Jelajah Yogyakarta, dari Malioboro hingga Obelix Sea View

Siang yang terik. Matahari bumi Yogyakarta demikian cerah. Jam menunjukkan pukul setengah duabelas siang ketika kami turun dari bus. Ya, hari itu (Jumat 04/09) kami mulai menjelajah Jogjakarta.

Perjalanan ke Jogjakarta kali ini kami lakukan selama dua hari. Di hari pertama ada dua tempat yang kami kunjungi yaitu Malioboro dan Obelix Sea View.

Di depan pusat oleh -oleh Krisna kami berhenti.

“Nanti kita masuk ke Krisna dan tembus ke arah Malioboro,” kata Mbak Nia guide kami.

Di depan Krisna Oleh-oleh, dokumentasi pribadi

Bersama sama kami masuk area Krisna oleh-oleh. Baju-baju, kerajinan tangan dan makanan khas Jogja membuat kami lapar mata. Ingin beli dan beli. Dasar emak-emak. Setelah berkeliling, saya mendapatkan satu daster batik hitam dan mukenah batik yang adem dan enak dipakai.

Keluar dari Krisna kami terus berjalan ke arah Malioboro. Suasana tidak begitu ramai. Mungkin karena jam sholat Jumat sehingga toko- toko tidak terlalu banyak pengunjungnya.

Jalanan Malioboro masih seperti dulu ketika saya sering ke sini untuk menengok anak saya. Kursi-kursi di trotoar juga dokar yang lalu- lalang menciptakan suasana yang sangat khas.

Malioboro, dokumentasi pribadi

“Becak Bu? Monggo, keliling-keliling cuma sepuluh ribu,” tawar seorang pengendara becak.

“Mboten Pak, mlampah mawon,” jawab kami. Benar, kami sudah berniat untuk jalan kaki karena terlalu banyak duduk dalam bus.

“Foto Bu? Monggo foto..,” tawar seorang tukang foto. Rupanya di Malioboro sekarang banyak tukang foto yang menawarkan jasa pada para wisatawan.

“Satu foto lima ribu,” tambahnya lagi.

Kami berhenti sejenak. 

“Nanti file foto langsung dikirim?” tanya kami.

“Inggih, Bu, langsung dikirim,”

Tanpa banyak kata kami pun berpose di bawah tulisan Jalan Malioboro, tempat ikonik untuk foto saat berkunjung ke Jogjakarta.

“Lihat samping.., tunjuk kamera, senyum.., berpelukan..,” kata Mas tukang foto ramah. Herannya kami manut saja sambil tertawa bersama, dan jadinya foto-foto seperti di bawah ini. Aha….

Berfoto di Malioboro , dokumentasi pribadi

Puas berkeliling Malioboro perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini kami menuju Obelix Sea View yang berlokasi di kawasan Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari

Obelix Sea View terkenal dengan pemandangan lautnya yang memukau. Wisatawan yang datang bisa menikmati pemandangan alam yang masih asri dan menenangkan. 

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati sunset yang spektakuler atau sekadar berjalan di sepanjang pantai yang damai.

Obelix Sea View, dokumentasi pribadi

Keindahan alam yang ditawarkan menjadikan Obelix Sea View sebagai destinasi wisata yang ideal untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Saat kami datang jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Berarti tiga puluh menit lagi pertunjukan musik akan dimulai.

Setelah memesan minuman dingin kami berfoto- foto, menikmati panorama yang luar biasa indah. 

Jelang jam empat sore kami memasuki amphiteater. Tampak persiapan para pemusik yang menandakan pertunjukan akan segera dimulai. Cuaca begitu panas. Meski demikian semangat pengunjung untuk melihat konser musik dan sendratari demikian besar. Mayoritas orang- orang mengenakan topi, kacamata hitam bahkan ada juga yang berpayung untuk mengurangi paparan sinar matahari.

Sekitar pukul empat lebih musik mulai dimainkan. Beberapa pemain musik dan satu penyanyi cantik. Lagu “Lela Ledung” yang pernah dipopulerkan oleh Waldjinah mengalun indah menghiasi ruang dengar kami sore itu. Luar biasa. 

