Drama Cacar Air : Dari Puskesmas Hingga ke UGD

Libur semester genap yang baru saja berlalu menyisakan cerita yang tak terlupakan bagi kami.  Betapa tidak? Liburan yang kami rencanakan untuk diisi dengan jalan-jalan, cari inspirasi tulisan, mencoba Transjatim, berubah total karena ulah virus yang tiba-tiba merusak semua rencana. 

Ya, cangkrang atau cacar air tiba- tiba datang menyapa. Cacar air yang tidak bisa dianggap remeh meski menurut berbagai sumber cacar air ini adalah penyakit yang nantinya bisa sembuh sendiri 

Kejadian bermula ketika menjelang liburan saya sering merasakan agak demam di malam hari. Seperti agak nggreges begitu, tapi segera hilang ketika minum parasetamol atau dipakai tidur. Mungkin kecapekan, pikir saya. Jelang libur adalah saat rapotan dan kegiatan kokurikuler. Kesibukan benar- benar luar biasa dan rasa demam tiap malam hari saya abaikan dan esok harinya kembali beraktivitas.

Begitu rapotan selesai datanglah si cangkrang. Mula-mula saya tahu dari dua bintik berisi air yang muncul di lengan atas. Itupun tahunya tidak sengaja ketika mengenakan mukenah mau sholat Subuh.

Lho, kok ada semacam cangkrang ya? pikir saya heran. Padahal saya sudah pernah kena? Kata orang orang kalau sudah pernah kena cangkrang tidak akan pernah kena lagi? Tapi anehnya badan saya tidak panas alias normal saja suhunya.

Khawatir bintiknya bertambah banyak, agak siang sayapun ke Puskesmas.

Setelah diperiksa dan ditanya-tanya sebentar, akhirnya dinyatakan bahwa saya terkena cacar air dan  diberi obat dengan takaran yang unik. Acyclovir diminum 5×2, ibuptofen jika terasa sakit, vitamin sehari satu kali, dan acyclovir salep untuk obat luar.

Sekilas Tentang Cacar Air

Anak terkena cacar air, sumber gambar: Alodoc

Penyakit cacar air (varicella) adalah infeksi virus sangat menular yang disebabkan oleh Varicella zoster. Penyakit ini memicu ruam berupa bintil kemerahan yang berisi cairan dan terasa sangat gatal di sekujur tubuh.

Apakah orang yang sudah pernah cacar air bisa terkena lagi? Menurut Alodokter meski kemungkinannya kecil ternyata bisa. Beberapa penyebabnya adalah karena infeksi pertama terlalu ringan, terkena cacar air waktu bayi juga karena imunitas tubuh yang turun.

Saya agak heran dengan dosis acyclovir ini. 5×2, berarti saya harus minum 10 obat satu hari. Subhanallah.., buanyak sekali.

Tapi syukurlah dengan minum obat teratur cangkrang tidak muncul lagi, dan dua bintik yang ada di lengan yang sempat terasa sakit sudah hilang pula.

Selesai? Ternyata belum.

Beberapa hari kemudian ganti anak saya yang kena. Kali ini ditandai dengan demam yang tidak begitu tinggi tapi selalu muncul jelang malam hari.

“Kalau masih panas, besok kita bawa ke Puskesmas,” kata saya. Saat itu ia demam di hari kedua.

Karena paginya masih demam, sesuai rencana jam 9 an kami akan ke puskesmas. Jelang keberangkatan ke Puskesmas tiba- tiba saya melihat ada beberapa bintik berisi air di daerah lehernya.

“Lho, ini cangkrang Le,” kata saya. 

“Ketularan ibuk, ini,” tambah saya.

Bergegas hari itu kami berangkat ke Puskesmas dan mendapat obat yang sama. Acyclovir, Ibuprofen dan vitamin. Hanya yang membedakan kali ini dosis acyclovirnya 4×1.

“Lho, dosisnya kok beda ya?” tanya anak saya heran. 

“Iya ya? Mungkin kondisi tubuhmu dianggap lebih kuat jadi obatnya cukup sedikit saja,” kata saya mereka- reka.

Acyclovir dan obat tetes mata, dokumentasi pribadi

“Apa kita tanyakan saja?” ajak saya

“Tidak usah Buk, biar saja,” jawab anak saya. Mungkin karena demam dan pusing dia enggan masuk kembali ke ruang periksa guna bertanya ke dokter. 

