Categories
Sehari-hari

Cerita Tentang Dua Alun-Alun di Kota Malang

Alun-alun Merdeka, Sumber gambar: Gotrip Indonesia

Sore itu  cuaca begitu cerah.  Langit biru bersih tanpa awan, mentari menyapa kedatangan kami dengan sinarnya yang lembut. Ya,  hari itu kami berjalan-jalan ke Alun-alun Kota Malang.

Tentang Alun-Alun

Hampir disetiap kota di Indonesia bisa dijumpai alun-alun. Misalnya di Yogyakarta, Banten, Lamongan, Tuban,  Malang dan  banyak lagi.

Kata alun-alun berasal dari bahasa Jawa yaitu aloen-aloen yang memiliki arti  lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan yang dapat digunakan untuk masyarakat berkegiatan.

Berfoto di alun alun, dokumentasi pribadi

Dari zaman ke zaman alun-alun menjadi tempat bagi kegiatan warga sekitarnya.  Di masa lalu alun- alun pernah dijadikan tempat melakukan doa persembahan bagi warga yang akan mulai bercocok tanam, tempat melakukan pepe yaitu tradisi mengungkapkan aspirasi dari rakyat pada rajanya.

Di zaman kerajaan Islam alun-alun menjadi tempat melakukan sholat atau kegiatan keagamaan  dan fungsi alun- alun terus berkembang  menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan kebudayaan. 

Sehubungan dengan alun-alun,  ada yang menarik  di kota Malang , yaitu ada dua alun- alun di kota ini.  Yang pertama adalah Alun-alun Merdeka yang berlokasi di Jl.  Merdeka dan Alun -alun Bunder yang berada tepat di depan Balai Kota. 

Berkunjung ke Alun-Alun Merdeka

Kereta naga, dokumentasi pribadi

Wajah-wajah ceria tampak dimana-mana.  Beberapa orang tampak berfoto-foto, yang lain duduk-duduk di bawah pohon-pohon besar sambil merasakan segarnya suasana.

Suara jerit dan tawa anak-anak kecil,  berpadu dengan lagu-lagu  yang diperdengarkan dari odong-odong  dan suara pedagang mainan yang menawarkan dagangannya, membuat suasana alun-alun terasa begitu ramai. 

“Mang ewu.. Mang ewu.., ” pengemudi kereta naga menawarkan pada siapa saja yang lewat terutama yang membawa anak kecil.  Mang ewu artinya limang ewu atau lima ribu.  Maksudnya ongkos naik kereta naga adalah lima ribu rupiah per orang.

Kami yang saat itu berjalan dengan dua anak kecil tak berpikir lama langsung naik.

“Monggo Bu..  Ayo.. Ayo..  Mang ewu…  Mang ewu…, ” kata pengemudi tadi mencari penumpang lainnya agar keretanya segera penuh.

Naik kereta naga, dokumentasi pribadi

Tak lama kemudian keretapun berangkat.  Tak lupa pintu dirapatkan karena mayoritas penumpangnya adalah anak kecil.

 Perjalanan yang mengambil rute sekitar Alun-alun Merdeka,  Pecinan,  Pasar Besar,  Ramayana,  dan kembali lagi ke alun-alun terasa begitu singkat, namun sangat menyenangkan. Setelah kereta berhenti kamipun berjalan-jalan ke tengah alun-alun.

 Di hari libur seperti ini suasana Alun- alun Merdeka kembali ramai.  Setelah dipaksa berhenti selama kurang lebih dua tahun oleh pandemi covid, kini aktivitas di Alun alun Merdeka Malang berangsur normal kembali.  Ini bisa ditandai dengan banyaknya pedagang,  stand-stand mainan dan ramainya pengunjung.

Alun-alun yang terletak di depan Masjid Jamik kota Malang ini mempunyai banyak tempat tempat untuk sejenak refreshing dari segala kesibukan setiap hari.   Ada gazebo, tempat duduk-duduk di bawah pohon,  spot foto yang menarik,  mainan anak-anak,  juga  fasilitas olah raga.

Masjid Jamik dilihat dari Alun-Alun Merdeka, dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan ada banyak  burung merpati yang dengan jinak mendekati pengunjung,  lalu terbang lagi ketika hendak dipegang. Benar-benar menggemaskan. 