Lepas lagu “Lela Ledung” lagu lain menyusul. Kali ini penyanyi berikutnya muncul dan menyanyikan sebuah lagu dari KLA Project, “Yogyakarta”.  Sungguh, ikut menyanyikan lagu “Yogyakarta” di kota Yogyakarta sambil melihat keindahan pantai Parangtritis dari kejauhan terasa begitu syahdu rasanya. 

Saya langsung mengambil video konser lagu tersebut dan saya kirim ke anak saya.

Lagu Yogyakarta , dokumentasi pribadi

 “Le, ibuk lihat konser Lagu Yogyakarta,” kata saya melalui chat WhatsApp. Tak terasa sudah tujuh tahun yang lalu kami ke Yogyakarta ketika anak saya wisuda di UGM. Lagu Yogyakarta selalu mengingatkan saya pada anak saya dan perjuangannya dalam menyelesaikan studinya di sana.

“Terharu ya..,” jawab anak dalam chat balasannya.

Selesai konser musik, acara sendrataripun dimulai. Malam itu sendratari mengambil judul Janji Nyai Roro Kidul. Terasa mistis judulnya. 

Ketika gamelan mulai menyapa para penonton benar benar dibuat terpukau oleh aksi tari yang membawakan cerita tentang berdirinya Kerajaan Mataram.

Sendratari yang menggambarkan adegan Sutawijaya sedang tapabrata dan diganggu mahluk halus, dokumentasi pribadi

Dikisahkan bahwa sebelum mendirikan Mataram, Danang Sutawijaya melakukan tapa brata  yang sangat khusyuk di antara dua batu karang di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. 

Kekuatan semedi Sutawijaya memancarkan hawa panas luar biasa yang menggetarkan dasar samudra dan mengganggu ketenangan penguasa Laut Selatan. Melihat hal tersebut Kanjeng Ratu Kidul datang ke permukaan untuk melihat sumber gangguan tersebut dan menemukan seorang pemuda sakti yang tengah bermeditasi. 

Ratu Kidul bertanya mengenai tujuan semedi tersebut, dan Sutawijaya menyatakan keinginannya untuk mendirikan serta membesarkan Kerajaan Mataram. Berkaitan dengan hal tersebut Ratu Kidul setuju memberikan bantuan gaib serta dukungan perlindungan bagi Sutawijaya dan seluruh keturunannya dalam memerintah Mataram. 

Sendratari yang menggambarkan adegan keperkasaan Sutawijaya, dokumentasi pribadi

Memukau. Barangkali kata itu yang paling tepat untuk melukiskan pertunjukan sendratari sore itu. Para penari, penabuh gamelan demikian luar biasa aksinya. Para penonton dihibur dengan gerakan tari yang gemulai, manis, dinamis bahkan kadang kocak. Applaus penonton berkali-kali terdengar melihat berbagai aksi tersebut.

Malam semakin gelap. Matahari semakin tenggelam. Keindahan pertunjukan sendratari dilengkapi oleh Samudra Hindia yang menyajikan sunset yang cantik luar biasa.

Irama gending masih berkumandang dan penari bergerak selaras irama. Semburat kuning mewarnai langit barat. Sungguh, perpaduan keindahan budaya dan panorama alam saat itu membuat senja di Yogjakarta terasa begitu istimewa.

Sekedar berbagi cerita, salam jalan- jalan….:)

Soal Penerapan Pola dan Barisan Bilangan

Konteks Lingkungan – Sampah Plastik

Sebuah komunitas peduli lingkungan mengadakan program pengurangan sampah plastik. Pada minggu pertama, mereka berhasil mengumpulkan 100 kg sampah plastik. Karena antusiasme meningkat, setiap minggunya mereka mampu mengumpulkan sampah 15 kg lebih banyak dari minggu sebelumnya.

a. Berapa kg sampah plastik yang terkumpul pada minggu ke-8?

b. Berapa total sampah plastik yang terkumpul selama 8 minggu pertama?

