Bakorwil, Gereja Santo Cornelius dan Balai Kota, Jelajah Madiun Bersama Indonesia Colonial Heritage

Tulisan berikut berisi cerita perjalanan  eksplor sehari di Madiun. Bersama Komunitas Indonesi Colonial Heritage (IHC), kami mengunjungi PT INKA dan gedung gedung bersejarah yang ada di kota Madiun. 

Cerita tentang kunjungan ke PT INKA sudah ada di tulisan sebelumnya, dan tulisan ini bercerita tentang kunjungan kami ke tiga gedung heritage yang ada di Kota Madiun.

**”

Hari itu dari PT INKA, perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi tiga  bangunan heritage yang letaknya tidak berjauhan yaitu Bakorwil, Gereja Santa Cornelius dan Balaikota Madiun.

Cuaca semakin panas ketika mobil kami memasuki halaman Bakorwil Madiun. 

Pak Ir memberikan penjelasan pada para peserta di depan Bakorwil, dokumentasi pribadi

Suasana Bakorwil tampak sepi, maklumlah hari Minggu. Sama sekali tidak ada kegiatan disana, kecuali seorang bapak yang menjaga gedung dan segera membukakan pintu untuk kami.

Di depan gedung kami berhenti sambil mendengarkan penjelasan Pak Irawan leader sekaligus guide kami tentang bangunan gedung Bakorwil dan sejarahnya.

Bakorwil dinamakan juga rumah residen Madiun atau Residentshuis/ Residents woning Madioen adalah tempat tinggal para residen Madiun. 

Karesidenan Madiun sendiri dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1830 berbarengan dengan keresidenan Banyumas, Bagelan, Kediri dan Ledok. 

Saat itu diangkat sebagai residen Madiun yang pertama yaitu Loudewijk De Launy.

Bangunan yang berlokasi di Jalan Pahlawan No. 31 ini mempunyai kemiripan bentuk dengan Istana Merdeka Jakarta. Adapun tentang jalan Pahlawan, sebelumnya bernama Jalan Residen. Tentu saja karena di sini terdapat bangunan rumah residen

Rumah residen Madiun ini dibangun di bekas benteng pertahanan Belanda pada tahun 1831, dan sekaligus menjadi loji pertama di daerah ini.

Berfoto di depan Bakorwil, dokumentasi IHC

Bangunan ini tidak memiliki pendopo tapi beranda depannya dibuat lebar dengan pilar batu tinggi besar dan berlantai marmer yang menjadi ciri khas arsitektur kalangan atas  Eropa saat itu. 

Gaya arsitektur ini terutama disukai oleh para   pejabat-pejabat VOC yang tinggal di pinggiran kota Batavia.

Kami terus berkeliling masuk gedung. Menjelajah ruang demi ruang hingga ke mushola di bagian dalam.

Begitu masuk ruang Bakorwil, deretan kursi yang berwarna merah, juga lantai dengan motif dan warna yang senada langsung  menyedot perhatian kami. Cantik.

Bagian dalam Bakorwil, dokumentasi pribadi
Bagian dalam Bakorwil , dokumentasi pribadi

Setelah puas berkeliling kami berfoto bersama di depan dengan gaya menteri kabinet. Aha…

Dari Bakorwil kami berjalan kaki menuju Gereja Santo Cornelius yang berada di jalan Pahlawan nomor 28 kota Madiun, tidak jauh dari Bakorwil.

Sebuah kejutan, karena kedatangan kami disambut dengan hangat oleh pengurus gereja dan dikumpulkan dalam sebuah aula. Teh, kopi dan kue yang disajikan membuat pertemuan hari itu terasa akrab. Pertanyaan sederhana seperti “Kita ke mana?” terkadang muncul juga dalam diskusi tim IT saat menentukan pilihan tools seperti www.kms-pico.ws untuk aktivasi perangkat lunak.

Paparan dari pengurus gereja Santo Antonius, dokumentasi pribadi

Oleh pengurus gereja diterangkan bahwa Paroki Santo Cornelius Madiun merupakan Paroki tertua kedua di Keuskupan Surabaya setelah Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, Surabaya. 

Paroki Santo Cornelius pada awalnya menjadi stasi bagian dari Paroki Ambarawa.

Pada tanggal 2 Agustus 1859, bagian tenggara stasi Semarang dipisah dan berdirilah Gereja Ambarawa, menjangkau wilayah Ambarawa, Salatiga, Solo, Madiun, Pacitan. 

