Meriahnya Peringatan Bulan Bahasa 2022 di Bintaraloka

Tentang Bulan Bahasa

Di dalam bulan Oktober terdapat sebuah peristiwa penting yaitu ikrar yang diucapkan oleh para pemuda tanggal 28 Oktober 1928 atau Sumpah Pemuda.

Pembukaan Peringatan Bulan Bahasa, dokumentasi Apple

Sumpah Pemuda menggambarkan semangat para pemuda untuk bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia,  dan menjunjung bahasa persatuan yang satu yaitu Bahasa Indonesia. 

Dan sebagai wujud kecintaan kita pada  Bahasa dan Sastra Indonesia itu maka setiap bulan Oktober kita memperingati Bulan Bahasa.

Peringatan Bulan Bahasa di Bintaraloka

Peringatan Bulan Bahasa di Bintaraloka tahun ini diadakan hari Rabu  26 Oktober 2022 dan mengangkat tema “GEMILANG MUDA MEMBANGUN INDONESIA” .

Briefing sebelum pelaksanaan lomba, dokumentasi pribadi

Ketua panitia pelaksana Bulan Bahasa Bapak Mahmud menerangkan bahwa istilah ‘muda’ tidak merujuk hanya pada  yang berusia muda.  Siapapun yang masih punya semangat tinggi untuk mencapai kemajuan maka ia tergolong dalam kategori muda.

Peringatan pagi itu diawali dengan apel pembukaan yang dipimpin oleh Ibu Kepala Sekolah.  Mendung tebal dan kondisi lapangan yang agak basah tidak mengurangi semangat peserta apel. Setelah apel siswa menuju ke kelas dan bapak/ibu guru menerima briefing dari Pak Mahmud.

Briefing pagi sangat diperlukan karena hampir semua bapak/ibu guru menjadi juri dalam lomba bulan bahasa ini.  Ada 17 mata lomba yang disiapkan untuk memeriahkan acara Bulan Bahasa, di antaranya adalah story telling, pidato Bahasa Indonesia, speech contest, cipta puisi, musikalisasi puisi, madding, drama dan banyak lagi.

Lomba MC, dokumentasi Apple

Sekitar pukul setengah delapan para peserta menuju tempat yang ditentukan demikian juga bapak/ibu guru dewan juri.

Speech contest, dokumentasi Apple

Lomba berlangsung demikian meriah.  Semua siswa all out berusaha menyajikan tampilan terbaiknya. Beberapa lomba selesai menjelang Dhuhur namun beberapa lagi seperti broadcasting dan mading diberi batas agak panjang hingga pukul dua belas bahkan setengah dua siang.

Lomba broadcasting, dokumentasi pribadi
Lomba mading, dokumentasi pribadi
Dari arena musikalisasi puisi, dokumentasi pribadi

Sesudah lomba usai, sementara bapak/ibu guru merekap nilai untuk memutuskan pemenang, siswa berkumpul di lapangan volly guna melihat tampilan nominasi terbaik dari tiap lomba .

Konser bersama Pak Vigil, dokumentasi pribadi

Siang itu selepas azan Dhuhur matahari bersinar malu-malu, ya,  hujan yang turun sejak dini hari membuat langit tertutup awan sebagian.

Tapi yang perlu dicatat,  siang itu tidak hujan.  Hal yang sangat kami syukuri. Karena sesuai rencana,  jika tidak hujan hari Rabu siang akan diisi dengan tampilan nominasi terbaik dari beberapa nomor lomba Bulan Bahasa di lapangan .

Musikalisasi puisi, dokumentasi Apple

Siswa dan beberapa bapak ibu guru sudah bersiap di lapangan.  Alat musik sudah ditata di depan dan… action..

Tampilan siang itu diawali dengan permainan gitar Pak Vigil mengiringi siswa menyanyi bersama.  Lagu-lagu pun dialunkan.  Indonesia Tanah Air Beta,  Rayuan Pulau Kelapa,  bahkan juga Sempurna.