Konteks Ekonomi – Tabungan

Kompas.com

Rina menabung setiap bulan dengan pola tertentu. Pada bulan pertama, ia menabung Rp50.000,00. Bulan kedua Rp60.000,00, bulan ketiga Rp70.000,00, dan seterusnya dengan penambahan yang tetap.

a. Berapa besar tabungan Rina pada bulan ke-15?

b. Berapa total tabungan Rina setelah 15 bulan?

Konteks Kesehatan – Penyebaran Bakteri

Dalam sebuah percobaan di laboratorium, seorang peneliti mengamati pertumbuhan bakteri. Pada awal pengamatan (pukul 08.00), terdapat 500 bakteri. Bakteri tersebut membelah diri menjadi 2 setiap 20 menit.

a. Berapa jumlah bakteri pada pukul 09.00?

b. Pada pukul berapakah jumlah bakteri mencapai 256.000?

Konteks Lingkungan – Penanaman Pohon

Bola.com

Sebuah sekolah mengadakan gerakan menanam pohon di lahan kritis. Pada hari pertama, siswa menanam 10 pohon. Hari kedua 14 pohon, hari ketiga 18 pohon, dan seterusnya mengikuti pola penambahan yang sama. Jika kegiatan dilakukan setiap hari selama 2 minggu,

a. Berapa banyak pohon yang ditanam pada hari terakhir?

b. Berapa total pohon yang ditanam selama 2 minggu?

Konteks Ekonomi – Harga Barang

Harga sebuah barang elektronik mengalami penurunan setiap tahunnya mengikuti pola barisan geometri. Pada tahun pertama, harganya Rp10.000.000,00. Tahun kedua menjadi Rp8.000.000,00, dan tahun ketiga menjadi Rp6.400.000,00.

a. Berapa harga barang tersebut pada tahun ke-5?

b. Setelah berapa tahunkah harga barang tersebut menjadi Rp4.096.000,00?

Konteks Kesehatan – Detak Jantung

Denyut jantung seorang atlet saat istirahat adalah 60 denyut per menit (dpm). Setelah melakukan pemanasan, denyutnya meningkat. Pada menit pertama olahraga, denyutnya 66 dpm, menit kedua 72 dpm, menit ketiga 78 dpm, dan seterusnya mengikuti pola pertambahan yang tetap.

a. Berapa denyut jantung atlet tersebut pada menit ke-12?

b. Jika atlet tersebut berolahraga selama 10 menit, berapakah total denyut jantungnya selama 10 menit tersebut? (Petunjuk: ini adalah jumlah seluruh denyut dari menit ke-1 sampai ke-10)

Konteks Lingkungan – Daur Ulang Kertas

Sebuah pabrik kertas daur ulang memproduksi kertas dengan peningkatan hasil setiap bulannya. Pada bulan pertama, produksi mencapai 200 rim. Bulan kedua 220 rim, bulan ketiga 242 rim, dan seterusnya mengikuti pola barisan geometri.

a. Berapa rim kertas yang diproduksi pada bulan ke-6?

b. Berapa total produksi kertas selama 6 bulan pertama? (Gunakan rumus deret geometri)

Konteks Ekonomi – Bunga Tabungan

Ayu menabung di bank dengan sistem bunga majemuk. Pada awal tahun, tabungannya Rp1.000.000,00. Setiap tahun, tabungannya bertambah 10% dari tahun sebelumnya.

a. Berapa jumlah tabungan Ayu pada akhir tahun ke-4?

b. Berapa total tabungan Ayu dari akhir tahun ke-1 sampai akhir tahun ke-4?

Konteks Kesehatan – Konsumsi Gula

Alodoc

Seorang pasien diabetes disarankan untuk mengurangi konsumsi gula harian secara bertahap. Pada minggu pertama, ia mengonsumsi 20 gram gula per hari. Minggu kedua 18 gram, minggu ketiga 16 gram, dan seterusnya mengikuti pola penurunan yang tetap.

a. Berapa gram gula yang dikonsumsi pasien tersebut per hari pada minggu ke-10?

b. Pada minggu ke-12, apakah pasien tersebut sudah berhenti mengonsumsi gula? Jelaskan.

