Bahasa Kasih di Balik Kemarahan Ibu pada Anaknya

Membaca cerita Kompasianer Willi yang berjudul Memahami Ibu dari Kemoceng Beliau, membuat saya tersenyum sendiri. Ya, cerita itu mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri ketika anak- anak masih kecil. 

Cerita yang hampir sama, hanya bedanya Kompasianer Willi bercerita dalam sudut pandang beliau sebagai anak, saya bercerita dalam pandangan saya sebagai ibu. Pengalaman yang menunjukkan betapa kemarahan seorang ibu seringkali hanya karena kasih sayang dan kekhawatiran yang begitu besar pada anak- anaknya.

Cerita ini terjadi ketika bulan Ramadhan. Ketika itu anak-anak saya yang laki laki masih kecil-kecil. Yang paling besar berumur delapan tahun, adiknya enam tahun dan empat tahun. 

Oh ya, dari empat anak saya, yang pertama perempuan dan berjarak agak jauh dari adik-adiknya. Sebagaimana anak perempuan, anak sulung saya lebih banyak di rumah membantu ibunya, sementara tiga adiknya lebih banyak bertualang di luar rumah bersama teman- temannya

Hari masih menunjukkan pukul lima pagi itu. Tampak beberapa orang tetangga lewat di depan rumah. Mereka baru saja pulang dari langgar dekat rumah setelah Subuhan. 

Di bulan Ramadhan,  langgar di kampung kami lebih banyak pengunjungnya. Biasanya habis sahur banyak yang langsung Subuhan di langgar termasuk anak-anak kecil.

“Buk, kami bal-balan ya,” kata anak- anak saya sepulang dari langgar. Sarung mereka masih diselempangkan di bahu, dengan mengenakan peci sholat. Sekilas mirip  Si Unyil.

Ilustrasi ibu dan anak anaknya, gambar by AI chat gpt

Di belakang mereka tampak teman temannya yang lain. Saya lihat kira kira ada sepuluh anak kecil dengan kostum yang senada.

“Boleh, hati-hati. Jangan capek-capek, nanti mokel lho…,” pesan saya.

“Sarungnya dilipat dulu,” tambah saya.

Bergegas ketiganya masuk, melipat sarung lalu berangkat dengan ‘gang’ nya. Stadion Gajayana, itu yang dituju. Ya, rumah saya lokasinya tidak jauh dari stadion Gajayana. Bermain bola di stadion adalah kegiatan yang sering dilakukan anak-anak kampung di masa itu 

Dengan membawa bola plastik rombongan pun berangkat. Celoteh riang anak- anak terdengar ramai. Mereka masih begitu segar, maklum habis sahur.

Hari itu kebetulan pekerjaan rumah saya agak banyak. Dengan ditemani si sulung saya bersih- bersih rumah. Hari itu puasa hari ke 24, kira-kira enam hari lagi Lebaran.

“Anak-anak kok belum pulang ya Buk?” tanya anak saya heran sambil melihat jam dinding. Saat itu kami sedang bersih- bersih kulkas.

Saya segera melihat jam. Deg… sudah ja sebelas, pikir saya.

“Sebentar lagi paling, Nduk,” kata saya. Lebih untuk menenangkan hati saya sendiri.

Saya terus bersih- bersih sambil sesekali melihat keluar barangkali anak-anak datang.

Sayup-sayup azan Dhuhur dari langgar mulai bergema. Saya mulai panik. “Ya Allah…kemana anak anak kecil ini?” Pikir saya. Sungguh , saya takut kalau terjadi apa-apa dengan mereka. Jalan raya dari rumah menuju ke stadion ramai pula.

Bergegas saya memakai kerudung lalu segera keluar.

“Nduk, teruskan bersih-bersih. Ibuk cari adik adikmu,” 

Dengan cemas saya langsung berjalan menuju stadion. Dari lapangan bola ke satu, ke dua, lapangan volley suasana tampak sepi. Ya, siapa mau olah raga di siang hari seperti ini? Bulan puasa pula. 

Hati saya makin cemas. 

Ya Allah, kemana anak anak ini.., 

Setelah muter- muter di stadion tidak juga ketemu sayapun pulang. Dalam perjalanan saya sungguh berharap anak-anak sudah ada di rumah, dan kami cuma ketlisipan jalan. Sepanjang jalan hati saya deg-degan. Ya Allah, berilah keselamatan pada anak anak saya, bisik hati saya.

