Sebuah Perjalanan Nostalgia ke Taman Rekreasi Sengkaling

Siang itu kami mendapat undangan untuk makan bersama sepulang sekolah. Aha, sebuah hal yang pantang ditolak, apalagi undangannya kali ini dalam rangka syukuran ulang tahun teman.

“Sengkaling? Jauh sekali?” tanya saya heran

Sengkaling adalah sebuah wahana rekreasi yang ada di Kabupaten Malang.

“Ah, tidak jauh.. ya manut sajalah wong kita diundang,” jawab teman saya sambil tertawa. Selama ini makan di daerah sekitar Sengkaling tidak pernah masuk dalam agenda kami. Ya, jarak Sengkaling ke sekolah cukup jauh. Kira-kira setengah jam bersepeda motor. Belum lagi macetnya.

Akhirnya kami berangkat bersama dari sekolah dengan kendaraan moda online. Suasana jalan lumayan ramai, terutama di sekitar Sumbersari dan Dinoyo. Tentu saja, di daerah ini banyak ditinggali mahasiswa baik yang kuliah di UIN, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang juga Universitas Negeri Malang.

Spot foto menarik di Sengkaling, dokumentasi Buz

Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai. 

Sekul (Sengkaling kuliner )  yang kami tuju. Sebuah tempat makan yang lumayan luas dan berada  tepat di dekat pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling. 

Nama yang menarik, sekul artinya nasi, nasi erat kaitannya dengan makan.  Cocok sekali karena sekul menyediakan berbagai macam hidangan untuk orang orang yang perlu makan alias lapar.

Saat itu suasana tidak begitu ramai. 

Bersama kami menikmati hidangan di Sekul dengan suasana gembira. Sesekali ada canda di antara kami. 

Sekitar pukul setengah empat acara makan selesai. Bergegas kami akan segera pesan mobil lagi untuk balik sekolah guna mengambil kendaraan kami masing masing. 

Tapi ya ampun, satu kejutan telah menanti. Teman kami yang berulang tahun mengeluarkan enam buah tiket untuk masuk Sengkaling.

“Dipakai besok bisa?” tanya salah satu teman saya.

“Harus hari ini,” kata teman saya sambil tertawa. 

Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Waduh.., agar tiket tidak hangus akhirnya ‘terpaksa’ kami berenam masuk. Ini namanya rezeki.., tidak ada angin tidak ada hujan tahu tahu rekreasi ke Sengkaling, pikir kami.

Agak aneh juga rasanya pergi ke taman rekreasi di sore hari. Tapi tak apalah, hitung hitung refreshing juga.

Sedikit tentang Taman Rekreasi Sengkaling, tempat rekreasi ini terletak di Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang. 

Taman Rekreasi Sengkaling pertama kali didirikan oleh seorang yang berkewarganegaraan Belanda, yaitu Mr. Coolman pada tahun 1950. Pada tahun 1975 dikelola oleh PT Bentoel dan pindah dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015.

Pemandian Sengkaling , dokumentasi pribadi

Daya tarik utama taman rekreasi ini adalah berbagai wahana permainan anak-anak, tempat berenang dan bersepeda air di telaga buatan, berbagai  koleksi binatang dan kolam renang. 

Sekul atau Sengkaling Kuliner yang terletak di depan juga  hotel yang bernama Kapal Garden Hotel yang bentuknya seperti kapal termasuk daya tarik yang dimiliki  taman rekreasi ini.

Kami terus memasuki area taman rekreasi. Tampak setiap sudut ditata dengan cantik sehingga bisa menjadi tempat yang sangat mengasyikkan untuk berfoto. Di beberapa spot foto kami selalu menyempatkan untuk foto, baik sendiri maupun bareng. He..he…

Bagi saya sendiri perjalanan ke Sengkaling ini tak ubahnya sebuah perjalanan nostalgia.

