Gempita Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bumi Bintaraloka 

Luar biasa meriah. Kata- kata tersebut sangat pas untuk menggambarkan suasana gempita perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 di Bintaraloka.

Ya, perayaan yang dilaksanakan sejak hari Rabu (12/08) ini benar benar menggambarkan semangat dan kebersamaan seluruh warga Bintaraloka.

Perayaan HUT kali ini diisi dengan berbagai lomba siswa maupun guru, jalan sehat dan upacara.  Ada berbagai lomba siswa yang diadakan seperti paduan suara, poster manual, fashion show, video blog, makan kerupuk, estafet sarung, menara bola dan banyak lagi.

Salah satu nomor lomba siswa: memasukkan paku dalam botol, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: fly ball, dokumentasi BBC
Salah satu nomor lomba siswa: memakai kemeja dengan balon, dokumentasi BBC

Menariknya lomba-lomba tidak hanya menguji ketrampilan dan kesigapan siswa tapi juga pengetahuan literasi dan numerasi termasuk kewarganegaraan, seperti lomba cerdas cermat antar kelas.

Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Peragaan busana, dokumentasi pribadi
Lomba cerdas cermat , dokumentasi BBC
Final cerdas cermat , dokumentasi pribadi

Dalam perayaan ini Si Ciput dan tim Literasi Numerasi juga tidak mau kalah dengan mengadakan lomba mading kelas dan Aku Cinta Indonesia. 

Aku Cinta Indonesia adalah lomba berbasis game yang bertujuan untuk menguji pengetahuan umum siswa tentang Indonesia.

Lomba Aku Cinta Indonesia, dokumentasi pribadi

Sebuah catatan tersendiri adalah ternyata kreativitas siswa dalam membuat mading patut diacungi jempol. Berbagai kreasi mading yang begitu bagus sempat membuat dewan juri bingung untuk menentukan pemenangnya.

Penilaian Mading, dokumentasi pribadi
Kreativitas mading siswa, dokumentasi pribadi

Selain lomba-lomba tersebut, pada hari Jumat (14/08) keluarga Bintaraloka juga mengadakan jalan sehat di sekitar sekolah yang diadakan setelah apel peringatan HUT Pramuka.

Persiapan jalan sehat, dokumentasi pribadi
Jalan sehat, dokumentasi BBC

Nuansa merah putih membuat suasana ceria kian terasa. Semua berjalan penuh semangat sambil melambaikan bendera merah putih kecil di tangan.

Tidak hanya siswa, guru juga tidak mau kalah. Sementara siswa berlomba dengan dikoordinir OSIS, gurupun mengadakan beberapa nomor lomba untuk ikut memeriahkan peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini. Sebutlah lomba menara bola, tangkap ikan, perang naga dan lainnya.

Lomba guru, dokumentasi BBC
Semangat para guru, dokumentasi pribadi

Pengumuman para pemenang lomba dilaksanakan pada puncak perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 yaitu tanggal 17 Agustus 2026 sesudah upacara bendera.

Hari yang luar biasa. 

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Segala lomba, jalan sehat, dan kreativitas yang ditampilkan hakekatnya bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata semangat kebersamaan dan rasa cinta tanah air. 

Lagu-lagu Nasional yang dilantunkan siswa pada lomba paduan suara adalah nada dari hati sebagai wujud cinta pada negeri.

Paduan suara, dokumentasi BBC

Semoga momen perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 81 ini tidak berhenti sebagai euforia semata, namun bisa mempererat kerjasama sekaligus memupuk rasa cinta warga Bintaraloka pada tanah air  Indonesia.

Selamat ulang tahun ke-81 Republik Indonesia. Semangat kemerdekaan akan tetap hidup di hati kita semua, khususnya di lingkungan Bintaraloka tercinta.

Salam Merdeka ….!

Jelajah Kampung Sekabrom, Stadsklok dan Gedung PLN, Cerita Jalan Sore Bersama History Funwalk Malang

Mentari Kota Malang bersinar lembut. Cuaca benar-benar cerah dan sangat mendukung kegiatan kami hari itu. Aha, di Sabtu(15/08) sore itu kami akan jalan-jalan bersama History Funwalk Malang. 