Singkat kata sejak hari itu obat diminum empat kali sehari dan byur…. cangkrangpun bermunculan. Banyak sekali terutama di daerah punggung, perut dan wajah.

“Kok buanyak ya?Jangan jangan obatnya kurang ..?” tanya anak saya khawatir.

Saya yang sudah pernah dua kali kena cangkrang tidak begitu panik. 

“Mungkin keluar dulu semua, lalu pelan- pelan habis Le..,” jawab saya menenangkan.

Suatu sore tiba- tiba anak saya merasakan matanya pedih seperti kelilipan. Matanya terus berair. Saya segera menyodorkan tisu.

“Hati hati, kalau menghapus, jangan sampai air cangkrang  kena mata,” kata saya mengingatkan. Ya, hal yang membuat kami khawatir adalah beberapa bintik cangkrang muncul di sekitar mata.

Apakah keluarnya air mata adalah efek dari cacar air? Apa langkah yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kami pun browsing. Dan ternyata ada informasi yang menakutkan yang kami dapatkan dari browsing ini.

Acyclovir salep, dokumentasi pribadi

Dalam artikel yang kami baca dijelaskan bahwa cacar air yang mengenai area mata sangat berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Jika virus menyerang mata, risikonya meliputi infeksi kornea, peradangan saraf mata (Herpes Zoster Oftalmikus) hingga  kerusakan jaringan permanen.

Ya Allah, ngeri rasanya. Penyakit yang mulanya kami anggap ringan’ ternyata menyimpan akibat yang mengerikan.

” Kita  ke dokter saja ya?” tawar saya demi melihat anak saya yang semakin cemas. Ya, daripada kami mereka reka sendiri, browsing ke mana-mana, lebih baik tanya pada ahlinya.

Anak saya langsung setuju. Untungnya di sekitar rumah ada dokter praktek. Singkat kata kami datang ke dokter sore itu.

Dari dialog sekaligus pemeriksaan akhirnya kami diberi resep yang isinya acyclovir dan vitamin. Bedanya acyclovir di sini dosisnya dinaikkan sedikit.

Sesampai di rumah hati terasa lebih lega, sebab tadi diterangkan dokter bahwa proses penyembuhan cacar air ini rata- rata tujuh hari, dan ini masih hari ke empat.

Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Jelang Maghrib tiba-tiba mata anak saya berair lagi. “Kok pedes ya..,” katanya takut.

Saya segera telpon ke dokter menanyakan kalau matanya terus berair bagaimana

“Dibawa ke spesialis mata saja Bu,” jawab dokter singkat. Deg…,  kekhawatiran kembali datang. Setelah diskusi sebentar tanpa menunggu lama kami segera ke UGD RS  yang tak jauh dari rumah saya.

Sesampai di sana ternyata dokter spesialis mata tidak ada (praktiknya sudah selesai) dan kami disarankan untuk ke dokter umum yang juga ada di RS saja. Kami setuju. Ya, daripada kami pulang ‘tidak membawa apa- apa’ dan hati yang luar biasa cemas.

Di dokter umum anak saya segera diperiksa termasuk juga daerah mata dan sekitarnya

“Aman kok Mas, tidak apa-apa. Hanya memang cacarnya banyak sekali. Sudah minum obat apa?” 

“Acyclovir dokter, 4×1,” jawab anak saya.

“Lha, cuma 4×1? Tidak ‘ngaruh’ itu,” kata dokter tersebut sambil menuliskan resep acyclovir 5 x 2, ditambah dengan obat tetes mata. Lha, sama dengan dosis saya kemarin, pikir saya. 

Obat segera ditebus, dan kami bergegas pulang. 

Hati lebih tenang  dan mulai malam itu anak saya minum obat dengan dosis yang baru yaitu 5×2. Subhanallah, sesudah dua kali minum obat, dia bisa lebih tenang, tidur bisa enak dan mata tidak mbrebes lagi. Sebelumnya karena bintik- bintik terus keluar dia mengeluh badannya sakit semua. 

Dua hari berikutnya bintik- bintik mulai mengering, mengecil dan sampai  obat habis bintik bintik tinggal menyisakan bekas- bekasnya.

Lega sekali rasanya. Sungguh, seminggu terakhir liburan yang luar biasa. Benar-benar cacar air telah menciptakan drama. Pelajaran penting yang bisa kami dapatkan adalah jangan pernah menyepelekan penyakit. Terbukti dari cacar air yang mulanya kami anggap ‘ringan’ ternyata bisa menciptakan drama kecemasan hingga sampai  membawa kami berkunjung ke UGD.

