“Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng..,” ucap Ibu Guru Bahasa Jawa pagi itu. Para siswa kelas tujuh yang duduk lesehan di aula langsung fokus.
” Sak marine ayo podho nggawe rangkuman telung alinea wae,” ajak Bu Guru lagi.
Pembiasaan literasi adalah kegiatan yang dilakukan di sekolah kami tiap pagi hari sekitar 20 menit. Kegiatan ini dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Jika sekarang kelas tujuh, maka besok kelas delapan dan lusa kelas sembilan.
Selain membaca secara online, literasi juga diisi dengan membaca buku fisik atau nonton film bareng seperti yang dilakukan hari ini.
Tanpa menunggu lama filmpun diputar. Sebuah film pendek berjudul “TOPI” dengan durasi sekitar 12 menit. Ketika adegan per adegan muncul, semua langsung fokus, baik siswa maupun pendamping literasi. Sesekali penonton tertawa ketika ada adegan yang lucu dalam film.
Film berjudul TOPI ini bercerita tentang Gesang, siswa yang masih duduk di tingkat SD dan keluarganya.
Topi menjadi pusat cerita karena dari sinilah masalah bermula. Diawali ketika Gesang berangkat ke sekolah dan ternyata di tengah jalan ia baru sadar bahwa topinya ketinggalan.
Kakek yang membonceng Gesang setiap berangkat ke sekolah segera balik ke rumah, dan Gesang diminta menunggu di tengah sawah. Sesampai di rumah, ternyata pintu sudah dikunci karena Ibu Gesang berangkat mengantar kakak Gesang yang bersekolah di SMP. Sementara kakek sibuk minta dibukakan pintu untuk mengambil topi yang ketinggalan, Gesang bertemu tetangganya dan ‘dibawa’ ke sekolah supaya tidak terlambat.
Fokus nonton film bareng, Dokumentasi Pribadi
Betapa terkejutnya kakek tatkala melihat cucunya tidak ada di tempat dimana tadi ia ditinggal. “Gesaaang…,” teriak kakek mencari cucu kesayangannya, dan di sinilah penonton mulai terpancing, ada yang tertawa tapi juga kasihan.
Film yang penuh nasehat tatakrama atau suba sita ini sangat cocok untuk anak SD atau SMP. Lewat adegan-adegan yang sederhana namun sangat mengena film ini memberikan arahan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Contoh: jangan mengambil makanan dengan tangan kiri, bagaimana memberikan barang dengan sopan pada orang lain, termasuk juga tatakrama saat makan yaitu tidak boleh mengeluarkan bunyi berkecap-kecap.
Dikaitkan dengan kegiatan literasi, kegiatan ini mengajak anak anak untuk berliterasi secara visual dengan cara mengambil pelajaran penting dari sebuah film pendek. Sebuah kegiatan yang tampaknya sederhana namun sangat bermakna, karena menonton film dalam durasi 12 menit ternyata merupakan tantangan tersendiri bagi generasi alpa yang relatif memiliki konsentrasi pendek karena sering menonton reels yang berdurasi rata-rata 1-3 menit.
Di akhir cerita, Ibu Guru memberikan sedikit ulasan tentang film yang baru saja ditonton. Siswa tampak demikian antusias dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bu Guru.
“Bu, rangkumannya dalam Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia?” tanya seorang siswa sebelum kegiatan literasi berakhir.
“Basa Jawa,” kata Bu Guru sambil tersenyum.
“Wahhh..,” keluh siswa.
“Sulit, Bu.., sambung yang lain.
“Ora opo-opo.., ngoko wae,” jawab Bu Guru lagi.
Pertanyaan dari siswa, Dokumentasi Pribadi
Kami para pendamping literasi tertawa. Merangkum dengan menggunakan Bahasa Indonesia saja kadang sulit apalagi Bahasa Jawa. Tapi setidaknya melalui kegiatan ini kami mengajak siswa untuk “nguri-uri Basa Jawa”, teriring harapan mudah-mudahan wong Jawa ora nganti lali Jawane.
