Osob Kiwalan, Identitas dan Perekat Budaya Orang Malang 

“Nakam?”

“Oges lecep ya,”

“Oyi wes,”

“Sebenarnya kepingin oskab,”

“Oskab apa lecep?”

“Lecep ae wes, oskab kapan kapan ae..,”

Di atas adalah sekelumit percakapan antara dua orang yang ada di sebuah kedai. Dari bahasa yang digunakan pembaca pasti bisa menebak dari mana kedua orang tersebut berasal. Ya, dari Malang. Mengapa ? Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa khas Malangan yang dinamakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan atau Bahasa yang kosa katanya dibaca terbalik.

Jadi jika kita membaca sebuah tulisan biasanya dari kiri ke kanan, dalam Osob Kiwalan kata dibaca dari kanan ke kiri. Mirip tulisan Arab ya..? Tidak juga. Nanti di uraian selanjutnya pembaca akan bisa melihat keunikan alat komunikasi satu ini.

Penggunaan Osob Kiwalan membuat suasana terasa hangat dan akrab. Osob Kiwalan membuat pemakainya merasa sesaudara, ya sama- sama orang Malang. Apalagi saat berada di luar kota, dan tiba-tiba ada yang menyapa kita dengan Osob Kiwalan ini. Yoopo kabare Sam? Wah, pasti sangat beda rasanya.

Bukan sekedar unik dan penambah keakraban Osob Kiwalan ternyata mempunyai sejarah yang ada kaitannya dengan Perang Kemerdekaan. Ya, bahasa ini tercipta saat Belanda melakukan aksi agresi militer satu (1947) dan agresi militer dua (1948) di Kota Malang.

Aksi yang bertujuan untuk menguasai kembali daerah Malang itu benar- benar merepotkan para pejuang saat itu. Di samping persenjataan Belanda yang lebih canggih, mereka juga dibantu oleh mata-mata yang dari masyarakat setempat yang berkhianat dengan menjadi informan untuk Belanda.

Begitu kreatifnya orang Malang, maka untuk menghadapi musuh dalam selimut ini mereka menciptakan Osob Kiwalan atau bahasa walikan yang hingga sekarang banyak dan pada akhirnya menjadi identitas budaya masyarakat Malang.

Bahasa walikan saat itu banyak digunakan oleh orang Malang yang berada di garis demarkasi atau perbatasan antara wilayah Indonesia dengan jajahan Belanda.

Pasukan yang paling banyak menggunakan Osob Kiwalan ini adalah para pejuang di bawah pimpinan Mayor Hamid Roesdi, pejuang asli Malang yang juga menjadi pemimpin  Gerilyawan Rakyat Kota (GRK), yaitu sebuah gerakan pemuda Malang untuk melawan penjajah Belanda.

Patung Mayor Hamid Rusdi, Sumber gambar: Metro

Sampai sekarang patung Mayor Hamid Rusdi bisa kita lihat berdiri gagah di Jalan Simpang Balapan Malang.

Lalu bagaimana cara membalik kata dalam Osob Kiwalan ini? Bukan sekedar membalik urutan huruf atau fonem, Osob Kiwalan juga memperhatikan kenyamanan pengucapan atau istilahnya “enak di lidah”.

Ada beberapa cara untuk membalik kata dalam Osob Kiwalan, yaitu:

1. Pembalikan Huruf secara  Langsung

Teknik ini membalik posisi huruf secara keseluruhan tanpa mengubah susunan bunyi.

Contoh:

Arek menjadi Kera

Boso menjadi Osob

Bayar menjadi Rayab

2. Membalik huruf dengan sedikit melakukan pengubahan dengan prinsip “Enak Dirungokno” (Nyaman Didengar). Jadi pembalikan tidak dilakukan secara kaku.

 Contoh:

Malang menjadi Ngalam

Mlebu menjadi ublem

Meskipun prinsipnya dibalik, tidak semua kata harus dibalik secara kaku. Jika kata yang dibalik sulit diucapkan, maka susunannya akan disesuaikan agar tetap terdengar enak dan mudah diucapkan.

3. Pembalikan Suku Kata

Beberapa kata tidak dibalik huruf demi huruf, melainkan per suku kata, terutama untuk kata yang memiliki konsonan ganda. 

Contoh:

Sembarang menjadi ngarambes

4. Membalik Kata Umum dalam Kalimat, jadi yang dibalik hanya kata kata umum, tidak semua kata.

Contoh:

“Awakmu wis budal” menjadi “Awakmu wis ladub” (ladub = budal/berangkat).

