Asli, saya senyum- senyum sendiri membaca tulisan Kompasianer Kaekaha yang berjudul “Menyaksikan Layar Perak, Ludruk, dan Ketoprak Berbagi Panggung di “Misbar” Karto Dasil”. Tulisan yang bercerita tentang serunya nonton film, ketoprak dan wayang di daerahnya kala itu, di area yang dikelola oleh Pak Karto Dasil, “raja hiburan” di daerahnya.
Membaca baris demi baris tulisan itu, saya benar- benar tergelitik dan bisa merasakan suasananya. Mengapa? Tidak jauh dari tempat tinggal saya, dulu ada sebuah bioskop yang sangat fenomenal di Kota Malang yaitu Kelud. Sebuah gedung bioskop yang selalu dikunjungi banyak orang karena harga karcisnya yang sangat murah.
Di masa itu, sekitar tahun 80 an bioskop menjadi tempat hiburan yang banyak disuka. Dalam ingatan saya bioskop-bioskop di Kota Malang saat itu adalah Ria, Agung, Merdeka, Malang Theater, Surya, Tenun dan Kelud. Saya hafal nama nama bioskop tersebut karena setiap sore ada acara berita-berita film di radio kami di rumah.

Di saat rata-rata karcis masuk bioskop sekitar seribu rupiah, Kelud saat itu mematok dua ratus rupiah. Bayangkan. Dengan harga sekian, banyak sekali yang bisa masuk ke sana. Tua, muda, besar, kecil, tumplek blek di akhir pekan. Apa lagi jika film yang diputar film Rhoma Irama. Waoow, ditanggung sejak Sabtu siang, teman teman saya (saat itu saya masih duduk di SD) akan ramai bercerita tentang rencana nonton ke Kelud nanti malam.
“Aku sama Masku,” jawab beberapa teman ketika kami berbincang tentang dengan siapa nanti malam akan nonton bioskop.
“Aku sama tetanggaku,”
“Aku dewe an (sendirian),”
Lho .., kok dewean? Ya, di masa itu anak kecil nonton sendirian di Kelud bukan barang aneh. Anak- anak ini bisa masuk tanpa karcis pula. Caranya? Tinggal menggandeng tangan orang dewasa yang akan masuk bioskop sambil berbisik,”Lek, melok Lek,” alias “Om..ikut ya Om…,” Cara ini kami namakan ‘nrombol’ .
Tapi tentu saja dengan karcis semurah itu penonton bisa mendapatkan fasilitas yang sederhana sekali. Jika di gedung bioskop lain di sediakan kursi yang bagus, semacam sofa atau kursi rotan, maka di Kelud tempat duduknya berupa lonjoran bangku besi panjang. Tempat menonton juga berupa lapangan beratapkan langit alias terbuka. Ya, terbuka. Jadi kalau hujan penonton pasti bubar, atau misbar (gerimis bubar).

Hal yang bisa dijumpai di Kelud tapi tidak di bioskop lain adalah kita bisa bertepuk tangan atau bersorak saat melihat adegan film. Misal jagoan kita menang, banyak penonton yang bertepuk tangan karena gembira.
Seiring berjalannya waktu, untuk memberikan layanan yang lebih bagus pihak bioskop membuat tempat duduk di balkon. Di sini tempat duduknya lebih bagus dan ada atapnya sehingga ketika hujan atau gerimis penonton tetap aman. Tentu saja karcis balkon lebih mahal daripada karcis biasa.
Bioskop Kelud benar- benar mewarnai denyut kehidupan kami, orang Bareng. Ya, saat itu jarang sekali orang punya televisi, akhirnya untuk mencari hiburan ya larinya ke gedung bioskop. Dan gedung bioskop paling terjangkau harga karcisnya adalah Kelud.
Suasana kampung kami akan sepi sehabis Maghrib tatkala Kelud memutar film India. Kalau tidak salah tiap hari Rabu Kelud memutar film-film dari negeri Amitabh Bacan ini. Film dengan durasi panjang, penuh drama dan air mata tapi juga banyak dihiasi tarian. Dan jangan heran, ketika yang diputar film India, saat bubaran kita akan banyak melihat penonton pulang dengan wajah habis menangis. Nangisi film India.. he..he..
Kehadiran Kelud juga membuat roda ekonomi warga sekitar kian menggeliat. Banyak yang berjualan di Kelud, entah kacang, gorengan, juga es. Bahkan ada teman saya berjualan es lilin dalam bioskop. Karena berjualan di dalam, otomatis setiap hari dia bisa melihat film yang ditayangkan. Dan terus terang, ini sering membuat kami yang tidak diperbolehkan nonton film di Kelud benar benar merasa iri.
Ketika hampir setiap rumah mempunyai televisi, dan film-film menarik semakin banyak diputar di televisi, era bioskop semakin meredup, dan lama-kelamaan Keludpun ikut gulung tikar tergilas oleh perubahan zaman.
Jejak Sekolah Kartini

Kelud ternyata bukan hanya menyimpan cerita tentang dunia film dan bioskop. Dari berbagai sumber informasi ternyata di sini dulu pernah berdiri Sekolah Kartini atau Kartinischool.
Menurut Agung Buana, pemerhati sejarah Kota Malang, di lokasi bioskop ini pada tahun 1915 pernah didirikan Sekolah Kartini oleh Menteri Pendidikan Belanda waktu itu, Jacques Henrij Abendanon.
Karena Sekolah Kartini, maka semua siswanya adalah perempuan. Di sekolah ini para siswi tidak hanya belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tapi juga bagaimana mengasah keterampilan dalam kehidupan sehari-hari
Karena gudang kopi yang tidak jauh dari sekolah ini membutuhkan perluasan, maka beberapa waktu kemudian aktivitas Sekolah Kartini pindah tidak jauh dari lokasi semula yaitu ke SD Negeri Bareng 1 Malang. Di masa penjajahan Jepang Sekolah Kartini ditutup, karena banyak guru-gurunya ditangkap oleh Jepang.

Sebagai penanda bahwa di daerah ini pernah berdiri Sekolah Kartini, maka wilayah ini dinamakan Jalan Bareng Kartini.
Kini meskipun Gedung bioskop Kelud sudah tak lagi berdiri karena tergilas deru zaman yang serba digital, bagi kami warga Bareng kehadiran bioskop ini adalah kenangan yang tak terlupakan.
Kelud bukan sekadar tempat hiburan murah; ia adalah saksi bisu kebersamaan, kepolosan, dan cara sederhana bahagia di masa lalu. Dan menariknya, di tanah yang sama, pernah tumbuh cita-cita luhur emansipasi melalui Sekolah Kartini.
Dua lembar sejarah yang berbeda, satu tentang tawa rakyat kecil dengan kebahagiaannya, satu lagi tentang sebuah perjuangan besar lewat dunia pendidikan untuk memajukan kaum perempuan Indonesia.
Selamat Hari Kartini, salam dari Kota Malang.


