Sampai di rumah, hati saya benar- benar lega. Tiga anak kecil dengan baju kotor ada di depan pagar. Mereka tampak ragu dan takut-takut mau masuk ke rumah. Ketiganya tidak tahu bahwa saya ada di belakang mereka.

“Mengapa pulang? Ibu kira sudah lupa jalan ke rumah,” kata saya sambil menekan perasaan. Rasa marah, jengkel sekaligus lega campur aduk dalam hati saya.

Mendengar suara saya mereka tampak kaget, sekaligus takut.  Ketiganya langsung menangis dan memeluk saya. Jelas sekali mereka merasa sangat bersalah karena bermain terlalu lama.

“Masuk, segera mandi! ” kata saya marah.

“Ibuk, maaf Buk..,” kata yang paling besar sambil menangis.

“Mandi sana!” kata saya sambil terus mempertahankan kemarahan saya. Air mata hampir menetes. Ya, saya benar- benar jengkel sekaligus khawatir. Takut kalau terjadi apa- apa dengan anak anak kecil ini.

Hari itu tanpa banyak bicara mereka segera mandi, sholat Dhuhur dan tidur. Mungkin karena kecapekan, dan jelang Maghrib mereka baru bangun. 

Ketika azan Magrib berkumandang kami segera berbuka.

Hari itu suasana buka puasa terasa beda. Saya tidak bicara sama sekali. Ada rasa bersalah di wajah-wajah ketiga anak saya.  Tapi sengaja saya diam dan tidak mengajak mereka bicara. Mereka sudah tahu kebiasaan saya yang banyak diam jika marah.

Barulah ketika hendak tarawih suasana menjadi cair. Melihat ketiganya dengan berbusana muslim pamitan hendak ke langgar, hati saya benar benar meleleh 

“Ibuk, kami tarawih ya,” kata yang paling besar diikuti adik-adiknya.

Saya diam sesaat lalu tersenyum menatap mereka bergantian. “Berangkatlah, pulang langsung pulang, tidak boleh main-main,”

Ada terpancar kelegaan di wajah mereka.

“Siyap komandan..,” jawab anak- anak sambil memberikan isyarat hormat. Si sulung yang ada di dekat saya tertawa geli melihat tingkah adik-adiknya, demikian juga saya.

Begitu terdengar qomat, anak-anak langsung berlari menuju langgar.

Oalah, anak-anak dengan segala tingkahnya memang kadang membuat kita merasa cemas dan kadang marah. Dan kemarahan orang tua pada anak gambaran kasih serta  kekhawatiran yang begitu besar pada mereka.

Dari Dapur untuk Bumi Lestari: Ketika Ibu-ibu PKK Belajar tentang Eco Enzim 

Pada bulan Pebruari 2026 tim Pokja inovasi teknologi dan Kompos SMP Negeri 3 Malang melakukan sosialisasi penggunaan eco enzim pada ibu-ibu PKK Kelurahan Bunulrejo Kota Malang.

Sosialisasi dilakukan oleh Ibu Ahfi bersama tim. Dalam acara tersebut dipaparkan tentang apakah eco enzim itu, bagaimana cara membuatnya, serta apa saja manfaatnya bagi kita semua.

Proses pembuatan eco enzim, dokumentasi Bintaraloka

Mengapa yang disasar adalah ibu-ibu?. Ibu-ibu sebagai para aktivis utama di dapur, hampir tiap hari berkecimpung dengan masalah sampah.

Ya, dapur adalah penghasil sampah organik yang utama di rumah, seperti kulit buah,  sisa sayur, sisa makanan dan lainnya. Jadi melalui kegiatan ini ibu ibu diajak untuk memanfaatkan sisa sampah organik dari dapur untuk dibuat eco enzim.

Apakah ECO enzim itu?

Eco enzyme adalah cairan organik serbaguna limbah dapur (kulit buah/sayuran), gula merah, molase, dan air. Cairan ini diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong sebagai solusi ramah lingkungan untuk mengolah sampah organik menjadi bahan lain yang bermanfaat.

Cara membuat ECO enzim adalah dengan mencampurkan potongan kulit buah ke dalam larutan gula merah dan molase. Setelah tercampur dalam sebuah wadah, tutup wadah tersebut, dan  jangan lupa sering membuka tutup wadah karena selama proses fermentasi akan dihasilkan gas metana.

