Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

“Ibuk kuat jalan agak jauh?” tanya anak saya . Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Stasiun MRT Bencoolen. Sebuah stasiun yang paling dekat dari hotel kami.

“Wah ngenyek kamu Le, ibuk tiap hari jalan lho.. minimal 4000 langkah,” kata saya sambil tertawa diikuti anak saya.

Tapi benar lho. Setiap hari saya selalu upayakan jalan, jalan dan jalan. Menurut rekomendasi dari berbagai sumber idealnya satu hari kita berjalan sekitar 10.000 langkah. Tapi saya tidak sampai sebanyak itu,  sekuatnya saja, yang penting gerak terus. Setiap hari jalan dari ruang guru, perpustakaan dan kelas-kelas total bisa mencapai hampir 4000 langkah.

Jalan kaki. Nah, ternyata aktivitas satu ini banyak sekali kami lakukan di Singapura. Ya, kemana-mana kami banyak jalan atau naik MRT. Di samping murah, nyaman kami juga lebih banyak waktu untuk berbincang bincang.

Banyak berjalan kaki di Singapura, dokumentasi pribadi

Berjalan tidak terasa melelahkan karena banyak sekali pejalan kaki di sini. Tata kota yang bersih dan nyaman membuat jalan kaki terasa mengasyikkan. Sambil ngobrol kami bisa melihat pemandangan di sekitar kami.

“Kemana kita hari ini?” tanya saya sambil terus melangkah.

“Kita ke stasiun, lalu naik MRT arah Bayfront,” jawab anak saya sambil membuka map di HP nya.

Ya, hari itu kami akan menuju kawasan Marina Bay, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Singapura.

Melihat map di Garden Bay, dokumentasi pribadi

Di stasiun Bencoolen kami segera naik MRT. Setelah beberapa pemberhentian sampailah kami di Bayfront, sebuah stasiun dekat area Marina Bay.

Pagi di Marina Bay terasa begitu segar. Matahari bersinar cerah. Dari kejauhan pemandangan teluk yang berwarna biru tampak begitu indah. Airnya beriak lembut diterpa angin pagi. Marina Bay Sands berdiri megah dengan tiga tiangnya yang menjulang, dan dibagian atasnya dihias oleh Sands Sky Park, sebuah kapal yang melayang di angkasa.

Pagi di Marina Bay, dokumentasi pribadi

Di sekelilingnya taman hijau Gardens by the Bay menawarkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Supertree Grove, pohon-pohon baja raksasa yang dililit tanaman hidup berdiri perkasa dengan dihiasi kicauan  burung di sekitarnya. Banyak orang yang berolahraga raga atau berjalan- jalan seperti yang kami lakukan pagi itu.

Pohon raksasa di Marina Bay, dokumentasi Zahri

 Di hari sebelumnya sebenarnya kami sudah datang ke Kawasan Telok Ayer yang berada di seberang Marina Bay. Jadi pagi itu, dari kejauhan kami bisa memandang kawasan Telok Ayer dari Marina Bay.

Sands Sky Park di malam hari, dokumentasi Zahri

Kawasan ini benar-benar hidup ketika senja tiba. Saat matahari mulai terbenam, kota mulai bercahaya. Lampu-lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Central Business District mulai bersinar, menciptakan kerlip gemerlap di atas air. 

Perahu yang berjalan di atas air sambil membawa para wisatawan membuat pemandangan terasa begitu syahdu. 

Singapore Flyer, dokumentasi Zahri

Dari kejauhan tampak Singapore Flyer berdiri perkasa. Singapore Flyer adalah sebuah bianglala raksasa setinggi 165 meter yang dengan wahana ini kita bisa melihat  pemandangan 360 derajat kota Singapura, termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia saat cuaca cerah. 

Di antara berbagai bangunan yang ada, tampak Merlion berdiri tegak menjadi ‘penjaga’ dan menyemburkan air dari mulutnya dengan tenang. Merlion seolah saksi perpaduan antara mitos dan modernitas yang ada di Marina Bay.