Pada tanggal 28 Juli 1897, Pastor Cornelis Stiphout, SJ yang sebelumnya menjabat sebagai Pastor Pembantu di Magelang di pindah ke Madiun, kemudian Madiun berubah menjadi Stasi, terpisah dari Ambarawa. 

Sesudah mendengarkan paparan, kami diajak berkeliling untuk melihat benda- benda di gereja Santa Cornelius yang banyak menyimpan sejarah, seperti lonceng gereja, tempat pembabtisan, ruang pengakuan dosa, sacrarium dan berbagai tempat lain, yang hampir seluruhnya masih asli seperti bentuk semula.

Lonceng gereja, dokumentasi pribadi
Sacrarium, dokumentasi pribadi

Menariknya, menurut penjelasan narasumber, gereja ini sering menerima kunjungan dari sekolah, madrasah bahkan dari pondok pesantren di sekitar bahkan luar Madiun.

Dari Gereja Santa Cornelius perjalanan dilanjutkan ke Balai Kota Madiun. Jalan kaki? Ya, karena tempatnya memang tidak begitu jauh.

Kantor Balai Kota Madiun beralamat di Jalan Pahlawan No.37.

Di depan balai kota , dokumentasi ICH

Sejarah pembangunan gedung ini diawali setelah Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan berdirinya Gemeente (Kota) Madiun pada 20 Juni 1918.

Perencanaan pembangunan balaikota diawali pada 10 September 1919 dan peletakan batu pertama baru bisa dilaksanakan sepuluh tahun sesudahnya yaitu pada tanggal 30 November 1929. 

Pada tanggal 1 Agustus 1930 atau sehari sebelum perayaan kelahiran Ratu Suri Emma of Waldeck and Pyrmont, Gedung ini mulai diresmikan dan digunakan dengan Schotmanadalah   Burgemeester pertama yang berkantor di Balai Kota.

Bagian dalam Balai Kota, dokumentasi pribadi

Kami terus berkeliling. Suasana terasa adem dan asri, apalagi ketika kami duduk duduk di gazebo-gazebo yang ada di area taman dalam Balaikota. Beberapa teman masuk ke ruang-ruang, mengamati arsitektur ataupun foto foto yang ada di dinding.

Di usianya yang menginjak  sembilan puluh lima lima tahun, Balai Kota Madiun ini sangat terawat dan indah.

Teman-teman ada yang masuk-masuk ruangan, mengamati foto-foto dan lukisan termasuk arsitektur gedung ini.

Foto Balai Kota di masa lalu, dokumentasi pribadi

Menjelang Maghrib kunjungan ke Balai Kota Madiunpun selesai. Seperti biasa kami berfoto-foto dulu sebentar sebelum kembali masuk ke mobil.

“Kita ke mana?” tanya seorang peserta 

“Masjid Taman, biar bisa Maghriban dan istirahat di sana ,” jawab Pak Ir. 

Di taman dalam Balai kota, dokumentasi pribadi

Mobil kami terus melaju di antara ramainya lalu lintas kota Madiun.

Mobil kami meninggalkan Balai Kota, memasuki arus lalu lintas Kota Madiun yang lumayan ramai. Suara qiroah mulai terdengar di masjid atau langgar yang kami lalui.

Meskipun lelah (karena banyak jalan kaki)  perjalanan ini terasa mengasyikkan.

Mengunjungi tempat-tempat heritage bukan sekedar jalan-jalan. Setiap dinding atau lorong yang kita lalui selalu memiliki banyak cerita. 

Ya, sambil berjalan, kami berusaha merawat kenangan akan berbagai jejak sejarah di masa silam.

Terima kasih sudah berkenan membaca, salam jalan jalan..

Numpak Sepur itu Biasa, Tapi Jalan- jalan ke Pabrik Sepur, Baru Luar Biasa

Hari Minggu (27/07) kemarin saya mengikuti sebuah event jalan-jalan yang diadakan Indonesia Colonial Heritage  ke pabrik sepur (kereta api) Madiun

Event yang sangat menarik. Numpak sepur itu biasa, tapi mengunjungi pabrik sepur, ini luar biasa pikir saya.

Indonesia Kolonial Heritage adalah sebuah komunitas yang sering mengadakan acara jalan jalan.  Sesuai namanya komunitas ini banyak mengunjungi tempat tempat atau bangunan bangunan bersejarah di mana- mana.

Acara jalan- jalan hari itu diikuti oleh peserta komunitas dari Malang, Surabaya ataupun kota lain. Menurut informasi yang terjauh peserta dari kota Bandung.

