Merapi Lava Tour, dari Petilasan Mbah Maridjan hingga Offroad Air Kali Kuning

Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika bus kami mulai meninggalkan Hotel Pandanaran Yogyakarta.

“Bapak/Ibu, hari ini kita akan mengikuti Merapi Lava Tour. Beberapa tempat yang akan kita kunjungi adalah  Museum Petilasan Mbah Maridjan, Batu Alien, Bunket Kaliadem dan terakhir off road Air Kali Kuning,” jelas pemandu kami Mbak Nia dari Nala Tour. 

Bus terus melaju membelah lalu lintas Yogyakarta yang semakin ramai. Sesekali terdengar canda tawa di dalam bus, sementara lagu-lagu yang ditayangkan berganti ganti. Mulai dari Dewa 19 hingga  campursari. Wah, serasa gayeng sekali.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama sampailah kami di tempat yang dituju. Turun dari bus, kami langsung disambut oleh pemandu dari Merapi Lava Tour dan beberapa Jeep siap mengajak kami berkeliling di area sekitar Merapi.

Berempat kami menaiki Jeep warna merah. Tutorial naik dan turun kendaraan perang ini diberikan oleh Mas Wisnu guide kami dengan sabar.

Mas Wisnu, driver sekaligus guide kami ini banyak bercerita tentang cerita erupsi Merapi di tahun 2010. Sebagai orang Yogja asli Mas Wisnu tampak begitu memahami daerah Merapi ini.

Menuju Jeep, dokumentasi pribadi

Jeep kami melalui jalan yang naik turun dengan kecepatan yang tinggi menurut saya. Memang sepertinya di sini sensasinya. Naik kendaraan terbuka, melihat alam sekitar dan menikmati udara yang begitu segar.

Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, Jeep kami memasuki wilayah Museum Petilasan Mbah Maridjan.

Museum Petilasan Mbah Maridjan 

Museum ini berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, tempat ini dibangun untuk mengenang Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi atas kesetiaan dan pengabdiannya dalam menjaga tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.

Mbah Maridjan menjadi ikon nasional setelah letusan besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Saat itu beliau bersikeras tinggal di rumah saat terjadi erupsi hingga beliau meninggal di tempat.

Gamelan Mbah Maridjan , bagian dari museum Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

Museum Petilasan Mbah Maridjan dibangun di lokasi yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, yang hancur akibat letusan Merapi. 

Di Museum ini kita bisa melihat banyak barang peninggalan Mbah Maridjan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti pakaian, sarung, dan peci yang biasa ia gunakan, termasuk juga replika rumah Mbah Maridjan yang hancur, serta motor tua yang menjadi kendaraannya sehari-hari. 

Di sini kita juga bisa melihat dokumentasi kehidupan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, informasi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi dan berbagai kerusakan serta dampak bagi masyarakat sekitarnya.

Hingga kini di sekitar museum banyak penjual makanan atau cinderamata. Salah satu kios adalah milik putri dari Mbah Maridjan. 

Toko cinderamata milik putri Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

“Mas Wisnu kenal Mbah Maridjan?” tanya saya ketika kami kembali naik Jeep untuk melanjutkan perjalanan.

“Kenal, ” jawabnya.

“Beliau baik sekali, sabar,” tambah Mas Wisnu. Tampak sekali ia sangat menghormati sosok Mbah Maridjan.

Dari Museum Mbah Maridjan perjalanan kami lanjutkan ke Bunker Kaliadem dan batu Alien.

Bunker Kaliadem 

Bagian depan bunker, dokumentasi pribadi

Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan bawah tanah di lereng Gunung Merapi yang dibangun pada tahun 2001 .

Bunker ini dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman dengan fungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan relawan dari terjangan awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi.

Ketika terjadi erupsi pada tahun 2006, letusan gunung Merapi mengakibatkan aliran piroklastik atau awan panas bersuhu ekstrem menimbun seluruh bangunan bunker dan menutup pintu masuknya. Akibat nya dua orang relawan yang berlindung di dalam bunker meninggal dunia, karena suhu di dalam bunker melonjak sangat tinggi seperti oven akibat terjangan material panas. 

Berfoto dengan latar belakang gunung Merapi di area sekitar bunker, dokumentasi pribadi

Dari papan yang berisi informasi tentang bunker, bisa dilihat kondisi bunker sebelum erupsi, saat erupsi dan sesudah erupsi Merapi.

