Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

“Ibuk kuat jalan agak jauh?” tanya anak saya . Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Stasiun MRT Bencoolen. Sebuah stasiun yang paling dekat dari hotel kami.

“Wah ngenyek kamu Le, ibuk tiap hari jalan lho.. minimal 4000 langkah,” kata saya sambil tertawa diikuti anak saya.

Tapi benar lho. Setiap hari saya selalu upayakan jalan, jalan dan jalan. Menurut rekomendasi dari berbagai sumber idealnya satu hari kita berjalan sekitar 10.000 langkah. Tapi saya tidak sampai sebanyak itu,  sekuatnya saja, yang penting gerak terus. Setiap hari jalan dari ruang guru, perpustakaan dan kelas-kelas total bisa mencapai hampir 4000 langkah.

Jalan kaki. Nah, ternyata aktivitas satu ini banyak sekali kami lakukan di Singapura. Ya, kemana-mana kami banyak jalan atau naik MRT. Di samping murah, nyaman kami juga lebih banyak waktu untuk berbincang bincang.

Banyak berjalan kaki di Singapura, dokumentasi pribadi

Berjalan tidak terasa melelahkan karena banyak sekali pejalan kaki di sini. Tata kota yang bersih dan nyaman membuat jalan kaki terasa mengasyikkan. Sambil ngobrol kami bisa melihat pemandangan di sekitar kami.

“Kemana kita hari ini?” tanya saya sambil terus melangkah.

“Kita ke stasiun, lalu naik MRT arah Bayfront,” jawab anak saya sambil membuka map di HP nya.

Ya, hari itu kami akan menuju kawasan Marina Bay, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Singapura.

Melihat map di Garden Bay, dokumentasi pribadi

Di stasiun Bencoolen kami segera naik MRT. Setelah beberapa pemberhentian sampailah kami di Bayfront, sebuah stasiun dekat area Marina Bay.

Pagi di Marina Bay terasa begitu segar. Matahari bersinar cerah. Dari kejauhan pemandangan teluk yang berwarna biru tampak begitu indah. Airnya beriak lembut diterpa angin pagi. Marina Bay Sands berdiri megah dengan tiga tiangnya yang menjulang, dan dibagian atasnya dihias oleh Sands Sky Park, sebuah kapal yang melayang di angkasa.

Pagi di Marina Bay, dokumentasi pribadi

Di sekelilingnya taman hijau Gardens by the Bay menawarkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Supertree Grove, pohon-pohon baja raksasa yang dililit tanaman hidup berdiri perkasa dengan dihiasi kicauan  burung di sekitarnya. Banyak orang yang berolahraga raga atau berjalan- jalan seperti yang kami lakukan pagi itu.

Pohon raksasa di Marina Bay, dokumentasi Zahri

 Di hari sebelumnya sebenarnya kami sudah datang ke Kawasan Telok Ayer yang berada di seberang Marina Bay. Jadi pagi itu, dari kejauhan kami bisa memandang kawasan Telok Ayer dari Marina Bay.

Sands Sky Park di malam hari, dokumentasi Zahri

Kawasan ini benar-benar hidup ketika senja tiba. Saat matahari mulai terbenam, kota mulai bercahaya. Lampu-lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Central Business District mulai bersinar, menciptakan kerlip gemerlap di atas air. 

Perahu yang berjalan di atas air sambil membawa para wisatawan membuat pemandangan terasa begitu syahdu. 

Singapore Flyer, dokumentasi Zahri

Dari kejauhan tampak Singapore Flyer berdiri perkasa. Singapore Flyer adalah sebuah bianglala raksasa setinggi 165 meter yang dengan wahana ini kita bisa melihat  pemandangan 360 derajat kota Singapura, termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia saat cuaca cerah. 

Di antara berbagai bangunan yang ada, tampak Merlion berdiri tegak menjadi ‘penjaga’ dan menyemburkan air dari mulutnya dengan tenang. Merlion seolah saksi perpaduan antara mitos dan modernitas yang ada di Marina Bay.