Siswa larut dalam suasana yang begitu menyenangkan.  Sesudahnya acara dilanjutkan dengan tampilan musikalisasi puisi,  dongeng dan juga drama.  Berkali kali penonton memberikan applaus atau tertawa atas tampilan siswa di depan yang begitu menarik,  lucu bahkan atraktif.

Ibu guru mendampingi siswa di lapangan, dokumentasi pribadi

Ya,  Bintaraloka selalu penuh cerita.  Lalu siapa saja pemenangnya? Pemenang diumumkan sesudah upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2022 oleh Pak Mahmud.

Suasana di lapangan volley begitu meriah. Terlebih ketika juara lomba diumumkan satu-persatu, dan tiap pemenang mendapatkan piagam penghargaan.

Sebagian pemenang, dokumentasi Apple

Ingin tahu siapa pemenangnya? Yuk, cek di bawah ini..:)

Lomba Story Telling : 1. Revania Khuma airo (3.5.5), 2. Lili Avisa ( 3.3.5), 3. Dinar Arini (3.5.8)

Lomba Desain Batik : 1. Najwa Aqidatul (2.2.1), 2. Satria Eldin( 3.1.2), 3. Khuluqin Adhim (3.5.7)

Lomba Menulis Indah aksara Jawa : 1. Biru Prameswari(3.3.1), 2. Farzana Luthfi( 3.5.3), 3. Nayla Cahya (3.1.7)

Lomba Pidato bahasa Indonesia : 1. Jauza Udkhia(2.3.1), 2. Azka Affan ( 3.3.6), 3. Faril Ardiansyah (3.5.5)

Lomba Geguritan : 1. Atiqoh Sabrina Hasan (2.3.1), 2. Silvania Tsabitah Saffa (2.1.1), 3. Favian Ahmad 3.3.6

Lomba Musikalisasi Puisi : 1. Kelas 3.3.2, 2. Kelas 3.1.9, 3. Kelas 2.1.1

Lomba Speech Contest: 1. Dirsanala Nararya (2.1.1), 2. Yusuf Danendra (3.1.4), Sybia Ainuha ( 3.1.1)

Lomba Poster Digital: 1. Azka Haura (3.5.2), 2. Syifa Izza (2.3.1), 3. Muhammad Iqbal (2.2.1)

Lomba Cipta Makna Puisi : 1. SafiraDwi Rahmasafitri (3.3.1), 2. Saylendra Wicaksono (2.3.1), 3. Rifa AuliaYulistia (3.5.8)

Lomba MC Bahasa Indonesia: 1. Komang Ayu Wicaksaneng N.G (3.5.5), 2. Amira Rizqia ( 3.3.3), 3. Graciella Joshua Agoni ( 3.5.4)

Lomba Mendongeng: 1. Graciella Zafira (3.5.7), 2. Vina Prawira (3.3.1), 3. Chiara Dewi C.S (3.3.5)

Lomba MC Bahasa Inggrisl: 1. Imraan Fauzan Maksum (3.3.5), 2. Cynara Harsya Adinata (3.5.4), 3. Dzakirah Thalita Ramadhani ( 3.3.1)

Lomba Pentigraf : 1. Safira Damayanti (3.5.8), 2. Aneira Calya Andrianti(2.3.1), 3. Mutiara Tida Fandasari (3.5.1)

Lomba drama : 1. Kelas 3.5.1 , 2. Kelas 3.5.2, 3. Kelas 3.3.1

Lomba Broadcasting : 1. Kelas 2.3.1, 2. Kelas 3.1.8, 3. Kelas 3.5.5

Lomba Poster Manual : 1. Trah Jenitraloka Weninggalih (2.1.1), 2. Nazila Almaghfira Hakim (3.1.4), 3. Aurelia Thalita Putri (3.1.5)

Lomba Mading: 1. Kelas 3.3.6, 2. Kelas 3.5.6, 3. Kelas3.5.7

Salam Bintaraloka..!