Namun agak sayang,  ketika kami ke sana air mancur belum dihidupkan, mungkin karena hari masih terlalu sore.

Air mancur belum dihidupkan, dokumentasi pribadi

Alun-alun Merdeka dibangun pada tahun 1882. Konsep alun-alun ini dianggap menyalahi pakem karena berbeda jauh dengan konsep alun-alun di Jawa pada umumnya.

Biasanya alun-alun Jawa terletak tepat di depan pendopo kabupaten atau keraton dengan lapangan luas dan pohon besar. Namun Alun-alun Merdeka ini terletak agak jauh dari pendopo dan menghadap ke selatan meskipun area sekitarnya juga mendukung pusat pemerintahan.

Tentang Alun-Alun Bunder

Keindahan Alun-Alun Tugu, dokumentasi Wearemania

Dalam perkembangannya ternyata Alun- Alun Merdeka yang seharusnya eksklusif untuk pemerintah Belanda ini,  seringkali dimanfaatkan penduduk pribumi untuk kegiatan sehari-hari. Misalnya menjual berbagai macam jajanan atau sekedar duduk-duduk di bawah pohon. 

Melihat hal tersebut Belanda pun membiarkan Alun-Alun Merdeka menjadi taman biasa untuk rakyat pribumi dan ingin membuat alun-alun baru yang bergaya Eropa. 

Akhirnya mulailah dibangun alun- alun berupa taman yang luas berbentuk bulat.  Karena itu dinamakan Alun-Alun Bunder.  Pembangunan Alun-Alun Bunder dimulai pada tahun 1917 dan selesai di tahun 1922 dengan nama asli JP Coen Plein.  Pusat pemerintahan Malang yang saat itu menjadi Kotamadyapun  dipindah di dekat alun-alun ini, dan menghadap utara.

Pada tahun 1946 Presiden Soekarno meresmikan sebuah tugu yang dibangun di tengah alun- alun ini,  karenanya Alun-Alun Bunder juga dinamakan Alun-Alun Tugu.

Alun-AlunBunder di senja hari, dokumentasi pribadi

Berbeda dengan Alun-Alun Merdeka yang selalu ramai,  Alun-Alun Bunder tidak begitu memiliki banyak  pengunjung. Suasana yang sepi dan dikelilingi gedung gedung penting membuat tampilan Alun-Alun Bunder terasa begitu indah dan berwibawa. Apalagi ketika teratai di kolam sekutar tugu mulai bermekaran, sungguh pemandangan yang begitu indah. 

Bagi yang suka berfoto, Alun-alun Bunder adalah tempat yang menarik untuk selfie. Taman yang tertata rapi di sekitar kolam adalah lokasi swa foto yang begitu cantik.

Nama-nama jalan di sekitar Alun-alun Tugu memakai nama Belanda,  menegaskan kentalnya nuansa kehidupan Belanda di Alun Alun Tugu di masa lalu.

Nama jalan di sekitar Alun- Alun Tugu,dokumentasi pribadi

Ya,  ada dua alun- alun di kota Malang.  Semua menarik dengan ciri khas keindahan masing-masing.  Ada yang begitu merakyat,  ada pula yang anggun, cantik dan berwibawa. 

Nah, jika jalan-jalan ke kota  Malang  pembaca  tinggal pilih mau mampir ke mana.

Sekian dan salam hangat dari kota Malang.. 🙂

Categories
Matematika

Tak Ada Salahnya Untuk Mundur Sejenak

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah matematikanusa-caraka.jpg

Sumber gambar: Nusa Caraka

Di kala istirahat kami sesama guru matematika selalu menyempatkan diri untuk berdiskusi. Diskusi berkisar tentang pembelajaran di kelas dan segala masalah yang timbul. Tentang bagaimana mengajarkan materi yang pas, atau juga kesulitan kesulitan yang muncul di lapangan.

Dalam beberapa diskusi terakhir ini ternyata masalah yang kami hadapi hampir sama yaitu rendahnya kemampuan siswa dalam melakukan operasi hitung. Akibat daring dua tahun benar-benar kami rasakan.

