Pada suatu hari detective Conan menerima beberapa orang tamu spesial. Tamu ini kebingungan karena menemukan sebuah brankas tua berisi emas batangan. Di luar brankas, tertempel secarik kertas bertuliskan:
‘Kunci terdiri dari 6 digit. Polanya: 1, 1, 2, 3, 5, …’
Mereka sudah mencoba semua angka, tapi brankas malah mengeluarkan asap! Ternyata, mereka salah memahami polanya.
Nah, berapa 2 digit terakhir yang benar agar brankas bisa dibuka?
Misteri Lonceng Kuno dan Kode Terakhir
A large, weathered bronze bell stands tall and majestic against the backdrop of a clear, vibrant blue sky.
Di sebuah desa kecil di kaki gunung, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Suatu malam, desanya diguncang gempa kecil. Tidak ada yang rusak parah, kecuali satu hal: sebuah lonceng kuno di puncak bukit yang selama ratusan tahun tidak pernah berbunyi, tiba-tiba jatuh dari menaranya.
Saat warga berkerumun, mereka menemukan sesuatu yang aneh di balik lonceng itu. Terukir sebuah deretan angka yang sangat misterius:
1, 4, 9, 16, 25, …, …
Di bawah deretan angka itu, tertulis kalimat usang: “Jika kau tahu angka ketujuh dan kedelapan, maka kau akan menemukan ruang rahasia di bawah menara ini.”
Raka, yang penasaran, mencoba menerka. “Mungkin 30 dan 40?” gumamnya. Tapi beberapa warga tua menggeleng. “Itu terlalu mudah. Leluhur kita pasti menyembunyikan sesuatu yang lebih rumit.”
Nah. menurut kalian, berapa dua angka sesudahnya? Jelaskan jawaban kalian!
Libur semester genap yang baru saja berlalu menyisakan cerita yang tak terlupakan bagi kami. Betapa tidak? Liburan yang kami rencanakan untuk diisi dengan jalan-jalan, cari inspirasi tulisan, mencoba Transjatim, berubah total karena ulah virus yang tiba-tiba merusak semua rencana.
Ya, cangkrang atau cacar air tiba- tiba datang menyapa. Cacar air yang tidak bisa dianggap remeh meski menurut berbagai sumber cacar air ini adalah penyakit yang nantinya bisa sembuh sendiri
Kejadian bermula ketika menjelang liburan saya sering merasakan agak demam di malam hari. Seperti agak nggreges begitu, tapi segera hilang ketika minum parasetamol atau dipakai tidur. Mungkin kecapekan, pikir saya. Jelang libur adalah saat rapotan dan kegiatan kokurikuler. Kesibukan benar- benar luar biasa dan rasa demam tiap malam hari saya abaikan dan esok harinya kembali beraktivitas.
Begitu rapotan selesai datanglah si cangkrang. Mula-mula saya tahu dari dua bintik berisi air yang muncul di lengan atas. Itupun tahunya tidak sengaja ketika mengenakan mukenah mau sholat Subuh.
Lho, kok ada semacam cangkrang ya? pikir saya heran. Padahal saya sudah pernah kena? Kata orang orang kalau sudah pernah kena cangkrang tidak akan pernah kena lagi? Tapi anehnya badan saya tidak panas alias normal saja suhunya.
Khawatir bintiknya bertambah banyak, agak siang sayapun ke Puskesmas.
Setelah diperiksa dan ditanya-tanya sebentar, akhirnya dinyatakan bahwa saya terkena cacar air dan diberi obat dengan takaran yang unik. Acyclovir diminum 5×2, ibuptofen jika terasa sakit, vitamin sehari satu kali, dan acyclovir salep untuk obat luar.
Sekilas Tentang Cacar Air
Anak terkena cacar air, sumber gambar: Alodoc
Penyakit cacar air (varicella) adalah infeksi virus sangat menular yang disebabkan oleh Varicella zoster. Penyakit ini memicu ruam berupa bintil kemerahan yang berisi cairan dan terasa sangat gatal di sekujur tubuh.
