Wisata Terop dalam Balutan Hangatnya Silaturahmi dan Kebersamaan

Mobil yang kami naiki terus melaju membelah lalu lintas kota Malang yang sudah mulai ramai.

Jam masih menunjukkan pukul tujuh lebih, dan perjalanan kami pagi itupun dimulai.

Sabtu pagi itu (13/06) kami akan melakukan wisata terop alias buwuh ke resepsi pernikahan Nabil dan Aisyah yang dilaksanakan di Ponorogo. 

Rencana perjalanan bersama ini sudah di rundingkan beberapa minggu sebelumnya lewat WhatsApp. Dengan digagas oleh Bulek Lulun, akhirnya kami berangkat bersama- sama naik Hiace. Rombongan berisikan 16 orang yang terdiri dari remaja, dewasa dan anak-anak.

Di dalam kendaraan , dokumentasi pribadi

Meski pangling dengan wajah- wajah saudara satu persatu, suasana dalam kendaraan begitu gayeng. Cemilan datang silih berganti, obrolan mengalir tiada henti dan tak ketinggalan lagu-lagu diputar sebagai penghangat suasana.

Lagu yang digemari sungguh tak bisa menyembunyikan usia. Ketika yang diputar adalah lagu-lagu kekinian, kami para senior ikut menikmati dengan diam, tapi begitu lagu- lagu tahun 80 an yang diputar, sebutlah:  Gelas-gelas Kaca, Tenda Biru, Hati yang Luka atau Aku Tak Ingin Sendiri, aha… ini saatnya para senior unjuk gigi  Senandung dan cerita nostalgia mulai terdengar diiringi tawa ceria kami.

Di Masjid Jami’ Ar Rahmah, dokumentasi pribadi

Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Sepanjang jalan pemandangan sawah dan pepohonan hijau serasa begitu menyejukkan mata. Pemandangan yang jarang kami temui di perkotaan.

Tak terasa jelang Dhuhur kami memasuki wilayah Ponorogo. Kami segera berhenti di Masjid Jamik Ar Rahmah yang berlokasi di Desa Pondok Kecamatan Babadan untuk sejenak beristirahat dan melakukan persiapan untuk mengunjungi manten.

Ternyata jarak dari Masjid Ar Rahmah ke Pondok Putri Al Iman tempat resepsi pernikahan tidak begitu jauh. Hanya sekitar beberapa menit perjalanan.

Menuju Pondok Al Iman Ponorogo, dokumentasi pribadi

Sampai di Pondok Al Iman suasana meriah langsung terasa. Setelah bersalaman dan berfoto dengan kedua mempelai kamipun menikmati hidangan sambil beramah-tamah. Hal yang sangat menyenangkan adalah bisa bertemu dengan saudara-saudara yang lama tak bersua.

Bertemu dengan famili, dokumentasi pribadi
Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Sekitar satu jam kemudian, perjalananpun kami lanjutkan. 

“Mampir ke oleh-oleh dulu ya,” ajak Bulek Lulun.

Aha.., akhirnya kami mampir dulu ke rumah makan H. Tukri Sobikun yang menjual  sate Ponorogo.

Untuk diketahui sate Ponorogo mempunyai keistimewaan dibanding sate yang lain yaitu pada penyajian potongan daging dan bumbunya.

Sate Ponorogo, dokumentasi pribadi

Jika pada sate yang lain daging dipotong kecil kecil lalu ditusuk dengan sujen(bambu kecil untuk sate), maka pada sate Ponorogo  potongan daging ayamnya disayat memanjang. Jadi pada satu tusuk sate biasanya berisi satu daging dengan sayatan memanjang.

Sedangkan pada bumbu, sate Ponorogo bumbunya berwarna pucat karena sama sekali tidak menggunakan kecap.

Di Nganjuk, dokumentasi pribadi

Lepas dari kedai sate Ponorogo perjalanan kami lanjutkan. Kali ini tujuan kami adalah ke  rumah saudara di Nganjuk. Di rumah keluarga Farid ini kami akan istirahat sejenak,  bersih diri sekaligus sholat jamak qoshor Maghrib dan Isyak.

