Belajar Kesabaran dan Keuletan dari Novel “Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng”

Judul Buku: Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng 

Penulis/Pengarang: Pralampita Lembahmata

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 

Tahun Terbit: 2011

Tebal Halaman: 520

Saya menemukan buku ini di rak ketika kami melakukan penataan ulang atas buku-buku perpustakaan sekolah. Bukan buku baru, tapi sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan.

Novel yang lumayan tebal ini langsung menarik perhatian saya begitu melihat daftar isinya. Ya, dari daftar isi tersebut bisa dilihat bahwa latar kejadian di novel ini adalah mulai zaman Mataram hingga zaman Reformasi.

Cina Benteng adalah komunitas etnis Tionghoa peranakan yang menetap di sekitar wilayah Kota Tangerang, Banten. Leluhur Cina Benteng datang dari Tiongkok dan sudah berasimilasi dengan penduduk setempat sejak awal abad ke 15.

Kaum peranakan ini mula-mula tinggal di kawasan pantai Utara, Teluknaga, kemudian menyusuri Cisadane ke pedalaman dan mendirikan Born Tek Bio pada tahun 1684 sebagai awal eksistensi mereka di Tangerang.

Buku ini bercerita tentang keluarga Boenarman yang merupakan salah satu keluarga keturunan Cina Benteng. 

Boenarman yang mempunyai usaha peternakan babi ini suatu saat terpikat pada filosofi sebuah bonsai. Ia kemudian bermimpi untuk memiliki sebatang pohon kerdil yang akan menjadi pusaka, “prasasti hidup” bagi keluarganya, melampaui kekayaan materi . 

Ketertarikan Boenarman diwujudkan dengan mulai merawat sebatang hinoki cypress pada tahun 1909.

Hinoki Cypress, Love My Bonsai

Boenarman merawat dengan penuh ketekunan dan berusaha meresapi filosofi kesabaran, keteguhan, dan kerendahan hati yang diajarkan oleh “guru tak berlisan” ini .

Bonsai ini akhirnya terus menjadi saksi bisu cerita keluarga Boenarman selama hampir satu abad, mengikuti perjalanan hidup keturunannya melintasi berbagai peristiwa dari zaman ke zaman.

Di masa  kolonial dan pendudukan Jepang, bonsai diselamatkan oleh Boenadi anak Boenarman dengan cara menyembunyikannya dari incaran tentara Jepang.

Pada era revolusi dan pasca kemerdekaan keluarga Boenadi menghadapi tragedi rasial pasca proklamasi. Pada peristiwa tersebut etnis Tionghoa menjadi sasaran kekerasan dan hotel milik Boenadi dibakar, serta menantunya menjadi korban pembantaian .

Orde Baru adalah masa dari Meily (cucu Boenarman). Saat itu gelombang demonstrasi Malari 1974 terjadi dan mengancam kehidupan keluarga ini. Meski hanya kehilangan harta benda, trauma dan kewaspadaan terus menghantui mereka.

Puncak kerusuhan berikutnya adalah Mei 1998. Pada masa tersebut keluarga ini kembali porak-poranda akibat kerusuhan  yang meluluhlantakkan banyak warga Tionghoa, meninggalkan luka fisik dan psikis yang mendalam .

Di tengah setiap badai sejarah yang menerpa, bonsai tersebut tetap teguh berdiri dan menjadi bagian dari keluarga ini. 

Saya membaca novel ini dua kali. Ya, di momen membaca yang kedua ini terasa benar keindahannya. Betapa setiap cerita yang disajikan ada pelajaran berharga yang bisa diambil.

Sebagian daftar isi buku, dokumentasi pribadi

Di awal terasa alur cerita berjalan begitu lambat, tapi ternyata di situlah keistimewaannya. Lewat bab yang ada, kita seolah diajak merenung, menekuri setiap jejak peristiwa yang menimpa keluarga ini.

Gaya bahasa Pralampita yang sederhana tapi membumi adalah daya tarik lain dari novel ini. Munculnya Bahasa Indonesia yang sesekali dicampur Bahasa Hokkien membuat dialog dalam novel ini terasa hidup.

Novel ini  memberikan pelajaran bahwa lebih dari sekadar tanaman, bonsai adalah pengingat bahwa manusia harus ulet dan tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, seperti halnya bonsai yang tetap tumbuh subur dalam potnya yang sempit dan dangkal.