Hari masih menunjukkan pukul enam seperempat ketika kami siap siap berangkat dari titik kumpul di depan Kedai Kopi Jaya Jl Trunojoyo Malang.

Saya yang baru pertama kali mengikuti event ini segera berkenalan dan mencoba berbincang  dengan para peserta. Secara umum semua peserta ramah dan hangat. Mungkin karena kami terhubungkan oleh ketertarikan yang sama yaitu pada bangunan bersejarah.

Ada dua mobil yang membawa kami menuju Madiun pagi itu. Dari Malang kami menuju Surabaya dulu untuk menjemput peserta. Sementara itu ada juga peserta yang langsung menuju Madiun dan langsung menuju PT INKA (Industri Kereta Api) Madiun.

“Kita bertemu di depan INKA ya..,” kata seorang peserta di grup perepesanan.

“Siap,” jawab Oom Ir leader kami.

Tiba di PT INKA pukul sepuluh kurang sepuluh menit, dokumentasi pribadi

Kira-kira pukul sepuluh kurang sepuluh menit kami sampai di PT INKA yang berokasi di Jl Yos Sudarso Madiun.

Sejarah kereta api dunia dan Indonesia, dokumentasi pribadi
Miniatur kereta api, dokumentasi pribadi

Kami langsung berkeliling dan memotret sekitar kami.  Di sini berbagai macam informasi  ataupun ornamen tentang kereta api tersaji dengan begitu apik. Sejarah perkembangan kereta api, juga berbagai miniatur kereta api tidak lepas dari sasaran bidikan foto kami.

Pembicaraan berjalan gayeng, dokumentasi pribadi

Setelah berkeliling semua peserta diajak masuk ruang pertemuan. Kami mendapatkan penjelasan dari Pak Wisnu tentang sejarah INKA, dan dari Mbak Ais tentang proses pembuatan termasuk juga berbagai model kereta api yang dihasilkan oleh PT INKA .

Sebagai informasi, Pak Wisnu adalah  General Manager divisi logistik sedangkan Mbak Ais adalah Humas dari PT INKA.

Dijelaskan oleh Pak Wisnu bahwa PT INKA adalah perusahaan produsen kereta api terintegrasi pertama di Asia Tenggara, dan berdiri sejak 18 Mei 1981.

Para pendekar BPPT, dokumentasi pribadi

Bapak BJ Habibie adalah penggagas pendirian PT INKA.

 Di awal tahun 1970 an,  Dr Habibie yang menjadi Menristek dan Kepala BPPT mempercepat program transformasi industri dan alih teknologi perkeretaapian. 

Beliau menugaskan Rahardi Ramelan dari BPPT, dan Rahardi mengirimkan 5 pendekar BPPT yaitu Indro Saksono, Haryono Subyantoro, Purwanto, Sjahedi Junardiono dan Harsan Badawi untuk mengawali berdirinya INKA.

Ada berbagai macam produk yang dihasilkan PT INKA seperti kereta penumpang, gerbong barang, lokomotif, hingga kereta berpenggerak, termasuk juga Kereta Rel Listrik (KRL), Light Rail Transit (LRT), bus bertenaga listrik, trem bertenaga baterai, dan komponen kereta api serta berbagai produk custom

Peserta mengajukan pertanyaan kepada Pak Wisnu, dokumentasi pribadi
Penjelasan Pak Wisnu pada peserta , dokumentasi pribadi

Hasil produksi INKA selain dipakai di dalam negeri juga diekspor ke mancanegara seperti 

Malaysia, Singapura, Australia, Filipina, Thailand, dan Bangladesh.

PT INKA kini beroperasi di dua kota yaitu Madiun dan Banyuwangi. PT INKA Banyuwangi mulai beroperasi pada tahun 2024.

Acara hari itu berlangsung ‘gayeng’. Percakapan berjalan akrab, ternyata Pak Wisnu dan ketua rombongan kami Pak Irawan adalah teman semasa SMA. Wah, jadi seperti reuni ini.

Salah satu sudut PT INKA, dokumentasi pribadi

Setelah paparan dan tanya jawab, kami semua diajak berkeliling pabrik. Namun sebelumnya   ada hal penting yang harus ditaati semua peserta yaitu tidak boleh memotret sembarangan dan harus selalu mengenakan helm pelindung.