Setelah tiga puluh hari eco enzim siap dipanen.

Potongan kulit pisang dan kulit jeruk dalam larutan gula marah dan molase, dokumentasi Bintaraloka

Eco enzim bisa dimanfaatkan untuk pembersih  lantai, deterjen pakaian, pupuk organik cair, nutrisi tanaman, pestisida nabati alami dan banyak lagi. 

Diterangkan oleh Ibu Ahfi ketua Pokja inovasi bahwa pembuatan eco enzim di SMP Negeri 3 Malang akan lebih difokuskan dengan menggunakan bahan utama kulit jeruk dan kulit pisang sebagai limbah utama dari MBG.

Jadi dalam keseharian, sisa sampah MBG berupa kulit pisang dan kulit jeruk tersebut bakal dikumpulkan untuk selanjutnya diolah menjadi eco enzim

Yang menarik selain menjelaskan tentang pembuatan eco enzim, pada ibu-ibu PKK juga dikenalkan kalkulator eco enzim, dimana dengan alat tersebut bisa ditentukan dengan mudah jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat eco enzim dalam jumlah tertentu.

Calculator eco enzim, dokumentasi Ahfi
Sosialisasi eco enzim, dokumentasi Bintaraloka
Sosialisasi pada ibu PKK Bunulrejo, dokumentasi Bintaraloka

Acara sosialisasi berjalan lancar. Hal ini terlihat dari antusiasme para ibu PKK dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada pemateri.

Akhirnya lebih dari sekadar cairan serbaguna, Eco Enzyme adalah bukti nyata bahwa solusi krisis lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana dan kolektif. Ibu-ibu PKK, sebagai pengelola utama rumah tangga, memiliki peran strategis dalam mewujudkan perubahan untuk bumi yang lebih baik.

Bisa dibayangkan bagaimana  jika setiap rumah di lingkungan kita mampu mengolah setengah kilogram sampah dapur menjadi Eco Enzyme, betapa banyak sampah organik yang tidak lagi dibuang ke TPA dan puluhan pohon akan tumbuh lebih subur karena ECO enzim tersebut.

Ya, bumi sebagai tempat tinggal satu satunya harus terus kita jaga kelestariannya untuk kehidupan yang lebih baik untuk sekarang, juga generasi mendatang. Bukankah ada kata bijak yang mengatakan bahwa  alam semesta bukan warisan nenek moyang, tapi ia adalah pinjaman dari anak cucu kita yang harus terus kita jaga kelestariannya?

Salam hijau lestari

“Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” dan Rumah Sebagai Ruang Kelas Pertama Anak

Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar lapar puasa,

Ada anak bertanya pada bapaknya, tadarus tarawih apalah gunanya

Syair lagu Ada Anak Bertanya pada Bapaknya

Di antara banyak lagu religi, lagu satu ini paling mempunyai tempat di hati saya. Dulu bapak sering menyetel lagu ini karena beliau penggemar Bimbo.

Ya, ini adalah salah satu lagu religi dari Bimbo. Syair lagu diciptakan oleh Taufiq Ismail dan dinyanyikan oleh Bimbo di kisaran tahun 1980. Lagu ini dinyanyikan lagi oleh Tompi pada tahun 2023.

Lagu yang sederhana tapi selalu menimbulkan rasa haru, bukan karena melodinya yang syahdu, tapi juga mengingatkan kita bahwa sebelum guru di sekolah ada figur yang menjadi guru anak di rumah yaitu orang tua.

Seperti judulnya lagu ini berisi tentang dialog anak dengan bapaknya. Di mana si anak bertanya untuk apa kita harus berpuasa? Untuk apa kita harus tadarus dan tarawih?

Dan dengan sederhana Sang Bapak menjawab bahwa puasa mengajarkan kita kerendahan hati lewat rasa lapar, tadarus artinya membaca sekaligus memahami Al Qur’an, tarawih adalah ibadah sholat di bilang Ramadhan untuk mendekatkan diri pada Ilahi.

Dialog yang sederhana namun penuh makna. Dari percakapan ini ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil, seperti:

1. Dialog antar generasi yang tulus

Lagu ini menggambarkan momen langka dan berharga terutama saat ini. Di era serba cepat dan dunia seolah dalam genggaman dialog antara orang tua dan anak terasa kian jarang. Ya, anak sudah mempunyai ‘guru’ yang ada dalam perangkat digital mading-masing, sehingga jarang ngobrol atau dialog dengan orang tua 

Ramadhan adalah bulan yang  mempertemukan keluarga, terutama saat sahur, berbuka, atau tarawih. Di saat-saat inilah “ruang dialog” itu sangat terasa. Anak bertanya dengan penuh keingintahuannya, sementara orang tua menjawab dengan penuh kasih sayang dan kebijaksanaan.