Arti istilah:
Sugeng enjing, bocah-bocah, ing dina Iki literasi Basa Jawa diisi nonton film bareng : selamat pagi anak anak, hari ini literasi Bahasa Jawa diisi dengan nonton film bareng
Ngoko : bahasa Jawa biasa, bukan yang halus
Nguri-uri Basa Jawa : melestarikan Bahasa Jawa
Wong Jawa ora nganti lali Jawane : Orang Jawa tidak melupakan adat Jawa.
Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat lima menit. Baru saja kami menyelesaikan kewajiban kami di akhir pekan yaitu finger pulang pukul 14.00 wib.
Jumat ini kami tidak langsung pulang sesuai rencana kami akan bersama sama menuju Pawon Ratu Roso untuk sebuah acara silaturahmi dan pembubaran beberapa panitia kegiatan.
“Grab saja ya?” tanya teman saya yang merupakan pelanggan setia kendaraan moda daring ini. Kami namakan teman ini artis Grab karena tiada hari tanpa nge grab, alias setiap hari pulang pergi dari rumah ke sekolah beliau selalu naik Grab.
“Iya, ayo ngegrab saja,” jawab kami. Meski banyak di antara kami yang membawa sepeda motor, tapi untuk menjelajah daerah baru kami tidak berani bersepeda. Ya, dari pada kesasar.
Setelah pemesanan dilakukan kamipun mendapatkan driver. Dan menurut aplikasi driver akan datang sekitar 7 menit. Suasana depan sekolah yang crowded karena banyaknya penjemput membuat kami tidak begitu peduli pada jenis mobil apa yang akan menjemput kami. Yang penting ada, begitu seperti biasanya.
“Nomor berapa Bu?” tanya saya.
Teman saya menyebut sebuah nomor. Tumben plat L , pikir saya.
Tak berapa lama mobilpun datang. Platnya persis yang disebutkan teman tadi dan karena banyak sekali kendaraan di depan sekolah akhirnya mobil berhenti agak jauh dari pintu gerbang.
Bergegas kami menuju titik yang diinfokan. Dan taraa…, sebuah mobil berwarna hitam sudah menunggu kami. BYD, mobil listrik baru yang begitu cantik. Aha… sebuah kejutan yang sangat menyenangkan. Bayangkan selama bertahun- tahun menjadi pengguna angkutan moda daring, kami sama sekali belum pernah mendapat mobil listrik seperti ini.
Di dalam mobil BYD, dokumentasi Ahfi
“Permisi ya, Pak, ” ucap kami berempat sambil memasuki mobil. Drivernya sangat ramah, dan mempersilakan kami duduk.
“Wah, mantap ini Pak. Tumben juga kami dapat BYD,” kata teman kami senang.
Drivernya tersenyum ramah. Pak Slamet namanya. Rupanya Pak Slamet baru saja membawa penumpang dari Surabaya ke Malang, dan nyantol di aplikasi kami.
Mobilpun melaju. Aih.., anteng sekali rasanya. Mungkin karena pengalaman pertama naik mobil listrik, kami jadi begitu antusias. Berbeda dengan mobil biasa, naik mobil ini memang terasa lebih anteng.
Sekilas tentang BYD
Dari atap mobil kita bisa melihat pepohonan di luar, dokumentasi pribadi
BYD (Build Your Dreams) adalah perusahaan teknologi multinasional asal Tiongkok yang menjadi salah satu produsen kendaraan listrik dan baterai terbesar di dunia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1994 di Shenzhen, Tiongkok, dan berfokus pada solusi energi terbarukan serta transportasi tanpa emisi.
Meski baru masuk di Indonesia tahun 2024 mobil ini mengalami lonjakan penjualan yang luar biasa pesat. Hingga pertengahan 2026, BYD menguasai sekitar 35% hingga 40% pangsa pasar mobil listrik di Indonesia.
Berbagai komentar muncul dari kami berempat, dan suasana makin heboh ketika Pak Slamet sang driver membukakan penutup bagian atas mobil sehingga kap atas yang ada di atas berupa kaca sehingga sinar matahari bisa masuk dan kami bisa melihat pepohonan lewat kaca atap mobil.
“Wuiiih, mantap…,” kata kami sedikit norak. Layaknya emak-emak kamipun berfoto mengabadikan pengalaman ini.