Di sekitar patung Merlion, dokumentasi pribadi

Tiga hari di Singapura membuat kami semakin rajin berjalan kaki. Aplikasi penghitung langkah di HP saya menunjukkan angka lebih dari 10 ribu langkah tiap harinya.

Aih, jalan kaki benar benar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan, apalagi bersama orang tersayang.

Sepulang jalan- jalan saya langsung sholat, selonjor di hotel sambil ngobrol dan ngeteh bersama anak saya.

“Ibuk besok Minggu dijemput jam berapa?”sebuah notif pesan masuk di WhatsApp saya. Dari anak saya di Malang. Saat itu hari Sabtu, hari ketiga saya di Singapura.

“Menurut rencana pesawat tiba di Juanda jam sembilan , Le,”

“Baik, besok kami tunggu di Juanda,” jawabnya lagi.

Malam hari kami segera packing- packing. Ya, semanis apapun perjalanan, semua harus berakhir. Besok dengan pesawat pukul setengah delapan saya akan terbang ke Juanda sementara anak saya langsung kembali ke Tokyo.

“Ibuk jaga kesehatan ya, jangan lupa olah raga, nanti kita jalan-jalan lagi,” kata anak saya di bandara.

“Iya Le, baik-baik di negeri orang, jaga diri, jangan lupa sholat,” kata saya terharu.

Sore di Telok Ayer, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lebih kami berpisah karena gate kami berbeda. Ada haru yang terasa dalam hati. Sungguh, perjalanan ini sangat memukau , menyenangkan dan mengharukan. Tuhan Maha Baik. Dia telah memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan perjalanan yang tak pernah saya bayangkan.

Di balik keramaian bandara Changi yang tak pernah tidur, kami pun melangkah menuju destinasi masing-masing. Sebelum masuk pesawat saya sempatkan melihat aplikasi penghitung langkah kaki di HP. Lima ribu langkah lebih untuk pagi ini. 

Selamat tinggal, Singapura. Terima kasih telah menjadi saksi betapa Tuhan menghadirkan keajaiban dalam bentuk pertemuan ibu dan anak yang begitu dirindu. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertualang lagi di hari-hari mendatang.

Salam jalan-jalan…

Jelajah Singapura, Mengunjungi Masjid Malabar dan Masjid Sultan di Kampong Glam

Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya ditawari anak saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Ceritanya dia mendapatkan cuti dan ada sesuatu yang harus dikerjakan di Singapura. Karena sudah dekat Indonesia, dan belum pernah ke sana, saya diajak ketemuan di Singapura.

Terus terang saya tidak begitu berani. Di samping karena jauh, saya belum pernah sekalipun keluar negeri. Tapi karena yang mengajak sangat bersemangat akhirnya dengan menguatkan tekad sayapun berangkat.

Skenarionya, saya berangkat dari Juanda  sementara anak saya berangkat dari Tokyo dan pukul sepuluh malam waktu Singapura kami bertemu di Changi Airport. 

Changi Airport , dokumentasi pribadi

Hari yang dinantikan tiba. Setelah bertemu di Changi kami langsung menuju hotel yang terletak di kawasan Queen St tidak jauh dari Stasiun MRT Bencoolen.

Setelah istirahat semalam, pagi hari sekitar jam setengah sepuluh kami keluar dari hotel. Matahari bersinar redup karena sebagian tertutup mendung, suasana tidak begitu panas sehingga jalanan terasa nyaman.

Banyak pejalan kaki, dokumentasi pribadi

“Kita kemana Le?” tanya saya pada anak saya yang full menjadi ‘pemandu wisata’ selama kami di Singapura.

“Ayo, jalan-jalan ke Arab St, sambil cari makanan khas Indonesia,” katanya. Aha, hari itu kami mulai  jelajah Singapura.

Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, jalanan yang teratur dan bersih serta lalu lalang orang -orang yang tampak begitu sibuk. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah di Singapura banyak sekali pedestrian. Trotoar demikian nyaman dan bersih, sehingga nyaman untuk berjalan kaki.

