Categories
Reportase

Rutam Nuwus, Pak Sutiaji…

Hari masih begitu pagi. Meski begitu Jalan Semarang dan beberapa ruas jalan lain menuju Universitas Negeri Malang sudah demikian ramai. 

Seragam Korpri bertebaran dimana-mana. Baju biru dongker dipadu bawahan biru dongker. Peci hitam atau kerudung biru yang senada membuat penampilan pemakainya begitu apik. 

Presensi, dokumentasi pribadi

Aha, pagi itu kami mendatangi undangan silaturahmi ASN dan Karyawan BUMD Kota Malang yang diadakan di gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang.

Silaturahmi ini bertujuan untuk meningkatkan integritas ASN menuju Indonesia maju menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.

Suasana demikian ramai. Bisa di bayangkan. Ribuan ASN dari semua dinas juga karyawan BUMD tumplek blek di sana.

Di depan Graha Cakrawala, dokumentasi Fabi

Supaya berjalan tertib area parkir maupun tempat absen pun ditata terpisah. Sesudah tanda tangan absen di tempat yang ditentukan, kami mendapatkan tas berisi konsumsi dan segera masuk ke gedung Graha Cakrawala.

Selain tertulis, presensi juga dilakukan dengan selfie di dalam gedung. Selfie adalah penanda bahwa kami hadir dan mengikuti acara sampai selesai.

Di dalam Graha Cakrawala, dokumentasi Bintaraloka
Di tribun, dokumentasi Bintaraloka
Di tribun atas, dokumentasi Bintaraloka
Hadir…., dokumentasi Bintaraloka

Di dalam gedung tempat ASN dari masing-masing dinas sudah ditata sedemikian rupa. Kami dari Dinas Pendidikan lesehan di karpet. Mungkin karena jumlah kami yang lebih banyak daripada jumlah ASN dari dinas yang lain.ย 

Suasana Graha Cakrawala, dokumentasi Bintaraloka

Sambil menunggu acara dimulai, lagu-lagu diperdengarkan. Mulai dari lagu-lagu Dewa, Chrisye, juga lagu lain yang sangat familier di telinga kami. 

Mendengarkan lagu-lagu tersebut kami jadi ikut bersenandung. Benar, lagu-lagu yang membuat kami sejenak terlempar ke masa lalu.. eh..๐Ÿคญ

Lagu-lagu menjelang acara dimulai, dokumentasi pribadi

Sekitar pukul 08.15 acarapun dimulai. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh semua yang hadir dengan khidmat.

Sesudah menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kenaikan pangkat, pemberian SK Pensiun dan penghargaan pada para ASN yang berprestasi di tingkat Nasional.

Sesudahnya, ditayangkan potongan-potongan video kilas balik pembangunan yang dilakukan di Malang selama lima tahun terakhir. 

Pengarahan dan sambutan Pak Sutiaji, dokumentasi pribadi

Dan puncak acara pagi itu adalah sambutan, arahan,  sekaligus motivasi dari Pak Sutiaji kepada seluruh ASN kota Malang.

Dalam sambutan sekaligus arahannya Pak Sutiaji mengajak semua ASN untuk meningkatkan kekompakan dan kekuatan sekaligus  menghilangkan kesombongan dalam diri sehingga bisa memberikan layanan yang terbaik pada masyarakat kota Malang.

Berbagai spanduk , dokumentasi pribadi

Dalam acara tersebut Pak Sutiaji juga mengucapkan terima kasih pada seluruh ASN yang telah bersama-sama bekerja, bersinergi memberikan layanan pada masyarakat semasa kepemimpinan beliau sebagai walikota Malang periode 2018-2023.

Suasana terasa gayeng, namun juga haru. Apalagi ketika berbagai spanduk yang berisikan berbagai macam ucapan  dibentangkan di tribun.