Meriahnya Puncak Perayaan HUT ke 76 SMP Negeri 3 Malang 

Rabu (13/05) telah dilaksanakan puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76. Puncak acara ditandai dengan pawai budaya yang diikuti oleh seluruh siswa dan guru SMP Negeri 3 Malang.

Tema HUT kali ini yaitu Pariyatana, Unity, Identity, Diversity, yang bermakna semangat merangkul kebersamaan di tengah perbedaan.

Sambutan Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi pribadi

Sesuai tema tersebut maka perjalanan pawai budaya kali ini ibarat “keliling dunia”. Ya, setiap peserta mengenakan kostum yang berasal dari 27 negara yang berbeda.

Sebutlah Indonesia, Inggris, Perancis, Skotlandia, Arab, Afrika, Uzbekistan, Rusia, China, Jepang dan banyak lagi.

Keragaman yang ditunjukkan hari ini benar- benar sebuah pemandangan yang menarik. Tiap kelas secara kompak mengenakan busana dan membawa ikon dari masing-masing negara.

Peserta pameran dengan tema Inggris, dokumentasi pribadi

Pawai  budaya diberangkatkan oleh Bapak Teguh Edy Purwanta pada pukul 07.00. Pemberangkatan ditandai dengan pemotongan untaian bunga di pintu gerbang sekolah.

Yang membuat suasana kian menarik, setiap kelas sebelum berangkat memperagakan yel masing-masing, dan sejenak berfoto bersama wali kelas.

Sementara pawai budaya berangkat, acara seremonial di lapangan volly dimulai. Acara yang dipandu oleh MC dari siswa dan guru ini berjalan meriah sekaligus khidmat. 

Guru-guru berkostum busana mancanegara, dokumentasi pribadi

Acara juga dihadiri oleh  Kadikbud : Bapak Suwarjana, SE.MM, Asisten Administrasi Umum 3 kota Malang ( Bp M. Sailendra, ST, MT), Kepala Bapedda Kota Malang (Ibu Dwi Rahayu, S.H, M.Hum), Camat Klojen, Bapak Willstar taripar Hatoguan, S.STP, M.AP, Lurah Klojen, Bapak Butet, S.E, Bapak RT dan RW setempat, juga perwakilan alumni.

Dalam pidato sambutan pagi itu Bapak Teguh mengajak semua pihak untuk terus mempertahankan reputasi SMP Negeri 3 Malang sebagai sekolah yang menghasilkan alumni-alumni terbaik yang tersebar di mana-mana berkiprah di berbagai bidang yang mereka geluti.

Pagi itu Bapak Suwarjana menyampaikan penghargaan pada SMP Negeri 3 Malang yang bisa menyelenggarakan acara HUT dengan begitu meriah.

Sambutan Bapak Suwarjana, dokumentasi pribadi

“Acara seperti ini tentunya bisa terwujud karena sinergi yang bagus antara sekolah dan orang tua, hal tersebut agar terus dipertahankan agar berbagai acara yang merupakan program sekolah bisa terselenggara dengan baik,” papar beliau.

Di sela-sela acara seremonial pagi itu penonton dihibur oleh atraksi tari, tampilan penyanyi solo, juga band dari siswa.

Tema Spanyol, dokumentasi pribadi
Tema Mesir, dokumentasi pribadi
Inggris, dokumentasi pribadi

Sementara di panggung berlangsung berbagai acara, pameran seni kelas 9 berlangsung di masing-masing kelas.  Stand bazaar kelas tujuh dan delapan, serta dari luar dibanjiri oleh para pengunjung dari siswa maupun orang tua.

Scotlandia, dokumentasi pribadi
Korea, dokumentasi pribadi
Belanda, dokumentasi pribadi

Selesai? Belum!

Sesudah acara pawai budaya, bazaar dan pameran selesai sekitar pukul 12.00, semua istirahat sejenak untuk kembali lagi ke sekolah untuk acara sesi dua yang dimulai sejak pukul 15.00 hingga malam hari.