Apakah orang yang sudah pernah cacar air bisa terkena lagi? Menurut Alodokter meski kemungkinannya kecil ternyata bisa. Beberapa penyebabnya adalah karena infeksi pertama terlalu ringan, terkena cacar air waktu bayi juga karena imunitas tubuh yang turun.
Saya agak heran dengan dosis acyclovir ini. 5×2, berarti saya harus minum 10 obat satu hari. Subhanallah.., buanyak sekali.
Tapi syukurlah dengan minum obat teratur cangkrang tidak muncul lagi, dan dua bintik yang ada di lengan yang sempat terasa sakit sudah hilang pula.
Selesai? Ternyata belum.
Beberapa hari kemudian ganti anak saya yang kena. Kali ini ditandai dengan demam yang tidak begitu tinggi tapi selalu muncul jelang malam hari.
“Kalau masih panas, besok kita bawa ke Puskesmas,” kata saya. Saat itu ia demam di hari kedua.
Karena paginya masih demam, sesuai rencana jam 9 an kami akan ke puskesmas. Jelang keberangkatan ke Puskesmas tiba- tiba saya melihat ada beberapa bintik berisi air di daerah lehernya.
“Lho, ini cangkrang Le,” kata saya.
“Ketularan ibuk, ini,” tambah saya.
Bergegas hari itu kami berangkat ke Puskesmas dan mendapat obat yang sama. Acyclovir, Ibuprofen dan vitamin. Hanya yang membedakan kali ini dosis acyclovirnya 4×1.
“Lho, dosisnya kok beda ya?” tanya anak saya heran.
“Iya ya? Mungkin kondisi tubuhmu dianggap lebih kuat jadi obatnya cukup sedikit saja,” kata saya mereka- reka.
Acyclovir dan obat tetes mata, dokumentasi pribadi
“Apa kita tanyakan saja?” ajak saya
“Tidak usah Buk, biar saja,” jawab anak saya. Mungkin karena demam dan pusing dia enggan masuk kembali ke ruang periksa guna bertanya ke dokter.
Singkat kata sejak hari itu obat diminum empat kali sehari dan byur…. cangkrangpun bermunculan. Banyak sekali terutama di daerah punggung, perut dan wajah.
“Kok buanyak ya?Jangan jangan obatnya kurang ..?” tanya anak saya khawatir.
Saya yang sudah pernah dua kali kena cangkrang tidak begitu panik.
“Mungkin keluar dulu semua, lalu pelan- pelan habis Le..,” jawab saya menenangkan.
Suatu sore tiba- tiba anak saya merasakan matanya pedih seperti kelilipan. Matanya terus berair. Saya segera menyodorkan tisu.
“Hati hati, kalau menghapus, jangan sampai air cangkrang kena mata,” kata saya mengingatkan. Ya, hal yang membuat kami khawatir adalah beberapa bintik cangkrang muncul di sekitar mata.
Apakah keluarnya air mata adalah efek dari cacar air? Apa langkah yang harus dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan itu kami pun browsing. Dan ternyata ada informasi yang menakutkan yang kami dapatkan dari browsing ini.
Acyclovir salep, dokumentasi pribadi
Dalam artikel yang kami baca dijelaskan bahwa cacar air yang mengenai area mata sangat berbahaya dan merupakan kondisi darurat medis. Jika virus menyerang mata, risikonya meliputi infeksi kornea, peradangan saraf mata (Herpes Zoster Oftalmikus) hingga kerusakan jaringan permanen.
Ya Allah, ngeri rasanya. Penyakit yang mulanya kami anggap ringan’ ternyata menyimpan akibat yang mengerikan.
” Kita ke dokter saja ya?” tawar saya demi melihat anak saya yang semakin cemas. Ya, daripada kami mereka reka sendiri, browsing ke mana-mana, lebih baik tanya pada ahlinya.
Anak saya langsung setuju. Untungnya di sekitar rumah ada dokter praktek. Singkat kata kami datang ke dokter sore itu.
Dari dialog sekaligus pemeriksaan akhirnya kami diberi resep yang isinya acyclovir dan vitamin. Bedanya acyclovir di sini dosisnya dinaikkan sedikit.
Sesampai di rumah hati terasa lebih lega, sebab tadi diterangkan dokter bahwa proses penyembuhan cacar air ini rata- rata tujuh hari, dan ini masih hari ke empat.
