai Kayutangan tatkala hujan deras. 

Bagusnya sekarang sudah dipasang dinding pembatas sungai yang memungkinkan air tidak meluber kemana- mana ketika hujan deras. Uniknya lagi dinding- dinding di sekitar sungai disulap menjadi tempat foto yang menarik dengan tambahan mural atau ornamen tertentu. Di sini juga terdapat kedai ice cream ‘de Lepen’. Lepen dalam bahasa Jawa artinya sungai. Jadi maksudnya kedai ice cream di dekat sungai. Aha… sangat kreatif.

Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan

De Lepen, kedai ice cream di dekat sungai, dokumentasi pribadi

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tak terasa sudah satu jam kami berputar- putar di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

“Capek?” goda saya pada keponakan-keponakan cantik.

“Mboten Bude,” 

Aih, meski berkeringat, wajah mereka masih tampak begitu bersemangat.

“Kereta berangkat jam berapa?” tanya saya

“Jam 11.45 , Bude,”

“Wah, ayo segera sarapan dan pulang. Jam 11 kalian harus sudah di stasiun,” 

Langkah kami percepat untuk keluar dari Kampoeng Heritage. Mencari sarapan, itu target berikutnya. Sesuai rencana pagi itu kami sarapan di warung soto yang tak jauh dari Kayutangan.

Kami terus berjalan. Kesibukan warga kian terasa. Warung dan kedai kopi makin banyak yang buka, demikian juga banyak ibu-ibu yang berangkat atau pulang dari pasar.

“Monggo, Bu,” sapa seorang ibu yang menjinjing belanjaan yang saya jawab dengan sebuah anggukan ramah.

Jalan-jalan, saling menyapa, juga menikmati nuansa lawas dari tempat tempat yang kami kunjungi sungguh membuat pagi kami  terasa hangat. Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan.

Salam jalan-jalan…😊

Ketika Hortensia Menyapa: Sebuah Perjalanan di Wisata Dusun Kuliner Batu

Pagi terasa begitu dingin. Meski jam sudah menunjukkan pukul delapan, tapi jaket tetap rapat kami kenakan. Ya, Malang di awal bulan Juli selalu menyajikan bedidingnya yang khas. 

Mobil kami terus berjalan membelah lalu lintas Batu yang lumayan ramai. Liburan sekolah. Tak heran jika banyak orang ke Batu untuk menikmati berbagai wahana wisata di sini.

Di sebuah jalan sempat terjadi antrean mobil yang panjang. Menurut informasi di sini baru saja dibuka wahana wisata baru, Mikutopia namanya. Hmm, Batu seolah tak henti berbenah. Ada saja wahana wisata yang ditawarkan untuk menarik para pengunjungnya.

“Wih, antreannya panjang ya,” celetuk seorang teman.

“Iya, wahananya bagus, kapan-kapan ke sini yuk,” jawab yang lain.

Mobil kami terus berjalan, dan memasuki sebuah pelataran parkir kamipun berhenti.

Membeli tiket masuk, dokumentasi pribadi

“Sudah sampai,” kata Mas Andre driver kami dengan ramah. Ada sebuah tulisan besar  Wisata Dusun Kuliner di pintu masuknya, sekaligus tulisan selamat datang dalam berbagai bahasa. Ahaa, perjalanan kami dimulai. Jelajah Wisata Dusun Kuliner Batu.

Bergegas kami menuju pintu masuk. Tempatnya asyik. Berlatar birunya  gunung, hamparan taman bunga, juga pepohonan dimana-mana, sungguh serasa sayang jika tidak diabadikan. Di sekitar pintu masuk ada banyak quotes bagus yang kadang lucu juga, hingga membuat kami senyum sendiri.

Quotes di pintu masuk, dokumentasi pribadi
Ucapan selamat datang dalam beberapa bahasa, dokumentasi pribadi

Setelah membeli tiket per orang dua puluh ribu rupiah kamipun masuk. Penjaga pintu memasangkan gelang di lengan kami sebagai tanda bahwa kami adalah pengunjung Wisata Dusun  Kuliner.