Dari lokasi bunker Kaliadem ini kita bisa melihat sosok Merapi yang tampak begitu indah dari jarak yang tak begitu jauh.

Batu Alien dan Off road Air Kali Kuning 

Batu Alien yang mirip manusia, sumber gambar: RRI

Jika di Padang ada batu Malin Kundang, maka di lereng Gunung Merapi kita bisa temui Batu Alien.

Batu Alien adalah bongkahan batu vulkanik erupsi Merapi tahun 2010 yang berbentuk mirip wajah manusia. 

 “Yang pertama menemukan menyebut, itu wajah alien, makanya sekarang namanya wisata Batu Alien,” kata pemandu wisata saatbitu.

Diperkirakan batu Alien dan batuan lainnya di lokasi tersebut berasal dari muntahan Gunung Merapi, yang dibawa Kali Gendol. Karena posisi kali sedikit menikung, maka  batu terlempar karena luapan kali tersebut.

Sesudah jelajah musium, bunker Kaliadem dan Batu Alien, kami tiba pada jelajah terakhir yaitu offroad air Kali Kuning.

Kali Kuning adalah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi serta mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta. Sungai tersebut tentu memiliki panjang sekitar 40 km dan mengalir melalui beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul

Offroad Air Kali Kuning dilakukan dengan cara menaiki jeep terbuka dengan track offroad yang langsung melintasi beberapa jalur, seperti area berbatu, sungai dangkal, serta area yang berpasir. 

“Siap dipakai jas hujannya Ibu-ibu,” kata Mas  Wisnu mengingatkan. Bergegas kami memakai jas hujan dan tak lupa merapatkan helm.

Off road Air Kali Kuning, dokumentasi pribadi

“Pegangan yang kuat..!” kata Mas Wisnu sambil menambah kecepatan Jeep kami. Jeep meluncur menuju jalanan berbatu dan turun ke arah sungai kecil.

 “Wiiih…!” air langsung muncrat naik membasahi kami para penumpang Jeep. Teriakan dan tawa langsung berderai bersama. 

“Aman, Ibu-ibu?” tanya Mas Wisnu memastikan.

“Aman..!” teriak kami bersemangat

Dengan cekatan Mas Wisnu memutar mobil , kembali ke rute awal dan Jeep kembali melintasi sungai. Semakin tinggi kecepatannya semakin tinggi pula air yang muncrat di sekitar kami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.

Rute Jeep yang berkelok- kelok, cipratan air sungai dan jeritan para penumpang membuat pengalaman ini tak akan terlupakan.

Ketika matahari semakin tinggi, jelajah sekitar Merapipun diakhiri. Kami mengucapkan terima kasih pada Mas Wisnu yang telah begitu sabar menjadi guide kami dalam perjalanan pagi ini.

Setelah sejenak bersih diri, kamipun menuju bus untuk persiapan kembali ke Malang.

“Bu, monggo salaknya.. salaknya,”  seorang ibu menawarkan dagangan salak di tangannya. 

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, Merapi adalah guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa

“Manis?” tanya saya.

“Manis, Bu, bisa dicoba,” katanya ramah. Saya dan teman-teman masing-masing mengambil satu ikat dan segera memasukkannya ke dalam bagasi bus.

Matahari kian terik, dan bus kami perlahan meninggalkan area Merapi. 

Dari kejauhan dengan latar langit yang berwarna biru terang, sosok Merapi tampak indah dan begitu perkasa.

Merapi yang luar biasa.

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa.

Mbak Menik

“Bothok, nasi bakar…, oseng oseng godhong kates,”

Sebuah ‘keributan’ kecil mulai mewarnai pagi di kampung kami. Teriakan Mbak Menik. Ya, dengan suaranya yang cempreng namun penuh semangat, Mbak Menik membangunkan penduduk kampung dengan menawarkan dagangannya. 

“Mbak Sri…Mbak Weni.., bothoknya.. tempe tahu teri..!” Teriakan Mbak Menik kembali membahana ketika melewati rumah hijau yang berhadapan dengan rumah bercat coklat; rumah Mbak Weni dan Mbak Sri.

Pintu rumah hijau dibuka dan Mbak Menik dengan keranjang di tangan serta bakul di atas kepala  langsung masuk.

Tak berapa lama setelahnya, Mbak Menik segera keluar.

“Matur nuwun Mbak Weni,” katanya senang.

