Malang -Gresik- Surabaya yang Menyimpan Banyak Cerita

Soto Ambengan Surabaya, dokumentasi Cyin Any

Sengaja catatan perjalanan Sabtu di minggu pertama Januari 2023 ini saya buat dalam dua bagian. Supaya tidak terlalu panjang jadi lebih enak dibaca.

Bagian pertama menceritakan perjalanan kami menuju resepsi pernikahan Pak Faqih di Gresik, bagian kedua bercerita tentang jalan- jalan sepulang dari Gresik. Tepatnya perjalanan menuju tempat oleh-oleh, Tunjungan Plaza dan terakhir mampir Soto Ambengan dan Sup Iga sebelum akhirnya pulang kembali ke Malang.

***

Pukul setengah satu siang di Gresik benar benar sesuatu rasanya. Kami yang terbiasa dengan sejuknya hawa di kota Malang merasakan hawa siang yang begitu panas.

Sesudah resepsi pernikahan Pak Faqih, kami sholat di masjid terdekat dan siap- siap untuk melanjutkan perjalanan. Matahari begitu panas menyengat. Keluar dari masjid cepat-cepat kami masuk bus yang parkir tepat di depan masjid.

Pusat oleh-oleh, dokumentasi pribadi

Setelah semua penumpang lengkap, perjalananpun dilanjutkan. Pusat oleh-oleh khas Gresik itu tujuan utamanya.

Belanja di pusat oleh oleh, dokumentasi pribadi

Sampai di pusat oleh oleh kami berkeliling. Beberapa teman membeli pudak, otak otak bandeng, kerupuk ikan juga kerupuk udang. Sementara saya sendiri membeli beras kencur dingin dalam kemasan botol.

Sesudah belanja, dokumentasi pribadi

Sesudah puas membeli oleh-oleh perjalananpun dilanjutkan menuju Tunjungan Plaza. Pusat perbelanjaan yang terletak di kota Surabaya ini mempunyai 6 bangunan utama yang saling berhubungan (Tunjungan Plaza 1-6).

Sepanjang perjalanan di Surabaya Bu Anna banyak bercerita pada saya tentang tempat-tempat di kota Pahlawan ini. Ternyata beliau lama tinggal di Surabaya sehingga hafal dengan sudut sudut kota Surabaya.

Tunjungan Plaza, dokumentasi pribadi

Tunjungan Plaza ini begitu luas sehingga untuk berkeliling di dalamnya perlu waktu yang agak lama. Karenanya waktu yang disediakan bagi kami untuk berkeliling di Tunjungan Plaza adalah satu setengah jam. Tepatnya mulai pukul 15.30 sampai dengan 17.00.

Jalan jalan di Tunjungan Plaza, dokumentasi pribadi
Di Tunjungan Plaza, dokumentasi P.Dian

Sama dengan di kota Malang, keberadaan plaza adalah hal yang sangat bermakna bagi warga. Plaza bisa menjadi tempat refreshing, tempat belanja atau bersosialisasi.

Di Tunjungan Plaza beberapa teman berbelanja, beberapa yang lain mencuci mata, bergaya seperti anak muda, atau sekedar berjalan- jalan dengan orang tercinta. Aih, semua itu sungguh membuat bahagia.

Depan Tunjungan Plaza, dokumentasi Cyin Any
Depan Tunjungan Plaza, dokumentasi Cyin Any

Lelah berkeliling plaza, pukul lima tepat semua penumpang sudah berada di dalam bus kecuali dua orang yaitu Bu Sinta dan Bu Novi. Penumpang di bus mulai bertanya-tanya, kemana gerangan mereka berdua? Namun syukurlah tak lama kemudian keduanya tampak berlari-lari menuju bus, dan kami sambut dengan penuh rasa lega.

Terlambat masuk bus, dokumentasi Cyin Any

Bus kembali melaju. Sebelum balik Malang, kami mampir dulu ke Soto Ambengan, sementara mobil sekolah mampir ke sop iga. Hmm, apapun hidangannya, dalam kebersamaan semua terasa hangat dan lezat.

Soto Ambengan, dokumentasi Cyin Any
Soto Ambengan, dokumentasi Cyin Any
Sup Iga, dokumentasi P.Dian
Soto Ambengan, dokumentasi Cyin Any
Soto Ambengan, dokumentasi Cyin Any

Sekitar pukul 6 hujan mulai mengguyur Surabaya. Bergegas kami naik bus kembali untuk pulang ke kota Malang tercinta.