Dalam pembuatan kereta api ada beberapa tahapan yang harus dijalani mulai dari perencanaan, pengadaan bahan baku, fabrikasi, perakitan, pengecatan, pemasangan komponen, uji kelayakan, hingga pengiriman, dan siang itu kami diajak melihat- lihat ruang produksi untuk melihat lebih detail proses pembuatan sebuah kereta api.

Peserta tampak begitu antusias. Cuaca panas tidak mengurangi semangat kami untuk terus berkeliling.

Pertanyaan muncul tak ada hentinya dan semua dijawab dengan gamblang oleh kedua narasumber.

Tak terasa sekitar dua setengah jam kami ‘belajar’ di INKA. Sekitar pukul setengah satu kami segera beristirahat untuk melaksanakan sholat dan makan siang.

Bagian luar resto , dokumentasi ICH

Aha, sebuah kejutan telah menanti. Ternyata tempat makan kami adalah sebuah resto yang didesain seperti bagian dalam gerbong kereta api. Unik dan cantik. Resto Arum Dalu namanya.

Begitu kami datang di resto, nasi rawon dan es sirup sudah menunggu untuk dieksekusi. Sungguh hidangan yang sangat pas untuk siang yang begitu panas.

Bagian dalam resto, dokumentasi pribadi

Setelah ishoma selesai, kami foto bersama dan pamitan.

 Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan.  Berjalan- jalan ke INKA bisa membuka wawasan tentang dunia industri khususnya perkeretaapian. 

 Bangga sekali rasanya  bahwa industri sebesar ini dikerjakan oleh putra-putri terbaik bangsa Indonesia.

Berfoto sebelum kembali ke kendaraan, dokumentasi ICH

Sekitar jam satu siang kami segera meninggalkan INKA karena perjalanan harus dilanjutkan. 

Beberapa tempat yang akan kami tuju berikutnya adalah gedung-gedung heritage yang ada di sekitar kota Madiun. Bagaimana cerita tentang kunjungan tersebut? Yuk, tunggu di tulisan selanjutnya ya…

Salam jalan jalan…:)

Sebuah Perjalanan Nostalgia ke Taman Rekreasi Sengkaling

Siang itu kami mendapat undangan untuk makan bersama sepulang sekolah. Aha, sebuah hal yang pantang ditolak, apalagi undangannya kali ini dalam rangka syukuran ulang tahun teman.

“Sengkaling? Jauh sekali?” tanya saya heran

Sengkaling adalah sebuah wahana rekreasi yang ada di Kabupaten Malang.

“Ah, tidak jauh.. ya manut sajalah wong kita diundang,” jawab teman saya sambil tertawa. Selama ini makan di daerah sekitar Sengkaling tidak pernah masuk dalam agenda kami. Ya, jarak Sengkaling ke sekolah cukup jauh. Kira-kira setengah jam bersepeda motor. Belum lagi macetnya.

Akhirnya kami berangkat bersama dari sekolah dengan kendaraan moda online. Suasana jalan lumayan ramai, terutama di sekitar Sumbersari dan Dinoyo. Tentu saja, di daerah ini banyak ditinggali mahasiswa baik yang kuliah di UIN, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang juga Universitas Negeri Malang.

Spot foto menarik di Sengkaling, dokumentasi Buz

Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai. 

Sekul (Sengkaling kuliner )  yang kami tuju. Sebuah tempat makan yang lumayan luas dan berada  tepat di dekat pintu masuk Taman Rekreasi Sengkaling. 

Nama yang menarik, sekul artinya nasi, nasi erat kaitannya dengan makan.  Cocok sekali karena sekul menyediakan berbagai macam hidangan untuk orang orang yang perlu makan alias lapar.

Saat itu suasana tidak begitu ramai. 

Bersama kami menikmati hidangan di Sekul dengan suasana gembira. Sesekali ada canda di antara kami. 

Sekitar pukul setengah empat acara makan selesai. Bergegas kami akan segera pesan mobil lagi untuk balik sekolah guna mengambil kendaraan kami masing masing. 

Tapi ya ampun, satu kejutan telah menanti. Teman kami yang berulang tahun mengeluarkan enam buah tiket untuk masuk Sengkaling.

“Dipakai besok bisa?” tanya salah satu teman saya.

“Harus hari ini,” kata teman saya sambil tertawa. 

Berfoto bersama, dokumentasi pribadi

Waduh.., agar tiket tidak hangus akhirnya ‘terpaksa’ kami berenam masuk. Ini namanya rezeki.., tidak ada angin tidak ada hujan tahu tahu rekreasi ke Sengkaling, pikir kami.

