Membuka Jendela Dunia: Pembiasaan Literasi di Sekolah

Baik, silakan baca dari link yang sudah dikirim lewat grup kelas, buat catatan atau rangkuman dan nanti ada perwakilan dari siswa putra dan putri untuk maju menceritakan hasil literasi hari ini,” kata Ibu guru pagi itu di depan seluruh siswa kelas tujuh.

Ya, pagi itu mereka berkumpul di aula untuk melaksanakan literasi sebagai salah satu pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah.

Siswa langsung membuka HP, membuka link dan mulai membaca. Di sela kegiatan membaca mereka membuat catatan di buku literasi mereka.

Suasana yang semula agak ramai langsung tenang. Beberapa siswa masih menunggu bacaan muncul di gadget mereka, sementara yang lain sudah mulai konsentrasi, membaca dan memegang pena untuk menuliskan bagian penting dari bacaan tersebut .

Hari ini bacaan mereka berjudul “Memberi Ruang Pada Waktu Memberi Makna Pada Hidup”.

Bacaan ini berisikan ajakan untuk memanfaatkan waktu luang. Diterangkan dalam bacaan tersebut perlunya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya karena waktu yang hilang tak akan bisa kembali lagi.

Bacaan ditutup dengan sebuah nasehat bijak bahwasanya “Waktu adalah kain yang Tuhan berikan pada kita. Kita tak bisa meminta lebih panjang, tapi kita bisa menyulamnya dengan cinta, keheningan, dan kebermaknaan. Jangan biarkan ia lewat tanpa pernah kita rasa”

Di akhir acara, dua orang siswa menceritakan apa saja yang sudah dibaca hari itu yang disambut dengan applaus siswa yang lain sebagai bentuk penghargaan.

Pembiasaan Literasi Membuka Jendela Dunia 

Kegiatan literasi sekolah, dokumentasi Richa

Gerakan Literasi Sekolah adalah upaya menyeluruh yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pembiasaan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. (Sumber: Kemdikbud) 

Ada tiga tujuan utama dari gerakan literasi sekolah yaitu 

Menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui ekosistem literasi yang ramah dan menyenangkan.

Meningkatkan budaya membaca dan menulis di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.

Meningkatkan kapasitas warga sekolah agar mampu mengelola pengetahuan secara kritis, analitis, dan reflektif.

Salah satu bentuk implementasi gerakan literasi ini adalah dengan pembiasaan membaca non pelajaran selama 15-20 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Membacakan hasil rangkuman, dokumentasi Richa

Sebagai upaya untuk mengajak siswa menggunakan gadget mereka secara bijak, gerakan literasi sekolah kami dilaksanakan bergantian antara menggunakan buku secara fisik dan digital, di mana untuk literasi dengan buku cetak, siswa bisa membawa dari rumah atau meminjam buku di perpustakaan.

Literasi sebagai jantung pembelajaran adalah sesuatu yang harus terus dikuatkan karena  tanpa literasi yang baik siswa tidak akan bisa belajar dengan baik.

Sebenarnya literasi tidak hanya membaca saja. Literasi baca tulis adalah salah satu dari literasi yang menjadi fokus utama dalam gerakan literasi sekolah yang meliputi literasi  digital, finansial, numerasi termasuk juga sains dan kewarganegaraan. Meski demikian membaca adalah literasi yang utama karena membaca adalah gerbang utama untuk mengakses bentuk literasi lainnya. Tanpa kemampuan membaca (memahami teks), seseorang akan kesulitan mempelajari literasi yang lain

Menurut data dari berbagai sumber indeks literasi Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain memang masih jauh tertinggal, terutama dalam hal kualitas dan minat baca.

Berikut rincian perbandingannya berdasarkan beberapa indeks utama:

1. PISA 2022 (Skor Membaca Siswa 15 Tahun): Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara dengan skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD (476). 