Acara diakhiri dengan bersalam-salaman antara Pak Sutiaji, Bu Sutiaji, Pak Wawali, dengan para pejabat di lingkungan Pemkot Malang.

Bersalam-salaman di akhir acara, dokumentasi pribadi

Akhirnya, Rutam Nuwus Pak Sutiaji.. Semoga kami semua bisa semakin meningkatkan pelayanan pada masyarakat dan terus melanjutkan berbagai program pembangunan di Kota Malang tercinta.

Salam Satu Jiwa…๐Ÿ˜€

Categories
Reportase

Kehangatan dalam Perjalanan Asida-Punten-Diponegoro

Batu di malam hari menyimpan banyak pesona. Meskipun kami tak terlalu lama berjalan-jalan di kota Batu hari Jumat saat itu, namun sedikit perjalanan tersebut memberikan kesan yang sangat manis karena ada kehangatan dalam perjalanan kami dari Asida-Punten- Soto Diponegoro. Berikut adalah sedikit cerita perjalanan Sidohealing di awal September 2023.


Mobil yang kami naiki terus berjalan sepanjang jalan besar di kota Malang. Lalu lintas lumayan ramai. Ya, Jumat sore banyak yang pulang lebih awal. Tentunya semua sudah siap dengan rencana akhir pekan masing-masing.

Sore itu ada agenda mendadak dari Sidohealing. Ya, Bu Utien mengajak kami untuk jalan-jalan ke Batu sekalian mengantar beliau bertemu dengan mahasiswa PPG UIN Malang.

Singkatnya Bu Utin akan mengadakan copy darat dengan mahasiswa PPGnya di hotel Asida Batu, sekalian PPG ada acara di sana.

Sebagai informasi, Bu Utien adalah salah satu guru pamong PPG UIN dari guru PAI SD sampai SMA dari Provinsi Jawa Tengah.

Mobil melaju ringan seringan hati kami sore itu. Jalan-jalan sejenak melupakan segala kesibukan dan kepenatan adalah sebuah healing yang ringan namun sangat menyenangkan.

Kami berhenti sejenak di toko kue dan oleh- oleh , lalu cuuz langsung menuju Kota Batu. Tujuannya adalah Hotel Asida.

Mencari lokasi Asida tidak begitu sulit. Ya, sebagian besar dari kami pernah datang ke sini untuk mengikuti berbagai macam Diklat.

Bersama PPG UIN di Hotel Asida Batu, dokumentasi pribadi

Bagi Bu Ari hotel ini menyimpan kisah sendiri karena di sini tempat beliau presentasi lomba Guru Prestasi yang di adakan di tahun-tahun sebelum pandemi.

Begitu masuk Hotel Asida beberapa orang langsung menyambut kedatangan Bu Utien. Mulanya kami bertiga akan menunggu di dalam mobil saja. Tapi demi melihat kehangatan dan suasana haru dari pertemuan Bu Utien dan mahasiswa PPG, akhirnya kamipun turun, berkenalan , bahkan berfoto bersama.

Aih, perjumpaan yang begitu manis. Lewat perjumpaan tersebut bisa dibayangkan kedekatan hubungan antara Ibu Utien dan para mahasiswa PPGnya.

Kedekatan itu dipertegas dari foto- foto berikut tatkala Bu Utien mengantar kepulangan para mahasiswa di Stasiun Kota Baru Malang.

Mengantar sampai Stasiun Kota Baru Malang, dokumentasi pribadi

Setelah berpamitan,sekitar pukul lima kami meninggalkan Hotel Asida. Perjalanan kami lanjutkan ke Punten. Ya, kami akan bersilaturahmi ke rumah famili dari Bu Ari di daerah Punten Batu.

Dalam perjalanan Bu Ari bercerita banyak tentang familinya yang tersebar di daerah Punten. Indahnya bunga-bunga di rumah rumah sepanjang jalan yang kami lalui membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Memasuki rumah Ibu Las, famili dari Bu Ari sungguh saya merasa terperangkap ke dalam masa lalu. Hiasan lukisan, serta kursi- kursi kuno yang tertata rapi begitu khas rumah masa silam.