“Iya Mbak Menik, ati-ati.., laris..laris!” tambah Mbak Weni sambil mengantar sang penjual sampai ke pagar.

“Suwun..!” Teriak Mbak Menik sambil tertawa renyah.

Itulah Mbak Menik. Semangat seolah tak pernah surut dari wajahnya. Hidup sendiri di usia jelang kepala tujuh, tidak menghalangi semangatnya untuk terus bekerja. Ia masih sering menerima pesanan masakan, membantu bersih-bersih bahkan momong anak kecil. Seolah tiada hari tanpa kesibukan.

“Saya kalau diam saja tambah sakit,” katanya ketika ditanya mengapa terus bekerja. Rupanya menganggur membuat Mbak Menik tidak nyaman. Terlalu banyak diam membuatnya ingat almarhum suaminya dan akhirnya membuatnya semakin nglokro (sedih dan malas). 

“Mbak Menik masak piyambak?” tanya saya suatu hari demi melihat aneka makanan dalam keranjangnya. Ada lebih dari lima macam.

“Oseng-oseng godhong kates masak sendiri, yang lain punya orang-orang,” katanya.

“Wah, berarti tiap hari banyak yang titip ke Mbak Menik?” tanya saya takjub. Benar, takjub dengan semangatnya mengajak orang lain untuk bergerak memutar roda ekonomi rumah tangga.

Dagangan Mbak Menik, dokumentasi pribadi

“Leres, Mbak Ajeng,” katanya sambil menyebutkan nama-nama tetangga yang titip juga jenis masakannya.

“Luar biasa Mbak Menik,” kata saya kagum

Mbak Menik tertawa. “Halah…, saget e namung kados ngeten lo..,” katanya merendah. Artinya  “bisanya cuma seperti ini lo..”.

Bukan sekedar penjaja makanan, kehadiran Mbak Menik suatu hari bisa menjadi penyemangat dan inspirasi bagi diri saya sendiri.

Pernah suatu saat saya merasa segan sekali untuk berangkat ke sekolah. Badan rasanya sakit semua, mungkin kecapekan atau juga karena mewabahnya flu seperti yang sekarang sedang ramai diperbincangkan.

Nah, pagi-pagi sekitar pukul setengah enam terdengar suara Mbak Menik  kembali menawarkan dagangannya di depan rumah saya. 

“Monggo Mbak Menik,” kata saya sambil membukakan pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini suara Mbak Menik tidak begitu ‘ngegas’.

“Urap, sambel goreng kentang, sama nasi bakar,” kata saya sambil menyodorkan sejumlah uang.

“Mbak Menik agak sakit?” tanya saya demi melihat wajahnya yang agak pucat, tidak sesegar biasanya.

Mbak Menik tersenyum sambil menjawab,”Inggih Mbak Ajeng, nggreges mulai kemarin,”

“Lha.., sama, kok tidak istirahat?” tanya saya. 

Dagangan Mbak Menik , dokumentasi pribadi

Mbak Menik tersenyum sambil menata dagangan dalam keranjangnya.

“Mboten, lha kalau saya libur nanti dapat uang dari mana? Lagi pula kasihan teman- teman yang sudah terlanjur masak,” katanya sambil membetulkan jaketnya yang tebal. Tampak sekali ia kurang sehat hari ini.

“Hati-hati Mbak Menik,” kata saya di depan pintu sebelum Mbak Menik mengangkat keranjangnya.

“Inggih Mbak Ajeng, pokoknya kalau pusing saya duduk sebentar,  terus lanjut lagi,” tambahnya. Meski suaranya agak pelan, tapi tekad dan semangat masih sangat terasa.

Saya tiba-tiba merasa malu. Malu pada semangat Mbak Menik.

Sungguh, pagi ini saya berencana absen karena badan agak sakit dan meriang. Tapi rasanya tidak sebanding dengan Mbak Menik yang nggreges mulai kemarin, harus memakai jaket tebal, tapi masih mau membawa dagangan yang berat dan berkeliling kampung. Aih..

Setelah Mbak Menik berpamitan dan melanjutkan perjalanan, bergegas saya segera masuk, ganti baju dan melakukan persiapan ke sekolah.

“Le, sepedanya tolong dikeluarkan,” kata saya pada anak saya

“Lho, katanya tidak masuk?” tanya anak saya heran.

“Masuk Le, hari ini anak-anak ulangan,” jawab saya singkat. 