Indikasi dari penurunan kemampuan ini bisa dilihat dari kesulitan anak melalukan operasi hitung bahkan yang sangat sederhana. Operasi kali, bagi, tambah dan kurang begitu gagap dilakukan anak-anak padahal anak anak sudah duduk di tingkat SMP.

Jangankan melakukan operasi pada bilangan pecahan, bilangan bulat masih harus ditata lagi.

Sebagai contoh dalam sebuah tes diagnostik ketika siswa diminta menyelesaikan 2/15 + 1/5 masih banyak yang menjawah 3/20.
Atau mengerjakan 3/8 x 1/4 dengan cara 3/8 x 1/4 = 3/8 x 2/8 = 6/64 = 3/32
Pada saat siswa saya minta untuk mengalikan 42,6 x 5, lama sekali jawaban baru muncul. Itupun harus ada satu orang yang melakukan perkalian bersusun di papan atas bimbingan guru.

Menghitung perkalian bersusun, sumber gambar: Wajib Baca.com

Itu masih beberapa kasus yang muncul. Belum lagi pada aljabar. Bagaimana mencari nilai dari sebuah variabel masih kacau di sana sini.

Berdasarkan pengalaman pembelajaran selama dua bulan terakhir ada beberapa catatan yang didapatkan adalah:

1. Siswa kurang menguasai konsep matematika. Sebagai contoh siswa masih rancu dengan cara melakukan operasi hitung pada bilangan pecahan.

Seharusnya ketika melakukan pengurangan atau penjumlahan pecahan, penyebut harus disamakan sementara pada operasi perkalian dan pembagian pecahan, penyebut tidak perlu disamakan.

Tapi pada contoh di atas, ketika mengerjakan 2/15 + 1/5 siswa langsung menjumlahkan pem bilang dengan pembilang, penyebut dengan penyebut sehingga diperoleh 3/20, seharusnya melalui proses menyamakan penyebut dahulu menjadi 2/15 + 1/5=2/15 + 3/15 = 5/15 atau 1/3

Sebaliknya ketika mengalikan 3/8 x 1/4 siswa menyamakan penyebutnya dahulu dengan cara 3/8 x 1/4 = 3/8 x 2/8 = 6/64 = 3/32
Padahal soal tersebut bisa diselesaikan dengan cara 3/8 x 1/4 = 3/32. Pembilang kali pembilang dan penyebut kali penyebut.

Benar -benar pemahaman konsep yang terbolak balik.

Siswa juga curhat bahwa saat daring mereka sulit memahami materi saat belajar lewat video atau zoom.

Siswa belajar daring, Sumber gambar: Republika

Ya, materi yang dibahas di atas adalah operasi bilangan pecahan kelas tujuh. Dasar dari operasi bilangan pecahan didapat siswa di kelas lima SD, dan mereka mendapatkannya full daring.

Bisa dipahami jika pemahaman siswa sangat minim. Matematika adalah pelajaran abstrak. Untuk tingkat SD atau SMP guru harus berusaha mengkonkritkan yang abstrak tersebut dalam kehidupan nyata. Sering butuh bantuan peraga agar konsepnya bisa diterima siswa. Di masa daring hal tersebut sangat sulit dilakukan karena banyaknya batasan.

Hal tersebut diperparah dengan siswa tidak berani bertanya saat daring. Banyak siswa yang merasa jika bertanya ia akan tampak bodoh di hadapan teman-temannya.

2. Sering menggunakan kalkulator. Ketika saya tanyakan hal ini siswa senyum senyum mengiyakan. Pembelajaran daring selama hampir dua tahun membuat siswa merasa bebas dan sering menggunakan kalkulator dalam memecahkan masalah matematika.

Penggunaan kalkulator sebenarnya tidak dilarang tapi tidak untuk anak SD atau SMP karena di tingkat tersebut dasar dasar menghitung mulai ditanamkan.

Akibatnya sekarang dalam pembelajaran matematika saya mengajak anak anak mundur sejenak. Ya, mundur untuk memantapkan lagi konsep matematika SD. Belajar bagaimana melakukan operasi hitung sederhana seperti perkalian bersusun, pembagian bersusun, operasi pecahan sederhana, bahkan mengingatkan lagi perkalian dengan jari atau jarimatika.

