Categories
Cerita Reportase

Ketika Surat Cinta Bercerita 

Foto bersama siswa, orang tua dan wali kelas setelah penerimaan rapor, dokumentasi kelas 9.2

Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.

Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.

Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum. 

Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta. 

Tentang Surat Cinta

Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa.  Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.

Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.

Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.

Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.

Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.

Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana skenarionya?

Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.

Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.

Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.

Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.

“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.

Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.

“Untuk bunda,”

“Buat ayah tercinta”

“Dariku untuk bunda,”

Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.

“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.

“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.

“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.

Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya

Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.

Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial. 

Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk  masa depan anak yang lebih baik.

Categories
Cerita Reportase

Membuat Topeng Malangan, Bukan Hanya Tentang Mencintai Budaya Malang dan Kearifan Lokal

Topeng Malangan, sumber gambar: Kemdikbud

“Terima kasih Eyang Gatot,”

Demikian yang diucapkan siswa ketika sebuah sesi kegiatan kokurikuler berakhir. 

Sesudah kurang lebih selama sembilan puluh menit siswa diajak belajar tentang sejarah dan filosofi topeng Malangan bersama, acara hari itu ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, guru pendamping dan narasumber.

Belajar sejarah dan filsafat topeng Malangan adalah salah satu sesi kegiatan siswa pada kegiatan kokurikuler. Kegiatan yang fokus pada pembangunan karakter siswa kali ini mengambil tema pembuatan topeng Malangan dan difokuskan pada siswa kelas sembilan.

Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi Topeng peng Malangan sangat penting agar siswa bisa lebih memahami dan menghayati cerita di balik keunikan topeng Malangan, sekaligus lebih menghargai topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara.

Bapak Gatot Kasujono narasumber hari itu adalah seorang seniman sekaligus kolektor topeng Malangan. Beliau menggeluti dunia topeng sejak tahun 1986, dan sampai sekarang memiliki sekitar 1500 koleksi topeng.

“Semua karena tidak sengaja,” tutur Pak Gatot ketika saya bertanya kenapa tiba-tiba jatuh cinta pada Topeng Malangan.

Berawal ketika beliau mendapat tugas untuk kuliah di Jogjakarta sekitar tahun delapan puluhan. “Saya kuliah di Geodesi,” kata Pak Gatot lagi.

“Lha.., dari Geodesi ke Topeng Malangan sepertinya jauh jaraknya ya, Pak?” tanya saya yang disambut dengan tawa Pak Gatot.

Berbincang dengan Pak Gatot , dokumentasi Buz

“Ketika itu saya kan kos, Bu. Nah, pas libur saya merasa bosan, tidak ada yang dikerjakan( istilah sekarang mungkin gabut) di kos kosan, dan akhirnya diajak teman jalan jalan ke Gunung Kidul. Di sana saya menemukan sebuah kampung di mana kegiatan penduduknya mayoritas adalah pembuat topeng. Dari situ rasa cinta saya pada topeng berawal.”

Kecintaan pada topeng diwujudkan Pak Gatot dengan terus belajar. Beliau pernah belajar pada generasi ke empat dari Mbah Moen, seorang maestro Topeng Malangan dari sanggar Asmorobangun Pakisaji Malang.

Setelah pensiun dari Perhutani, Pak Gatot terus aktif di membuat topeng Malangan dan setiap tahun diundang menjadi narasumber Topeng Malangan di SMP Negeri 3 Malang.

Dalam penjelasan pada siswa siang itu  Pak Gatot menerangkan bahwa Topeng Malangan adalah seni tradisional dari Malang, Jawa Timur, berupa seni pertunjukan drama tari yang menggunakan topeng kayu berkarakter. 

Seni ini sudah ada sejak zaman  kerajaan kuno dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta religiusitas yang tinggi. Topeng Malangan sering dipentaskan dengan mengangkat cerita, dengan pementasan yang mengangkat cerita-cerita seperti Panji. 

