Catatan Kecil di Kala Hujan, Dari Atap Bocor hingga Listrik Njeglek

Di musim penghujan seperti ini, tiap hari jelang jam dua siang, sudah bisa dipastikan  Malang akan tertutup mendung. Beranjak menuju jam tiga, mendung berubah jadi hujan yang langsung membasahi kota.

Jas hujan, jaket adalah dua hal yang tidak boleh dilupakan. Lebih lebih tiap hari saya pulang jam tiga sore. 

Perjalanan pulang ditemani hujan adalah hal yang biasa. Jalanan macet, karena jam pulang sekolah atau bekerja, ditambah dengan galian di beberapa ruas jalan karena perbaikan gorong-gorong membuat perjalanan saat hujan terasa lebih lamban.

Berkendara di saat hujan tidak masalah, namun demikian jika hujan deras sekali atau disertai petir saya lebih baik menunggu di sekolah. Ya, demi keamanan, karena banyak pohon-pohon tua di sepanjang jalan, yang rawan sekali jika diterjang hujan deras.

Bisa roboh atau patah dahan yang bisa membahayakan pengendara yang lewat.

Datangnya musim hujan selalu diharapkan. Ya, hujan adalah rahmat. Ada keberkahan dalam tiap tetesan air hujan.

Meski demikian sering juga timbul masalah jika hujan terlalu deras. 

Menurut Prediksi BMKG Musim Hujan 2025/2026 di Indonesia akan mengalami puncaknya  di sekitar bulan November hingga Desember. Orang Jawa sering menamakan Desember itu artinya gedhe-gedhene sumber (mata air sedang dalam kondisi yang paling besar). Makanya bulan-bulan ini seolah tiada hari tanpa hujan.

Malang di kala hujan, sumber gambar : InfoMalang.com

 Masalah klise yang timbul di rumah saya saat hujan yang terlalu deras adalah adanya kebocoran di titik titik tertentu. Maklumlah rumah sudah lawas, lama tak direnovasi, gentengnya gampang melorot 

Belum lagi dengan ulah kucing yang suka kejar-kejaran di atas genting. Kalau di atas ada “glodhakan” alamat ada genting melorot lagi. Jika sudah demikian pasti kami akan meminta tolong pada Pak Anto tukang langganan kami untuk menata genteng  ditambah melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang lain.

Ada satu peristiwa yang membuat kami  minta bantuan Pak Anto di bulan November ini, dan ini bukan masalah bocor.

Ketika itu hari Minggu. Hujan sangat deras dan petir bersahut-sahutan. Lewat grup-grup pertemanan informasinya hujan deras merata di mana mana.

“Medeni ya Le,” kata saya ketika membaca di ruang tengah bersama anak saya.

Hujan yang begitu deras membuat atap kamar atas yang terbuat dari galvalum menimbulkan suara yang ‘ramai’.

“Duaaar..!” Sebuah petir mengagetkan kami.

“Hape dimatikan!” kata saya.

Ngeri rasanya mendengar suara petir sedahsyat itu. Katanya pas hujan berpetir kita tidak boleh hape an. 

Tak lama kemudian..

“Dhuaaar,” sebuah petir yang lebih keras membuat kami terkejut.

“Astaghfirullah,” teriak saya.

Dan “sreeet!” tiba- tiba lampu mati. Sekilas tadi saya seperti melihat secercah cahaya di belakang kulkas.

Hari itu masih menunjukkan pukul tiga, tapi suasana rumah gelap seperti Maghrib.

“Coba cek ke depan!” 

Anak saya segera melakukan pengecekan. 

MCB (Mini Circuit Breaker) adalah perangkat keamanan yang berfungsi untuk memutus aliran listrik secara otomatis ketika terjadi kelebihan beban (overload) atau korsleting (hubungan singkat.

MCB, dokumentasi pribadi

“Ooh, njeglek!” kata anak saya ketika melihat MCB dalam posisi “off”. 

Begitu tombol di “on” kan ternyata listrik njeglek lagi.

“Ada yang konslet, Le,” 

Ya, pengalaman saya kalau MCB tidak bisa di “on” kan berarti ada yang konslet.

Saya segera menelepon tukang langganan dan memintanya untuk datang ke rumah.

“Nunggu terang, nggeh,” kata Pak Anto

“Nggeh,”

Akhirnya sore itu kami tidak bisa berkegiatan seperti biasanya.