Sekedar berbagi cerita , salam sehat 😊

Artikel ini dimuat di Kompas.com :

https://katanetizen.kompas.com/read/2026/07/24/220028785/liburan-yang-tak-terlupakan-karena-cacar-air?utm_source=Various&utm_medium=Referral&utm_campaign=traffic_share-ae2a5c764ad904293952289c51b35871

Romantika Sepak Bola, dari Penyemangat Hingga Gol Bunuh Diri

Bola selalu mempunyai magnet tersendiri apalagi bagi anak laki laki. Ya, tiga anak laki laki saya adalah penggemar bola. Jelas ini adalah warisan bapaknya yang juga pecandu bola.

Masih jelas dalam ingatan saya betapa tertariknya anak-anak dengan bola. Setiap pulang mengaji mereka  selalu mencermati tabloid BOLA atau Tribun. Lebih-lebih yang baru terbit. 

Liga Italia yang menjadi rubrik kesukaan mereka. Diskusi tentang liga Italia dan Inggris seolah tidak ada habis-habisnya. Hingga meski saya sendiri  tidak begitu faham dengan dunia mereka paling tidak saya  bisa mengenal nama nama Alessandro Nesta, Maldini, Filippo Inzaghi, Del Piero, Zinedine Zidane, Lilian Thuram dan banyak lagi.

Nama nama itu tiap hari berseliweran dalam diskusi anak anak dengan ayahnya. Padahal mereka saat itu masih duduk di SD dan TK.

“Semalam Inter menang berapa?”

“Wah, golnya Vieri bagus ya, Ba?”

“Juventus menang berapa?” atau

“Club apa yang terdegradasi?”

Kalimat- kalimat seperti itu yang muncul dalam diskusi yang hangat setiap hari.Ā 

Tabloid BOLA, sumber gambar: superwaw

Diskusi selalu berjalan seru. Saya dan anak saya yang perempuan sering senyum sendiri ataupun geleng-geleng kepala . Bayangkan, kami tidak ngerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Seolah kami hidup di planet yang berbeda. He..he..

Bola Sebagai Penyemangat

Anak anak bermain bal Balan, sumber gambar: Kompas.id

Saat itu bermain bal-balan adalah hal wajib yang dilakukan anak-anak di kampung tiap sore hari, termasuk juga anak-anak saya. Dengan bola plastik mereka beraksi di gang yang tiba tiba jadi arena bal-balan. Dua anak jadi kiper dan yang lain jadi penyerang.

Suasana bermain selalu seru dan menyenangkan. Teriakan- teriakan muncul saat gol berhasil dibuat. Kadang-kadang teriakan itu membuat tetangga marah karena terlalu bising.

Satu akibat dari asyiknya main bal-balan ini ternyata anak-anak jadi agak enggan berangkat mengaji atau belajar.

Ada saja alasan untuk tidak mengaji atau belajar. Alhasil mereka baru bisa bubar dengan sedikit paksaan. Setelah terpaksa bubar mereka akan pergi mengaji ke masjid terdekat.

“Ibuk, kenapa kita harus sekolah?”

tanya anak saya suatu saat.

“Ya supaya pintar,” jawab saya sambil menahan senyum. Mengapa? Pertanyaan yang sama selalu diulang terutama saat ia akan berangkat ke sekolah.

“Lha kan nanti malam di rumah belajar juga sama Ibuk? Kok di rumah belajar, di sekolah belajar? Jadinya belajar terus?” katanya.

“Ya iyalah, biar pintar,” jawab saya lagi.

“Aku kan kepingin jadi pemain bola? Kenapa aku harus terus belajar?”kejarnya

“Eh, tahu tidak, banyak pemain bola yang sekolahnya pintar lho,” kata saya sambil menyebutkan satu persatu nama pemain bola yang sekolahnya juga bagus seperti Lampard, Lilian Thuram dan lain lain. 

Anak saya agak heran mendengar cerita saya. Eh, ternyata para pemain sepak bola itu tidak hanya latihan bola saja, tapi mereka harus sekolah juga. Mungkin seperti itu yang tersirat dalam benaknya.

Sejak saat itu anak saya semakin rajin sekolah dengan harapan bisa pintar seperti idola-idola sepak bolanya. Drama jelang sekolah atau jelang mengaji semakin berkurang.  Semua lancar, dan tentu saja main bal-balan semakin lancar.

