Sebuah layar besar berukuran 75 inci terpampang di depan ruang kelas. Guru menyentuh ‘tombol’ tertentu dan sebuah tayangan tampil di layar tersebut.
Tayangan gambar untuk pertanyaan pemantik pembelajaran hari itu.
Siswa tampak begitu antusias. Serasa menonton layar lebar. Beberapa siswa memberikan komentar, dan beberapa saat kemudian layar berubah fungsi menjadi papan tulis, dan dengan menggunakan stylus pen guru mulai menulis dan menerangkan sebuah materi.
Di atas adalah gambaran suasana pembelajaran dengan menggunakan IFP yang dilaksanakan di sekolah. Ya, sekitar tiga bulan yang lalu sekolah kami mendapatkan bantuan IFP dari pemerintah.
Apakah IFP itu?

IFP (Interactive Flat Panel) adalah perangkat layar sentuh digital interaktif berukuran besar (all-in-one) yang menggabungkan fungsi monitor, proyektor, papan tulis, dan komputer.
Bantuan Interactive Flat Panel (IFP) atau “Smart Board” 75 inci adalah program digitalisasi pendidikan pemerintah tahun 2025 (Inpres No. 7/2025) untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Ada 288.865 unit didistribusikan ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif.
Penggunaan IFP dalam pembelajaran memungkinkan pembelajaran yang lebih menarik, variatif juga interaktif.
Berbagai simulasi atau pembelajaran interaktif bisa dibuat.
Sebagai contoh, saat pembelajaran matematika Persamaan Linier Satu Variabel, guru bisa membuat simulasi persamaan yang ekivalen dalam bentuk neraca dengan beban tertentu. Secara bergantian siswa diminta maju ke depan untuk memindahkan beban yang ada dan membuat posisi neraca dalam keadaan yang setimbang. Posisi neraca yang setimbang adalah ilustrasi untuk persamaan yang ekivalen (ruas kanan dan kiri sama).
Masih dalam pembelajaran matematika, siswa bahkan bisa ‘battle’, adu cepat dalam mencari penyelesaian sebuah persamaan dengan temannya.

Demikian juga saat pembelajaran Bahasa Indonesia yang membahas materi iklan, guru bisa menayangkan berbagai contoh iklan yang sudah disiapkan sebelumnya lalu mengajak siswa bersama- sama membuat iklan dengan menggunakan aplikasi tertentu.

“Seru,”
” Mirip HP, hanya saja bentuknya lebih besar, ” komentar beberapa siswa senang.
Tentu saja. Pemakaian IFP mirip sekali dengan penggunaan gadget, benda yang sangat akrab bagi siswa.
Hadirnya IFP di sekolah membawa nuansa baru dalam pembelajaran di sekolah. Guru- guru dituntut untuk belajar menggunakannya termasuk membuat rancangan pembelajaran yang menarik dengan menggunakan IFP . Agar semua guru bisa melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan IFP, maka dibuat jadwal untuk mengatur penggunaan ya.
Lalu apa peran guru agar pembelajaran dengan menggunakan IFP bisa maksimal?
1. Sebagai fasilitator dan pemantap.

IFP memang bisa menampilkan video, diagram 3D, atau kuis interaktif yang memantik rasa ingin tahu, meski demikian, gurulah yang harus mengambil alih untuk memantapkan konsep. Misalnya, setelah menampilkan simulasi tentang neraca yang setimbang untuk persamaan linier satu variabel guru bertanya, “Nah, dari ilustrasi ini, menurut kalian apakah persamaan yang ekivalen itu?”
2. Guru sebagai sumber kehangatan dan empati.
Meskipun canggih, IFP tidak akan bisa memeluk siswa yang sedang sedih, menangkap keraguan di mata siswa, termasuk juga memberikan senyum tulus saat seorang anak berhasil menjawab pertanyaan sulit.
Interaksi hangat seperti menepuk pundak, kontak mata, dan mendengarkan cerita siswa adalah ranah eksklusif yang tidak boleh diabaikan guru.
3. Pengendali dinamika kelas.
IFP bisa membuat siswa antusias, bahkan mungkin terlalu antusias. Di sini guru berperan penting untuk mengatur ritme pembelajaran . Tentang kapan harus fokus ke IFP, kapan diskusi kelompok, dan kapan harus hening sejenak untuk refleksi.
Akhirnya hadirnya IFP bisa membuat pembelajaran di sekolah lebih menarik jika kita bisa menggunakannya dengan tepat.
IFP hanyalah alat yang membantu pelaksanaan pembelajaran. Alur jalannya pembelajaran dan kebermaknaannya tetap tergantung pada peran guru di dalam kelas.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah IFP dirancang untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Guru bukan “operator” IFP yang terus fokus menekan-nempel layar sepanjang waktu, sehingga interaksi hangat dan pembelajaran bermakna hilang.
Bisa diibaratkan, IFP adalah jendela ajaib yang bisa membawa dunia ke dalam kelas, tetapi gurulah yang tetap menjadi pemandu wisata yang hangat, penuh perhatian, dan memastikan semua siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna dari “perjalanan” belajar tersebut.
Salam Edukasi




