Berbagai wahan di Sengkaling, dokumentasi pribadi

Ya, di sekitar akhir tahun 70 an saya pernah rekreasi ke sini bersama para tetangga di kampung. Saat itu Sengkaling masih terbilang baru bagi kami, karena sebelumnya hanya diperuntukkan karyawan Bentoel Malang.  Karena penasaran dengan taman rekreasi baru ini, yang konon katanya tempat pemandiannya sangat bagus, kami beramai- ramai ke sana naik colt L 300.

Rasanya bagaimana? Wuih, senang sekali. Apalagi ketika datang ke sana pemandangannya memang benar- benar bagus. Jauh lebih bagus dari tempat rekreasi lain yang pernah kami datangi.

Saya yang saat itu masih usia SD sangat tertarik dengan patung putri salju dan tujuh orang kerdil yang sampai sekarang masih ada. Waktu itu saya tidak sempat berfoto kamera masih merupakan barang mahal, karenanya begitu ketemu lagi dengan putri salju, saya sempatkan untuk berfoto dulu. Aha…

Bersama putri salju, dokumentasi pribadi

Kapal berwarna putih yang terletak di tengah telaga juga masih kokoh berdiri. Dulu dalam pandangan saya dan teman-teman kapal ini tampak besar sekali. Kami bahkan masuk kapal dan berjalan- jalan di dalamnya.

Sepeda air, perahu naga masih ada. Masih terbayang serunya bersepeda air di sini. Jerit dan tawa kami bersatu dengan kecipak air telaga. Sesekali tampak ikan yang berenang ke sana kemari.

Menurut keterangan yang ada, banyak wahana yang ditambahkan di Sengkaling seperti outbound, Kapal Misteri, Bioskop 4D, Bom Bom Car, Kolam Tirtasari, Taman Satwa, dan Pesona Primitif. Sungguh tempat yang sangat cocok untuk sebuah taman edukasi khususnya TK dan SD. 

Ah ya, menurut cerita teman saya yang juga pembina TK, siswa -siswinya di saat- saat tertentu diajak ODL (Outdoor Learning) ke tempat ini.

Semakin masuk area Sengkaling semakin terasa betapa banyak perubahan yang ada. Di bagian belakang taman rekreasi ini ada sebuah sungai yang dipenuhi batu- batu besar. Dulu ini sepertinya batas tempat rekreasi Sengkaling.

Saya tiba-tiba ingat saat makan bekal di sini bersama teman-teman ketika itu setelah lelah bermain air. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Sungai dengan batu batu besar, dokumentasi pribadi

Posisi sungai sekarang berada di tengah taman rekreasi karena Sengkaling terus diperluas.  

Kami terus berjalan menyusuri jembatan di atas sungai. Tidak jauh dari sini ada bumi perkemahan yang areanya cukup luas. Tempat ini  sering dipakai untuk event- event tertentu, pramuka misalnya.

Kami memutari danau buatan yang di tengahnya terdapat kapal pesiar putih yang menjadi ikon taman rekreasi ini. Deretan perahu naga dan sepeda air di tepI telaga, sabar menunggu kedatangan penyewa.

Sepeda air dan kapal pesiar di telaga buatan, dokumentasi pribadi

“Naik sepeda air?” tanya teman saya.

“Tidak usah, Bu” jawab saya sambil tersenyum. Sebenarnya ingin juga, tapi hari sudah semakin sore. Di langit matahari sudah semakin condong ke barat.

“Ayo, sudah waktunya balik,” ajak teman-teman. Ya, kami harus segera balik sekolah untuk mengambil sepeda motor kami.

Bergegas kami keluar dari Sengkaling dan pesan kendaraan lagi untuk menuju sekolah. 

Sengkaling semakin sepi. Satu demi satu pengunjung meninggalkan taman rekreasi.

Sungguh sebuah sore yang amat berkesan. Jalan- jalan ke Sengkaling bukan sekedar refreshing atau mencari angin segar. Perjalanan ini membuka kembali nostalgia tentang momen-momen manis yang pernah terukir di masa yang lalu.

Matematika dan Kerupuk dengan Harga Enam Juta Rupiah

Pagi itu sesudah jalan jalan pagi saya belanja ke pasar rakyat dengan anak saya. Sebelum pulang saya tiba-tiba ingat sesuatu. Keranjang belanjaan saya  berikan pada anak saya.