Konteks Ekonomi & Lingkungan – Investasi Hijau

Seorang pengusaha menanamkan modal pada usaha ramah lingkungan. Pada tahun pertama, keuntungannya Rp5.000.000,00. Keuntungan ini naik secara tetap setiap tahun sebesar Rp2.000.000,00.

a. Buatlah rumus untuk menghitung keuntungan pada tahun ke-n.

b. Berapa total keuntungan yang diperoleh pengusaha tersebut selama 10 tahun pertama?

Selamat Belajar dan Salam Matematika 😊

Penerapan Materi Bilangan Berpangkat

KONTEKS EKONOMI (Menabung dan Jualan)

1. Cerita Menabung di Koperasi Sekolah
Rina adalah siswa kelas 9 yang rajin menabung. Ia menyimpan uang sebesar Rp200.000,- di koperasi sekolah. Koperasi memberikan bunga majemuk sebesar 10% setiap tahunnya. Artinya, setiap tahun uang Rina bertambah menjadi 1,1 kali lipat dari tahun sebelumnya. Rumus total tabungan Rina setelah *n* tahun adalah Rp200.000 × (1,1)ⁿ. Jika Rina tidak pernah mengambil uangnya sama sekali, berapakah total tabungan Rina setelah 2 tahun menabung?
A. Rp220.000,-
B. Rp240.000,-
C. Rp242.000,-
D. Rp244.000,-

Ilustrasi anak belajar menabung, sumber gambar Kompasiana

2. Cerita Pedagang Buah di Pasar
Seorang pedagang buah membeli 1 ton mangga di petani. Karena cuaca buruk, setiap minggu mangga yang busuk bertambah menjadi 2 kali lipat. Pada minggu pertama, mangga yang busuk hanya 2 buah. Namun pada minggu kedua menjadi 4 buah, minggu ketiga menjadi 8 buah, dan seterusnya. Jumlah mangga busuk pada minggu ke-*m* dapat dihitung dengan rumus 2ᵐ. Berapa banyak mangga busuk yang dimiliki Pak RT pada minggu ke-5?
A. 10 buah
B. 16 buah
C. 32 buah
D. 64 buah

Pedagang di pasar, Sumber gambar : Antara News

3. Cerita Harga Sepatu Anak SMA
Seorang siswa SMA sedang mengincar sepatu branded terbaru. Harga sepatu itu saat ini adalah Rp1.000.000,-. Setiap tahun, karena permintaan tinggi dan inflasi, harga sepatu itu naik sebesar 20% (menjadi 1,2 kali lipat). Jika Budi baru bisa membelinya 2 tahun lagi, berapakah perkiraan harga sepatu itu pada 2 tahun mendatang? Petunjuk: Gunakan perkalian berulang 1,2 sebanyak 2 kali.
A. Rp1.200.000,-
B. Rp1.400.000,-
C. Rp1.440.000,-
D. Rp1.600.000,-


B. KONTEKS KESEHATAN (Bakteri, Virus, dan Obat)

4. Cerita Bakteri di Makanan Sisa
Ibu lupa membuang soto sisa di meja makan. Di dalam soto itu awalnya terdapat 5 bakteri. Bakteri ini sangat cepat berkembang biak karena suhu ruangan yang hangat. Setiap 1 jam, jumlah bakteri menjadi 3 kali lipat dari sebelumnya. Artinya, jika awalnya 5, maka setelah 1 jam menjadi 15, setelah 2 jam menjadi 45, dan seterusnya. Rumus jumlah bakteri setelah *h* jam adalah 5 × 3ʰ. Berapakah jumlah bakteri dalam soto tersebut setelah 3 jam berlalu?
A. 45 bakteri
B. 135 bakteri
C. 405 bakteri
D. 1.215 bakteri

