Menyusuri Jejak Sang Proklamator: Refleksi di Museum, Perpustakaan dan Makam Bung Karno

Mobil kami berjalan laju di tengah  lalu lintas kota Blitar yang tidak begitu ramai.

“Selanjutnya kita ke Museum?” tanya Bu Ari pada Mas Andre driver kami.

“Siapp,” jawab Mas Andre. Jawaban favorit kami. Ya, Mas Andre selalu siap mengantar kami ke mana saja.

Dari Kampung Coklat, destinasi berikutnya adalah Makam sekaligus Museum dan Perpustakaan Bung Karno.

Ini adalah kunjungan saya kedua ke Makam Bung Karno. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu saya ke sini bersama teman- teman SD.

Suasana jalan menuju museum terasa lebih ramai dari biasanya. Sangat berbeda. Ya, banyak orang mengenakan baju putih dan bawahan hitam di jalanan.

“Ada apa ya? Sepertinya ada acara?” tanya saya. Saya ingat, dulu pernah diberi tahu oleh Bapak penarik becak di daerah museum ini bahwa di Bulan Juni selalu ada banyak acara di Blitar terutama di area Makam Bung Karno.

“Bulan Bung Karno, Bu. Bung Karno itu lahir di bulan Juni, wafat di bulan Juni dan menemukan Pancasila tanggal 1 Juni,” kata Si Bapak waktu.

Mobil kami terus melaju menuju parkiran. Turun dari mobil kami kami bisa membaca beberapa spanduk yang terpasang di jalan jalan.

Ternyata hari itu bertepatan dengan diadakannya haul Bung Karno. Kami baru sadar bahwa kami datang ke Museum pas hari wafatnya Bung Karno yaitu tanggal 21 Juni.

Tentang Makam,  Perpustakaan dan Museum Bung Karno 

Koleksi lukisan Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Perpustakaan dan Museum Bung Karno  ini berlokasi di kompleks Makam Bung Karno Jl. Kalasan No. 1, Blitar, Jawa Timur.

Komplek makam sendiri menempati area seluas 1,8 hektar dan dibagi menjadi tiga yaitu halaman, teras, dan pendopo/mausoleum. Pembagian  ini sesuai dengan kepercayaan Jawa mengenai tiga tahap kehidupan  yaitu janin, kehidupan, kematian.

 Proses pembangunan Museum Bung Karno diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo, arsitek asal ITB, dan  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2004.

Pesan Bung Karno, Koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Dalam museum ini kita bisa lebih mengenal sosok besar tersebut lewat berbagai barang koleksi yang dipamerkan, seperti jas yang digunakan Bung Karno saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, koper yang digunakan Bung Karno saat keluar masuk tahanan,  termasuk koleksi keris yang demikian kental dengan budaya Jawa.

Dalam museum ini juga dipamerkan berbagai macam lukisan dan foto- foto, seperti rumah masa kecil Bung Karno atau Kusno (nama kecil beliau), foto di masa sekolah, masa perjuangan, pesan-pesan, juga foto-foto ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama.

Sebuah foto yang sangat mengesankan bagi saya adalah ketika Bung Karno sungkem pada Ibunda beliau Ida Ayu Nyoman Rai. 

Foto Bung Karno sungkem pada Ibunda, koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Foto ini dibuat pada tahun 1953 ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Foto yang menunjukkan betapa besar bakti beliau pada sosok Ibunda ini seolah memberikan nasehat bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, Ibunda adalah tetap sosok yang yang harus kita hormati dan kita sayangi, karena beliaulah yang selalu tulus berdoa di setiap langkah kita .

Di museum ini juga banyak miniatur yang menunjukkan rumah tempat Bung Karno diasingkan. Seperti rumah di Bengkulu, Ende juga Brastagi.

Dari Museum kami masuk ke area perpustakaan yang berada di sampingnya persis.

Bung Karno adalah sosok yang gemar membaca, karena itu perpustakaan, museum dan makam dijadikan dalam satu kompleks.

Ah ya, kami sempat berfoto-foto di depan patung besar Bung Karno yang sedang membaca.