Suasana jalan di pagi hari, dokumentasi pribadi
Jalan Victoria , dokumentasi pribadi

Ada banyak manusia dari berbagai bangsa. Buktinya saat bersimpangan dengan orang lain, selalu terdengar dialog dalam berbagai  bahasa. Ada bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India , Thailand bahkan Jawa Timuran. Wah,  benar- benar menarik.

Kendaraan kecil dan besar lalu lalang di jalan raya.  Lalu lintas lancar, dan uniknya saya hanya sesekali menjumpai sepeda motor. Mungkin karena banyak yang memilih menggunakan MRT di Singapura, atau barangkali juga karena jalan yang kami lalui adalah jalan-jalan besar seperti Victoria St, Bras Basah juga Bencoolen.

Kami terus berjalan. Memasuki wilayah Kampong Glam suasana mulai terasa ramai. Sekilas bau aroma parfum atau dupa Arab mulai menerpa. Mengingatkan saya ketika masuk daerah Embong Arab di Malang.

Sebuah sudut di Kampong Glam, Dokumentasi pribadi

Kampong Glam atau Kampung Gelam adalah nama yang berasal dari Bahasa Melayu yang merujuk pada nama tanaman yang dulu banyak tumbuh di sini yaitu pohon gelam (Melaleuca cajuputi atau paperbark tree). Pohon gelam ini banyak digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat kapal, obat, hingga bumbu masak.

Jalan Arab, dokumentasi pribadi

Kampong Glam sering disebut juga Arab Street dan dikenal sebagai kawasan Melayu atau Muslim di Singapura yang kaya akan warisan budaya dan tempat menarik seperti Masjid Sultan, Istana Kampong Glam, dan Haji Lane. 

Niat semula untuk mencari makanan Indonesia langsung batal ketika semerbak aroma martabak menghentikan langkah kami untuk segera mengajak mampir.

” Di sini saja ya?” kata anak saya sambil mencari tempat duduk. Rupanya ia sudah  lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan roti sisa semalam.

Tanpa menunggu lama saya ikut masuk sebuah tempat makan yang catnya didominasi dengan warna kuning.

Kedai di sekitar Kampong Glam, dokumentasi pribadi

Kami segera memesan jus apel, jus semangka serta satu piring martabak.

Only one?” tanya sang penjual heran, demi melihat pesanan martabak yang cuma sepiring.

Only one,” jawab anak saya.

” Tidak tambah nasi tah? ” tanya saya setengah berbisik. Makan sepiring martabak untuk dua orang mana kenyang pikir saya.

Tapi tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Satu porsi besar martabak dalam wadah serupa daun pisang. Ah ya, kedai ini bernama Banana Leaves, karenanya piring atau wadah makanannya berbentuk daun pisang.

Begitu martabak diletakkan dimeja, kami langsung terkesima. Waow, porsinya besar sekali. Satu piring besar martabak yang sudah dipotong- potong, masih ditambah semacam kuah kari dan kentang. Mantap nian.. untung tidak tambah nasi, pikir saya.

Martabak , dokumentasi pribadi

Rasa lelah karena berjalan kaki ditambah lapar membuat hidangan martabak cepat berpindah ke perut kami. Jus membuat perut kami kian kenyang, dan ini waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan.

Jelang sholat Dhuhur kami menuju ke sebuah masjid yang terletak di persimpangan Victoria Street dan Jalan Sultan di Kampong Glam. Masjid Malabar, namanya. Masjid ini didirikan oleh komunitas Muslim Malabar dari India Selatan dan diresmikan tahun 1963. 

Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Ketika Memasuki masjid Malabar siang itu suasana begitu sepi. Hanya ada dua petugas masjid dan dua turis yang melihat lihat di aula masjid, selain saya dan anak saya yang mau melaksanakan sholat dhuhur.

Sebuah keteledoran yang saya lakukan adalah lupa membawa mukena. Karena masjid tidak menyediakan mukena,  akhirnya sholat Dhuhur siang itu saya mengenakan gamis yang disediakan dekat lift.