“Kalau nanti turunnya mau buat konten silakan, ibu-ibu biasanya kalau naik mobil saya ngonten juga,” kata Pak Slamet sambil tertawa. Waduh… Jadi malu. He..he…
Perjalanan dari sekolah hingga Araya terasa begitu singkat. Hingga akhirnya sampailah kami di halaman Pawon Ratu Roso.
Suasana Pawon Ratu Roso yang asri dan lawas terasa begitu sejuk. Selain tempat makan di sini juga disediakan resort, tempat bermain dan persewaan kuda. Beberapa pengunjung tampak berfoto di sekitar area Pawon Ratu Roso.
Kami segera turun dan bergabung dengan teman- teman untuk mengikuti acara hari itu.
Acara yang berlangsung kira- kira 1,5 jam diisi dengan pembubaran panitia HUT, Purnawiyata sekaligus kokurikuler, dan dilanjutkan dengan makan dan saling melempar tebak- tebakan berhadiah.
Sedapnya sayur asem, bakwan jagung, tempe goreng, sambal dan pepes menjadi penghangat silaturahmi di sore itu.
Suasana kian hangat ketika tiap perwakilan dari MGMP harus memberikan pertanyaan pada para hadirin. Peserta yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar akan mendapat hadiah.
Tebak- tebakan berhadiah, dokumentasi pribadi
Namanya saja tebak- tebakan. Pertanyaan yang diberikan kadang nyambung, kadang juga tidak. Yang penting seru.
Di bagian luar Pawon Ratu Roso, dokumentasi Ahfi
Sekitar jam setengah lima acara segera diakhiri. Pawon Ratu Roso mulai bersiap- siap untuk tutup. Ya, tempat makan ini ditutup pukul 17.00.
Satu demi satu kami meninggalkan Ratu Roso dengan segala ceritanya.
Perjalanan sore itu memberikan pelajaran pada kami bahwa kebahagiaan sering datang dalam kemasan yang tak terduga. Seperti BYD dengan atap kacanya yang membuat kami bisa melihat pepohonan di atas tatkala mobil berjalan, juga keramahan Pak Slamet yang memperbolehkan kami sedikit heboh di dalam kendaraan.
Gayeng, dokumentasi pribadi
Tapi di atas semuanya hari itu kami juga belajar bahwa segala macam kepanitiaan bisa dibubarkan, tapi semangat silaturahmi dan kebersamaan akan selalu terpatri di hati kami.
Pada suatu hari detective Conan menerima beberapa orang tamu spesial. Tamu ini kebingungan karena menemukan sebuah brankas tua berisi emas batangan. Di luar brankas, tertempel secarik kertas bertuliskan:
‘Kunci terdiri dari 6 digit. Polanya: 1, 1, 2, 3, 5, …’
Mereka sudah mencoba semua angka, tapi brankas malah mengeluarkan asap! Ternyata, mereka salah memahami polanya.
Nah, berapa 2 digit terakhir yang benar agar brankas bisa dibuka?
Misteri Lonceng Kuno dan Kode Terakhir
A large, weathered bronze bell stands tall and majestic against the backdrop of a clear, vibrant blue sky.
Di sebuah desa kecil di kaki gunung, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Suatu malam, desanya diguncang gempa kecil. Tidak ada yang rusak parah, kecuali satu hal: sebuah lonceng kuno di puncak bukit yang selama ratusan tahun tidak pernah berbunyi, tiba-tiba jatuh dari menaranya.
Saat warga berkerumun, mereka menemukan sesuatu yang aneh di balik lonceng itu. Terukir sebuah deretan angka yang sangat misterius:
1, 4, 9, 16, 25, …, …
Di bawah deretan angka itu, tertulis kalimat usang: “Jika kau tahu angka ketujuh dan kedelapan, maka kau akan menemukan ruang rahasia di bawah menara ini.”
Raka, yang penasaran, mencoba menerka. “Mungkin 30 dan 40?” gumamnya. Tapi beberapa warga tua menggeleng. “Itu terlalu mudah. Leluhur kita pasti menyembunyikan sesuatu yang lebih rumit.”
Nah. menurut kalian, berapa dua angka sesudahnya? Jelaskan jawaban kalian!
Libur semester genap yang baru saja berlalu menyisakan cerita yang tak terlupakan bagi kami. Betapa tidak? Liburan yang kami rencanakan untuk diisi dengan jalan-jalan, cari inspirasi tulisan, mencoba Transjatim, berubah total karena ulah virus yang tiba-tiba merusak semua rencana.