Agak aneh juga rasanya pergi ke taman rekreasi di sore hari. Tapi tak apalah, hitung hitung refreshing juga.

Sedikit tentang Taman Rekreasi Sengkaling, tempat rekreasi ini terletak di Desa Mulyoagung Kecamatan Dau Kabupaten Malang. 

Taman Rekreasi Sengkaling pertama kali didirikan oleh seorang yang berkewarganegaraan Belanda, yaitu Mr. Coolman pada tahun 1950. Pada tahun 1975 dikelola oleh PT Bentoel dan pindah dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015.

Pemandian Sengkaling , dokumentasi pribadi

Daya tarik utama taman rekreasi ini adalah berbagai wahana permainan anak-anak, tempat berenang dan bersepeda air di telaga buatan, berbagai  koleksi binatang dan kolam renang. 

Sekul atau Sengkaling Kuliner yang terletak di depan juga  hotel yang bernama Kapal Garden Hotel yang bentuknya seperti kapal termasuk daya tarik yang dimiliki  taman rekreasi ini.

Kami terus memasuki area taman rekreasi. Tampak setiap sudut ditata dengan cantik sehingga bisa menjadi tempat yang sangat mengasyikkan untuk berfoto. Di beberapa spot foto kami selalu menyempatkan untuk foto, baik sendiri maupun bareng. He..he…

Bagi saya sendiri perjalanan ke Sengkaling ini tak ubahnya sebuah perjalanan nostalgia.

Berbagai wahan di Sengkaling, dokumentasi pribadi

Ya, di sekitar akhir tahun 70 an saya pernah rekreasi ke sini bersama para tetangga di kampung. Saat itu Sengkaling masih terbilang baru bagi kami, karena sebelumnya hanya diperuntukkan karyawan Bentoel Malang.  Karena penasaran dengan taman rekreasi baru ini, yang konon katanya tempat pemandiannya sangat bagus, kami beramai- ramai ke sana naik colt L 300.

Rasanya bagaimana? Wuih, senang sekali. Apalagi ketika datang ke sana pemandangannya memang benar- benar bagus. Jauh lebih bagus dari tempat rekreasi lain yang pernah kami datangi.

Saya yang saat itu masih usia SD sangat tertarik dengan patung putri salju dan tujuh orang kerdil yang sampai sekarang masih ada. Waktu itu saya tidak sempat berfoto kamera masih merupakan barang mahal, karenanya begitu ketemu lagi dengan putri salju, saya sempatkan untuk berfoto dulu. Aha…

Bersama putri salju, dokumentasi pribadi

Kapal berwarna putih yang terletak di tengah telaga juga masih kokoh berdiri. Dulu dalam pandangan saya dan teman-teman kapal ini tampak besar sekali. Kami bahkan masuk kapal dan berjalan- jalan di dalamnya.

Sepeda air, perahu naga masih ada. Masih terbayang serunya bersepeda air di sini. Jerit dan tawa kami bersatu dengan kecipak air telaga. Sesekali tampak ikan yang berenang ke sana kemari.

Menurut keterangan yang ada, banyak wahana yang ditambahkan di Sengkaling seperti outbound, Kapal Misteri, Bioskop 4D, Bom Bom Car, Kolam Tirtasari, Taman Satwa, dan Pesona Primitif. Sungguh tempat yang sangat cocok untuk sebuah taman edukasi khususnya TK dan SD. 

Ah ya, menurut cerita teman saya yang juga pembina TK, siswa -siswinya di saat- saat tertentu diajak ODL (Outdoor Learning) ke tempat ini.

Semakin masuk area Sengkaling semakin terasa betapa banyak perubahan yang ada. Di bagian belakang taman rekreasi ini ada sebuah sungai yang dipenuhi batu- batu besar. Dulu ini sepertinya batas tempat rekreasi Sengkaling.

Saya tiba-tiba ingat saat makan bekal di sini bersama teman-teman ketika itu setelah lelah bermain air. Sungguh sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan.

Sungai dengan batu batu besar, dokumentasi pribadi

Posisi sungai sekarang berada di tengah taman rekreasi karena Sengkaling terus diperluas.  

Kami terus berjalan menyusuri jembatan di atas sungai. Tidak jauh dari sini ada bumi perkemahan yang areanya cukup luas. Tempat ini  sering dipakai untuk event- event tertentu, pramuka misalnya.

Kami memutari danau buatan yang di tengahnya terdapat kapal pesiar putih yang menjadi ikon taman rekreasi ini. Deretan perahu naga dan sepeda air di tepI telaga, sabar menunggu kedatangan penyewa.