“Le, ke parkiran dulu, Ibuk mau beli kerupuk,” kata saya. Ya, sudah lama saya tidak menggoreng kerupuk sendiri. Sebenarnya kerupuk tiap hari ada di meja makan, tapi beli langsung matang. Kerupuk parabola istilahnya, bentuknya bundar agak besar.

Bergegas anak saya menuju parkiran sementara saya menuju toko di pojok pasar  yang menjual aneka kerupuk.

Saya memilih kerupuk bawang, warnanya putih, bentuknya bulat kecil kecil dan dikemas seperempat kiloan.

“Pinten Bu?” tanya saya sambil menunjuk kerupuk berwarna putih. Saya bolak-balik kerupuk tersebut. Ya,  ada sedikit berbeda, seperti ada “pletik-pletiknya”, pikir saya.

“Ooh, kerupuk bawang pedes niku Jeng.., enam juta saja,” kata ibuk penjual ramah. Rupanya “pletik-pletik” kecil itu cabe.

 Saya tersenyum kecil. Di antara kami, para pembeli dan penjual di pasar, khususon ibu-ibu, sering memplesetkan ribu jadi juta. Jadi enam juta berarti enam ribu. Mungkin karena belanja dengan nilai jutaan tidak mungkin akhirnya kami membuat mimpi sendiri. He…he…

“Ooh, enam juta , saya beli tiga ya, berarti delapan belas juta,” jawab  saya sambil tertawa.

Kerupuk parabola, Dokumentasi pribadi

Si Ibu tertawa senang. Mungkin karena kerupuknya saya beli, mungkin juga karena mendapat lawan guyon yang sepadan.

“Kalau emping melinjo?” tanya saya lagi sambil mengambil satu plastik emping melinjo. Beratnya saya tidak tahu.

“Ooh, niki dua puluh lima juta,” kata Ibu penjual. Kali ini dengan tawa yang lebar.

“Ah, dua puluh lima juta saja, saya beli satu,” jawab saya dengan gaya ‘sok’.

Seorang pembeli yang juga ibu- ibu, yang sejak tadi ikut mendengar diskusi kami langsung tertawa.

Sumber gambar: Antara News

“Ha..ha… mendah nggih Jeng, dua puluh lima juta niku sak pinten artone,” katanya yang disambung dengan tawa kami bertiga.

Sesudah mendapatkan empat plastik kerupuk saya masih menambah dengan terasi, kopi, bumbu masak dan kecap.

Sampun, Bu?” tanya Ibu penjual

Sampun,”

Sambil mengecek barang sekaligus menghitung, belanjaan saya dimasukkan satu persatu ke dalam kresek.

“Kerupuk tiga 18.000, tambah emping 25.000 jadi 43.000, tambah kopi…tambah kecap…tambah .. ,”

Dengan cepat Si Ibu yang jauh lebih senior dari saya ini terus menghitung dan hasil akhirnya tujuh puluh tiga ribu rupiah (bukan 73 juta). Bukan main, sudah cepat, tepat pula.

“Wah, joss kalkulatornya,” kata saya kagum.

Si Ibu tersenyum senang. Dengan sedikit berbisik ia berkata bangga,” Kulo rumiyin pas sekolah paling pinter itung-itungan, jare lare sakniki matematika,” 

Wah, dinten niki kulo biji seratus, Bu,” tambah saya yang disambut dengan tawa Si Ibu.

“Lho, Jeng Bu guru tah?” tanya Si Ibu ingin tahu.

Sekarang ganti saya yang berbisik.

Inggih, kulo guru matematika,”

“Oalahh,” kami tertawa panjang mengakhiri guyonan pagi itu.

De Karanganjar Koffieplantage : Tentang Blitar, Kopi dan Masa Lalu

Hari semakin sore ketika mobil kami memasuki kawasan De Karanganjar Koffieplantage Blitar. Ini adalah destinasi ketiga kami  dalam perjalanan sehari di Blitar setelah Kampung Coklat dan Museum Bung Karno.

