Latihan Soal Persiapan Ujian

Kisi-kisi US Matematika 2025/2026

1. Operasi bilangan bulat

2. Aplikasi operasi bilangan rasional

3. Aplikasi perbandingan

4. Aplikasi perbandingan

5. Aritmetika Sosial

6. Aritmetika Sosial

7. Pola Bilangan

8. Operasi Aljabar

9. Operasi Aljabar

10. PLSV

11. Membaca Diagram/Grafik

12. Fungsi

13. Gradien PGL

14. Grafik PGL

15. SPLDV

16. Aplikasi SPLDV

17. Bangun Datar

18. Bangun Datar ft Pythagoras

19. Bangun Datar ft Pythagoras

20. Bangun Datar

21. Bangun Datar

22. Bangun Ruang Sisi Datar

23. Garis dan Sudut

24. Garis dan Sudut

25. Kesebangunan Segitiga

26. Kesebangunan Persegi Panjang

27. Unsur BRSD

28. Unsur BRSD

29. Volume dan Luas Permukaan Prisma

30. Volume dan Luas Permukaan Limas

31. Notasi Ilmiah

32. Transformasi Geometri

33. Skala

34. Transformasi Geometri

35. BRSD

36. Aplikasi Operasi Bilangan Bulat

37. Aplikasi Operasi Bilangan Bulat

38. Statistika

39. Pola Bilangan 

40. Fungsi

Latihan Soal Persiapan Ujian

  1. Nilai dari 170 −15 × 8 : 2 + 8 × 6 : 3 adalah …

 A. 676

 B. 288

 C. 286

 D. 126

2. Ani akan membagikan 120 m kain kepada teman-temannya. Apabila setiap anak mendapat 1,25 meter maka banyak teman Ani yang mendapat pembagian kain adalah … .

          A. 180 orang

          B. 150 orang

          C. 96 orang

          D. 80 orang

 3. Untuk menempuh jarak 60 km, sebuah kendaraan memerlukan 5 liter bensin. Jika ingin menempuh jarak 144 km dan harga 1 liter adalah Rp 4.500,00. maka harga bensin yang harus dibayar adalah …..

         A. Rp108.000,00.

         B. Rp54.000,00

         C. Rp50.000,00

         D. Rp45.000,00

  4. Pedagang buah-buahan membeli 200 buah durian seharga Rp 1.000.000,00. Seratus buah dijual dengan harga Rp. 7.500,00 perbuah, 50 buah dijual dengan harga Rp 6.500,00 per buah dan sisanya dijual dengan harga Rp. 5.500,00 per buah. Persentase untung adalah …

Sumber gambar : Koran Kaltara

          A. 35 %

          B. 30 %

          C. 10 %

          D. 5 %

5. Mawar menabung di Bank sebesar Rp. 3.600.000,00. Bank memberikan bunga 10% pertahun. Besar bunga yang diterima Mawar setelah 15 bulan adalah … .

   A. Rp900.000,00

   B. Rp540.000,00

   C. Rp450.000,00

   D. Rp360.000,00

6. Rumus suku ke-n dari barisan bilangan 4, 7 , 10 , 13 , . . .adalah . . . .

    A. 2n + 2

    B. 3n + 1

    C. 5n – 1

    D. 6n – 2

7. Dalam suatu aula terdapat 11 kursi pada baris pertama dan setiap baris berikutnya memuat dua kursi lebih banyak dari kursi baris di depannya.Jika terdapat 8 baris kursi , maka banyak kursi pada baris paling belakang tersebut adalah… .