Hujan deras ditambah lampu mati, sumpek sekali rasanya. Mau ke dapur untuk sekedar merebus air atau memasak jadi enggan.

Untungnya habis Maghrib Pak Anto datang dengan membawa sebuah senter besar. Aih, orang yang  benar benar kami tunggu.

Tanpa banyak cakap, setelah tahu masalahnya Pak Anto mulai memeriksa aliran listrik, lampu lampu termasuk kabel televisi dan kulkas di rumah. 

“Tolong semua lampu dan alat listrik di “off” kan. Steker dicopot semua,” kata Pak Anto pada anak saya.

Sesudah semua di “off” kan, Pak Anto menghidupkan MCB. Aman. Tidak “njeglek” seperti tadi.

“Nah, sekarang kita hidupkan lampunya satu persatu mulai dari ruang tamu,” katanya

Anak saya menghidupkan lampu satu persatu. Jika tidak “njeglek” berarti aman, jika “njeglek” berarti lokasi konslet ada di situ.

Setelah semua lampu dihidupkan, ternyata  aman, nah giliran terakhir mau menghidupkan kulkas ternyata anak saya mendapati stop kontak kulkas hangus separo. 

“Berarti lokasi konslet ada di situ,” kata Pak Anto.

Memperbaiki stop kontak, sumber gambar: Empat Pilar.com

MCB kembali dimatikan dan Pak Anto membongkar stop kontak sementara anak saya bagian membawa senter.  Setelah dibetulkan akhirnya semua teratasi.

“Ini kabelnya terlalu kecil untuk kulkas Mbak, harus diganti,” katanya.

Menurut Pak Anto sambaran petir dapat menciptakan lonjakan tegangan listrik yang sangat besar dan jika ukuran kabel terlalu kecil maka ia akan terbakar.

Oh, makanya tadi pas hujan deras suara “sreeet…. !” sebelum mati lampu muncul dari arah kulkas, pikir saya.

Saran Pak Anto berikutnya kami harus mengganti kabel kabel yang tidak sesuai ukurannya supaya lebih aman.

Tipsnya lagi jika terjadi korsleting dan MCB mati atau “njeglek” adalah :

1. Cabut semua peralatan elektronik. Cabut semua steker dari stop kontak, terutama jika kita  curiga ada salah satu peralatan elektronik yang rusak.

2.  Periksa dengan hati-hati kabel-kabel di sekitar area yang bermasalah. Cari tanda-tanda kerusakan seperti kabel yang terkelupas, terbakar, atau sambungan yang longgar. 

3. Periksa juga stop kontak, sakelar, dan kap lampu. Jika ada yang meleleh atau terlihat rusak, segera perbaiki atau ganti. 

4. Ganti atau perbaiki bagian yang rusak dan sebaiknya menghubungi ahlinya.

“Matur nuwun, Pak Anto,” 

Kami mengantar Pak Anto sampai pintu ketika semua sudah beres.

“Sami-sami,” 

Pak Anto segera pulang menembus gelapnya malam. Hujan masih turun rintik-rintik.

Sungguh hari yang luar biasa. Hari itu kami mendapat pelajaran berharga agar waspada dengan berbagai kejadian ketika hujan deras. Hari ini tidak ada masalah bocor, ternyata ganti masalah listrik.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip doa yang diucapkan Nabi ketika hujan turun. 

Allahumma shoyyiban nafi’an” yang artinya “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat”. Ya, semoga hujan yang turun membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.

Sekedar berbagi cerita, salam hangat 😊

Konsultasi Pengisian Survey IPLM ke Perpustakaan Umum Kota Malang

Pada hari Selasa (18/11) perpustakaan SMP Negeri 3 Malang mengirimkan Ibu Yuli Anita dan Ibu Eka untuk melakukan  konsultasi  pengisian survey ILPM ke Perpustakaan Umum Kota Malang.

IPLM adalah singkatan dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, sebuah ukuran statistik untuk menilai sejauh mana pemerintah daerah dan masyarakat berupaya membina perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat guna menciptakan budaya literasi. 

Indeks ini mengukur berbagai aspek, seperti pemerataan layanan perpustakaan, koleksi, dan tenaga perpustakaan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui literasi. 

Pengisian IPLM, dokumentasi pribadi

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur dan mengevaluasi upaya peningkatan literasi masyarakat, terutama melalui pengembangan perpustakaan. 