Namun kelegaan itu tidak berlangsung lama. Jelang Maghrib tiba-tiba mata anak saya berair lagi. “Kok pedes ya..,” katanya takut.
Saya segera telpon ke dokter menanyakan kalau matanya terus berair bagaimana
“Dibawa ke spesialis mata saja Bu,” jawab dokter singkat. Deg…, kekhawatiran kembali datang. Setelah diskusi sebentar tanpa menunggu lama kami segera ke UGD RS yang tak jauh dari rumah saya.
Sesampai di sana ternyata dokter spesialis mata tidak ada (praktiknya sudah selesai) dan kami disarankan untuk ke dokter umum yang juga ada di RS saja. Kami setuju. Ya, daripada kami pulang ‘tidak membawa apa- apa’ dan hati yang luar biasa cemas.
Di dokter umum anak saya segera diperiksa termasuk juga daerah mata dan sekitarnya
“Aman kok Mas, tidak apa-apa. Hanya memang cacarnya banyak sekali. Sudah minum obat apa?”
“Acyclovir dokter, 4×1,” jawab anak saya.
“Lha, cuma 4×1? Tidak ‘ngaruh’ itu,” kata dokter tersebut sambil menuliskan resep acyclovir 5 x 2, ditambah dengan obat tetes mata. Lha, sama dengan dosis saya kemarin, pikir saya.
Obat segera ditebus, dan kami bergegas pulang.
Hati lebih tenang dan mulai malam itu anak saya minum obat dengan dosis yang baru yaitu 5×2. Subhanallah, sesudah dua kali minum obat, dia bisa lebih tenang, tidur bisa enak dan mata tidak mbrebes lagi. Sebelumnya karena bintik- bintik terus keluar dia mengeluh badannya sakit semua.
Dua hari berikutnya bintik- bintik mulai mengering, mengecil dan sampai obat habis bintik bintik tinggal menyisakan bekas- bekasnya.
Lega sekali rasanya. Sungguh, seminggu terakhir liburan yang luar biasa. Benar-benar cacar air telah menciptakan drama. Pelajaran penting yang bisa kami dapatkan adalah jangan pernah menyepelekan penyakit. Terbukti dari cacar air yang mulanya kami anggap ‘ringan’ ternyata bisa menciptakan drama kecemasan hingga sampai membawa kami berkunjung ke UGD.
Bola selalu mempunyai magnet tersendiri apalagi bagi anak laki laki. Ya, tiga anak laki laki saya adalah penggemar bola. Jelas ini adalah warisan bapaknya yang juga pecandu bola.
Masih jelas dalam ingatan saya betapa tertariknya anak-anak dengan bola. Setiap pulang mengaji mereka selalu mencermati tabloid BOLA atau Tribun. Lebih-lebih yang baru terbit.
Liga Italia yang menjadi rubrik kesukaan mereka. Diskusi tentang liga Italia dan Inggris seolah tidak ada habis-habisnya. Hingga meski saya sendiri tidak begitu faham dengan dunia mereka paling tidak saya bisa mengenal nama nama Alessandro Nesta, Maldini, Filippo Inzaghi, Del Piero, Zinedine Zidane, Lilian Thuram dan banyak lagi.
Nama nama itu tiap hari berseliweran dalam diskusi anak anak dengan ayahnya. Padahal mereka saat itu masih duduk di SD dan TK.
“Semalam Inter menang berapa?”
“Wah, golnya Vieri bagus ya, Ba?”
“Juventus menang berapa?” atau
“Club apa yang terdegradasi?”
Kalimat- kalimat seperti itu yang muncul dalam diskusi yang hangat setiap hari.Â
Tabloid BOLA, sumber gambar: superwaw
Diskusi selalu berjalan seru. Saya dan anak saya yang perempuan sering senyum sendiri ataupun geleng-geleng kepala . Bayangkan, kami tidak ngerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Seolah kami hidup di planet yang berbeda. He..he..