Di sekitar patung Merlion, dokumentasi pribadi

Tiga hari di Singapura membuat kami semakin rajin berjalan kaki. Aplikasi penghitung langkah di HP saya menunjukkan angka lebih dari 10 ribu langkah tiap harinya.

Aih, jalan kaki benar benar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan, apalagi bersama orang tersayang.

Sepulang jalan- jalan saya langsung sholat, selonjor di hotel sambil ngobrol dan ngeteh bersama anak saya.

“Ibuk besok Minggu dijemput jam berapa?”sebuah notif pesan masuk di WhatsApp saya. Dari anak saya di Malang. Saat itu hari Sabtu, hari ketiga saya di Singapura.

“Menurut rencana pesawat tiba di Juanda jam sembilan , Le,”

“Baik, besok kami tunggu di Juanda,” jawabnya lagi.

Malam hari kami segera packing- packing. Ya, semanis apapun perjalanan, semua harus berakhir. Besok dengan pesawat pukul setengah delapan saya akan terbang ke Juanda sementara anak saya langsung kembali ke Tokyo.

“Ibuk jaga kesehatan ya, jangan lupa olah raga, nanti kita jalan-jalan lagi,” kata anak saya di bandara.

“Iya Le, baik-baik di negeri orang, jaga diri, jangan lupa sholat,” kata saya terharu.

Sore di Telok Ayer, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lebih kami berpisah karena gate kami berbeda. Ada haru yang terasa dalam hati. Sungguh, perjalanan ini sangat memukau , menyenangkan dan mengharukan. Tuhan Maha Baik. Dia telah memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan perjalanan yang tak pernah saya bayangkan.

Di balik keramaian bandara Changi yang tak pernah tidur, kami pun melangkah menuju destinasi masing-masing. Sebelum masuk pesawat saya sempatkan melihat aplikasi penghitung langkah kaki di HP. Lima ribu langkah lebih untuk pagi ini. 

Selamat tinggal, Singapura. Terima kasih telah menjadi saksi betapa Tuhan menghadirkan keajaiban dalam bentuk pertemuan ibu dan anak yang begitu dirindu. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertualang lagi di hari-hari mendatang.

Salam jalan-jalan…

Jelajah Singapura, Mengunjungi Masjid Malabar dan Masjid Sultan di Kampong Glam

Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya ditawari anak saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Ceritanya dia mendapatkan cuti dan ada sesuatu yang harus dikerjakan di Singapura. Karena sudah dekat Indonesia, dan belum pernah ke sana, saya diajak ketemuan di Singapura.

Terus terang saya tidak begitu berani. Di samping karena jauh, saya belum pernah sekalipun keluar negeri. Tapi karena yang mengajak sangat bersemangat akhirnya dengan menguatkan tekad sayapun berangkat.

Skenarionya, saya berangkat dari Juanda  sementara anak saya berangkat dari Tokyo dan pukul sepuluh malam waktu Singapura kami bertemu di Changi Airport. 

Changi Airport , dokumentasi pribadi

Hari yang dinantikan tiba. Setelah bertemu di Changi kami langsung menuju hotel yang terletak di kawasan Queen St tidak jauh dari Stasiun MRT Bencoolen.

Setelah istirahat semalam, pagi hari sekitar jam setengah sepuluh kami keluar dari hotel. Matahari bersinar redup karena sebagian tertutup mendung, suasana tidak begitu panas sehingga jalanan terasa nyaman.

Banyak pejalan kaki, dokumentasi pribadi

“Kita kemana Le?” tanya saya pada anak saya yang full menjadi ‘pemandu wisata’ selama kami di Singapura.

“Ayo, jalan-jalan ke Arab St, sambil cari makanan khas Indonesia,” katanya. Aha, hari itu kami mulai  jelajah Singapura.

Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, jalanan yang teratur dan bersih serta lalu lalang orang -orang yang tampak begitu sibuk. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah di Singapura banyak sekali pedestrian. Trotoar demikian nyaman dan bersih, sehingga nyaman untuk berjalan kaki.