Berfoto di depan patung Bung Karno, dokumentasi Buz
Berfoto di depan patung Bung Karno sedang membaca, dokumentasi Buz

Begitu masuk museum , bau buku dan kamper langsung menyambut kedatangan kami. Aura adem dan nyaman sangat terasa. Setelah mengisi daftar tamu, kami mulai masuk menyusuri lorong di sekitar rak buku.

Beberapa buku yang sudah dibaca ada di atas meja. Luar biasa, buku- buku yang sangat bagus. Kebanyakan buku sejarah, ataupun tokoh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Ketika jam sudah menunjukkan jam setengah dua kami bergegas mencari mushola untuk sholat Dhuhur.

Sesudah sholat rencananya kami langsung menuju makam yang tidak jauh dari perpustakaan.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Untuk menuju makam kami harus melalui beberapa tangga naik. Ternyata di area makam baru saja ada acara, dan ketika kami tiba di sana ada kesibukan pembongkaran tenda- tenda sesudah dipakai acara di pagi harinya.

Dari baliho besar yang ada di depan makam, di bulan ini ada acara Haul ke 55 Bung Karno. Tiga acara besar dalam haul tersebut diadakan pada tanggal 6, 20 dan 21 Juni.

Baliho Haul Bung Karno ke 55, dokumentasi pribadi

 Acara meliputi doa dan tahlil, kenduri brokohan, selametan Akbar, pagelaran wayang kulit, pengajian dan ziarah nasional.

Sebagai catatan Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga, saatnya kami harus meninggalkan lokasi menuju destinasi berikutnya. Apalagi langit sudah tampak mendung.

Sebelum balik ke mobil kami sempat berfoto-foto dan membeli asesoris kecil- kecil seperti gelang, cincin dari manik-manik pada pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. 

Membeli gelang dan cincin manik-manik, dokumentasi pribadi

Berjalan-jalan di Perpustakaan, Museum juga area Makam Bung Karno ini membuat kita bisa begitu merasakan aura semangat, perjuangan dan kegigihan Sang Proklamator.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri

Bung Karno

Semangat dan cita-cita yang tak henti menginspirasi generasi masa kini agar tetap gigih dalam perjuangan untuk  menghadapi berbagai macam tantangan yang ada.

Ya, kita semua terus berjuang. Meski dalam bentuk yang berbeda dengan masa Bung Karno dulu, tidak berarti perjuangan kita lebih ringan, bahkan bisa jadi lebih berat.

Tekadkan semangat juang, dokumentasi Buz

Bukankah Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Satu Hari di Blitar, Sebuah Perjalanan Manis di Kampung Coklat

“Saya OTW dari Arjosari,”

Sebuah pesan singkat masuk WhatsApp saya. Bergegas saya menyiapkan tas yang berisi berbagai macam perbekalan (isinya cuma makanan ringan, mukena dan minyak kayu putih), dan taraaa, kami siap untuk melakukan perjalanan pagi itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih ketika ,mobil kami terus melaju di tengah ramainya lalu lintas kota Malang. Kali ini perjalanan kami lakukan berenam. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu anak kecil.

Oh ya, tiga orang dewasa sudah termasuk Mas Andre driver, teman, sekaligus fotografer kami.

“Ini ke mana saja?” tanya Mas Andre pada kami.

“Ke mana dulu terserah Mas Andre, yang penting destinasi kita ada empat yaitu Kampung Coklat, Museum Bung Karno, Cafe de Karanganjar dan Candi Penataran,” jawab kami. Ya, sesuai rencana hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Blitar, atau istilah kerennya eksplor Blitar.

“Siyaap..,” jawab Mas Andre ramah.

Perjalananpun dimulai.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Kondisi lalu lintas normal saja. Tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Mungkin libur sekolah baru saja dimulai sehingga masih banyak yang menikmati liburan di rumah. 