2. Minat Baca (UNESCO/Central Connecticut State Univ): Minat baca hanya 0,001% (1 dari 1.000 orang). Dalam studi World’s Most Literate Nations (2016), Indonesia bahkan menempati peringkat 60 dari 61 negara .

3. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (Perpusnas, 2026): Skor nasional baru mencapai 40,6, yang masuk dalam kategori rendah .

4. Rata-rata Waktu Membaca (World Population Review, 2025): Masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam/tahun, sangat tertinggal dari India (352 jam) dan AS (357 jam) .

Meski demikian angka melek huruf kita termasuk tinggi yaitu mencapai 96%, di atas rata-rata global (~86,5%).

Singkatnya banyak orang Indonesia yang “bisa membaca” tapi belum “suka membaca” , yang berakibat pada tidak atau kurang mengerti dengan apa yang sudah dibaca.

Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Berkaca dari data tersebut penting sekali menguatkan budaya baca tulis di lingkungan sekolah, karena tanpa kemampuan baca yang baik, mustahil siswa akan belajar dengan baik. Kemampuan baca yang baik juga akan membuat siswa bisa menulis dengan baik. 

Literasi sekolah, dokumentasi Richa

Akhirnya pembiasaan membaca 15-20 menit sebelum kegiatan pembelajaran adalah sebuah langkah sederhana yang membawa dampak luar biasa di kemudian hari. Lewat kegiatan ini siswa diajak untuk tidak sekadar bisa membaca tapi juga suka membaca. Gerakan ini juga mengajak siswa untuk menggunakan gadget dengan lebih  bijak dan membuka wawasan mereka tentang dunia.

Dengan pembiasaan ini diharapkan akan terbentuk pribadi yang cinta belajar dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Kemampuan membaca dan menulis membuat siswa lebih bisa mengenal diri dan  sekitarnya, terkoneksi dengan dunia yang dipelajarinya serta bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sehingga bisa dipahami orang lain.

Seperti sebuah kata bijak yang mengatakan :  “Membacalah maka kamu akan mengenal dunia dan menulislah, kamu akan dikenal dunia” 

Salam Literasi

Mie Jogja Pak Karso, Kelezatan yang Membawa Kenangan dan Kehangatan 

Bukan hanya sedap, selalu ada kehangatan yang terasa setiap memasuki kedai Mie Jogja Pak Karso

“Ketemu di Mie Jogja?” 

“Oke.., tempat biasanya?” 

“Sip.., jam setengah empat ya..,”

Di atas adalah chat saya dengan seorang  teman. Ya, sudah agak lama kami tidak berjumpa. Semenjak saya mutasi ke sekolah tempat saya mengajar sampai saat ini kami jarang bertemu. Kami bisa bertemu hanya sesekali saja, ketika benar-benar tidak ada kesibukan dan Mie Jogja selalu menjadi pilihan lokasi untuk bertemu.

Sore yang begitu bersahabat, cuaca sangat cerah. Dari sekolah saya langsung bersepeda menuju Mie Jogja yang berlokasi di Jalan Tengger. 

Hanya butuh waktu 10 menit sebenarnya, tapi karena jam tiga sampai jam empat sore adalah jam pulang sekolah juga kerja, suasana lalu lintas begitu ramai, hingga akhirnya saya baru sampai di Mie Jogja hampir pukul setengah empat. Di sana teman saya sudah menunggu di meja yang selalu menjadi favorit kami. Meja pojok dekat pintu masuk.

“Mie goreng dan teh hangat?” tanya teman saya. Dia benar-benar hafal dengan kesukaan saya. Saya mengangguk senang.

“Pasti mie goreng dengan es buah kan?” balas saya yang disambut dengan tawa kami berdua. Ya, sering ke kedai ini berdua membuat kami hafal dengan selera kami masing-masing.

Mie goreng kuah dengan acar, dokumentasi pribadi

Suasana kedai lumayan ramai. Ya, di sini banyak pengunjung sekitar saat makan siang dan sore hari. Banyak yang sebelum pulang menyempatkan diri untuk mampir di Mie Jogja Pak Karso.