Pak Toib dan Gol Bunuh DiriĀ 

Sumber gambar: hypeabis

Kegemaran akan bola ternyata bukan hanya melanda anak-anak, tapi orang dewasa juga. Hanya bedanya jika anak-anak bisa langsung beraksi dengan bermain bola, orang dewasa cukup menonton bola.

Ada sebuah cerita lucu yang sampai saat ini selalu saya ingat. Meski sudah lama kejadiannya, tapi setiap mengingat cerita ini saya selalu tersenyum sendiri.

 Adalah seorang tetangga saya yang bernama Pak Toib. Pak Toib mempunyai hobbi menonton bola, sekaligus pengamat bola yang setia.

Berbagai macam liga ia ikuti beritanya. Ia juga hafal macam-macam kesebelasan, sekaligus para pemain juga rangking masing masing tim yang ada di liga.

Mengamati Klasemen sepak bola yang ada di koran jangan ditanya lagi. Itu adalah makanannya sehari-hari. Rasanya tiada hari tanpa mengamati pergerakan rangking kesebelasan favoritnya.

Suatu saat kesebelasan favorit Pak Toib akan berlaga di final yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun TV pada malam hari. Karena tidak punya televisi, ia minta izin pada Pak Dulah tetangganya untuk menonton TV di malam hari itu.

“Monggo nonton sendiri ya Pak Toib, saya besok pagi ada acara, tidak bisa ikut menemani,” kata Pak Dulah.

“Siap Mas, tidak apa- apa saya nonton sendiri , nanti kalau selesai saya pamitan ya,” jawab Pak Toib senang.

Malam hari sekitar jam sepuluh Pak Toib sudah siap di depan TV di rumah Pak Dulah. Sebungkus kacang rebus sudah dibawa dari rumah, sementara segelas kopi disediakan Pak Dulah sebagai penyemangat.

“Walah, tidak usah repot-repot Mas,” kata Pak Toib sungkan.

“Ah, mboten nopo, biar semangat,” kata Pak Dulah sambil meraih bantal.

“Tak tinggal tidur ya, Mas,” 

“Monggo,” jawab Pak Toib.

Pertandinganpun dimulai. Seiring Pak Toib yang begitu serius mengikuti bola yang terus bergulir, Pak Dulah semakin tenggelam dalam mimpi. Kerja seharian benar- benar membuat badannya lelah sehingga tidurnya terasa begitu nyenyak.

Hingga suatu saat… 

“Waaah, bunuh diri..!” Pak Toib berteriak keras sekali diiringi suara sorak sorai di televisi. Pak Dulah langsung bangun.

“Sinten? Sinten bunuh diri, Mas?” teriak Pak Dulah kaget.

“Kesebelasan kulo bunuh diri..,” kata Pak Toib lemas. Wajahnya tampak begitu sedih. Rupanya kesebelasan kesayangan Pak Toib memasukkan bola ke gawangnya sendiri.

Pak Dulah terperangah. Jadi ini tadi urusan bola toh? pikirnya. Rasa kaget, jengkel sekaligus lucu campur aduk dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk.

“Pak Dulah? Mboten nopo-nopo?” tanya seseorang. Walah, Pak RT.

Rupanya ada tetangga yang lapor pada Pak RT karena mendengar terialan Pak Toib tadi.

“Aman Pak RT, mboten nopo-nopo,” jawab Pak Dulah sambil membukakan pintu lalu menutupnya lagi sepeninggal Pak RT.

Sepuluh menit kemudian Pak Toib pun berpamitan. Kedudukan tetap. Tim kesayangannya kalah. Padahal mereka bermain bagus dan bisa mempertahankan kedudukan imbang hampir di sepanjang 45 menit babak kedua.

Dengan wajah kuyu Pak Toib meninggalkan rumah Pak Dulah yang tak lama kemudian menjadi gelap karena lampunya dimatikan.

Begitulah romantika sepak bola yang sampai sekarang masih saya ingat. Lebih dari sekadar olahraga, bola telah menjadi perekat yang hangat bagi keluarga kami—menghadirkan tawa, diskusi seru, bahkan drama kecil yang lucu untuk dikenang. 

Dari anak-anak yang bersemangat mencari ilmu demi menjadi pemain hebat, hingga Pak Toib yang dengan polosnya membuat satu kampung terjaga karena “gol bunuh diri” tim kesayangannya. Ya, meski saya sendiri tidak begitu paham tentang bola, tapi semua itu adalah bagian dari kenangan manis yang tak tergantikan. 

