Ketika Waktu Serasa Diputar Ulang di Kampoeng Heritage Kajoetangan 

Sebuah pagi di Kayutangan. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Suasana tidak begitu ramai, beberapa toko masih belum buka, sementara yang lain sedang bersiap- siap menerima pengunjung.

Bertiga, saya dan dua orang keponakan berjalan di sepanjang jalan Kayutangan sambil menikmati segarnya udara pagi. 

“Ke Kampung Heritage ya?” ajak saya.

“Siyap…,” jawab keponakan-keponakan cantik ini. Ya, dalam dua hari mereka ada tugas ke UM dan menginap di rumah saya. Rencananya siang nanti akan balik, dan sebelum berangkat ke stasiun mereka saya ajak jalan- jalan ke Kayutangan Heritage.

Kami terus berjalan memasuki gerbang  Kampoeng Heritage. Dinginnya bediding tidak mengurangi semangat kami.

“Monggo..,”

Deretan pedagang yang berjajar di sebelah kanan jalan menyapa ramah. Ada berbagai macam makanan dan cinderamata yang dijual.

Di sebuah pos kecil kami membayar tiket masuk dan sebagai gantinya kami mendapat tiga buah postcard tanda masuk dengan gambar foto bangunan di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

Loket pembayaran tiket, dokumentasi Tya
Tiket tanda masuk, dokumentasi pribadi

“Bangunan ini nanti bisa dicari di dalam kampung, Bu,” kata si Bapak ramah sambil menunjukkan foto ukuran postcard.

Tiket masuk ke sini terbilang murah yaitu Rp5000,00 per orang.

Tentang Kampoeng Heritage Kajoetangan

Kampoeng Heritage Kajoetangan adalah kawasan cagar budaya di Kota Malang yang diresmikan sebagai destinasi wisata pada 22 April 2018. 

Kampung ini berlokasi di Jalan Jenderal Basuki Rahmad Gang 4, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Malang.

Siap menjelajah Kampoeng Heritage Kajooetangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu pemukiman tua di Kota Malang, kampung ini ada sejak zaman kolonial dan diperkirakan memiliki akar sejak abad ke 13. Karenanya kampung Kajoetangan adalah saksi perjalanan sejarah dan berbagai perubahan yang ada di Kota Malang 

Di Kampoeng Kajoetangan kita bisa melihat  perpaduan bangunan rumah perkampungan khas Indonesia yang berdampingan dengan bangunan bernuansa kolonial yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hal yang sangat unik karena bukan hanya menunjukkan estetika, tapi juga bukti adanya  adaptasi budaya yang sudah berjalan dari masa ke masa.

Bertiga kami terus berjalan. Beberapa orang menyapa ramah. Menurut bapak yang menjual tiket,  pengunjung kawasan ini selalu banyak. Selain ingin menikmati suasana perkampungan, banyak pengunjung yang melakukan selfie karena perpaduan tempat tinggal dan gerai-gerai kopi menciptakan tempat-tempat foto yang menarik.

Ah ya, di sebuah spot foto, saya menemukan Radio Siegfried. Radio besar buatan Jerman di era 1950-1960 dan  pernah menjadi radio kebanggan keluarga kami.

Bertemu radio Siegfried , dokumentasi pribadi Tya

Menurut keterangan Kampoeng Kajoetangan ini memiliki 23 spot rumah yang bernuansa heritage. Bangunan tertua di sini dibangun tahun 1870 dengan arsitektur atap yang tinggi, jendela dan ventilasi yang besar menyesuaikan dengan daerah tropis.

Rumah 1870, sumber gambar: detik.com

Nuansa lawas sangat terasa dari bentuk pintu, jendela, lantai juga bagian atas rumah. Menurut pemiliknya sejak tahun 1870 rumah ini hanya mengalami satu kali renovasi yaitu ketika menambahkan satu kamar di bagian belakang dan pengecatan rumah.

Kembali kami berjalan.