Memasuki Kabupaten Blitar terasa suasana yang sedikit berbeda di Malang. Jalan di sini tidak terlalu ramai, tidak terlalu lebar namun suasananya begitu nyaman.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di kawasan Kampung Coklat. Sebuah bangunan tinggi dengan dominasi warna coklat seolah menyapa kehadiran kami.

Dekat pintu masuk Kampung Coklat , dokumentasi pribadi
Dinding -dinding yang penuh informasi, dokumentasi pribadi

Berbagai informasi mengenai coklat ada di mana-mana. Sangat cocok jika Kampung Coklat ini menyatakan dirinya sebagai tempat wisata edukasi tentang coklat.

Setelah membeli tiket kami pun masuk. Dua puluh ribu per orang, sangat murah untuk tempat wisata edukasi sebagus itu.

Sejarah coklat dan Kampung Coklat

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Mendengar kata coklat, yang sering tergambar dalam benak kita adalah minuman berwarna coklat yang sedap dan manis, atau bahkan permen kecil kecil dalam bentuk batangan dengan rasanya yang begitu khas. Tidak salah, tapi dengan melihat tanaman coklat dan buahnya, kita akan memahami bahwa untuk mengolah biji coklat  menjadi minuman, permen atau campuran kue tentu memerlukan proses yang  lumayan panjang.

Coklat adalah bahan makanan yang diperoleh dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan tanaman tropis. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah dibudidayakan di berbagai daerah tropis di seluruh dunia.

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Dikutip dari history.com, coklat pertama kali dikonsumsi  oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Sekitar tahun 1544 coklat mulai masuk benua Eropa lewat Spanyol, di mana saat itu delegasi dari Guatemala  mengunjungi Istana Spanyol dan membawa hadiah yang di antaranya adalah minuman cokelat. 

Di awal abad ke-17, cokelat mulai banyak disuka dan menjadi minuman yang digemari di kalangan istana di Eropa. 

Coklat akhirnya menyebar di kalangan kaum elit Eropa dan seiring berjalannya waktu permintaan akan coklat terus meningkat dan makin terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sejarah Kampung Coklat, dokumentasi Ayu

Mengenai sejarah Kampung Coklat sendiri, bermula di tahun 2004 ketika seorang peternak ayam bernama H. Kholid Mustofa mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung. 

Kholid lalu merintis usahan baru dengan merawat 120 pohon kakao milik keluarganya yang ditanam pada tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

 Sejak saat itu, ia mulai fokus menjalankan usaha tersebut dan mempertimbangkan untuk membuka lapangan pekerjaan demi kesejahteraan para petani coklat di daerahnya.

Melalui magang di PTPN XII Penataran, Nglegok, Blitar dan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Kholid terus mendalami teknik budidaya kakao yang benar

Kholid terus berusaha memberikan edukasi lewat kelompok-kelompok taninya tentang budidaya kakao ini.

Usaha Kholid terus maju dengan semakin banyaknya bibit kakao yang dikembangkan dan berakibat semakin banyaknya coklat yang dipasok ke tempat industri pengolahan coklat.

Tidak berhenti di situ, Kholid lalu belajar bagaimana cara mengolah coklat sendiri yang kemudian dipasarkan di Blitar dan Solo..

Pada puncaknya pada tahun 2014 Kholid  memutuskan untuk membuat wisata edukasi tentang coklat yang diberi nama Kampung Coklat dan berlokasi di jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,

Potongan-potongan cerita sejarah coklat, termasuk sejarah berdirinya Kampung Coklat ini ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar yang ada di dinding di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tempat wisata ini. Selain mengetahui tentang coklat yang meliputi sejarah, budidaya dan pengolahannya, kita juga  bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat coklat bagi kesehatan.

Kami sebenarnya ingin melihat cara pengolahan coklat, tapi sayang saat itu stand pengolahan coklat sedang tutup. Namun tak apa, banyak masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa kami kunjungi.

Animal Feeding, dokumentasi pribadi
Kebun kakao, dokumentasi Buz

Selain berbagai informasi tentang coklat, di sini kita juga bisa melihat Kebun Kakao yaitu perkebunan coklat, juga Animal Feeding yang merupakan tempat peternakan berbagai macam binatang.