Bola Sebagai Penyemangat
Anak anak bermain bal Balan, sumber gambar: Kompas.id
Saat itu bermain bal-balan adalah hal wajib yang dilakukan anak-anak di kampung tiap sore hari, termasuk juga anak-anak saya. Dengan bola plastik mereka beraksi di gang yang tiba tiba jadi arena bal-balan. Dua anak jadi kiper dan yang lain jadi penyerang.
Suasana bermain selalu seru dan menyenangkan. Teriakan- teriakan muncul saat gol berhasil dibuat. Kadang-kadang teriakan itu membuat tetangga marah karena terlalu bising.
Satu akibat dari asyiknya main bal-balan ini ternyata anak-anak jadi agak enggan berangkat mengaji atau belajar.
Ada saja alasan untuk tidak mengaji atau belajar. Alhasil mereka baru bisa bubar dengan sedikit paksaan. Setelah terpaksa bubar mereka akan pergi mengaji ke masjid terdekat.
“Ibuk, kenapa kita harus sekolah?”
tanya anak saya suatu saat.
“Ya supaya pintar,” jawab saya sambil menahan senyum. Mengapa? Pertanyaan yang sama selalu diulang terutama saat ia akan berangkat ke sekolah.
“Lha kan nanti malam di rumah belajar juga sama Ibuk? Kok di rumah belajar, di sekolah belajar? Jadinya belajar terus?” katanya.
“Ya iyalah, biar pintar,” jawab saya lagi.
“Aku kan kepingin jadi pemain bola? Kenapa aku harus terus belajar?”kejarnya
“Eh, tahu tidak, banyak pemain bola yang sekolahnya pintar lho,” kata saya sambil menyebutkan satu persatu nama pemain bola yang sekolahnya juga bagus seperti Lampard, Lilian Thuram dan lain lain.
Anak saya agak heran mendengar cerita saya. Eh, ternyata para pemain sepak bola itu tidak hanya latihan bola saja, tapi mereka harus sekolah juga. Mungkin seperti itu yang tersirat dalam benaknya.
Sejak saat itu anak saya semakin rajin sekolah dengan harapan bisa pintar seperti idola-idola sepak bolanya. Drama jelang sekolah atau jelang mengaji semakin berkurang. Semua lancar, dan tentu saja main bal-balan semakin lancar.
Pak Toib dan Gol Bunuh DiriÂ
Sumber gambar: hypeabis
Kegemaran akan bola ternyata bukan hanya melanda anak-anak, tapi orang dewasa juga. Hanya bedanya jika anak-anak bisa langsung beraksi dengan bermain bola, orang dewasa cukup menonton bola.
Ada sebuah cerita lucu yang sampai saat ini selalu saya ingat. Meski sudah lama kejadiannya, tapi setiap mengingat cerita ini saya selalu tersenyum sendiri.
Adalah seorang tetangga saya yang bernama Pak Toib. Pak Toib mempunyai hobbi menonton bola, sekaligus pengamat bola yang setia.
Berbagai macam liga ia ikuti beritanya. Ia juga hafal macam-macam kesebelasan, sekaligus para pemain juga rangking masing masing tim yang ada di liga.
Mengamati Klasemen sepak bola yang ada di koran jangan ditanya lagi. Itu adalah makanannya sehari-hari. Rasanya tiada hari tanpa mengamati pergerakan rangking kesebelasan favoritnya.
Suatu saat kesebelasan favorit Pak Toib akan berlaga di final yang disiarkan secara langsung oleh salah satu stasiun TV pada malam hari. Karena tidak punya televisi, ia minta izin pada Pak Dulah tetangganya untuk menonton TV di malam hari itu.
“Monggo nonton sendiri ya Pak Toib, saya besok pagi ada acara, tidak bisa ikut menemani,” kata Pak Dulah.
“Siap Mas, tidak apa- apa saya nonton sendiri , nanti kalau selesai saya pamitan ya,” jawab Pak Toib senang.
Malam hari sekitar jam sepuluh Pak Toib sudah siap di depan TV di rumah Pak Dulah. Sebungkus kacang rebus sudah dibawa dari rumah, sementara segelas kopi disediakan Pak Dulah sebagai penyemangat.
“Walah, tidak usah repot-repot Mas,” kata Pak Toib sungkan.
“Ah, mboten nopo, biar semangat,” kata Pak Dulah sambil meraih bantal.