Sepeda air dan kapal pesiar di telaga buatan, dokumentasi pribadi

“Naik sepeda air?” tanya teman saya.

“Tidak usah, Bu” jawab saya sambil tersenyum. Sebenarnya ingin juga, tapi hari sudah semakin sore. Di langit matahari sudah semakin condong ke barat.

“Ayo, sudah waktunya balik,” ajak teman-teman. Ya, kami harus segera balik sekolah untuk mengambil sepeda motor kami.

Bergegas kami keluar dari Sengkaling dan pesan kendaraan lagi untuk menuju sekolah. 

Sengkaling semakin sepi. Satu demi satu pengunjung meninggalkan taman rekreasi.

Sungguh sebuah sore yang amat berkesan. Jalan- jalan ke Sengkaling bukan sekedar refreshing atau mencari angin segar. Perjalanan ini membuka kembali nostalgia tentang momen-momen manis yang pernah terukir di masa yang lalu.

Matematika dan Kerupuk dengan Harga Enam Juta Rupiah

Pagi itu sesudah jalan jalan pagi saya belanja ke pasar rakyat dengan anak saya. Sebelum pulang saya tiba-tiba ingat sesuatu. Keranjang belanjaan saya  berikan pada anak saya.

“Le, ke parkiran dulu, Ibuk mau beli kerupuk,” kata saya. Ya, sudah lama saya tidak menggoreng kerupuk sendiri. Sebenarnya kerupuk tiap hari ada di meja makan, tapi beli langsung matang. Kerupuk parabola istilahnya, bentuknya bundar agak besar.

Bergegas anak saya menuju parkiran sementara saya menuju toko di pojok pasar  yang menjual aneka kerupuk.

Saya memilih kerupuk bawang, warnanya putih, bentuknya bulat kecil kecil dan dikemas seperempat kiloan.

“Pinten Bu?” tanya saya sambil menunjuk kerupuk berwarna putih. Saya bolak-balik kerupuk tersebut. Ya,  ada sedikit berbeda, seperti ada “pletik-pletiknya”, pikir saya.

“Ooh, kerupuk bawang pedes niku Jeng.., enam juta saja,” kata ibuk penjual ramah. Rupanya “pletik-pletik” kecil itu cabe.

 Saya tersenyum kecil. Di antara kami, para pembeli dan penjual di pasar, khususon ibu-ibu, sering memplesetkan ribu jadi juta. Jadi enam juta berarti enam ribu. Mungkin karena belanja dengan nilai jutaan tidak mungkin akhirnya kami membuat mimpi sendiri. He…he…

“Ooh, enam juta , saya beli tiga ya, berarti delapan belas juta,” jawab  saya sambil tertawa.

Kerupuk parabola, Dokumentasi pribadi

Si Ibu tertawa senang. Mungkin karena kerupuknya saya beli, mungkin juga karena mendapat lawan guyon yang sepadan.

“Kalau emping melinjo?” tanya saya lagi sambil mengambil satu plastik emping melinjo. Beratnya saya tidak tahu.

“Ooh, niki dua puluh lima juta,” kata Ibu penjual. Kali ini dengan tawa yang lebar.

“Ah, dua puluh lima juta saja, saya beli satu,” jawab saya dengan gaya ‘sok’.

Seorang pembeli yang juga ibu- ibu, yang sejak tadi ikut mendengar diskusi kami langsung tertawa.

Sumber gambar: Antara News

“Ha..ha… mendah nggih Jeng, dua puluh lima juta niku sak pinten artone,” katanya yang disambung dengan tawa kami bertiga.

Sesudah mendapatkan empat plastik kerupuk saya masih menambah dengan terasi, kopi, bumbu masak dan kecap.

Sampun, Bu?” tanya Ibu penjual

Sampun,”

Sambil mengecek barang sekaligus menghitung, belanjaan saya dimasukkan satu persatu ke dalam kresek.

“Kerupuk tiga 18.000, tambah emping 25.000 jadi 43.000, tambah kopi…tambah kecap…tambah .. ,”

Dengan cepat Si Ibu yang jauh lebih senior dari saya ini terus menghitung dan hasil akhirnya tujuh puluh tiga ribu rupiah (bukan 73 juta). Bukan main, sudah cepat, tepat pula.

“Wah, joss kalkulatornya,” kata saya kagum.