Superwaw

Hypeabis

Kompas.id

SMP Negeri 3 Malang Raih Juara Umum dalam Airlangga Scout CompetitionĀ 2026

Di bulan Juli ini Pramuka Bintaraloka kembali meraih sebuah prestasi yang membanggakan. Ya, gelar Juara Umum mereka raih dalam Airlangga Scout Competition yang diadakan pada tanggal 18-19 Juli di Kampus C Universitas Airlangga, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Surabaya.

Airlangga Scout Competition (ASC) adalah ajang lomba pramuka tingkat nasional untuk golongan Penggalang and Penegak. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pramuka Universitas Airlangga Gugus Depan Kota Surabaya 09.622-09.623.

Dalam acara ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan 2 regu, masing-masing 1 regu putra (Barakuda) dan 1 regu putri (Cempaka) dimana tiap regu berisi sepuluh orang.

Penghargaan juara Dance Semaphore , salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Lomba yang diadakan dalam event ini adalah Sandi Morse Semaphore, pioneering, PUPP (Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Pramuka), hasta karya, dance semaphore (Lomba pangkalan), yel-yel (Lomba pangkalan). Yang dimaksud dengan lomba pangkalan adalah lomba gabungan dari regu putra dan putri yangĀ  terdiri dari 5 putra dan 5 putri untuk tiap bidang lomba pangkalan.

Penghargaan lomba Hasta Karya Putri, salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Nah, apa yang diperoleh Barakuda Cempaka dalam event ini? Tidak tanggung-tanggung berbagai gelar juara disabet oleh Pramuka kebanggaan Bintaraloka ini dengan rincian sebagai berikut:

– Juara Umum

– Juara Utama 1 Putra

– Juara 1 PUPP Putra 

– Juara 2 Pioneering Putra 

– Juara Harapan 3 Pionering Putri

– Juara 3 Sandi Morse Semaphore Putra 

– Juara Harapan 3 Sandi Morse Semaphore Putri

– Juara Harapan 2 Hasta Karya Putra

– Juara Harapan 3 Hasta Karya Putri

– Juara 3 Dance Semaphore 

– Juara 2 Yel-yel

“Lomba ini seru karena banyak pangkalan yang mengikuti dan adalah lomba berskala nasional, lomba ini juga memberikan tantangan baru terutama di mata bidang Pioneering dan Sandi Morse Semafor, ” ungkap Hagi salah satu peserta lomba.

Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang

Bintaraloka raih berbagai kejuaraan dalam Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka

Pendamping yang berasal dari alumni  juga pembina yang selalu memberikan semangat pada peserta mempunyai kontribusi yang besar sehingga prestasi luar biasa ini bisa diraih.

Akhirnya selamat pada Pramuka Bintaraloka, semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang. Salam Pramuka 😊

Ketika Waktu Serasa Diputar Ulang di Kampoeng Heritage KajoetanganĀ 

Sebuah pagi di Kayutangan. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Suasana tidak begitu ramai, beberapa toko masih belum buka, sementara yang lain sedang bersiap- siap menerima pengunjung.

Bertiga, saya dan dua orang keponakan berjalan di sepanjang jalan Kayutangan sambil menikmati segarnya udara pagi. 

“Ke Kampung Heritage ya?” ajak saya.

“Siyap…,” jawab keponakan-keponakan cantik ini. Ya, dalam dua hari mereka ada tugas ke UM dan menginap di rumah saya. Rencananya siang nanti akan balik, dan sebelum berangkat ke stasiun mereka saya ajak jalan- jalan ke Kayutangan Heritage.

Kami terus berjalan memasuki gerbang  Kampoeng Heritage. Dinginnya bediding tidak mengurangi semangat kami.

“Monggo..,”

Deretan pedagang yang berjajar di sebelah kanan jalan menyapa ramah. Ada berbagai macam makanan dan cinderamata yang dijual.

Di sebuah pos kecil kami membayar tiket masuk dan sebagai gantinya kami mendapat tiga buah postcard tanda masuk dengan gambar foto bangunan di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Loket pembayaran tiket, dokumentasi Tya
Tiket tanda masuk, dokumentasi pribadi

“Bangunan ini nanti bisa dicari di dalam kampung, Bu,” kata si Bapak ramah sambil menunjukkan foto ukuran postcard.

Tiket masuk ke sini terbilang murah yaitu Rp5000,00 per orang.

Tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan

Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kawasan cagar budaya di Kota Malang yang diresmikan sebagai destinasi wisata pada 22 April 2018. 

Kampung ini berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmad Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Malang.

Siap menjelajah Kampoeng Heritage Kajooetangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu pemukiman tua di Kota Malang, kampung ini ada sejak zaman kolonial dan diperkirakan memiliki akar sejak abad ke 13. Karenanya kampung Kajoetangan adalah saksi perjalanan sejarah dan berbagai perubahan yang ada di Kota Malang 

Di Kampoeng Kajoetangan kita bisa melihat  perpaduan bangunan rumah perkampungan khas Indonesia yang berdampingan dengan bangunan bernuansa kolonial yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hal yang sangat unik karena bukan hanya menunjukkan estetika, tapi juga bukti adanya  adaptasi budaya yang sudah berjalan dari masa ke masa.

Bertiga kami terus berjalan. Beberapa orang menyapa ramah. Menurut bapak yang menjual tiket,  pengunjung kawasan ini selalu banyak. Selain ingin menikmati suasana perkampungan, banyak pengunjung yang melakukan selfie karena perpaduan tempat tinggal dan gerai-gerai kopi menciptakan tempat-tempat foto yang menarik.

Ah ya, di sebuah spot foto, saya menemukan Radio Siegfried. Radio besar buatan Jerman di era 1950-1960 dan  pernah menjadi radio kebanggan keluarga kami.

Bertemu radio Siegfried , dokumentasi pribadi Tya

Menurut keterangan Kampoeng Kajoetangan ini memiliki 23 spot rumah yang bernuansa heritage. Bangunan tertua di sini dibangun tahun 1870 dengan arsitektur atap yang tinggi, jendela dan ventilasi yang besar menyesuaikan dengan daerah tropis.

Rumah 1870, sumber gambar: detik.com

Nuansa lawas sangat terasa dari bentuk pintu, jendela, lantai juga bagian atas rumah. Menurut pemiliknya sejak tahun 1870 rumah ini hanya mengalami satu kali renovasi yaitu ketika menambahkan satu kamar di bagian belakang dan pengecatan rumah.

Kembali kami berjalan.

Di depan rumah dengan cat hijau kami berhenti. Tulisan Hamur Mbah Ndut atau Rumah Mbah Ndut terpampang di bagian depannya, sementara di sebelah kiri ada kedai kopi cantik yang siap melayani pengunjung jika mau ngopi di tempat itu.

Kedai Hamur Mbah Ndut , dokumentasi pribadi

Menjelajah rumah Mbah Ndut membuat kita seakan terlempar ke masa lalu. Rumah yang dibangun tahun 1923 itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Bentuk pintu, jendela juga ubinnya yang berwarna kuning, ditambah dengan berbagai perabot lama, membuat suasana jadul sangat terasa. 

Suasana lawas makin kental dengan adanya  susunan barang pecah belah di lemari kaca. Benar-benar serasa bernostalgia. Zaman dulu lemari atau bupet yang berisikan barang pecah belah adalah hiasan yang ada di setiap rumah.

Lemari berisikan barang pecah belah, dokumentasi pribadi

Dari Hamur Mbah Ndut kami mampir ke rumah Nya’ Abbas Akub. 

Nya’ Abbas Akup adalah seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang bernada komedi dan fenomenal. Sebutlah Bing Slamet Koboi Cengeng, Ateng Minta Kawin dan banyak lagi.

Di rumah ini kita bisa melihat poster-poster film lawas karya Nya’ Abbas Akub yang  sangat booming di masanya, juga berbagai barang termasuk sepeda motor era tahun 70 an.

Sebuah sudut di rumah Nya’ Abbas Akub, dokumentasi Zifa

Sebelum pulang kami menyempatkan dulu untuk berfoto di sekitar sungai Kayutangan. Sebagai orang yang pernah tinggal di kawasan ini saya pernah merasakan meluapnya air sungai Kayutangan tatkala hujan deras. 

Bagusnya sekarang sudah dipasang dinding pembatas sungai yang memungkinkan air tidak meluber kemana- mana ketika hujan deras. Uniknya lagi dinding- dinding di sekitar sungai disulap menjadi tempat foto yang menarik dengan tambahan mural atau ornamen tertentu. Di sini juga terdapat kedai ice cream ‘de Lepen’. Lepen dalam bahasa Jawa artinya sungai. Jadi maksudnya kedai ice cream di dekat sungai. Aha… sangat kreatif.

Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan

De Lepen, kedai ice cream di dekat sungai, dokumentasi pribadi

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tak terasa sudah satu jam kami berputar- putar di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

“Capek?” goda saya pada keponakan-keponakan cantik.

“Mboten Bude,” 

Aih, meski berkeringat, wajah mereka masih tampak begitu bersemangat.

“Kereta berangkat jam berapa?” tanya saya

“Jam 11.45 , Bude,”

“Wah, ayo segera sarapan dan pulang. Jam 11 kalian harus sudah di stasiun,” 

Langkah kami percepat untuk keluar dari Kampoeng Heritage. Mencari sarapan, itu target berikutnya. Sesuai rencana pagi itu kami sarapan di warung soto yang tak jauh dari Kayutangan.

Kami terus berjalan. Kesibukan warga kian terasa. Warung dan kedai kopi makin banyak yang buka, demikian juga banyak ibu-ibu yang berangkat atau pulang dari pasar.

“Monggo, Bu,” sapa seorang ibu yang menjinjing belanjaan yang saya jawab dengan sebuah anggukan ramah.

Jalan-jalan, saling menyapa, juga menikmati nuansa lawas dari tempat tempat yang kami kunjungi sungguh membuat pagi kamiĀ  terasa hangat. Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan.

Salam jalan-jalan…😊

Ketika Hortensia Menyapa: Sebuah Perjalanan di Wisata Dusun Kuliner Batu

Pagi terasa begitu dingin. Meski jam sudah menunjukkan pukul delapan, tapi jaket tetap rapat kami kenakan. Ya, Malang di awal bulan Juli selalu menyajikan bedidingnya yang khas. 

Mobil kami terus berjalan membelah lalu lintas Batu yang lumayan ramai. Liburan sekolah. Tak heran jika banyak orang ke Batu untuk menikmati berbagai wahana wisata di sini.

Di sebuah jalan sempat terjadi antrean mobil yang panjang. Menurut informasi di sini baru saja dibuka wahana wisata baru, Mikutopia namanya. Hmm, Batu seolah tak henti berbenah. Ada saja wahana wisata yang ditawarkan untuk menarik para pengunjungnya.

“Wih, antreannya panjang ya,” celetuk seorang teman.

“Iya, wahananya bagus, kapan-kapan ke sini yuk,” jawab yang lain.

Mobil kami terus berjalan, dan memasuki sebuah pelataran parkir kamipun berhenti.

Membeli tiket masuk, dokumentasi pribadi

“Sudah sampai,” kata Mas Andre driver kami dengan ramah. Ada sebuah tulisan besar  Wisata Dusun Kuliner di pintu masuknya, sekaligus tulisan selamat datang dalam berbagai bahasa. Ahaa, perjalanan kami dimulai. Jelajah Wisata Dusun Kuliner Batu.

Bergegas kami menuju pintu masuk. Tempatnya asyik. Berlatar birunya  gunung, hamparan taman bunga, juga pepohonan dimana-mana, sungguh serasa sayang jika tidak diabadikan. Di sekitar pintu masuk ada banyak quotes bagus yang kadang lucu juga, hingga membuat kami senyum sendiri.

Quotes di pintu masuk, dokumentasi pribadi
Ucapan selamat datang dalam beberapa bahasa, dokumentasi pribadi

Setelah membeli tiket per orang dua puluh ribu rupiah kamipun masuk. Penjaga pintu memasangkan gelang di lengan kami sebagai tanda bahwa kami adalah pengunjung Wisata Dusun  Kuliner.

Sekilas tentang Wisata  Dusun Kuliner 

Gabungan wisata kuliner dan alam, dokumentasi pribadi

Berlokasi di Jalan Raya Batu, Cangar No. KM 9, Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur, 

Wisata Dusun Kuliner merupakan tempat wisata yang mengangkat tema kuliner namun menggabungkan wisata alam agar para pengunjung lebih mengenal lingkungan dengan cara yang lebih menarik.

Tempat wisata ini dibuka pertama kali pada tahun 2022. Ada banyak tempat kuliner yang dijual di semacam warung tempo dulu yang  diberi nama dengan nama gunung. Ada Omah Kawi, Omah Semeru , juga Omah Panderman. Masing- masing omah menyajikan aneka makanan yang bisa dinikmati oleh para pengunjung.