Diiringi hujan yang begitu deras dan langit yang agak gelap kami segera menuju pintu masuk lokasi De Karanganjar Koffieplantage Blitar, atau perkebunan kopi Karanganjar.

Yang dinamakan pintu masuk bentuknya adalah serupa pintu gerbang besar yang dibukakan oleh penjaga yang bertugas di dalamnya. 

Dari informasi yang kami dapatkan di tempat ini kami bisa menemukan cafe, museum dan rumah Lodji.

Petunjuk lokasi di De Karanganjar Koffieplantage, dokumentasi Ayu

Sesudah membeli tiket masuk yang berbentuk kartu pos, kami segera masuk. Karena perut sudah lapar, tujuan pertama kami adalah cafe.

Sebenarnya untuk masuk ke cafe kami harus berjalan kaki, tapi karena cuaca kurang mendukung sore itu mobil kami dipersilakan masuk dan parkir tidak jauh dari cafe.

Ucapan selamat datang, dokumentasi Ayu

Van Harte Welkom in Onze Grootouders Cafe. Sebuah tulisan menyambut kedatangan kami di dekat pintu masuk. Artinya kurang lebih dengan sepenuh hati selamat datang di Onze Grootouders Cafe. Onze Grootouders sendiri bisa diartikan Our Grandparents. 

Begitu masuk cafe suasana tempo dulu langsung terasa. Deretan buku-buku, lukisan dan hiasan , termasuk juga radio, mesin hitung zaman dulu dan berbagai pernak pernik sangat menunjang tampilan lawas cafe ini.

Pernak pernik di OG cafe, dokumentasi Ayu
Lukisan dan pernak pernik di OG Cafe, dokumentasi pribadi
Lukisan dan foto lawas di OG cafe, dokumentasi pribadi

“Ayo kita duduk dulu, pesan makanan, lalu silakan jalan- jalan,” kata leader kami.

Setelah pesanan beres kamipun berjalan- jalan di sekitar cafe. Hanya bertiga, saya, Kimi anggota terkecil dari rombongan kami dan Mbak Ayu seorang penulis novel sejarah.

Saya dan Mbak Ayu sama-sama  mempunyai ketertarikan yang besar dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mbak Ayu sudah kedua kalinya ke sini, karena itu banyak dokumentasi di artikel ini hasil jepretannya saat berkunjung sebelumnya di mana saat itu cuaca sedang terang.

Dari berbagai informasi, ternyata De Karanganjar Koffieplantage ini berdiri sejak tahun 1874 dan termasuk salah satu perkebunan kopi tertua di Indonesia.

Karanganjar Koffieplantage , dokumentasi Ayu

Pada era Kolonial Belanda,  Blitar yang berada dekat gunung Kelud dijadikan salah satu daerah pusat pengembangan kopi di Jawa Timur. 

Saat itu banyak perkebunan kopi dibuka di sini dan salah satunya adalah De Karanganjar. 

De Karanganjar Koffieplantage didirikan oleh H. J. Velsink dan Hendrik Van Vredenberg kemudian dikelola oleh perusahaan Belanda NV. Kultuur Mij Karanganjar. 

Pada tahun 1957 perkebunan ini dinasionalisasi oleh  Sukarno, presiden pertama RI.

Bagian depan sebelum masuk Rumah Lodji, dokumentasi pribadi

Dari cafe kami terus berjalan memasuki Roemah Lodji. Lodji berasal dari kata lodge yang artinya benteng. Tentu saja bangunannya bukan berupa benteng, mungkin lodge di sini merujuk pada bangunan yang besar.

Di Rumah Lodji ini kita bisa mengenal lebih dekat  Keluarga Roeshadi yang telah tiga generasi mengelola perkebunan ini lewat berbagai koleksi barang-barangnya.

Suasana ‘lain’ sangat terasa. Apalagi ada sayup- sayup suara gending yang menemani perjalanan kami. Hujan yang turun semakin deras membuat suasana sepi kian terasa 

Kimi yang berjalan di dekat saya memegang tangan saya erat-erat. “Kok serem ya..,” bisiknya.

