Membuat Topeng Malangan, Bukan Hanya Tentang Mencintai Budaya Malang dan Kearifan Lokal

“Terima kasih Eyang Gatot,”

Demikian yang diucapkan siswa ketika sebuah sesi kegiatan kokurikuler berakhir. 

Sesudah kurang lebih selama sembilan puluh menit siswa diajak belajar tentang sejarah dan filosofi topeng Malangan bersama, acara hari itu ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, guru pendamping dan narasumber.

Belajar sejarah dan filsafat topeng Malangan adalah salah satu sesi kegiatan siswa pada kegiatan kokurikuler. Kegiatan yang fokus pada pembangunan karakter siswa kali ini mengambil tema pembuatan topeng Malangan dan difokuskan pada siswa kelas sembilan.

Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi Topeng peng Malangan sangat penting agar siswa bisa lebih memahami dan menghayati cerita di balik keunikan topeng Malangan, sekaligus lebih menghargai topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara.

Bapak Gatot Kasujono narasumber hari itu adalah seorang seniman sekaligus kolektor topeng Malangan. Beliau menggeluti dunia topeng sejak tahun 1986, dan sampai sekarang memiliki sekitar 1500 koleksi topeng.

“Semua karena tidak sengaja,” tutur Pak Gatot ketika saya bertanya kenapa tiba-tiba jatuh cinta pada Topeng Malangan.

Berawal ketika beliau mendapat tugas untuk kuliah di Jogjakarta sekitar tahun delapan puluhan. “Saya kuliah di Geodesi,” kata Pak Gatot lagi.

“Lha.., dari Geodesi ke Topeng Malangan sepertinya jauh jaraknya ya, Pak?” tanya saya yang disambut dengan tawa Pak Gatot.

Berbincang dengan Pak Gatot , dokumentasi Buz

“Ketika itu saya kan kos, Bu. Nah, pas libur saya merasa bosan, tidak ada yang dikerjakan( istilah sekarang mungkin gabut) di kos kosan, dan akhirnya diajak teman jalan jalan ke Gunung Kidul. Di sana saya menemukan sebuah kampung di mana kegiatan penduduknya mayoritas adalah pembuat topeng. Dari situ rasa cinta saya pada topeng berawal.”

Kecintaan pada topeng diwujudkan Pak Gatot dengan terus belajar. Beliau pernah belajar pada generasi ke empat dari Mbah Moen, seorang maestro Topeng Malangan dari sanggar Asmorobangun Pakisaji Malang.

Setelah pensiun dari Perhutani, Pak Gatot terus aktif di membuat topeng Malangan dan setiap tahun diundang menjadi narasumber Topeng Malangan di SMP Negeri 3 Malang.

Dalam penjelasan pada siswa siang itu  Pak Gatot menerangkan bahwa Topeng Malangan adalah seni tradisional dari Malang, Jawa Timur, berupa seni pertunjukan drama tari yang menggunakan topeng kayu berkarakter. 

Seni ini sudah ada sejak zaman  kerajaan kuno dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta religiusitas yang tinggi. Topeng Malangan sering dipentaskan dengan mengangkat cerita, dengan pementasan yang mengangkat cerita-cerita seperti Panji. 

Warna warni Topeng Malangan mempunyai filosofi tersendiri, sumber gambar: Radar Malang

Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan, contoh : warna merah melambangkan watak pemberani dan pemarah (misalnya, Klana Sewandana), warna putih menggambarkan watak suci, lembut, dan baik hati (misalnya, Dewi Sekartaji), hijau menggambarkan sifat baik hati (misalnya, Panji Asmoro Bangun), kuning menggambarkan watak senang dan gembira (misalnya, Dewi Ragil Kuning) dan warna hitam melambangkan kebijaksanaan.

Acara pemberian materi sejarah dan filosofi topeng Malangan ini berlangsung hangat, lebih-lebih ketika di sela sela acara, seorang siswa dari ekskul menari maju memperagakan tari topeng Bapang 

Antusias siswa ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dari siswa yang dijawab satu persatu oleh narasumber.

Siswa menarikan tari Topeng, dokumentasi Buz
Siswa banyak bertanya di sesi pemberian materi, dokumentasi pribadi

Ya, dedikasi serta rasa cinta Pak Gatot pada topeng Malangan membuat beliau sabar meladeni pertanyaan anak- anak.

“Semoga semakin banyak anak anak yang cinta Topeng Malangan, dan pembuatan topeng supaya diikuti dengan pagelaran tari topeng agar filosofinya semakin terasa,” ungkap Pak Gatot di akhir perbincangan kami hari itu.