Mie Jogja Pak Karso adalah warung kuliner legendaris yang menyajikan menu bakmi Jawa khas Yogyakarta. Menurut informasi kedai Mie Jogja ini ada di Malang, Yogyakarta, Purwokerto (Banyumas), dan Balikpapan.

Yang khas dari hidangan di sini adalah mienya gendut, banyak suwiran daging ayam atau sapi, juga taburan seledri dan brambang goreng yang begitu menggoda.

Perpaduan bumbu dengan manis dan gurihnya kecap menciptakan hidangan yang benar-benar menggugah selera.

Oh ya, selain mie goreng, kedai ini juga menyediakan mie godhog, bihun, kwetiau, hingga nasi goreng mawut.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang. Dua piring mie goreng satu teh hangat dan satu es buah. Porsi mienya mantap sekali. Buanyak. 

Setelah pramusaji meletakkan satu mangkuk acar sebagai pelengkap hidangan, kamipun mulai menikmati hidangan sore itu 

“Tehnya selalu enak,” kata saya sambil menyeruput tehnya perlahan. Ada aroma melati, agak sepat tapi juga manis 

“Dari dulu selalu teh anget,” kata teman saya sambil tersenyum. Ia sendiri mengaduk es buah pesanannya.

“Ini namanya nasgitel…panas, legi, kenthel,” jawab saya sambil kembali menyeruput teh di tangan saya. Rasa hangat dan segar langsung terasa.

Tanpa menunggu lama kami langsung menikmati mie goreng dan obrolan demi obrolanpun mengalir hangat. Tentang sekolah, siswa juga anak.. Nah, ini yang paling seru karena anak- anak kami sepantaran dan beberapa menempuh sekolah dan jurusan yang sama.

Posisi duduk di dekat pintu membuat kami leluasa melihat orang orang yang berjalan keluar masuk kedai. Lokasi dapur yang berada dekat pintu masuk menampakkan kesibukan para koki yang sedang memasak.

Suasana Mie Jogja jelang siang hari, dokumentasi pribadi

Selain silaturahmi bersama teman, makan di Mie Jogja adalah hal yang sangat menyenangkan bagi keluarga saya. Ya, kami biasa merayakan sesuatu yang istimewa di sini. Entah ketika anak pulang dari luar kota, merayakan selesainya ujian skripsi, ataupun ketika ada yang ulang tahun. 

Tempat ini selalu menjadi jujugan pertama ketika kami ingin makan bersama untuk merayakan sesuatu. Di samping karena tidak jauh dari rumah, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Kami bisa berlama-lama ngobrol sambil menikmati hidangan yang dipesan. 

Belum lagi ketika tiba-tiba ada musisi jalanan yang membawakan lagu-lagu lawas punya Ebiet, Iwan Fals atau Dewa 19. Wah, nyaman sekali.

Yang membedakan kedai Mie Jogja Pak Karso dengan kedai yang selama ini saya kunjungi adalah ada banyak tulisan nasehat bijak di dinding. Ada nasehat tentang jangan makan berlebihan, adab makan, juga untuk menghargai makanan. Nasehat yang sederhana namun sangat bermakna.

Hari semakin sore. Mie di piring sudah habis, demikian juga teh hangat dan es buah. Rasanya masih ada banyak cerita, tapi waktu juga yang membuat pertemuan sore itu harus kami akhiri.

Akhirnya Mie Jogja Pak Karso bukan hanya kedai dengan segala kelezatan hidangan yang ditawarkan. Tapi ini adalah tempat kami berbagai cerita dan bahagia.

Di balik sepiring mie gendut dan segelas teh manis, Mie Jogja Pak Karso mengajarkan kami bahwa kebahagiaan seringkali hadir dalam hal-hal kecil: obrolan ringan bersama sahabat, tawa keluarga juga nasehat-nasehat bijak yang terpampang di dinding. 