Di depan rumah dengan cat hijau kami berhenti. Tulisan Hamur Mbah Ndut atau Rumah Mbah Ndut terpampang di bagian depannya, sementara di sebelah kiri ada kedai kopi cantik yang siap melayani pengunjung jika mau ngopi di tempat itu.

Kedai Hamur Mbah Ndut , dokumentasi pribadi

Menjelajah rumah Mbah Ndut membuat kita seakan terlempar ke masa lalu. Rumah yang dibangun tahun 1923 itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Bentuk pintu, jendela juga ubinnya yang berwarna kuning, ditambah dengan berbagai perabot lama, membuat suasana jadul sangat terasa. 

Suasana lawas makin kental dengan adanya  susunan barang pecah belah di lemari kaca. Benar-benar serasa bernostalgia. Zaman dulu lemari atau bupet yang berisikan barang pecah belah adalah hiasan yang ada di setiap rumah.

Lemari berisikan barang pecah belah, dokumentasi pribadi

Dari Hamur Mbah Ndut kami mampir ke rumah Nya’ Abbas Akub. 

Nya’ Abbas Akup adalah seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang bernada komedi dan fenomenal. Sebutlah Bing Slamet Koboi Cengeng, Ateng Minta Kawin dan banyak lagi.

Di rumah ini kita bisa melihat poster-poster film lawas karya Nya’ Abbas Akub yang  sangat booming di masanya, juga berbagai barang termasuk sepeda motor era tahun 70 an.

Sebuah sudut di rumah Nya’ Abbas Akub, dokumentasi Zifa

Sebelum pulang kami menyempatkan dulu untuk berfoto di sekitar sungai Kayutangan. Sebagai orang yang pernah tinggal di kawasan ini saya pernah merasakan meluapnya air sungai Kayutangan tatkala hujan deras. 

Bagusnya sekarang sudah dipasang dinding pembatas sungai yang memungkinkan air tidak meluber kemana- mana ketika hujan deras. Uniknya lagi dinding- dinding di sekitar sungai disulap menjadi tempat foto yang menarik dengan tambahan mural atau ornamen tertentu. Di sini juga terdapat kedai ice cream ‘de Lepen’. Lepen dalam bahasa Jawa artinya sungai. Jadi maksudnya kedai ice cream di dekat sungai. Aha… sangat kreatif.

Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan

De Lepen, kedai ice cream di dekat sungai, dokumentasi pribadi

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tak terasa sudah satu jam kami berputar- putar di Kampoeng Heritage Kajoetangan.

“Capek?” goda saya pada keponakan-keponakan cantik.

“Mboten Bude,” 

Aih, meski berkeringat, wajah mereka masih tampak begitu bersemangat.

“Kereta berangkat jam berapa?” tanya saya

“Jam 11.45 , Bude,”

“Wah, ayo segera sarapan dan pulang. Jam 11 kalian harus sudah di stasiun,” 

Langkah kami percepat untuk keluar dari Kampoeng Heritage. Mencari sarapan, itu target berikutnya. Sesuai rencana pagi itu kami sarapan di warung soto yang tak jauh dari Kayutangan.

Kami terus berjalan. Kesibukan warga kian terasa. Warung dan kedai kopi makin banyak yang buka, demikian juga banyak ibu-ibu yang berangkat atau pulang dari pasar.

“Monggo, Bu,” sapa seorang ibu yang menjinjing belanjaan yang saya jawab dengan sebuah anggukan ramah.

Jalan-jalan, saling menyapa, juga menikmati nuansa lawas dari tempat tempat yang kami kunjungi sungguh membuat pagi kami  terasa hangat. Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan.

Salam jalan-jalan…😊

Ketika Hortensia Menyapa: Sebuah Perjalanan di Wisata Dusun Kuliner Batu

Pagi terasa begitu dingin. Meski jam sudah menunjukkan pukul delapan, tapi jaket tetap rapat kami kenakan. Ya, Malang di awal bulan Juli selalu menyajikan bedidingnya yang khas. 

Mobil kami terus berjalan membelah lalu lintas Batu yang lumayan ramai. Liburan sekolah. Tak heran jika banyak orang ke Batu untuk menikmati berbagai wahana wisata di sini.

