
Beberapa bulan yang lalu tiba-tiba saya ditawari anak saya untuk jalan-jalan ke Singapura. Ceritanya dia mendapatkan cuti dan ada sesuatu yang harus dikerjakan di Singapura. Karena sudah dekat Indonesia, dan belum pernah ke sana, saya diajak ketemuan di Singapura.
Terus terang saya tidak begitu berani. Di samping karena jauh, saya belum pernah sekalipun keluar negeri. Tapi karena yang mengajak sangat bersemangat akhirnya dengan menguatkan tekad sayapun berangkat.
Skenarionya, saya berangkat dari Juanda sementara anak saya berangkat dari Tokyo dan pukul sepuluh malam waktu Singapura kami bertemu di Changi Airport.
Hari yang dinantikan tiba. Setelah bertemu di Changi kami langsung menuju hotel yang terletak di kawasan Queen St tidak jauh dari Stasiun MRT Bencoolen.
Setelah istirahat semalam, pagi hari sekitar jam setengah sepuluh kami keluar dari hotel. Matahari bersinar redup karena sebagian tertutup mendung, suasana tidak begitu panas sehingga jalanan terasa nyaman.

“Kita kemana Le?” tanya saya pada anak saya yang full menjadi ‘pemandu wisata’ selama kami di Singapura.
“Ayo, jalan-jalan ke Arab St, sambil cari makanan khas Indonesia,” katanya. Aha, hari itu kami mulai jelajah Singapura.
Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, jalanan yang teratur dan bersih serta lalu lalang orang -orang yang tampak begitu sibuk. Satu hal yang menjadi catatan saya adalah di Singapura banyak sekali pedestrian. Trotoar demikian nyaman dan bersih, sehingga nyaman untuk berjalan kaki.


Ada banyak manusia dari berbagai bangsa. Buktinya saat bersimpangan dengan orang lain, selalu terdengar dialog dalam berbagai bahasa. Ada bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, India , Thailand bahkan Jawa Timuran. Wah, benar- benar menarik.
Kendaraan kecil dan besar lalu lalang di jalan raya. Lalu lintas lancar, dan uniknya saya hanya sesekali menjumpai sepeda motor. Mungkin karena banyak yang memilih menggunakan MRT di Singapura, atau barangkali juga karena jalan yang kami lalui adalah jalan-jalan besar seperti Victoria St, Bras Basah juga Bencoolen.
Kami terus berjalan. Memasuki wilayah Kampong Glam suasana mulai terasa ramai. Sekilas bau aroma parfum atau dupa Arab mulai menerpa. Mengingatkan saya ketika masuk daerah Embong Arab di Malang.

Kampong Glam atau Kampung Gelam adalah nama yang berasal dari Bahasa Melayu yang merujuk pada nama tanaman yang dulu banyak tumbuh di sini yaitu pohon gelam (Melaleuca cajuputi atau paperbark tree). Pohon gelam ini banyak digunakan oleh penduduk setempat untuk membuat kapal, obat, hingga bumbu masak.

Kampong Glam sering disebut juga Arab Street dan dikenal sebagai kawasan Melayu atau Muslim di Singapura yang kaya akan warisan budaya dan tempat menarik seperti Masjid Sultan, Istana Kampong Glam, dan Haji Lane.
Niat semula untuk mencari makanan Indonesia langsung batal ketika semerbak aroma martabak menghentikan langkah kami untuk segera mengajak mampir.
” Di sini saja ya?” kata anak saya sambil mencari tempat duduk. Rupanya ia sudah lapar karena pagi tadi kami hanya sarapan roti sisa semalam.
Tanpa menunggu lama saya ikut masuk sebuah tempat makan yang catnya didominasi dengan warna kuning.