Dekat lift masjid, dokumentasi pribadi
Bagian samping Masjid Malabar, dokumentasi pribadi

Setelah sholat dan mengambil foto-foto, kami keluar dari masjid untuk menyusuri jalan Victoria atau Victoria St. 

Ternyata tidak jauh dari Masjid Malabar ini terdapat komplek pemakaman tua bagi masyarakat Islam. Menurut keterangan, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh sejarah penting termasuk keturunan Sultan Johor.

Komplek pemakaman muslim, dokumentasi pribadi

Areanya cukup luas. Karena dekat dengan tempat pemakaman, maka jalan di sini di namakan Jalan Kubor (kuburan).

Berbeda dengan Masjid Malabar, Masjid Sultan mempunyai ukuran yang lebih besar. Masjid ini berlokasi di Jl Muscat masih dalam wilayah Kampong Glam. 

Arsitektur Masjid Sultan dan Masjid Malabar mempunyai kemiripan, karenanya Masjid Malabar dinamakan ‘sepupu kecil’ Masjid Sultan.

Masjid Sultan merupakan masjid utama yang dibangun tahun 1824 dan menjadi pusat kegiatan komunitas muslim Melayu. 

Bagian dalam Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Kami menjalankan sholat Ashar di masjid ini. Berbeda dengan Malabar, Measjid Sultan suasananya ramai. Banyak pengunjung yang akan menunaikan sholat. Seperti di Malabar, tempat untuk jamaah laki-laki dan perempuan terletak di lantai yang berbeda.

Habis sholat, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Akhirnya perjalanan kami tertahan sambil sejenak menunggu hujan berhenti. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil foto-foto bagian dalam maupun sekitar masjid. 

Sudut lain dari Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Sangat menyenangkan. Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang bergerak tak kenal henti, kunjungan ke Masjid Malabar dan Masjid Sultan seolah menjadi oase penyejuk jiwa di hari pertama perjalanan ini. 

Tempat jamaah perempuan di Masjid Sultan, dokumentasi pribadi

Selain untuk menunaikan kewajiban sholat, momen ini adalah kesempatan berharga untuk sejenak berhenti, menyepi, dan meresapi ketenangan yang menyapa di balik pintu-pintu, jendela dan ornamen masjid yang begitu khas. Sungguh, awal petualangan yang menyenangkan dan besok masih ada hari untuk membuat cerita yang lain lagi.

Salam jalan-jalan..😊

Bujuk Rayu, Tentang Sedapnya Rasa dan Rayuan Aroma

“Jangan coba-coba merayuku”  balas saya dalam sebuah chat di grup perpesanan siang itu. Emoticon tertawa saya sematkan di bagian akhir.

He..he.. mengapa seperti itu? 

Tiba-tiba saja hari itu teman- teman mengajak maksi di sebuah kedai. Bujuk Rayu namanya. Dari namanya saja rasanya sudah menggelitik. Ada nuansa hangat, genit sekaligus menggoda.

“Letaknya dimana?” tanya saya

“Pasar Klojen, yang dulu Kopi Klojen,” jawab teman saya.

Aha,  dekat sekali. Pasar Klojen hanya sekitar lima menit dari sekolah. Jadi bukan dekat, tapi duekat. Kopi Klojen dulu pernah menjadi tempat jagongan kami. Berubah nama? Wah, harus dicek bareng ini..

Kedai Bujuk Rayu yang berlokasi di daerah Pasar Klojen, sumber gambar: tiktok kedai Bujuk Rayu

Ketika jam maksi tiba, tanpa menunggu lama kami menuju kedai Bujuk Rayu. Sebagian naik grab, sebagian naik motor. Tepat seperti yang diperkirakan, sepuluh menit kami sudah berkumpul di kedai, meski formasi kurang lengkap karena seorang teman berhalangan hari itu.

Suasana ramainya maksi sangat terasa. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengunjung kedai di jam itu. Maklumlah, jam dua belas siang adalah jam yang tepat untuk mengisi perut bersama.

Menurut pengamatan saya,  mungkin juga pengunjung yang banyak ini dikarenakan ada pertemuan dari komunitas tertentu.