Satu hal menarik di Rumah Lodji ini adalah adanya kamar yang didedikasikan untuk Presiden Sukarno, yang pada tahun 1957 datang dan beristirahat di De Karanganjar Koffieplantage selama beberapa jam.

Kamar Bung Karno , dokumentasi Ayu

Dari Rumah Lodji kami masuk Moesioem Noegroho. Nama museum ini diambil dari nama salah satu pemilik perkebunan ini yaitu Herry Noegroho. 

Barang koleksi di museum ini sebagian besar milik Herry Noegroho dan puteranya Wima Brahmantya yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Herry Noegroho sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Blitar pada tahun 2005- 2016.

Di Moesioem Noegroho , dokumentasi Ayu
Koleksi benda benda antik, dokumentasi Ayu

Di dalam museum ini banyak terdapat koleksi benda-benda pusaka milik leluhur juga lukisan lukisan yang cantik. Satu hal yang menarik adalah adanya koleksi Batik Tutur asli Blitar yang pernah dibawa ke Negeri Belanda selama satu abad lebih.

Batik tutur, dokumentasi Ayu

Dari museum kami segera kembali ke cafe. Di luar rupanya ada acara perkemahan dari sebuah komunitas anak-anak. Ya, De Karanganjar Koffieplantage ini memang bisa menjadi destinasi wisata edukasi, karena di sini kita juga bisa belajar budidaya dan pengolahan kopi.

Kembali ke cafe, ternyata pesanan kami sudah siap. Berbagai macam makanan sudah menunggu demikian juga minuman hangat. 

Kami langsung makan. Hawa yang dingin membuat lapar kian terasa, dan membuat kami makan dengan lahap.

Satu hal yang menarik, peracik makanan bahkan yang menyajikan makanan di sini adalah orang bule.

Oh ya, kami sempat berkenalan dengan Benita, salah seorang bule asal Jerman yang sedang mengisi liburan di Indonesia dengan menjadi volunteer.

Berfoto bersama Benita, dokumentasi Buz

Untungnya leader kami, Ibu Arie adalah guru Bahasa Inggris, sehingga pembicaraan kami dan Benita terasa demikian hangat.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Cafe sudah tidak menerima  pesanan makanan dan minuman, karena pukul lima cafe sudah ditutup.

Setelah puas makan dan berkeliling , kami segera beranjak dari Onze Grootouders Cafe untuk menuju mobil. Kian sore hawa dingin kian terasa.

Hujan masih turun begitu deras.

Mobil kami terus berjalan meninggalkan halaman De Karanganjar Koffieplantage. Sebuah cafe di antara perkebunan kopi yang dikemas dengan nuansa sejarah yang demikian kental. Berjalan di area ini membuat kita seolah terlempar ke masa lalu menyusuri jejak peristiwa yang pernah terjadi Blitar era kolonial Belanda. 

Blitar ternyata punya banyak cerita. Sebenarnya kami ingin terus menjelajah, tapi karena waktu jua yang membuat kami harus segera balik ke Malang.

Roemah Lodji, dokumentasi pribadi

“Pulang?” tanya Kimi. Rupanya ia sudah mulai lelah dan mengantuk.

“Ya, kita pulang,” kata saya sambil tersenyum. 

Mobil kami terus melaju melalui jalan yang berkelok-kelok. 

Berjalan-jalan sehari di Blitar memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Kampung Coklat, Museum Bung Karno, De Karanganjar Koffieplantage, semua punya cerita sendiri-sendiri bagaikan mozaik yang memperindah tampilan kota ini.

Menurut rencana sebenarnya satu destinasi lagi akan kami datangi yaitu Candi Penataran. Tapi waktu tidak memungkinkan, karena sebentar lagi langit akan gelap.

Matahari perlahan tenggelam dan mobil kami terus berjalan menuju kota Malang. Deretan pepohonan seolah berlarian dilihat dari dalam mobil kami yang melaju kencang. 

Blitar, kami akan kembali, bisik hati saya.