Dalam perjalanan balik Malang, kami diajak mampir untuk lesehan sambil menikmati hidangan pecel Kediri dan sambal Tumpang yang luar biasa maknyus.

Sungguh perjalanan yang luar biasa. Wisata terop hari itu bukan sekedar perjalanan bersama, tapi juga pengikat persaudaraan dan silaturahmi di antara kami. Semoga ke depan acara jalan -jalan semacam ini bisa diadakan kembali.

Salam jalan jalan.

Ketika Terapi Menulis Membuahkan Prestasi

Seorang siswa mendekati saya malu-malu. Dengan tersenyum ia menyapa saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di perpustakaan.

“Ya, Nadia?” tanya saya ramah. Nadia adalah salah satu siswa yang rajin ke perpustakaan. Anaknya sangat pendiam dan lebih sering menenggelamkan diri dalam buku buku bacaan saat istirahat.

Nadia semakin mendekat lalu berkata pelan. “Bu, saya punya naskah cerpen, boleh saya kirim ke Ibu? Barangkali bisa dimuat di majalah?’ 

Saya tersenyum surprise. “Tentu boleh, Nadia suka nulis ya?” tanya saya.

“Suka, Bu,” jawabnya singkat. Masih malu-malu.

“Saya tunggu,” jawab saya lagi.

Singkat kata keesokan harinya cerpenpun dikirim pada saya. 

Tentang Nadia, ia adalah siswa saya di kelas tujuh dan  seorang teman BK bercerita pada saya bahwa anak ini sedang menghadapi masalah yang serius 

“Kenapa Nadia, Bu?” tanya saya heran.

“Anak ini mempunyai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Dengan menggunakan cutter dia sering membuat “barcode” di pergelangan tangannya,” jelas teman saya.

“Astaga, anak sekecil itu? Kenapa dia melakukan hal itu?”

Dijelaskan secara singkat bahwa kecenderungan itu muncul karena ia sering merasa tidak dihargai, dibanding bandingkan dan merasa dirinya tidak berarti. Karena tidak ada teman bicara, untuk melampiaskan kekecewaannya Nadia mengikuti trend saat itu yaitu menyilet pergelangan tangannya. Ada banyak hasil guratan benda tajam itu di lengan kecilnya.

“Apa perasaan Nadia setelah melukai tangannya?” tanya saya lagi.

“Menurut keterangannya, Nadia merasa puas, bebannya lepas dan lega setelah menyileti lengannya,” lanjut teman saya.

Teman saya bercerita ebih lanjut bahwa setelah mengadakan konsultasi berkali-kali baik dengan Nadia maupun orang tuanya, diketahui bahwa Nadia mempunyai hobi menulis. Karenanya ia memutuskan membuat hobbi ini menjadi sarana untuk meringankan masalah Nadia, terutama yang berkaitan dengan kecenderungannya untuk menyakiti diri sendiri.

Ilustrasi membaca buku di perpustakaan, gambar by : Gemini AI

“Nadia, silakan membuat tulisan di sini ketika keinginan untuk melukai dirimu tiba-tiba muncul,” kata teman saya sambil menyodorkan sebuah buku kosong di sebuah sesi konseling.

Nadia menerima buku itu. Dan sejak saat itu setiap ada kecenderungan untuk menyakiti dirinya ia mengalihkan keinginan tersebut dengan menulis dan menulis. 

Hari demi hari berlalu. Suatu saat sesudah duduk di kelas dua Nadia mendatangi guru BKnya sambil bercerita bahwa ia mempunyai sebuah tulisan.

Teman saya begitu gembira. Nadia sepertinya sudah tidak sependiam dulu lagi.

“Coba hubungi tim majalah, barangkali naskahmu bisa diterbitkan di majalah,” kata teman saya saat itu.

Dan akhirnya Nadia menemui saya seperti sekarang ini.

Naskah sudah dikirim, dan saya mulai membaca cerpen Nadia yang lumayan panjang. Ada sekitar empat halaman folio.

Ceritanya berkisar pada seorang anak introvert yang berteman dengan anak,-anak dari dunia lain. Mungkin ini juga menggambarkan suasana hatinya. Oh ya, menurut teman BK, Nadia banyak mempunyai teman ‘imajinasi’, karena ia merasa kurang bisa berteman dengan orang sekitarnya.