5. Cerita Penyebaran Flu di Desa
Di sebuah desa terpencil, seorang wisatawan membawa virus flu yang menular. Awalnya hanya ada 2 orang yang terkena flu. Karena interaksi antarwarga sangat tinggi, setiap harinya jumlah penderita flu selalu bertambah menjadi 4 kali lipat dari hari sebelumnya. Jadi, hari ke-1 ada 2 orang, hari ke-2 menjadi 8 orang, hari ke-3 menjadi 32 orang, dan seterusnya. Jumlah penderita flu pada hari ke-*h* dapat dihitung dengan rumus 2 × 4ʰ. Berapa total penderita flu di desa tersebut pada hari ke-3?
A. 32 orang
B. 64 orang
C. 96 orang
D. 128 orang

6. Cerita Kadar Gula dalam Darah
Seorang pasien diabetes harus mengontrol kadar gulanya. Dokter memberinya obat penurun gula yang sangat manjur. Setiap 1 jam setelah minum obat, kadar gula darah pasien berkurang menjadi setengahnya (1/2 kali lipat). Jika kadar gula awal Pak Jono adalah 160 mg/dL, maka rumus sisa kadar gula setelah *t* jam adalah 160 × (1/2)ᵗ. Berapakah kadar gula Pak Jono setelah 2 jam minum obat?
A. 40 mg/dL
B. 60 mg/dL
C. 80 mg/dL
D. 120 mg/dL

7. Cerita Virus pada Komputer
Seorang karyawan kantor tanpa sengaja mengunduh file yang mengandung 1 virus. Dalam waktu 10 menit, virus tersebut mampu menggandakan diri menjadi 2 kali lipat dari jumlah sebelumnya (menjadi 2 ekor). Dalam 20 menit menjadi 4, dalam 30 menit menjadi 8, dan seterusnya. Jumlah virus setelah *n* periode (setiap periode = 10 menit) adalah 1 × 2ⁿ. Jika karyawan tersebut tidak segera mematikannya, berapa banyak virus di komputernya setelah 40 menit?
A. 8 virus
B. 16 virus
C. 32 virus
D. 64 virus


C. KONTEKS ASTRONOMI (Benda Langit dan Alam Semesta)

Benda langit, Sumber gambar : Kumparan

8. Cerita Jarak Bulan ke Bumi
Bulan merupakan satelit alami Bumi yang paling dekat. Jarak rata-rata antara Bumi dan Bulan adalah sekitar 3,84 × 10⁸ meter. Sebuah pesawat ruang angkasa melaju dengan kecepatan 2 × 10⁴ meter per detik. Jika pesawat itu ingin menempuh jarak ke Bulan, berapa detik waktu yang dibutuhkan? (Petunjuk: Bagi jarak dengan kecepatan menggunakan sifat pangkat).
A. 1,92 × 10² detik
B. 1,92 × 10³ detik
C. 1,92 × 10⁴ detik
D. 1,92 × 10⁵ detik

9. Cerita Berat Planet di Tata Surya
Di tata surya kita, planet terbesar adalah Jupiter. Massa Jupiter diketahui sekitar 2 × 10²⁷ kilogram. Sementara itu, planet terkecil bernama Merkurius memiliki massa sekitar 3 × 10²³ kilogram. Para astronom ingin mengetahui kira-kira berapa kali lebih berat Jupiter dibandingkan Merkurius. Berdasarkan perhitungan pembagian bilangan berpangkat, berapa kira-kira perbandingan massa Jupiter terhadap Merkurius?
A. Sekitar 600 kali lebih berat
B. Sekitar 6.000 kali lebih berat
C. Sekitar 6.600 kali lebih berat
D. Sekitar 66.000 kali lebih berat

Benda-beda langit, Sumber gambar : Kompas.com

10. Cerita Cahaya Bintang Jauh
Kita semua tahu bahwa cahaya bergerak sangat cepat, yaitu 3 × 10⁸ meter per detik. Sekarang, coba bayangkan sebuah bintang yang berada sangat jauh dari Bumi. Jarak bintang tersebut adalah 9 × 10¹⁵ meter. Jika kita ingin menghitung berapa detik waktu yang dibutuhkan cahaya bintang itu untuk sampai ke mata kita di Bumi, kita harus membagi jarak dengan kecepatan cahaya. Berapa detikkah waktu yang diperlukan cahaya bintang tersebut untuk mencapai Bumi?
A. 3 × 10⁶ detik
B. 3 × 10⁷ detik
C. 3 × 10⁸ detik
D. 3 × 10⁹ detik