History Fun Walk Malang adalah komunitas walking tour atau wisata jalan kaki edukatif di Kota Malang yang mengajak masyarakat menyusuri kawasan bersejarah dan bangunan peninggalan kolonial Belanda sambil belajar sejarah. Komunitas ini didirikan pada Mei 2023 oleh anak-anak muda pemerhati sejarah lokal

Bersama anak saya, saya mendaftar untuk ikut kegiatan. Ya, sudah lama sekali kami ingin ikut jelajah bangunan bersejarah di kota Malang, dan baru kali ini kesampaian.

Jelajah Kampung Sekabrom

Kampung Sekabrom di era tahun 90, lukisan Effendy Yusa

Sebelum mulai perjalanan kami lebih dahulu berkumpul di rooftop Instasemeru, Jalan Semeru Malang. Setelah briefing sejenak untuk menentukan lokasi apa saja yang akan dikunjungi perjalananpun dimulai. 

Sebelum turun dari rooftop saya sempat menjepret Kampung Sekabrom dari atas. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat mengharukan bagi saya. Betapa tidak? Sekitar tahun 90 an saya pernah tinggal di kampung ini. Meskipun hanya dua tahun, tapi ada banyak cerita yang terukir saat saya dan keluarga tinggal di sana.

Kampung Sekabrom dari rooftop Instameru, dokumentasi pribadi

Sekabrom adalah singkatan dari Semeru Kayutangan dan Bromo. Artinya kampung ini terletak tepat di pertemuan Jalan Semeru, Kayutangan dan Jalan Bromo. Lokasi yang sangat strategis karena begitu keluar gang (ada tiga gang) kita bisa langsung ke jalan besar yaitu Jl Semeru, Kayutangan atau Jl Bromo.

Kami terus berjalan menyusuri gang menuju kampung Sekabrom yang lokasinya masuk dalam wilayah Kayutangan. Dengan dipandu dua orang leader dan fotografer perjalanan sore itupun dimulai. 

Berjalan menyusuri Kampung Sekabrom serasa membuka kembali jejak kenangan masa lalu. Mengapa? Jalan yang kami lalui sore itu adalah jalan yang dulu setiap hari harus saya lewati, entah untuk ke Pasar Talun, berangkat kuliah ataupun mengantar kue ke toko.

Meski sudah banyak mengalami perubahan, namun kehangatan suasana Sekabrom masih sangat terasa. Pedagang yang berjualan di sekitar pos, anak kecil yang bersepeda juga orang- orang yang berlalu lalang di sekitar jembatan. 

Sejenak saya berhenti di pos Sekabrom yang dibangun tepat di atas sungai. Dinamakan pos, tapi fungsinya kira-kira seperti aula kecil dan sekarang menjadi balai RW.

Balai RW, dokumentasi pribadi

Di sini dulu kami jamaah putri di kampung mendirikan sholat tarawih juga shalat malam setiap hari di bulan Ramadhan. Mengapa di pos? Ya karena langgar yang ada masih kecil, hanya cukup untuk jamaah putra.

Suara gemericik air sungai yang mengalir benar benar terasa syahdu. Rumah kami saat itu tepat berada di dekat sungai tersebut, karenanya suara air sungai adalah irama yang menemani keseharian kami. Bentuk rumah-rumah yang ada sudah jauh lebih bagus daripada dulu. 

Menyusuri sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Sungai terasa demikian akrab dengan kehidupan kami. Peristiwa yang  berkaitan dengan sungai banyak kami alami sebagai warga Sekabrom. Seperti banjirnya sungai saat musim hujan, sungai yang kotor karena dipakai untuk membuang sampah (saat itu) atau sungai yang tiba-tiba berwarna coklat kemerahan seperti membawa tanah yang terkikis dari hulu sungai 

“Banyune kemlandan,” kata orang- orang saat air sungai menjadi kecoklatan saat itu. Kata ibuk saya yang orang asli Sekabrom kemlandan artinya mirip orang Belanda. Maksudnya warna sungainya jadi kemerahan mirip warna rambut orang Belanda. He..he…bisa saja.

Bagian tepi sungai sekarang berpagar tinggi. Pagar yang dibuat dari bata dan semen. Sebuah langkah yang sangat pas karena dulu saat hujan, air sungai meluap sehingga pemandangan di depan rumah seperti lautan. Tidak ada batas antara jalan dan sungai, sehingga sangat berbahaya seandainya ada pejalan kaki yang belum kenal dengan daerah tersebut. Bisa- bisa tercebur ke dalam sungai karena mengira luberan air tersebut adalah genangan air biasa.