ILPM melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota), lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan media massa. 

Hasil yang diperoleh dari survey ini ke depan akan dijadikan dasar penyusunan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui literasi dan akses terhadap informasi. 

Sesudah pendampingan pengisian survey dilaksanakan dengan menyertakan berbagai bukti dukung untuk keabsahan data yang dituliskan di survey.

Terima Kasihku Untukmu, Guru-guruku

Selamat Hari Guru. 

Peringatan Hari Guru selalu istimewa. Betapa tidak? Bunga dan ucapan bertebaran di mana-mana. Dengan senyum hangat siswa memberikan setangkai bunga disertai kartu ucapan dengan tulisan tangan mereka. Manis sekali.

Hal lain yang istimewa adalah kami para guru menjadi petugas upacara. Ya, tugas yang biasanya dilaksanakan siswa bergantian setiap kelas, hari itu dilaksanakan oleh para guru. 

Mulai dari komandan, ajudan, danton, pengibar bendera, membaca teks Pancasila dan UUD 1945, termasuk juga paduan suara.

Dalam upacara hari guru kali ini saya bertugas menjadi tim paduan suara bersama bapak/ibu guru yang lain.

Sebuah tugas yang sangat  menyenangkan. Terutama saat menyanyikan lagu Hymne Guru dan Terima Kasihku. Ya, kedua lagu itu selalu mengingatkan saya pada sosok-sosok guru saya. Guru-guru hebat yang membuat saya mengikuti jejak beliau semua.

Seiring berkumandangnya lagu-lagu itu, kenangan akan Bapak dan Ibu guru saya langsung terlintas satu demi satu. 

***

Ucapan dari siswa, dokumentasi pribadi

Berawal dari guru-guru SD saya. Kelas satu saya diajar oleh kepala sekolah. Bapak Chasir namanya. Biasanya guru kelas satu adalah ibu guru, tapi tidak dengan SD saya. 

Bapak Chasir mengajar dengan menggunakan Bahasa Jawa. Sebuah tongkat kecil selalu ada di tangan beliau. Kadang untuk menunjuk tulisan di papan tulis, kadang juga untuk memukul papan tulis jika kami ramai. 

Meskipun sabar, beliau sangat tegas, sehingga kelas “sirep” saat diajar beliau. Bapak Chasir mengajar kami membaca dari nol. Ya, saat itu keluar dari TK kami hanya kenal beberapa huruf, sama sekali belum bisa membaca.

Dengan telaten Pak Chasir mengajar mulai dari mengenal huruf, suku kata hingga kalimat sederhana.

Selain Bapak Chasir, semua guru SD saya yang merupakan guru kelas mempunyai keunikan masing-masing. Ibu Sur yang suka matematika, Bapak Suhud yang pintar mendongeng dan suka pelajaran sejarah, Ibu Susiana yang pintar menyanyi dan membuat kami semua hafal sebagian besar lagu-lagu Nasional, juga Ibu Sunarti yang suka Bahasa dan kerap meminta kami untuk menulis halus dan mengarang.

Setelah perayaan Hari Guru bersama siswa, dokumentasi pribadi

Masuk ke jenjang SMP, saya menghadapi guru pengajar yang semakin banyak. Ya, tidak seperti di SD, sekarang satu mapel diajar oleh satu guru. 

Guru yang meninggalkan kesan yang begitu dalam bagi saya adalah Ibu Sudarmilah.  Guru matematika sekaligus wali kelas saya yang sangat disiplin dan konsisten. 

Tugas-tugas dari Ibu Sudarmilah selalu banyak, karena menurut beliau matematika adalah latihan dan latihan. Tanpa latihan kita tidak akan pintar matematika.

Meski banyak tugas, yang saya salut semua tugas selalu diperiksa, dan dibahas, bahkan ditandatangani di akhir bab. Jadi kami benar- benar mengerjakan tugas- tugas tersebut, alias tidak berani sembrono.

Selain Ibu Sudarmilah guru Bahasa Inggris selalu membangkitkan kenangan dalam benak saya. 

Pak Siswondho guru bahasa Inggris kami yang mengajar kami lagu Edelweiss. Sebuah lagu yang membuat saya cinta pada pelajaran Bahasa Inggris. Bukan hanya karena terpikat oleh syairnya, lagu itu kesukaan bapak saya.