Warna warni Topeng Malangan mempunyai filosofi tersendiri, sumber gambar: Radar Malang

Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan, contoh : warna merah melambangkan watak pemberani dan pemarah (misalnya, Klana Sewandana), warna putih menggambarkan watak suci, lembut, dan baik hati (misalnya, Dewi Sekartaji), hijau menggambarkan sifat baik hati (misalnya, Panji Asmoro Bangun), kuning menggambarkan watak senang dan gembira (misalnya, Dewi Ragil Kuning) dan warna hitam melambangkan kebijaksanaan.

Acara pemberian materi sejarah dan filosofi topeng Malangan ini berlangsung hangat, lebih-lebih ketika di sela sela acara, seorang siswa dari ekskul menari maju memperagakan tari topeng Bapang 

Antusias siswa ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dari siswa yang dijawab satu persatu oleh narasumber.

Siswa menarikan tari Topeng, dokumentasi Buz
Siswa banyak bertanya di sesi pemberian materi, dokumentasi pribadi

Ya, dedikasi serta rasa cinta Pak Gatot pada topeng Malangan membuat beliau sabar meladeni pertanyaan anak- anak.

“Semoga semakin banyak anak anak yang cinta Topeng Malangan, dan pembuatan topeng supaya diikuti dengan pagelaran tari topeng agar filosofinya semakin terasa,” ungkap Pak Gatot di akhir perbincangan kami hari itu.

Pagelaran Tari Topeng Malangan, sumber gambar: Hotel Tugu Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan

Menjelang pukul dua Pak Gatot segera berpamitan. Kami mengantar beloau sampai depan parkiran. Semangat yang luar biasa. Di usianya yang ke 72, beliau masih naik sepeda motor sendiri dari Jl. Dr Cipto menuju Sawojajar dua.

Hari yang luar biasa. Hari ini kami semua belajar bahwa membuat  topeng Malangan bukan hanya tentang mencintai budaya dan kearifan lokal. Tapi lebih dari itu, ada banyak pelajaran tentang  kesabaran, kesetiaan  dan ketekunan  di dalamnya.

Categories
Reportase

Pramuka Bintaraloka Raih Berbagai Kejuaraan pada Event Grapika.com

Wajah-wajah penuh sukacita tampak menghiasi suasana. Rasa lelah pun sirna ketika Barakacem (Barakuda Cempaka), regu Pramuka dari SMP Negeri 3 Malang, berhasil meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi Grapika.com yang digelar di SMK Negeri 4 Malang pada hari Sabtu, 27 Desember 2025.

Lomba Grapika.com sendiri merupakan ajang untuk Pramuka Penggalang se-Malang Raya yang diadakan oleh Pramuka Pandugrafika, dengan partisipasi dari 27 regu yang mewakili 22 pangkalan.

Briefing oleh pelatih dan pembina, dokumentasi Pramuka

Benarlah bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Setelah menjalani latihan sekitar satu bulan, sederet prestasi berhasil ditorehkan oleh Pramuka Bintaraloka, antara lain:

· Juara Umum Pangkalan Terbaik
· Regu Tergiat 1 Putra
· Regu Tergiat 1 Putri
· Juara 1 Battle yel
· Juara 1 Gravie
· Juara 1 Komik Bercerita Putra
· Juara 1 SSC Putra
· Juara Madya 3 SSC Putri
· Juara Madya 1 Pionering
· Juara Madya 1 Komik Bercerita Putri
· Juara Madya 2 SMS Putri
· Juara Madya 3 SMS Putra

Suasana lomba Grapika.com

Satria, salah satu peserta yang mengikuti lomba pioneering, yel, dan battle, mengungkapkan bahwa ajang ini sangat menyenangkan. Grafika merupakan salah satu event yang sangat dinantikan, sekaligus menjadi lomba terakhirnya di jenjang SMP.