Anak saya memandang saya agak lama. 

“Ibuk sudah sehat?” Ia bertanya memastikan

“Sehat Le, nanti ketemu anak- anak tambah sehat,” senyum saya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Saya menyetater Vario untuk segera berangkat ke sekolah. Sepeda saya mulai berjalan melewati gang-gang yang kian ramai.

“Monggo, Bu guru,” sapa beberapa orang yang saya balas dengan senyum dan anggukan.

Dari kejauhan terdengar suara orang menjajakan dagangan. Meski samar, cemprengnya suara itu sangat saya kenal. Ya, suara Mbak Menik dengan dagangannya.

 “Urap-urap.. nasi bakar..!”

Hangatnya Omelet Pagi di Pandanaran

Sebuah pagi di Yogyakarta. Suasana ruang makan Hotel Pandanaran tempat kami menginap sudah mulai ramai. 

Kami duduk berempat atau berlima mengitari meja makan kecil . Ada yang menyantap soto, bubur ayam, omelette sementara saya sendiri bihun dan kerupuk.

“Tambah omelet, enak,” kata teman saya sambil menunjuk ke arah chef yang sedang sibuk membuat omelet. Chef-nya masih muda, kelihatannya ramah pula, saya sebut Mas Chef saja.

Tanpa dikomando dua kali saya langsung mendekati Mas Chef. “Boleh minta satu, Mas?”

“Boleh, Bu , ditunggu ya,” katanya  sambil terus fokus pada panci dadar di atas kompor . Sementara tangan yang satu memegang gagang panci, tangan yang lain melipat telur dadar di atas panci yang sudah diberi mentega, mencampurkan irisan paprika lalu sekali lagi melipatnya.

“Saya kalau membuat omelet kok tidak secantik itu ya,” kata saya jujur.

 Asli…, meski enak (kata anak-anak saya) omelet saya tidak secantik punya Mas Chef ini. Omelet saya biasanya agak coklat, agak kaku dan gosong tepinya. Punya Mas Chef ini warnanya kuning cantik dengan pletik-pletik merah paprika dan sosis.

Mas Chef tersenyum sambil mempersilakan saya mengambil omelet. Olala, omelet yang lembut, diberi sedikit saus tomat adalah sajian lezat yang membuat pagi itu menjadi lebih bersemangat.

Bersama Mas Chef, dokumentasi pribadi

“Lembut sekali, apa rahasianya?” tanya saya penasaran.

“Tidak ada rahasianya,Bu,” kata Mas Chef tersenyum sambil terus bekerja. Di belakang saya beberapa orang antre untuk juga mengambil hidangan satu ini.

Tentang Omelet atau Omelette

Omelet dengan tekstur yang lebih padat, sumber gambar: ResepMamiku

Omelet atau omelette adalah hidangan yang dipopulerkan oleh para koki dari Perancis.

Hidangan ini sebenarnya berasal dari Persia yang bernama kuku sabzi atau kuku isi rempah. Kata omelet mulai digunakan pada pertengahan abad ke 16 menurut Alan Davidson dalam bukunya The Oxford Companion to Food.

Seorang koki terkenal Prancis abad 16 dan awal abad 17, François Pierre La Varenne dalam buku masaknya Le Cuisinier françois (1651) menyebut aumelette, dan omelet modern muncul di hidangan-hidangan borjuis atau Cuisine Bourgeoise pada 1784.

Omelet adalah makanan yang cepat disajikan tapi bergizi. Dengan menambahkan sayuran ke pada omelet, akan bisa dihasilkan 270 kalori per sajian, di samping juga mengandung berbagai nutrisi seperti  vitamin A, kalium, vitamin E, vitamin D, kalsium, juga  folat.

Lalu bagaimana cara membuat omelet?

Membuat omelet yang enak dan lembut sangat mudah dengan menggunakan teflon anti lengket dan api kecil. 

Berikut adalah cara membuat omelet yang saya peroleh dari Mas Chef pagi itu.

Bahan-Bahan

2–3 butir telur ayam

2 sendok makan susu cair (opsional, agar lebih lembut)

Garam dan lada jika suka

1 sendok makan mentega atau margarin

Isian (opsional): Irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Cara Membuat

Pecahkan telur ke dalam mangkuk, lalu masukkan susu cair, garam, dan lada. Kocok menggunakan garpu  sampai tercampur rata dan sedikit berbusa.