Masuk SMA saya mendapatkan guru matematika yang “keras” juga. Namanya Bu Hastuti. Tapi justru karena Ibu Hastuti saya akhirnya masuk kuliah di jurusan matematika, meski sebenarnya mapel yang benar-benar saya sukai adalah sejarah dan Bahasa Inggris.

Tentang Bahasa Inggris, guru saya Pak Bambang benar-benar istimewa. Pembelajarannya selalu menarik, plus pintar berimprovisasi dalam pembelajaran, misal dengan menirukan suara Pak Raden yang ada di film Si Unyil.

Satu lagu yang selalu membuat saya teringat beliau adalah The Way We were dari Barbara Streisand. Lagu ini sering beliau nyanyikan di event-event tertentu misalnya gebyar seni.

Lulus SMA saya masuk IKIP Malang jurusan Matematika, dan akhirnya menjadi guru matematika hingga sekarang.

Saat reuni SMA lintas angkatan setahun yang lalu, saya bertemu dengan Pak Bambang guru Bahasa Inggris saya. Sungguh saat yang sangat mengharukan ketika saya salim pada beliau dan beliau memanggil saya dengan akrab. 

“Yuli Anita, kamu di mana sekarang,”

“Saya di Malang, jadi guru SMP, Pak,” jawab saya senang.

“Oh ya, ngajar apa?” tanya beliau surprise.

“Matematika,” jawab saya lagi

“Kok matematika? Ha…ha..,” 

Saya ikut tertawa mendengar komentar beliau kala itu, mungkin maksudnya kok bukan Bahasa Inggris seperti beliau.

***

Bersama teman setelah menerima award, dokumentasi pribadi

Perayaan hari guru hari ini juga ditandai dengan pemberian award untuk guru-guru dengan kategori tertentu. Ada guru terdisiplin, terkreatif, terkeren, bahkan Teacher of the Year. Penentuan guru yang terpilih diambil dari hasil polling suara siswa.

Suasana demikian meriah ketika guru-guru yang mendapat award maju ke depan diiringi tepuk tangan siswa.

Kini, saya menyadari bahwa setiap kali saya berdiri di depan kelas, berinteraksi dengan siswa, ada sedikit dari Pak Chasir dalam kesabaran saya, dari Bu Sudarmilah dalam kedisiplinan saya, dan dari Pak Bambang dalam keceriaan mengajar saya. 

Mereka telah menyerahkan tongkat estafet ini tanpa saya sadari. Dan hari ini, dengan menjadi bagian dari lagu Hymne Guru, saya pun turut mengalirkan inspirasi itu untuk generasi berikutnya, menyanyikan kembali Terima Kasihku yang tak terhingga untuk para pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidup saya.

Sebuah Siang yang Manis Bersama Es Puter

Minggu siang itu hawa terasa begitu gerah. Mungkin karena mendung yang terus menggantung sementara hujan belum juga turun.

 Setelah seharian sibuk membuat video untuk persiapan sebuah event lomba, kami berdiskusi di halaman sekolah tentang langkah lebih lanjut untuk memenuhi tugas dari event tersebut.

Ting ting…ting ting….

Sebuah gerobak berwarna putih tiba-tiba melintas. Gerobak dengan bagian depannya banyak gelas yang ditata dengan cantik. 

“Pak.., tumbas..,” 

Sebuah teriakan membuat si pemilik gerobak mendatangi kami yang sedang berada di halaman sekolah.

“Es Puter Moro Seneng” sebuah tulisan besar berwarna merah ada di bagian depannya.

“Pinten Bu?”

Tanya Si penjual ramah. 

Setelah teman kami menyebut sebuah angka tertentu bergegas si Bapak menyiapkan cup-cup plastik kosong dan mengisi dengan bahan pelengkap es puter.

Potongan roti tawar, agar-agar dan bubur mutiara mulai dimasukkan dalam cup yang tersedia. Warna merah, putih, pink dan hijau berpadu yang kemudian ditutup dengan es puter yang berwarna kecoklatan. Hmm, maknyus tenan.

Cerita tentang Es Puter

Es puter, dokumentasi pribadi

Es puter adalah salah satu dessert khas Indonesia yang sangat populer. Kuliner ini sering dijual di pinggir jalan dengan gerobak ataupun sepeda.