Suasana jalan di pagi hari, dokumentasi pribadi
Jalan Victoria , dokumentasi pribadi

Ada banyak manusia dari berbagai bangsa. Buktinya saat bersimpangan dengan orang lain, selalu terdengar dialog dalam berbagai  bahasa. Ada bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India , Thailand bahkan Jawa Timuran. Wah,  benar- benar menarik.

Kendaraan kecil dan besar lalu lalang di jalan raya.  Lalu lintas lancar, dan uniknya saya hanya sesekali menjumpai sepeda motor. Mungkin karena banyak yang memilih menggunakan MRT di Singapura, atau barangkali juga karena jalan yang kami lalui adalah jalan-jalan besar seperti Victoria St, Bras Basah juga Bencoolen.

Kami terus berjalan. Memasuki wilayah Kampong Glam suasana mulai terasa ramai. Sekilas bau aroma parfum atau dupa Arab mulai menerpa. Mengingatkan saya ketika masuk daerah Embong Arab di Malang.

Sebuah sudut di Kampong Glam, Dokumentasi pribadi

Kampong Glam atau Kampung Gelam adalah nama yang berasal dari Bahasa Melayu yang merujuk pada nama tanaman yang dulu banyak tumbuh di sini yaitu pohon gelam (Melaleuca cajuputi atau paperbark tree). Pohon gelam ini banyak digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat kapal, obat, hingga bumbu masak.

Jalan Arab, dokumentasi pribadi

Kampong Glam sering disebut juga Arab Street dan dikenal sebagai kawasan Melayu atau Muslim di Singapura yang kaya akan warisan budaya dan tempat menarik seperti Masjid Sultan, Istana Kampong Glam, dan Haji Lane. 

Niat semula untuk mencari makanan Indonesia langsung batal ketika semerbak aroma martabak menghentikan langkah kami untuk segera mengajak mampir.

” Di sini saja ya?” kata anak saya sambil mencari tempat duduk. Rupanya ia sudah  lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan roti sisa semalam.

Tanpa menunggu lama saya ikut masuk sebuah tempat makan yang catnya didominasi dengan warna kuning.

Kedai di sekitar Kampong Glam, dokumentasi pribadi

Kami segera memesan jus apel, jus semangka serta satu piring martabak.

Only one?” tanya sang penjual heran, demi melihat pesanan martabak yang cuma sepiring.

Only one,” jawab anak saya.

” Tidak tambah nasi tah? ” tanya saya setengah berbisik. Makan sepiring martabak untuk dua orang mana kenyang pikir saya.

Tapi tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Satu porsi besar martabak dalam wadah serupa daun pisang. Ah ya, kedai ini bernama Banana Leaves, karenanya piring atau wadah makanannya berbentuk daun pisang.

Begitu martabak diletakkan dimeja, kami langsung terkesima. Waow, porsinya besar sekali. Satu piring besar martabak yang sudah dipotong- potong, masih ditambah semacam kuah kari dan kentang. Mantap nian.. untung tidak tambah nasi, pikir saya.

Martabak , dokumentasi pribadi

Rasa lelah karena berjalan kaki ditambah lapar membuat hidangan martabak cepat berpindah ke perut kami. Jus membuat perut kami kian kenyang, dan ini waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan.

Jelang sholat Dhuhur kami menuju ke sebuah masjid yang terletak di persimpangan Victoria Street dan Jalan Sultan di Kampong Glam. Masjid Malabar, namanya. Masjid ini didirikan oleh komunitas Muslim Malabar dari India Selatan dan diresmikan tahun 1963. 

Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Ketika Memasuki masjid Malabar siang itu suasana begitu sepi. Hanya ada dua petugas masjid dan dua turis yang melihat lihat di aula masjid, selain saya dan anak saya yang mau melaksanakan sholat dhuhur.