“Enaknya pesan apa?” 

Berempat kami menekuni daftar menu yang yang ada. Senyum kami langsung mengembang.

 He..he… Nama menunya unik, dan memancing rasa ingin tahu. Coba bayangkan, nasi karam, nasi ceria, nasi rayu dan nasi sayang.

Teh kampung, dokumentasi pribadi

“Apa ya? ” tanya saya bingung. Asli. Saya tidak mengerti makanan apa yang disajikan kedai ini.

Nasi karam itu apa? Saya pikir semula nasinya banyak disiram kuah sehingga nasinya karam. Pastinya soto atau rawon.

Lha nasi rayu itu apa? Nasi ceria? Nasi sayang? Aih..

“Langsung pesan di resepsionis saja, sambil tanya,” kata teman saya. Sebuah cara yang jitu memang , karena setiap nama hanya resepsionis yang bisa menjelaskan. 

Dengan menahan senyum kami menerima penjelasan dari resepsionis. Nasi rayu artinya nasi rawon (tapi nanti akan kami tanyakan, yu nya itu apa), nasi karam artinya nasi kare ayam dan nasi ceria berarti nasi ceker, ahaay…

Bersama owner Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ahfi

Sungguh sebuah cara yang kreatif dalam mengemas nama- nama hidangan.  Istilah yang unik , menggelitik membuat pembeli tertarik untuk bertanya dan akhirnya membeli.

Setelah diskusi sejenak akhirnya kami memesan tiga nasi rayu alias rawon, tiga mendol, dan telor asin. Minumnya teh kampung hangat dan es teh kampung.  kampung. Teh kampung? Ya, maksudnya teh biasa, teh dengan rasa kebanyakan yang sering kita nikmati.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang, tiga nasi rayu dengan ditemani mendol dan telor asin dalam piring kecil. Tak ketinggalan tahu petis sebagai desert. Sedep pol.  Petisnya sangat terasa.

Suapan demi suapan ditemani obrolan membuat tak terasa hidangan habis tak bersisa. 

Luar biasa. Rasa lapar, vibes yang nyaman, dan keramahan layanan membuat jagongan di Bujuk Rayu terasa demikian singkat. Apalagi kami juga diajak ngobrol dengan ownernya yang ramah.

Sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma

“Wah, sudah jam satu, ayo kembali ke sekolah,” kata salah satu di antara kami. Bergegas kami menuju parkiran. Dua orang naik sepeda motor, dua orang naik miktolet.

Menu di Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ami

Aih, siang yang menyenangkan. Perut kenyang dan hati senang. 

Sst, sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma kedai Bujuk Rayu..

Ngopi, Sebuah Cerita tentang Pergeseran Makna dan Budaya

Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang ketika sepeda motor saya masuk sebuah pelataran parkir bangunan cafe. Cafe yang lumayan besar dengan arsitektur dan mebel yang bernuansa kuno. 

Di teras ada jajaran kursi rotan dan pintu depannya berbentuk kupu tarung berwarna hijau. Khas bangunan lawas. Nama kafe tertulis besar besar di bagian atas bangunan dengan warna hijau senada dengan warna pintu. Bento Kopi, sebuah Cafe yang terletak di jalan Ade Irma Suryani 5 Malang.

Bento Kopi, dokumentasi pribadi

Saya segera masuk, dan tiga orang teman sudah menunggu di dalam. Ya, hari ini kami sedikit mengadakan pertemuan setelah sekian lama tidak bersua.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa ngopi bareng,” ungkap kami dengan wajah-wajah ceria.

Kami segera membaca buku menu yang tersedia di meja. 

“Pesan apa?” tanya teman saya yang bertugas untuk mencatat. 

Satu- satunya teman dari generasi milenial ini sangat sigap dalam segala urusan. Dalam urusan perngopian ia selalu bertugas melakukan survey lapangan baik tentang kemudahan transportasi ataupun menu jika kami akan mengunjungi suatu tempat. Karena kesigapan ini acara-acara ngopi selalu gayeng dan lancar.

Setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk pesan minuman leci, blueberry, coklat dan cappucino. Sementara untuk makanan adalah pisang goreng, mendoan, lumpia dan menu nasi karena ada teman yang belum sempat sarapan.

Memilih menu, dokumentasi pribadi

Sejenak kami tertawa. Katanya ngopi, lha kopinya kok cuma satu? 

Tak perlu menunggu lama, minuman dan makanan yang kami pesan pun datang.

” Sudah semua pesanannya ya Kak?” kata mbak waiters dengan ramah.

“Sudah, terima kasih..,” jawab kami tak kalah ramah

Tentang kopi dan Budaya Ngopi

Hidangan teman ngopi, dokumentasi pribadi

Siapa yang tidak kenal kopi? Biji yang menjadi cikal bakal minuman yang sangat nikmat ini ternyata bukan tanaman asli Indonesia.

Adalah VOC yang membawa bibit kopi arabika ini ke Jawa dari Malabar (India). Di Hindia penanaman kopi dilakukan pertama kali di sekitar Batavia dan Priangan dan dilanjutkan dengan penanaman dalam skala besar di abad 18. Penanaman dilaksanakan di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) dan Sumatera (dataran tinggi Gayo, Mandailing). 

Di masa ini kopi Jawa (Java Coffee) menjadi komoditas internasional yang termasyhur. Saat itu minum kopi adalah kebiasaan elit kolonial serta sebagian kecil bangsawan pribumi yang berpengaruh, sementara rakyat yang menanam kopi justru tidak pernah menikmatinya karena hampir seluruh hasil panen harus disetorkan VOC.

Pada akhir abad ke 19 budaya minum kopi makin menyebar. Kopi mulai diminum oleh para priyayi, saudagar dan masyarakat urban. Kopi juga mulai menjadi bagian hidangan keluarga, ketika ada tamu atau pertemuan -pertemuan.

Seiring berjalannya waktu mulai muncul warung kopi Tionghoa (kophi-tiam) yang menjadi cikal bakal tempat “ngopi” sebagai aktivitas sosial, terutama bagi kaum lelaki untuk berdiskusi dan saling bertukar informasi.

Kopi sebagai hidangan terus mengalami perkembangan. Lama-kelamaan mulai dikenal apa yang dinamakan kopi tubruk, kopi instan termasuk juga kopi latte.

Sekitar tahun 2000 an terjadi booming budaya cafe yang membuat cafe menjadi third place selain rumah dan tempat bekerja/sekolah.

Pembukaan cafe di berbagai tempat menciptakan ruang publik baru yang menjadi tempat bertemu ataupun sekedar bersantai dan ngobrol dalam suasana yang hangat.

Ngopi bersama teman, dokumentasi pribadi

Hidangan yang disajikan di cafe semakin beragam. Bukan hanya kopi, tapi juga teh, jus, minuman herbal atau bahkan es krim.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi  bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama

Cafe juga menyajikan berbagai kudapan agar pelanggan lebih asyik ngobrol di dalamnya. Di sini makna ngopi mulai bergeser dari sekedar minum kopi bareng menjadi  sebuah aktivitas bersosialisasi dengan atau tanpa kopi.

Orang datang ke kafe tidak selalu untuk kopi tapi bisa coklat, jus, atau makanan ringan, dan aktivitasnya tetap disebut “ngopi”, seperti yang kami lakukan hari ini.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama.

Lewat interaksi dan obrolan sederhana, justru bisa tercipta suasana yang segar,  hangat, lepas, ceria dan penuh tawa.

Jadi, sudahkah anda ngopi hari ini?

Ketika Surat Cinta Bercerita 

Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.

Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.

Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum. 

Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta. 

Tentang Surat Cinta

Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa.  Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.

Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.

Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.

Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.

Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.

Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana skenarionya?

Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.

Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.

Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.

Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.

“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.

Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.

“Untuk bunda,”

“Buat ayah tercinta”

“Dariku untuk bunda,”

Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.

“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.

“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.

“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.

Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya

Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.

Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial. 

Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk  masa depan anak yang lebih baik.