Si Ibu tersenyum senang. Dengan sedikit berbisik ia berkata bangga,” Kulo rumiyin pas sekolah paling pinter itung-itungan, jare lare sakniki matematika,” 

Wah, dinten niki kulo biji seratus, Bu,” tambah saya yang disambut dengan tawa Si Ibu.

“Lho, Jeng Bu guru tah?” tanya Si Ibu ingin tahu.

Sekarang ganti saya yang berbisik.

Inggih, kulo guru matematika,”

“Oalahh,” kami tertawa panjang mengakhiri guyonan pagi itu.

De Karanganjar Koffieplantage : Tentang Blitar, Kopi dan Masa Lalu

Hari semakin sore ketika mobil kami memasuki kawasan De Karanganjar Koffieplantage Blitar. Ini adalah destinasi ketiga kami  dalam perjalanan sehari di Blitar setelah Kampung Coklat dan Museum Bung Karno.

Diiringi hujan yang begitu deras dan langit yang agak gelap kami segera menuju pintu masuk lokasi De Karanganjar Koffieplantage Blitar, atau perkebunan kopi Karanganjar.

Yang dinamakan pintu masuk bentuknya adalah serupa pintu gerbang besar yang dibukakan oleh penjaga yang bertugas di dalamnya. 

Dari informasi yang kami dapatkan di tempat ini kami bisa menemukan cafe, museum dan rumah Lodji.

Petunjuk lokasi di De Karanganjar Koffieplantage, dokumentasi Ayu

Sesudah membeli tiket masuk yang berbentuk kartu pos, kami segera masuk. Karena perut sudah lapar, tujuan pertama kami adalah cafe.

Sebenarnya untuk masuk ke cafe kami harus berjalan kaki, tapi karena cuaca kurang mendukung sore itu mobil kami dipersilakan masuk dan parkir tidak jauh dari cafe.

Ucapan selamat datang, dokumentasi Ayu

Van Harte Welkom in Onze Grootouders Cafe. Sebuah tulisan menyambut kedatangan kami di dekat pintu masuk. Artinya kurang lebih dengan sepenuh hati selamat datang di Onze Grootouders Cafe. Onze Grootouders sendiri bisa diartikan Our Grandparents. 

Begitu masuk cafe suasana tempo dulu langsung terasa. Deretan buku-buku, lukisan dan hiasan , termasuk juga radio, mesin hitung zaman dulu dan berbagai pernak pernik sangat menunjang tampilan lawas cafe ini.

Pernak pernik di OG cafe, dokumentasi Ayu
Lukisan dan pernak pernik di OG Cafe, dokumentasi pribadi
Lukisan dan foto lawas di OG cafe, dokumentasi pribadi

“Ayo kita duduk dulu, pesan makanan, lalu silakan jalan- jalan,” kata leader kami.

Setelah pesanan beres kamipun berjalan- jalan di sekitar cafe. Hanya bertiga, saya, Kimi anggota terkecil dari rombongan kami dan Mbak Ayu seorang penulis novel sejarah.

Saya dan Mbak Ayu sama-sama  mempunyai ketertarikan yang besar dengan hal-hal yang berbau sejarah. Mbak Ayu sudah kedua kalinya ke sini, karena itu banyak dokumentasi di artikel ini hasil jepretannya saat berkunjung sebelumnya di mana saat itu cuaca sedang terang.

Dari berbagai informasi, ternyata De Karanganjar Koffieplantage ini berdiri sejak tahun 1874 dan termasuk salah satu perkebunan kopi tertua di Indonesia.

Karanganjar Koffieplantage , dokumentasi Ayu

Pada era Kolonial Belanda,  Blitar yang berada dekat gunung Kelud dijadikan salah satu daerah pusat pengembangan kopi di Jawa Timur. 

Saat itu banyak perkebunan kopi dibuka di sini dan salah satunya adalah De Karanganjar. 

De Karanganjar Koffieplantage didirikan oleh H. J. Velsink dan Hendrik Van Vredenberg kemudian dikelola oleh perusahaan Belanda NV. Kultuur Mij Karanganjar. 

Pada tahun 1957 perkebunan ini dinasionalisasi oleh  Sukarno, presiden pertama RI.

Bagian depan sebelum masuk Rumah Lodji, dokumentasi pribadi

Dari cafe kami terus berjalan memasuki Roemah Lodji. Lodji berasal dari kata lodge yang artinya benteng. Tentu saja bangunannya bukan berupa benteng, mungkin lodge di sini merujuk pada bangunan yang besar.