“Tak tinggal tidur ya, Mas,”
“Monggo,” jawab Pak Toib.
Pertandinganpun dimulai. Seiring Pak Toib yang begitu serius mengikuti bola yang terus bergulir, Pak Dulah semakin tenggelam dalam mimpi. Kerja seharian benar- benar membuat badannya lelah sehingga tidurnya terasa begitu nyenyak.
Hingga suatu saat…
“Waaah, bunuh diri..!” Pak Toib berteriak keras sekali diiringi suara sorak sorai di televisi. Pak Dulah langsung bangun.
“Sinten? Sinten bunuh diri, Mas?” teriak Pak Dulah kaget.
“Kesebelasan kulo bunuh diri..,” kata Pak Toib lemas. Wajahnya tampak begitu sedih. Rupanya kesebelasan kesayangan Pak Toib memasukkan bola ke gawangnya sendiri.
Pak Dulah terperangah. Jadi ini tadi urusan bola toh? pikirnya. Rasa kaget, jengkel sekaligus lucu campur aduk dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar pintu rumah diketuk.
“Pak Dulah? Mboten nopo-nopo?” tanya seseorang. Walah, Pak RT.
Rupanya ada tetangga yang lapor pada Pak RT karena mendengar terialan Pak Toib tadi.
“Aman Pak RT, mboten nopo-nopo,” jawab Pak Dulah sambil membukakan pintu lalu menutupnya lagi sepeninggal Pak RT.
Sepuluh menit kemudian Pak Toib pun berpamitan. Kedudukan tetap. Tim kesayangannya kalah. Padahal mereka bermain bagus dan bisa mempertahankan kedudukan imbang hampir di sepanjang 45 menit babak kedua.
Dengan wajah kuyu Pak Toib meninggalkan rumah Pak Dulah yang tak lama kemudian menjadi gelap karena lampunya dimatikan.
Begitulah romantika sepak bola yang sampai sekarang masih saya ingat. Lebih dari sekadar olahraga, bola telah menjadi perekat yang hangat bagi keluarga kamiâmenghadirkan tawa, diskusi seru, bahkan drama kecil yang lucu untuk dikenang.
Dari anak-anak yang bersemangat mencari ilmu demi menjadi pemain hebat, hingga Pak Toib yang dengan polosnya membuat satu kampung terjaga karena “gol bunuh diri” tim kesayangannya. Ya, meski saya sendiri tidak begitu paham tentang bola, tapi semua itu adalah bagian dari kenangan manis yang tak tergantikan.
Di bulan Juli ini Pramuka Bintaraloka kembali meraih sebuah prestasi yang membanggakan. Ya, gelar Juara Umum mereka raih dalam Airlangga Scout Competition yang diadakan pada tanggal 18-19 Juli di Kampus C Universitas Airlangga, Jl. Dr. Ir. H. Soekarno, Mulyorejo, Surabaya.
Airlangga Scout Competition (ASC) adalah ajang lomba pramuka tingkat nasional untuk golongan Penggalang and Penegak. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pramuka Universitas Airlangga Gugus Depan Kota Surabaya 09.622-09.623.
Dalam acara ini SMP Negeri 3 Malang mengirimkan 2 regu, masing-masing 1 regu putra (Barakuda) dan 1 regu putri (Cempaka) dimana tiap regu berisi sepuluh orang.
Penghargaan juara Dance Semaphore , salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka
Lomba yang diadakan dalam event ini adalah Sandi Morse Semaphore, pioneering, PUPP (Pengetahuan Umum dan Pengetahuan Pramuka), hasta karya, dance semaphore (Lomba pangkalan), yel-yel (Lomba pangkalan). Yang dimaksud dengan lomba pangkalan adalah lomba gabungan dari regu putra dan putri yang terdiri dari 5 putra dan 5 putri untuk tiap bidang lomba pangkalan.