Selain sebagai wadah meraih prestasi, kegiatan ini juga memperkuat ikatan kebersamaan dalam keluarga besar Pramuka Bintaraloka.

Perjuangan yang cukup panjang akhirnya berbuah kemenangan yang membanggakan.

Pramuka in action, dokumentasi Pramuka

“Melalui kegiatan ini, kami membuktikan perjuangan kami di berbagai bidang. Susah dan senang kami jalani bersama. Apapun hasilnya, sukses atau tidak, kami terima dengan lapang dada karena yang terpenting adalah evaluasi untuk perbaikan,” tambah Satria.

Harapannya ke depan Dewan Galang Pramuka Bintaraloka dapat terus menjaga “Korsa”, yaitu semangat kebersamaan dan solidaritas, serta selalu berusaha maksimal untuk mencapai tujuan.

Pramuka Bintaraloka in action, dokumentasi Pramuka

Selamat kepada Barakacem, para pelatih, dan pembina. Semoga kemenangan ini dapat memotivasi siswa lainnya untuk terus berprestasi.

Salam Pramuka.

Categories
Reportase

Menghidupkan Kembali Majalah Sekolah , Sebuah Perjalanan Literasi di Tahun 2025

Ada banyak peristiwa di tahun 2025. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika saya dan tim majalah berusaha kembali menerbitkan majalah sekolah yang sempat “mati suri” selama beberapa tahun.

Ya, dalam satu tahun ini kami berhasil tiga kali  menerbitkan majalah sekolah. Sebuah perjalanan literasi yang penuh perjuangan tapi sangat menyenangkan.

***

“Bagaimana kalau kita hidupkan lagi majalah sekolah?” pertanyaan itu langsung muncul ketika kira-kira akhir tahun 2024 saya berdiskusi dengan seorang teman.

Wah, usul yang menarik ini, pikir saya.

“Tapi biayanya bagaimana?”

Sebagaimana diketahui semua kegiatan sekolah harus dianggarkan di awal lewat dana BOS. Jika tidak dianggarkan berarti biaya untuk kegiatan tersebut berarti tidak ada.

” Biar biayanya tidak banyak, atau bahkan tak berbiaya, kita buat e magazine saja. Pakai Canva, jadikan PDF lalu dimasukkan di website perpustakaan,” jawab teman saya yakin.

Ya, kami adalah teman yang sama sama penggemar baca, sering berdiskusi bareng dan sama-sama punya obsesi untuk terus meningkatkan kegemaran membaca di kalangan siswa. Dan majalah adalah salah satu media yang menarik untuk meningkatkan minat baca siswa, karena dengan media ini siswa diajak menelusuri kembali berbagai peristiwa yang ada di sekolah.

Tim majalah sedang berdiskusi, dokumentasi Nadia

Tentang majalah sekolah, sebenarnya kami sudah punya. Majalah tersebut dicetak dengan ukuran A5 dan terbit setiap satu semester. Saat itu, setiap penerimaan rapor pada  siswa akan akan satu majalah. Ketika itu masih ada SPP, jadi biaya diambil dari sini.

Seiring berjalannya waktu banyak perubahan kebijakan dalam pendidikan terutama dalam hal pembiayaan. Karena tidak ada dana akhirnya majalah pun  berhenti di jilid 24. Apalagi pandemi melanda dan banyak kegiatan berhenti, akhirnya majalahpun mati suri.

Nah, kembali ke cerita di atas, setelah melalui beberapa diskusi lanjutan, akhirnya kami sepakat membentuk tim penyusun majalah. 

Membuat tim majalah ternyata juga bukan hal yang mudah. Karena tidak semua siswa bisa desain Canva, bersama perpustakaan kami membuat pelatihan desain untuk anak- anak. 