2. Transfer nilai, bukan sekadar pengetahuan

Pertanyaan anak dalam lagu itu tersebut bukan sekadar mencari informasi faktual, ia sedang mencari makna. 

Di sinilah peran orang tua sebagai guru kehidupan memberikan jawaban bahwa puasa bukan hanya untuk menahan haus dan lapar tapi mengajar kita tentang empati, kesabaran dan ketaatan.

Proses transfer nilai inilah yang akan membentuk karakter dan akan selalu diingat anak di masa yang akan datang.

3. Keteladanan (Uswatun Khasanah) Sang Bapak

Mungkin tidak digambar kan jelas dalam lagu itu, tapi lewat dialog dengan sang bapak terjadilah “ruang kelas”, dan inti dari sebuah ruang kelas adalah keteladanan. Ketika anak bertanya, bukankah ia juga mengamati mengapa bapak saya harus bangun djnpagi buta untuk sahur, menahan haus dan lapar dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan?

Dan sebuah teladan lebih baik daripada seribu nasehat.

Keluarga adalah tempat bersemainya pendidikan yang paling utama, karena di sanalah anak-anak mengalami proses ‘among’ atau asah, asih, asuh dari orang tuanya

Ki Hadjar Dewantara

Singkat cerita betapa lagu Ada Anak Bertanya pada Bapaknya mengingatkan kita tentang peran keluarga sebagai ruang kelas yang pertama bagi anak. Keluarga adalah sekolah pertama anak, dimana lewat keteladanan dan interaksi orang tua memberikan pendidikan pertama bagi anak anaknya.

Tanpa kurikulum formal, tapi cara berkomunikasi, menghormati serta saling menyayangi yang dicontohkan orang tua akan terus dibawa oleh si anak sepanjang hayat. Seperti nasehat dari Ki Hadjar Dewantara bahwa: “Keluarga adalah tempat bersemainya pendidikan yang paling utama, karena di sanalah anak-anak mengalami proses ‘among’ atau asah, asih, asuh dari orang tuanya.”

Sekedar berbagi cerita, selamat menjalankan puasa Ramadhan..😊

Kunjungan Perpustakaan Keliling: Permudah Akses Literasi, Tingkatan Minat Baca

Sebuah mobil berwarna biru memasuki area sekolah. Setelah parkir di tempat yang strategis, dua orang turun sambil tersenyum ramah. 

“Selamat pagi, kami dari perpustakaan kota,”

Aha.., tanpa penjelasan tersebut sebenarnya kami sudah tahu siapa yang berkunjung dari berbagai tulisan yang ada di mobil.

Ya,  hari ini sekolah kami mendapatkan kunjungan dari Perpustakaan Umum Kota Malang dalam bentuk Perpustakaan Keliling.

Mobil layanan perpustakaan keliling, dokumentasi pribadi

Perpustakaan Keliling Kota Malang adalah sebuah layanan dari Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang dengan menggunakan mobil operasional untuk mendekatkan akses buku ke masyarakat, khususnya anak-anak. 

Kader pustaka siap menyambut kedatangan perpustakaan keliling

Sebuah layanan jemput bola, dimana selain melakukan kunjungan, perpustakaan ini juga beroperasi rutin di beberapa lokasi seperti Alun-Alun Kota Malang dan Taman Merjosari.

Setelah beramah-tamah sejenak, kami langsung menuju perpustakaan sekolah, dan di sana sudah ditunggu oleh siswa dan kader pustaka.

Acarapun dimulai. Dari berkenalan, petugas perpustakaan menjelaskan tentang cara menjadi anggota Perpustakaan Umum Kota Malang. Beberapa pertanyaan muncul dari siswa yang menunjukkan antusias mereka salam mengikuti acara ini.

Membaca bersama, dokumentasi pribadi
Membaca bersama , dokumentasi pribadi

Sekitar sepuluh menit kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran film dan peminjaman buku untuk dibaca di tempat.