Lahan keduanya begitu luas, karenanya jika tidak ingin berjalan kaki, pengunjung bisa naik kendaraan yang disediakan untuk berkeliling di sekitar Kampung Coklat.

Di kebun coklat , dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan berbagai wahana permainan anak juga ada. Oh ya, kami sempat naik Perahu Ceria. Apa itu? Dengan tiket sepuluh ribu rupiah per orang, kami bersama naik  perahu di sepanjang sungai kecil yang di kiri kanannya banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Sangat mengasyikkan. Benar-benar membuat hati ceria.

Perahu Ceria, dokumentasi Buz

Dua jam  mengitari Kampung Coklat sepertinya belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu kami tentang coklat dan segala pernak- perniknya. Maksud hati ingin menjelajah lebih jauh lagi, namun kami harus segera meneruskan perjalanan menuju destinasi yang lain.

Sebelum meninggalkan Kampung Coklat kami sejenak duduk di cafe untuk menikmati aneka minuman coklat dan cemilan. Suasana ramai kian terasa. Semakin siang pengunjung semakin banyak.

Gallery Coklat tempat membeli oleh oleh, dokumentasi pribadi

Paduan kopi dan coklat dari minuman hangat yang saya pesan terasa begitu sedap juga manis. Saya tiba tiba tersenyum membaca sebuah quotes di salah satu sudut area ini.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya, he..he…, bisa saja.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya

Kampung Coklat

Setelah belanja oleh-oleh sebentar di Gallery Coklat, kami segera menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. 

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kampung Coklat bukan sekedar tempat wisata, tapi kaya akan edukasi, baik lewat informasi di sudut-sudutnya, maupun berbagai wahana yang ada di dalamnya.

Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Kampung Coklat

Blitar ternyata menyimpan banyak cerita, padahal ini baru destinasi pertama. Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Rintik Hujan

Karya : Maulidya Hanifah

“Apakah kau tahu, bahwa sunyi pun bisa berbicara?” tanya lelaki itu, dengan suara setenang kabut yang menggantung di pucuk-pucuk pinus, di pagi yang belum sepenuhnya bangun dari lelapnya. 

Ia berdiri di balik jendela berbingkai kayu mahoni, tangannya bersedekap, sementara matanya menembus tirai hujan yang jatuh tanpa jeda, menyulam simfoni lembut di atas atap seng rumah tua itu.

Perempuan itu, yang duduk di kursi rotan berkeriut halus, hanya menatap cangkir teh di genggamannya. Uapnya melayang, berputar-putar seperti kenangan yang enggan luruh, menggulung dalam pusaran waktu yang rapuh.

“Kau tak perlu menjawab,” lanjut lelaki itu, bibirnya nyaris tak bergerak, seolah kata-kata itu keluar langsung dari dinding dadanya. 

“Karena aku tahu, kau telah lama memahami: bahwa suara paling jujur tak lahir dari mulut, tetapi dari jeda antara dua tarikan napas.”

Dan diam pun turun, lebih dalam dari pekat hujan yang merintik. Diam yang memekakkan; diam yang sarat; diam yang menggema dalam ruang-ruang batin, seperti gema lonceng tua di gereja yang terlupa.

Tiba-tiba, suara jam berdentang tiga kali: dang, dang, dang. Seperti aba-aba dari masa lalu yang tak ingin terlupakan. Lalu, ia melangkah pelan, sepatu kulitnya mengeluarkan bunyi berderak—membelah hening seperti pisau mengiris kain beludru.

“Kau tahu,” katanya lagi, kini menatap bayangan wajahnya sendiri di jendela, yang tersamar oleh gerimis dan waktu, “kita ini hanya tokoh-tokoh dalam bab yang ditulis oleh perasaan. Bukan logika. Maka, jangan salahkan aku bila jalan yang kupilih tak bisa kau terima, sebab aku berjalan bukan dengan kepala, tetapi dengan luka.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Wajah yang dulu sering kau sebut sebagai pelabuhan, kini hanya pulau terpencil yang dilupakan peta. Suaranya serak, namun tak lelah:

“Luka pun bisa salah jalan, bila ia dipandu dendam.”