Di sebuah jalan sempat terjadi antrean mobil yang panjang. Menurut informasi di sini baru saja dibuka wahana wisata baru, Mikutopia namanya. Hmm, Batu seolah tak henti berbenah. Ada saja wahana wisata yang ditawarkan untuk menarik para pengunjungnya.

“Wih, antreannya panjang ya,” celetuk seorang teman.

“Iya, wahananya bagus, kapan-kapan ke sini yuk,” jawab yang lain.

Mobil kami terus berjalan, dan memasuki sebuah pelataran parkir kamipun berhenti.

Membeli tiket masuk, dokumentasi pribadi

“Sudah sampai,” kata Mas Andre driver kami dengan ramah. Ada sebuah tulisan besar  Wisata Dusun Kuliner di pintu masuknya, sekaligus tulisan selamat datang dalam berbagai bahasa. Ahaa, perjalanan kami dimulai. Jelajah Wisata Dusun Kuliner Batu.

Bergegas kami menuju pintu masuk. Tempatnya asyik. Berlatar birunya  gunung, hamparan taman bunga, juga pepohonan dimana-mana, sungguh serasa sayang jika tidak diabadikan. Di sekitar pintu masuk ada banyak quotes bagus yang kadang lucu juga, hingga membuat kami senyum sendiri.

Quotes di pintu masuk, dokumentasi pribadi
Ucapan selamat datang dalam beberapa bahasa, dokumentasi pribadi

Setelah membeli tiket per orang dua puluh ribu rupiah kamipun masuk. Penjaga pintu memasangkan gelang di lengan kami sebagai tanda bahwa kami adalah pengunjung Wisata Dusun  Kuliner.

Sekilas tentang Wisata  Dusun Kuliner 

Gabungan wisata kuliner dan alam, dokumentasi pribadi

Berlokasi di Jalan Raya Batu, Cangar No. KM 9, Desa Tulungrejo, Kota Batu, Jawa Timur, 

Wisata Dusun Kuliner merupakan tempat wisata yang mengangkat tema kuliner namun menggabungkan wisata alam agar para pengunjung lebih mengenal lingkungan dengan cara yang lebih menarik.

Tempat wisata ini dibuka pertama kali pada tahun 2022. Ada banyak tempat kuliner yang dijual di semacam warung tempo dulu yang  diberi nama dengan nama gunung. Ada Omah Kawi, Omah Semeru , juga Omah Panderman. Masing- masing omah menyajikan aneka makanan yang bisa dinikmati oleh para pengunjung.

Omah Panderman , dokumentasi pribadi

Selain kuliner, menurut keterangan ada juga tempat pemancingan, area camping dan yang kami kunjungi saat itu adalah Omah Dolan. Area ini menyediakan area bermain anak-anak dengan pilihan permainan tradisional juga tempat lukis untuk anak. Ketika kami datang beberapa anak sudah tampak bermain di sana, dan semakin siang pengunjung semakin banyak.

Tempat melukis untuk anak anak, dokumentasi pribadi

Bunga, Bunga dan Bunga

Zinnia tersenyum ramah, dokumentasi pribadi

Satu daya tarik istimewa tempat ini adalah pemandangan yang begitu indah dan aneka tanaman bunga yang tertata cantik. Ada Zinnia yang menyapa dengan senyumnya yang cerah, cleome spinosa atau bunga laba-laba dengan warna pinknya yang begitu manis, bunga kenikir dengan warna oranye menyala dan tak ketinggalan  hamparan hortensia yang luar biasa indah.

Bunga laba-laba, dokumentasi Ahfi

Seseorang berjalan sambil membawa tiga bunga Hortensia berwarna ungu dalam ukuran besar. Rupanya bunga itu pesanan dari pengunjung.

Berpose bersama Hortensia , dokumentasi Ahfi

“Cantik sekali bunganya, Mbak?” sapa kami.

Mbak Chelsea namanya . Ia tersenyum. “Di sana ada banyak Bu, silakan pilih nanti akan saya potongkan,” katanya ramah.