Demikian juga tanaman yang tertata rapi di depan memberikan suasana adem dan tenang.

Secangkir teh hangat menemani obrolan kami senja itu. Bu Las di usianya yang sudah mencapai 75 tahun masih tampak begitu energik. Beliau banyak bercerita tentang karnaval di daerah sekitar Batu.

Selepas sholat Maghrib perjalanan kami lanjutkan kembali.

Hawa dingin kota Batu mulai terasa. Lampu-lampu hias di sekitar jalan membuat jalan kampung redup bertabur warna biru dan ungu.

Lampu hias di jalan membuat suasana bertabur warna ungu di Punten, dokumentasi pribadi

Di depan Indomaret Mas Andre driver sekaligus guide kami sudah menunggu. Kami segera naik dan mobilpun kembali melaju.

Aha, mobil kami kini berhenti di Soto Diponegoro. Sebuah tempat makan dan toko oleh-oleh yang terletak berdekatan dengan KUD Batu.

Sambil menunggu pesanan beberapa di antara kami ada yang berbelanja oleh-oleh. Ada banyak oleh- oleh utamanya makanan ringan dan berbagai produk olahan susu di sini.

Belanja oleh-oleh , dokumentasi pribadi

Lokasinya yang strategis memungkinkan tempat ini banyak dikunjungi. Hanya saja karena kami datangnya sudah agak malam pengunjung tidak terlalu banyak.

Aneka oleh-oleh, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama menunggu, pesanan kamipun datang. Soto daging lengkap dengan taburan koya, jeruk nipis, sambal dan kerupuk. Luar biasa lezatnya.

Tiba di Soto Diponegoro, dokumentasi pribadi

Dari sekian banyak soto yang pernah saya coba, soto ini demikian khas. Ya, rempahnya sangat terasa sehingga menimbulkan aroma yang menggoda.

Ada banyak obrolan mengalir di antara kami sambil menikmati Soto Diponegoro. Tentang apa saja. Tentang Kota Batu, sekolah, anak, dan banyak lagi. Mas Andre yang setia mengantar kami sesekali membantu memotret kami semua.

Soto Diponegoro, dokumentasi pribadi
Menikmati kelezatan Soto Diponegoro, dokumentasi pribadi

Akhirnya menjelang Isyak kami harus kembali. Sebuah perjalanan healing yang menyenangkan. Ya, perjalanan yang penuh kehangatan dari Asida, Punten dan Soto Diponegoro.

Salam hangat๐Ÿ˜ƒ

Categories
Reportase

Cerita Antara Hotel Asida Batu dan Stasiun Kota Baru

Mobil yang kami naiki terus berjalan sepanjang jalan besar di kota Malang. Lalu lintas lumayan ramai. Ya, Jumat sore banyak yang pulang lebih awal. Tentunya semua sudah siap dengan rencana akhir pekan masing-masing.

Sore itu ada agenda mendadak dari Sidohealing. Bu Utien mengajak kami jalan-jalan ke Batu sekalian mengantar beliau bertemu dengan mahasiswa PPG UIN Malang.

Jadi ceritanya Bu Utin akan mengadakan pertemuan dengan mahasiswa PPGnya di hotel Asida Batu, sekalian PPG ada acara di sana.

Sebagai informasi, Bu Utien adalah salah satu guru pamong PPG UIN dari guru PAI SD sampai SMA dari Provinsi Jawa Tengah.

Ikut berfoto bersama bapak/ibu guru PPG UIN Malang, dokumentasi pribadi

Mobil melaju ringan, seringan hati kami sore itu. Jalan-jalan sejenak melupakan segala kesibukan dan kepenatan adalah sebuah healing yang ringan namun sangat menyenangkan.