Sekilas tentang Wisata  Dusun Kuliner 

Gabungan wisata kuliner dan alam, dokumentasi pribadi

Berlokasi di Jalan Raya Batu, Cangar No. KM 9, Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur, 

Wisata Dusun Kuliner merupakan tempat wisata yang mengangkat tema kuliner namun menggabungkan wisata alam agar para pengunjung lebih mengenal lingkungan dengan cara yang lebih menarik.

Tempat wisata ini dibuka pertama kali pada tahun 2022. Ada banyak tempat kuliner yang dijual di semacam warung tempo dulu yang  diberi nama dengan nama gunung. Ada Omah Kawi, Omah Semeru , juga Omah Panderman. Masing- masing omah menyajikan aneka makanan yang bisa dinikmati oleh para pengunjung.

Omah Panderman , dokumentasi pribadi

Selain kuliner, menurut keterangan ada juga tempat pemancingan, area camping dan yang kami kunjungi saat itu adalah Omah Dolan. Area ini menyediakan area bermain anak-anak dengan pilihan permainan tradisional juga tempat lukis untuk anak. Ketika kami datang beberapa anak sudah tampak bermain di sana, dan semakin siang pengunjung semakin banyak.

Tempat melukis untuk anak anak, dokumentasi pribadi

Bunga, Bunga dan Bunga

Zinnia tersenyum ramah, dokumentasi pribadi

Satu daya tarik istimewa tempat ini adalah pemandangan yang begitu indah dan aneka tanaman bunga yang tertata cantik. Ada Zinnia yang menyapa dengan senyumnya yang cerah, cleome spinosa atau bunga laba-laba dengan warna pinknya yang begitu manis, bunga kenikir dengan warna oranye menyala dan tak ketinggalan  hamparan hortensia yang luar biasa indah.

Bunga laba-laba, dokumentasi Ahfi

Seseorang berjalan sambil membawa tiga bunga Hortensia berwarna ungu dalam ukuran besar. Rupanya bunga itu pesanan dari pengunjung.

Berpose bersama Hortensia , dokumentasi Ahfi

“Cantik sekali bunganya, Mbak?” sapa kami.

Mbak Chelsea namanya . Ia tersenyum. “Di sana ada banyak Bu, silakan pilih nanti akan saya potongkan,” katanya ramah.

Kami terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan Mbak Chelsea. Dan Subhanallah.., hamparan bunga hortensia seolah tersenyum menyambut kedatangan kami.

Hamparan Hortensia, dokumentasi pribadi

“Indah sekali,” kata kami hampir bersamaan. Sejauh mata memandang, kami dimanjakan dengan warna ungu hortensia yang begitu menawan.

Hamparan Hortensia 

Hortensia pink karena tanahnya bersifat basa, dokumentasi pribadi

Tanaman hortensia (Hydrangea macrophylla) adalah tanaman yang berasal dari wilayah Asia Timur dan Selatan, terutama dari negara Jepang dan Tiongkok.  Tanaman ini juga kita kenal dengan nama  kembang bokor. Hortensia ini tumbuh subur di daerah dataran tinggi dengan iklim sejuk dan lembap. 

 Satu bunga hortensia terdiri dari banyak kuntum bunga kecil kecil yang terangkum indah. Hydrangea berasal dari Bahasa Yunani yang artinya bejana air (hydra =air, angos = bejana). Ini bermakna bahwa bunga ini perlu air yang banyak untuk tumbuh dengan baik.

Satu hal yang menarik, warna bunga hortensia  berbeda beda sesuai pH tanahnya.  Semakin asam tanahnya, semakin biru warna hydrangea dan semakin basa, semakin pink warnanya.