Kami segera memesan jus apel, jus semangka serta satu piring martabak.
“Only one?” tanya sang penjual heran, demi melihat pesanan martabak yang cuma sepiring.
“Only one,” jawab anak saya.
” Tidak tambah nasi tah? ” tanya saya setengah berbisik. Makan sepiring martabak untuk dua orang mana kenyang pikir saya.
Tapi tak lama kemudian pesanan kamipun datang. Satu porsi besar martabak dalam wadah serupa daun pisang. Ah ya, kedai ini bernama Banana Leaves, karenanya piring atau wadah makanannya berbentuk daun pisang.
Begitu martabak diletakkan dimeja, kami langsung terkesima. Waow, porsinya besar sekali. Satu piring besar martabak yang sudah dipotong- potong, masih ditambah semacam kuah kari dan kentang. Mantap nian.. untung tidak tambah nasi, pikir saya.

Rasa lelah karena berjalan kaki ditambah lapar membuat hidangan martabak cepat berpindah ke perut kami. Jus membuat perut kami kian kenyang, dan ini waktunya kami untuk melanjutkan perjalanan.
Jelang sholat Dhuhur kami menuju ke sebuah masjid yang terletak di persimpangan Victoria Street dan Jalan Sultan di Kampong Glam. Masjid Malabar, namanya. Masjid ini didirikan oleh komunitas Muslim Malabar dari India Selatan dan diresmikan tahun 1963.

Ketika Memasuki masjid Malabar siang itu suasana begitu sepi. Hanya ada dua petugas masjid dan dua turis yang melihat lihat di aula masjid, selain saya dan anak saya yang mau melaksanakan sholat dhuhur.
Sebuah keteledoran yang saya lakukan adalah lupa membawa mukena. Karena masjid tidak menyediakan mukena, akhirnya sholat Dhuhur siang itu saya mengenakan gamis yang disediakan dekat lift.

Setelah sholat dan mengambil foto-foto, kami keluar dari masjid untuk menyusuri jalan Victoria atau Victoria St.
Ternyata tidak jauh dari Masjid Malabar ini terdapat komplek pemakaman tua bagi masyarakat Islam. Menurut keterangan, di sini juga dimakamkan tokoh-tokoh sejarah penting termasuk keturunan Sultan Johor.

Areanya cukup luas. Karena dekat dengan tempat pemakaman, maka jalan di sini di namakan Jalan Kubor (kuburan).
Berbeda dengan Masjid Malabar, Masjid Sultan mempunyai ukuran yang lebih besar. Masjid ini berlokasi di Jl Muscat masih dalam wilayah Kampong Glam.
Arsitektur Masjid Sultan dan Masjid Malabar mempunyai kemiripan, karenanya Masjid Malabar dinamakan ‘sepupu kecil’ Masjid Sultan.
Masjid Sultan merupakan masjid utama yang dibangun tahun 1824 dan menjadi pusat kegiatan komunitas muslim Melayu.

Kami menjalankan sholat Ashar di masjid ini. Berbeda dengan Malabar, Measjid Sultan suasananya ramai. Banyak pengunjung yang akan menunaikan sholat. Seperti di Malabar, tempat untuk jamaah laki-laki dan perempuan terletak di lantai yang berbeda.
Habis sholat, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Akhirnya perjalanan kami tertahan sambil sejenak menunggu hujan berhenti. Kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil foto-foto bagian dalam maupun sekitar masjid.

Sangat menyenangkan. Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang bergerak tak kenal henti, kunjungan ke Masjid Malabar dan Masjid Sultan seolah menjadi oase penyejuk jiwa di hari pertama perjalanan ini.

Selain untuk menunaikan kewajiban sholat, momen ini adalah kesempatan berharga untuk sejenak berhenti, menyepi, dan meresapi ketenangan yang menyapa di balik pintu-pintu, jendela dan ornamen masjid yang begitu khas. Sungguh, awal petualangan yang menyenangkan dan besok masih ada hari untuk membuat cerita yang lain lagi.
Salam jalan-jalan..😊
- Jelajah Singapura, Mengunjungi Masjid Malabar dan Masjid Sultan di Kampong Glam - January 18, 2026
- Bujuk Rayu, Tentang Sedapnya Rasa dan Rayuan Aroma - January 8, 2026
- Filsafat Ronggowarsito , Wolak-walik Ing Zaman - January 5, 2026