Pilketos, Sebuah Cara Merayakan Demokrasi dengan Gembira

Senin pagi ini tidak ada upacara seperti biasanya.  Meski demikian kesibukan lapangan volly sudah tampak sejak pagi.  Ada yang menyiapkan meja,  kardus kardus berisi tab,  bahkan spanduk besar sudah terpasang di tengah lapangan.  Aha, hari ini proses Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos ) 2022 akan segera dilaksanakan. 

Memberikan suara, dokumentasi pribadi

Panitia yang terdiri dari siswa dan guru tampak begitu sibuk. Sebuah perhelatan besar akan dimulai,  dan semua harus disiapkan dengan rapi.

Sesudah pengarahan proses pemilihan  dimulai.  Siswa siap dalam barisan kelas masing-masing dan dengan tertib bergantian maju ke depan untuk memberikan suaranya. 

Siap memberikan suara, dokumentasi pribadi

Pemberian suara dilakukan lewat Sistem Informasi Manajemen Sekolah dengan user name dan password yang sudah diberikan sebelumnya.

Tidak hanya siswa,  bapak/Ibu guru juga ikut memberikan suaranya baik di lapangan maupun di ruang guru. 

Memberikan suara di lapangan, dokumentasi Apple
Memberikan suara di lapangan, dokumentasi pribadi
Memberikan suara di ruang guru, dokumentasi pribadi

Setelah memberikan suaranya, siswa atau guru segera menuju ke panitia yang sudah siap untuk memberikan stempel di tangan.  Dan sesudahnya semua langsung menuju ke kelas  untuk segera mengikuti pelajaran jam pertama. 

Sesudah memberikan suara, dokumentasi Bu Tjatur
Bapak/Ibu guru panitia, dokumentasi Apple

Meski demikian banyak juga di antara siswa yang memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama di lapangan atau di depan spanduk Pilketos.  Benar-benar sebuah acara yang meriah.

Ya,  layaknya sebuah pesta demokrasi, Pilketos memang harus kita rayakan dengan gembira.

Salam Demokrasi… 🙂

Panitia dari siswa, dokumentasi Apple
Panitia dari siswa, dokumentasi Apple

Pilketos 2022, Sebuah Ajang Pembelajaran Demokrasi di Bumi Bintaraloka

Denting gitar mengiringi suara lembut dari Jacinda dan Arinina pagi itu.  Keduanya membawakan lagu yang demikian manis dan sempat membuat penonton bernyanyi mengikuti reffrainnya.  Ya,  pagi itu Bintaraloka kembali berpesta.  Tepatnya pesta demokrasi untuk memilih ketua OSIS periode 2022-2023.

Jacinda dan Arinina, dokumentasi pribadi

Pemilihan Ketua OSIS atau Pilketos adalah acara rutin yang diadakan setiap tahun di Bintaraloka.  Tujuannya adalah untuk memilih ketua OSIS baru untuk menggantikan ketua OSIS yang lama dan nantinya akan diikuti dengan penyusunan pengurus OSIS yang baru.

Layaknya sebuah kegiatan demokrasi pengajuan calon sebagai pengurus OSIS sudah dilakukan oleh siswa beberapa minggu sebelumnya.  Tidak mudah untuk mendaftar menjadi pengurus OSIS karena harus ada rekomendasi dari bapak/ibu guru pengajar yang menunjukkan bahwa siswa yang akan mengajukan diri sebagai pengurus OSIS tidak bermasalah. 