Penjualnya biasanya menggunakan tabuh kecil semacam gong sehingga ada bunyi dung.. dung atau tung… tung, sehingga es puter dinamakan es tung tung, atau es dung dung. Namun berbeda dengan kali ini, yang dibunyikan adalah gelas dengan menggunakan sendok sehingga mengeluarkan bunyi ting..ting…

 Es puter sudah sejak lama ada di Indonesia. Konon es ini tercipta karena keinginan masyarakat Indonesia untuk menikmati es krim yang tidak kesampaian.

Es krim sendiri diperkenalkan oleh orang Belanda pada pribumi. Es krim tersebut harganya mahal karena menggunakan susu sebagai bahan dasarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut dibuatlah es  dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih terjangkau.

Pembuatan es puter tidak menggunakan susu tetapi santan. Ya, santan adalah bahan asli Indonesia sangat mudah didapat sehingga es puter ini menjadi jajanan yang murah meriah.

Penamaan es puter ini diambil dari cara pembuatannya. Es puter dibuat dengan cara 

 memasukkan semua adonan yang terdiri atas santan, gula, garam dan vanili bubuk ke dalam sebuah wadah tabung yang diselimuti dengan es batu dan garam.

Wadah tabung ini akan terus diputar sambil mengaduk adonan. Nah, proses inilah yang membuat kuliner ini akhirnya dinamakan es puter.

Berbeda dengan es krim yang creamy dan lembut, es puter terasa lebih kasar dan segar. Dalam penyajiannya es puter kadang dicampur dengan tambahan yang lain seperti meses, nangka, agar agar, roti atau mutiara.

Gerobak es puter Moro Seneng, dokumentasi pribadi

Sambil menunggu es puter diracik, saya sempat berbincang bincang dengan bapak penjualnya.

Menurut pengakuannya, bapak ini berjualan es puter di sekitar SMP Negeri 3 sejak tahun 1986. 

Luar biasa. Berarti sudah 39 tahun beliau menekuni usaha berjualan es puter ini.

Meracik es puter, dokumentasi pribadi

“Saat itu es puter berapa harganya, Pak?” tanya saya.

“Wah, Tasik 150 Bu..,” katanya sambil tertawa. 

“Wow,  sudah naik 30 kali lipat ya,” kata saya. Ya, harga satu cup es puter sekarang  lima ribu rupiah

Perbincangan langsung berhenti ketika enam cup es puter tersaji manis di meja kami. Luar biasa. 

Rasanya yang gurih, dingin dan sedap membuat siang itu terasa sedikit segar

Setelah merapikan kembali dagangannya, bapak dengan gerobak putih itu akhirnya meninggalkan sekolah untuk melanjutkan perjalanannya. 

Menikmati es puter, dokumentasi Jojo

Sesendok demi sesendok, manisnya es puter masih setia menemani perbincangan kami siang itu. Obrolan singkat dengan bapak penjual es puter siang itu membuka mata kami bahwa di balik kesederhanaan es puter, tersimpan nilai-nilai ketekunan dan warisan budaya kuliner yang telah menghidupi dan menyegarkan banyak generasi. 

Esnya mungkin habis dalam beberapa menit, namun kisah tentang “Moro Seneng” dan bapak penjualnya akan setia dalam ingatan kami.

Pelajaran Berharga Buat Axel

Cerpen ini dibuat untuk partisipasi dalam lomba cerpen anak Pulpen

Axel menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sungguh, ia tak berani menatap mata Bu Inggrid. Guru matematika sekaligus wali kelasnya.

Bu Inggrid yang biasanya ramah dan hangat pada Axel sekarang begitu marah. Tanpa berkata-kata memang. Tapi tatapan Bu Inggrid sudah cukup mengungkapkan semuanya.

Sebuah kertas putih disodorkan oleh Bu Inggrid. Kertas  HVS ukuran A4 dengan tulisan tangan dan tanda tangan. Di situ tertera namanya. 

Di bagian atas tertulis tanggal pembuatan surat itu. Ya, baru seminggu yang lalu surat itu dibuat Axel karena melanggar peraturan sekolah, dan kini ia membuat pelanggaran lagi yang sejenis.

Axel sebenarnya bukan anak yang bodoh. Pintar bahkan. Nilai nilainya selalu di atas KKM sekolah yaitu 80. Dalam setiap pembelajaran Axel selalu banyak menjawab. Bahkan menurut para guru ia. Adalah anak yang paling cepat daya tangkapnya. 