Lelaki itu tertawa kecil. Tapi tawa itu lebih mirip cicit engsel pintu yang lama tak dibuka—kering, berat, dan menyakitkan.

“Barangkali. Tapi, bukankah setiap luka juga mengandung arah? Bukankah darah selalu mengalir ke hilir, bukan ke hulu?”

Di luar, angin menderu. Sehelai daun jatuh, menari dalam pusaran takdirnya. Hujan belum reda, tetapi cerita telah mulai meluber dari dinding-dinding kamar.

Mereka berdua berdiri dalam sunyi, di bawah tirai hujan yang tak juga menepi, dalam jeda yang lebih panjang dari kalimat mana pun yang sempat mereka ucapkan.

Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka, bukan kata-kata yang keluar, melainkan aroma tanah basah yang telah menunggu sejak awal: menanti siapa pun yang cukup berani untuk pulang tanpa penjelasan.

Dan bumi terus berputar, meski hati manusia terhenti di satu titik kenangan. Di kamar tua itu, yang warnanya tak lagi bisa dikenali apakah kelabu atau hanya terkena bias waktu, lelaki itu melangkah ke rak tua, menarik sebuah kotak kayu yang penuh debu.

“Ini milik Ayahku,” gumamnya. “Dulu, setiap kali hujan datang, ia selalu membukanya. Katanya, hujan membawa roh-roh masa lalu pulang.”

Perempuan itu mengangkat alisnya. “Roh-roh?”

Ia mengangguk. “Bukan dalam arti supranatural. Tapi roh kenangan—arwah yang terbuat dari tawa yang tak selesai, tangis yang tertahan, dan kalimat yang tak pernah sempat diucapkan.”

Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada tumpukan kertas—surat-surat, puisi, potongan koran, dan sebuah pita rekaman kecil. Satu per satu dibacanya, suaranya rendah, serak, dan seperti membaca doa bagi masa silam:

Aku mencintaimu seperti laut mencintai karang: tak pernah menjanjikan tenang, tapi selalu pulang.”

Bila kelak kau tak temukan aku dalam doa-doamu, percayalah, aku tersesat dalam doaku sendiri.”

Kita ini seperti dua titik koma yang dipaksa berhenti menjadi titik.”

Perempuan itu tak tahan lagi. Ia bangkit, melangkah ke arah jendela yang basah, dan bersandar di sisinya.

“Kenapa kau simpan semua ini?”

“Karena aku tak pernah tahu cara melupakan tanpa harus membunuh bagian diriku sendiri.”

Aku pernah percaya, bahwa semua yang patah akan tumbuh kembali, tapi kadang, yang tumbuh hanya bayang-bayangnya saja.

Di luar, petir menyambar, cahaya sesaat memperlihatkan wajah mereka berdua—yang tak lagi sama seperti saat dulu bertemu. Ada kerutan baru, ada cahaya yang padam, dan ada tatapan yang tak bisa diartikan selain dengan kesepian.

“Aku pernah percaya, bahwa semua yang patah akan tumbuh kembali,” kata perempuan itu. “Tapi kadang, yang tumbuh hanya bayang-bayangnya saja.”

Lelaki itu tersenyum getir. Ia duduk kembali, memeluk kotak kayu itu seperti seorang anak kecil memeluk kenangan ibunya.

Tentang penulis:

Dokumentasi pribadi Mauli

Maulidya Hanifah adalah siswi kelas 9 di SMPN 3 Malang. Ia aktif dalam organisasi OSIS dan menjabat sebagai Wakil Ketua BDI. Maulidya juga menjadi bagian dari tim kader literasi sekolah, tak heran ia sering terlihat membaca buku di Perpustakaan Bintaraloka.

Dari Alien hingga Persahabatan, Cerita Nobar Film “Home” Bersama Siciput

Nobar lagi ! Setelah sekitar dua bulan program nonton film bareng di perpustakaan terhenti, pada hari Jumat (23/05) kegiatan tersebut dilaksanakan kembali di Perpustakaan Si Ciput SMP Negeri 3 Malang.