“Ini jalan ibuk pas mau kuliah dulu,” kata saya pada anak saya yang setia berjalan di dekat saya. Kami terus berjalan hingga ujung sungai dimana di sana terdapat semacam gerojogan besar. Dulu kami menamakannya   rolak. Anak-anak kecil benar benar dilarang bermain di sini, terutama oleh orang tua mereka. Bahaya, itu pesannya.

Menurut narasumber, sungai di Kayutangan ini adalah sodetan sungai Brantas yang sudah dibangun sejak zaman Belanda. Dulu airnya lumayan bersih dan ada sekitar 12 jenis ikan hidup disini. Namun seiring berjalannya waktu, air semakin kotor dan hanya sekitar tiga jenis ikan yang ada di sini.

Rolak atau gerokogan di bagian atas sungai Sekabrom, dokumentasi pribadi

Satu hal yang selalu saya ingat, dulu di dekat gerojogan ini banyak karamba dipasang  untuk memelihara ikan. Nah, ketika hujan deras dan debit air sangat besar, banyak karamba yang ambrol. Kami yang tinggal di daerah yang lebih rendah banyak yang membawa jaring kecil untuk menangkap ikan yang lepas dari karambanya.

Masih terbayang kehebohan orang-orang saat hujan deras. Ada rasa khawatir karena air meluap, tapi juga gemas melihat ikan-ikan besar yang berloncatan.

Stadsklok dan Gedung PLN

Berfoto di Stadsklok dengan latar belakang Toko Avia, dokumentasi History Fun Walk Malang

Dari Kampung Sekabrom kami melanjutkan perjalanan ke pertigaan Kayutangan dimana terdapat jam kota atau Stadsklok.  Stadsklok  tersebut dibangun sekitar tahun 1925-1926 bersamaan dengan dibangunnya Balai Kota Malang dibawah perintah Wali Kota Malang, Bussemaker. 

Lokasi Stadsklok ini sangat strategis karena terletak  di pertigaan penghubung jalan poros utama yang menghubungkan pelintas dari arah barat (Batu dan Kediri) serta utara (Surabaya dan Pasuruan). Di dekat jam ini terdapat kompleks pertokoan dan toko besar yang masih berdiri hingga kini adalah toko Avia yang terletak tepat di belokan dari Oro- oro Dowo ke arah Celaket.

Meskipun hampir tiap hari saya melalui jalan ini untuk ke sekolah, tapi sejarah Stadsklok dan sekitarnya baru saya ketahui sore itu. Setelah berfoto bersama, perjalananpun kami teruskan menuju Kantor PLN yang ada di depan Stadsklok.

Bangunan kantor yang selama ini saya anggap biasa saja ternyata menyimpan sejarah yang panjang. Berlokasi di Jalan Basuki Rahmat, kantor ini adalah bangunan bersejarah yang dibangun sekitar tahun 1930. Bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor perusahaan listrik swasta Belanda, ANIEM (Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteits-Maatschappij). Gedung ini menjadi saksi sejarah perkembangan infrastruktur kelistrikan di Malang, mulai dari masa kolonial, pendudukan Jepang (saat bernama Shobu Denki Sha), hingga dikelola oleh PLN setelah kemerdekaan. 

Kantor PLN yang berlokasi di depan Stadsklok, dokumentasi pribadi

Dari Kantor PLN kami masuk kampung sekitar Avia untuk menuju Jembatan Kahuripan yang terletak di Jalan Kahuripan Malang. 

Jika selama ini saya selalu melalui jembatan Kahuripan di bagian atas, kali ini rombongan kami menyusuri bagian bawah Jembatan Kahuripan. Cerita tentang Jembatan Kahuripan dan kunjungan ke beberapa tempat yang lain akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya saja ya..😊 

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Sore yang begitu hangat. Sekabrom yang penuh kenangan, juga Stadsklok dan Gedung PLN yang dulu cuma saya lewati tanpa rasa penasaran, kini terasa begitu dekat dan bermakna. 

Salam jalan-jalan, berfoto di area Stadsklok, dokumentasi pribadi

Jalan sore bersama, mendengar cerita-cerita dari pemandu, membuat saya sadar bahwa mencintai kota bukan hanya menikmati keindahan dan memotretnya, namun juga berhenti sejenak untuk menikmati setiap kisah di balik bangunan-bangunannya.