Sebuah keteledoran yang saya lakukan adalah lupa membawa mukena. Karena masjid tidak menyediakan mukena,  akhirnya sholat Dhuhur siang itu saya mengenakan gamis yang disediakan dekat lift.

Dekat lift masjid, dokumentasi pribadi
Bagian samping Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Setelah sholat dan mengambil foto-foto, kami keluar dari masjid untuk menyusuri jalan Victoria atau Victoria St. 

Ternyata tidak jauh dari Masjid Malabar ini terdapat komplek pemakaman tua bagi masyarakat Islam. Menurut keterangan, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh sejarah penting termasuk keturunan Sultan Johor.

Komplek pemakaman muslim, dokumentasi pribadi

Areanya cukup luas. Karena dekat dengan tempat pemakaman, maka jalan di sini di namakan Jalan Kubor (kuburan).

Berbeda dengan Masjid Malabar, Masjid Sultan mempunyai ukuran yang lebih besar. Masjid ini berlokasi di Jl Muscat masih dalam wilayah Kampong Glam. 

Arsitektur Masjid Sultan dan Masjid Malabar mempunyai kemiripan, karenanya Masjid Malabar dinamakan ‘sepupu kecil’ Masjid Sultan.

Masjid Sultan merupakan masjid utama yang dibangun tahun 1824 dan menjadi pusat kegiatan komunitas muslim Melayu. 

Bagian dalam Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Kami menjalankan sholat Ashar di masjid ini. Berbeda dengan Malabar, Measjid Sultan suasananya ramai. Banyak pengunjung yang akan menunaikan sholat. Seperti di Malabar, tempat untuk jamaah laki-laki dan perempuan terletak di lantai yang berbeda.

Habis sholat, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Akhirnya perjalanan kami tertahan sambil sejenak menunggu hujan berhenti. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil foto-foto bagian dalam maupun sekitar masjid. 

Sudut lain dari Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Sangat menyenangkan. Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang bergerak tak kenal henti, kunjungan ke Masjid Malabar dan Masjid Sultan seolah menjadi oase penyejuk jiwa di hari pertama perjalanan ini. 

Tempat jamaah perempuan di Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Selain untuk menunaikan kewajiban sholat, momen ini adalah kesempatan berharga untuk sejenak berhenti, menyepi, dan meresapi ketenangan yang menyapa di balik pintu-pintu, jendela dan ornamen masjid yang begitu khas. Sungguh, awal petualangan yang menyenangkan dan besok masih ada hari untuk membuat cerita yang lain lagi.

Salam jalan-jalan..😊

Taman Langit, Keindahan di Ketinggian Berbalut Dongeng dan Fantasi

Usai berjalan- jalan dan mengamati para penerbang paralayang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Taman Langit.
Apa yang tergambar dalam benak kita saat mendengar nama Taman Langit? Benar.. sebuah keindahan di tempat yang begitu tinggi.

Menuju Taman Langit, dokumentasi Buz

Taman Langit yang merupakan destinasi terakhir jalan-jalan di Pujon ini menyimpan keindahan yang luar biasa. Istimewanya disamping indah dan banyak spot foto menarik, Taman Langit mempunyai keunikan yaitu pengunjung diajak masuk dalam dunia fantasi atau dunia dongeng.

Yang khas dari Taman Langit adalah banyaknya patung besar yang di dalamnya menyimpan kisah-kisah tertentu.

Gapura Taman Langit, dokumentasi Buz
Dua Garuda besar yang siap ‘mengawal’ perjalanan kami, dokumentasi Buz

Tidak jauh dari gapura, ada dua patung garuda di kiri kanan kami. Keduanya seolah siap mengawal kami untuk mengeksplor keindahan di dalam Taman Langit.

Jalan berpaving dengan kiri kanan penuh dengan bunga benar- benar terasa menyejukkan mata. Semua tertata apik dan cantik.

Semua tertata apik dan cantik di Taman Langit, dokumentasi pribadi
Duduk menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi Buz

Kami mulai berfoto dengan back ground patung patung yang ada di Taman Langit. Ya iyalah… Berfoto adalah acara wajib saat dolan kemana saja.