Iyo Mas, aku melok menjadi oyi sam, ayas kolem

Dalam osob kiwalan sering kali imbuhan dipertahankan atau menyesuaikan agar kata yang diucapkan tetap mudah dipahami.

Meskipun unik , namun menurut jajak pendapat yang dilakukan Times Indonesia pada tahun 2025, Osob Kiwalan ini semakin lama semakin ditinggalkan.

Jajak pendapat yang dilakukan pada anak muda dengan rentang usia 17-27 tahun tersebut menghasilkan data bahwa bahasa yang unik dan kreatif ini sangat menarik namun sulit dipahami.

Pengaruh media sosial dan banyaknya pendatang di Kota Malang membuat komunikasi orang Malang lebih banyak dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia daripada Osob Kiwalan ini. Hal ini ikut andil atas semakin menurunnya jumlah pemakai Osob Kiwalan. 

Sebuah bahasa lambat laun akan punah jika pemakainya semakin lama semakin sedikit. Berkaca dari hal tersebut,  adalah tanggung jawab kita bersama terutama orang Malang untuk terus berusaha agar Osob Kiwalan yang menjadi identitas dan perekat budaya orang Malang ini tidak semakin hilang tergerus oleh arus perubahan zaman.

Bagaimana pembaca? Utujes?

Hubungan Antar Sudut Jika Dua Garis Sejajar Dipotong oleh Transversal

Jika ada dua garis sejajar dipotong oleh garis yang lain (kita namakan Transversal) maka ada hubungan antar sudut yang dinamakan sudut sehadap, sudut dalam berseberangan, sudut luar berseberangan, sudut dalam sepihak dan sudut luar sepihak.

Perhatikan gambar berikut ini:

k dan l adalah garis sejajar, m adalah transversal

1. Sudut-Sudut Sehadap

Coba perhatikan ∠A4 dan ∠B4 menghadap ke arah yang sama bukan?  Sudut seperti ∠A4 dan ∠B4 disebut sudut-sudut sehadap.

Ada pun pasangan sudut-sudut sehadap yang lain adalah ∠A1 dan ∠B1 , ∠A2 dan ∠B2 dan ∠A3 dan ∠B3.

Sudut-sudut yang sehadap besarnya sama

2. Sudut-Sudut Dalam Berseberangan

Sudut dalam bersebrangan pada gambar di atas adalah ∠A3 dan ∠B1. Keduanya terletak berseberangan yang dibatasi garis m dan berada di bagian dalam antara garis k dan l.

Sudut dalam berseberangan yang lain adalah ∠A2 dan ∠B4.

Sudut-sudut dalam berseberangan besarnya sama

3. Sudut-Sudut Luar Berseberangan

Selain sudut dalam berseberangan, ada juga sudut luar bersebrangan. Nah, ∠A1 dan ∠B3 terletak berseberangan yang dibatasi garis m dan berada di bagian luar garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A1 dan ∠B3 disebut sudut-sudut luar berseberangan. Sudut luar berseberangan yang lain adalah ∠A4 dan ∠B2.

Sudut-sudut luar berseberangan besarnya sama

4. Sudut-Sudut Dalam Sepihak

∠A3 dan ∠B4 terletak pada pihak yang sama, yaitu bagian bawah garis m dan berada di bagian dalam antara garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A1 dan ∠B3 disebut sudut-sudut dalam sepihak. Sudut dalam sepihak yang lain adalah ∠A2 dan ∠B1 karena terletak pada pihak yang sama (di atas).

Sudut-sudut dalam sepihak saling berpelurus atau jika dijumlah sama dengan 180 derajat.

5. Sudut-Sudut Luar Sepihak

∠A4 dan ∠B3 terletak pada pihak yang sama, yaitu bagian bawah garis m dan berada di bagian luar garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A4 dan ∠B3 disebut sudut-sudut luar. Sudut luar sepihak yang lain adalah ∠A1 dan ∠B2 karena terletak pada pihak yang sama (di atas).

Sudut-sudut luar sepihak saling berpelurus atau jika dijumlah sama dengan 180 derajat.

Untuk lebih memahami materi di atas kerjakan soal berikut ini:

Soal 1
Soal 2

Pramuka SMP Negeri 3 Malang Raih Gelar Juara Umum di AUSTERN 4.0

Sebuah prestasi yang membanggakan kembali diraih Barakuda Cempaka di awal bulan Mei ini (03/05). Ya, regu Pramuka SMP Negeri 3 Malang berhasil mendapatkan gelar juara umum dalam  event AUSTERN 4.0.