Karena beberapa anggota tim masih harus belajar menulis dengan baik, kami harus siap jadi editor, ataupun memberikan pelatihan singkat bagaimana cara membuat paragraf yang baik. Ya, dalam tim kami ada guru bahasa juga guru kesenian untuk mencermati tulisan dan desain yang dibuat anak-anak.

Launching majalah edisi pertama (25) , dokumentasi pribadi

Ternyata dalam perjalanan, tidak semua siswa ‘tahan’ dengan kegiatan pembuatan majalah. Beberapa keluar dan akhirnya yang tersisa sekitar delapan anak yang menjadi tim inti. Tim inilah yang gigih , mau menyisihkan sebagian waktunya untuk bekerja menuntaskan majalah sekolah. 

Tugas saya sebagai pengisi konten berita di website sekolah ternyata sangat membantu kerja tim karena berbagai peristiwa di sekolah sudah tercatat rapi di website sekolah.

Hasil tidak mengkhianati usaha. Setelah melalui proses yang lumayan lama (sekitar tiga bulan) akhirnya majalah sekolah kami kembali terbit di akhir bulan Februari 2025. Launching dilaksanakan pada saat perayaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Pada majalah perdana ini kami tulis edisi 25, melanjutkan majalah terdahulu.

Agar tidak mengeluarkan banyak biaya majalah yang baru terbit ini dibuat dalam bentuk digital atau e magazine. Dan rencananya diterbitkan empat bulan sekali.

Pada penerbitan jilid ke 26 tim majalah kami semakin solid. Apalagi saat itu beberapa siswa yang pintar desain bergabung di tim. 

Pada penerbitan kali ini selain dalam bentuk e magazine, majalah kami cetak lima eksemplar untuk perpustakaan. Jadi siswa yang ingin membaca majalah dalam bentuk fisik mereka bisa datang ke perpustakaan.

Menjelang penerbitan edisi 27 sebuah masalah timbul. Anggota tim berkurang drastis karena tim awal sebagian besar adalah siswa kelas 9. Ya, di kelas sembilan siswa sudah mulai lebih fokus ke pelajaran. Lebih-lebih mereka harus menghadapi TKA. Akhirnya kami harus mencari anggota tim lagi yang langsung kami ambil dari kader literasi yang berminat untuk bergabung.

Hal yang sungguh kami syukuri adalah tim yang baru ini mempunyai semangat yang tidak kalah dengan kakak- kakaknya. 

Berfoto bersama untuk kolom salam dari redaksi, dokumentasi Nadia

Dengan tekad dan kesungguhan akhirnya majalah edisi 27 terbit saat penerimaan rapor semester gasal kemarin. Berbeda dengan dua edisi sebelumnya untuk edisi terbaru ini selain dalam bentuk e magazine kami juga open PO. Jadi bagi yang berminat boleh memesan edisi cetaknya pada perpustakaan.

Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.

Ide ini sebenarnya muncul begitu saja ketika beberapa orang tua siswa memesan majalah dalam bentuk cetak karena putra putri mereka kami masukkan dalam artikel siswa berprestasi. Selain itu beberapa orang tua juga pesan karena putra putri nya terlibat dalam penyusunan majalah ini. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kami duga. 

Akhirnya di era di mana segala sesuatu menghilang dalam scroll, majalah sekolah memberikan sebuah pernyataan bahwa beberapa cerita pantas untuk dihentikan, dipegang, dan disimpan.

Majalah terbaru , dokumentasi pribadi

Sungguh, 2025 adalah tahun literasi yang luar biasa. Dengan menerbitkan kembali majalah sekolah, kami berusaha mengajak siswa untuk meninggalkan jejak literasi lewat berbagai peristiwa penting di sekolah. 

Karena lewat majalah sekolah kita tidak hanya mengajarkan siswa untuk menulis; kita mengajarkan mereka untuk meninggalkan jejak.