Selamat belajar dan Salam Matematika 🙂

Kunci jawaban klik di sini

https://docs.google.com/document/d/1isCoILbIiDvbRfo5VVQCfivXFZyBtPpc/edit?usp=sharing&ouid=105144562443306855730&rtpof=true&sd=true

Membuka Jendela Dunia: Pembiasaan Literasi di Sekolah

Baik, silakan baca dari link yang sudah dikirim lewat grup kelas, buat catatan atau rangkuman dan nanti ada perwakilan dari siswa putra dan putri untuk maju menceritakan hasil literasi hari ini,” kata Ibu guru pagi itu di depan seluruh siswa kelas tujuh.

Ya, pagi itu mereka berkumpul di aula untuk melaksanakan literasi sebagai salah satu pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Siswa langsung membuka HP, membuka link dan mulai membaca. Di sela kegiatan membaca mereka membuat catatan di buku literasi mereka.

Suasana yang semula agak ramai langsung tenang. Beberapa siswa masih menunggu bacaan muncul di gadget mereka, sementara yang lain sudah mulai konsentrasi, membaca dan memegang pena untuk menuliskan bagian penting dari bacaan tersebut .

Hari ini bacaan mereka berjudul “Memberi Ruang Pada Waktu Memberi Makna Pada Hidup”.

Bacaan ini berisikan ajakan untuk memanfaatkan waktu luang. Diterangkan dalam bacaan tersebut perlunya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu yang hilang tak akan bisa kembali lagi.

Bacaan ditutup dengan sebuah nasehat bijak bahwasanya “Waktu adalah kain yang Tuhan berikan pada kita. Kita tak bisa meminta lebih panjang, tapi kita bisa menyulamnya dengan cinta, keheningan, dan kebermaknaan. Jangan biarkan ia lewat tanpa pernah kita rasa”

Di akhir acara, dua orang siswa menceritakan apa saja yang sudah dibaca hari itu yang disambut dengan applaus siswa yang lain sebagai bentuk penghargaan.

Pembiasaan Literasi Membuka Jendela Dunia 

Kegiatan literasi sekolah, dokumentasi Richa

Gerakan Literasi Sekolah adalah upaya menyeluruh yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pembiasaan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. (Sumber: Kemdikbud) 

Ada tiga tujuan utama dari gerakan literasi sekolah yaitu 

Menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui ekosistem literasi yang ramah dan menyenangkan.

Meningkatkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.

Meningkatkan kapasitas warga sekolah agar mampu mengelola pengetahuan secara kritis, analitis, dan reflektif.

Salah satu bentuk implementasi gerakan literasi ini adalah dengan pembiasaan membaca non pelajaran selama 15-20 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Membacakan hasil rangkuman, dokumentasi Richa

Sebagai upaya untuk mengajak siswa menggunakan gadget mereka secara bijak, gerakan literasi sekolah kami dilaksanakan bergantian antara menggunakan buku secara fisik dan digital, di mana untuk literasi dengan buku cetak, siswa bisa membawa dari rumah atau meminjam buku di perpustakaan.

Literasi sebagai jantung pembelajaran adalah sesuatu yang harus terus dikuatkan karena  tanpa literasi yang baik siswa tidak akan bisa belajar dengan baik.

Sebenarnya literasi tidak hanya membaca saja. Literasi baca tulis adalah salah satu dari literasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan literasi sekolah yang meliputi literasi  digital, finansial, numerasi termasuk juga sains dan kewarganegaraan. Meski demikian membaca adalah literasi yang utama karena membaca adalah gerbang utama untuk mengakses bentuk literasi lainnya. Tanpa kemampuan membaca (memahami teks), seseorang akan kesulitan mempelajari literasi yang lain

Menurut data dari berbagai sumber indeks literasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain memang masih jauh tertinggal, terutama dalam hal kualitas dan minat baca.