Tidak seperti saat berangkat, tidak ada yang bernyanyi kali ini. Mungkin sudah lelah, ditambah dengan mengantuk, juga kekenyangan.

Badan sudah terasa demikian lelah, tapi memang anak muda selalu punya ide ide segar di kepala.

Dalam perjalanan pulang, semua penumpang bus diajak membuat tiktok dengan panduan Pak Vigil dan Pak Fabi. He…he… Apa pula ini?
Baru kali ini saya ikut dalam pembuatan tiktok. Hasil tiktok bisa dilihat di link bagian bawah halaman ini.

Malam semakin larut. Jalanan Surabaya nampak begitu sibuk. Bus kami terus melaju meninggalkan kota Surabaya untuk mengakhiri perjalanan sepanjang pagi hingga petang hari ini.
Ya, perjalanan hari ini sangat asyik dan meninggalkan begitu banyak kenangan cantik.

https://vt.tiktok.com/ZS8r3JadH/

Bintaraloka Goes to Gresik, Mengunjungi Resepsi Pernikahan Pak Faqih Romadhon

Menunggu kedatangan bus, dokumentasi pribadi

Sabtu pagi ini warga Bintaraloka mendapat undangan istimewa. Ya, salah seorang Bapak guru yaitu Pak Faqih akan melangsungkan resepsi pernikahan di daerah asal beliau yaitu Gresik.

Menikmati singkong goreng, dokumentasi pribadi
Menuju bus, dokumentasi pribadi

Sehari sebelumnya acara akad nikah dilaksanakan di Pakisaji Malang yang merupakan daerah asal dari mempelai wanita. Jadi di Gresik adalah acara ngunduh mantu dari keluarga Pak Faqih.

Sejak pukul enam pagi kami sudah siap di sekolah. Menurut pemberitahuan sebelumnya kami harus datang jam 6 karena sekitar pukul setengah tujuh kami harus berangkat menuju Gresik supaya tidak terlalu panas.

Siap berangkat, dokumentasi pribadi

Jumlah peserta perjalanan kali ini adalah 40 orang, dan kendaraan yang digunakan adalah Bus Halokes dan mobil sekolah. Karena kapasitas bus sekolah adalah 34 orang, maka yang berada di mobil sekolah ada 6 orang.

Seperti yang dijanjikan Bus Halokes masuk halaman Bintaraloka sekitar pukul setengah tujuh. Kami yang saat itu sedang menunggu sambil menikmati singkong goreng segera berkemas dan menuju bus dan mobil sekolah.

Setelah semua beres, dengan dipimpin Pak Muhaimin semua berdoa bersama. Tak lama kemudian buspun melaju membelah keramaian lalu lintas kota Malang menuju Gresik.

Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi
Suasana dalam bus, dokumentasi pribadi

Semua tampak gembira. Sesudah lima hari kami harus menyelesaikan berbagai target pekerjaan, perjalanan hari ini tak ubahnya refreshing untuk menyegarkan pikiran dan mempererat silaturahmi di antara warga Bintaraloka.

Suasana semakin segar ketika satu demi satu lagu dikumandangkan dari karaoke. Suara merdu Bu Diana, Pak Gerry, Pak Vigil mengalunkan lagu-lagu dari Dewa 19, Pance Pondaag , Glenn Fredly atau Panbers dengan begitu manis. Ditambah lagi dengan penganan yang mengalir tiada henti. Mulai dari pisang rebus, bentoel maknyus, snack jagung , kerupuk dan banyak lagi.

Membagi Snack, dokumentasi pribadi
Bentoel maknyus, dokumentasi pribadi

Menjelang pukul setengah sepuluh kami tiba di tempat resepsi. Karena suatu hal, rombongan pengantin belum tiba dari Pakisaji dan akhirnya kami harus sabar menunggu hingga rombongan tiba.

Cak Pandi in action, dokumentasi pribadi

Untunglah masa tunggu yang agak panjang tidak terasa menjenuhkan karena Cak Pandi mampu menghidupkan suasana sehingga semua terasa demikian gayeng. Cak Pandi adalah seorang pembawa acara serba bisa. Selain MC ia juga merangkap sebagai DJ, penyanyi, juga pemandu sholawat. Luar biasa.