Penghargaan lomba Hasta Karya Putri, salah satu nomor lomba Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka
Nah, apa yang diperoleh Barakuda Cempaka dalam event ini? Tidak tanggung-tanggung berbagai gelar juara disabet oleh Pramuka kebanggaan Bintaraloka ini dengan rincian sebagai berikut:
– Juara Umum
– Juara Utama 1 Putra
– Juara 1 PUPP Putra
– Juara 2 Pioneering Putra
– Juara Harapan 3 Pionering Putri
– Juara 3 Sandi Morse Semaphore Putra
– Juara Harapan 3 Sandi Morse Semaphore Putri
– Juara Harapan 2 Hasta Karya Putra
– Juara Harapan 3 Hasta Karya Putri
– Juara 3 Dance Semaphore
– Juara 2 Yel-yel
“Lomba ini seru karena banyak pangkalan yang mengikuti dan adalah lomba berskala nasional, lomba ini juga memberikan tantangan baru terutama di mata bidang Pioneering dan Sandi Morse Semafor, ” ungkap Hagi salah satu peserta lomba.
Semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang
Bintaraloka raih berbagai kejuaraan dalam Airlangga Scout Competition, dokumentasi Pramuka
Pendamping yang berasal dari alumni juga pembina yang selalu memberikan semangat pada peserta mempunyai kontribusi yang besar sehingga prestasi luar biasa ini bisa diraih.
Akhirnya selamat pada Pramuka Bintaraloka, semoga prestasi ini bisa menjadi inspirasi untuk meraih prestasi lain yang lebih cemerlang. Salam Pramuka đ
Sebuah pagi di Kayutangan. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang. Suasana tidak begitu ramai, beberapa toko masih belum buka, sementara yang lain sedang bersiap- siap menerima pengunjung.
Bertiga, saya dan dua orang keponakan berjalan di sepanjang jalan Kayutangan sambil menikmati segarnya udara pagi.
“Ke Kampung Heritage ya?” ajak saya.
“Siyap…,” jawab keponakan-keponakan cantik ini. Ya, dalam dua hari mereka ada tugas ke UM dan menginap di rumah saya. Rencananya siang nanti akan balik, dan sebelum berangkat ke stasiun mereka saya ajak jalan- jalan ke Kayutangan Heritage.
Kami terus berjalan memasuki gerbang Kampoeng Heritage. Dinginnya bediding tidak mengurangi semangat kami.
“Monggo..,”
Deretan pedagang yang berjajar di sebelah kanan jalan menyapa ramah. Ada berbagai macam makanan dan cinderamata yang dijual.
Di sebuah pos kecil kami membayar tiket masuk dan sebagai gantinya kami mendapat tiga buah postcard tanda masuk dengan gambar foto bangunan di Kampoeng Heritage Kajoetangan.
Sebagai salah satu pemukiman tua di Kota Malang, kampung ini ada sejak zaman kolonial dan diperkirakan memiliki akar sejak abad ke 13. Karenanya kampung Kajoetangan adalah saksi perjalanan sejarah dan berbagai perubahan yang ada di Kota Malang
Di Kampoeng Kajoetangan kita bisa melihat perpaduan bangunan rumah perkampungan khas Indonesia yang berdampingan dengan bangunan bernuansa kolonial yang masih mempertahankan arsitektur aslinya. Hal yang sangat unik karena bukan hanya menunjukkan estetika, tapi juga bukti adanya adaptasi budaya yang sudah berjalan dari masa ke masa.
Bertiga kami terus berjalan. Beberapa orang menyapa ramah. Menurut bapak yang menjual tiket, pengunjung kawasan ini selalu banyak. Selain ingin menikmati suasana perkampungan, banyak pengunjung yang melakukan selfie karena perpaduan tempat tinggal dan gerai-gerai kopi menciptakan tempat-tempat foto yang menarik.
Ah ya, di sebuah spot foto, saya menemukan Radio Siegfried. Radio besar buatan Jerman di era 1950-1960 dan pernah menjadi radio kebanggan keluarga kami.
Bertemu radio Siegfried , dokumentasi pribadi Tya
Menurut keterangan Kampoeng Kajoetangan ini memiliki 23 spot rumah yang bernuansa heritage. Bangunan tertua di sini dibangun tahun 1870 dengan arsitektur atap yang tinggi, jendela dan ventilasi yang besar menyesuaikan dengan daerah tropis.