Dinding dengan kata kata bijak di Mie Jogja Pak Karso, dokumentasi pribadi

Bukan sekadar destinasi kuliner, kedai ini adalah pengingat bahwa di tengah rutinitas yang begitu padat, kita perlu meluangkan waktu, sejenak berhenti untuk merawat hubungan yang berarti dan merenung akan capaian kita hari ini.

Cintai dan Teladani Akhlak Rasulullah, Semangat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah

QS. Al Ahzab 21

Senin (24/08) adalah hari yang istimewa di Bintaraloka. Ya, pada hari itu dilaksanakan Peringatan Maulid , hari kelahiran nabi tercinta Muhammad SAW.

Dengan pembawa acara dari BDI, acara dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan terjemahannya. Suasana terasa demikian teduh, ketika semua yang hadir menyimak  pembacaan kalam ilahi sekaligus terjemah yang dibawakan oleh siswa kelas tujuh ini.

Pembacaan ayat suci Alquran, dokumentasi pribadi

Selanjutnya shalawat Thibbil Qulub mengalun indah dengan dipandu oleh Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang dan diiringi oleh al banjari.

“Bukan sekedar berbagi bahagia, Perayaan Maulid adalah sebuah cara bagi kita semua untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, panutan kita,” ungkap Bapak Teguh Kepala SMP Negeri 3 Malang.

Dalam sambutan pagi itu Bapak Teguh juga memberikan pertanyaan yang mendalam pada siswa.

 “Seandainya Nabi Muhammad menjadi gurumu pagi ini, apa yang diharapkan beliau pada siswa SMP Negeri 3?”

Kuis dari Bapak Kepala Sekolah, dokumentasi Fabi

Dengan lancar siswa menjawab bahwa Nabi mengharapkan siswa meniru akhlak beliau yaitu shidiq, amanah, fathonah dan tabligh.

Keempatnya adalah akhlak mulia yang harus senantiasa kita teladani dari Sang Uswatun Hasanah; shidiq artinya jujur, amanah bisa dipercaya fathonah artinya cerdas dan  tabligh artinya menyampaikan.

Suasana terasa demikian hangat ketika KH Zainal Arifin, M.Ag memberikan tausiyah dengan materi yang serasa begitu dekat dengan keseharian kita. Lewat gayanya yang kocak namun tetap berisi KH  Zainal Arifin, M.Ag menegaskan agar kita tidak lupa meminta doa ibu dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. 

Tausiyah dari KH Zainal Arifin, dokumentasi pribadi

Dijelaskan oleh beliau agar kita meneladani nabi lewat berbagai kebiasaan yang dicintai Nabi Muhammad SAW yaitu sholat jamaah, sholat tahajud, sholat dhuha, membaca Alqur’an, menyayangi anak yatim, menyayangi fakir miskin, membaca istighfar, senang bersiwak dan berwudhu.

Akhir acara hari itu ditandai dengan berbagai kuis, dan lantunan lagu-lagu Islami oleh para vocalis kebanggaan Bintaraloka; Farin, Anya, dan Rafarsya.

Farin dengan lantunan lagu Islami, dokumentasi pribadi

Sesudah acara di lapangan, siswa kembali ke kelas untuk menikmati buah dan kue yang sudah dibawa dari rumah atau disiapkan paguyuban. 

Datangnya beberapa orang paguyuban untuk membantu mempersiapkan konsumsi putra-putrinya menunjukkan sinergi positif antara sekolah dan orang tua di SMP Negeri 3 Malang.

Makan bersama di kelas sebagai bagian perayaan Maulid Nabi, dokumentasi pribadi

Apresiasi yang luar biasa patut diberikan pada BDI dan panitia yang telah mempersiapkan acara ini sejak satu minggu sebelumnya.

“Persiapan acara ini sudah dilakukan secara sungguh-sungguh oleh BDI maupun Al Banjari, dan anak- anak melakukan gladi bersih di hari Sabtu malam,” tutur Ibu Ida ketua panitia pelaksana.