Hitam manis…., dokumentasi pribadi

Dengan bersenjatakan laptop, sound dan suara yang merdu Cak Pandi membawakan lagu-lagu dari Rhoma Irama, A.Rafiq juga lagu Melayu lawas lainnya. Lagu “Ani” dari Rhoma Irama dieksekusi dengan cantik oleh Cak Pandi hingga membuat suasana semakin hangat.

Menunggu datangnya mempelai, dokumentasi pribadi
Menunggu datangnya mempelai, dokumentasi Cyin Any

Beberapa penonton ikut bergoyang, bahkan Pak Gerry dan Bu Any juga menyumbangkan lagu Hitam Manis dan Ojo Dibanding-bandingke.

Acara resepsi hari ini juga diramaikan oleh grup Al Banjari yang membawakan sholawat nabi dengan merdu dan rancak.

Al Banjari, dokumentasi pribadi

Ketika pengantin sudah siap, acara seremonial pun dimulai. Diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur an dan pembacaan sholawat bersama, acara dilanjutkan dengan penyerahan mempelai wanita pada pihak keluarga mempelai laki-laki.

Acara berlangsung dengan hangat namun tetap khidmat. Kedua mempelai tampil begitu serasi dan tampak sekali rona bahagia dari wajah keduanya. Berbagai nasehat disampaikan oleh yang ‘dituakan’ dari pihak keluarga kedua mempelai.

Sekitar pukul setengah satu setelah menikmati hidangan kami segera berpamitan. Ya, tamu begitu banyak. Supaya tidak terlalu berjubel kami harus segera meninggalkan tempat.

Namun sebelum pulang semua menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Ciiz….senyum paling manispun terukir di wajah kami masing masing.

Berfoto bersama, dokumentasi Cyin Any
Berfoto bersama, dokumentasi Cyin Any

Akhirnya selesai sudah kunjungan kami ke acara resepsi pernikahan Pak Faqih Romadhon di Gresik.

Mengutip kalimat dari Cak Pandi, kami semua mendoakan agar kedua mempelai bisa membangun keluarga yang samarasa (sakinah, mawaddah warrahmah dan sentosa) dan samaraba (sakinah, mawaddah warrahmah dan barokah).

Amiin YRA.

Kebaya, Satu Khazanah Budaya Nusantara

Kamis pertama tahun 2023 yang cerah. Jika biasanya mendung menggantung di langit kota Malang, hari ini cuaca begitu bersahabat. Tidak ada awan mendung. Mentari terasa begitu hangat sehangat senyum kami pagi ini.

Seperti biasanya Kamis ditandai dengan busana kebaya dan Malangan yang dikenakan oleh Bapak/Ibu guru di Bintaraloka.

Ada yang istimewa di Kamis ini. Banyak ibu ibu guru yang mengenakan kebaya Malangan hitam dan putih dengan motif yang hampir sama. Aih, semua tampak cantik. Yang ‘kembaran’ maupun tidak. Lebih-lebih ketika semua berfoto bersama dengan senyum yang hangat dan ceria.

Kebaya Malangan, dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia sudah selayaknya kebaya kita lestarikan dengan cara lebih sering mengenakannya utamanya di acara-acara yang istimewa.

Berkebaya di sekolah, dokumentasi pribadi

Lebih-lebih melalui keputusan hasil rapat bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK), dan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Pemerintah RI telah mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda UNESCO secara single nomination.

Sebelumnya Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei juga mendeklarasikan kebaya untuk diajukan kepada Intergovernmental Committee for Intangible Cultural Heritage and Humanity UNESCO.

Keempat negara itu juga mengajak negara serumpun termasuk Indonesia untuk bergabung dalam joint multinational nominations sesuai dengan operational guideline yang akan diajukan Maret 2023.

Apakah keistimewaan kebaya sebagai kekayaan budaya Indonesia?

  1. Kebaya menunjukan karakteristik unik dari masing-masing daerah di Indonesia. Tiap daerah punya kekhasan kebaya sendiri
  2. Kebaya menjadi identitas bangsa yang mampu menaikan derajat dan martabat Indonesia di mata dunia
  3. Kebaya menjadi daya tarik Indonesia yang bisa dimanfaatkan sebagai aset pariwisata
  4. Kebaya bisa menjadi inspirasi bagi industri fashion di kancah nasional dan internasional.