Kami berhenti sejenak di toko kue dan oleh- oleh, lalu cuuz langsung menuju Kota Batu. Tujuannya adalah Hotel Asida.

Mencari lokasi Asida tidak begitu sulit. Mengapa? Sebagian besar dari kami pernah datang ke sini untuk mengikuti berbagai macam diklat.

Begitu masuk Hotel Asida beberapa orang langsung menyambut kedatangan Bu Utien. Mulanya kami bertiga akan menunggu di dalam mobil saja. Tapi demi melihat kehangatan dan suasana haru dari pertemuan Bu Utien dan mahasiswa PPG, akhirnya kamipun turun, berkenalan, bahkan berfoto bersama.

Kedekatan antara pamong dan mahasiswa PPG, dokumentasi pribadi

Aih, perjumpaan yang begitu manis. Lewat perjumpaan tersebut bisa dibayangkan kedekatan hubungan antara Ibu Utien dan para mahasiswa PPGnya.

Rupanya selama ini hubungan Bu Utien dengan para mahasiswa demikian akrab meskipun hanya dilakukan secara daring. Dan pertemuan langsung seperti sore itu membuat suasana gembira dipenuhi dengan rasa haru.

Kedekatan di antara mahasiswa PPG dan pamongnya dipertegas oleh foto berikut tatkala Bu Utien mengantar kepulangan para mahasiswa ke Jawa Tengah di Stasiun Kota Baru Malang.

Di stasiun Kota Baru Malang, dokumentasi pribadi

Akhirnya selamat dan sukses semua Bapak dan Ibu guru PPG. Semoga ilmunya barokah dan manfaat, utamanya untuk bersama- sama memajukan pendidikan anak bangsa.

Salam hangat dari kota Malang..๐Ÿค—

Categories
Pembelajaran Matematika

Ketika Saya Menjadi Peserta Kegiatan PembaTik

Berawal dari ajakan seorang teman, di sekitar bulan Juni 2023 kemarin akhirnya saya mendaftar untuk mengikuti kegiatan PembaTik atau  Pembelajaran Berbasis TIK.

Melalui kegiatan ini para guru akan belajar bagaimana memaksimalkan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.

Sebenarnya sejak lama saya dihimbau mengikuti program ini. Tapi mendengar kata TIK selalu menimbulkan rasa kurang percaya diri pada diri saya. Sehingga mengikuti program PembaTik selalu saya tunda-tunda.

He..he.. terus terang saya adalah pembelajar TIK yang tidak begitu cepat. Barangkali jika para guru muda perlu belajar materi satu kali, saya harus belajar dua atau tiga kali.

Selang beberapa bulan tawaran mengikuti pembaTik datang lagi. Kali ini yang mengajak adalah teman saya, guru IPA. Masih muda, pintar TIK dan tidak keberatan jika ditanya-tanya. Nah, yang terakhir inilah yang membuat saya berani mendaftar PembaTik.

“Aku nanti diajari ya, kalau tidak bisa,” tanya saya
“Beres, Bu, ” jawabnya semangat.
Singkat cerita akhirnya di awal tahun pelajaran 2023/2024 saya pun mendaftar kegiatan ini.

Teman yang memberikan semangat dan inspirasi, dokumentasi pribadi

Tentang PembaTik

Dikutip dari Kemdikbud.id, PembaTik adalah  Program peningkatan kompetensi pendidik dalam kegiatan belajar, mengajar dan berkarya untuk mendukung terciptanya Inovasi Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Merdeka dengan mengedepankan pemanfaatan platform teknologi.

Ada empat level dalam program ini yaitu  level literasi, level  implementasi, level kreasi, dan level berbagi & berkolaborasi.

Hal yang dipelajari dari kegiatan PembaTik begitu beragam. Di antaranya tentang 
perangkat TIK untuk pembelajaran, perangkat pembelajaran kolaboratif dan
pemanfaatan media sosial untuk pembelajaran, pengembangan media pembelajaran berteknologi digital, termasuk juga pembuatan vlog.