Tidak semua tempat bisa kami eksplor. Ya, hari semakin sore. Ini juga destinasi ketiga, tentunya kaki sudah terasa pegal-pegal. Ini bisa ditandai dengan berkali-kali kami duduk menikmati alam sekitar dan menyesap keindahan Taman Langit yang luar biasa.

Menyesap keindahan Taman Langit dalam diam, dokumentasi pribadi
Mas Rudy, driver dan fotografer kami menikmati keindahan Taman Langit, dokumentasi pribadi

Dari sekian banyak patung yang ada, beberapa di antaranya yang sempat kami kunjungi adalah :

Satu : Tigan Sigar Menga (Telur Pecah), yang menggambarkan tentang kelahiran Sanghyang Antaga (Batara Togog), Sanghyang Ismaya (Batara Semar) dan Sanghyang Manikmaya (Batara Guru). Kisah yang sangat akrab dengan masyarakat Nusantara.

Cerita tentang Tigan Sigar Menga, dokumentasi pribadi
Berfoto di Tigan Sigar Menga, dokumentasi Buz

Dua : Dwala Hamsaria (Angsa Putih yang Anggun). Kehadiran angsa di sini adalah pengingat bahwa zaman dahulu di sekitar gunung ini banyak terdapat angsa. Dalam berbagai dongeng disebutkan bahwa angsa putih adalah binatang surgawi yang dicintai para dewa. Kepak sayap angsa putih melambangkan perjalanan ke surga menuju alam keabadian.

Bersama angsa putih , dokumentasi Buz

Tiga: Batari Lengleng Mulat (Dewi Lengleng Mandanu). Patung ini menceritakan salah satu bidadari dalam cerita Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Bidadari ini demikian cantik dan penuh pesona sehingga di Kahyangan pun ia menjadi rebutan para dewata.

Menari bersama Batari Lengleng Mulat, dokumentasi Buz

Selain cantik Batari Lengleng Mulat juga penuh perhatian dan kasih sayang pada sesama. Ini ditunjukkan dengan gerakan tangannya menyapa burung dan tangan satunya seolah siap mengajak bergandengan tangan siapa saja.

Masih banyak patung yang lain. Bukan dari khazanah dongeng Nusantara saja, bahkan dari luar negeri, seperti adanya patung Tinker Bell di Taman Langit.

Berfoto bersama di salah satu sudut Taman Langit, dokumentasi Buz
Sudut yang sayang untuk tidak diabadikan, dokumentasi Buz

Kami terus menyusuri jalan berpaving. Berfoto dan berfoto. Semua tampak begitu indah dan sayang jika tidak diabadikan.

Kabut mulai turun, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul empat kabut mulai muncul. Bergegas kami akhiri perjalanan di Taman Langit, dan kami langsung menuju mobil.

Hmm, perjalanan sehari yang begitu manis

Selamat tinggal Santerra, Cafe Sawah, Paralayang Batu dan Taman Langit… Insya Allah kami akan segera remidi..

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga:

Sebuah Pagi di Car Free Day

Rungkad……Entek entekan
Kelangan kowe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu

Lagu dari Happy Asmara menghentak semangat kami pagi itu. Pertigaan Jalan Semeru dan Ijen sudah dipenuhi manusia. Ada yang menggunakan kostum komunitas masing-masing, banyak pula yang tidak. Tiap orang mengambil jarak sekitar dua lengan agar tidak saling bertabrakan ketika melakukan gerakan.

Pas di pertigaan ada sebuah panggung kecil untuk para pemandu senam.

Suasana Car Free Day, dokumentasi pribadi

Aha, itu adalah suasana Car Free Day di kawasan Semeru dan Ijen pagi ini.

Suasana Car Free Day kota Malang seperti biasa selalu ramai. Event yang di adakan setiap hari Minggu itu sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semua bergerak ( atau bergoyang?) selaras irama mengikuti sang pemandu senam. Ada sekitar lima orang yang menjadi pemandu senam di atas panggung. Gerakannya lincah, gemulai namun bertenaga.