     A. 144

     B. 140

     C. 25

     D. 23

8. Bentuk sederhana dari 5(x- 2)- 3(x+3)- 4x+3 adalah … .

    A.- 4+ 6x

    B.- 4 x- 2

    C. -16- 2x

    D.- 16- x

9. Penyelesaian persamaan 3(x – 2) = –3(x + 4) adalah … .

    A. 6

    B. –1

    C. 1

    D. 18

10. Suatu fungsi f dirumuskan dengan f(x) = px + q , diketahui bahwa f(-1) = 1 dan f(2) = 7. Nilai p dan q berturut-turut adalah …

      A. -3 dan -2

      B. -2 dan 3

      C. 2 dan 3

      D. 2 dan -3

11. Garis p melalui titik (4,-6) dan (-8,2), jika garis p tegak lurus garis q maka gradien garis q adalah…..

A. 3/2

B. 2/3

C. -2/3

D. -3/2

12. Penyelesaian dari sistem persamaan 3x – 2y = 7 dan 2x + y = 14 adalah x dan y. Nilai x + y adalah … . A. 4

      B. 5

      C. 7

      D. 9

13. Harga 5 kg gula dan 3 kg beras Rp71.000,00 .Sedangkan harga 2 Kg gula dan 6 kg beras Rp.62.000,00. Harga 5 kg gula dan 6 kg beras adalah …

       A. Rp.82.000,00

       B. Rp.85.000,00

       C. Rp92.000,00

       D. Rp95.000,00

14. Luas segitiga ABC adalah 180 cm2. Panjang AC adalah … .

      A. 41 cm

B. 40

      C. 20 cm

      D. 15 cm

15. Sebuah kapal berlayar ke arah barat dengan kecepatan 80 km/jam setama 1 ½ jam. Kemudian kapal memutar menuju arah utara dengan kecepatan 75 km/jam selama 1 jam 12 menit. Jarak terpendek kapal sekarang dengan tempat mulamula adalah …

       A. 210 km

       B. 150 km

       C. 135 km

       D. 130 km

Sudut sangat banyak terdapat pada benda-benda di sekeliling kita. Coba sejenak kalian perhatikan sekitar kita:

· Bukaan pintu saat dibuka setengah  akan  membentuk sudut.

· Jarum jam yang menunjukkan pukul 03.00 membentuk sudut siku-siku.

· Atap rumah yang miring membentuk sudut lancip.

· Pegangan tangan saat memegang cangkir – membentuk sudut.

Apa itu sudut?

Sudut adalah daerah yang dibentuk perpotongan dua sinar garis pada pangkalnya.

 Penulisan sudut: ∠ABC atau ∠B atau ∠α (alpha)

Keterangan: Titik B adalah titik sudut, BA dan BC adalah kaki sudut.

 MACAM-MACAM SUDUT BERDASARKAN BESARNYA 

Ada bermacam-macam sudut menurut ukurannya, yaitu :

Sudut lancip, mempunyai ukuran  0° < x < 90°  

Sudut siku-siku  yang berukuran tepat 90° 

Sudut tumpul berukuran 90° < x < 180° 

Sudut lurus berukuran tepat 180° 

Sudut refleks dengan ukuran 180° < x < 360° 

SUDUT BERKOMPLEMEN (BERPENYIKU)

Dua sudut dikatakan berkomplemen jika jumlah kedua sudut tersebut = 90°.

Satu sudut merupakan komplemen (penyiku) dari sudut lainnya.

Contoh:

· Sudut 30° + Sudut 60° = 90° → 30° dan 60° saling berkomplemen.

· Komplemen dari 45° adalah 45° (karena 45° + 45° = 90°).

· Komplemen dari 20° adalah 70°.

SUDUT BERSUPLEMEN (BERPELURUS)

Dua sudut dikatakan bersuplemen jika jumlah kedua sudut tersebut = 180°.

Satu sudut merupakan suplemen (pelurus) dari sudut lainnya.

Contoh:

· Sudut 110° + Sudut 70° = 180° → 110° dan 70° saling bersuplemen.

· Suplemen dari 120° adalah 60° (karena 120° + 60° = 180°).

· Suplemen dari 90° adalah 90°.