Ya, cangkrang atau cacar air tiba- tiba datang menyapa. Cacar air yang tidak bisa dianggap remeh meski menurut berbagai sumber cacar air ini adalah penyakit yang nantinya bisa sembuh sendiri
Kejadian bermula ketika menjelang liburan saya sering merasakan agak demam di malam hari. Seperti agak nggreges begitu, tapi segera hilang ketika minum parasetamol atau dipakai tidur. Mungkin kecapekan, pikir saya. Jelang libur adalah saat rapotan dan kegiatan kokurikuler. Kesibukan benar- benar luar biasa dan rasa demam tiap malam hari saya abaikan dan esok harinya kembali beraktivitas.
Begitu rapotan selesai datanglah si cangkrang. Mula-mula saya tahu dari dua bintik berisi air yang muncul di lengan atas. Itupun tahunya tidak sengaja ketika mengenakan mukenah mau sholat Subuh.
Lho, kok ada semacam cangkrang ya? pikir saya heran. Padahal saya sudah pernah kena? Kata orang orang kalau sudah pernah kena cangkrang tidak akan pernah kena lagi? Tapi anehnya badan saya tidak panas alias normal saja suhunya.
Khawatir bintiknya bertambah banyak, agak siang sayapun ke Puskesmas.
Setelah diperiksa dan ditanya-tanya sebentar, akhirnya dinyatakan bahwa saya terkena cacar air dan diberi obat dengan takaran yang unik. Acyclovir diminum 5×2, ibuptofen jika terasa sakit, vitamin sehari satu kali, dan acyclovir salep untuk obat luar.
Sekilas Tentang Cacar Air
Anak terkena cacar air, sumber gambar: Alodoc
Penyakit cacar air (varicella) adalah infeksi virus sangat menular yang disebabkan oleh Varicella zoster. Penyakit ini memicu ruam berupa bintil kemerahan yang berisi cairan dan terasa sangat gatal di sekujur tubuh.
Apakah orang yang sudah pernah cacar air bisa terkena lagi? Menurut Alodokter meski kemungkinannya kecil ternyata bisa. Beberapa penyebabnya adalah karena infeksi pertama terlalu ringan, terkena cacar air waktu bayi juga karena imunitas tubuh yang turun.
Saya agak heran dengan dosis acyclovir ini. 5×2, berarti saya harus minum 10 obat satu hari. Subhanallah.., buanyak sekali.
Tapi syukurlah dengan minum obat teratur cangkrang tidak muncul lagi, dan dua bintik yang ada di lengan yang sempat terasa sakit sudah hilang pula.
Selesai? Ternyata belum.
Beberapa hari kemudian ganti anak saya yang kena. Kali ini ditandai dengan demam yang tidak begitu tinggi tapi selalu muncul jelang malam hari.
“Kalau masih panas, besok kita bawa ke Puskesmas,” kata saya. Saat itu ia demam di hari kedua.
Karena paginya masih demam, sesuai rencana jam 9 an kami akan ke puskesmas. Jelang keberangkatan ke Puskesmas tiba- tiba saya melihat ada beberapa bintik berisi air di daerah lehernya.
“Lho, ini cangkrang Le,” kata saya.
“Ketularan ibuk, ini,” tambah saya.
Bergegas hari itu kami berangkat ke Puskesmas dan mendapat obat yang sama. Acyclovir, Ibuprofen dan vitamin. Hanya yang membedakan kali ini dosis acyclovirnya 4×1.
“Lho, dosisnya kok beda ya?” tanya anak saya heran.
“Iya ya? Mungkin kondisi tubuhmu dianggap lebih kuat jadi obatnya cukup sedikit saja,” kata saya mereka- reka.
Acyclovir dan obat tetes mata, dokumentasi pribadi
“Apa kita tanyakan saja?” ajak saya
“Tidak usah Buk, biar saja,” jawab anak saya. Mungkin karena demam dan pusing dia enggan masuk kembali ke ruang periksa guna bertanya ke dokter.
Singkat kata sejak hari itu obat diminum empat kali sehari dan byur…. cangkrangpun bermunculan. Banyak sekali terutama di daerah punggung, perut dan wajah.