Foto bersama sesudah acara Maulid, sebagian panitia, kepala sekolah dan KH Zainal Arifin, dokumentasi Bintaraloka

Hari yang begitu indah, meriah namun tetap terasa khidmat. Semoga perayaan ini membawa hati kita untuk senantiasa mencintai nabi dan meneladani akhlak beliau.

Allahumma sholi ‘ala Muhammad

Semaraknya Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 bersama Rujak Merah Putih 

Kapan terakhir kali anda rujakan bersama teman? Aha, di sebuah hari perayaan Agustusan kemarin kami para guru Bintaraloka mengadakan acara rujakan.

Acara yang pernah menjadi lambang keakraban dalam pertemanan di masa lalu ini kami lakukan setelah jalan sehat pada hari Jumat (14/08). 

Di kisaran tahun 80-90 rujakan adalah acara istimewa yang selalu ditunggu saat kumpul bareng teman. 

Rekreasi bersama pasti ada acara rujakan. Silaturahmi ke rumah teman ada acara rujakan, bahkan mengerjakan tugas kelompok masih disisipi dengan acara rujakan.

Ilustrasi rujak manis, sumber gambar: IDN Times

Entah kenapa, rujakan selalu membuat acara kumpul-kumpul menjadi lebih afdhol,  gayeng dan akrab.

Sekilas tentang Rujak, jenis makanan ini sering juga dinamakan salad Jawa. 

Rujak adalah salah satu hidangan tertua dan makanan Jawa Kuno. Hal tersebut terungkap dalam Prasasti Taji Jawa Kuno (901 M). 

Nama rujak diyakini berasal dari bahasa Jawa angrujak yang berarti menghancurkan, memotong halus, atau menyayat. 

Penamaan ini merujuk pada berbagai bahan untuk membuat rujak yang biasanya dipotong-potong menjadi ukuran lebih kecil terlebih dahulu sebelum disajikan

Orang Jawa sering memasukkan rujak ini sebagai sajian  dalam upacara pranatal seperti neloni (perayaan tiga bulan usia kandungan) atau mitoni (tujuh bulan usia kandungan).

Dalam kedua upacara ini rujak yang dibuat juga khusus yaitu rujak buah dengan resep  gula merah, asam jawa, cabe dan sedikit garam. Hanya bedanya buah pada rujak untuk neloni atau mitoni dipasrah halus.

Rujak seperti ini sering dinamakan dengan rujak gobet.

Rujak gobet, sumber gambar: Cookpad

Rujak yang dibuat pada kedua upacara ini disuguhkan pada para tamu dengan harapan agar ibu maupun bayi yang dikandung sehat dan diberikan kelancaran pada proses persalinan.

Ada sebuah mitos yang mengatakan jika rujak yang dibuat terasa manis, maka bayi yang dikandung ibunya adalah perempuan. Tapi jika rujaknya terasa pedas, maka bayinya laki-laki. He..he…

Dalam berbagai acara, kehadiran rujak membuat suasana lebih terasa segar. Di samping karena mudah membuatnya, bahan bakunya yang terdiri atas buah-buahan segar makin disukai karena kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat semakin meningkat.

Rujakan yang kali ini dilakukan di Bintaraloka kami namakan Rujak Merah Putih. Bisa jadi karena yang membuat rujak semua mengenakan baju bernuansa merah putih, atau bisa juga karena rujak tersebut dibuat dalam suasana perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81, dimana semangat keIndonesiaan kami demikian membara.

Dalam berbagai acara, kehadiran rujak membuat suasana lebih terasa segar.

Untuk bahannya peserta membawa seikhlasnya. Ada yang membawa buah-buahan, kerupuk, tahu dan yang paling penting ada yang bersedia membuatkan bumbu. 

Sebelum menikmati hidangan tentu saja kami bersama sama mengiris buah dan menatanya di atas meja.