Sesudah dilaksanakan seleksi melalui LDK 1,  LDK2 dan wawancara, akhirnya tiga orang terpilih sebagai kandidat ketua OSIS 2022-2023. Kandidat tersebut adalah:

Lili Avisha, dokumentasi Apple
Amira Rizqia, dokumentasi Apple
Maharani Saskia, dokumentasi Apple

1. Lili Avisha

2. Amira Rizqia

3. Maharani Saskia Putri

Sebelum pemilihan dilaksanakan minggu depan tentunya pemilih harus mengenal ketiga calon,  baik profil maupun visi dan misinya. Untuk itu pada Jumat pagi itu dilaksanakan debat dan wawancara terbuka calon ketua OSIS SMP Negeri 3 Malang.

Acara diawali dengan perkenalan dan paparan visi dan misi masing-masing kandidat dan dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan baik oleh tim penanya atau guru dan siswa.

Mister Sony, Ibu Kepala Sekolah dan Pak Aksan, dokumentasi Apple
Pemandu acara, dokumentasi Apple

Bertindak sebagai pemandu acara pagi itu adalah Ghiena dan Falasiva,  dan sebagai tim penanya adalah Ibu Kepala Sekolah,  Bapak Aksan dan Mister Sony.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan  dijawab dengan sigap oleh masing  masing kandidat.  Siswa tampak begitu antusias menyaksikan jalannya debat dan wawancara terbuka ini.  Beberapa kali applaus diberikan oleh para siswa atas jawaban dari kandidat yang mereka jagokan. 

Siswa mengikuti jalannya acara dengan antusias, dokumentasi pribadi
Sebagian penonton acara debat dan wawancara, dokumentasi pribadi

Bapak Ibu guru juga tidak ketinggalan menyaksikan acara ini karena nantinya ikut berpartisipasi sebagai pemilih dalam pemilihan ketua OSIS periode 2022-2023

Dari kualitas jawaban yang diberikan oleh masing masing kandidat tidak salah kiranya jika ketiganya diajukan sebagai calon kdtua OSIS,  karena masing-masing memiliki keistimewaan.

Bapak/ibu guru ikut menyaksikan acara debat dan wawancara terbuka, dokumentasi pribadi

 Untuk mengetahui lebih jelas tentang visi dan visi masing masing calon bisa dilihat di youtube berikut ini. 

Acara hari itu berakhir kira-kira pukul delapan.  Lancarnya acara tidak luput dari kerja tim kesiswaan yang begitu solid mulai dari awal hingga akhir acara.

Sie dokumentasi, dokumentasi BBC

Sesudah debat dan wawancara terbuka tentunya semua sudah punya gambaran tentang siapa yang akan dipilih di Pilketos minggu depan.

Siapapun yang terpilih tentunya wajib didukung bersama karena siapapun yang menang dalam Pilketos tahun 2022 ini hakekatnya adalah kemenangan seluruh warga Bintaraloka.

Salam demokrasi…!

Final Lomba Cerdas Cermat PAI, Puncak Acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw

Gempita perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang diadakan dua minggu yang lalu pada minggu ini mencapai puncaknya.

Acara puncak Maulid Nabi ditandai dengan final lomba cerdas cermat PAI juga penyerahan hadiah pada para pemenang lomba.

Suasana final lomba cerdas cermat PAI, dokumentasi Bu Utin
Suasana final Lomba Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Bu Utin

Final lomba cerdas cermat PAI diadakan hari Kamis tanggal 20 Oktobet 2022. Seperti yang diharapkan pagi itu langit cerah, padahal penyelenggara sempat khawatir jangan-jangan pagi itu hujan turun seperti hari-hari sebelumnya.

Jumlah peserta lomba cerdas cermat PAI ada 130 siswa. Di babak penyisihan pada semua peserta diberikan 50 soal pilihan ganda lewat thatquiz untuk diambil 15 peserta dengan nilai terbaik dan waktu tercepat guna masuk semi final.

Di babak semi final, masing peserta diberi 3 soal tertulis dan membaca 3-4 ayat dari surah yang ditentukan oleh dewan juri. Dari 15 peserta itu akhirnya diambil 3 nilai terbaik yang akan masuk di babak final.