AUSTERN4.0 atau Al Uswah Treasure Hunt 4.0 adalah ajang perlombaan pelajar tingkat SMP/MTs sederajat se-Jawa & Madura yang diselenggarakan oleh SMAIT Al Uswah Surabaya.

Dalam event yang berlangsung dari bulan April hingga Mei 2026 ini dilaksanakan kompetisi berbagai cabang lomba, dari Pramuka, olahraga juga lomba akademik.

AUSTERN4.0 ini dirancang sebagai ajang kompetisi dan ajang unjuk bakat bagi pelajar tingkat menengah di wilayah Jawa dan Madura 

Berbagai kejuaraan yang diperoleh Pramuka Bintaraloka dalam ajang ini adalah:

1. Juara 1 SMS Putra

2. Juara 1 Scout Chef Putra

3. Juara 1 Scout Chef Putri

4. Juara 1 Pionering Putra

5. Juara 1 Pionering Putri

6. Juara 2 SMS Putri

7. Juara 2 Cerdas Cermat Putra

8. Juara 2 Cerdas Cermat Putri

9. Juara 2 Batle Yel Pangkalan

10. Regu Tergiat 1 Putra

11. Regu Tergiat 1 Putri

12. Juara Umum GPP AUSTERN 4.0

Luar biasa. Hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi siswa yang lain untuk memberikan yang terbaiknya bagi SMP Negeri 3 tercinta.

Semangat peserta dalam berlatih akhirnya memberikan prestasi yang manis. Dengan sebelas kejuaraan, akhirnya gelar juara umum berhasil direbut Barakuda Cempaka.

Pelatih, pembina dan alumni, dokumentasi Pramuka

Peran serta pelatih dan pembina, serta motivasi dari alumni adalah sumber energi yang tak kalah penting untuk mendapatkan prestasi yang sangat gemilang ini.

Akhirnya selamat atas prestasi yang diraih Pramuka Bintaraloka. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi siswa yang lain untuk menyumbangkan prestasi terbaiknya bagi SMP Negeri 3 tercinta.

Masjid Ar Rahman Simbol Cinta dan Rindu Seorang Hamba pada Tuhannya

Ini adalah tulisan ketiga dari cerita jalan jalan Eksplor Blitar bersama teman teman alumni SD. Tulisan pertama berjudul “Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran Blitar” dan yang kedua berjudul “Berkunjung ke Penangkaran Rusa Maliran, Kesambi Trees Park Blitar“. Sengaja saya tulis dalam tiga judul karena setiap tempat mempunyai kekhasan dan menyimpan cerita manis tersendiri.

Sepur kelinci kami mulai berjalan meninggalkan Kesambi Trees Park Kabupaten Blitar, dan kini menuju Masjid Ar Rahman Blitar.

Masjid yang sangat terkenal. Dalam beberapa kesempatan ke Blitar saya ingin mampir ke sini tapi belum kesampaian, dan kali ini dengan sepur kelinci, kami diberi kesempatan untuk mampir ke sini.

Siang semakin terik. Jalanan yang kami lewati lumayan ramai mungkin karena semakin ke tengah kota. Di kiri kanan jalan banyak buah nanas dijual dalam bentuk ikatan. Ya, Blitar terkenal sebagai daerah penghasil nanas madu di Jawa Timur.

Nanas madu produk unggulan Blitar, dokumentasi pribadi

Setelah sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya sampailah kami di depan Masjid Ar Rahman Blitar. yang  berlokasi di Jl. Ciliwung No.2, Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Masjid ini mudah dijangkau di pusat kota dan sering menjadi tujuan wisata religi. 

Di bagian depan masjid, kami langsung disambut dengan gerbang yang berbentuk Al Quran. Gerbang tersebut merupakan miniatur dari Gerbang Mekkah, sebuah gerbang lengkungan monumental di Makkah al-Mukkarramah jalan dari Jeddah–Jalan Raya Mekkah, yang merupakan pintu masuk ke Mekkah.

Ciri khas dari masjid ini adalah dilengkapi dengan payung-payung raksasa yang memberikan keteduhan bagi para jemaah, mengingatkan pada payung-payung di Masjid Nabawi. Jumlah total ada tujuh payung, empat payung permanen dan tiga payung elektrik yang bisa membuka dan menutup seperti di Masjid Nabawi.