Pagelaran Tari Topeng Malangan, sumber gambar: Hotel Tugu Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan

Menjelang pukul dua Pak Gatot segera berpamitan. Kami mengantar beloau sampai depan parkiran. Semangat yang luar biasa. Di usianya yang ke 72, beliau masih naik sepeda motor sendiri dari Jl. Dr Cipto menuju Sawojajar dua.

Hari yang luar biasa. Hari ini kami semua belajar bahwa membuat  topeng Malangan bukan hanya tentang mencintai budaya dan kearifan lokal. Tapi lebih dari itu, ada banyak pelajaran tentang  kesabaran, kesetiaan  dan ketekunan  di dalamnya.

Bahasa Kasih dalam Semangkuk Bubur Kacang Hijau

“Kacang hijau saja,” jawab saya ketika teman saya menyodorkan buku menu pada saya. Siang itu di jam makan siang kami kembali duduk di sebuah cafe dekat sekolah.

“Kacang hijau lagi?” tanya teman saya sambil tersenyum. Sebulan yang lalu saya  makan ke sini dan saya pesan kacang hijau.

Saya ikut tersenyum. “Iya, kacang hijau ,” tambah saya.

Dalam hal makanan atau minuman saya bukan tipe orang yang suka mencoba-coba. Jika suka dengan satu jenis makanan atau minuman saya selalu pesan menu yang sama. Monoton kata anak saya. Setia dan konsisten kata saya.

“Ganti, Buk.. masak itu terus?” tanya anak saya suatu saat. Ketika itu saya diajak makan di suatu tempat dan saya memilih kacang hijau untuk minumnya.

“Gpp, Nduk enak kacang hijaunya,” jawab saya. Anak saya cuma tertawa sambil menuju tempat pemesanan makanan. Alhasil tak terlalu lama satu gelas es kacang hijau tersaji di depan saya, seperti hari ini

Pelan saya mulai mengaduk kacang hijau di depan saya. Kacang hijau yang gurih campur santan, manisnya gula merah, ditambah dengan serutan es dan sedikit susu membuat tampilan hidangan di depan saya kian menggoda.

Sesuap demi sesuap kacang hijau membuat saya terlempar ke masa lalu. Sungguh, bukan tanpa alasan jika saya suka kacang hijau. Tidak hanya karena rasanya yang lezat, namun rasa kacang hijau langsung mengingatkan saya pada ibuk saya.

Ibuk saya bukan orang yang pintar masak. Ya, ibuk selalu tidak punya waktu yang banyak untuk memasak karena ibuk selalu membantu bapak saya menjahit. Karenanya

masakan ibuk selalu sederhana karena harus diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Meski sederhana masakan ibuk selalu lezat luar biasa menurut saya. Yang selalu membuat saya kangen adalah sayur sop, tempe dan tahu serta sambal tomat bikinan ibuk. Sederhana, namun begitu akrab di lidah. Tidak ada ayam atau daging goreng, tapi menikmati masakan ibuk selalu membuat saya ingin tambah dan tambah.

Satu hal yang paling menyenangkan bagi kami adalah ketika ibuk membuat kudapan seperti kolak, dawet dan sejenisnya. Tapi dari semuanya yang paling kami suka adalah bubur kacang hijau. Aha.., 

Bubur ini mempunyai rasa khas. Ada paduan gurih, manis, lezat dan kadang ditambah dengan parutan jahe yang membuat bubur kacang hijau mempunyai aroma yang khas. Harum dan sedap.

 Ibuk membuat bubur kacang hijau di saat saat istimewa seperti bulan puasa, atau saat hari Minggu, sehingga terpatri dalam ingatan kami bahwa bubur kacang hijau adalah bubur yang istimewa.

“Ayo, dihabiskan, banyak vitaminnya,” selalu begitu pesan ibuk. Pesan yang terus kami ingat hingga kami yakin bahwa kacang hijau adalah minuman yang lezat sekaligus sehat. Tidak perlu diragukan memang, karena dari berbagai informasi tentang makanan sehat, kacang hijau ternyata mengandung protein nabati, karbohidrat kompleks, serat pangan, vitamin (terutama folat/B9, B kompleks, C, E, K) dan mineral penting seperti zat besi, magnesium, fosfor, kalium, kalsium, serta zinc.

Kenangan dengan kacang hijau tidak hanya itu. Di masa kecil, hampir setiap hari saya diajak ke rumah Mbah yang tepat berada di depan pasar Bareng. Ya, bapak adalah penduduk asli Bareng sehingga banyak teman-teman ngobrol Bapak di sana.

Nah, persis di depan rumah Mbah ini ada penjual es campur yang menyediakan juga es kacang hijau dan kacang hijau hangat. Kami adalah pelanggan setia warung tersebut, karena ketika orang dewasa  sibuk ngobrol kami anak- anak dipesankan kacang hijau dan makan bersama di ruang dalam.