Nikmati Sejuknya Alam dan Lezatnya Olahan Ikan di Waduk Mahoni Dempok

Jam masih menunjukkan pukul sebelas. Mobil yang kami naiki meninggalkan jalan Diponegoro Bululawang.

“Ini lanjut ke mana? Sengkaling atau Dempok? Atau Masjid Tiban Turen?” tawar Mas Andre driver kami.

Setelah berunding sejenak, kami memutuskan bahwa hari itu kami akan jalan- jalan ke Dempok.

“Nanti di sana kita bisa menikmati aneka hidangan ikan di tepi semacam telaga,” kata Mas Andre.

Wah, menarik ini, pikir kami.

Pemandangan dalam perjalanan menuju Dempok, dokumentasi pribadi

Perjalanan terus dilanjutkan melalui jalan yang tak begitu ramai. Di kiri kanan jalan pemandangan sawah ataupun kadang tebu yang serba hijau sangat memanjakan mata.

Setelah hampir satu jam perjalanan, sekitar pukul dua belas kamipun tiba di tempat wisata Mahoni Dempok.

Berlokasi di Dusun Dempok, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Mahoni Dempok adalah sebuah tempat wisata berkonsep alam. Tempat wisata ini berupa waduk. 

Masuk tempat wisata, dokumentasi pribadi Buz

Dikutip dari buku Sedimentasi Waduk, Sisinggih, dkk. (2021: 3), waduk adalah tampungan air buatan manusia yang dilakukan dengan membuat bending atau bendungan di sungai. 

Meskipun hanya berupa tampungan air, Waduk Dempok punya banyak daya tarik. Di sini kita bisa menikmati panorama yang indah, berperahu, naik kuda, belanja ikan segar ataupun menikmati hidangan olahan ikan di warung-warung lesehan di sekitarnya.

Kita bisa lesehan di bagian dalam warung ataupun di gazebo yang ada di depannya.

Pepohonan di sekitar gazebo dan warung, dokumentasi pribadi

 Dinamakan Mahoni Dempok mungkin karena di sekitarnya banyak ditanami pohon mahoni. 

Ya, di antara gazebo, warung dan tempat parkir, banyak tumbuh pohon mahoni yang membuat suasana terasa sejuk.

Ketika kami sampai di Dempok, mendung demikian tebal. Angin yang sesekali berhembus agak kencang membuat suasana terasa agak dingin. 

Waduk Dempok, dokumentasi pribadi

Setelah membayar tiket per orang tiga ribu rupiah, kamipun masuk. Pengunjung tidak begitu ramai saat itu sehingga kami bisa lebih leluasa melihat pemandangan di sekitarnya.

Di dekat waduk ada tempat berjualan ikan segar yang penjualnya didominasi oleh para wanita.

“Ikannya..ikannya…,” kata beberapa pedagang sambil menyodorkan dagangannya. Di sini ikan ikan segar tidak ditimbang tapi dimasukkan dalam baskom baskom kecil atau keranjang- keranjang.

Menawar ikan segar, dokumentasi pribadi

Ikan dan udang yang dijual adalah hasil tangkapan dari waduk Dempok.

“Ini berapa, Buk?” tanya teman saya sambil menunjuk dua keranjang ikan gurame. Tiap keranjang berisi tiga ekor gurame besar.

“Seratus ribu,” kata pedagang tadi

“Kalau ditambah udang?” tanya teman saya lagi.

“Satu baskom dua puluh ribu, berarti seratus dua puluh ribu,” jawab si pedagang.

“Tidak boleh kurang?” jawab teman saya lagi.

Tawar menawar pun terjadi. Setelah sepakat dengan harga, kami membeli dua keranjang gurame dan satu baskom udang yang dipindah dalam kresek.

Ikan siap dimasak , dokumentasi pribadi

Uniknya di Dempok ini, ikan segar yang sudah kita beli bisa kita bawa ke warung untuk dimasakkan sesuai permintaan kita.

Ikan segera kami bawa ke warung sekitarnya untuk diolah menjadi ikan bakar dan udang goreng tepung. 