Untuk mengecek pemahaman kalian, coba kerjakan soal berikut ini:

sumber : chat GPT

Selamat belajar😊

IFP, Media untuk Pembelajaran yang Lebih Bermakna

Sebuah layar besar berukuran 75 inci terpampang di depan ruang kelas. Guru menyentuh ‘tombol’ tertentu  dan sebuah tayangan tampil di layar tersebut.

Tayangan gambar untuk pertanyaan pemantik pembelajaran hari itu. 

Siswa tampak begitu antusias. Serasa menonton layar lebar. Beberapa siswa memberikan komentar, dan beberapa saat kemudian layar berubah fungsi menjadi papan tulis, dan dengan menggunakan stylus pen guru mulai menulis dan menerangkan sebuah materi.

Di atas adalah gambaran suasana pembelajaran dengan menggunakan IFP yang dilaksanakan di sekolah. Ya, sekitar tiga bulan yang lalu sekolah kami mendapatkan bantuan IFP dari pemerintah. 

Apakah IFP itu?

Pembelajaran menggunakan IFP, dokumentasi Selviska

IFP (Interactive Flat Panel) adalah perangkat layar sentuh digital interaktif berukuran besar (all-in-one) yang menggabungkan fungsi monitor, proyektor, papan tulis, dan komputer. 

Bantuan Interactive Flat Panel (IFP) atau “Smart Board” 75 inci adalah program digitalisasi pendidikan pemerintah tahun 2025 (Inpres No. 7/2025) untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Ada  288.865 unit didistribusikan ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif. 

Penggunaan IFP dalam pembelajaran memungkinkan pembelajaran yang lebih menarik, variatif juga interaktif. 

Berbagai simulasi atau pembelajaran interaktif bisa dibuat.

Sebagai contoh, saat pembelajaran matematika Persamaan Linier Satu Variabel, guru bisa membuat simulasi persamaan yang ekivalen dalam bentuk neraca dengan beban tertentu. Secara bergantian siswa diminta maju ke depan untuk memindahkan beban yang ada dan membuat posisi neraca dalam keadaan yang setimbang. Posisi neraca yang setimbang adalah ilustrasi untuk persamaan yang ekivalen (ruas kanan dan kiri sama).

Masih dalam pembelajaran matematika, siswa bahkan bisa ‘battle’, adu cepat dalam  mencari penyelesaian sebuah persamaan dengan temannya.

Siswa belajar dengan IFP, Dokumentasi Diah

Demikian juga saat pembelajaran Bahasa Indonesia yang membahas materi iklan, guru bisa menayangkan berbagai contoh iklan yang sudah disiapkan sebelumnya lalu mengajak siswa bersama- sama membuat iklan dengan menggunakan aplikasi tertentu.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan IFP, dokumentasi Eka

“Seru,”

” Mirip HP, hanya saja bentuknya lebih besar, ” komentar beberapa siswa senang. 

Tentu saja. Pemakaian IFP mirip sekali dengan penggunaan gadget, benda yang sangat akrab bagi siswa.

Hadirnya IFP di sekolah membawa nuansa baru dalam pembelajaran di sekolah. Guru- guru dituntut untuk belajar menggunakannya termasuk membuat rancangan pembelajaran yang menarik dengan menggunakan IFP .  Agar semua guru bisa melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan IFP, maka dibuat jadwal untuk mengatur penggunaan ya.

Lalu apa peran guru agar pembelajaran dengan menggunakan IFP bisa maksimal?

1. Sebagai fasilitator dan pemantap. 

IFP membuat pembelajaran lebih menyenangkan, dokumentasi Anggita

IFP memang bisa menampilkan video, diagram 3D, atau kuis interaktif yang memantik rasa ingin tahu, meski demikian, gurulah yang harus mengambil alih untuk memantapkan konsep. Misalnya, setelah menampilkan simulasi tentang neraca yang setimbang untuk persamaan linier satu variabel guru bertanya, “Nah, dari ilustrasi ini, menurut kalian apakah persamaan yang ekivalen itu?” 