Adalah sebuah pemandangan menarik ketika melihat siswa duduk bareng di atas karpet sambil menonton film yang diputar di televisi. Ya, generasi sekarang pasti belum tahu sensasinya nonton TV rame- rame seperti yang sering dilakukan para generasi terdahulu (termasuk saya).

Nonton film bareng, dokumentasi pribadi

Begitu film berakhir siswa segera menuju mobil yang berisi penuh buku dan memilih sekaligus membacanya. Sangat menyenangkan. Bukunya begitu beragam mulai dari fiksi maupun non fiksi. 

Satu hal membuat saya surprise. Ya, tiba-tibasaya menemukan buku serial Little House on the Prairie karya Laura Ingalls Wilder. Buku yang lama saya cari dan sudah tidak ada di toko buku manapun.

Tentang Little House on the Prairie, ini adalah serial yang pernah diputar di TVRI di kisaran tahun 1980 an, dan saya adalah salah satu penggemarnya.

Buku Laura Ingalls Wilder, dokumentasi pribadi

Serial klasik Amerika ini  mengisahkan kehidupan keluarga Ingalls, Charles, Caroline, dan anak-anak mereka yang berjuang, bertahan hidup, dan membangun kehidupan di Walnut Grove, Minnesota pada tahun 1870-an hingga 1880-an. Serial yang sarat dengan nilai persahabatan, kasih sayang dan kegigihan berjuang.

“Bukunya bagus-bagus,”

“Nonton filmnya asyik,” ungkap beberapa siswa. 

Hari yang luar biasa. Lewat kegiatan ini siswa mendapatkan pengalaman baru, sekaligus lebih memahami program-program perpustakaan umum kota Malang yang belum diketahui.

Berfoto bersama di akhir acara, dokumentasi Dwikaa

“Sekarang di perpustakaan juga ada kitab kuning dan bacaan dalam huruf Braille,” ungkap Pak Ichwan yang menjadi narasumber pagi itu.

Ketika saya bertanya ada berapa sekolah yang harus dilayani  Perpustakaan Keliling ini, Pak Ichwan menjawab bahwa ada 400 sekolah dan kelurahan yang akan dikunjungi perpustakaan keliling ini, dan armada yang dikerahkan ada lima buah.

Menurut informasi, perpustakaan keliling ini akan berkunjung setiap satu semester sekali.

Semoga kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Hari yang luar biasa. 

Semoga dengan kegiatan perpustakaan keliling ini minat baca masyarakat semakin meningkat karena akses baca yang semakin mudah, serta kehadiran perpustakaan umum sebagai sumber literasi yang terpercaya bisa semakin dirasakan masyarakat kota Malang.

Bukan Sekedar Jalan-jalan, Cerita Kami Merajut Kebersamaan di Kota Batu 

“Mari sejenak lupakan segala kesibukan di sekolah, karena hari ini siapa yang paling bahagia, itulah pemenangnya,” demikian kata-kata motivasi yang membuka kegiatan hari itu. Ya, hari Sabtu (31/01) kami para guru sekaligus karyawan SMP Negeri 3 Malang melakukan kegiatan outbond di Kusuma Agrowisata Batu.

Mengapa Batu? Di samping terkenal akan keindahannya, Batu adalah tetangga sendiri. Hanya sekitar satu jam naik bus dari sekolah.

Menjelang berangkat ke Batu, dokumentasi Bintaraloka

Outbond sendiri adalah salah satu rangkaian acara Gathering Bintaraloka yang melibatkan seluruh karyawan dan guru SMP Negeri 3 Malang.

Dengan tujuan Kusuma Agrowisata Batu, peserta berangkat dengan menggunakan Bus Bagong pukul 07.15,  dan sampai di tempat tujuan sekitar sejam kemudian.

Perjalanan berlangsung lancar, gayeng sekaligus menyenangkan. Suasana akrab demikian terasa, apalagi di dalam bus banyak peserta menyumbangkan suaranya ataupun hanya mendengar lantunan lagu lagu lawas maupun kekinian. 

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Ya, ditilik dari usia peserta gathering sangat beragam, mulai dari yang yunior sampai senior, sehingga selera musiknyapun bermacam-macam.

Bersama Ibu Ahfi, dokumentasi Ahfi

Tentang Kusuma Agrowisata, tempat ini berlokasi di Jl. Abdul Gani, Ngaglik, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur. Area wisata ini berada pada ketinggian kurang lebih  1000 mdpl sehingga mempunyai hawa yang sejuk dan nyaman.