Jarimatika, Sumber gambar: SehatQ

Tak apa, penguatan konsep perlu dilakukan agar siswa bisa menerima materi berikutnya dengan lebih mudah.

Bukankah dalam kehidupan kadang kita harus mundur sejenak untuk membuat ancang-ancang agar bisa membuat lompatan yang lebih jauh ?


Salam matematika.

Categories
Matematika

Menemukan Pola, Sebuah Strategi Pemecahan Masalah Matematika

Ilustrasi belajar matematika, Sumber gambar : SindoNews

Salah satu strategi pemecahan masalah matematika adalah penemuan pola. Dalam tulisan ini akan dipaparkan tentang penggunaan penemuan pola dalam memecahkan masalah matematika, juga betapa keteraturan atau pola banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi Pemecahan Masalah Matematika dengan Penemuan Pola

Dalam pembelajaran matematika tentang pola bilangan sering dijumpai soal seperti ini:
1. Pada barisan bilangan berikut berapakah suku ke 50?

Sumber gambar tangkapan layar pribadi

2. Pada barisan bilangan berikut berapakah suku ke 50?

Sumber gambar tangkapan layar pribadi

3. Berapakah angka satuan dari  2^ 2000 + 3^950?

Untuk soal nomor satu dan dua biasanya ada dua cara yang dilakukan siswa untuk menjawab.

Cara yang pertama adalah langsung. menggunakan rumus.
Jumlah noktah yang ada di soal nomor satu menunjukkan pola bilangan segiempat. Pola bilangan segiempat dirumuskan dengan Un = n² + n. Jadi suku ke 50 adalah U50 = 50² + 50 = 2550

Jumlah noktah pada soal kedua menunjukkan pola bilangan segitiga yang dirumuskan dengan Un = 1/2 (n² + n).

Jadi suku ke 50 atau U50 = 1/2 (50² + 50 )= 2550/2 = 1275

Sebuah cara yang efisien karena untuk mencari suku ke n tinggal memasukkan saja nilai n ke rumus dan langsung keluar hasilnya.

Cara yang kedua adalah dengan mengamati gambar dan melihat polanya.

Untuk soal pertama jumlah noktah tiap suku adalah hasil perkalian dari banyaknya baris dan banyaknya kolom.
Jumlah noktah di tiap suku ditulis sebagai berikut :
Suku ke -1 adalah 1 x 2 = 2
Suku ke -2 adalah 2x 3= 6
Suku ke -3 adalah 3 x 4 = 12
Suku ke -4 adalah 4x 25= 20, maka
Suku ke -50 adalah 50 x (50+1) = 2550

Pada soal kedua jumlah noktah di tiap suku adalah setengah dari tiap noktah dari soal nomor 1, atau bisa ditulis:
Suku ke -1 adalah 1/2(1 x 2 )= 1
Suku ke -2 adalah 1/2 (2x 3)= 3
Suku ke -3 adalah 1/2(3 x 4) = 6
Suku ke -4 adalah 1/2(4x 5)= 10, maka
Suku ke -50 adalah 1/2(50 x (50+1)) = 1275

Dengan menggunakan rumus atau mengamati gambar hasil yang diperoleh siswa.

Jika menggunakan rumus keunggulannya adalah waktunya lebih cepat. Keunggulan dari cara kedua (melihat pola) adalah siswa akan lebih peka terhadap keteraturan sebuah pola dan bisa menggunakannya untuk. memecahkan masalah, seperti soal nomor 3.

Pada soal nomor tiga untuk mencari angka satuan 2^ 2000 + 3^950, kita tidak perlu mencari hasil dari 2^2000 dan 3^950. Cukup kita cari angka satuan dari 2^2000 dan 3^ 950 dengan menggunakan pola.

Nah, mari kita amati keteraturan pada hasil perpangkatan berikut:
2 pangkat 1 = 2
2 pangkat 2= 4
2 pangkat 3= 8
2 pangkat 4= 16
2 pangkat 5= 32
2 pangkat 6= 64
2 pangkat 7= 128
2 pangkat 8= 256
2 pangkat 9= 512… dst
Bisa dilihat bahwa angka satuannya adalah 2,4,8,6,2,4,8,6,…dst.  Pola tersebut berulang setiap empat angka.