Kegiatan nobar ini sempat terhenti karena libur sekitar lebaran juga banyaknya agenda ulang tahun dan ujian kelas sembilan.

Kali ini film yang ditayangkan adalah Home, film animasi dari Amerika Serikat dengan  genre komedi, fiksi, dan ilmiah.

Film yang dirilis pada 2015 bercerita tentang ras alien dengan nama Boov yang akan menyerang bumi untuk membangun rumah baru mereka dengan alasan karena  sebelumnya mereka diserang oleh bangsa Gork.

Nobar, dokumentasi Siciput

Sesampai di bumi, Oh  salah salah satu anggota mereka membuat kesalahan dengan  memberitahu kepada bangsa Gork titik koordinat bumi.

Akibatnya bangsa Gork ikut datang ke bumi yang jadi tempat pelarian  Boov.

Oh pun menjadi buronan bagi bangsa Boov lainnya karena kesalahan yang telah ia perbuat.

Dalam pelariannya, Oh bertemu dengan anak manusia bernama Tip yang benci dengan Boov karena gara gara mereka ia terpisah dengan ibunya.

Nobar, dokumentasi Siciput

Meski jadwal tayang yang seharusnya dimulai jam setengah satu, dimajukan menjadi jam setengah sepuluh karena hari itu siswa pulang lebih awal, hal tersebut tidak mengurangi antusias siswa untuk mengikuti acara nobar.

Selama menonton film siswa didampingi tim perpustakaan yaitu Pak Putra, Bu Ayu, Bu Ratri dan Bu Eka.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari film Home ini. Tentang persahabatan, kasih sayang juga saling menghargai.

Sumber gambar : Showpoiler

Film ini sangat menginspirasi kami untuk tidak membeda bedakan teman, dan saling menghargai antar sesama makhluk hidup. Kita tidak boleh menganggap remeh seseorang, karena bisa jadi seseorang itu yang bisa mengubah masa depan kita menjadi lebih baik,” demikian diungkapkan oleh Darrel kelas 8.1.

Ketika Nyinyir Tetangga Jadi Hiburan di Layar Lebar, Review Film “Cocote Tonggo”

Jam masih menunjukkan pukul 14.00 siang. Suasana Dieng Cineplex sudah begitu ramai. Maklumlah akhir pekan. Berdua saya dengan seorang teman segera membeli dua tiket. Aha, sesuai rencana hari itu kami akan menonton film Cocote Tonggo.

Rasa tertarik untuk melihat film ini berawal dari potongan potongan film yang selalu muncul di Instagram saya.

Sepertinya lucu ini Bu, ayo lihat?” ajak saya pada teman saya, dan langsung di iyakan. Wuih, senangnya… Kapan lagi bisa nonton bareng seperti ini.

Ketertarikan pada film ini semakin bertambah ketika Kompasianer Siska Artati mengajak saya nonton film ini.. he..he.. . Waduh, tidak terbayangkan bagaimana seandainya saya dan Mbak Siska nonton bareng. Ramai pasti..

Belum selesai, kira kira seminggu yang lalu ada sebuah bus besar berhenti di depan hotel dekat sekolah saya. Bus dengan tulisan Cocote Tonggo. Wah, bus ini seolah ngawe awe mengajak saya menonton film ini.

Bus Cocote Tonggo, dokumentasi pribadi

Film dibuka dengan lagu dangdut Jacky yang diputar dari sebuah tape recorder yang digeledek keliling kampung. Lagu yang pernah dipopulerkan Rita Sugiarto di kisaran tahun 80 an ini langsung membuat kami tersenyum. Feel-nya langsung kena.

Lagu Jacky, orang orang kampung yang ribut mau melihat persiapan shooting film terasa begitu ramai. 

Rupanya hari itu memang ada acara shooting pembuatan iklan untuk promosi Jamu Djoyo milik Ibu Tien, salah satu penduduk kampung tersebut.