Last but not least .., kebaya tidak hanya cantik, tapi juga mampu membuat pemakainya tampil lebih anggun dan menarik. Tidak percaya? Mari kita lihat foto foto yang ada di halaman ini.

Kebaya membuat pemakainya lebih cantik dan menarik, dokumentasi pribadi

Ciiiz….:)

Tahun Baru 2023, Harshad Numbers dan Sukacita

Sumber gambar: terasjabar.id

Gempita menyambut datangnya tahun baru sudah terasa sejak Sabtu sore. Paling tidak itu yang saya rasakan tatkala saya bersepeda motor di sekitar Museum Brawijaya Jalan Ijen Malang.

Sejak siang para pedagang sudah menyiapkan stand di sekitar museum. Meski angin bertiup agak kencang dan daun daun yang berguguran memaksa petugas kebersihan berkali kali menyapu jalan, hal tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk merayakan malam pergantian tahun.

Menjelang pergantian tahun di depan Museum Brawijaya, dokumentasi pribadi

Bahkan di beberapa lokasi di kampung atau perumahan sudah menyiapkan terop untuk nobar dan makan bareng , atau bakar jagung dan kumpul- kumpul bersama.

Sekitar jam 10 malam suara petasan mulai berbunyi sesekali dan mencapai puncaknya saat pukul 12 malam. Pesta kembang api tampak dari lantai atas rumah saya. Wih meriah sekali.. yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Persiapan perayaan pergantian tahun dekat Museum Brawijaya, dokumentasi pribadi
Nobar dan makan bersama di sebuah RT, dokumentasi Yanti

Angka 2023 yang Istimewa
Banyak prediksi yang mengatakan bahwa tahun 2023 akan terjadi resesi, karenanya kita harus lebih berhati-hati. Nasehat yang sangat penting. Bagaimanapun juga persiapan untuk menghadapi berbagai kondisi sangat diperlukan agar kita bisa mengambil langkah yang tepat ketika terjadi masalah.

Namun begitu kita tidak boleh kehilangan rasa optimis dalam menghadapi tahun 2023.

Nah, bagaimana pandangan matematika tentang tahun 2023? He .he.. ternyata ada yang istimewa di balik angka 2023.

Mari kita tinjau 2023 menurut ilmu bilangan. Selain termasuk bilangan real 2023 juga termasuk Harshad Number atau bilangan Harshad.
Apakah bilangan Harshad itu?

Bilangan Harshad, dokumentasi P. Yos

Bilangan Harshad dinamakan juga bilangan Niven adalah bilangan bulat yang habis dibagi dengan jumlah digitnya. Bilangan Harshad bisa ditinjau dari berbagai basis. Untuk bahasan kita kali ini kita ambil basis 10 karena basis inilah yang paling sering kita pakai.

Contoh bilangan Harshad adalah 27, mengapa? 2+7= 9 dan 27 habis dibagi 9. Contoh lain adalah 24, karena 2+4 = 6 dan 24 habis dibagi 6.

Urutan bilangan Harshad mulai dari 1 adalah :

1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10 , 12 , 18 , 20 , 21 , 24 , 27 , 30 , 36 , 40 , 42 , 45 , 48 , 50 , 54 , 60 , 63 , 70 , 72 , 80, 81 , 84 , 90 , 100 , 102 , 108 , 110 , 111 , 112 , 114 , 117 , 120 , 126 , 132 , 133 , 135 , 140 , 144 , 150 , 152 , 151 , dst

Bagaimana dengan 2023? Mari kita jumlahkan, 2+0+2+3 = 7, dan 2023:7 = 289. Aha, ternyata 2023 habis dibagi (2+0+2+3). Berarti 2023 adalah Harshad number. Istimewa sekali..

Bilangan Harshad didefinisikan oleh Dr Kaprekar , seorang ahli matematika dari India, dan kata Harshad berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya pemberi sukacita.
Sedangkan istilah Bilangan Niven muncul dari makalah yang disampaikan oleh Ivan M. Niven pada konferensi tentang teori bilangan pada tahun 1977.

Akhirnya selamat datang tahun 2023 yang istimewa, dan selamat tinggal tahun 2022 yang penuh kenangan.
Sesuai makna Harshad, semoga tahun 2023 ini banyak memberikan sukacita untuk kita semua.