Masukkan isian seperti irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Panaskan wajan teflon dengan api kecil lalu lelehkan mentega atau margarin hingga merata. 

Tuang adonan telur ke dalam teflon. Biarkan bagian bawahnya sedikit mengeras, lalu lipat omelet menjadi dua bagian atau gulung perlahan. 

Mirip membuat telur dadar ya? Ya, hanya bedanya isi omelet bisa beragam, sementara telur dadar biasanya menggunakan daun bawang sebagai isinya.

Angkat omelet dari teflon dan sajikan selagi hangat. 

Kehadiran saos dalam penyajian omelet bisa lebih menggugah selera lebih lebih jika pembuatan omelet tidak menggunakan garam atau lada.

Pagi yang begitu hangat. Pembicaraan di meja makan jadi dipenuhi dengan cara membuat omelet.

“Kalau hanya telur, sosis, parutan wortel irisan lombok itu teksturnya lebih ringan karena tanpa karbo. Jika ingin tekstur omelet yang padat, bisa ditambahkan mie, sedangkan untuk omelet yang krispi pada telur yang didadar bisa ditambahkan tapioka,” kata seorang teman yang pintar memasak.

Setelah menyelesaikan omelet yang kedua bergegas kami mengambil kopor untuk persiapan masuk kendaraan.

Mbak Nia, siap memandu jalan jalan di Yogyakarta, dokumentasi pribadi

“Monggo rombongan dari Malang sebentar lagi masuk bus untuk melanjutkan perjalanan,” 

Suara Mbak Nia leader kami kembali terdengar. Dengan topi lebar dan penampilan yang lebih segar ia siap memandu kami untuk jelajah Yogyakarta di hari kedua. Aha…

Salam jalan-jalan….😊

Masjid Al Aqsha Klaten, Oase Penyejuk Jiwa di Tengah Perjalanan Malang-Yogyakarta

Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih ketika bus kami mulai memasuki halaman Masjid Al Aqsha Klaten. Lampu masjid yang berwarna- warni membuat siluet masjid tampak begitu anggun di tengah kegelapan.

“Bapak/ibu , silakan beristirahat di Masjid Al Aqsha sambil menunggu saatnya shalat Subuh,” kata Mbak Nia leader kami dari Nala Tour.

Beberapa di antara penumpangpun turun menuju masjid, sementara yang lain lebih memilih menunggu dalam bus hingga azan tiba. Ya, perjalanan selama lima jam dari kota Malang membuat badan terasa lelah dan mata demikian mengantuk.

Masjid Al Aqsha di malam hari, dokumentasi Buz

Sejuknya air wudhu membuat mata saya kembali terasa segar. Sementara itu suara qiroah dari pengeras suara masjid mulai terdengar, menandakan saat subuh akan segera datang.

Hari itu (Jumat, 05/09)  adalah untuk kedua kalinya saya mampir ke Masjid Al Aqsha Klaten. Yang pertama adalah sekitar tahun 2018 ketika perjalanan  pulang dari Yogyakarta, dan yang kedua adalah sekarang ini ketika saya ikut rombongan sekolah dalam perjalanan Malang-Yogykarta.

Sekilas tentang Masjid Agung Al Aqsha Klaten

Di depan menara masjid Klaten , dokumentasi pribadi

Masjid yang indah. Itu yang terpatri dalam ingatan saya setelah kunjungan yang pertama. Masjid dipenuhi dengan ornamen cantik yang akan memukau setiap pengunjungnya. Ornamen tersebut berupa ragam hias maupun kaligrafi petikan ayat suci Al Qur’an.

Masjid Al Aqsha terletak di Jl. Solo – Jogja, Peraksangkal, Jonggrangan, Kec. Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasi masjid yang sangat  strategis membuatnya selalu ramai pengunjung.

Suasana sholat di dalam Masjid Al Aqsha, dokumentasi pribadi

Dibangun sejak tahun 2012 di atas lahan seluas 5.266 meter persegi, masjid ini memiliki arsitektur gaya Timur Tengah yang demikian megah dan detail ukir-ukiran di sudut-sudutnya. 

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa lahan tempat Masjid Agung Al-Aqsha ini berdiri dulunya merupakan terminal Bus utama di Klaten yang kemudian dipindahkan ke dekat jalan lingkar Klaten. 

Masjid ini juga dilengkapi dengan menara setinggi 66.66 meter dengan menara pandang diketinggian 35 meter.