Layaknya bahasa bunga, tiap warna memiliki makna. Hortensia pink melambangkan cinta dan ketulusan, biru melambangkan pengampunan, putih melambangkan kebanggaan, serta ungu melambangkan kelimpahan dan pengertian. 

“Mbak Chelsea, kami minta hortensianya tiga ya,” kata kami sambil melihat Mbak Chelsea yang sibuk memilih dan memotong bunga. Rupanya pagi itu banyak juga yang akan membeli hortensia atau buket bunga yang lain.

Flower bemo, dokumentasi Ahfi

Oh ya, ada Flower Bemo yang berisikan aneka bunga jika kita mau membeli bunga atau buketnya .

“Ini tahan berapa hari?” tanya kami sambil menerima bunga hortensia yang sudah dipotong. Tak lupa di bagian ujung batang diberi air dalam sebuah plastik supaya bunga tetap segar.

“Kira-kira satu minggu, Bu,” jawab Mbak Chelsea.

Setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi. 

Setelah membayar harga yang ditentukan kami melanjutkan eksplor Wisata Dusun Kuliner ini. Sepanjang perjalanan pemandangan indah, tanaman bunga, tempat pembibitan bunga  serta spot- spot foto yang menarik benar- benar menyegarkan mata. 

Banyak Spot foto menarik, dokumentasi Ahfi

Ketika matahari semakin tinggi perlahan kami meninggalkan lokasi Wisata Dusun Kuliner. Dari pintu keluar kami langsung menuju tempat parkir. 

Tiga hortensia ungu kami dengan genggam erat. Hati kami terasa begitu hangat.  Bukan karena dingin pagi telah usai, tapi karena setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi. 

Salam jalan-jalan..😊

Wisata Terop dalam Balutan Hangatnya Silaturahmi dan Kebersamaan

Mobil yang kami naiki terus melaju membelah lalu lintas kota Malang yang sudah mulai ramai.

Jam masih menunjukkan pukul tujuh lebih, dan perjalanan kami pagi itupun dimulai.

Sabtu pagi itu (13/06) kami akan melakukan wisata terop alias buwuh ke resepsi pernikahan Nabil dan Aisyah yang dilaksanakan di Ponorogo. 

Rencana perjalanan bersama ini sudah di rundingkan beberapa minggu sebelumnya lewat WhatsApp. Dengan digagas oleh Bulek Lulun, akhirnya kami berangkat bersama- sama naik Hiace. Rombongan berisikan 16 orang yang terdiri dari remaja, dewasa dan anak-anak.

Di dalam kendaraan , dokumentasi pribadi

Meski pangling dengan wajah- wajah saudara satu persatu, suasana dalam kendaraan begitu gayeng. Cemilan datang silih berganti, obrolan mengalir tiada henti dan tak ketinggalan lagu-lagu diputar sebagai penghangat suasana.

Lagu yang digemari sungguh tak bisa menyembunyikan usia. Ketika yang diputar adalah lagu-lagu kekinian, kami para senior ikut menikmati dengan diam, tapi begitu lagu- lagu tahun 80 an yang diputar, sebutlah:  Gelas-gelas Kaca, Tenda Biru, Hati yang Luka atau Aku Tak Ingin Sendiri, aha… ini saatnya para senior unjuk gigi  Senandung dan cerita nostalgia mulai terdengar diiringi tawa ceria kami.

Di Masjid Jami’ Ar Rahmah, dokumentasi pribadi

Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang jalan pemandangan sawah dan pepohonan hijau serasa begitu menyejukkan mata. Pemandangan yang jarang kami temui di perkotaan.

Tak terasa jelang Dhuhur kami memasuki wilayah Ponorogo. Kami segera berhenti di Masjid Jamik Ar Rahmah yang berlokasi di Desa Pondok Kecamatan Babadan untuk sejenak beristirahat dan melakukan persiapan untuk mengunjungi manten.

Ternyata jarak dari Masjid Ar Rahmah ke Pondok Putri Al Iman tempat resepsi pernikahan tidak begitu jauh. Hanya sekitar beberapa menit perjalanan.