Dalam ceritanya Nadia mengisahkan tokoh utama yang tidak mempunyai teman di dunia nyata, merasa dikucilkan dan akhirnya dia menemukan teman-teman dunia khayal yang sangat menyenangkan. 

Di akhir cerita Sang Tokoh mengikuti teman- temannya menuju dunia khayal yang lebih menyenangkan daripada dunia nyata.

Saya langsung terhenyak melihat endingnya. Suram sekali.

Segera saya hubungi guru BK untuk lebih melakukan pendekatan pada Nadia sambil menunjukkan cerpen itu.

“Kok mengkhawatirkan ya Bu?” kata saya saat itu.

Agar cerpen bisa memberikan vibes positif pada pembacanya saya memanggil Nadia.

“Nduk, cerpen ini kami masukkan majalah, tapi tolong endingnya diganti sedikit bisa?”

“Diganti bagaimana Bu?’

“Tokoh utamanya jangan mati, buat yang happy ending,” jawab saya.

Nadia mengangguk dan tersenyum. Ia siap mengubah akhir cerita tulisannya, sementara itu teman saya BK secara berkala tetap berkomunikasi dengan Nadia.

Beberapa hari berlalu dan Nadia kembali mengirimkan tulisannya dengan ending yang berbeda.

“Wah, bagus tulisanmu, nanti dimuat di majalah ya,” kata saya senang. Setelah sekali lagi saya baca naskah cerpen Nadia,  nuansa suram sudah jauh berkurang.

Nadia tersenyum dan seperti biasa ia hanya menjawab singkat,”Terima kasih, Bu,”

“Sama-sama,” 

Sungguh saya ikut merasa gembira. Setidaknya saya berusaha mengajak Nadia untuk melihat bahwa dunia tidak sesuram yang ia kira.

Mempunyai tulisan yang dimuat di majalah adalah sebuah kebanggan tersendiri. Dengan wajah gembira, setelah penerbitan majalah Nadia  mendekati saya sambil berkata,” Saya masih punya cerita yang lain, Bu,” katanya senang.

Ilustrasi purnawiyata, gambar by: Gemini AI

Hari purnawiyata kemarin menjadi hari yang sangat mengejutkan bagi saya dan guru BK Nadia. Betapa tidak? Saat pengumuman nilai absolut, ternyata Nadia mendapatkan nilai 100 untuk Bahasa Indonesia. Luar biasa.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

“Bu, Nadia..!” bisik saya pada teman BK yang duduk di samping saya.

“Subhanallah…,” kata teman saya speechless.

Sungguh mengharukan ketika kami melihat Nadia maju ke depan di antara para peraih nilai absolut untuk mendapatkan penghargaan. Rupanya kegemaran membaca dan menulis secara otomatis mengasah kemampuan Nadia dalam bidang literasi sehingga ia bisa meraih prestasi yang yang sangat membanggakan ini.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

Wisata Terop Bersama ke Desa Sukorejo Kabupaten Tulungagung

Zulhijjah atau Bulan Besar adalah bulannya wisata terop. Ya, wisata terop adalah istilah kami untuk berkunjung ke pernikahan seseorang, dan bulan Zulhijjah seperti sekarang ini banyak menjadi pilihan bagi pasangan yang akan menikah.

Mengapa banyak yang memilih Bulan Besar sebagai bulan pernikahan? Beberapa alasan di antaranya adalah karena Nabi Muhammad SAW menikahkan putri kesayangannya, Sayyidah Fatimah, dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Zulhijjah.

Selain itu Zulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan mulia (bulan haram) dalam Islam. Melangsungkan pernikahan di bulan ini dianggap sebagai bentuk ibadah untuk mengharapkan pahala dan keberkahan berlipat ganda. 

Nah, di bulan Zulhijjah ini, tepatnya Minggu (31/05) kami menghadiri pernikahan dari seorang teman yang tinggal di desa Sukorejo, kec. Karangrejo Tulungagung yaitu Moch. Alfatan Widyastanto atau sering kami panggil dengan panggilan akrab Mas Fathan.