Kami terus berjalan menuju arah yang ditunjukkan Mbak Chelsea. Dan Subhanallah.., hamparan bunga hortensia seolah tersenyum menyambut kedatangan kami.

Hamparan Hortensia, dokumentasi pribadi

“Indah sekali,” kata kami hampir bersamaan. Sejauh mata memandang, kami dimanjakan dengan warna ungu hortensia yang begitu menawan.

Hamparan Hortensia 

Hortensia pink karena tanahnya bersifat basa, dokumentasi pribadi

Tanaman hortensia (Hydrangea macrophylla) adalah tanaman yang berasal dari wilayah Asia Timur dan Selatan, terutama dari negara Jepang dan Tiongkok.  Tanaman ini juga kita kenal dengan nama  kembang bokor. Hortensia ini tumbuh subur di daerah dataran tinggi dengan iklim sejuk dan lembap. 

 Satu bunga hortensia terdiri dari banyak kuntum bunga kecil kecil yang terangkum indah. Hydrangea berasal dari Bahasa Yunani yang artinya bejana air (hydra =air, angos = bejana). Ini bermakna bahwa bunga ini perlu air yang banyak untuk tumbuh dengan baik.

Satu hal yang menarik, warna bunga hortensia  berbeda beda sesuai pH tanahnya.  Semakin asam tanahnya, semakin biru warna hydrangea dan semakin basa, semakin pink warnanya.

Layaknya bahasa bunga, tiap warna memiliki makna. Hortensia pink melambangkan cinta dan ketulusan, biru melambangkan pengampunan, putih melambangkan kebanggaan, serta ungu melambangkan kelimpahan dan pengertian. 

“Mbak Chelsea, kami minta hortensianya tiga ya,” kata kami sambil melihat Mbak Chelsea yang sibuk memilih dan memotong bunga. Rupanya pagi itu banyak juga yang akan membeli hortensia atau buket bunga yang lain.

Flower bemo, dokumentasi Ahfi

Oh ya, ada Flower Bemo yang berisikan aneka bunga jika kita mau membeli bunga atau buketnya .

“Ini tahan berapa hari?” tanya kami sambil menerima bunga hortensia yang sudah dipotong. Tak lupa di bagian ujung batang diberi air dalam sebuah plastik supaya bunga tetap segar.

“Kira-kira satu minggu, Bu,” jawab Mbak Chelsea.

Setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi. 

Setelah membayar harga yang ditentukan kami melanjutkan eksplor Wisata Dusun Kuliner ini. Sepanjang perjalanan pemandangan indah, tanaman bunga, tempat pembibitan bunga  serta spot- spot foto yang menarik benar- benar menyegarkan mata. 

Banyak Spot foto menarik, dokumentasi Ahfi

Ketika matahari semakin tinggi perlahan kami meninggalkan lokasi Wisata Dusun Kuliner. Dari pintu keluar kami langsung menuju tempat parkir. 

Tiga hortensia ungu kami dengan genggam erat. Hati kami terasa begitu hangat.  Bukan karena dingin pagi telah usai, tapi karena setiap sudut tempat ini menyimpan banyak keindahan. Dari hamparan Zinnia yang tersenyum, hingga hortensia yang mengajarkan bahwa warna bisa berubah, namun keindahan tetaplah abadi. 

Salam jalan-jalan..😊

Kembali ke Pangan Lokal Nusantara bersama Jajanan Aneka Kukusan

Monggo kukusannya ..,” seorang pedagang makanan menyapa saya ramah tatkala saya baru keluar dari sebuah toko.

“Kukusan?” tanya saya tertarik sambil menuju meja jualan yang tidak begitu besar, tapi tertata rapi. Di atas meja tersusun dengan rapi aneka bothok, pepes, juga nagasari. Ya, aneka makanan tersebut memang melalui proses pengukusan dalam pembuatannya.

“Ibuk mau beli bothok lagi?” tanya anak saya mengingatkan. Oh ya, saya baru ingat di rumah masih dua ada bothok kenikir sisa kemarin.

“Lainnya bothok sama nagasari ada Bu?” tanya saya.