Salam dari Kota Malang

https://www.kompasiana.com/yuli91129/6a87f65cc925c436954e0dfd/cerita-tentang-jelajah-sekabrom-stadsklok-dan-gedung-pln-kota-malang?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Referral&utm_campaign=Sharing_Mobile

Balap Karung Matematika, Operasi Hitung Campuran dan Kaidah PEMDAS

Mendapatkan jam terakhir adalah tantangan bagi guru matematika untuk mengkondisikan siswa agar tetap bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Lebih-lebih ketika matematika mendapatkan jatah tiga jam. Guru benar benar harus punya trik jitu agar siswa tetap semangat belajar.

Siang itu suasana kelas tampak sedikit berbeda.

“Baik anak-anak, silakan duduk berhadap-hadapan,” kata Bu Guru di awal pembelajaran. Saat itu jam ke 7, dan jam untuk matematika adalah jam ke 7-9.

Siswa segera mengatur posisi seperti yang diminta oleh guru.

“Ambil HP kalian,” lanjut guru.

Tanpa dikomando dua kali siswa segera mengambil HP yang tersimpan di box.

“Di grup sudah ibu share sebuah link. Silakan masuk ke link tersebut karena kita akan main game matematika, tapi sebelumnya silakan baca cara bermainnya, ” lanjut Ibu Guru.

Wajah siswa langsung berseri.

“Aseek,” komentar beberapa siswa.

“Karena dalam suasana memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 81, game ini kita namakan Balap Karung Matematika,” kata Bu Guru.

Tampilan Balap Karung Matematika, dokumentasi pribadi

“Pada game tersebut kalian diminta untuk menjawab soal operasi hitung bilangan bulat yang sudah disediakan. Perhatikan kaidah urutan operasi yang harus didahulukan,”

Siswa segera mengamati cara bermain Game Balap Karung tersebut dan memulai permainan.

“Jangan lupa sediakan buram untuk menghitung,” pesan Bu Guru.

Dalam beberapa menit suasana kelas langsung berubah. Siswa tampak sibuk ‘mengerjakan soal ‘ yang ada di game. Sesekali terlihat diskusi. Tanya jawab biasanya berkisar tentang tombol apa yang harus dipencet untuk menyimpan jawaban, atau mengulang game dari awal.

*** 

Berawal dari keresahan atas rendahnya kemampuan hitung siswa di kelas maka saya dan seorang teman yang seorang programmer berdiskusi untuk mengatasi hal tersebut. 

Ya, dengan kemampuan operasi hitung yang lemah tentunya siswa akan kesulitan dalam pembelajaran matematika. Memang benar jika dikatakan bahwa matematika bukan sekedar menghitung, tapi tanpa kemampuan hitung yang baik siswa akan kesulitan dalam belajar matematika.

Berdasarkan pengalaman,  yang membuat siswa lemah dalam melakukan operasi hitung ini adalah penguasaan konsep hitung yang kurang kuat, termasuk juga kurangnya pemahaman atas kaidah PEMDAS.

Apakah PEMDAS itu? 

PEMDAS adalah akronim atau singkatan untuk mengingat urutan operasi matematika saat menyelesaikan soal hitung campuran.  

Di Indonesia, aturan ini sering dikenal dengan singkatan Kabataku (Kali, Bagi, Tambah, Kurang) atau Pipolondo (Ping, Poro, Lan, Sido). Namun berbeda dengan keduanya, PEMDAS mencakup komponen yang lebih lengkap seperti tanda kurung dan pangkat. 

Kepanjangan PEMDAS adalah sebagai berikut:

Parentheses: Selesaikan operasi di dalam tanda kurung ( ) terlebih dahulu.

Exponents: Hitung nilai eksponen atau pangkat dan akar

Multiplication & Division: Lakukan perkalian dan pembagian. Kedua operasi ini setara, jadi kerjakan berurutan dari kiri ke kanan.

Addition & Subtraction: Lakukan penjumlahan dan pengurangan. Kedua operasi ini juga setara, jadi kerjakan berurutan dari kiri ke kanan. 

Contoh Cara Penggunaan:

Hitunglah: 2 x 3 + 5 – (7-3)

Sesuai kaidah PEMDAS, yang kita hitung lebih dahulu adalah operasi dalam kurung, perkalian lalu pengurangan. Jadi hasil operasi di atas adalah 7

Kembali ke masalah game di atas, setelah melalui beberapa kali diskusi, teman saya akhirnya membuatkan Game Balap Karung Matematika ini. Ini adalah sebuah game interaktif dengan soal- soal operasi hitung campuran matematika.