Menuju Pondok Al Iman Ponorogo, dokumentasi pribadi

Sampai di Pondok Al Iman suasana meriah langsung terasa. Setelah bersalaman dan berfoto dengan kedua mempelai kamipun menikmati hidangan sambil beramah-tamah. Hal yang sangat menyenangkan adalah bisa bertemu dengan saudara-saudara yang lama tak bersua.

Bertemu dengan famili, dokumentasi pribadi
Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Sekitar satu jam kemudian, perjalananpun kami lanjutkan. 

“Mampir ke oleh-oleh dulu ya,” ajak Bulek Lulun.

Aha.., akhirnya kami mampir dulu ke rumah makan H. Tukri Sobikun yang menjual  sate Ponorogo.

Untuk diketahui sate Ponorogo mempunyai keistimewaan dibanding sate yang lain yaitu pada penyajian potongan daging dan bumbunya.

Sate Ponorogo, dokumentasi pribadi

Jika pada sate yang lain daging dipotong kecil kecil lalu ditusuk dengan sujen(bambu kecil untuk sate), maka pada sate Ponorogo  potongan daging ayamnya disayat memanjang. Jadi pada satu tusuk sate biasanya berisi satu daging dengan sayatan memanjang.

Sedangkan pada bumbu, sate Ponorogo bumbunya berwarna pucat karena sama sekali tidak menggunakan kecap.

Di Nganjuk, dokumentasi pribadi

Lepas dari kedai sate Ponorogo perjalanan kami lanjutkan. Kali ini tujuan kami adalah ke  rumah saudara di Nganjuk. Di rumah keluarga Farid ini kami akan istirahat sejenak,  bersih diri sekaligus sholat jamak qoshor Maghrib dan Isyak.

Wisata terop hari itu bukan sekedar perjalanan bersama, tapi juga pengikat persaudaraan dan silaturahmi di antara kami.

Dalam perjalanan balik Malang, kami diajak mampir untuk lesehan sambil menikmati hidangan pecel Kediri dan sambal Tumpang yang luar biasa maknyus.

Menikmati nasi pecel lesehan, dokumentasi Fida

Sungguh perjalanan yang luar biasa. Wisata terop hari itu bukan sekedar perjalanan bersama, tapi juga pengikat persaudaraan dan silaturahmi di antara kami. Semoga ke depan acara jalan -jalan semacam ini bisa diadakan kembali.

Salam jalan jalan.

Ketika Terapi Menulis Membuahkan Prestasi

Seorang siswa mendekati saya malu-malu. Dengan tersenyum ia menyapa saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di perpustakaan.

“Ya, Nadia?” tanya saya ramah. Nadia adalah salah satu siswa yang rajin ke perpustakaan. Anaknya sangat pendiam dan lebih sering menenggelamkan diri dalam buku buku bacaan saat istirahat.

Nadia semakin mendekat lalu berkata pelan. “Bu, saya punya naskah cerpen, boleh saya kirim ke Ibu? Barangkali bisa dimuat di majalah?’ 

Saya tersenyum surprise. “Tentu boleh, Nadia suka nulis ya?” tanya saya.

“Suka, Bu,” jawabnya singkat. Masih malu-malu.

“Saya tunggu,” jawab saya lagi.

Singkat kata keesokan harinya cerpenpun dikirim pada saya. 

Tentang Nadia, ia adalah siswa saya di kelas tujuh dan  seorang teman BK bercerita pada saya bahwa anak ini sedang menghadapi masalah yang serius 

“Kenapa Nadia, Bu?” tanya saya heran.

“Anak ini mempunyai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Dengan menggunakan cutter dia sering membuat “barcode” di pergelangan tangannya,” jelas teman saya.

“Astaga, anak sekecil itu? Kenapa dia melakukan hal itu?”