“Oh, ada..,” jawab penjualnya ramah. Dengan sigap ia segera membuka semacam dandang besar yang diletakkan di atas kompor. Bau sedap langsung menguar. Aha… Aneka umbi-umbian atau pala pendhem seperti pohong, ketela, mbothe dan bentul  memenuhi bagian dalam dandang, ditambah dengan pisang juga waluh.

Aneka kukusan, dokumentasi pribadi

Sangat menarik. Jika sebelumnya jajanan kukusan yang dijual banyak didominasi oleh dimsum , siomay dan sebangsanya, sekarang berbagai macam pala pendem atau umbi-umbian kukus mulai dijual di pinggir jalan.

“Wiih, pohong sama bentulnya.., medhuk sekali..,” kata saya senang. Dari beraneka macam umbi-umbian keduanya memang favorit saya. Pohong atau ubi kayu juga bentul yang dikukus mempunyai rasa gurih, dan punel. Apalagi jika sedikit ditaburi air garam saat mengukusnya. Maknyus pokoknya.

Mbothe, ketela dan waluh, dokumentasi pribadi

Saya segera mengambil ketela, pohong, bentul dan mbothe, lalu membayar pada Mbak Win, penjualnya. Harganya perpotong dua ribu rupiah, jadi untuk satu pohong, dua bentul, satu ketela dan satu mbothe cukup membayar sepuluh ribu rupiah.

Sekilas tentang Umbi-umbian

Umbi umbian adalah bahan makanan lokal yang kaya karbohidrat kompleks, serat, vitamin dan mineral. Bahan makanan ini sangat cocok untuk diversifikasi pangan pengganti nasi.

Umbi umbian tumbuh dengan baik di daerah tropis seperti Indonesia.

Pohong atau ubi kayu salah satu jenis tanaman umbi-umbian, sumber gambar: https://share.google/L0bRBNz39tonxeinQ

Ragam umbi umbian yang ada di Nusantara seperti singkong, ketela, bentul atau talas, mbothe juga gembili adalah bahan makanan yang kaya berbagai zat yang diperlukan oleh tubuh kita.

Singkong kaya akan sumber energi, ketela kaya akan beta karoten terutama yang berwarna ungu atau oranye, sementara itu bentul dan mbothe memiliki tekstur yang lunak dan bisa berfungsi sebagai sumber karbohidrat alternatif yang mengenyangkan. Kedua umbi ini sangat baik untuk melancarkan pencernaan, mengontrol gula darah karena indeks glikemik yang rendah.

Sebelumnya berbagai macam umbi-umbian ini bisa dijumpai di pedagang gorengan. Nah, seiring berjalannya waktu, dimana kesadaran masyarakat akan kesehatan makin meningkat orang mulai mengurangi gorengan dan tertarik pada jajanan umbi yang dikukus.

Menurut Mbak Win yang sudah menjual ‘kukusan’ selama dua-tiga bulan ini, peminat jajanan kukusan semakin banyak. Setiap hari ia bisa menjual satu dandang besar aneka kukusan mulai jam enam dan paling siang pukul sepuluh pagi.

” Bukan hanya di sini Mbak, di Jalan Kawi juga ada yang jual kukusan,” kata Mbak Win.

“Pohong dan bentul paling cepat habis,” tambahnya.

“Wah, besok saya pesan dua pohong dan dua bentul ya,” jawab saya

“Siyaaap,” Mbak Win tersenyum ramah.

Pala pendhem, sumber gambar:Jamupedia

Di samping untuk menjaga kesehatan kehadiran jajanan kukusan membuat kita lebih mengenal jenis makanan tradisional kita yang sempat agak ‘terlupakan’ di kalangan anak muda. 

Jajanan kukusan Mbak Win mengajak kami menjaga kesehatan sekaligus melestarikan tradisi pangan lokal Nusantara.

Ya, beberapa jenis umbi- umbian tidak dikenal oleh anak zaman sekarang. Bahkan ketika saya mengenalkan bentul, anak saya cukup heran. Dia tidak menduga bahwa bentul yang menjadi merk sebuah rokok terkenal (Bentoel) adalah nama sejenis umbi.