Suasana game operasi hitung Balap Karung Matematika, dokumentasi pribadi

Dalam game tersebut setiap lima belas detik siswa akan diberi soal operasi hitung campuran, dan mereka bertugas untuk menghitung dan memilih jawaban yang benar. 

Soal disajikan dalam tiga kategori yaitu mudah, sedang dan sulit. Untuk soal mudah setiap jawaban benar mendapatkan nilai 1, sedang nilainya 1,5 sedangkan sulit nilainya 2. Jawaban salah nilainya nol.

Semakin banyak soal yang dijawab benar, semakin banyak pula nilai yang dikumpulkan. Jika siswa kurang puas dengan nilai yang diperoleh , mereka bisa mengulang, dan yang masuk di daftar nilai atau leaderboard adalah nilai optimal mereka.

Di balik senyum dan rasa penasaran siswa ketika bermain game, tersimpan harapan semoga matematika tidak lagi menjadi momok, tapi petualangan yang seru dan menyenangkan

Penggunaan game dalam pembelajaran matematika ini memberikan aura yang berbeda. Siswa lebih bersemangat, aktif terlibat dan tidak takut mencoba karena mereka bisa terus mengulang jika ingin mendapatkan skor yang lebih tinggi.

“Asyik, Bu,”

Suasana game operasi hitung Balap Karung Matematika, dokumentasi pribadi

Gregeten Bu,” komentar beberapa siswa sambil tertawa.  Ya, untuk menjawab soal siswa harus memencet gambar anak yang sedang bermain balap karung sehingga anak tersebut melompat- lompat. Jika melompat satu kali berarti jawaban yang dipilih adalah A, dua kali adalah B dan seterusnya.

Suasana terasa lebih “greng” ketika di akhir game mereka bisa mengetahui ranking masing-masing lewat leaderboard.

“Wah, kurang lama , Bu,” cetus beberapa anak ketika waktu berakhir. He..he.. game hanya dilakukan selama 15-20 menit, dan sesudahnya kami kembali masuk materi pembelajaran. Ya, karena selain untuk latihan, game ini adalah semacam “pemanasan” untuk meningkatkan semangat dan minat siswa pada pembelajaran yang akan kami lakukan hari itu.

Akhirnya di balik senyum dan rasa penasaran siswa ketika bermain game, tersimpan harapan semoga matematika tidak lagi menjadi momok, tapi petualangan yang seru dan menyenangkan. 

Sekedar berbagi cerita, salam Matematika 🤗

Nguri-uri Basa Jawi Melalui Pembiasaan Literasi

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng..,” ucap Ibu Guru Bahasa Jawa pagi itu. Para siswa kelas tujuh yang duduk lesehan di aula langsung fokus. 

Sak marine ayo podho nggawe rangkuman telung alinea wae,” ajak Bu Guru lagi.

Pembiasaan literasi adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah kami tiap pagi hari sekitar 20 menit. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Jika sekarang kelas tujuh, maka besok kelas delapan dan lusa kelas sembilan.

Selain membaca secara online, literasi juga diisi dengan membaca buku fisik atau nonton film bareng seperti yang dilakukan hari ini.

Tanpa menunggu lama filmpun diputar. Sebuah film pendek berjudul “TOPI” dengan durasi sekitar 12 menit. Ketika adegan per adegan muncul, semua langsung fokus, baik siswa maupun pendamping literasi. Sesekali penonton tertawa ketika ada adegan yang lucu dalam film.

Film berjudul TOPI ini  bercerita tentang Gesang, siswa yang masih duduk di tingkat SD dan keluarganya.

Topi menjadi pusat cerita karena dari sinilah masalah bermula. Diawali ketika Gesang berangkat ke sekolah dan ternyata di tengah jalan ia baru sadar bahwa topinya ketinggalan.

Kakek yang membonceng Gesang setiap berangkat ke sekolah segera balik ke rumah, dan Gesang diminta menunggu di tengah sawah. Sesampai di rumah, ternyata pintu sudah dikunci karena Ibu Gesang berangkat mengantar kakak Gesang yang bersekolah di SMP. Sementara kakek sibuk minta dibukakan pintu untuk mengambil topi yang ketinggalan, Gesang bertemu tetangganya dan ‘dibawa’ ke sekolah supaya tidak terlambat.