Dijelaskan secara singkat bahwa kecenderungan itu muncul karena ia sering merasa tidak dihargai, dibanding bandingkan dan merasa dirinya tidak berarti. Karena tidak ada teman bicara, untuk melampiaskan kekecewaannya Nadia mengikuti trend saat itu yaitu menyilet pergelangan tangannya. Ada banyak hasil guratan benda tajam itu di lengan kecilnya.

“Apa perasaan Nadia setelah melukai tangannya?” tanya saya lagi.

“Menurut keterangannya, Nadia merasa puas, bebannya lepas dan lega setelah menyileti lengannya,” lanjut teman saya.

Teman saya bercerita ebih lanjut bahwa setelah mengadakan konsultasi berkali-kali baik dengan Nadia maupun orang tuanya, diketahui bahwa Nadia mempunyai hobi menulis. Karenanya ia memutuskan membuat hobbi ini menjadi sarana untuk meringankan masalah Nadia, terutama yang berkaitan dengan kecenderungannya untuk menyakiti diri sendiri.

Ilustrasi membaca buku di perpustakaan, gambar by : Gemini AI

“Nadia, silakan membuat tulisan di sini ketika keinginan untuk melukai dirimu tiba-tiba muncul,” kata teman saya sambil menyodorkan sebuah buku kosong di sebuah sesi konseling.

Nadia menerima buku itu. Dan sejak saat itu setiap ada kecenderungan untuk menyakiti dirinya ia mengalihkan keinginan tersebut dengan menulis dan menulis. 

Hari demi hari berlalu. Suatu saat sesudah duduk di kelas dua Nadia mendatangi guru BKnya sambil bercerita bahwa ia mempunyai sebuah tulisan.

Teman saya begitu gembira. Nadia sepertinya sudah tidak sependiam dulu lagi.

“Coba hubungi tim majalah, barangkali naskahmu bisa diterbitkan di majalah,” kata teman saya saat itu.

Dan akhirnya Nadia menemui saya seperti sekarang ini.

Naskah sudah dikirim, dan saya mulai membaca cerpen Nadia yang lumayan panjang. Ada sekitar empat halaman folio.

Ceritanya berkisar pada seorang anak introvert yang berteman dengan anak,-anak dari dunia lain. Mungkin ini juga menggambarkan suasana hatinya. Oh ya, menurut teman BK, Nadia banyak mempunyai teman ‘imajinasi’, karena ia merasa kurang bisa berteman dengan orang sekitarnya.

Dalam ceritanya Nadia mengisahkan tokoh utama yang tidak mempunyai teman di dunia nyata, merasa dikucilkan dan akhirnya dia menemukan teman-teman dunia khayal yang sangat menyenangkan. 

Di akhir cerita Sang Tokoh mengikuti teman- temannya menuju dunia khayal yang lebih menyenangkan daripada dunia nyata.

Saya langsung terhenyak melihat endingnya. Suram sekali.

Segera saya hubungi guru BK untuk lebih melakukan pendekatan pada Nadia sambil menunjukkan cerpen itu.

“Kok mengkhawatirkan ya Bu?” kata saya saat itu.

Agar cerpen bisa memberikan vibes positif pada pembacanya saya memanggil Nadia.

“Nduk, cerpen ini kami masukkan majalah, tapi tolong endingnya diganti sedikit bisa?”

“Diganti bagaimana Bu?’

“Tokoh utamanya jangan mati, buat yang happy ending,” jawab saya.

Nadia mengangguk dan tersenyum. Ia siap mengubah akhir cerita tulisannya, sementara itu teman saya BK secara berkala tetap berkomunikasi dengan Nadia.

Beberapa hari berlalu dan Nadia kembali mengirimkan tulisannya dengan ending yang berbeda.

“Wah, bagus tulisanmu, nanti dimuat di majalah ya,” kata saya senang. Setelah sekali lagi saya baca naskah cerpen Nadia,  nuansa suram sudah jauh berkurang.