Dari sekadar penghilang lapar, jajanan kukusan Mbak Win ternyata menyimpan makna lebih dalam. Ia bukan hanya menawarkan rasa gurihnya pohong, lembutnya bentul, manisnya ketela, waluh dan pisang rebus,  tetapi juga mengajak kita kembali ke akar kuliner Nusantara yang kaya akan gizi. 

Akhirnya ada satu kuliner baru yang mewarnai pagi kami setiap hari. Ya,  jajanan kukusan Mbak Win yang mengajak kami menjaga kesehatan sekaligus melestarikan tradisi pangan lokal Nusantara.

Salam Kuliner..

Regu Pramuka Bintaraloka Raih Juara Umum dalam Giskaga Fire Competition

Jangan berhenti untuk raih prestasi. Barangkali demikian tekad dari Barakuda Cempaka. Betapa tidak? Pada hari Sabtu (13/06) regu pramuka kebanggaan Bintaraloka ini kembali meraih prestasi yang membanggakan. Ya, kali ini mereka mendapatkan berbagai kejuaraan di Giskaga Fire Competition yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya, dan berhak mendapatkan gelar juara umum.

Kontingen Pramuka Bintaraloka, dokumentasi Pramuka

Giskaga Fire Competition adalah perlombaan kepramukaan bergengsi tingkat pelajar (SD dan SMP)  se Jawa yang diselenggarakan oleh SMK Ketintang Surabaya. 

Acara yang diadakan setiap tahun ini  menguji kreativitas dan keterampilan kepramukaan melalui berbagai cabang perlombaan.

Dalam kompetisi ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan satu tim yang terdiri atas dua regu, dan setiap regu terdiri atas 8 siswa putra dan 8 siswa putri.

 Latihan persiapan untuk mengikuti lomba ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu. Sebuah perjuangan yang luar biasa, Para peserta all out memberikan penampilan terbaiknya dengan didampingi oleh Kak Mubin, Kak Dwi (pelatih), Kak Alam (pelatih), dan beberapa kakak alumni.

Aksi Pramuka putri, dokumentasi pramuka

Berbagai gelar juara yang diraih Barakuda Cempaka adalah: 

– Juara 1 yel yel putra

– Juara 1 SMS

– Juara 2 pionering

– Juara 2 bisnis plan putra

– Juara 2 bisnis plan putri

– Juara harapan 1 yel yel putri

– Juara umum

“Sungguh pengalaman yang berkesan karena kami dapat bertemu teman-teman dari luar kota, memenangkan beberapa perlombaan serta meraih juara umum,” ungkap Lili salah satu peserta dari regu putri.

Pioneering, dokumentasi pramuka

Akhirnya selamat pada Barakuda Cempaka atas segala prestasi yang diraih. Semoga gelar juara ini tidak membuat kalian berpuas diri, dan harapannya ke depan prestasi kalian akan semakin gemilang. 

Salam Pramuka!

Panggung Kreatif Nusa Loka : Mari Cintai dan Lestarikan Budaya Nusantara

Gamelan Bali yang menghentak mengiringi tarian gemulai siswa dan siswi dengan balutan busana daerah yang begitu cantik ditambah dengan hiasan anekabunga Kamboja di kepala.  Mereka terus melenggak lenggok selaras irama. 

Tak berapa lama irama gamelan berubah dengan irama khas Nusantara yang lain. Sebutlah Jawa Timur dengan gending reogan, Jawa Tengah dengan Gundul-gundul Paculnya, tak ketinggalan Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan, Si Patokaan dari Sulawesi dan dilanjut dengan Sajojo, Yamko Rambe Yamko dan Apuse dari Papua.

Aksi salah satu peserta, dokumentasi pribadi

Semua tersaji indah di pagelaran seni kokurikuler kelas 7 yang bertajuk Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara, dan diadakan pada hari Kamis (18/06).