Presentasi dengan LCD, contoh pemanfaatan TIK untuk pembelajaran, dokumentasi pribadi

Di setiap level terdapat modul-modul yang harus dipelajari dan diakhiri dengan tugas, ujian akhir dan evaluasi.

Meski materi begitu banyak, semua bisa teratasi dengan kolaborasi dan manajemen waktu yang baik. Hal yang sangat membantu adalah timeline kegiatan ini tersaji jelas, sehingga kita bisa menyesuaikan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Kegiatan dimulai di bulan Juli. Berbagai  materi diberikan lewat google classroom ataupun zoom, sesudahnya diadakan ujian level satu kira-kira awal Agustus. Ujian berupa soal pilihan ganda yang dikerjakan secara daring.

Ada pengalaman lucu di sini. Biasalah, menjelang ujian selalu ada teman-teman yang ingin berbagi soal atau istilah lainnya memberikan bocoran. Bahkan lewat Kompasiana juga (ups).

Terus terang. Itu tawaran yang menggoda juga, apalagi saya tidak begitu pandai TIK.
Karenanya ketika ada artikel tentang bocoran ini saya juga ikut membukanya. Ya, harapannya soal yang keluar akan sama persis. He..he..

Tapi tentu saja hal tersebut tidak terjadi. Penyebaran bocoran tentunya sudah diantisipasi oleh penyelenggara. Apa buktinya? Soal ujian saya, ujian teman saya, juga bocoran sama sekali berbeda. Satupun tidak ada yang sama ..nah…

Di level dua ada tugas untuk membuat video pembelajaran dan hasilnya diupload di Platform Merdeka Mengajar.

Selain meningkatkan kompetensi diri, hal positif lain yang bisa diambil dari kegiatan ini adalah para guru bisa saling berbagi ilmu, dan berkolaborasi. Ya, di Platform Merdeka Mengajar kami bisa saling berkunjung dan memberikan komentar.

Karena belum pernah membuat sendiri video pembelajaran sebelumnya, maka saya mengamati dulu proses pembuatan video yang dilakukan teman.

Setelah pengamatan, saya membuat video dengan dibantu anak anak. Mulai dari pembuatan skenario, pengarah gaya  termasuk jadi modelnya juga. Wah, sesuatu sekali rasanya..

Diskusi dengan siswa sebelum pembuatan video, dokumentasi pribadi

Tentunya hasil video masih jauh dari sempurna. Tapi ini adalah pemicu agar saya terus belajar dan berkolaborasi untuk menciptakan karya yang lebih baik.

Dari level dua ternyata kami dinyatakan lulus setelah mengumpulkan tugas video, ujian akhir dan evaluasi. Berarti bulan ini kami menginjak level tiga. Aha..

Sungguh sebuah  pengalaman berharga bagi saya, mengapa? Akhirnya saya bisa membuktikan pada diri saya sendiri bahwa semua hal bisa dipelajari, bahkan yang tampaknya sulit sekalipun.

Tentunya di level berikutnya tantangan akan lebih berat, tapi saya tetap yakin dengan semangat yang tinggi dan kolaborasi semua kesulitan pasti akan dapat diatasi.

Siap untuk level berikutnya, dokumentasi pribadi

Akhirnya tetap semangat teman-teman yang mengikuti kegiatan PembaTik.

Semoga melalui kegiatan ini para guru bisa memaksimalkan penggunaan TIK dalam pembelajaran utamanya dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

Salam Edukasi ๐Ÿ˜Š

Categories
Reportase

Nusantara Bernyanyi, Menanamkan Rasa Cinta Negeri Melalui Indahnya Lagu dan Harmoni


Sekelompok anak bergerak selaras irama sambil menyanyikan lagu Bungong Jeumpa dari Aceh. Busana yang dikenakan didominasi oleh kombinasi warna hitam dan putih keperakan. Sanggul dan ikat kepala yang dikenakan anak puteri membuat penampilan mereka begitu cantik.