Tak begitu lama menunggu di gazebo,  pesanan kami pun datang. Enam buah ikan gurame bakar, udang goreng tepung, nasi, urap sayur, terong goreng dan yang tak boleh ketinggalan yaitu sambel.

Deretan warung di tempat wisata Mahoni Dempok, dokumentasi pribadi
Hidangan olahan ikan, dokumentasi Ahfi

Wuih, benar benar hidangan yang mantap. Nasi hangat, sambal ditambah dengan rasa lapar plus udara dingin membuat kami tambah dan tambah lagi. 

Makan di tempat terbuka dengan angin yang sesekali bertiup membuat suasana terasa begitu nyaman.

“Ada yang mau pesan untuk dibawa pulang?” tawar teman saya. Ya, sambal juga urapnya terasa demikian mak nyus. Pasti orang rumah senang dibawakan oleh oleh ini.

“Pesan udang saja,” 

“Saya ikan goreng tepung…,”

Berfoto di depan pasar ikan, dokumentasi pribadi

Alhasil semua pesan untuk dibawa pulang, dan akhirnya kami semua pulang dengan membawa paling tidak satu kresek oleh oleh untuk dibawa ke rumah.

Semakin sore suasana semakin ramai. Tampaknya tempat ini sering dijadikan lokasi untuk acara acara tertentu.

“Ada yang mau berperahu?”

Sebenarnya saya ingin juga, tapi hari sudah terlalu sore dan kami harus segera pulang. Padahal ongkos naik perahu hanya 5000 rupiah per orang.

Sesudah membayar semua pesanan bergegas kami menuju parkiran. 

Tempat sewa perahu , dokumentasi pribadi

Perjalanan kami hari itupun berakhir. Udara semakin dingin dan mendung semakin tebal. 

Waduk Dempok, deretan pohon mahoni, semangat para penjual di pasar ikan, lezatnya hidangan aneka olahan ikan pasar adalah cerita harmoni denyut kehidupan masyarakat  dengan alam sekitarnya.

Sampai bertemu lagi Mahoni Dempok, semoga suatu saat kami bisa duduk- duduk lagi di gazebo, menikmati lezatnya hidangan ikan, bercengkerama menikmati  indahnya persahabatan , atau bahkan bisa berperahu bersama. Aha…

Pohong Keju, Hidangan yang Membuat Singkong “Naik Kasta”

Dalam sebuah perjalanan seorang teman tiba-tiba nyeletuk. “Hmm, wenak ya… pohong keju…,” 

Rupanya teman saya melihat sebuah tempat penjualan pohong atau singkong  keju yang ada di pinggir jalan.

Serempak kami menoleh. 

“Pohong keju memang gurih,” jawab teman saya yang lain.

“Pohong keju memang wenak pol. Dibanding pohong goreng biasa ia lebih gurih dan empuk,” tambahnya lagi.

Ya, pohong keju memang gurih dan menggoda. Meski namanya pohong keju, hidangan ini sering juga disajikan tanpa keju. Kata keju mungkin diberikan karena rasanya yang empuk dan gurih.

Penjual singkong keju, sumber gambar : UMKM line

“Itu pohong “keju” Bu,” tambah Mas driver grab kami. Pengucapannya bulan keju tapi “keju” dengan huruf e seperti pada kata “tebu” 

 Dalam bahasa Jawa “keju” artinya badan yang pegal atau sakit semua.

“Kenapa “keju”?” tanya saya sambil menahan senyum

“‘Kan proses membuatnya panjang, dikukus, dimasukkan air dingin, dikasih bumbu, digoreng, jadi pohongnya “keju” semua,” jawab Si Mas yang disambung tawa kami bersama. Bisa saja. 

Tentang Pohong atau Singkong

Tanaman singkong, sumber gambar : dinas pertanian

Siapa yang tidak kenal singkong? Bahan makanan yang sangat merakyat ini sangat mudah dijumpai dimana-mana. Di pasar, tukang sayur ataupun ditanam di halaman rumah.

Meski demikian populer di Indonesia, ternyata singkong bukan tanaman asli Indonesia. Ya, tanaman ini sebenarnya berasal dari Amerika Selatan.