Berikut rincian perbandingannya berdasarkan beberapa indeks utama:

1. PISA 2022 (Skor Membaca Siswa 15 Tahun): Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD (476). 

2. Minat Baca (UNESCO/Central Connecticut State Univ): Minat baca hanya 0,001% (1 dari 1.000 orang). Dalam studi World’s Most Literate Nations (2016), Indonesia bahkan menempati peringkat 60 dari 61 negara .

3. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (Perpusnas, 2026): Skor nasional baru mencapai 40,6, yang masuk dalam kategori rendah .

4. Rata-rata Waktu Membaca (World Population Review, 2025): Masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam/tahun, sangat tertinggal dari India (352 jam) dan AS (357 jam) .

Meski demikian angka melek huruf kita termasuk tinggi yaitu mencapai 96%, di atas rata-rata global (~86,5%).

Singkatnya banyak orang Indonesia yang “bisa membaca” tapi belum “suka membaca” , yang berakibat pada tidak atau kurang mengerti dengan apa yang sudah dibaca.

Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Berkaca dari data tersebut penting sekali menguatkan budaya baca tulis di lingkungan sekolah, karena tanpa kemampuan baca yang baik, mustahil siswa akan belajar dengan baik. Kemampuan baca yang baik juga akan membuat siswa bisa menulis dengan baik. 

Literasi sekolah, dokumentasi Richa

Akhirnya pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum kegiatan pembelajaran adalah sebuah langkah sederhana yang membawa dampak luar biasa di kemudian hari. Lewat kegiatan ini siswa diajak untuk tidak sekadar bisa membaca tapi juga suka membaca. Gerakan ini juga mengajak siswa untuk menggunakan gadget dengan lebih  bijak dan membuka wawasan mereka tentang dunia.

Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk pribadi yang cinta belajar dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Kemampuan membaca dan menulis membuat siswa lebih bisa mengenal diri dan  sekitarnya, terkoneksi dengan dunia yang dipelajarinya serta bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa dipahami orang lain.

Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan :  “Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Salam Literasi

Mie Jogja Pak Karso, Kelezatan yang Membawa Kenangan dan Kehangatan 

Bukan hanya sedap, selalu ada kehangatan yang terasa setiap memasuki kedai Mie Jogja Pak Karso

“Ketemu di Mie Jogja?” 

“Oke.., tempat biasanya?” 

“Sip.., jam setengah empat ya..,”

Di atas adalah chat saya dengan seorang  teman. Ya, sudah agak lama kami tidak berjumpa. Semenjak saya mutasi ke sekolah tempat saya mengajar sampai saat ini kami jarang bertemu. Kami bisa bertemu hanya sesekali saja, ketika benar-benar tidak ada kesibukan dan Mie Jogja selalu menjadi pilihan lokasi untuk bertemu.

Sore yang begitu bersahabat, cuaca sangat cerah. Dari sekolah saya langsung bersepeda menuju Mie Jogja yang berlokasi di Jalan Tengger. 

Hanya butuh waktu 10 menit sebenarnya, tapi karena jam tiga sampai jam empat sore adalah jam pulang sekolah juga kerja, suasana lalu lintas begitu ramai, hingga akhirnya saya baru sampai di Mie Jogja hampir pukul setengah empat. Di sana teman saya sudah menunggu di meja yang selalu menjadi favorit kami. Meja pojok dekat pintu masuk.

“Mie goreng dan teh hangat?” tanya teman saya. Dia benar-benar hafal dengan kesukaan saya. Saya mengangguk senang.

“Pasti mie goreng dengan es buah kan?” balas saya yang disambut dengan tawa kami berdua. Ya, sering ke kedai ini berdua membuat kami hafal dengan selera kami masing-masing.

Mie goreng kuah dengan acar, dokumentasi pribadi

Suasana kedai lumayan ramai. Ya, di sini banyak pengunjung sekitar saat makan siang dan sore hari. Banyak yang sebelum pulang menyempatkan diri untuk mampir di Mie Jogja Pak Karso.