Omah Panderman , dokumentasi pribadi

Selain kuliner, menurut keterangan ada juga tempat pemancingan, area camping dan yang kami kunjungi saat itu adalah Omah Dolan. Area ini menyediakan area bermain anak-anak dengan pilihan permainan tradisional juga tempat lukis untuk anak. Ketika kami datang beberapa anak sudah tampak bermain di sana, dan semakin siang pengunjung semakin banyak.

Tempat melukis untuk anak anak, dokumentasi pribadi

Bunga, Bunga dan Bunga

Zinnia tersenyum ramah, dokumentasi pribadi

Satu daya tarik istimewa tempat ini adalah pemandangan yang begitu indah dan aneka tanaman bunga yang tertata cantik. Ada Zinnia yang menyapa dengan senyumnya yang cerah, cleome spinosa atau bunga laba-laba dengan warna pinknya yang begitu manis, bunga kenikir dengan warna oranye menyala dan tak ketinggalan  hamparan hortensia yang luar biasa indah.

Bunga laba-laba, dokumentasi Ahfi

Seseorang berjalan sambil membawa tiga bunga Hortensia berwarna ungu dalam ukuran besar. Rupanya bunga itu pesanan dari pengunjung.

Berpose bersama Hortensia , dokumentasi Ahfi

“Cantik sekali bunganya, Mbak?” sapa kami.

Mbak Chelsea namanya . Ia tersenyum. “Di sana ada banyak Bu, silakan pilih nanti akan saya potongkan,” katanya ramah.

Kami terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan Mbak Chelsea. Dan Subhanallah.., hamparan bunga hortensia seolah tersenyum menyambut kedatangan kami.

Hamparan Hortensia, dokumentasi pribadi

“Indah sekali,” kata kami hampir bersamaan. Sejauh mata memandang, kami dimanjakan dengan warna ungu hortensia yang begitu menawan.

Hamparan Hortensia 

Hortensia pink karena tanahnya bersifat basa, dokumentasi pribadi

Tanaman hortensia (Hydrangea macrophylla) adalah tanaman yang berasal dari wilayah Asia Timur dan Selatan, terutama dari negara Jepang dan Tiongkok.  Tanaman ini juga kita kenal dengan nama  kembang bokor. Hortensia ini tumbuh subur di daerah dataran tinggi dengan iklim sejuk dan lembap. 

 Satu bunga hortensia terdiri dari banyak kuntum bunga kecil kecil yang terangkum indah. Hydrangea berasal dari Bahasa Yunani yang artinya bejana air (hydra =air, angos = bejana). Ini bermakna bahwa bunga ini perlu air yang banyak untuk tumbuh dengan baik.

Satu hal yang menarik, warna bunga hortensia  berbeda beda sesuai pH tanahnya.  Semakin asam tanahnya, semakin biru warna hydrangea dan semakin basa, semakin pink warnanya.

Layaknya bahasa bunga, tiap warna memiliki makna. Hortensia pink melambangkan cinta dan ketulusan, biru melambangkan pengampunan, putih melambangkan kebanggaan, serta ungu melambangkan kelimpahan dan pengertian. 

“Mbak Chelsea, kami minta hortensianya tiga ya,” kata kami sambil melihat Mbak Chelsea yang sibuk memilih dan memotong bunga. Rupanya pagi itu banyak juga yang akan membeli hortensia atau buket bunga yang lain.

Flower bemo, dokumentasi Ahfi

Oh ya, ada Flower Bemo yang berisikan aneka bunga jika kita mau membeli bunga atau buketnya .

“Ini tahan berapa hari?” tanya kami sambil menerima bunga hortensia yang sudah dipotong. Tak lupa di bagian ujung batang diberi air dalam sebuah plastik supaya bunga tetap segar.

“Kira-kira satu minggu, Bu,” jawab Mbak Chelsea.

Setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi.Ā 

Setelah membayar harga yang ditentukan kami melanjutkan eksplor Wisata Dusun Kuliner ini. Sepanjang perjalanan pemandangan indah, tanaman bunga, tempat pembibitan bunga  serta spot- spot foto yang menarik benar- benar menyegarkan mata. 

Banyak Spot foto menarik, dokumentasi Ahfi

Ketika matahari semakin tinggi perlahan kami meninggalkan lokasi Wisata Dusun Kuliner. Dari pintu keluar kami langsung menuju tempat parkir. 

Tiga hortensia ungu kami dengan genggam erat. Hati kami terasa begitu hangat.  Bukan karena dingin pagi telah usai, tapi karena setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi. 

Salam jalan-jalan..😊