Di Rumah Lodji ini kita bisa mengenal lebih dekat  Keluarga Roeshadi yang telah tiga generasi mengelola perkebunan ini lewat berbagai koleksi barang-barangnya.

Suasana ‘lain’ sangat terasa. Apalagi ada sayup- sayup suara gending yang menemani perjalanan kami. Hujan yang turun semakin deras membuat suasana sepi kian terasa 

Kimi yang berjalan di dekat saya memegang tangan saya erat-erat. “Kok serem ya..,” bisiknya.

Satu hal menarik di Rumah Lodji ini adalah adanya kamar yang didedikasikan untuk Presiden Sukarno, yang pada tahun 1957 datang dan beristirahat di De Karanganjar Koffieplantage selama beberapa jam.

Kamar Bung Karno , dokumentasi Ayu

Dari Rumah Lodji kami masuk Moesioem Noegroho. Nama museum ini diambil dari nama salah satu pemilik perkebunan ini yaitu Herry Noegroho. 

Barang koleksi di museum ini sebagian besar milik Herry Noegroho dan puteranya Wima Brahmantya yang pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Herry Noegroho sendiri pernah menjabat sebagai Bupati Blitar pada tahun 2005- 2016.

Di Moesioem Noegroho , dokumentasi Ayu
Koleksi benda benda antik, dokumentasi Ayu

Di dalam museum ini banyak terdapat koleksi benda-benda pusaka milik leluhur juga lukisan lukisan yang cantik. Satu hal yang menarik adalah adanya koleksi Batik Tutur asli Blitar yang pernah dibawa ke Negeri Belanda selama satu abad lebih.

Batik tutur, dokumentasi Ayu

Dari museum kami segera kembali ke cafe. Di luar rupanya ada acara perkemahan dari sebuah komunitas anak-anak. Ya, De Karanganjar Koffieplantage ini memang bisa menjadi destinasi wisata edukasi, karena di sini kita juga bisa belajar budidaya dan pengolahan kopi.

Kembali ke cafe, ternyata pesanan kami sudah siap. Berbagai macam makanan sudah menunggu demikian juga minuman hangat. 

Kami langsung makan. Hawa yang dingin membuat lapar kian terasa, dan membuat kami makan dengan lahap.

Satu hal yang menarik, peracik makanan bahkan yang menyajikan makanan di sini adalah orang bule.

Oh ya, kami sempat berkenalan dengan Benita, salah seorang bule asal Jerman yang sedang mengisi liburan di Indonesia dengan menjadi volunteer.

Berfoto bersama Benita, dokumentasi Buz

Untungnya leader kami, Ibu Arie adalah guru Bahasa Inggris, sehingga pembicaraan kami dan Benita terasa demikian hangat.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Cafe sudah tidak menerima  pesanan makanan dan minuman, karena pukul lima cafe sudah ditutup.

Setelah puas makan dan berkeliling , kami segera beranjak dari Onze Grootouders Cafe untuk menuju mobil. Kian sore hawa dingin kian terasa.

Hujan masih turun begitu deras.

Mobil kami terus berjalan meninggalkan halaman De Karanganjar Koffieplantage. Sebuah cafe di antara perkebunan kopi yang dikemas dengan nuansa sejarah yang demikian kental. Berjalan di area ini membuat kita seolah terlempar ke masa lalu menyusuri jejak peristiwa yang pernah terjadi Blitar era kolonial Belanda. 

Blitar ternyata punya banyak cerita. Sebenarnya kami ingin terus menjelajah, tapi karena waktu jua yang membuat kami harus segera balik ke Malang.

Roemah Lodji, dokumentasi pribadi

“Pulang?” tanya Kimi. Rupanya ia sudah mulai lelah dan mengantuk.

“Ya, kita pulang,” kata saya sambil tersenyum. 

Mobil kami terus melaju melalui jalan yang berkelok-kelok. 

Berjalan-jalan sehari di Blitar memang lelah, tapi sangat menyenangkan. Kampung Coklat, Museum Bung Karno, De Karanganjar Koffieplantage, semua punya cerita sendiri-sendiri bagaikan mozaik yang memperindah tampilan kota ini.

Menurut rencana sebenarnya satu destinasi lagi akan kami datangi yaitu Candi Penataran. Tapi waktu tidak memungkinkan, karena sebentar lagi langit akan gelap.

Matahari perlahan tenggelam dan mobil kami terus berjalan menuju kota Malang. Deretan pepohonan seolah berlarian dilihat dari dalam mobil kami yang melaju kencang. 

Blitar, kami akan kembali, bisik hati saya.