Portugal, dokumentasi pribadi
Hola Mexico, dokumentasi pribadi
Arab Saudi, dokumentasi pribadi

Pada acara sesi dua ini penonton akan dihibur oleh fashion show, tari juga para bintang tamu yaitu Salwa Jasmine, Kos Atos, Miss Anggar, Klab Reggae Hore dan Band Alumni.

Sebuah hari yang luar biasa. Para penonton ikut menari, bergoyang dan gembira bersama. 

Fashion Show, dokumentasi pribadi

Ya, ada saatnya kita bisa menghilangkan rasa penat dengan menumpahkan rasa gembira dalam wujud berbagai karya seperti dua hari ini di Bintaraloka.

Salwa Jasmine , dokumentasi pribadi
Kos Atos, dokumentasi pribadi

Semoga semaraknya perayaan HUT ke 76 kali ini bisa menjadi pemicu semangat bagi warga SMP Negeri 3 Malang untuk terus bergerak maju dalam perjalanan bersama untuk mencerdaskan anak bangsa.

Gempita Jelang Puncak Perayaan HUT ke 76 SMP Negeri 3 Malang

Dua hari ini, Selasa dan Rabu (12-13 Mei) adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Bintaraloka. Ya, dua hari itu adalah puncak perayaan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76.

Mengangkat tema besar Pariyatana atau unity, identity dan diversity,  kemeriahan HUT begitu terasa. Warga sekolah demikian antusias untuk bersama merayakan kegembiraan acara ini.

Apel pagi, dokumentasi pribadi Happy

Acara pagi ini diawali dengan apel bersama dengan dipimpin oleh Moreno siswa kelas 8.1. 

Dalam apel pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang, Drs Teguh Edy Purwanta menyampaikan bahwa usia 76 bagi sebuah lembaga bukanlah usia yang muda. Sudah sepatutnya kita mempertahankan reputasi kita dengan terus menghasilkan lulusan yang berkualitas seperti halnya para alumni Bintaraloka yang sudah tersebar di mana-mana.

Persiapan panggung seni, dokumentasi pribadi

“Mari terus kita tingkatkan kebersamaan kita, dalam memeriahkan HUT SMP Negeri 3 Malang yang ke 76 ini,” ungkap Pak Teguh.

Sesudah apel berakhir semua peserta diajak senam bersama dengan komando Bapak Ardilah, guru PJOK SMP Negeri 3 Malang.

Suasana gayeng langsung terasa. Semua ikut bergerak, sekaligus bergoyang menikmati kemeriahan pagi itu.

Cek kesehatan, dokumentasi pribadi

Sementara senam berlangsung, di ruang UKS dilaksanakan pemeriksaaan kesehatan gratis. Pemeriksaan kesehatan gratis  yang  bekerja sama dengan Laboratorium Sima ini meliputi pemeriksaan papsmear satu paket dengan CBE dan gula darah.

Aktivitas setelah apel dan senam tidak kalah meriah. Di panggung pentas dilaksanakan final lomba vokal solo, band dan tari. Hari itu semua finalis berusaha mempertunjukkan kemampuan terbaik mereka di depan dewan juri baik dari dalam sekolah maupun luar sekolah.

Finalis lomba tari, dokumentasi pribadi

Meskipun sebagian siswa menjadi penonton, sebagian besar siswa yang lain tampak sibuk menata kelas untuk pameran, membuat ogoh-ogoh juga menata stand bazaar. Pihak orang tua juga ikut mendukung bahkan terlibat langsung dalam kegiatan ini.

Persiapan stand pameran dengan dibantu orang tua, dokumentasi pribadi
Persiapan stand bazaar, dokumentasi pribadi
Persiapan stand bazaar, dokumentasi pribadi
Persiapan stand pameran, dokumentasi pribadi

Persiapan stand bazaar, dokumentasi pribadi

Hari yang luar biasa. Hari ini Bintaraloka menunjukkan sebuah cerita bahwa peringatan HUT bukan sekedar kemeriahan dan hura-hura. Perayaan ini adalah wujud nyata sinergi antara siswa, sekolah dan orang tua untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Osob Kiwalan, Identitas dan Perekat Budaya Orang Malang 

“Nakam?”

“Oges lecep ya,”

“Oyi wes,”

“Sebenarnya kepingin oskab,”

“Oskab apa lecep?”