Dilansir dari Tempo, singkong (Manihot esculenta) pertama kali dibudidayakan oleh suku Maya di Yucatan, Meksiko. 

Dalam sejarahnya, tanaman singkong pertama kali diperkenalkan ke Kongo, Afrika oleh Portugis pada 1558. Portugis kemudian memperkenalkan tanaman ini ke Maluku dengan bibit tanaman singkong dari Brasil. 

Tidak hanya Portugis, Spanyol juga mengenalkan singkong ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Bahkan kata telo kaspe untuk nama singkong, diperkirakan berasal dari bahasa Portugis dan Spanyol.

Telo berasal dari kata Castilla, sebuah daerah di Spanyol yang ikut berperan dengan penyebaran singkong ini, sedangkan kaspe adalah adaptasi dari kata cassava yang berasal dari bahasa Portugis. Bahasa Inggris juga menggunakan kata cassava untuk singkong.

Sebagai hidangan sehari-hari singkong bisa dikukus, digoreng atau jika ingin lebih menarik diolah menjadi hidangan tertentu. 

Banyak sekali hidangan yang merupakan hasil olahan singkong ini seperti kolak, sawut, jemblem, goplem, gethuk, cenil, gatot dan banyak lagi.

Pohong keju di antara berbagai hidangan di cafe, dokumentasi pribadi

Nah, di antara banyak hidangan tersebut, sebuah hidangan yang membuat singkong ‘naik kasta’ adalah pohong keju alias singkong keju.

Betapa tidak? Dengan diolah menjadi singkong keju, harga singkong bisa berlipat lipat. Singkong tidak hanya tampil di kedai kedai sederhana ataupun warung gorengan, tapi juga masuk di cafe atau rumah makan.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, saya pernah mencicipi sepiring  singkong keju bersama teman-teman seharga seratus ribu rupiah. Luar biasa. Padahal singkong goreng di kampung saya harganya seribu rupiah saja.

Gurih dan sedapnya singkong keju membuat hidangan ini banyak disukai anak-anak muda. Terbukti banyaknya tempat penjualan singkong keju di jalan-jalan.

Tampilan cantik pohong keju, dokumentasi Ami

Seorang teman yang putranya tergolong gen z mengatakan, ” Anak  saya kurang suka singkong kukus atau dikolak, tapi pas saya belikan singkong keju, malah doyan,” 

Nah, tertarik dengan pembuatan singkong keju ini saya bertanya pada teman saya yang pintar memasak, tentang bagaimana cara membuat singkong keju ini.

Cara Membuat Singkong Keju

Bahannya cukup satu kilogram singkong, bumbu yang terdiri dari bawang, kunyit, garam dan ketumbar serta minyak secukupnya.

Bagaimana cara membuatnya?

1. Singkong dikupas, potong sesuai selera. 

2. Kukus sampai terlihat melethek (merekah) walaupun masih keras. 

3. Angkat, selagi panas masukkan dalam air dingin yang sudah berbumbu. 

4. Setelah terlihat lebih merekah, angkat dan tiriskan. 

5. Cicipi rasakalau kurang boleh diberi bumbu lagi. 

6. Digoreng pada minyak banyak dan panas, api sedang . 

7. Cukup sekali dibalik, kering diangkat. 

8. Dingin sajikan boleh dengan toping keju parut atau bumbu tabur. 

9. Dimaem. Pakai sambel lebih mantap.

Singkong keju dan susu jahe, dokumentasi pribadi

Ups, pesanan singkong keju dan susu jahe saya sudah datang. Berarti tulisan ini harus segera diakhiri.

Wasana kata, singkong keju bukan sekedar cerita tentang cemilan. Hidangan ini menunjukkan bahwa kreativitas bisa membuat singkong  yang sederhana bisa ‘naik kasta’ dan bisa memikat lidah berbagai generasi.

Jadi, jika pembaca belum mencobanya, tak ada salahnya untuk membuat hidangan pohong keju yang sedap, empuk dan gurih ini.

Salam kuliner…