Nadia tersenyum dan seperti biasa ia hanya menjawab singkat,”Terima kasih, Bu,”

“Sama-sama,” 

Sungguh saya ikut merasa gembira. Setidaknya saya berusaha mengajak Nadia untuk melihat bahwa dunia tidak sesuram yang ia kira.

Mempunyai tulisan yang dimuat di majalah adalah sebuah kebanggan tersendiri. Dengan wajah gembira, setelah penerbitan majalah Nadia  mendekati saya sambil berkata,” Saya masih punya cerita yang lain, Bu,” katanya senang.

Ilustrasi purnawiyata, gambar by: Gemini AI

Hari purnawiyata kemarin menjadi hari yang sangat mengejutkan bagi saya dan guru BK Nadia. Betapa tidak? Saat pengumuman nilai absolut, ternyata Nadia mendapatkan nilai 100 untuk Bahasa Indonesia. Luar biasa.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

“Bu, Nadia..!” bisik saya pada teman BK yang duduk di samping saya.

“Subhanallah…,” kata teman saya speechless.

Sungguh mengharukan ketika kami melihat Nadia maju ke depan di antara para peraih nilai absolut untuk mendapatkan penghargaan. Rupanya kegemaran membaca dan menulis secara otomatis mengasah kemampuan Nadia dalam bidang literasi sehingga ia bisa meraih prestasi yang yang sangat membanggakan ini.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

Wisata Terop Bersama ke Desa Sukorejo Kabupaten Tulungagung

Zulhijjah atau Bulan Besar adalah bulannya wisata terop. Ya, wisata terop adalah istilah kami untuk berkunjung ke pernikahan seseorang, dan bulan Zulhijjah seperti sekarang ini banyak menjadi pilihan bagi pasangan yang akan menikah.

Mengapa banyak yang memilih Bulan Besar sebagai bulan pernikahan? Beberapa alasan di antaranya adalah karena Nabi Muhammad SAW menikahkan putri kesayangannya, Sayyidah Fatimah, dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Zulhijjah.

Selain itu Zulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan mulia (bulan haram) dalam Islam. Melangsungkan pernikahan di bulan ini dianggap sebagai bentuk ibadah untuk mengharapkan pahala dan keberkahan berlipat ganda. 

Nah, di bulan Zulhijjah ini, tepatnya Minggu (31/05) kami menghadiri pernikahan dari seorang teman yang tinggal di desa Sukorejo, kec. Karangrejo Tulungagung yaitu Moch. Alfatan Widyastanto atau sering kami panggil dengan panggilan akrab Mas Fathan.

Mas Fathan adalah mantan pegawai tata usaha SMP Negeri 3 Malang yang sejak tahun 2025 dipindah tugaskan ke SMP Negeri 5 Malang.

Persiapan berangkat ke Tulungagung, dokumentasi Shinta

Keberangkatan rombongan kami ke Tulungagung ini terdiri atas 13 orang dari  guru dan tenaga kependidikan baik yang masih aktif di SMP Negeri 3 Malang, berdinas di tempat lain, atau sudah purna.

Pukul 07.00 wib rombongan  berangkat dan diharapkan sampai di tempat tujuan sekitar pukul 10.00 wib.

Prosesi temu manten , dokumentasi pribadi

Kehadiran rombongan dari SMP Negeri 3 Malang disambut hangat oleh keluarga mempelai, sekaligus mempersilakan kami mengikuti prosesi temu manten.

Setelah acara prosesi selesai dan dilanjutkan dengan ramah tamah, rombonganpun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang.

Selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz
Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz

Bukan sekedar silaturahmi dan menghadiri undangan diharapkan acara ini bisa memperkuat kebersamaan di antara kami. Karena kebersamaan yang bagus adalah pondasi yang kuat bagi sekolah untuk membangun langkah ke depan yang lebih baik. 

Berfoto bersama manten, dokumentasi Shinta

Akhirnya selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.