Dalam pembelajaran mendalam kokurikuler adalah kegiatan penguatan dan pengayaan yang dirancang agar siswa dapat mengaitkan materi di kelas dengan dunia nyata. Kokurikuler membantu siswa untuk menemukan makna, relevansi, dan nilai dari apa yang dipelajari sehingga pemahaman tidak sekadar dihafal, melainkan benar-benar dikuasai dan diterapkan. 

Tarian Bali, dokumentasi pribadi

Nusa Loka sendiri berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna dunia pulau atau wilayah kepulauan. Hal ini merujuk pada wilayah negara kita yang terdiri atas ribuan pulau  dan menyimpan berbagai adat istiadat juga seni yang beraneka ragam.

Lewat Nusa Loka Panggung Kreatif Seni Nusantara ini siswa kelas 7 hendak menunjukkan betapa kayanya Nusantara kita tercinta.

Sumatera Utara, dokumentasi pribadi

Kegiatan kokurikuler kelas 7 merupakan kegiatan akhir semester genap. Jadi setelah siswa sibuk berkutat dengan kegiatan penilaian akhir tahun, selama dua minggu mereka disibukkan dengan kegiatan mengeksplor tari dan lagu daerah Nusantara.

Dalam kegiatan kokurikuler kali ini siswa tidak hanya belajar lagu dan tari secara teori. Tapi mereka juga belajar untuk membuat sebuah event, membuat buku ensiklopedia daerah Nusantara dan terakhir menyajikan drama musikal dengan tema yang berbeda setiap kelasnya.

Gemulai tari peserta, dokumentasi pribadi

Pertunjukan pagi itu diakhiri dengan pagelaran tari kolosal yang merupakan gabungan tarian dari berbagai daerah di Nusantara. Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Dengan koreografer Ibu Tya pengajar seni budaya SMP Negeri 3 Malang, tarian yang dipertunjukkan begitu rancak, dinamis sekaligus meriah.

Pagelaran tari kolosal, dokumentasi pribadi

Dengan empat orang pembawa acara, Nasrul, Ghiena, Pak Mubin dan Ibu Putri acara berjalan lancar dari pukul 07.00 hingga jelang Dhuhur.

Acara hari itu ibarat sebuah perjalanan kecil keliling Nusantara. Langkah-langkah lincah, suara-suara ceria yang lantang, serta senyum ceria siswa  yang menjadi bukti bahwa kekayaan budaya kita akan terus hidup selama ada anak-anak yang mencintainya. 

Pembawa acara, dokumentasi pribadi

Lewat acara ini juga siswa tidak sekedar bergerak menirukan heran dan langkah, tapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang diajarkan nenek moyang kita tentang gotong royong, keberagaman, dan rasa hormat pada alam. 

Para siswa dengan busana Jawa Barat, Dokumentasi Pribadi
Madura, Jawa Timur, dokumentasi pribadi
Siap tampil dari Jawa Tengah, dokumentasi pribadi
Para penari dari Jawa Timur, dokumentasi pribadi

Apresiasi positif diberikan oleh Bapak Anton ketua komite SMP Negeri 3 Malang atas terselenggaranya acara ini.

Semangat Bapak/ibu guru dan seluruh siswa dalam mengikuti acara ini ditunjukkan dengan warna warni busana daerah yang dikenakan pada hari itu.

Mengenakan busana daerah, dokumentasi Bintaraloka

“Meriah sekali,”

“Sangat menyenangkan,” ungkap siswa di sela menunggu saat untuk tampil.

Di akhir acara dibagikan hadiah pada kelas yang menjadi pemenang untuk berbagai kategori, seperti kategori proposal terbaik, kategori tampilan tari terbaik, ensiklopedia terbaik dan banyak lagi. Hadiah diserahkan oleh Ibu Raddin selalu ketua kokurikuler kelas 7 dan Ibu Arie koordinator kokurikuler sekolah.

Para pemenang, dokumentasi Buz

Hari yang luar biasa 

Harapannya semoga lewat rangkaian acara kokurikuler ini  pada diri siswa akan terus terpatri rasa cinta pada budaya Nusantara dan terus berusaha melestarikannya.