Menyiapkan rujak, dokumentasi pribadi
Menikmati rujak bersama , dokumentasi pribadi

Kehadiran rujak Merah Putih pagi itu benar-benar membuat suasana lebih ceria.  Kebersamaan antar guru kian terasa. Ya, kehadiran aneka buah, kerupuk, tahu dalam balutan bumbu gula merah, kacang tanah, cabe, asam dan bawang membuat suasana terasa begitu manis, semanis rujak juga senyum kami hari itu.

Salam Merdeka… 🇮🇩🇮🇩

Gempita Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bumi Bintaraloka 

Luar biasa meriah. Kata- kata tersebut sangat pas untuk menggambarkan suasana gempita perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bintaraloka.

Ya, perayaan yang dilaksanakan sejak hari Rabu (12/08) ini benar benar menggambarkan semangat dan kebersamaan seluruh warga Bintaraloka.

Perayaan HUT kali ini diisi dengan berbagai lomba siswa maupun guru, jalan sehat dan upacara.  Ada berbagai lomba siswa yang diadakan seperti paduan suara, poster manual, fashion show, video blog, makan kerupuk, estafet sarung, menara bola dan banyak lagi.

Salah satu nomor lomba siswa: memasukkan paku dalam botol, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: fly ball, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: memakai kemeja dengan balon, dokumentasi BBC

Menariknya lomba-lomba tidak hanya menguji ketrampilan dan kesigapan siswa tapi juga pengetahuan literasi dan numerasi termasuk kewarganegaraan, seperti lomba cerdas cermat antar kelas.

Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Lomba cerdas cermat , dokumentasi BBC
Final cerdas cermat , dokumentasi pribadi

Dalam perayaan ini Si Ciput dan tim Literasi Numerasi juga tidak mau kalah dengan mengadakan lomba mading kelas dan Aku Cinta Indonesia. 

Aku Cinta Indonesia adalah lomba berbasis game yang bertujuan untuk menguji pengetahuan umum siswa tentang Indonesia.

Lomba Aku Cinta Indonesia, dokumentasi pribadi

Sebuah catatan tersendiri adalah ternyata kreativitas siswa dalam membuat mading patut diacungi jempol. Berbagai kreasi mading yang begitu bagus sempat membuat dewan juri bingung untuk menentukan pemenangnya.

Penilaian Mading, dokumentasi pribadi
Kreativitas mading siswa, dokumentasi pribadi

Selain lomba-lomba tersebut, pada hari Jumat (14/08) keluarga Bintaraloka juga mengadakan jalan sehat di sekitar sekolah yang diadakan setelah apel peringatan HUT Pramuka.

Persiapan jalan sehat, dokumentasi pribadi
Jalan sehat, dokumentasi BBC

Nuansa merah putih membuat suasana ceria kian terasa. Semua berjalan penuh semangat sambil melambaikan bendera merah putih kecil di tangan.

Tidak hanya siswa, guru juga tidak mau kalah. Sementara siswa berlomba dengan dikoordinir OSIS, gurupun mengadakan beberapa nomor lomba untuk ikut memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini. Sebutlah lomba menara bola, tangkap ikan, perang naga dan lainnya.

Lomba guru, dokumentasi BBC
Semangat para guru, dokumentasi pribadi

Pengumuman para pemenang lomba dilaksanakan pada puncak perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 yaitu tanggal 17 Agustus 2026 sesudah upacara bendera.

Hari yang luar biasa. 

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Segala lomba, jalan sehat, dan kreativitas yang ditampilkan hakekatnya bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata semangat kebersamaan dan rasa cinta tanah air. 

Lagu-lagu Nasional yang dilantunkan siswa pada lomba paduan suara adalah nada dari hati sebagai wujud cinta pada negeri.

Paduan suara, dokumentasi BBC

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Selamat ulang tahun ke-81 Republik Indonesia. Semangat kemerdekaan akan tetap hidup di hati kita semua, khususnya di lingkungan Bintaraloka tercinta.

Salam Merdeka ….!