Tangga masjid, dokumentasi pribadi

Setelah sekitar 15 menit menunggu, lantunan Azan Subuhpun terdengar. Suara muadzin yang lembut dan merdu membuat kami, para jamaah duduk terpekur merasakan  kesejukan serta kedamaian yang langsung merasuk ke dalam hati.

Ketika jamaah semakin banyak, sholat Subuh pun didirikan. Takbir dan doa-doa yang terucap adalah ungkapan kelemahan diri dan permohonan petunjuk pada Ilahi untuk mengarungi perjalanan hari ini.

Akhirnya, sebagai bagian dari sebuah perjalanan, mampir ke Masjid Al Aqsha Klaten adalah sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.

Berfoto sesudah sholat, dokumentasi pribadi Anggita

Berada di jalur lalu lintas antar kota, kehadiran masjid ini seperti oase penyejuk jiwa yang mengingatkan kita untuk sejenak berhenti, bersyukur pada Ilahi atas segala nikmat yang diberikan. Ya, bukankah atas berkah dan kasih dan sayang Nya  hingga  hingga kita mampu menempuh perjalanan hidup sampai di titik sekarang ini?

Salam jalan-jalan 😊

Jelajah Yogyakarta, dari Malioboro hingga Obelix Sea View

Siang yang terik. Matahari bumi Yogyakarta demikian cerah. Jam menunjukkan pukul setengah duabelas siang ketika kami turun dari bus. Ya, hari itu (Jumat 04/09) kami mulai menjelajah Jogjakarta.

Perjalanan ke Jogjakarta kali ini kami lakukan selama dua hari. Di hari pertama ada dua tempat yang kami kunjungi yaitu Malioboro dan Obelix Sea View.

Di depan pusat oleh -oleh Krisna kami berhenti.

“Nanti kita masuk ke Krisna dan tembus ke arah Malioboro,” kata Mbak Nia guide kami.

Di depan Krisna Oleh-oleh, dokumentasi pribadi

Bersama sama kami masuk area Krisna oleh-oleh. Baju-baju, kerajinan tangan dan makanan khas Jogja membuat kami lapar mata. Ingin beli dan beli. Dasar emak-emak. Setelah berkeliling, saya mendapatkan satu daster batik hitam dan mukenah batik yang adem dan enak dipakai.

Keluar dari Krisna kami terus berjalan ke arah Malioboro. Suasana tidak begitu ramai. Mungkin karena jam sholat Jumat sehingga toko- toko tidak terlalu banyak pengunjungnya.

Jalanan Malioboro masih seperti dulu ketika saya sering ke sini untuk menengok anak saya. Kursi-kursi di trotoar juga dokar yang lalu- lalang menciptakan suasana yang sangat khas.

Malioboro, dokumentasi pribadi

“Becak Bu? Monggo, keliling-keliling cuma sepuluh ribu,” tawar seorang pengendara becak.

“Mboten Pak, mlampah mawon,” jawab kami. Benar, kami sudah berniat untuk jalan kaki karena terlalu banyak duduk dalam bus.

“Foto Bu? Monggo foto..,” tawar seorang tukang foto. Rupanya di Malioboro sekarang banyak tukang foto yang menawarkan jasa pada para wisatawan.

“Satu foto lima ribu,” tambahnya lagi.

Kami berhenti sejenak. 

“Nanti file foto langsung dikirim?” tanya kami.

“Inggih, Bu, langsung dikirim,”

Tanpa banyak kata kami pun berpose di bawah tulisan Jalan Malioboro, tempat ikonik untuk foto saat berkunjung ke Jogjakarta.

“Lihat samping.., tunjuk kamera, senyum.., berpelukan..,” kata Mas tukang foto ramah. Herannya kami manut saja sambil tertawa bersama, dan jadinya foto-foto seperti di bawah ini. Aha….

Berfoto di Malioboro , dokumentasi pribadi

Puas berkeliling Malioboro perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini kami menuju Obelix Sea View yang berlokasi di kawasan Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari

Obelix Sea View terkenal dengan pemandangan lautnya yang memukau. Wisatawan yang datang bisa menikmati pemandangan alam yang masih asri dan menenangkan. 

Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati sunset yang spektakuler atau sekadar berjalan di sepanjang pantai yang damai.