Di babak final masing-masing peserta diberi 3 soal yang sudah ditentukan pada sesi pertama dan di sesi berikutnya adalah adu cepat. Dalam babak adu cepat ada 10 soal rebutan.

Dalam final lomba cerdas cermat ini Ibu Utin, Pak Muhaimin, Pak Abid juga Bu Anggita terlibat langsung baik sebagai pemberi pertanyaan atau pengarah jalannya lomba.

Sesudah final berakhir ternyata diperoleh pemenangnya adalah Meysika kelas 9.7 Amira kelas 7.9 dan Althaf kelas 9.2. Pemberian hadiah dilakukan oleh Pak Herianto selaku wakasis SMP Negeri 3 Malang.

Juara 1 lomba Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Bu Utin
Juara 2 lomba Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Bu Utin
Juara 3 Lomba Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Bu Utin

Acara pagi itu demikian meriah. Wajah-wajah gembira tampak dimana-mana terutama dari para pemenang dan supporternya.

Selain pada pemenang cerdas cermat penyerahan hadiah juga dilakukan pada penenang lomba asmaul husna, azan, tartil juga kaligrafi di hari sebelumnya. Karena kondisi lapangan yang basah, penyerahan hadiah dilakukan di depan ruang guru

Pemenang lomba tartil, dokumentasi Bu Utin
Pemenang lomba kaligrafi, dokumentasi Bu Utin
Pemenang lomba adzan, dokumentasi Bu Utin
Pemenang lomba asmaul husna, dokumentasi Bu utin

Akhirnya selamat bagi para pemenang. Semoga dengan peringatan Maulid ini siswa semakin giat dalam melaksanakan ajaran dan sunnah nabi, dan ke depannya mereka bisa menjadi generasi yang sholeh/ sholehah yang bermanfaat bagi sesama.

Gembira bersama supporter , dokumentasi Meysika

Tidak Hanya Baju Adat, Bahasa Daerah Juga Perlu Kita Lestarikan Bersama

Topik pilihan  Kompasiana kali ini sangat menarik yaitu tentang aturan penggunaan baju adat/ tradisional  sebagai seragam sekolah di samping seragam yang lain. 

Peraturan tentang penggunaan baju adat untuk seragam sekolah  dikeluarkan Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui Permendikbudristek Nomor 50 Tahun 2022 tentang Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah menyebutkan bahwa para peserta didik diperbolehkan mengenakan adat pada hari atau acara adat tertentu.

Tujuan peraturan ini adalah menanamkan/menumbuhkan nasionalisme, memberikan wawasan keragaman budaya, serta meningkatkan kesetaraan antar siswa tanpa memandang latar belakang.

Beberapa tahun yang lalu sebelum pandemi di event event tertentu seperti HUT sekolah,  HUT kota Malang atau hari Kartini, guru dan siswa di kota Malang sering merayakannya dengan mengenakan baju adat.  Baju Malangan.

Penggunaan baju adat Malangan pernah dianjurkan pada siswa di kota Malang tepatnya saat HUT Malang atau pas hari Kartini. 

Penggunaan baju khusus juga pernah dianjurkan pada siswa ketika hari batik.  Pada saat batik mereka boleh mengenakan batik bebas di luar seragam sekolah.

Sejauh itu pelaksanaan berjalan lancar.  Siswa yang mempunyai baju adat mengenakan baju tersebut dan siswa yang tidak mempunyai baju adat memakai baju yang lain sesuai yang ditentukan sekolah.

Berbaju Malangan saat event tertentu, dokumentasi pribadi

Ada rasa bangga dan seru saat kita mengenakan baju adat.  Bisa ditebak,  pulang sekolah siswa akan berfoto-foto sebentar di lapangan sebagai bahan untuk diupload di sosmed mereka.