Fokus nonton film bareng, Dokumentasi Pribadi

Betapa terkejutnya kakek tatkala melihat cucunya tidak ada di tempat dimana tadi ia ditinggal. “Gesaaang…,” teriak kakek mencari cucu kesayangannya, dan di sinilah penonton mulai terpancing, ada yang tertawa tapi juga kasihan.

Film yang penuh nasehat tatakrama atau suba sita ini sangat cocok untuk anak SD atau SMP. Lewat adegan-adegan yang sederhana namun sangat mengena film ini memberikan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh: jangan mengambil makanan dengan tangan kiri, bagaimana memberikan barang dengan sopan pada orang lain, termasuk juga tatakrama saat makan yaitu tidak boleh mengeluarkan bunyi berkecap-kecap.

Dikaitkan dengan kegiatan literasi, kegiatan ini mengajak anak anak untuk berliterasi secara visual dengan cara mengambil pelajaran penting dari sebuah film pendek. Sebuah kegiatan yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna, karena menonton film dalam durasi 12 menit ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi generasi alpa yang relatif memiliki konsentrasi pendek karena sering menonton reels yang berdurasi rata-rata 1-3 menit.

Di akhir cerita, Ibu Guru memberikan sedikit ulasan tentang film yang baru saja ditonton. Siswa tampak demikian antusias dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Guru.

“Bu, rangkumannya dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?” tanya seorang siswa sebelum kegiatan literasi berakhir.

“Basa Jawa,” kata Bu Guru sambil tersenyum. 

“Wahhh..,” keluh siswa. 

“Sulit, Bu.., sambung yang lain.

“Ora opo-opo.., ngoko wae,” jawab Bu Guru lagi.

Pertanyaan dari siswa, Dokumentasi Pribadi

Kami para pendamping literasi tertawa. Merangkum dengan menggunakan Bahasa Indonesia saja kadang sulit apalagi  Bahasa Jawa. Tapi setidaknya melalui kegiatan ini kami mengajak siswa untuk “nguri-uri Basa Jawa”, teriring harapan mudah-mudahan wong Jawa ora nganti lali Jawane.

Arti istilah:

Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina Iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng : selamat pagi anak anak, hari ini literasi Bahasa Jawa diisi dengan nonton film bareng

Ngoko : bahasa Jawa biasa, bukan yang halus

Nguri-uri Basa Jawa : melestarikan Bahasa Jawa

Wong Jawa ora nganti lali Jawane : Orang Jawa tidak melupakan adat Jawa.

Dari Mobil BYD hingga Hangatnya Silaturahmi di Pawon Ratu Roso

Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat lima menit. Baru saja kami menyelesaikan kewajiban kami di akhir pekan yaitu finger pulang pukul 14.00 wib.

Jumat ini kami tidak langsung pulang sesuai rencana kami akan bersama sama menuju Pawon Ratu Roso untuk sebuah acara silaturahmi dan pembubaran beberapa panitia kegiatan.

“Grab saja ya?” tanya teman saya yang merupakan pelanggan setia kendaraan moda daring ini. Kami namakan teman ini artis Grab karena tiada hari tanpa nge grab,  alias setiap hari pulang pergi dari rumah ke sekolah beliau selalu naik Grab.

“Iya, ayo ngegrab saja,” jawab kami. Meski banyak di antara kami yang membawa sepeda motor, tapi untuk menjelajah daerah baru kami tidak berani bersepeda. Ya, dari pada kesasar.

Setelah pemesanan dilakukan kamipun mendapatkan driver. Dan menurut aplikasi driver akan datang sekitar 7 menit. Suasana depan sekolah yang crowded karena banyaknya penjemput membuat kami tidak begitu peduli pada jenis mobil apa yang akan menjemput kami. Yang penting ada, begitu seperti biasanya.

“Nomor berapa Bu?” tanya saya.

Teman saya menyebut sebuah nomor. Tumben plat L , pikir saya.

Tak berapa lama mobilpun datang. Platnya persis yang disebutkan teman tadi dan karena banyak sekali kendaraan di depan sekolah akhirnya mobil berhenti agak jauh dari pintu gerbang.

Bergegas kami menuju titik yang diinfokan. Dan taraa…, sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggu kami. BYD, mobil listrik baru yang begitu cantik. Aha… sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Bayangkan selama bertahun- tahun menjadi pengguna angkutan moda daring, kami sama sekali belum pernah mendapat mobil listrik seperti ini.