Karena 2000 adalah kelipatan 4, maka angka satuan dari 2^2000 adalah 6.
Sekarang mari kita perhatikan hasil perpangkatan tiga berikut ini:

3 pangkat 1 = 3
3 pangkat 2= 9
3 pangkat 3= 27
3 pangkat 4= 81
3 pangkat 5= 243
3 pangkat 6= 729
3 pangkat 7= 2187
3 pangkat 8= 6561… dst.

Bisa diamati bahwa hasilnya memiliki angka satuan 3,9,7,1,3,9,7,1,…dst.

Pola tersebut berulang setiap empat angka. Karena 950 :4 = 237 bersisa dua, maka angka satuan dari 3^950 adalah 9, dan 6+9 = 15.
Jadi angka satuan dari 2^ 2000 + 3^950 adalah 5

Bisa menangkap keteraturan pola sangat berguna untuk menyelesaikan masalah matematika, karena banyak soal matematika yang bisa diselesaikan dengan mudah dengan menggunakan keteraturan pola.

Matematika dan Keteraturan Pola di Sekitar Kita

Sumber gambar: Pinterest

Sebenarnya banyak keteraturan pola yang bisa dijumpai di alam raya yang bisa dikaitkan dengan matematika. Matahari yang selalu terbit dan tenggelam pada waktunya, bulan yang bentuknya berubah-ubah secara teratur juga planet yang setia berputar pada garis edarnya. Semua sudah diperhitungkan dengan begitu cermat.

Jumlah kelopak berbagai macam bunga, sisik nanas, bunga matahari , kita bisa menemukan keteraturan pola yang bisa dikaitkan dengan bilangan Fibonacci.

Bilangan Fibonacci adalah barisan bilangan yang  berawal dari 0 dan 1, kemudian angka berikutnya diperoleh dengan cara menambahkan kedua bilangan yang berurutan sebelumnya. Dengan aturan ini, maka barisan bilangan Fibonacci yang pertama adalah: 0,1,1,2,3,5,8,13,21, 34, 55, 89, 144,…

Pada benda-benda sekitar kita juga bisa dijumpai hitungan-hitungan yang akhirnya  menunjuk pada bilangan tertentu. Misal perbandingan antara keliling dan diameter lingkaran yang selalu menunjuk pada pi (3.14), perbandingan antara dua angka berurutan pada bilangan Fibonacci akan mendekati golden ratio, sebuah bilangan istimewa yang banyak digunakan dalam disiplin ilmu yang lain misalnya desain.

Lewat semua fenomena keteraturan pola itu kita bisa merasakan bahwasanya segala sesuatu di alam raya tidak dibuat begitu saja, semua memerlukan hitungan yang begitu akurat. Melaluinya pula kita bisa merasakan kehadiran sebuah tangan besar, yang mengatur segala sesuatu di alam raya ini dengan demikian indahnya.

Salam matematika 🙂

Categories
Sekolah

Belajar Bijak Berinternet dan Memahami Toleransi Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Lagu Pelajar Pancasila kembali dikumandangkan  di aula Bintaraloka .  Siswa kelas tujuh duduk berjajar rapi.sambil bertepuk tangan dan menyanyi dengan iringan musik “Naik Becak”.

Di samping mereka alat tulis dan buku sudah siap dipergunakan untuk mencatat hal-hal penting yang akan diperoleh hari itu.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini siswa menyanyi disertai dengan gerakan sehingga suasana semakin ceria. 

Ibu Ami, Ibu Dani dan Ibu Novi memberikan aba-aba dengan penuh semangat, hingga tiga narasumber yang dinanti memasuki ruangan.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah p535.jpg
Menyanyikan lagu Pelajar Pancasila dengan gerakan, dokumentasi pribadi

Hari itu adalah minggu ketiga dari pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang mengambil topik Aku Bijak Berinternet. 

Dalam satu tahun ada tiga projek yang direncanakan di Bintaraloka, sehingga tiap projek memerlukan waktu sekitar tiga bulan.  Adalah tantangan tersendiri merancang program kegiatan projek sehingga siswa  bisa terkoordinir dengan baik, dan waktu belajar bisa digunakan secara efektif.