Obelix Sea View, dokumentasi pribadi

Keindahan alam yang ditawarkan menjadikan Obelix Sea View sebagai destinasi wisata yang ideal untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Saat kami datang jam sudah menunjukkan pukul setengah empat. Berarti tiga puluh menit lagi pertunjukan musik akan dimulai.

Setelah memesan minuman dingin kami berfoto- foto, menikmati panorama yang luar biasa indah. 

Jelang jam empat sore kami memasuki amphiteater. Tampak persiapan para pemusik yang menandakan pertunjukan akan segera dimulai. Cuaca begitu panas. Meski demikian semangat pengunjung untuk melihat konser musik dan sendratari demikian besar. Mayoritas orang- orang mengenakan topi, kacamata hitam bahkan ada juga yang berpayung untuk mengurangi paparan sinar matahari.

Sekitar pukul empat lebih musik mulai dimainkan. Beberapa pemain musik dan satu penyanyi cantik. Lagu “Lela Ledung” yang pernah dipopulerkan oleh Waldjinah mengalun indah menghiasi ruang dengar kami sore itu. Luar biasa. 

Lepas lagu “Lela Ledung” lagu lain menyusul. Kali ini penyanyi berikutnya muncul dan menyanyikan sebuah lagu dari KLA Project, “Yogyakarta”.  Sungguh, ikut menyanyikan lagu “Yogyakarta” di kota Yogyakarta sambil melihat keindahan pantai Parangtritis dari kejauhan terasa begitu syahdu rasanya. 

Saya langsung mengambil video konser lagu tersebut dan saya kirim ke anak saya.

Lagu Yogyakarta , dokumentasi pribadi

 “Le, ibuk lihat konser Lagu Yogyakarta,” kata saya melalui chat WhatsApp. Tak terasa sudah tujuh tahun yang lalu kami ke Yogyakarta ketika anak saya wisuda di UGM. Lagu Yogyakarta selalu mengingatkan saya pada anak saya dan perjuangannya dalam menyelesaikan studinya di sana.

“Terharu ya..,” jawab anak dalam chat balasannya.

Selesai konser musik, acara sendrataripun dimulai. Malam itu sendratari mengambil judul Janji Nyai Roro Kidul. Terasa mistis judulnya. 

Ketika gamelan mulai menyapa para penonton benar benar dibuat terpukau oleh aksi tari yang membawakan cerita tentang berdirinya Kerajaan Mataram.

Sendratari yang menggambarkan adegan Sutawijaya sedang tapabrata dan diganggu mahluk halus, dokumentasi pribadi

Dikisahkan bahwa sebelum mendirikan Mataram, Danang Sutawijaya melakukan tapa brata  yang sangat khusyuk di antara dua batu karang di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. 

Kekuatan semedi Sutawijaya memancarkan hawa panas luar biasa yang menggetarkan dasar samudra dan mengganggu ketenangan penguasa Laut Selatan. Melihat hal tersebut Kanjeng Ratu Kidul datang ke permukaan untuk melihat sumber gangguan tersebut dan menemukan seorang pemuda sakti yang tengah bermeditasi. 

Ratu Kidul bertanya mengenai tujuan semedi tersebut, dan Sutawijaya menyatakan keinginannya untuk mendirikan serta membesarkan Kerajaan Mataram. Berkaitan dengan hal tersebut Ratu Kidul setuju memberikan bantuan gaib serta dukungan perlindungan bagi Sutawijaya dan seluruh keturunannya dalam memerintah Mataram. 

Sendratari yang menggambarkan adegan keperkasaan Sutawijaya, dokumentasi pribadi

Memukau. Barangkali kata itu yang paling tepat untuk melukiskan pertunjukan sendratari sore itu. Para penari, penabuh gamelan demikian luar biasa aksinya. Para penonton dihibur dengan gerakan tari yang gemulai, manis, dinamis bahkan kadang kocak. Applaus penonton berkali-kali terdengar melihat berbagai aksi tersebut.

Malam semakin gelap. Matahari semakin tenggelam. Keindahan pertunjukan sendratari dilengkapi oleh Samudra Hindia yang menyajikan sunset yang cantik luar biasa.

Irama gending masih berkumandang dan penari bergerak selaras irama. Semburat kuning mewarnai langit barat. Sungguh, perpaduan keindahan budaya dan panorama alam saat itu membuat senja di Yogjakarta terasa begitu istimewa.

Sekedar berbagi cerita, salam jalan- jalan….:)