 Penggagas berdirinya masjid Ar Rahman yaitu Abah Hariyanto mempunyai pengalaman spiritualyamg sangat mendalam tatkala beribadah haji pertama kali di Masjid Nabawi, dan beliau ingin setiap saat bisa merasakan berada di suasana khusyuk ketika beribadah di sana.

Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan pada tanggal 24 Desember 2018, dan selesai pada tanggal 25 Desember 2019.

Memasuki masjid ini terasa kesan yang benar benar berbeda. Ornamennya sangat artistik dan didominasi dengan kubah kubah melengkung dengan dominasi warna putih, tembaga dan emas.

Ruang jamaah putri, dokumentasi pribadi

Begitu masuk kami langsung diarahkan ke pintu kiri tempat jamaah perempuan. Setelah memasukkan bawaan termasuk sandal di loker dan menguncinya, kami langsung menuju tempat wudhu. Hari itu pengunjung banyak sekali mungkin karena akhir pekan sehingga banyak orang jalan jalan dan melakukan sholat di Ar Rahman.

Langit-langit Masjid Ar Rahman, dokumentasi pribadi

Azan Ashar baru saja berkumandang. Selesai wudhu kami segera masuk area sholat. Karena kami melaksanakan sholat jamak, oleh petugas masjid kami diarahkan ke tempat tersendiri, tidak sholat Ashar berjamaah bersama yang lain. Ruangan dipenuhi dengan asap wewangian yang memberikan sensasi rasa tenang.

Ornamen yang cantik, dokumentasi pribadi

Duduk sebentar setelah melaksanakan sholat membuat saya bisa melihat ornamen langit- langit dan sekitar masjid dan mengambil foto-foto.

Menurut informasi masjid ini dibangun di tanah seluas 5000 meter persegi dengan arsitektur Utsmaniyah Mamluk. Arsitektur khas Mamluk (abad 13-16 M) ditandai dengan penggunaan batu kokoh, kompleks bangunan multifungsi (masjid, madrasah, makam), dan detail dekorasi rumit seperti muqarnas, pahatan batu, serta pola geometris. 

Pintu masuk tempat sholat, dokumentasi pribadi

Setelah berjalan-jalan di sekitar masjid, kami menuju loker untuk mengambil barang barang . Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri untuk mengambil minuman yang disediakan. Ada tiga jenis minuman yang disediakan dalam sebuah termos besar yaitu kopi, teh dan jahe, dan jamaah boleh mengambil sesukanya dengan menggunakan gelas yang tersedia.

Hmmm, sedap sekali rasanya menikmati minuman hangat setelah perjalanan yang cukup melelahkan.

Berfoto di depan Asmaul Husna, dokumentasi pribadi

Masjid Ar Rahman bukan hanya sekadar bangunan megah, tetapi juga simbol dari kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT dan kerinduannya akan suasana Masjid Nabawi. Masjid yang juga diharapkan dapat menjadi tempat yang membawa keberkahan dan kedamaian bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, dan ini saatnya kami kembali ke stasiun. Ya, kereta Doho Penataran arah ke Malang akan berangkat pukul 17.20.

“Sampun? Balik Stasiun?” tanya Pak Ali, Sang Driver sepur kelinci dengan ramah.

“Inggih Pak, langsung stasiun,” jawab kami hampir bersamaan.

Matahari kian meredup. Kereta kami mulai berjalan seiring senja yang menyapa Bumi Bung Karno. Sungguh perjalanan yang mengesankan. Sehari eksplor Blitar dengan tiga tempat tujuan : Candi Penataran, Kesambi Trees Park dan Masjid Ar Rahman. 

“Kapan kapan jalan lagi ya..,” kata seorang teman di dalam kereta.

“Bagaimana kalau ke Bali? Mampir ke rumahku,” tanya seorang teman yang memang tinggal di Bali dan kali ini sedang sambang ke Malang.

Ayo, tapi nyelengi dhisik,” jawab yang lain diiringi derai tawa kami yang ditelan suara deru kereta api.

Berkunjung ke Penangkaran Rusa Maliran, Kesambi Trees Park Blitar

Azan Dhuhur baru saja berkumandang ketika kami kembali menaiki sepur kelinci. Jelajah Penataran sudah selesai dan kini  perjalanan Eksplor Blitar akan segera dilanjutkan.

“Sampun? Langsung Penangkaran Rusa?” kata Pak Ali ketika menghitung jumlah penumpangnya sudah lengkap, sepuluh orang.

“Sampun Pak, lanjut,” jawab kami hampir serempak.

Sepur kelinci mulai berjalan. Tidak seperti tadi saat berangkat, kali ini beberapa lagu disetel agar suasana lebih ceria. Lagu- lagu lawas dari Nike Ardilla mewarnai perjalanan kami siang itu.

Sepur terus berjalan melalui jalan-jalan yang tak begitu besar, dan di sebuah pelataran yang lumayan luas, kendaraan kami berhenti. 

Setelah membayar tiket Rp12.000 per orang kamipun masuk dan mulai menjelajah Penangkaran Rusa atau Kesambi Trees Park Blitar.

Penangkaran Rusa Maliran atau Kesambi Trees Park Blitar

Tempat Penangkaran Rusa ini  berada di Desa  Jatilengger, Kec. Ponggok, Kab. Blitar. Wisata ini dulunya terkenal dengan nama Penangkaran Rusa Maliran, namun kini lebih dikenal dengan Kesambi Trees Park.

Sesuai namanya, tempat ini banyak ditumbuhi oleh pohon kesambi.

Dari Wikipedia diperoleh informasi bahwa kesambi atau kosambi (Schleichera oleosa) atau Malay Lac Tree dalam bahasa inggris adalah pohon dari Family Sapindaceae yang tumbuh agak lambat, dan dapat mencapai ketinggian 40 meter. 

Pohon ini hidup di daerah tropis dan subtropis, biasanya di dataran rendah tetapi kadang-kadang bisa hidup sampai pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. 

Selain obyek wisata penangkaran rusa, Kesambi Trees Park ini juga merupakan kawasan outbond dan tempat yang bagus untuk berfoto-foto. Saat kami datang di sana banyak didirikan kemah, rupanya sedang ada acara dari komunitas tertentu.

Kedatangan kami langsung disambut hangat oleh seorang bapak di dekat pintu gerbang. “Monggo, ngopi dulu. Gratis, bisa meracik sendiri,” kata Si Bapak.

Mendengar kata “ngopi” kami langsung semangat. 

“Saestu, Pak?” tanya kami memastikan.

“Lho Monggo,” 

Si Bapak segera mengajak kami ke semacam gubuk kecil yang di dalamnya disediakan dua buah toples. Satu berisi gula dan satunya kopi.

“Monggo ngracik piyambak,” katanya sambil menyodorkan beberapa gelas kosong. Sementara itu di atas kompor dekat meja kopi terdapat panci kecil berisi air mendidih, siap untuk dituangkan ke gelas-gelas berisi kopi.

“Monggo kalau mau memberi makan rusa,” kata bapak tadi sambil mengarahkan kami ke meja yang penuh berisi kangkung. Rupanya bapak ini tadi juga menjual pakan rusa berupa kangkung yang diikat kecil-kecil dengan harga dua ribu rupiah per ikat.

Kami segera membeli beberapa ikat dan menuju dekat pagar sebagai pembatas pengunjung dan tempat rusa.

Setelah mencari tempat duduk dan ngopi sejenak, kamipun memberi makan rusa- rusa tersebut. 

Asyik sekali rasanya melihat rusa- rusa jinak tiba-tiba bermunculan dan berebut makan kangkung yang kami berikan.

“Ayo.. ayo jangan rebutan,” seru seorang teman sambil kembali membeli beberapa ikat kangkung. Senang sekali rasanya memberikan makan pada rusa-rusa itu. Melihat rusa yang begitu semangat makan membuat kami membeli dan membeli lagi kangkung di bapak yang memberi kami kopi tadi.

Suasana yang sejuk karena banyaknya pohon kesambi membuat kami betah berlama-lama di tempat ini. Setelah berfoto-foto (lagi dan lagi)  kamipun bersiap untuk melanjutkan perjalanan 

“Ayo ditunggu Pak Ali,” kata leader kami. Yap, tanpa menunggu lama kamipun menuju parkiran. Saatnya menuju destinasi terakhir yaitu Masjid Ar Rahman.

Perjalanan singkat kami di Penangkaran Rusa Kesambi Trees Park Blitar kali ini benar-benar meninggalkan kesan tersendiri. Bukan hanya karena bisa berinteraksi langsung dengan rusa-rusa yang lucu, tapi juga karena keramahan bapak penjaga dan anak gadisnya yang menyuguhkan kopi gratis untuk kami .

Suasananya yang sejuk dan asri membuat kami enggan beranjak, meski waktu terus mendesak. Semoga suatu hari nanti kami bisa kembali lagi, atau barangkali pembaca tergoda untuk merasakan sendiri serunya memberi makan rusa dan menikmati teduhnya pepohonan tua di Blitar ini? Selamat jalan-jalan!