Mie Jogja Pak Karso adalah warung kuliner legendaris yang menyajikan menu bakmi Jawa khas Yogyakarta. Menurut informasi kedai Mie Jogja ini ada di Malang, Yogyakarta, Purwokerto (Banyumas), dan Balikpapan.

Yang khas dari hidangan di sini adalah mienya gendut, banyak suwiran daging ayam atau sapi, juga taburan seledri dan brambang goreng yang begitu menggoda.

Perpaduan bumbu dengan manis dan gurihnya kecap menciptakan hidangan yang benar-benar menggugah selera.

Oh ya, selain mie goreng, kedai ini juga menyediakan mie godhog, bihun, kwetiau, hingga nasi goreng mawut.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang. Dua piring mie goreng satu teh hangat dan satu es buah. Porsi mienya mantap sekali. Buanyak. 

Setelah pramusaji meletakkan satu mangkuk acar sebagai pelengkap hidangan, kamipun mulai menikmati hidangan sore itu 

“Tehnya selalu enak,” kata saya sambil menyeruput tehnya perlahan. Ada aroma melati, agak sepat tapi juga manis 

“Dari dulu selalu teh anget,” kata teman saya sambil tersenyum. Ia sendiri mengaduk es buah pesanannya.

“Ini namanya nasgitel…panas, legi, kenthel,” jawab saya sambil kembali menyeruput teh di tangan saya. Rasa hangat dan segar langsung terasa.

Tanpa menunggu lama kami langsung menikmati mie goreng dan obrolan demi obrolanpun mengalir hangat. Tentang sekolah, siswa juga anak.. Nah, ini yang paling seru karena anak- anak kami sepantaran dan beberapa menempuh sekolah dan jurusan yang sama.

Posisi duduk di dekat pintu membuat kami leluasa melihat orang orang yang berjalan keluar masuk kedai. Lokasi dapur yang berada dekat pintu masuk menampakkan kesibukan para koki yang sedang memasak.

Suasana Mie Jogja jelang siang hari, dokumentasi pribadi

Selain silaturahmi bersama teman, makan di Mie Jogja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi keluarga saya. Ya, kami biasa merayakan sesuatu yang istimewa di sini. Entah ketika anak pulang dari luar kota, merayakan selesainya ujian skripsi, ataupun ketika ada yang ulang tahun. 

Tempat ini selalu menjadi jujugan pertama ketika kami ingin makan bersama untuk merayakan sesuatu. Di samping karena tidak jauh dari rumah, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Kami bisa berlama-lama ngobrol sambil menikmati hidangan yang dipesan. 

Belum lagi ketika tiba-tiba ada musisi jalanan yang membawakan lagu-lagu lawas punya Ebiet, Iwan Fals atau Dewa 19. Wah, nyaman sekali.

Yang membedakan kedai Mie Jogja Pak Karso dengan kedai yang selama ini saya kunjungi adalah ada banyak tulisan nasehat bijak di dinding. Ada nasehat tentang jangan makan berlebihan, adab makan, juga untuk menghargai makanan. Nasehat yang sederhana namun sangat bermakna.

Hari semakin sore. Mie di piring sudah habis, demikian juga teh hangat dan es buah. Rasanya masih ada banyak cerita, tapi waktu juga yang membuat pertemuan sore itu harus kami akhiri.

Akhirnya Mie Jogja Pak Karso bukan hanya kedai dengan segala kelezatan hidangan yang ditawarkan. Tapi ini adalah tempat kami berbagai cerita dan bahagia.

Di balik sepiring mie gendut dan segelas teh manis, Mie Jogja Pak Karso mengajarkan kami bahwa kebahagiaan seringkali hadir dalam hal-hal kecil: obrolan ringan bersama sahabat, tawa keluarga juga nasehat-nasehat bijak yang terpampang di dinding. 

Dinding dengan kata kata bijak di Mie Jogja Pak Karso, dokumentasi pribadi

Bukan sekadar destinasi kuliner, kedai ini adalah pengingat bahwa di tengah rutinitas yang begitu padat, kita perlu meluangkan waktu, sejenak berhenti untuk merawat hubungan yang berarti dan merenung akan capaian kita hari ini.