“Kok buanyak ya?Jangan jangan obatnya kurang ..?” tanya anak saya khawatir.
Saya yang sudah pernah dua kali kena cangkrang tidak begitu panik.
“Mungkin keluar dulu semua, lalu pelan- pelan habis Le..,” jawab saya menenangkan.
Suatu sore tiba- tiba anak saya merasakan matanya pedih seperti kelilipan. Matanya terus berair. Saya segera menyodorkan tisu.
“Hati hati, kalau menghapus, jangan sampai air cangkrang kena mata,” kata saya mengingatkan. Ya, hal yang membuat kami khawatir adalah beberapa bintik cangkrang muncul di sekitar mata.
Apakah keluarnya air mata adalah efek dari cacar air? Apa langkah yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kami pun browsing. Dan ternyata ada informasi yang menakutkan yang kami dapatkan dari browsing ini.
Acyclovir salep, dokumentasi pribadi
Dalam artikel yang kami baca dijelaskan bahwa cacar air yang mengenai area mata sangat berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Jika virus menyerang mata, risikonya meliputi infeksi kornea, peradangan saraf mata (Herpes Zoster Oftalmikus) hingga kerusakan jaringan permanen.
Ya Allah, ngeri rasanya. Penyakit yang mulanya kami anggap ringan’ ternyata menyimpan akibat yang mengerikan.
” Kita ke dokter saja ya?” tawar saya demi melihat anak saya yang semakin cemas. Ya, daripada kami mereka reka sendiri, browsing ke mana-mana, lebih baik tanya pada ahlinya.
Anak saya langsung setuju. Untungnya di sekitar rumah ada dokter praktek. Singkat kata kami datang ke dokter sore itu.
Dari dialog sekaligus pemeriksaan akhirnya kami diberi resep yang isinya acyclovir dan vitamin. Bedanya acyclovir di sini dosisnya dinaikkan sedikit.
Sesampai di rumah hati terasa lebih lega, sebab tadi diterangkan dokter bahwa proses penyembuhan cacar air ini rata- rata tujuh hari, dan ini masih hari ke empat.
Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Jelang Maghrib tiba-tiba mata anak saya berair lagi. “Kok pedes ya..,” katanya takut.
Saya segera telpon ke dokter menanyakan kalau matanya terus berair bagaimana
“Dibawa ke spesialis mata saja Bu,” jawab dokter singkat. Deg…, kekhawatiran kembali datang. Setelah diskusi sebentar tanpa menunggu lama kami segera ke UGD RS yang tak jauh dari rumah saya.
Sesampai di sana ternyata dokter spesialis mata tidak ada (praktiknya sudah selesai) dan kami disarankan untuk ke dokter umum yang juga ada di RS saja. Kami setuju. Ya, daripada kami pulang ‘tidak membawa apa- apa’ dan hati yang luar biasa cemas.
Di dokter umum anak saya segera diperiksa termasuk juga daerah mata dan sekitarnya
“Aman kok Mas, tidak apa-apa. Hanya memang cacarnya banyak sekali. Sudah minum obat apa?”
“Acyclovir dokter, 4×1,” jawab anak saya.
“Lha, cuma 4×1? Tidak ‘ngaruh’ itu,” kata dokter tersebut sambil menuliskan resep acyclovir 5 x 2, ditambah dengan obat tetes mata. Lha, sama dengan dosis saya kemarin, pikir saya.
Obat segera ditebus, dan kami bergegas pulang.
Hati lebih tenang dan mulai malam itu anak saya minum obat dengan dosis yang baru yaitu 5×2. Subhanallah, sesudah dua kali minum obat, dia bisa lebih tenang, tidur bisa enak dan mata tidak mbrebes lagi. Sebelumnya karena bintik- bintik terus keluar dia mengeluh badannya sakit semua.
Dua hari berikutnya bintik- bintik mulai mengering, mengecil dan sampai obat habis bintik bintik tinggal menyisakan bekas- bekasnya.
Lega sekali rasanya. Sungguh, seminggu terakhir liburan yang luar biasa. Benar-benar cacar air telah menciptakan drama. Pelajaran penting yang bisa kami dapatkan adalah jangan pernah menyepelekan penyakit. Terbukti dari cacar air yang mulanya kami anggap ‘ringan’ ternyata bisa menciptakan drama kecemasan hingga sampai membawa kami berkunjung ke UGD.