Mas Fathan adalah mantan pegawai tata usaha SMP Negeri 3 Malang yang sejak tahun 2025 dipindah tugaskan ke SMP Negeri 5 Malang.

Persiapan berangkat ke Tulungagung, dokumentasi Shinta

Keberangkatan rombongan kami ke Tulungagung ini terdiri atas 13 orang dari  guru dan tenaga kependidikan baik yang masih aktif di SMP Negeri 3 Malang, berdinas di tempat lain, atau sudah purna.

Pukul 07.00 wib rombongan  berangkat dan diharapkan sampai di tempat tujuan sekitar pukul 10.00 wib.

Prosesi temu manten , dokumentasi pribadi

Kehadiran rombongan dari SMP Negeri 3 Malang disambut hangat oleh keluarga mempelai, sekaligus mempersilakan kami mengikuti prosesi temu manten.

Setelah acara prosesi selesai dan dilanjutkan dengan ramah tamah, rombonganpun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang.

Selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz
Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz

Bukan sekedar silaturahmi dan menghadiri undangan diharapkan acara ini bisa memperkuat kebersamaan di antara kami. Karena kebersamaan yang bagus adalah pondasi yang kuat bagi sekolah untuk membangun langkah ke depan yang lebih baik. 

Berfoto bersama manten, dokumentasi Shinta

Akhirnya selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Peringatan Idul Adha 1447 H: Luruhkan Ego, Nyalakan Semangat Berbagi dengan Sesama

Allahu Akbar …Allahu Akbar…Allahu Akbar. Laa Ilaha ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar walillahilhamd

Gema takbir bersahut-sahutan menandai datangnya hari yang mulia. Hari yang sangat ditunggu-tunggu. Hari dimana kita kembali mengenangkan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas puteranya terkasih Nabi Ismail.

Hari ini kita kita selalu diingatkan bagaimana Ibrahim, dengan tangan gemetar, membaringkan putranya, bukan karena benci, tapi karena cinta yang begitu besar kepada Sang Pencipta. 

Ismail kecil, dengan mata jernih, justru menenangkan ayahnya: “Lakukan apa yang diperintahkan, ayah. Aku ikhlas.” 

Namun, Allah mengganti Ismail dengan domba. Bukan sekadar ujian, itu adalah sebuah pelukan lembut dari Tuhan: “Kamu sudah rela melepaskan yang terkasih. Sekarang, peliharalah rasa cinta itu untuk berbagi.”

Penyembelihan kurban di Hari Raya Idul Adha adalah gambaran dari penyembelihan atas ego kita. Idul Adha mengajak kita untuk menyembelih segala rasa gengsi, mau menang sendiri, iri hati dan banyak lagi sifat merasa “paling” dalam diri kita.

Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka

Membagikan daging kurban adalah ajakan untuk peduli pada sesama dan suka berbagi. Betapa banyak saudara-saudara kita yang berada dalam kondisi di bawah kita , dan sebenarnya membutuhkan uluran tangan kita. Tapi mungkin belum kita sapa atau berbagi dengan mereka.

Saat ego kita luruhkan maka berbagi adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.

Peringatan Hari Raya Idul Adha 1447 H di SMP Negeri 3 Malang

Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka

Peringatan Hari Raya Idul Adha di SMP Negeri 3 Malang dilaksanakan pada hari Rabu (27/05).

Gempita perayaan sudah dilaksanakan sejak Selasa malam hari dengan takbiran bersama yang oleh siswa yang tergabung dalam BDI.

Keesokan harinya pada pukul 06.15 dilaksanakan sholat Id di lapangan volly yang dihadiri oleh guru, kepala sekolah, komite dan siswa SMP Negeri 3 Malang.

Takbiran di malam Idul Adha , dokumentasi pribadi

Dalam sambutan pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang Drs Teguh Edy Purwanta mengajak siswa untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tentang bagaimana seorang anak menghormati orang tuanya, dan orang tua yang memberikan teladan pada anaknya.

Bertindak sebagai imam dan khatib sholat pagi itu adalah Ustadz Imam Sabarodin, S.Pd, M.Pd.