Sebagai catatan, baju adat yang dikenakan adalah baju adat yang bisa dipakai dalam keseharian, bukan baju untuk upacara adat yang mempunyai banyak asesoris.

Seperti kebaya yang sederhana untuk perempuan,  atau baju adat sederhana untuk laki- laki dengan ikat kepalanya yang khas. Jadi intinya baju adat yang simpel,  mudah dikenakan dan tidak mengganggu gerak kita.

Seperti di kota Malang sekarang saat hari Kamis akan banyak guru atau pegawai pemkot yang mengenakan baju Malangan. Saya juga berangkat ke sekolah dengan berkebaya simpel dengan naik sepeda motor. 

Ada sebuah pengalaman lucu tentang ketidak mengertian anak-anak tentang baju adat mereka.

Anak kecil berbaju Malangan, Sumber gambar: Bukalapak

Ketika itu anak saya masih duduk di TK dan sekolahnya mengadakan karnaval Peringatan Hari Kemerdekaan.

Anak saya dan temannya (keduanya sama sama laki-laki) menyewa baju di tempat yang sama yaitu baju Malangan berwarna hitam lengkap dengan udengnya. 

Berangkat karnaval saya dengar mereka bisik- bisik sambil tertawa geli.

“Weh,  lucu ya rasanya pakai baju dukun..,” kata teman anak saya disambut dengan tawa keduanya.

“Lho,  kok dukun? ” tanya saya heran bercampur geli.

“Di sinetron- sinetron itu ‘kan dukunnya selalu pakai baju hitam- hitam..? ” kata anak saya tertawa.

Mau tak mau saya ikut tertawa.  Betapa anak- anak tidak mengerti dengan baju adat mereka sendiri sehingga mengira baju adat Malangan adalah baju dukun.

Dalam pandangan saya penggunaan baju adat di saat-saat tertentu di sekolah banyak manfaatnya.  Salah satunya menanamkan kebanggan kita akan kekayaan budaya yang kita miliki berupa baju adat.  Sayang sekali jika anak- anak atau siswa tidak kenal baju adat mereka sendiri.

Tentunya dalam pelaksanaannya juga harus ada keluwesan dari pihak sekolah,  seandainya ada siswa yang belum bisa menyediakan baju adat. 

Setidaknya ada solusi dari sekolah misal memperbolehkan siswa mengenakan baju batik sambil menunggu orang tua bisa membelikan baju adat bagi mereka.

Manfaat lain dari memasukkan baju adat dalam ketentuan seragam sekolah adalah UMKM akan cepat menyikapi dengan menyediakan baju adat yang simpel dengan harga yang terjangkau.

Sentra penjualan baju batik, Sumber gambar : Tribun Travel

Seperti pengalaman beberapa tahun yang lalu ketika siswa diminta menggunakan baju batik Malangan saat HUT Kota Malang, di pasar pagi langsung banyak penjual yang menyediakan baju batik Malangan dengan harga yang terjangkau.

Pada hemat saya jika tujuannya adalah untuk menanamkan/menumbuhkan nasionalisme, memberikan wawasan keragaman budaya, sebaiknya jangan hanya baju adat yang diperhatikan,namun sekolah juga perlu memperhatikan bahasa daerah.

Sebagaimana diketahui penggunaan bahasa daerah semakin lama semakin menurun. Dikhawatirkan perlahan-lahan bahasa daerah akan punah karena saat ini para penutur bahasa daerah banyak yang tidak lagi menggunakan dan mewariskan bahasa ke generasi berikutnya

Jika di sekolah-sekolah tertentu sering ada English day di mana dalam sehari siswa maupun guru berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris,  akan sangat menarik juga jika  diadakan gerakan sehari berbahasa daerah setiap satu minggunya.

Karena selain busana adat, bahasa daerah juga satu kekayaan budaya yang harus kita lestarikan bersama.

Matur nuwun…