Bola selalu mempunyai magnet tersendiri apalagi bagi anak laki laki. Ya, tiga anak laki laki saya adalah penggemar bola. Jelas ini adalah warisan bapaknya yang juga pecandu bola.
Masih jelas dalam ingatan saya betapa tertariknya anak-anak dengan bola. Setiap pulang mengaji mereka selalu mencermati tabloid BOLA atau Tribun. Lebih-lebih yang baru terbit.
Liga Italia yang menjadi rubrik kesukaan mereka. Diskusi tentang liga Italia dan Inggris seolah tidak ada habis-habisnya. Hingga meski saya sendiri tidak begitu faham dengan dunia mereka paling tidak saya bisa mengenal nama nama Alessandro Nesta, Maldini, Filippo Inzaghi, Del Piero, Zinedine Zidane, Lilian Thuram dan banyak lagi.
Nama nama itu tiap hari berseliweran dalam diskusi anak anak dengan ayahnya. Padahal mereka saat itu masih duduk di SD dan TK.
“Semalam Inter menang berapa?”
“Wah, golnya Vieri bagus ya, Ba?”
“Juventus menang berapa?” atau
“Club apa yang terdegradasi?”
Kalimat- kalimat seperti itu yang muncul dalam diskusi yang hangat setiap hari.Â
Tabloid BOLA, sumber gambar: superwaw
Diskusi selalu berjalan seru. Saya dan anak saya yang perempuan sering senyum sendiri ataupun geleng-geleng kepala . Bayangkan, kami tidak ngerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Seolah kami hidup di planet yang berbeda. He..he..
Bola Sebagai Penyemangat
Anak anak bermain bal Balan, sumber gambar: Kompas.id
Saat itu bermain bal-balan adalah hal wajib yang dilakukan anak-anak di kampung tiap sore hari, termasuk juga anak-anak saya. Dengan bola plastik mereka beraksi di gang yang tiba tiba jadi arena bal-balan. Dua anak jadi kiper dan yang lain jadi penyerang.
Suasana bermain selalu seru dan menyenangkan. Teriakan- teriakan muncul saat gol berhasil dibuat. Kadang-kadang teriakan itu membuat tetangga marah karena terlalu bising.
Satu akibat dari asyiknya main bal-balan ini ternyata anak-anak jadi agak enggan berangkat mengaji atau belajar.
Ada saja alasan untuk tidak mengaji atau belajar. Alhasil mereka baru bisa bubar dengan sedikit paksaan. Setelah terpaksa bubar mereka akan pergi mengaji ke masjid terdekat.
“Ibuk, kenapa kita harus sekolah?”
tanya anak saya suatu saat.
“Ya supaya pintar,” jawab saya sambil menahan senyum. Mengapa? Pertanyaan yang sama selalu diulang terutama saat ia akan berangkat ke sekolah.
“Lha kan nanti malam di rumah belajar juga sama Ibuk? Kok di rumah belajar, di sekolah belajar? Jadinya belajar terus?” katanya.
“Ya iyalah, biar pintar,” jawab saya lagi.
“Aku kan kepingin jadi pemain bola? Kenapa aku harus terus belajar?”kejarnya
“Eh, tahu tidak, banyak pemain bola yang sekolahnya pintar lho,” kata saya sambil menyebutkan satu persatu nama pemain bola yang sekolahnya juga bagus seperti Lampard, Lilian Thuram dan lain lain.
Anak saya agak heran mendengar cerita saya. Eh, ternyata para pemain sepak bola itu tidak hanya latihan bola saja, tapi mereka harus sekolah juga. Mungkin seperti itu yang tersirat dalam benaknya.
Sejak saat itu anak saya semakin rajin sekolah dengan harapan bisa pintar seperti idola-idola sepak bolanya. Drama jelang sekolah atau jelang mengaji semakin berkurang. Semua lancar, dan tentu saja main bal-balan semakin lancar.
Pak Toib dan Gol Bunuh DiriÂ
Sumber gambar: hypeabis
Kegemaran akan bola ternyata bukan hanya melanda anak-anak, tapi orang dewasa juga. Hanya bedanya jika anak-anak bisa langsung beraksi dengan bermain bola, orang dewasa cukup menonton bola.