Karenanya menjelang pelaksanaan projek biasanya kami yang tergabung dalam komite pembelajaran berdiskusi dalam grup whatsapp untuk membahas kegiatan siswa dan memberikan masukan agar projek bisa berjalan dengan lancar.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah p534.jpg
Sesudah talkshow, dokumentasi pribadi Buz

Jika di kegiatan projek dua minggu sebelumnya kajian tentang bijak berinternet dilakukan dengan mendatangkan narasumber dari Diskominfo dan Polresta,  kali ini narasumber didatangkan dari Kemenag.  Jadi jika sebelumnya bijak berinternet dikaitkan dengan undang-undang yang dibuat manusia, di minggu ketiga ini sebagai insan beragama bijak berinternet ditinjau dari hukum yang lebih tinggi yaitu hukum agama.

Ada bermacam agama yang dianut oleh siswa di SMP Negeri 3 Malang, karenanya acara kajian bijak berinternet hari itu  mendatangkan tokoh dari agama  Islam,  Kristen dan Hindu. 

Narasumber dari agama Islam adalah Ustadz Dedi Novianto,  M. Pdi,  dari agama Kristen Pendeta Muda Yohannes Gery Valentino, S.Pd dan dari agama Hindu Romo Ruby Suprianto, S.Ag,M.Si .

Acara dikemas dalam bentuk talkshow dengan moderator  Ibu Utin Kustianing. 

Acara talkshow berjalan dengan akrab. Pak Dedy,  Pak Gery maupun Pak Ruby memberikan penjelasan dengan menggunakan bahasa dan logika yang demikian mudah diterima oleh siswa. 

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dalam talkshow pagi ini. Diantaranya adalah:

1. Bijak berinternet sangat penting untuk dilakukan.  Dalam ajaran agama apapun, segala apa yang kita lakukan kelak akan diminta pertanggung jawabannya.  Perbuatan yang baik akan mendapat balasan yang baik,  demikian juga perbuatan yang tidak baik kelak di akherat akan mendapat hukumannya.

2. Gunakan internet untuk hal yang baik,  berhati-hati sebelum sharing.  Tabayyun,   mengecek kebenaran sebuah berita sangat penting dilakukan sebelum share berita.

3. Hindari perbuatan riya atau suka pamer.  Internet, terutama media sosial adalah ajang pamer yang banyak digunakan saat ini. Daripada menggunakan untuk perbuatan riya’lebih baik gunakan internet sebagai ladang kebaikan. 

4. Pandai pandailah memilih konten di internet.  Jangan memilih konten yang merusak atau memberikan pengaruh yang kurang baik.

Di akhir acara masing-masing narasumber memberikan nasehat penting berkaitan dengan materi yang dibahas hari itu.

1. Pintar itu relatif tapi akhlak itu mutlak (Pendeta Muda Yohannes Gery Valentino, S.Pd )

2. Setiap apa yang kita lihat, pikirkan,  perbuat,  semua akan dipertanggung jawabkan (Ustadz Dedi Novianto,  M. Pdi)

3. Pikiran, ucapan dan perbuatan merupakan tiga hal yang harus dijaga agar kita bijak berinternet.  Jangan menjadi orang -orang calon penghuni neraka.  (Romo Ruby Suprianto, S.Ag,M.Si)

Sekitar pukul sepuluh, talkshow ditutup dengan berdoa menurut agama dan keyakinan masing masing. Ada yang menengadahkan tangan,melipat tangan atau menangkupkan kedua tangan di dada.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah p531.jpg
Berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing, dokumentasi Buz

Siswa begitu antusias pagi itu, terbukti dari  banyaknya pertanyaan yang muncul. Beberapa siswa bahkan mengatakan waktu untuk tanya jawab masih kurang. 

Yang menarik,  talkshow ini tidak hanya membuka wawasan siswa  tentang bijak berinternet namun juga tentang toleransi, perlunya saling menghargai antar  pemeluk agama.

Ya, karena hakekatnya semua agama mengajarkan kebaikan pada para pemeluknya.