Karena keistimewaan ini pada saat perayaan hardiknas kemarin ia dipercaya mewakili kelasnya dalam lomba cerdas cermat antar kelas, dan menang. Sungguh, Axel sebenarnya kebanggan Bu Inggrid. Karena itu pelanggaran yang dibuatnya benar-benar membuat Bu Inggrid kecewa.

Sebenarnya apa pelanggaran yang dibuat Axel? Tidak mengerjakan PR. Ya, hanya karena tidak mengerjakan PR ia dianggap melanggar. Sepele sekali. Bukankah setiap ia ditanya tentang pelajaran matematika ia selalu bisa menjawab? pikir Axel.

Terdengar helaan nafas Bu Inggrid. Axel merasa benar- benar tersiksa dengan diamnya Bu Inggrid.

“Kenapa tidak mengerjakan PR lagi?” tanya Bu Inggrid dingin. 

Axel merasakan jantungnya berdebar-debar. Tangannya dingin. 

“Ma maaf, Bu…, saya sore sudah ketiduran,” jawabnya bohong. 

“Tidur jam berapa?” tanya Bu Inggrid lagi.

“Ha..habis Isyak Bu, badan saya demam dan ibuk memberi saya obat yang membuat saya mengantuk,” jawab Axel terbata-bata. 

Duuuh, bohong lagi, keluhnya dalam hati.

Tiba tiba terbayang dalam benaknya, semalam ia tidur pukul dua belas malam. Mabar dengan Akmal membuatnya lupa jam tidur. Bahkan peringatan dari ibuk pun ia anggap angin lalu.

“Tulis lagi janjimu di situ, ingat, ini peringatan kedua,” sambung Bu Inggrid sambil menyodorkan sebuah bolpoin.

Peringatan kedua. Ini tidak main-main! Jika sampai ada pelanggaran lagi, ia akan mendapat peringatan ketiga, dan itu berarti ayah atau ibuknya akan dipanggil ke sekolah untuk membicarakan kenakalannya. Duh..

***

Matahari kali ini terasa begitu panas menyengat. Axel segera meletakkan tas dan meraih gelas untuk mengambil air putih dari dispenser.

“Sudah pulang, Le?”

“Iya, Buk, panas sekali rasanya,” jawab Axel sambil meminum air putih yang habis dalam tiga tegukan. Alhamdulillah, segar sekali rasanya.

” Ayo makan dulu, habis itu Dhuhuran,” kata Ibuk sambil membuka tudung saji. Hmm, sayur asem, tempe, tahu, sambal dan ikan asin membuat cacing-cacing di perutnya menari nari. 

Tanpa disuruh dua kali Axel segera duduk dan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi.

“Masakan ibuk memang top, ” kata Axel sambil mengacungkan jempolnya. Lezatnya masakan ibuk membuat Axel lupa dengan peristiwa di sekolah tadi pagi.

“Le, habis makan segera ke Bapak, tadi beliau pesan kamu harus ke pasar ambil sawi,” kata Ibuk sambil menuju dapur mencuci piring piring kotor.

Bapak Axel adalah pedagang pangsit terkenal di kampung. Banyak orang suka dengan pangsit ayam Pak Marno, bapak Axel. Harganya murah tapi rasanya sangat sedap.

“Ke Pasar Mergan?” tanya Axel segan. Aduh, panas panas begini, Axel merasa ngantuk sekali. Apalagi semalam ia kurang tidur.

“Iya Le, hari ini ada pesanan pangsit, agak banyak untuk pertemuan di Balai RW. Tadi Pak RT ke sini,” 

Axel segera beranjak. Setelah mengambil wudhu dan sholat, direbahkan tubuhnya di kamar tengah. Suara detik jam berpadu dengan semilir angin dari jendela tiba- tiba membuat metanya terasa ngantuk. Tidak dihiraukannya Pussy yang bergelung manja di dekatnya. Sayup-sayup seperti ada suara Akmal yang mengajaknya meneruskan mabar yang belum tuntas semalam.

“Axel..!” suara itu tiba-tiba membangunkannya. Suara yang sangat dikenal Axel. Ya , suara bapak! Tiba tiba saja Axel ingat sawi dan pasar Mergan.

Mati aku, pikirnya kalut.

Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang. Berarti sudah hampir tiga jam ia tertidur.

Cepat-cepat Axel menuju ke bapak di ruang tengah.