Categories
Reportase

Bukan Sekedar Makan Bersama, Pelaksanaan MBG di Bumi Bintaraloka

Senin (10/11) adalah hari pertama pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bumi Bintaraloka. Program pemerintah yang dicanangkan sejak 6 Januari 2025 ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, yang diharapkan dapat mendorong lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul, sehat, dan cerdas.

Informasi tentang program MBG untuk Bintaraloka sudah datang kira- kira dua minggu yang lalu. Begitu mendapatkan informasi, sekolah gerak cepat dengan membentuk panitia, piket serta melakukan pendataan tentang alergi makanan dari siswa.

Pengambilan MBG di depan sekolah , dokumentasi pribadi

Panitia dan piket dibentuk karena mendistribusikan makanan pada 800 lebih siswa bukan hal yang mudah. Super sibuk pastinya, lebih-lebih makanan harus segera habis dan tempat makan (ompreng) harus segera dikembalikan.

Selain pembentukan piket dan panitia, persiapan sekolah sebelum pelaksanaan program ini adalah mengadakan sosialisasi dan pengarahan pada siswa untuk menghargai makanan yang diberikan dengan memakannya sampai habis. 

Menu MBG hari pertama , dokumentasi Bintaraloka

Jika karena terpaksa atau tidak suka dengan makanan yang diberikan, siswa boleh memberikan jatah makannya pada teman, atau jika tidak ada yang mau, makanan boleh dikembalikan dalam kondisi yang baik.

Dalam sosialisasi juga diterangkan bagaimana teknik pembagian makanan. Pada prinsipnya tiap kelas ada enam siswa yang piket secara bergantian tiap hari. Tugas regu piket adalah mengambil jatah makan yang sudah diikat lima-lima dari mobil dan membagikan ke teman- teman dalam satu kelas.

Siap membagikan MBG, dokumentasi pribadi

Sesudah makan siswa ini bertugas mengikat kembali ompreng (tempat makan) yang kosong untuk dikembalikan ke mobil MBG.

Lalu apa tugas piket guru dan panitia? Panitia MBG yang dikomandani Ibu Utin, Ibu Fathim, Ibu Ahfi, Pak Imron, Ibu Ami dan Suster Ratna ini dalam tugasnya dibantu oleh sepuluh guru yang piket secara bergantian.

Guru membantu pendistribusian MBG, dokumentasi Vigil

Tugas para guru adalah mengarahkan siswa di titik-titik tertentu, memperlancar distribusi makanan dan yang sangat penting adalah mengecek kelayakan makanan untuk dikonsumsi.

Hari pertama MBG berjalan lancar. Mungkin karena hari pertama jadi terasa begitu repot, juga terpaksa memotong jam pelajaran.

Siswa tampak begitu gembira makan bersama hari itu. Menunya nasi kuning, oseng sayuran ,bali telor, tahu bulat dan buah yang sudah diinfokan sebelumnya oleh SPPG Batik Celaket yang menanganinya.

Mengembalikan ompreng MBG, dokumentasi pribadi

“Hmm, enak..,”

“Lauknya mantap , Bu,” ungkap beberapa siswa.

Tampak beberapa siswa yang merasa jatah makannya terlalu banyak, membagikan makanannya pada temannya.

“Terima kasih sudah membantu menghabiskan,” kata siswa pada temannya.

Makan dan berbagi, dokumentasi pribadi

Makan siang bersama berakhir kira kira saat Duhur tiba. 

Di sore hari sebelum pulang dilaksanakan rapat evaluasi pelaksanaan MBG hari itu, agar MBG di hari berikutnya bisa dilaksanakan lebih baik lagi.

Benar-benar hari yang luar biasa. 

Guru membantu pendistribusian MBG pada siswa, dokumentasi Vigil

Ribet, tapi dari MBG ada banyak hal yang bisa dipelajari siswa. Tentang tanggung jawab, kepedulian, kesenangan berbagi juga selalu bersyukur atas rezeki hari ini.