Di awal film sudah tampak betapa sirik dan julidnya beberapa warga kampung yaitu Bu Pur dan teman temannya pada keluarga Bu Tien. Komentar komentar pedas selalu diberikan oleh Bu Pur atas apapun yang dilakukan Bu Tien dan Murni anaknya.

Cocote Tonggo, sumber gambar : Kapanlagi.com

Cocot dalam bahasa Jawa artinya mulut tapi dengan konotasi kasar.  

“Cocote Tonggo” artinya cibiran tetangga. Makanya tak heran sepanjang film ini kita disuguhi dengan ulah tetangga yang suka mencibir pada orang lain. Tetangga yang suka nyinyir dan selalu sibuk menggunjing orang lain.

Film dengan durasi kira- kira dua jam ini bercerita tentang pasangan suami istri , Luki (Denis Adhiswara) dan Murni (Ayu Shita) yang mewarisi usaha toko jamu dari Bu Tien. 

Toko Jamu kesuburan yang semula laris itu semakin menurun pembelinya karena Murni yang sudah menikah selama lima tahun belum juga dikaruniai anak. Bagaimana mungkin penjual jamu kesuburan sendiri belum juga punya anak?

Kondisi Murni yang demikian ini dipakai Bu Pur dan teman- temannya untuk memojokkan dan menekan Murni secara langsung ataupun lewat sosmed, dan berakibat toko jamu semakin sepi.

Dengan niat agar toko jamu ramai kembali, Murni dan Lukipun mengikuti program hamil.

Tidak cukup itu, usaha dilanjutkan dengan ke dukun bayi bahkan mencari tanaman parijoto.

Parijoto adalah tanaman di sekitar makam Sunan Muria yang dipercaya bisa meningkatkan kesuburan.

Suasana dan konflik makin ramai ketika Luki menemukan bayi di depan rumah, dan Murni memutuskan untuk pura-pura hamil agar Toko Jamu Djoyo ramai kembali.

Dalam bioskop, dokumentasi pribadi

Sandiwara akhirnya berakhir dan membuka sebuah sejarah masa lalu tentang mengapa Bu Pur begitu membenci keluarga Murni. Sandiwara yang ternyata juga  membongkar aib dari keluarga Bu Pur sendiri.

Lalu bagaimana akhir kisah ini?  Apakah Murni dan Luki dikaruniai anak?

Sepertinya menonton film ini terasa lebih mengasyikkan. 

Dari awal hingga akhir film ini sukses mengajak para penontonnya tertawa. Dialog Jawa yang kental, ungkapan- ungkapan spontan yang muncul, lagu- lagu dangdut lawas dari tape recorder nya Mbah Mila membuat film terasa segar. Meski penuh dengan bahasa Jawa tapi penonton tak usah khawatir karena ada terjemahannya.

Kehadiran Yati Pesek (Mbah Mila), Asri Welas (Bu Pur), Bayu Skak ( sebagai Pak Gatot, meski muncul cuma sebentar), Sundari Soekotjo (Bu Tien), Brilliana Arfira (Bulik Yayuk), Maya Wulan (Bu Heri), Putri Munjo (Bu Wira) membuat film ini terasa begitu ramai. Ya, nuansa julid tetangga di kampung begitu terasa.

Khasnya film Bayu Skak, dialog yang ada ‘misuh’ nya kadang muncul. Bagusnya dalam film ini misuhnya sudah jauh berkurang, tidak seperti di film Sekawan Limo misalnya.

Sebagai hiburan di akhir pekan film ini cukup recomended tapi kurang cocok untuk anak -anak. 

Dokumentasi pribadi

Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari film ini, yaitu jangan biarkan lingkungan sekitar  mendikte kita dalam melangkah.

Tidak perlu menghiraukan segala omongan atau komentar orang lain, asal kita yakin dengan apa yang kita lakukan dan tetap berada di atas kebenaran, terus saja berjalan. 

Ya, kebahagiaan kita tergantung kita sendiri. Jangan biarkan orang lain ikut menentukan standar kebahagiaan kita.

Salam akhir pekan