“Lecep ae wes, oskab kapan kapan ae..,”

Di atas adalah sekelumit percakapan antara dua orang yang ada di sebuah kedai. Dari bahasa yang digunakan pembaca pasti bisa menebak dari mana kedua orang tersebut berasal. Ya, dari Malang. Mengapa ? Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa khas Malangan yang dinamakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan atau Bahasa yang kosa katanya dibaca terbalik.

Jadi jika kita membaca sebuah tulisan biasanya dari kiri ke kanan, dalam Osob Kiwalan kata dibaca dari kanan ke kiri. Mirip tulisan Arab ya..? Tidak juga. Nanti di uraian selanjutnya pembaca akan bisa melihat keunikan alat komunikasi satu ini.

Penggunaan Osob Kiwalan membuat suasana terasa hangat dan akrab. Osob Kiwalan membuat pemakainya merasa sesaudara, ya sama- sama orang Malang. Apalagi saat berada di luar kota, dan tiba-tiba ada yang menyapa kita dengan Osob Kiwalan ini. Yoopo kabare Sam? Wah, pasti sangat beda rasanya.

Bukan sekedar unik dan penambah keakraban Osob Kiwalan ternyata mempunyai sejarah yang ada kaitannya dengan Perang Kemerdekaan. Ya, bahasa ini tercipta saat Belanda melakukan aksi agresi militer satu (1947) dan agresi militer dua (1948) di Kota Malang.

Aksi yang bertujuan untuk menguasai kembali daerah Malang itu benar- benar merepotkan para pejuang saat itu. Di samping persenjataan Belanda yang lebih canggih, mereka juga dibantu oleh mata-mata yang dari masyarakat setempat yang berkhianat dengan menjadi informan untuk Belanda.

Begitu kreatifnya orang Malang, maka untuk menghadapi musuh dalam selimut ini mereka menciptakan Osob Kiwalan atau bahasa walikan yang hingga sekarang banyak dan pada akhirnya menjadi identitas budaya masyarakat Malang.

Bahasa walikan saat itu banyak digunakan oleh orang Malang yang berada di garis demarkasi atau perbatasan antara wilayah Indonesia dengan jajahan Belanda.

Pasukan yang paling banyak menggunakan Osob Kiwalan ini adalah para pejuang di bawah pimpinan Mayor Hamid Roesdi, pejuang asli Malang yang juga menjadi pemimpin  Gerilyawan Rakyat Kota (GRK), yaitu sebuah gerakan pemuda Malang untuk melawan penjajah Belanda.

Patung Mayor Hamid Rusdi, Sumber gambar: Metro

Sampai sekarang patung Mayor Hamid Rusdi bisa kita lihat berdiri gagah di Jalan Simpang Balapan Malang.

Lalu bagaimana cara membalik kata dalam Osob Kiwalan ini? Bukan sekedar membalik urutan huruf atau fonem, Osob Kiwalan juga memperhatikan kenyamanan pengucapan atau istilahnya “enak di lidah”.

Ada beberapa cara untuk membalik kata dalam Osob Kiwalan, yaitu:

1. Pembalikan Huruf secara  Langsung

Teknik ini membalik posisi huruf secara keseluruhan tanpa mengubah susunan bunyi.

Contoh:

Arek menjadi Kera

Boso menjadi Osob

Bayar menjadi Rayab

2. Membalik huruf dengan sedikit melakukan pengubahan dengan prinsip “Enak Dirungokno” (Nyaman Didengar). Jadi pembalikan tidak dilakukan secara kaku.

 Contoh:

Malang menjadi Ngalam

Mlebu menjadi ublem

Meskipun prinsipnya dibalik, tidak semua kata harus dibalik secara kaku. Jika kata yang dibalik sulit diucapkan, maka susunannya akan disesuaikan agar tetap terdengar enak dan mudah diucapkan.

3. Pembalikan Suku Kata

Beberapa kata tidak dibalik huruf demi huruf, melainkan per suku kata, terutama untuk kata yang memiliki konsonan ganda. 

Contoh:

Sembarang menjadi ngarambes

4. Membalik Kata Umum dalam Kalimat, jadi yang dibalik hanya kata kata umum, tidak semua kata.

Contoh:

“Awakmu wis budal” menjadi “Awakmu wis ladub” (ladub = budal/berangkat).