Bergerak bersama , bergoyang bersama, dokumentasi pribadi

Wajah ceria tampak di mana-mana. Sedikit berlawanan dengan cuaca kota Malang pagi ini yang begitu mendung.

Selesai lagu Rungkad, irama mulai sedikit selow. Lagu Malang Seger berkumandang. Peserta senam semakin banyak, semua bergoyang sesuai irama. Saya dan dua orang teman menjadi bagian dari semuanya

Ketika irama beralih lebih keras, mulai dilakukan senam aerobik. Nah, ini…. Gerakan kami mulai tak karuan.

Ya, kami jarang ikut senam bersama seperti ini, jadi gerakannya jadi sering salah. Kami berpandangan sejenak lalu tertawa.

Jalan-jalan di CFD, dokumentasi pribadi

“Gak apa-apa… yang penting keluar keringat..,” kata teman saya menghibur diri, dan kamipun terus bergerak dengan penuh semangat.

Setelah empat lagu dan berkeringat, kamipun beranjak meninggalkan tempat senam. Jalan-jalan, itu agenda kami pagi itu.

Bagi kami warga Malang, Car Free Day selalu memiliki magnet tersendiri. Di kawasan itu tua, muda, anak kecil ikut bergembira bersama. Ada yang berjalan-jalan bersama keluarga, bertemu komunitas, bermain, mencari hiburan, promosi kegiatan, dan yang lainnya.

Berdatangan ke CFD, dokumentasi pribadi

Begitu banyaknya yang datang di CFD dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangannya. Dagangan bisa berupa makanan, baju, aksesoris juga mainan.

Penjual mainan di CFD, dokumentasi pribadi

Pedagang mainan ada di mana-mana. Persewaan mainan juga. Ada persewaan scooter yang mematok harga Rp10.000 tiap15 menit pemakaian. Wah, sangat menarik. Apalagi saya lihat penyewa scooter selalu datang silih berganti.

Persewaan scooter anak anak, dokumentasi pribadi

Di CFD kita juga bisa naik dokar (delman). Ongkosnya Rp10.000 perorang untuk satu kali naik. Sebenarnya kami ingin juga naik, tapi saat itu penumpang didominasi anak kecil, akhirnya kami mundur dulu.

Dokar dengan tarip Rp10.000,00 per orang, dokumentasi pribadi

Setelah sekian tahun tidak ke CFD, ada banyak yang berbeda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah makanan yang dijual.

Satu stand makanan yang begitu laris adalah stand yang menjual makanan kekinian. Nama makanannya banyak yang menggunakan bahasa asing sehingga kami tidak berani mampir.

Makanan kekinian, dokumentasi pribadi

He..he.. benar benar kurang update. Masalahnya sebenarnya cuma takut tidak cocok di lidah saja.

Setelah berputar-putar di lokasi perbelanjaan yang berada di halaman Museum Brawijaya, kami memutuskan untuk istirahat dan makan soto ayam di pujasera. Menurut informasi dari teman- teman, pujasera ini selalu buka meski tidak pas penyelenggaraan CFD.

Soto ayam maknyus, dokumentasi pribadi

Nah, di pujasera ini makanan yang dijual cukup akrab dengan lidah kami. Seperti rawon, ayam geprek, soto ayam, soto daging dan lain-lain. Minumnya? Kami pilih es degan saja. Tapi esnya sedikit, maklum, hari masih pagi.

Duduk di pujasera sambil mengamati lalu lalang orang-orang sungguh mengasyikkan. Kebetulan di dekat Pujasera adalah stand mainan anak berupa kolam tempat memancing. Banyak sekali anak kecil yang duduk di situ dengan didampingi orang tuanya.