2. Guru sebagai sumber kehangatan dan empati.

Meskipun canggih, IFP tidak akan bisa   memeluk siswa yang sedang sedih, menangkap keraguan di mata siswa, termasuk juga memberikan senyum tulus saat seorang anak berhasil menjawab pertanyaan sulit. 

Interaksi hangat seperti menepuk pundak, kontak mata, dan mendengarkan cerita siswa adalah ranah eksklusif yang tidak boleh diabaikan guru.

3. Pengendali dinamika kelas.

IFP bisa membuat siswa antusias, bahkan mungkin terlalu antusias. Di sini guru berperan penting untuk mengatur ritme pembelajaran . Tentang kapan harus fokus ke IFP, kapan diskusi kelompok, dan kapan harus hening sejenak untuk refleksi.

Akhirnya hadirnya IFP bisa membuat pembelajaran di sekolah lebih menarik jika kita bisa menggunakannya dengan tepat. 

IFP hanyalah alat yang membantu pelaksanaan pembelajaran. Alur jalannya pembelajaran dan kebermaknaannya tetap tergantung pada peran guru di dalam kelas.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah IFP dirancang untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Guru bukan “operator” IFP yang terus fokus menekan-nempel layar sepanjang waktu, sehingga interaksi hangat dan pembelajaran bermakna hilang.

Bisa diibaratkan, IFP adalah jendela ajaib yang bisa membawa dunia ke dalam kelas, tetapi gurulah yang tetap menjadi pemandu wisata yang hangat, penuh perhatian, dan memastikan semua siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna dari “perjalanan” belajar tersebut.

Salam Edukasi

Bioskop Kelud : Tentang Misbar Hingga Jejak Sekolah Kartini di Kota Malang

Asli, saya senyum- senyum sendiri membaca tulisan Kompasianer Kaekaha yang berjudul  “Menyaksikan Layar Perak, Ludruk, dan Ketoprak Berbagi Panggung di “Misbar” Karto Dasil”. Tulisan yang bercerita tentang serunya nonton film, ketoprak dan wayang di daerahnya kala itu, di area yang dikelola oleh Pak Karto Dasil, “raja hiburan” di daerahnya.

Membaca baris demi baris tulisan itu, saya benar- benar tergelitik dan bisa merasakan suasananya. Mengapa? Tidak jauh dari tempat tinggal saya, dulu ada sebuah bioskop yang sangat fenomenal di Kota Malang yaitu Kelud. Sebuah gedung bioskop yang selalu dikunjungi banyak orang karena harga karcisnya yang sangat murah, dan suasananya.., persis dengan yang digambarkan Kompasianer Kaekaha dalam tulisannya.

Di masa itu, sekitar tahun 80 an bioskop menjadi tempat hiburan yang banyak disuka. Dalam ingatan saya bioskop-bioskop di Kota Malang saat itu adalah Ria, Agung, Merdeka, Malang Theater, Surya, Tenun dan Kelud. Saya hafal nama nama bioskop tersebut karena setiap sore ada acara berita-berita film di radio kami di rumah.

Bioskop di Malang, sumbergambar : Suara.com

Di saat rata-rata karcis masuk bioskop sekitar seribu rupiah, Kelud saat itu mematok dua ratus rupiah. Bayangkan. Dengan harga sekian, banyak sekali yang bisa masuk ke sana. Tua, muda, besar, kecil, tumplek blek di akhir pekan. Apa lagi jika film yang diputar film Rhoma Irama. Waoow, ditanggung sejak Sabtu siang, teman teman saya (saat itu saya masih duduk di SD) akan ramai bercerita tentang rencana nonton ke Kelud nanti malam.

“Aku sama Masku,” jawab beberapa teman ketika kami berbincang tentang dengan siapa nanti malam akan nonton bioskop.