Iyo Mas, aku melok menjadi oyi sam, ayas kolem

Dalam osob kiwalan sering kali imbuhan dipertahankan atau menyesuaikan agar kata yang diucapkan tetap mudah dipahami.

Meskipun unik , namun menurut jajak pendapat yang dilakukan Times Indonesia pada tahun 2025, Osob Kiwalan ini semakin lama semakin ditinggalkan.

Jajak pendapat yang dilakukan pada anak muda dengan rentang usia 17-27 tahun tersebut menghasilkan data bahwa bahasa yang unik dan kreatif ini sangat menarik namun sulit dipahami.

Pengaruh media sosial dan banyaknya pendatang di Kota Malang membuat komunikasi orang Malang lebih banyak dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia daripada Osob Kiwalan ini. Hal ini ikut andil atas semakin menurunnya jumlah pemakai Osob Kiwalan. 

Sebuah bahasa lambat laun akan punah jika pemakainya semakin lama semakin sedikit. Berkaca dari hal tersebut,  adalah tanggung jawab kita bersama terutama orang Malang untuk terus berusaha agar Osob Kiwalan yang menjadi identitas dan perekat budaya orang Malang ini tidak semakin hilang tergerus oleh arus perubahan zaman.

Bagaimana pembaca? Utujes?

Hubungan Antar Sudut Jika Dua Garis Sejajar Dipotong oleh Transversal

Jika ada dua garis sejajar dipotong oleh garis yang lain (kita namakan Transversal) maka ada hubungan antar sudut yang dinamakan sudut sehadap, sudut dalam berseberangan, sudut luar berseberangan, sudut dalam sepihak dan sudut luar sepihak.

Perhatikan gambar berikut ini:

k dan l adalah garis sejajar, m adalah transversal

1. Sudut-Sudut Sehadap

Coba perhatikan ∠A4 dan ∠B4 menghadap ke arah yang sama bukan?  Sudut seperti ∠A4 dan ∠B4 disebut sudut-sudut sehadap.

Ada pun pasangan sudut-sudut sehadap yang lain adalah ∠A1 dan ∠B1 , ∠A2 dan ∠B2 dan ∠A3 dan ∠B3.

Sudut-sudut yang sehadap besarnya sama

2. Sudut-Sudut Dalam Berseberangan

Sudut dalam bersebrangan pada gambar di atas adalah ∠A3 dan ∠B1. Keduanya terletak berseberangan yang dibatasi garis m dan berada di bagian dalam antara garis k dan l.

Sudut dalam berseberangan yang lain adalah ∠A2 dan ∠B4.

Sudut-sudut dalam berseberangan besarnya sama

3. Sudut-Sudut Luar Berseberangan

Selain sudut dalam berseberangan, ada juga sudut luar bersebrangan. Nah, ∠A1 dan ∠B3 terletak berseberangan yang dibatasi garis m dan berada di bagian luar garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A1 dan ∠B3 disebut sudut-sudut luar berseberangan. Sudut luar berseberangan yang lain adalah ∠A4 dan ∠B2.

Sudut-sudut luar berseberangan besarnya sama

4. Sudut-Sudut Dalam Sepihak

∠A3 dan ∠B4 terletak pada pihak yang sama, yaitu bagian bawah garis m dan berada di bagian dalam antara garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A1 dan ∠B3 disebut sudut-sudut dalam sepihak. Sudut dalam sepihak yang lain adalah ∠A2 dan ∠B1 karena terletak pada pihak yang sama (di atas).

Sudut-sudut dalam sepihak saling berpelurus atau jika dijumlah sama dengan 180 derajat.

5. Sudut-Sudut Luar Sepihak

∠A4 dan ∠B3 terletak pada pihak yang sama, yaitu bagian bawah garis m dan berada di bagian luar garis k dan l.

Sudut-sudut seperti ∠A4 dan ∠B3 disebut sudut-sudut luar. Sudut luar sepihak yang lain adalah ∠A1 dan ∠B2 karena terletak pada pihak yang sama (di atas).

Sudut-sudut luar sepihak saling berpelurus atau jika dijumlah sama dengan 180 derajat.

Untuk lebih memahami materi di atas kerjakan soal berikut ini:

Soal 1
Soal 2