Kolam pemancingan anak anak, dokumentasi pribadi

Tak lama menunggu, soto ayam yang kami pesan datang. Wow, satu mangkuk penuh. Nasi, soto ayam, telur, sambel dan kerupuk. Benar-benar hidangan pagi yang mantap.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Pulang, itu tujuan utama. Ya, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saatnya kami melakukan kegiatan yang lain di rumah.

Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan diri mampir ke pedagang aksesoris. Biasalah, emak-emak, selalu tidak tahan melihat barang-barang cantik. Di situ kami membeli beberapa jepit dan karet pengikat rambut.

Membeli aksesoris, dokumentasi pribadi

Menuju tempat parkir, kami harus melewati tempat kami senam tadi. Di lokasi senam pengunjung semakin banyak, irama lagu semakin menghentak dan tampak pesertanya banyak yang masih muda. Aih, cocok sekali dengan iramanya.

Di tempat parkir bergegas kami mengambil sepeda. Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas parkir sepeda kami melaju keluar lokasi CFD di sepanjang jalan Semeru.

Tampak banyak pengunjung yang berdatangan, demikian pula yang pulang seperti kami. Ada yang sekedar berkeringat seperti kami, banyak pula yang pulang dengan membawa banyak belanjaan.

Ada yang datang dan pergi, di CFD. Ada yang datang untuk berkegiatan ataupun rehat dari segala kegiatan yang sudah dilakukan selama satu minggu.

Ya, meski banyak yang berubah dari waktu ke waktu, CFD tetap menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang setiap hari Minggu.

Semoga bermanfaat, salam Minggu pagi…😊

Selalu Ada Kenangan di Kayutangan

Willingly I’ll be yours…
Willingly I’ll wait for you….
All my love and all my life
I will give for you..
Only you..

Lagu Willingly yang pernah populer sekian puluh tahun yang lalu seolah menyambut kedatangan kami di Kayutangan malam itu.

Musisi jalanan, dokumentasi pribadi

Cuaca begitu bersahabat. Hujan yang tiap sore turun membasahi kota Malang malam itu tiada turun. Paling tidak untuk kawasan sekitar Kayutangan.

Berempat kami berjalan sepanjang trotoar Kayutangan. Meski pernah tinggal di Kayutangan saya benar-benar pangling dengan Kayutangan di waktu malam.

Tempat-tempat ngopi, atau untuk duduk -duduk santai dan berfoto benar-benar dibuat untuk memanjakan pengunjung yang ingin melepaskan penat di malam hari.

Jalan- jalan, dokumentasi pribadi

Tempat- tempat ngopi didesain bernuansa tempo dulu, juga orkes jalanan yang menyanyikan tembang-tembang lawas membuat jalan-jalan terasa gayeng dan menyenangkan.

Setelah jalan- jalan kami di mampir di kedai yang di dalamnya menjual aneka makanan dan minuman. Setelah pilih- pilih berbagai makanan akhirnya pilihan kami jatuh pada bakso, teh dan angsle.

Salah satu kedai di Kajoetangan, dokumentasi pribadi
Angsle, dokumentasi pribadi

Lagu-lagu terus dilantunkan. Dari Kopi Dangdut sampai lagu lagu Peter Pan. Terasa sedap dalam pendengaran.

Ah, perjalanan yang manis. Empat orang yang lama tidak bertemu saling menumpahkan cerita masa lalu. Bahkan dua di antara kami, Ika dan Ludi, mereka bersahabat ketika SMP, dan 40 tahun tidak pernah bertemu.

Depan Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Perjalanan ke Kayutangan malam itu sungguh membuka kenangan lama dan menciptakan kenangan baru. Kami tertawa bersama, sambil mengingat kenangan lucu di masa lalu.

Malam semakin larut. Musisi jalanan terus beraksi dengan lagu lagu andalan mereka. Lalu lalang pengunjung Kayutangan datang dan pergi silih berganti.

Tukang ojek, penjual kopi sibuk di tepi jalan untuk mengais rezeki. Kayutangan terus berdenyut tiada henti.

Ya, selalu ada kenangan di Kayutangan.