“Dari mana saja, kamu?” tanya bapak tidak ramah. Ada titik-titik keringat di dahi bapak. Wajah bapak agak merah karena terlalu lama di depan kompor.

“Ma..maaf, Pak, Axel tertidur,” katanya penuh sesal.

Bapak tidak mau mendengarkan jawabannya. Tanpa melihat Axel, bapak segera menuju ke kamar. Tampak sekali bapak lelah sehabis memasak pesanan pangsit untuk pertemuan di Balai RW habis Maghrib nanti.

Dengan langkah gontai Axel menuju kamar mandi. Sholat Ashar pun belum dilakukannya, padahal jam sudah menunjukkan pukul lima lebih.

Habis Asharan suasana terasa sepi. Tidak ada gurau bapak maupun ibuk sore ini.

Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk lewat HPnya. Ada pesan masuk

 Axel melirik sekilas. Dari Akmal. 

Uh, paling mau mengajak main lagi, pikir Axel malas.

Axel diam di kamarnya sambil menunggu azan Maghrib tiba. Sayup suara qiroah dari langgar membuat hatinya kian sedih. Sungguh, ini hari yang buruk, pikirnya. Pagi-pagi dimarahi Bu Inggrid, dan sore didiamkan oleh bapak. Padahal pada kedua nya Axel sangat hormat dan sayang.

“Axel, sedang apa, Le?” tanya Ibuk sambil duduk di sebelahnya.

“Nunggu Maghrib , Buk,” jawabnya lirih. Ibuk mengelus kepalanya.

Ah, Axel jadi ingin menangis. Sepertinya cuma Ibuk yang selalu baik padanya.

Perlahan ibuk bercerita bahwa tadi bapak mencari-cari dirinya untuk meminta tolong membelikan sayur buat kelengkapan pangsit. Tapi rupanya ia tertidur begitu pulas, hingga meski berkali -kali dibangunkan ia tidak juga membuka mata. Tidur terlalu malam membuatnya ngantuk luar biasa.

Axel tiba-tiba ingat nasehat guru olah raganya bahwa tidur adalah sesuatu yang harus dibayar. Jika kita kurang tidur, tubuh kita akan terus menagihnya dengan terus merasa ngantuk.

“Axel tadi malam tidur jam berapa?” tanya Ibuk kemudian. 

Pertanyaan yang sangat singkat , tapi membuat Axel kebingungan. Betapa tidak? Kemarin jam sembilan ia sudah masuk kamar dengan alasan akan segera tidur. Tapi kenyataannya di dalam kamar ia mabar dengan Akmal sampai larut malam.

“Jam berapa?” tanya Ibuk lagi

 “Jam.. duabelas, Buk…,” jawabnya lirih.

Ibuk tampak terkejut. 

“Mengerjakan tugas?” tanya Ibuk dengan tatap mata penuh selidik.

Axel menunduk.

“Bu..bukan Buk.., Axel mabar sama Akmal,” jawabnya.

“Astaghfirullah Le…, jadi tidur sampai jam segitu hanya untuk mabar? Lalu apa manfaat yang kamu dapatkan?” suara ibuk agak meninggi.

“Ma..maafkan Axel Buk…,” 

Kali ini Axel benar benar menangis. Ibuk, orang yang terbaik padanya ternyata juga marah. Betapa besar kesalahan yang telah diperbuat dirinya.

Lama keduanya diam. Ibuk tampak begitu kecewa. Axel menunduk dengan penyesalan yang tiada habis-habisnya.

“Buk..Axel minta maaf..,” katanya lagi sambil mencium tangan ibuk. Ibuk mengelus kepala Axel.

Sebuah notifikasi masuk WhatsAppnya. Dari grup kelas. Bu Inggrid.

“Anak- anak, jangan lupa kerjakan PR, dan tidur tidak boleh terlalu malam.., ingat salah satu pesan dari tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat adalah tidur cepat..,” kata Bu Inggrid dalam pesannya. 

Penyesalan dalam diri Axel kian bertambah. Hari itu Axel belajar untuk tidak mengikuti kesenangan sesaat. Ya, mengejar kesenangan sesaat membuat Axel harus menghadapi berbagai macam masalah. 

Juga satu hal lagi yang sangat penting, jangan suka mengabaikan nasehat orang-orang yang menyayangimu, terutama kedua orang tua dan gurumu.

#cerpenanak

# pulpen

#sayembarapulpenxxvii;