Rumah 1870, sumber gambar: detik.com
Nuansa lawas sangat terasa dari bentuk pintu, jendela, lantai juga bagian atas rumah. Menurut pemiliknya sejak tahun 1870 rumah ini hanya mengalami satu kali renovasi yaitu ketika menambahkan satu kamar di bagian belakang dan pengecatan rumah.
Kembali kami berjalan.
Di depan rumah dengan cat hijau kami berhenti. Tulisan Hamur Mbah Ndut atau Rumah Mbah Ndut terpampang di bagian depannya, sementara di sebelah kiri ada kedai kopi cantik yang siap melayani pengunjung jika mau ngopi di tempat itu.
Kedai Hamur Mbah Ndut , dokumentasi pribadi
Menjelajah rumah Mbah Ndut membuat kita seakan terlempar ke masa lalu. Rumah yang dibangun tahun 1923 itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Bentuk pintu, jendela juga ubinnya yang berwarna kuning, ditambah dengan berbagai perabot lama, membuat suasana jadul sangat terasa.
Suasana lawas makin kental dengan adanya susunan barang pecah belah di lemari kaca. Benar-benar serasa bernostalgia. Zaman dulu lemari atau bupet yang berisikan barang pecah belah adalah hiasan yang ada di setiap rumah.
Lemari berisikan barang pecah belah, dokumentasi pribadi
Dari Hamur Mbah Ndut kami mampir ke rumah Nya’ Abbas Akub.
Nya’ Abbas Akup adalah seorang sutradara senior Indonesia yang terkenal akan karya-karyanya yang bernada komedi dan fenomenal. Sebutlah Bing Slamet Koboi Cengeng, Ateng Minta Kawin dan banyak lagi.
Di rumah ini kita bisa melihat poster-poster film lawas karya Nya’ Abbas Akub yang sangat booming di masanya, juga berbagai barang termasuk sepeda motor era tahun 70 an.
Sebuah sudut di rumah Nya’ Abbas Akub, dokumentasi Zifa
Sebelum pulang kami menyempatkan dulu untuk berfoto di sekitar sungai Kayutangan. Sebagai orang yang pernah tinggal di kawasan ini saya pernah merasakan meluapnya air sungai Kayutangan tatkala hujan deras.
Bagusnya sekarang sudah dipasang dinding pembatas sungai yang memungkinkan air tidak meluber kemana- mana ketika hujan deras. Uniknya lagi dinding- dinding di sekitar sungai disulap menjadi tempat foto yang menarik dengan tambahan mural atau ornamen tertentu. Di sini juga terdapat kedai ice cream ‘de Lepen’. Lepen dalam bahasa Jawa artinya sungai. Jadi maksudnya kedai ice cream di dekat sungai. Aha… sangat kreatif.
Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan
De Lepen, kedai ice cream di dekat sungai, dokumentasi pribadi
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Tak terasa sudah satu jam kami berputar- putar di Kampoeng Heritage Kajoetangan.
“Capek?” goda saya pada keponakan-keponakan cantik.
“Mboten Bude,”
Aih, meski berkeringat, wajah mereka masih tampak begitu bersemangat.
“Kereta berangkat jam berapa?” tanya saya
“Jam 11.45 , Bude,”
“Wah, ayo segera sarapan dan pulang. Jam 11 kalian harus sudah di stasiun,”
Langkah kami percepat untuk keluar dari Kampoeng Heritage. Mencari sarapan, itu target berikutnya. Sesuai rencana pagi itu kami sarapan di warung soto yang tak jauh dari Kayutangan.
Kami terus berjalan. Kesibukan warga kian terasa. Warung dan kedai kopi makin banyak yang buka, demikian juga banyak ibu-ibu yang berangkat atau pulang dari pasar.
“Monggo, Bu,” sapa seorang ibu yang menjinjing belanjaan yang saya jawab dengan sebuah anggukan ramah.
Jalan-jalan, saling menyapa, juga menikmati nuansa lawas dari tempat tempat yang kami kunjungi sungguh membuat pagi kami terasa hangat. Lewat perjalanan di Kampoeng Heritage Kajoetangan ini mesin waktu seolah diputar ulang, kembali menghadirkan berbagai kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan.