Relasi dan Fungsi

Amatilah gambar di atas. Tampak beberapa siswa dengan baju adat sedang melakukan kegiatan sesuai hobi masing-masing. Relasi antara siswa dan baju adat, juga antara siswa dan hobi adalah fungsi atau pemetaan. Apakah fungsi atau pemetaan itu?

Fungsi atau pemetaan adalah relasi khusus dari himpunan A ke himpunan B yang memasangkan setiap anggota himpunan A ke tepat satu anggota himpunan B. 

Istilah Penting dalam Fungsi

  • Domain: Daerah asal atau seluruh anggota [himpunan A].
  • Kodomain: Daerah kawan atau seluruh anggota [himpunan B].
  • Range: Daerah hasil, yaitu subset dari kodomain yang merupakan pasangan aktual dari anggota domain. 

Cara Menyatakan Fungsi

  • Diagram Panah: Menggambarkan hubungan antar-anggota dua himpunan menggunakan tanda panah.
  • Himpunan Pasangan Berurutan: Menuliskan pasangan dalam bentuk koordinat .
  • Diagram Kartesius: Menyajikan anggota domain pada sumbu-X dan kodomain pada sumbu-Y. 

Untuk pemahaman lebih lanjut tentang relasi dan fungsi mari kita lihat soal soal berikut ini!

Hewan Peliharaan

sumber gambar : Kompas.com

Di sebuah desa, setiap penduduk memiliki satu hewan peliharaan kesayangan. Tidak ada penduduk yang memelihara lebih dari satu hewan, dan tidak ada hewan yang dipelihara oleh lebih dari satu penduduk. Hubungan antara “penduduk” dan “hewan peliharaan” digambarkan sebagai pasangan.

Berdasarkan aturan desa tersebut, manakah pernyataan yang paling tepat?

A. Hubungan itu adalah fungsi, karena setiap penduduk punya tepat satu hewan peliharaan.
B. Hubungan itu bukan fungsi, karena hewan peliharaan bisa banyak.
C. Hubungan itu bukan fungsi, karena penduduk bisa memelihara banyak hewan.
D. Hubungan itu bukan fungsi, karena tidak ada bilangan di dalamnya.

Kunci Pintu

Di sebuah kerajaan terdapat sekumpulan kunci dan sekumpulan pintu. Setiap kunci hanya dapat membuka satu pintu tertentu. Namun, satu pintu bisa dibuka oleh beberapa kunci yang berbeda. Hubungan antara “kunci” dan “pintu yang dapat dibuka” dicatat dalam sebuah diagram panah.

Seorang penjaga istana berkata, “Jika kita melihat dari arah kunci ke pintu, hubungan ini sungguh teratur.” Namun, seorang filsuf berkata, “Belum tentu, karena bisa jadi ada kunci yang tidak membuka pintu mana pun.”

Manakah analisis yang paling tepat tentang hubungan tersebut?

A. Hubungan kunci ke pintu adalah fungsi, karena setiap kunci hanya membuka satu pintu.
B. Hubungan kunci ke pintu bukan fungsi, karena satu pintu bisa dibuka banyak kunci.
C. Hubungan kunci ke pintu adalah fungsi, karena setiap pintu pasti punya kunci.
D. Hubungan kunci ke pintu bukan fungsi, karena jumlah kunci dan pintu tidak sama.

Buku dan Peminjam

Membaca buku di perpustakaan, by : Gemini AI

Di sebuah perpustakaan, setiap buku hanya boleh dipinjam oleh satu pembaca. Namun, seorang pembaca boleh meminjam banyak buku. Hubungan antara “buku” dan “pembaca yang meminjam” dibuat dalam diagram panah.

Penjaga perpustakaan ingin mengetahui apakah hubungan dari buku ke pembaca merupakan fungsi. Ia juga ingin mengetahui apakah hubungan dari pembaca ke buku merupakan fungsi.

Manakah pernyataan yang paling tepat?

A.Buku ke pembaca adalah fungsi, sedangkan pembaca ke buku bukan fungsi.
B. Buku ke pembaca bukan fungsi, sedangkan pembaca ke buku adalah fungsi.
C. Keduanya adalah fungsi.
D. Keduanya bukan fungsi.

Klub Sains

Di sebuah klub sains, terdapat lima siswa yang masing-masing memiliki nomor anggota: 1, 2, 3, 4, dan 5. Setiap siswa hanya boleh memilih satu jenis eksperimen favorit. Hubungan antara “nomor anggota” dan “jenis eksperimen favorit” dicatat sebagai pasangan berurutan. Data yang tercatat adalah saebagai berikut:

  • Anak nomor 1 memilih roket air
  • Anak nomor 2 memilih volcano
  • Anak nomor 3 memilih roket air
  • Anak nomor 4 memilih magnet
  • Anak nomor 5 memilih volcano

Seorang pembina berkata, “Hubungan ini adalah fungsi.” Seorang siswa membantah, “Tidak, karena ada eksperimen yang dipilih lebih dari satu siswa.”

Manakah pernyataan yang paling tepat?

A. Hubungan itu fungsi, karena setiap nomor anggota memiliki tepat satu eksperimen favorit.
B. Hubungan itu bukan fungsi, karena roket air dipilih oleh dua siswa.
C. Hubungan itu bukan fungsi, karena jumlah eksperimen lebih sedikit daripada siswa.
D. Hubungan itu fungsi, karena semua nomor anggota berbeda.

Turnamen Catur

Di sebuah turnamen catur, terdapat empat pemain dengan nomor peserta: 10, 20, 30, dan 40. Setiap pemain melawan tepat satu lawan dalam babak pertama. Hubungan antara “nomor peserta” dan “nomor lawan” dicatat sebagai pasangan berurutan.

Data yang tercatat adalah:

  • 10 melawan 30
  • 20 melawan 40
  • 30 melawan 10
  • 40 melawan 20

Panitia berkata, “Hubungan dari nomor peserta ke nomor lawan adalah fungsi.” Seorang peserta bertanya, “Apakah hubungan ini juga korespondensi satu-satu?”

Manakah pernyataan yang paling tepat?

A. Hubungan itu fungsi, tetapi bukan korespondensi satu-satu.
B. Hubungan itu fungsi dan korespondensi satu-satu.
C. Hubungan itu bukan fungsi, tetapi korespondensi satu-satu.
D. Hubungan itu bukan fungsi dan bukan korespondensi satu-satu.

Hobi

Hobi siswa, dokumentasi pribadi

Lima orang siswa yaitu Adi, Bima, Citra, Dina, dan Eka diminta menuliskan satu hobi favorit mereka. Hobi yang tersedia adalah membaca, melukis, berkebun, memasak, dan fotografi. Setiap siswa hanya boleh memilih satu hobi. Hubungan antara “nama siswa” dan “hobi favorit” dicatat sebagai pasangan berurutan.

Data yang tercatat adalah:

  • Adi memilih membaca
  • Bima memilih melukis
  • Citra memilih membaca
  • Dina memilih berkebun
  • Eka memilih fotografi

Guru berkata, “Hubungan ini adalah fungsi.” Seorang siswa bertanya, “Mengapa bisa disebut fungsi, padahal membaca dipilih oleh dua orang?”

Manakah penjelasan yang paling tepat?

A. Karena setiap siswa memiliki tepat satu hobi favorit.
B. Karena setiap hobi favorit dimiliki oleh tepat satu siswa.
C. Karena jumlah siswa lebih banyak daripada jumlah hobi.
D. Karena hobi membaca dipilih oleh Adi dan Citra.

Klub Olah Raga

Olah raga, sumber gambar: Gemini AI

Di sebuah klub olahraga, terdapat empat anggota dengan nomor anggota: 1, 2, 3, dan 4. Setiap anggota memilih satu olahraga favorit. Olahraga yang tersedia adalah sepak bola, bulu tangkis, renang, dan basket. Hubungan antara “nomor anggota” dan “olahraga favorit” dicatat sebagai pasangan berurutan.

Data yang tercatat adalah:

  • Anggota 1 memilih sepak bola
  • Anggota 2 memilih bulu tangkis
  • Anggota 3 memilih renang
  • Anggota 4 memilih basket

Pelatih berkata, “Hubungan ini adalah korespondensi satu-satu.” Seorang anggota bertanya, “Apa alasannya?”

Manakah alasan yang paling tepat?

A. Karena setiap anggota memiliki satu olahraga favorit dan setiap olahraga favorit dimiliki oleh tepat satu anggota.
B. Karena jumlah anggota sama dengan jumlah olahraga.
C. Karena sepak bola adalah olahraga paling populer.
D. Karena setiap anggota boleh memilih lebih dari satu olahraga.

Genre Musik Favorit

Di sebuah komunitas musik, lima remaja yaitu Fani, Gilang, Hana, Irfan, dan Joko diminta menuliskan satu genre musik favorit. Genre yang tersedia adalah pop, rock, jazz, dangdut, dan klasik. Hubungan antara “nama remaja” dan “genre musik favorit” dicatat sebagai pasangan berurutan.

Data yang tercatat adalah:

  • Fani memilih pop
  • Gilang memilih rock
  • Hana memilih pop
  • Irfan memilih jazz
  • Joko memilih rock

Seorang pembina berkata, “Jika kita membuat hubungan dari genre musik ke nama remaja, maka hubungan itu bukan fungsi.” Seorang remaja bertanya, “Mengapa?”

Manakah alasan yang paling tepat?

A. Karena genre pop dimiliki oleh Fani dan Hana, serta rock dimiliki oleh Gilang dan Joko, sehingga satu genre bisa berpasangan dengan lebih dari satu nama.
B. Karena setiap remaja hanya memilih satu genre musik.
C. Karena jumlah genre musik ada lima.
D. Karena jazz hanya dipilih oleh Irfan.

Film Favorit

Di sebuah kelas, terdapat empat siswa dengan nomor absen: 11, 12, 13, dan 14. Setiap siswa memilih satu film favorit. Film yang tersedia adalah film petualangan, komedi, horor, dan animasi. Hubungan antara “nomor absen” dan “film favorit” dicatat sebagai pasangan berurutan.

Data yang tercatat adalah:

  • Absen 11 memilih petualangan
  • Absen 12 memilih komedi
  • Absen 13 memilih horor
  • Absen 14 memilih animasi

Kemudian datang siswa baru dengan nomor absen 15. Ia belum memilih film favorit. Guru berkata, “Jika siswa baru ini belum memilih film favorit, maka hubungan dari nomor absen ke film favorit bukan fungsi.”

Manakah alasan yang paling tepat?

A. Karena ada anggota domain, yaitu absen 15, yang tidak memiliki pasangan di kodomain.
B. Karena film animasi hanya dipilih oleh satu siswa.

Merapi Lava Tour, dari Petilasan Mbah Maridjan hingga Offroad Air Kali Kuning

Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ketika bus kami mulai meninggalkan Hotel Pandanaran Yogyakarta.

“Bapak/Ibu, hari ini kita akan mengikuti Merapi Lava Tour. Beberapa tempat yang akan kita kunjungi adalah  Museum Petilasan Mbah Maridjan, Batu Alien, Bunket Kaliadem dan terakhir off road Air Kali Kuning,” jelas pemandu kami Mbak Nia dari Nala Tour. 

Bus terus melaju membelah lalu lintas Yogyakarta yang semakin ramai. Sesekali terdengar canda tawa di dalam bus, sementara lagu-lagu yang ditayangkan berganti ganti. Mulai dari Dewa 19 hingga  campursari. Wah, serasa gayeng sekali.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama sampailah kami di tempat yang dituju. Turun dari bus, kami langsung disambut oleh pemandu dari Merapi Lava Tour dan beberapa Jeep siap mengajak kami berkeliling di area sekitar Merapi.

Berempat kami menaiki Jeep warna merah. Tutorial naik dan turun kendaraan perang ini diberikan oleh Mas Wisnu guide kami dengan sabar.

Mas Wisnu, driver sekaligus guide kami ini banyak bercerita tentang cerita erupsi Merapi di tahun 2010. Sebagai orang Yogja asli Mas Wisnu tampak begitu memahami daerah Merapi ini.

Menuju Jeep, dokumentasi pribadi

Jeep kami melalui jalan yang naik turun dengan kecepatan yang tinggi menurut saya. Memang sepertinya di sini sensasinya. Naik kendaraan terbuka, melihat alam sekitar dan menikmati udara yang begitu segar.

Setelah perjalanan yang tidak begitu lama, Jeep kami memasuki wilayah Museum Petilasan Mbah Maridjan.

Museum Petilasan Mbah Maridjan 

Museum ini berada di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sesuai dengan namanya, tempat ini dibangun untuk mengenang Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi atas kesetiaan dan pengabdiannya dalam menjaga tradisi dan spiritualitas masyarakat setempat.

Mbah Maridjan menjadi ikon nasional setelah letusan besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Saat itu beliau bersikeras tinggal di rumah saat terjadi erupsi hingga beliau meninggal di tempat.

Gamelan Mbah Maridjan , bagian dari museum Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

Museum Petilasan Mbah Maridjan dibangun di lokasi yang berdekatan dengan rumah Mbah Maridjan, yang hancur akibat letusan Merapi. 

Di Museum ini kita bisa melihat banyak barang peninggalan Mbah Maridjan yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti pakaian, sarung, dan peci yang biasa ia gunakan, termasuk juga replika rumah Mbah Maridjan yang hancur, serta motor tua yang menjadi kendaraannya sehari-hari. 

Di sini kita juga bisa melihat dokumentasi kehidupan Mbah Maridjan sebagai juru kunci Merapi, informasi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, proses evakuasi dan berbagai kerusakan serta dampak bagi masyarakat sekitarnya.

Hingga kini di sekitar museum banyak penjual makanan atau cinderamata. Salah satu kios adalah milik putri dari Mbah Maridjan. 

Toko cinderamata milik putri Mbah Maridjan, dokumentasi pribadi

“Mas Wisnu kenal Mbah Maridjan?” tanya saya ketika kami kembali naik Jeep untuk melanjutkan perjalanan.

“Kenal, ” jawabnya.

“Beliau baik sekali, sabar,” tambah Mas Wisnu. Tampak sekali ia sangat menghormati sosok Mbah Maridjan.

Dari Museum Mbah Maridjan perjalanan kami lanjutkan ke Bunker Kaliadem dan batu Alien.

Bunker Kaliadem 

Bagian depan bunker, dokumentasi pribadi

Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan bawah tanah di lereng Gunung Merapi yang dibangun pada tahun 2001 .

Bunker ini dibangun oleh pemerintah kabupaten Sleman dengan fungsi sebagai tempat evakuasi darurat bagi warga dan relawan dari terjangan awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi.

Ketika terjadi erupsi pada tahun 2006, letusan gunung Merapi mengakibatkan aliran piroklastik atau awan panas bersuhu ekstrem menimbun seluruh bangunan bunker dan menutup pintu masuknya. Akibat nya dua orang relawan yang berlindung di dalam bunker meninggal dunia, karena suhu di dalam bunker melonjak sangat tinggi seperti oven akibat terjangan material panas. 

Berfoto dengan latar belakang gunung Merapi di area sekitar bunker, dokumentasi pribadi

Dari papan yang berisi informasi tentang bunker, bisa dilihat kondisi bunker sebelum erupsi, saat erupsi dan sesudah erupsi Merapi.

Dari lokasi bunker Kaliadem ini kita bisa melihat sosok Merapi yang tampak begitu indah dari jarak yang tak begitu jauh.

Batu Alien dan Off road Air Kali Kuning 

Batu Alien yang mirip manusia, sumber gambar: RRI

Jika di Padang ada batu Malin Kundang, maka di lereng Gunung Merapi kita bisa temui Batu Alien.

Batu Alien adalah bongkahan batu vulkanik erupsi Merapi tahun 2010 yang berbentuk mirip wajah manusia. 

 “Yang pertama menemukan menyebut, itu wajah alien, makanya sekarang namanya wisata Batu Alien,” kata pemandu wisata saatbitu.

Diperkirakan batu Alien dan batuan lainnya di lokasi tersebut berasal dari muntahan Gunung Merapi, yang dibawa Kali Gendol. Karena posisi kali sedikit menikung, maka  batu terlempar karena luapan kali tersebut.

Sesudah jelajah musium, bunker Kaliadem dan Batu Alien, kami tiba pada jelajah terakhir yaitu offroad air Kali Kuning.

Kali Kuning adalah sungai yang berhulu di puncak Gunung Merapi serta mengalir di bagian timur Kota Yogyakarta. Sungai tersebut tentu memiliki panjang sekitar 40 km dan mengalir melalui beberapa kapanewon di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul

Offroad Air Kali Kuning dilakukan dengan cara menaiki jeep terbuka dengan track offroad yang langsung melintasi beberapa jalur, seperti area berbatu, sungai dangkal, serta area yang berpasir. 

“Siap dipakai jas hujannya Ibu-ibu,” kata Mas  Wisnu mengingatkan. Bergegas kami memakai jas hujan dan tak lupa merapatkan helm.

Off road Air Kali Kuning, dokumentasi pribadi

“Pegangan yang kuat..!” kata Mas Wisnu sambil menambah kecepatan Jeep kami. Jeep meluncur menuju jalanan berbatu dan turun ke arah sungai kecil.

 “Wiiih…!” air langsung muncrat naik membasahi kami para penumpang Jeep. Teriakan dan tawa langsung berderai bersama. 

“Aman, Ibu-ibu?” tanya Mas Wisnu memastikan.

“Aman..!” teriak kami bersemangat

Dengan cekatan Mas Wisnu memutar mobil , kembali ke rute awal dan Jeep kembali melintasi sungai. Semakin tinggi kecepatannya semakin tinggi pula air yang muncrat di sekitar kami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.

Rute Jeep yang berkelok- kelok, cipratan air sungai dan jeritan para penumpang membuat pengalaman ini tak akan terlupakan.

Ketika matahari semakin tinggi, jelajah sekitar Merapipun diakhiri. Kami mengucapkan terima kasih pada Mas Wisnu yang telah begitu sabar menjadi guide kami dalam perjalanan pagi ini.

Setelah sejenak bersih diri, kamipun menuju bus untuk persiapan kembali ke Malang.

“Bu, monggo salaknya.. salaknya,”  seorang ibu menawarkan dagangan salak di tangannya. 

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, Merapi adalah guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa

“Manis?” tanya saya.

“Manis, Bu, bisa dicoba,” katanya ramah. Saya dan teman-teman masing-masing mengambil satu ikat dan segera memasukkannya ke dalam bagasi bus.

Matahari kian terik, dan bus kami perlahan meninggalkan area Merapi. 

Dari kejauhan dengan latar langit yang berwarna biru terang, sosok Merapi tampak indah dan begitu perkasa.

Merapi yang luar biasa.

Bukan hanya sebagai gunung yang menyimpan amarah dan pernah menelan korban, tetapi juga sebagai guru yang mengajarkan ketangguhan, tentang kehidupan yang terus berjalan di atas bekas luka, dan tentang alam yang selalu punya cara untuk mengingatkan kita akan kebesaran Yang Kuasa.

Mbak Menik

“Bothok, nasi bakar…, oseng oseng godhong kates,”

Sebuah ‘keributan’ kecil mulai mewarnai pagi di kampung kami. Teriakan Mbak Menik. Ya, dengan suaranya yang cempreng namun penuh semangat, Mbak Menik membangunkan penduduk kampung dengan menawarkan dagangannya. 

“Mbak Sri…Mbak Weni.., bothoknya.. tempe tahu teri..!” Teriakan Mbak Menik kembali membahana ketika melewati rumah hijau yang berhadapan dengan rumah bercat coklat; rumah Mbak Weni dan Mbak Sri.

Pintu rumah hijau dibuka dan Mbak Menik dengan keranjang di tangan serta bakul di atas kepala  langsung masuk.

Tak berapa lama setelahnya, Mbak Menik segera keluar.

“Matur nuwun Mbak Weni,” katanya senang.

“Iya Mbak Menik, ati-ati.., laris..laris!” tambah Mbak Weni sambil mengantar sang penjual sampai ke pagar.

“Suwun..!” Teriak Mbak Menik sambil tertawa renyah.

Itulah Mbak Menik. Semangat seolah tak pernah surut dari wajahnya. Hidup sendiri di usia jelang kepala tujuh, tidak menghalangi semangatnya untuk terus bekerja. Ia masih sering menerima pesanan masakan, membantu bersih-bersih bahkan momong anak kecil. Seolah tiada hari tanpa kesibukan.

“Saya kalau diam saja tambah sakit,” katanya ketika ditanya mengapa terus bekerja. Rupanya menganggur membuat Mbak Menik tidak nyaman. Terlalu banyak diam membuatnya ingat almarhum suaminya dan akhirnya membuatnya semakin nglokro (sedih dan malas). 

“Mbak Menik masak piyambak?” tanya saya suatu hari demi melihat aneka makanan dalam keranjangnya. Ada lebih dari lima macam.

“Oseng-oseng godhong kates masak sendiri, yang lain punya orang-orang,” katanya.

“Wah, berarti tiap hari banyak yang titip ke Mbak Menik?” tanya saya takjub. Benar, takjub dengan semangatnya mengajak orang lain untuk bergerak memutar roda ekonomi rumah tangga.

Dagangan Mbak Menik, dokumentasi pribadi

“Leres, Mbak Ajeng,” katanya sambil menyebutkan nama-nama tetangga yang titip juga jenis masakannya.

“Luar biasa Mbak Menik,” kata saya kagum

Mbak Menik tertawa. “Halah…, saget e namung kados ngeten lo..,” katanya merendah. Artinya  “bisanya cuma seperti ini lo..”.

Bukan sekedar penjaja makanan, kehadiran Mbak Menik suatu hari bisa menjadi penyemangat dan inspirasi bagi diri saya sendiri.

Pernah suatu saat saya merasa segan sekali untuk berangkat ke sekolah. Badan rasanya sakit semua, mungkin kecapekan atau juga karena mewabahnya flu seperti yang sekarang sedang ramai diperbincangkan.

Nah, pagi-pagi sekitar pukul setengah enam terdengar suara Mbak Menik  kembali menawarkan dagangannya di depan rumah saya. 

“Monggo Mbak Menik,” kata saya sambil membukakan pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini suara Mbak Menik tidak begitu ‘ngegas’.

“Urap, sambel goreng kentang, sama nasi bakar,” kata saya sambil menyodorkan sejumlah uang.

“Mbak Menik agak sakit?” tanya saya demi melihat wajahnya yang agak pucat, tidak sesegar biasanya.

Mbak Menik tersenyum sambil menjawab,”Inggih Mbak Ajeng, nggreges mulai kemarin,”

“Lha.., sama, kok tidak istirahat?” tanya saya. 

Dagangan Mbak Menik , dokumentasi pribadi

Mbak Menik tersenyum sambil menata dagangan dalam keranjangnya.

“Mboten, lha kalau saya libur nanti dapat uang dari mana? Lagi pula kasihan teman- teman yang sudah terlanjur masak,” katanya sambil membetulkan jaketnya yang tebal. Tampak sekali ia kurang sehat hari ini.

“Hati-hati Mbak Menik,” kata saya di depan pintu sebelum Mbak Menik mengangkat keranjangnya.

“Inggih Mbak Ajeng, pokoknya kalau pusing saya duduk sebentar,  terus lanjut lagi,” tambahnya. Meski suaranya agak pelan, tapi tekad dan semangat masih sangat terasa.

Saya tiba-tiba merasa malu. Malu pada semangat Mbak Menik.

Sungguh, pagi ini saya berencana absen karena badan agak sakit dan meriang. Tapi rasanya tidak sebanding dengan Mbak Menik yang nggreges mulai kemarin, harus memakai jaket tebal, tapi masih mau membawa dagangan yang berat dan berkeliling kampung. Aih..

Setelah Mbak Menik berpamitan dan melanjutkan perjalanan, bergegas saya segera masuk, ganti baju dan melakukan persiapan ke sekolah.

“Le, sepedanya tolong dikeluarkan,” kata saya pada anak saya

“Lho, katanya tidak masuk?” tanya anak saya heran.

“Masuk Le, hari ini anak-anak ulangan,” jawab saya singkat. 

Anak saya memandang saya agak lama. 

“Ibuk sudah sehat?” Ia bertanya memastikan

“Sehat Le, nanti ketemu anak- anak tambah sehat,” senyum saya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Saya menyetater Vario untuk segera berangkat ke sekolah. Sepeda saya mulai berjalan melewati gang-gang yang kian ramai.

“Monggo, Bu guru,” sapa beberapa orang yang saya balas dengan senyum dan anggukan.

Dari kejauhan terdengar suara orang menjajakan dagangan. Meski samar, cemprengnya suara itu sangat saya kenal. Ya, suara Mbak Menik dengan dagangannya.

 “Urap-urap.. nasi bakar..!”

Hangatnya Omelet Pagi di Pandanaran

Sebuah pagi di Yogyakarta. Suasana ruang makan Hotel Pandanaran tempat kami menginap sudah mulai ramai. 

Kami duduk berempat atau berlima mengitari meja makan kecil . Ada yang menyantap soto, bubur ayam, omelette sementara saya sendiri bihun dan kerupuk.

“Tambah omelet, enak,” kata teman saya sambil menunjuk ke arah chef yang sedang sibuk membuat omelet. Chef-nya masih muda, kelihatannya ramah pula, saya sebut Mas Chef saja.

Tanpa dikomando dua kali saya langsung mendekati Mas Chef. “Boleh minta satu, Mas?”

“Boleh, Bu , ditunggu ya,” katanya  sambil terus fokus pada panci dadar di atas kompor . Sementara tangan yang satu memegang gagang panci, tangan yang lain melipat telur dadar di atas panci yang sudah diberi mentega, mencampurkan irisan paprika lalu sekali lagi melipatnya.

“Saya kalau membuat omelet kok tidak secantik itu ya,” kata saya jujur.

 Asli…, meski enak (kata anak-anak saya) omelet saya tidak secantik punya Mas Chef ini. Omelet saya biasanya agak coklat, agak kaku dan gosong tepinya. Punya Mas Chef ini warnanya kuning cantik dengan pletik-pletik merah paprika dan sosis.

Mas Chef tersenyum sambil mempersilakan saya mengambil omelet. Olala, omelet yang lembut, diberi sedikit saus tomat adalah sajian lezat yang membuat pagi itu menjadi lebih bersemangat.

Bersama Mas Chef, dokumentasi pribadi

“Lembut sekali, apa rahasianya?” tanya saya penasaran.

“Tidak ada rahasianya,Bu,” kata Mas Chef tersenyum sambil terus bekerja. Di belakang saya beberapa orang antre untuk juga mengambil hidangan satu ini.

Tentang Omelet atau Omelette

Omelet dengan tekstur yang lebih padat, sumber gambar: ResepMamiku

Omelet atau omelette adalah hidangan yang dipopulerkan oleh para koki dari Perancis.

Hidangan ini sebenarnya berasal dari Persia yang bernama kuku sabzi atau kuku isi rempah. Kata omelet mulai digunakan pada pertengahan abad ke 16 menurut Alan Davidson dalam bukunya The Oxford Companion to Food.

Seorang koki terkenal Prancis abad 16 dan awal abad 17, François Pierre La Varenne dalam buku masaknya Le Cuisinier françois (1651) menyebut aumelette, dan omelet modern muncul di hidangan-hidangan borjuis atau Cuisine Bourgeoise pada 1784.

Omelet adalah makanan yang cepat disajikan tapi bergizi. Dengan menambahkan sayuran ke pada omelet, akan bisa dihasilkan 270 kalori per sajian, di samping juga mengandung berbagai nutrisi seperti  vitamin A, kalium, vitamin E, vitamin D, kalsium, juga  folat.

Lalu bagaimana cara membuat omelet?

Membuat omelet yang enak dan lembut sangat mudah dengan menggunakan teflon anti lengket dan api kecil. 

Berikut adalah cara membuat omelet yang saya peroleh dari Mas Chef pagi itu.

Bahan-Bahan

2–3 butir telur ayam

2 sendok makan susu cair (opsional, agar lebih lembut)

Garam dan lada jika suka

1 sendok makan mentega atau margarin

Isian (opsional): Irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Cara Membuat

Pecahkan telur ke dalam mangkuk, lalu masukkan susu cair, garam, dan lada. Kocok menggunakan garpu  sampai tercampur rata dan sedikit berbusa.

Masukkan isian seperti irisan sosis, keju parut, paprika, daun bawang, atau jamur 

Panaskan wajan teflon dengan api kecil lalu lelehkan mentega atau margarin hingga merata. 

Tuang adonan telur ke dalam teflon. Biarkan bagian bawahnya sedikit mengeras, lalu lipat omelet menjadi dua bagian atau gulung perlahan. 

Mirip membuat telur dadar ya? Ya, hanya bedanya isi omelet bisa beragam, sementara telur dadar biasanya menggunakan daun bawang sebagai isinya.

Angkat omelet dari teflon dan sajikan selagi hangat. 

Kehadiran saos dalam penyajian omelet bisa lebih menggugah selera lebih lebih jika pembuatan omelet tidak menggunakan garam atau lada.

Pagi yang begitu hangat. Pembicaraan di meja makan jadi dipenuhi dengan cara membuat omelet.

“Kalau hanya telur, sosis, parutan wortel irisan lombok itu teksturnya lebih ringan karena tanpa karbo. Jika ingin tekstur omelet yang padat, bisa ditambahkan mie, sedangkan untuk omelet yang krispi pada telur yang didadar bisa ditambahkan tapioka,” kata seorang teman yang pintar memasak.

Setelah menyelesaikan omelet yang kedua bergegas kami mengambil kopor untuk persiapan masuk kendaraan.

Mbak Nia, siap memandu jalan jalan di Yogyakarta, dokumentasi pribadi

“Monggo rombongan dari Malang sebentar lagi masuk bus untuk melanjutkan perjalanan,” 

Suara Mbak Nia leader kami kembali terdengar. Dengan topi lebar dan penampilan yang lebih segar ia siap memandu kami untuk jelajah Yogyakarta di hari kedua. Aha…

Salam jalan-jalan….😊

Masjid Al Aqsha Klaten, Oase Penyejuk Jiwa di Tengah Perjalanan Malang-Yogyakarta

Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih ketika bus kami mulai memasuki halaman Masjid Al Aqsha Klaten. Lampu masjid yang berwarna- warni membuat siluet masjid tampak begitu anggun di tengah kegelapan.

“Bapak/ibu , silakan beristirahat di Masjid Al Aqsha sambil menunggu saatnya shalat Subuh,” kata Mbak Nia leader kami dari Nala Tour.

Beberapa di antara penumpangpun turun menuju masjid, sementara yang lain lebih memilih menunggu dalam bus hingga azan tiba. Ya, perjalanan selama lima jam dari kota Malang membuat badan terasa lelah dan mata demikian mengantuk.

Masjid Al Aqsha di malam hari, dokumentasi Buz

Sejuknya air wudhu membuat mata saya kembali terasa segar. Sementara itu suara qiroah dari pengeras suara masjid mulai terdengar, menandakan saat subuh akan segera datang.

Hari itu (Jumat, 05/09)  adalah untuk kedua kalinya saya mampir ke Masjid Al Aqsha Klaten. Yang pertama adalah sekitar tahun 2018 ketika perjalanan  pulang dari Yogyakarta, dan yang kedua adalah sekarang ini ketika saya ikut rombongan sekolah dalam perjalanan Malang-Yogykarta.

Sekilas tentang Masjid Agung Al Aqsha Klaten

Di depan menara masjid Klaten , dokumentasi pribadi

Masjid yang indah. Itu yang terpatri dalam ingatan saya setelah kunjungan yang pertama. Masjid dipenuhi dengan ornamen cantik yang akan memukau setiap pengunjungnya. Ornamen tersebut berupa ragam hias maupun kaligrafi petikan ayat suci Al Qur’an.

Masjid Al Aqsha terletak di Jl. Solo – Jogja, Peraksangkal, Jonggrangan, Kec. Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasi masjid yang sangat  strategis membuatnya selalu ramai pengunjung.

Suasana sholat di dalam Masjid Al Aqsha, dokumentasi pribadi

Dibangun sejak tahun 2012 di atas lahan seluas 5.266 meter persegi, masjid ini memiliki arsitektur gaya Timur Tengah yang demikian megah dan detail ukir-ukiran di sudut-sudutnya. 

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa lahan tempat Masjid Agung Al-Aqsha ini berdiri dulunya merupakan terminal Bus utama di Klaten yang kemudian dipindahkan ke dekat jalan lingkar Klaten. 

Masjid ini juga dilengkapi dengan menara setinggi 66.66 meter dengan menara pandang diketinggian 35 meter.

Tangga masjid, dokumentasi pribadi

Setelah sekitar 15 menit menunggu, lantunan Azan Subuhpun terdengar. Suara muadzin yang lembut dan merdu membuat kami, para jamaah duduk terpekur merasakan  kesejukan serta kedamaian yang langsung merasuk ke dalam hati.

Ketika jamaah semakin banyak, sholat Subuh pun didirikan. Takbir dan doa-doa yang terucap adalah ungkapan kelemahan diri dan permohonan petunjuk pada Ilahi untuk mengarungi perjalanan hari ini.

Akhirnya, sebagai bagian dari sebuah perjalanan, mampir ke Masjid Al Aqsha Klaten adalah sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.

Berfoto sesudah sholat, dokumentasi pribadi Anggita

Berada di jalur lalu lintas antar kota, kehadiran masjid ini seperti oase penyejuk jiwa yang mengingatkan kita untuk sejenak berhenti, bersyukur pada Ilahi atas segala nikmat yang diberikan. Ya, bukankah atas berkah dan kasih dan sayang Nya  hingga  hingga kita mampu menempuh perjalanan hidup sampai di titik sekarang ini?

Salam jalan-jalan 😊