Senyum yang tak lepas dari wajah mereka membuat lagu yang dinyanyikan terasa semakin indah.

Di atas adalah suasana final Nusantara Bernyanyi yang diadakan pada hari Minggu kemarin.

Spenti Teenage Choir, siap mengikuti nomor paduan suara tingkat SMP, dokumentasi Bu Maria

Nusantara Bernyanyi adalah kompetisi bernyanyi yang mengangkat keanekaragaman budaya Nusantara bagi anak-anak usia SD dan SMP di wilayah Malang Raya.

Kompetisi ini di adakan oleh Museum Musik Indonesia yang berlokasi di Jalan Nusakambangan 19 Malang.

Sekilas tentang Museum Musik Indonesia

MMI, sumber gambar: Malang photo.com

Museum Musik Indonesia adalah satu-satunya museum seni musik di Indonesia dan terdapat di kota Malang.

Terbentuknya Museum Musik Indonesia berawal dari Kelompok Pecinta Kajoetangan yang ada sejak tahun 1970.

Kajoetangan adalah tempat berkumpulnya para organisator seni di Malang pada zaman dahulu, jadi kelompok ini berisi para pecinta musik yang rela menyumbangkan harta dan tenaganya untuk merawat warisan musik yang ada.

Seiring berjalannya waktu nama Kelompok Pecinta Kajoetangan berubah menjadi Galeri Malang Tarik (Bernyanyi) pada 2009 dan berubah lagi menjadi Museum Musik Indonesia pada 2015.

Babak penyisihan, dokumentasi Bu Maria

Dalam lomba Nusantara Bernyanyi ini Museum Musim Indonesia telah menyiapkan sepuluh lagu daerah dari Nusantara untuk dibawakan peserta.

Lagu tersebut adalah Bungong Jeumpa (Aceh), Mariam Tomong (Sumatera Utara) , Ampar Ampar Pisang (Kalimantan Selatan) , Manuk Dadali (Jawa Barat) , Jaranan (Jawa Tengah), Tanduk Majeng (Jawa Timur) , O Ina Nikeke ( Sulawesi Utara), Bolelebo (Nusa TenggaraTimur) , Sarinande (Maluku) dan Yamko Rambe Yamko (Papua).

Ada tiga kategori dalam lomba ini yaitu menyanyi solo, vocal group dan paduan suara. Titik berat penilaian adalah pada olah vokal, sementara musik pengiringnya disiapkan oleh panitia.

Babak penyisihan lomba Nusantara Bernyanyi diadakan di gedung MCC (Malang Creative Centre ) pada tanggal 20-21 Agustus dan diikuti oleh 84 peserta.

Babak final diadakan tanggal 25 Agustus 2023 di Malang Town Square Malang mulai dari pukul 14.00 hingga selesai.

Spenti Teenage Choir sebagai juara pertama nomor paduan suara SMP, dokumentasi Bu Maria

Adalah hal yang sangat menggembirakan ketika kelompok paduan suara kebanggaan sekolah kami Spenti Teenage Choir mendapatkan juara pertama paduan suara tingkat SMP.

Sungguh, ada rasa haru dan bangga mendengarkan anak-anak melantunkan lagu-lagu daerah Nusantara dengan penuh penghayatan ditambah koreografi yang indah.

Ya, betapa melalui lomba Nusantara Bernyanyi ini rasa cinta dan bangga pada negeri ditanamkan lewat nada-nada yang mengalun indah dan penuh harmoni.

Persiapan sebelum tampil, dokumentasi Bu Maria

Akhirnya selamat pada para pemenang, semoga lomba ini bisa menjadi inspirasi bagi anak bangsa untuk lebih mencintai dan menghargai budaya negeri sendiri.