Sekedar catatan di awal tahun..:)

Salam Matematika:)

Ketika Radio Kembali Menyapa Kami

Radio transistor, Sumber gambar: Dara.co.id

Catatan manis sebelum menutup 2022 ini adalah berkumandangnya kembali radio di ruang dengar keluarga saya. Padahal sudah lama sekali saya tak begitu dekat dengan benda satu ini.

Bagaimana bisa? Begini ceritanya..


Pagi telah pergi
Mentari tak bersinar lagi
Entah sampai kapan
Kuteringat akan dirimu

Lagu itu berkumandang lembut dari radio KDS 8 yang channel-nya saya temukan kembali pagi ini. Lagu yang bercerita tentang sebuah kerinduan. Seperti rindu saya pada radio dan segala suasana yang mengiringinya.
Ya, bertahun-tahun sudah saya tak pernah mendengarkan radio.

Tepatnya sejak bapak meninggal. Saya tidak suka mendengarkan radio. Sungguh , radio memberikan kesan yang dalam tentang kedekatan saya dengan bapak. Mendengarkan radio berarti ingat bapak, dan itu sungguh membuat saya begitu rindu.

Bagaimana saya bisa kembali mendengarkan radio?

Kemarin saat piket di sekolah saya berbincang-bincang dengan teman satu angkatan. Satu guru Bahasa Inggris dan satunya guru IPA. Biasalah, kalau teman seangkatan bertemu pasti cerita tentang indah dan uniknya masa lalu.
Dari perbincangan itu tiba-tiba teman saya bercerita kalau dia sering mendengarkan radio KDS8.

“Eh, KDS 8 itu masih ada?” tanya saya antusias.
“Lho ada…, Sekarang pemancarnya pindah di daerah Sawojajar..,”
“Wah, nanti aku cari.. ,” kata saya lagi.
“Beli radio transistor kecil Bu.., asyik.. ,” kata teman saya lagi. Saya tertawa.. benar, asyik nih..

Pulang sekolah saya segera mengecek radio tape yang sudah lama sekali ada di meja tengah. Radio tape adalah radio sekaligus bisa dipakai nyetel kaset yang masih memakai pita. Kaset-kaset sudah dibawa adik saya karena dia yang suka nyetel dengan menggunakan tape besar. Jadi otomatis radio tape saya lama sekali tidak disetel.

Radio lawas, sumber gambar: Merdeka.com

Saya tekan tombol on. Ketika tombol yang lain saya arahkan ke radio, lalu channel saya putar.., amazing ! Ada suara Ajeng di sana. Saya senyum sendiri. Ajeng adalah satu penyiar KDS8 favorit saya. Bawaannya rame sehingga yang mendengarkan jadi bersemangat.

Mendengar radio rasanya memang beda. Apalagi jika penyiarnya sangat menyenangkan dan punya kekhasan saat menyapa. Radio bukan sekedar memutar lagu atau memberi informasi, tapi juga menciptakan suasana yang bisa kita terjemahkan sendiri menurut rasa kita.

Sejenak saya terpaku. Nuansanya sama seperti dulu. Rame, semangat, lagunya enak-enak. Biasanya suara radio bercampur dengan gemuruh suara mesin jahit bapak.

Mendengar iklan dan jingle membuat saya ingat anak-anak. Ya, anak-anak dulu selalu ikut menyanyikan jingle KDS 8.

Di sini KDS8
Selalu setia di hari-hari anda….

Teman saya langsung saya whatsApp.
“KDSnya sudah ketemu..!” kata saya
“Wes asyik Bu.. beli radio kah?”
“Tidak, radio lawas ini,” jawab saya lagi.
“Beli yang baru Bu.. , supaya tidak grodok grodok..,”
“Oke..,” jawab saya senang.

Sementara itu satu demi satu lagu terus mengalun. Mulai dari lagu sinetron Tersanjung, lagu dari Naif, sampai lagunya Virzha yang berjudul Tentang Rindu.

Ah, lagu yang terakhir ini memang selalu membuat rindu. Syairnya membuat saya rindu pada masa lalu dengan segala pernak-perniknya.
Gemuruh suara mesin jahit, anak- anak yang masih kecil dan selalu heboh, apalagi menjelang tahun baru seperti ini.

Radio memang tak henti membuka kenangan juga menciptakan kenangan baru bagi para pendengarnya.

Terima kasih pada Mister Sony dan Bu Arie yang banyak bercerita pada saya tentang KDS8. Nanti kita kirim-kiriman lagu ya… he..he…