“Aku sama tetanggaku,”

“Aku dewe an (sendirian),”

Lho .., kok dewean? Ya, di masa itu anak kecil nonton sendirian di Kelud bukan barang aneh. Anak- anak ini bisa masuk tanpa karcis pula. Caranya? Tinggal menggandeng tangan orang dewasa yang akan masuk bioskop sambil berbisik,”Lek, melok Lek,” alias “Om..ikut ya Om…,”

He..he.., cara ini sering kami namakan ‘nrombol’ .

Tapi tentu saja dengan karcis semurah itu penonton bisa mendapatkan fasilitas yang sederhana sekali. Jika di gedung bioskop lain di sediakan kursi yang bagus, semacam sofa atau kursi rotan, maka di Kelud tempat duduknya berupa lonjoran bangku besi panjang. Tempat menonton juga berupa lapangan beratapkan langit alias terbuka. Ya, terbuka. Jadi kalau hujan penonton pasti bubar, atau misbar (gerimis bubar).

Layar bioskop Kelud sekarang, sumber gambar: Kompas.com

Hal yang bisa dijumpai di Kelud tapi tidak di bioskop lain adalah kita bisa bertepuk tangan atau bersorak saat melihat adegan film. Misal jagoan kita menang, banyak penonton yang bertepuk tangan karena gembira.

Seiring berjalannya waktu, untuk memberikan layanan yang lebih bagus pihak bioskop membuat tempat duduk di balkon. Di sini tempat duduknya lebih bagus dan ada atapnya sehingga ketika hujan atau gerimis penonton tetap aman. Tentu saja karcis balkon lebih mahal daripada karcis biasa.

Bioskop Kelud benar- benar mewarnai denyut kehidupan kami, orang Bareng. Ya, saat itu jarang sekali orang punya televisi, akhirnya untuk mencari hiburan ya larinya ke gedung bioskop. Dan gedung bioskop paling terjangkau harga karcisnya adalah Kelud.

Suasana kampung kami akan sepi sehabis Maghrib tatkala Kelud memutar film India. Kalau tidak salah tiap hari Rabu Kelud memutar film-film dari negeri Amitabh Bacan ini. Film dengan durasi panjang, penuh drama dan air mata tapi juga banyak dihiasi tarian. Dan jangan heran, ketika yang diputar film India, saat bubaran kita akan banyak melihat penonton pulang dengan wajah habis menangis. Nangisi film India.. he..he..

Kehadiran Kelud juga membuat roda ekonomi warga sekitar kian menggeliat. Banyak yang berjualan di Kelud, entah kacang, gorengan, juga es. Bahkan ada teman saya berjualan es lilin dalam bioskop. Karena berjualan di dalam, otomatis setiap hari dia bisa melihat film yang ditayangkan. Dan terus terang, ini sering membuat kami yang tidak diperbolehkan nonton film di Kelud benar benar merasa iri.

Ketika hampir setiap rumah mempunyai televisi, dan film-film menarik semakin banyak diputar di televisi, era bioskop semakin meredup, dan lama-kelamaan Keludpun ikut gulung tikar tergilas oleh perubahan zaman.

Jejak Sekolah Kartini

Sekolah Kartini di Jl. Kelud, sumber gambar: Kliktimes.com

Kelud ternyata bukan hanya menyimpan cerita tentang dunia film dan bioskop. Dari berbagai sumber informasi ternyata di sini dulu pernah berdiri  Sekolah Kartini atau Kartinischool. 

Menurut Agung Buana, pemerhati sejarah Kota Malang, di lokasi bioskop ini pada tahun 1915 pernah didirikan Sekolah Kartini oleh Menteri Pendidikan Belanda waktu itu, Jacques Henrij Abendanon.

Karena Sekolah Kartini, maka semua siswanya adalah perempuan. Di sekolah ini para siswi tidak hanya belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tapi juga  bagaimana mengasah keterampilan dalam kehidupan sehari-hari

Karena gudang kopi dekat sekolah ini membutuhkan perluasan, maka beberapa waktu kemudian aktivitas Sekolah Kartini pindah tidak jauh dari lokasi semula yaitu ke  SD Negeri Bareng 1 Malang. 

Di masa penjajahan Jepang Sekolah Kartini ditutup, karena banyak guru-gurunya ditangkap oleh Jepang. 

Sumber gambar: Kliktimes.com

Sebagai penanda bahwa di daerah ini pernah berdiri Sekolah Kartini, maka wilayah ini dinamakan Jalan Bareng Kartini.

Kini meskipun Gedung bioskop Kelud sudah tak lagi berdiri karena tergilas deru zaman yang serba digital,  bagi kami warga Bareng kehadiran bioskop ini adalah kenangan yang tak terlupakan.

Kelud bukan sekadar tempat hiburan murah; ia adalah saksi bisu kebersamaan, kepolosan, dan cara sederhana bahagia di masa lalu. Dan menariknya, di tanah yang sama, pernah tumbuh cita-cita luhur emansipasi melalui Sekolah Kartini.

Dua lembar sejarah yang berbeda, satu tentang tawa rakyat kecil dengan kebahagiaannya, satu lagi tentang sebuah perjuangan besar lewat dunia pendidikan untuk memajukan kaum perempuan Indonesia.

Salam dari Kota Malang.😊

Explore Blitar: Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika sepeda motor saya terhenti di Kayutangan. Rombongan lari yang lumayan panjang membuat kami tidak bisa meneruskan perjalanan beberapa saat.

“Ayo, sudah ditunggu,” kata seorang teman lewat WhatsApp. Aih, pasti semua sudah siap, pikir saya. Ya, rencananya pagi itu kami bersepuluh akan mengadakan jalan jalan ke Blitar.

Jalan- jalan kali ini diadakan oleh teman alumni SD. Sangat menyenangkan. Sudah lama sekali rasanya kami tidak bertemu, apalagi jalan- jalan bersama.

Setelah rapat yang lumayan panjang lewat grup WhatsApp, akhirnya kami memutuskan untuk jalan jalan ke Blitar di hari Sabtu (18/04).

Di stasiun Kota Baru, dokumentasi pribadi

Tujuan sudah ditentukan yaitu tiga destinasi di kota Blitar. Candi Penataran, Penangkaran Rusa dan Masjid Ar Rahman .

Untuk transportasi, ke Blitar kami naik kereta api , sedangkan keliling Blitar menggunakan sepur kelinci. Sepur kelinci? Pasti asyik, pikir saya.

Sekitar jam tujuh lebih lima menit saya tiba di stasiun Kota Baru. Dan benar, teman-teman sudah datang dan mereka tampak berfoto- foto di depan stasiun.

“Sudah lengkap? Ayo masuk sekarang,” kata teman-teman. Sebuah pengumuman memberitahukan bahwa kereta api Doho Penataran arah perjalanan Blitar akan segera datang.

Setelah melakukan cek tiket dan KTP kami segera menunggu dekat jalur dua, tempat kedatangan Doho Penataran nanti.

Wajah- wajah tampak begitu cerah. Tas besar berisi bontotan tak lupa juga dibawa. Begitu kereta api datang, bersama penumpang yang lain kami segera masuk kereta dan tepat pukul 07.29 keretapun berangkat.

Perjalanan pagi yang sangat menyenangkan. Biasalah emak-emak, di kereta kami bertukar makanan dan saling mencicipi. Obrolan mengalir tiada henti, gayeng pokoknya.

Di ruang tunggu stasiun, dokumentasi pribadi

Tepat jam 10.21 kereta kami masuk stasiun Blitar dan di depan pintu kedatangan kami menunggu datangnya kereta kelinci.

Oh ya, bagi yang belum tahu kereta kelinci adalah mobil besar yang dimodifikasi tempat duduknya sehingga semua menghadap ke depan seperti dalam kereta api atau sepur. Satu sepur bisa memuat 10-12 penumpang.

Ada kejadian lucu di sini. Seorang teman yang bagian pesan sepur tiba- tiba hpnya rusak dan tak bisa dihubungi. Karena merasa bertanggung jawab atas perjalanan ini, ia langsung mencari lokasi sepur kelinci di arah yang berlawanan dengan kami. Bingung saling mencari (tidak ada HP pula), akhirnya teman ini meminta bantuan polisi untuk diantar ke lokasi sepur kelinci. Ya ampun… Mau jalan jalan saja kok sampai melibatkan Pak Polisi.. he..he..

Sepur kelinci, dokumentasi pribadi

Setelah sampai parkiran kereta kelinci, driver kami Pak Ali langsung mempersilakan kami masuk, dan taraa….. perjalanan Explore Blitarpun siap dimulai.

Kereta kami terus berjalan menembus lalu lintas Blitar yang tidak begitu ramai. Jendela samping yang terbuka membuat suasana terasa sejuk. Beberapa di antara kami mengeluarkan perbekalan karena tidak sempat sarapan tadi pagi.

Dalam sepur kelinci , dokumentasi pribadi

Setelah satu jam perjalanan, kami memasuki kawasan wisata Candi Penataran.

Tentang Candi Penataran

Cantiknya Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Candi Panataran termasuk komplek candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan peninggalan kerajaan Kediri dan Majapahit.

Berlokasi di Desa Penataran Kecamatan Nglegok Blitar, candi ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, dan berjarak kira-kira 12 km dari pusat kota.

Selain berfungsi sebagai tempat suci pemujaan Dewa Siwa dan candi negara (state temple) pada masa Kediri hingga Majapahit, candi ini juga digunakan untuk upacara penangkalan bahaya Gunung Kelud serta tempat penyucian diri. 

Ada banyak Relief di sekitar dinding candi. Relief tersebut menceritakan tentang Ramayana dan Krisnayana.

Relief sekitar candi, dokumentasi pribadi

Di tempat wisata ini saya menyempatkan diri untuk mencicipi nasi soto yang dijual oleh kedai di luar area candi. Kombinasi rasa lapar dan sedapnya nasi soto hangat membuat makan jadi lahap. Ditambah lagi, dari kedai ini kami bisa melihat Candi Penataran dari kejauhan. Aih.., cantik sekali.

Di Penataran kami tidak hanya belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah

Soto lezat di siang itu, dokumentasi pribadi
Pemandangan candi dari kejauhan, dokumentasi pribadi

Memasuki wilayah Candi, kami segera mengisi buku dan berkeliling di area candi. Karena akhir pekan, pengunjung hari itu lumayan banyak. Ada rombongan keluarga, bahkan sekolah.

Cuaca yang cerah dan hawa yang panas tidak membuat semangat kami surut. Apalagi beberapa teman sudah siap dengan payung dan topi.

Berjalan- jalan di area candi , berfoto bersama atau makan bekal bareng di bawah pohon serasa waktu diajak berhenti sejenak merayakan kembali kehangatan pertemanan kami di masa sekolah. Indahnya masa sekolah, gurau dan canda sesekali menghiasi perbincangan kami kala itu.

Ya, di Penataran kami tidak hanya sedang belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah.

“Ayo, jam 12.15 segera balik ke parkiran,” kata seorang teman yang menjadi leader kami. Saya melirik arloji. Jam 12.10. Wah, benar-benar waktu terasa berjalan begitu cepat.

Setelah berfoto bersama (untuk yang ke sekian kalinya), bergegas kami menuju sepur kelinci yang sudah setia menanti.

Berfoto di depan Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Semangaat, perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu penangkaran rusa dan Masjid Ar Rahman sudah menanti. Bagaimana cerita pengalaman kami berikutnya? Tunggu kisah selanjutnya ya…

Salam jalan-jalan…😀