Di dalam mobil BYD, dokumentasi Ahfi

“Permisi ya, Pak, ” ucap kami berempat sambil memasuki mobil. Drivernya sangat ramah, dan mempersilakan kami duduk.

“Wah, mantap ini Pak. Tumben juga kami dapat BYD,” kata teman kami senang.

Drivernya tersenyum ramah. Pak Slamet namanya. Rupanya Pak Slamet baru saja membawa penumpang dari Surabaya ke Malang, dan nyantol di aplikasi kami.

Mobilpun melaju. Aih.., anteng sekali rasanya. Mungkin karena pengalaman pertama naik mobil listrik, kami jadi begitu antusias. Berbeda dengan mobil biasa, naik mobil ini memang terasa lebih anteng.

Sekilas tentang BYD

Dari atap mobil kita bisa melihat pepohonan di luar, dokumentasi pribadi

BYD (Build Your Dreams) adalah perusahaan teknologi multinasional asal Tiongkok yang menjadi salah satu produsen kendaraan listrik dan baterai terbesar di dunia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1994 di Shenzhen, Tiongkok, dan berfokus pada solusi energi terbarukan serta transportasi tanpa emisi.

Meski baru masuk di Indonesia tahun 2024 mobil ini mengalami lonjakan penjualan yang luar biasa pesat. Hingga pertengahan 2026, BYD menguasai sekitar 35% hingga 40% pangsa pasar mobil listrik di Indonesia.

Berbagai komentar muncul dari kami berempat, dan suasana makin heboh ketika Pak Slamet sang driver membukakan penutup bagian atas mobil sehingga kap atas yang ada di atas berupa kaca  sehingga sinar matahari bisa masuk dan kami bisa melihat pepohonan lewat kaca atap mobil.

“Wuiiih, mantap…,” kata kami sedikit norak. Layaknya emak-emak kamipun berfoto mengabadikan pengalaman ini.

“Kalau nanti turunnya mau buat konten silakan, ibu-ibu biasanya kalau naik mobil saya ngonten juga,” kata Pak Slamet sambil tertawa. Waduh… Jadi malu. He..he…

Perjalanan dari sekolah hingga Araya terasa begitu singkat. Hingga akhirnya sampailah kami di halaman Pawon Ratu Roso. 

Suasana Pawon Ratu Roso yang asri dan lawas terasa begitu sejuk. Selain tempat makan di sini juga disediakan resort, tempat bermain dan persewaan kuda. Beberapa pengunjung tampak berfoto di sekitar area Pawon Ratu Roso.

Kami segera turun dan bergabung dengan teman- teman untuk mengikuti acara hari itu. 

Acara yang berlangsung kira- kira 1,5 jam diisi dengan pembubaran panitia HUT, Purnawiyata sekaligus kokurikuler, dan dilanjutkan dengan makan dan saling melempar tebak- tebakan berhadiah. 

Hangatnya suasana makan bersama, dokumentasi pribadi

Sedapnya sayur asem, bakwan jagung, tempe goreng, sambal dan pepes menjadi penghangat silaturahmi di sore itu.

Suasana kian hangat ketika tiap perwakilan dari MGMP harus memberikan pertanyaan pada para hadirin. Peserta yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapat hadiah. 

Tebak- tebakan berhadiah, dokumentasi pribadi

Namanya saja tebak- tebakan. Pertanyaan yang diberikan kadang nyambung, kadang juga tidak. Yang penting seru.

Di bagian luar Pawon Ratu Roso, dokumentasi Ahfi

Sekitar jam setengah lima acara segera diakhiri. Pawon Ratu Roso mulai bersiap- siap untuk tutup. Ya, tempat makan ini ditutup pukul 17.00.

Satu demi satu kami meninggalkan Ratu Roso dengan segala ceritanya. 

Perjalanan sore itu memberikan pelajaran pada kami bahwa kebahagiaan sering datang dalam kemasan yang tak terduga. Seperti BYD dengan atap kacanya yang membuat kami bisa melihat pepohonan di atas tatkala mobil berjalan, juga keramahan Pak Slamet yang memperbolehkan kami sedikit heboh di dalam kendaraan.

Gayeng, dokumentasi pribadi

Tapi di atas semuanya hari itu kami juga belajar bahwa segala macam kepanitiaan bisa dibubarkan, tapi semangat silaturahmi dan kebersamaan akan selalu terpatri di hati kami.

Salam jalan-jalan 😊