Kusuma Agrowisata berdiri sejak tahun 1991, dan merupakan salah satu pelopor wisata agro di Indonesia.

Menuju lokasi outbound, dokumentasi pribadi

Sesampai di lokasi peserta diajak menuju area outbond dan berbagai permainan sudah disiapkan oleh penyelenggara.

Sepanjang perjalanan ke area outbond mata benar benar dimanjakan dengan pemandangan yang begitu cantik. Aneka pohon, tanaman bunga maupun buah ternyata demikian indah.

Sampai di lokasi, dokumentasi pribadi

Semua permainan dalam outbond dirancang untuk menciptakan rasa bahagia, mempererat keakraban, kekompakan sekaligus solidaritas.

Setelah lebih kurang dua jam merayakan keceriaan dalam outbond peserta diajak menuju area wisata petik jambu. Hamparan tanaman jambu seolah tersenyum manis menyambut kedatangan kami hari itu.

Di area ini kesabaran dan ketelatenan peserta diuji untuk mencari jambu yang masak dan besar guna dipetik. Setiap peserta boleh memetik tiga buah jambu untuk dibawa pulang. Oh ya, selain jambu, di sini kita bisa melakukan wisata petik apel, strawberry, jeruk, sayuran hidroponik juga buah naga.

Petik jambu, dokumentasi pribadi

Dari kebun jambu kami kembali naik mobil untuk menuju de Tjangkul guna makan siang bersama. Rasa lelah, hawa yang sejuk serta suasana yang  gayeng adalah perpaduan yang pas untuk segera menyantap hidangan yang ada, sebutlah nasi goreng Madras, bakmi, oseng sayur, ayam mentega dan tidak ketinggalan es teler. Mantap nian.

Makan siang yang gayeng, dokumentasi pribadi

Selesai? Belum.. sekitar pukul setengah tiga, bus meninggalkan Agrowisata dan peserta diajak jalan-jalan eksplor Alun-alun Batu .

Alun-alun Batu di akhir pekan terasa demikian ramai. Pasar Laron, berbagai permainan di alun-alun, Bakso Iga, ramainya suara penjual tahu bulat, teriakan penjual buah-buahan berpadu menciptakan suasana seru.

Satu hal lagi, di sini banyak dijual berbagai produk olahan susu, dan ini yang banyak diburu untuk oleh-oleh.

Para peserta gathering segera berbelanja, ataupun sekedar jalan- jalan, menikmati es puter dan melaksanakan sholat Ashar di Masjid Jami’ Batu. Aih, sungguh hari yang manis, semanis es puter yang kami nikmati hari itu.

Di sekitar alun-alun kami sempat berkenalan dengan ibu penjual apel manalagi. 

“Yuswa pinten, Bu?” tanya teman saya di sela-sela obrolan dengan Ibu tersebut.

 Dengan senyum lebar, Si Ibu menjawab,” Delapan dua, Jeng,”

Luar biasa, di usia 82 beliau masih tampak segar dan begitu semangat menjajakan barang dagangannya. 

Ketika jam sudah menunjukkan pukul empat sore semua peserta kembali memasuki bus. Ya, semanis apapun perjalanan ini harus segera diakhiri. Kini kami bersiap-siap untuk kembali ke Malang.

Membeli es puter , rasa yang pernah ada, dokumentasi Buz

Jika di Batu cuaca terang, tidak demikian halnya dengan di Malang. Sejak Karanglo hujan turun dan lama-kelamaan semakin deras. 

Bus Bagong yang kami naiki terus berjalan menembus macetnya lalu lintas kota Malang. Matahari semakin meredup. Karena hari yang semakin sore, juga mendung yang begitu tebal.

Gathering bukan sekedar bersenang-senang.  Melalui acara ini diharapkan kerja sama tim, komunikasi, kepercayaan diri masing masing individu akan semakin meningkat

 Selamat tinggal Batu, selamat tinggal gathering. Semoga ke depan acara seperti ini lebih sering lagi diadakan.

Di Kusuma Agrowisata, dokumentasi Buz

Akhirnya gathering bukan sekedar bersenang-senang.  Melalui acara ini diharapkan kerja sama tim, komunikasi, kepercayaan diri masing masing individu akan semakin meningkat. Dan yang paling penting stress berkurang, energi positif bertambah, serta siap mengerjakan berbagai tugas yang sudah menanti.

Salam jalan-jalan ..😀