Dalam ceramahnya beliau menekankan pada siswa agar selalu berusaha menjadi manusia yang tangguh, rela mengorbankan waktu, mengorbankan ego untuk meraih yang terbaik, meniru keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail as.

Sambutan Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bintaraloka

Sesudah sholat Id, dilaksanakan penyembelihan dan pembagian daging kurban oleh panitia yang bertugas. Tahun ini SMP Negeri 3 Malang menyembelih 8 kambing dan 2 domba yang dagingnya dibagikan pada warga sekolah dan masyarakat sekitar.

Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama

Ibu Tyas Wakahumas
Penimbangan dan pengemasan daging, dokumentasi Bintaraloka

Apresiasi setinggi-tingginya pada jajaran panitia baik dari guru, BDI maupun OSIS yang telah bekerja sedemikian rupa sehingga acara peringatan Hari Raya Idul Adha ini bisa berjalan lancar.

Panitia dari BDI, dokumentasi BDI

“Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama,” ungkap Ibu Tyas wakahumas SMP Negeri 3 Malang pagi itu.

Surat-surat untuk Pak Edi

Seorang laki-laki duduk di bangku marmer depan kelas. Alat kebersihan, sapu dan pel  disandarkan di tembok di sebelahnya. Sambil sesekali mengelap peluh, ia membuka surat dengan sampul warna-warni dan mulai membacanya.

Di tangannya yang satu beberapa surat dalam amplop tertutup sudah menunggu untuk dibaca pula.

Satu surat dilipat kembali. Ada senyum sekaligus haru di wajahnya.

“Wah, dapat surat nih,” tanya teman saya menggoda.

“Inggih Bu, dari anak-anak,” jawabnya sambil tersenyum seperti biasanya.

Pak Edi adalah salah satu cleaning service di sekolah kami. Orangnya ramah juga rajin. Ramah, karena ia selalu menyapa orang orang yang lewat di sekitarnya , dan rajin karena Pak Edi selalu melakukan tugas dengan penuh tanggung jawab. Pokoknya di mana ada Pak Edi, lingkungan langsung bersih, baik itu kamar mandi koridor, ataupun lobby.

“Wah, banyak suratnya,” kata teman saya lagi. 

“Mboten semerap niki, lare-lare,” jawab Pak Edy sambil menunjukkan surat-surat yang sudah dibacanya.

Menulis surat pribadi adalah salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia kelas 7. Di era yang serba digital ini surat menyurat memang semakin jarang dilakukan. Meski demikian, surat pribadi tetap relevan sebagai media komunikasi yang personal, mendalam, dan abadi.

Diterangkan oleh salah satu guru bahasa Indonesia, bahwa dalam pelajaran menulis surat pribadi ini siswa diberi kebebasan untuk menulis surat dan mengirimkannya pada seseorang. Orang yang dituju bebas, boleh orang tua, guru, teman ataupun saudara. Dan uniknya ternyata banyak siswa yang mengirim surat pada Pak Edi, mungkin karena Pak Edi yang ramah pada anak anak.

Rasa terima kasih dan penghargaan anak anak pada Pak Edi terungkap dalam surat-surat mereka berikut ini:

Surat dari anak anak, dokumentasi Ahfi
Surat dari anak-anak, dokumentasi Ahfi

Ada ‘mutiara berharga’ yang bisa diambil dari kegiatan menulis surat pribadi ini seperti menumbuhkan rasa hormat dan empati pada orang lain, peduli pada orang-orang sekitar kita, termasuk juga menghargai aneka profesi yang ada di sekitar kita. Ya, setiap pekerjaan yang memberikan kemaslahatan bagi orang banyak adalah mulia dan layak dihormati.

Surat dari anak anak, dokumentasi Ahfi

Bagi Pak Edi sendiri hadirnya surat-surat istimewa pagi itu adalah kejutan manis. Ia tak menduga, kerjanya selama ini ternyata mendapat apresiasi dari anak-anak yang setiap hari menyapanya.

Pak Edi melipat surat-surat yang habis dibaca, lalu memasukkannya ke dalam saku.  Ia kembali tersenyum,  sungguh hadirnya surat-surat itu membuatnya kian bersemangat dalam melaksanakan  tugasnya dari hari ke hari.