Ada sebuah cerita lucu yang sampai saat ini selalu saya ingat. Meski sudah lama kejadiannya, tapi setiap mengingat cerita ini saya selalu tersenyum sendiri.
Adalah seorang tetangga saya yang bernama Pak Toib. Pak Toib mempunyai hobbi menonton bola, sekaligus pengamat bola yang setia.
Berbagai macam liga ia ikuti beritanya. Ia juga hafal macam-macam kesebelasan, sekaligus para pemain juga rangking masing masing tim yang ada di liga.
Mengamati Klasemen sepak bola yang ada di koran jangan ditanya lagi. Itu adalah makanannya sehari-hari. Rasanya tiada hari tanpa mengamati pergerakan rangking kesebelasan favoritnya.
Suatu saat kesebelasan favorit Pak Toib akan berlaga di final yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun TV pada malam hari. Karena tidak punya televisi, ia minta izin pada Pak Dulah tetangganya untuk menonton TV di malam hari itu.
“Monggo nonton sendiri ya Pak Toib, saya besok pagi ada acara, tidak bisa ikut menemani,” kata Pak Dulah.
“Siap Mas, tidak apa- apa saya nonton sendiri , nanti kalau selesai saya pamitan ya,” jawab Pak Toib senang.
Malam hari sekitar jam sepuluh Pak Toib sudah siap di depan TV di rumah Pak Dulah. Sebungkus kacang rebus sudah dibawa dari rumah, sementara segelas kopi disediakan Pak Dulah sebagai penyemangat.
“Walah, tidak usah repot-repot Mas,” kata Pak Toib sungkan.
“Ah, mboten nopo, biar semangat,” kata Pak Dulah sambil meraih bantal.
“Tak tinggal tidur ya, Mas,”
“Monggo,” jawab Pak Toib.
Pertandinganpun dimulai. Seiring Pak Toib yang begitu serius mengikuti bola yang terus bergulir, Pak Dulah semakin tenggelam dalam mimpi. Kerja seharian benar- benar membuat badannya lelah sehingga tidurnya terasa begitu nyenyak.
Hingga suatu saat…
“Waaah, bunuh diri..!” Pak Toib berteriak keras sekali diiringi suara sorak sorai di televisi. Pak Dulah langsung bangun.
“Sinten? Sinten bunuh diri, Mas?” teriak Pak Dulah kaget.
“Kesebelasan kulo bunuh diri..,” kata Pak Toib lemas. Wajahnya tampak begitu sedih. Rupanya kesebelasan kesayangan Pak Toib memasukkan bola ke gawangnya sendiri.
Pak Dulah terperangah. Jadi ini tadi urusan bola toh? pikirnya. Rasa kaget, jengkel sekaligus lucu campur aduk dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk.
“Pak Dulah? Mboten nopo-nopo?” tanya seseorang. Walah, Pak RT.
Rupanya ada tetangga yang lapor pada Pak RT karena mendengar terialan Pak Toib tadi.
“Aman Pak RT, mboten nopo-nopo,” jawab Pak Dulah sambil membukakan pintu lalu menutupnya lagi sepeninggal Pak RT.
Sepuluh menit kemudian Pak Toib pun berpamitan. Kedudukan tetap. Tim kesayangannya kalah. Padahal mereka bermain bagus dan bisa mempertahankan kedudukan imbang hampir di sepanjang 45 menit babak kedua.
Dengan wajah kuyu Pak Toib meninggalkan rumah Pak Dulah yang tak lama kemudian menjadi gelap karena lampunya dimatikan.
Begitulah romantika sepak bola yang sampai sekarang masih saya ingat. Lebih dari sekadar olahraga, bola telah menjadi perekat yang hangat bagi keluarga kami—menghadirkan tawa, diskusi seru, bahkan drama kecil yang lucu untuk dikenang.
Dari anak-anak yang bersemangat mencari ilmu demi menjadi pemain hebat, hingga Pak Toib yang dengan polosnya membuat satu kampung terjaga karena “gol bunuh diri” tim kesayangannya. Ya, meski saya sendiri tidak begitu paham tentang bola, tapi semua itu adalah bagian dari kenangan manis yang tak tergantikan.