Makanan dan Kenangan

Makanan dan kenangan? Ya, kita sering merasakan jenis makanan tertentu terasa begitu lezat karena ada kenangan yang membumbuinya.  

Ada yang suka sekali makan pangsit karena mengingatkan ketika makan bareng dengan teman di kosan ketika hari hujan, atau suka sambel bawang karena mengingatkan ketika pertama kali belajar memasak dan banyak lagi contoh yang lain.

Ketika membaui kacang hijau plus jahe saya selalu ingat pada kacang hijau buatan ibuk dan kebersamaan kami saat itu.

Pendek kata makanan bagaikan jangkar emosional, yang ketika kita menikmatinya, otak tidak hanya mencicipi rasa fisiknya, tetapi juga “mencicipi” kembali emosi positif itu.

Selain di atas, hal lain yang membuat kita mudah mengenang sesuatu lewat makanan  adalah adanya hubungan erat antara indera  penciuman dan memori. 

Bubur kacang hijau, sumber gambar The Asianparent

Indera penciuman (penghidu) adalah indera kita yang memiliki jalur paling langsung ke sistem limbik otak, yaitu pusat emosi dan memori jangka panjang (seperti hippocampus dan amygdala). 

Hal ini berakibat aroma makanan bisa langsung langsung membangkitkan emosi dan kenangan sebelum kita sempat memprosesnya secara rasional. 

Tentu pembaca pernah merasakan ketika membaui sebuah makanan, tiba-tiba ingat moment tertentu. Seperti halnya saya, ketika membaui kacang hijau plus jahe selalu mengingatkan saya pada kacang hijau buatan ibuk dan kebersamaan kami saat itu.

Akhirnya bagi saya kacang hijau bukan sekedar hidangan pencuci mulut. Kacang hijau adalah sajian rindu, yang dengan menikmatinya memori saya akan terhubung dengan masa lalu, ketika ibuk dengan senyumnya yang hangat menyajikan mangkuk-mangkuk kasih itu untuk kami semua.

Kompas. (2023). Kenapa Aroma Bisa Memicu Ingatan yang Emosional? https://www.kompas.com/sains/read/2023/06/03/090000023/kenapa-aroma-bisa-memicu-ingatan-yang-emosional-

Perayaan Hari Ibu, dari Doorprize , Fashion Dadakan, hingga Makan Bersama

Sebuah  sore yang istimewa (21/12). Rintik hujan tidak menghalangi semangat ibu-ibu  untuk datang di tempat yang ditentukan. Dengan berkebaya dan kain panjang ibu-ibu tampak begitu cantik. Tampilan mereka begitu berbeda dengan kesehariannya. Ya, ibu-ibu PKK RT 11 RW 03 Kelurahan Bareng hari ini merayakan Hari Ibu bersama-sama.

Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, tanggal ini resmi dikukuhkan sebagai Hari Nasional

Hari Ibu adalah peringatan  untuk memberikan penghormatan kepada para ibu dan perempuan Indonesia yang telah berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan, serta untuk memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat. 

Pemenang Doorprize, dokumentasi RT11

Dalam perjalanannya, peringatan Hari Ibu  fokus pada penghargaan akan betapa besar jasa dan peran ibu dalam keluarga dan masyarakat.

Ya, ibu adalah pelita sekaligus denyut jantung dalam sebuah keluarga. Pelita, karena ia ibarat penerang yang membuat hati anak anaknya merasa bahagia sekaligus nyaman. 

Denyut jantung karena ibu adalah pusat kehidupan, penggerak kebahagiaan, dan perekat yang memastikan seluruh anggota keluarga tetap terhubung dan berjalan harmonis.

Seperti jantung yang memompa darah yang memberi kehidupan ke seluruh tubuh, ibu adalah sumber utama energi dan cinta yang tak ternilai. 

Perayaan Hari Ibu di RT 11 /RW 03 sore ini berjalan meriah. Diawali mars lagu Hari Ibu acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Ketua PKK RT. Intinya Ibu Ketua berharap semua Ibu-ibu senantiasa sehat dan gembira dalam menjalankan peran sehari harinya baik di keluarga maupun masyarakat.

Fashion dadakan, dokumentasi RT11

Sebuah kejutan terjadi. Tiba-tiba saja setiap ibu harus melakukan peragaan busana. 

Wow, luar biasa, sama sekali kami tidak membayangkan jika harus berjalan di tengah tengah peserta dengan gaya yang agak “kemayu” bak foto model.

Layaknya ibu yang selalu siap untuk semua peran kehidupan, para peragawati dadakan bisa menjalankan semua tugasnya dengan baik dengan iringan tepuk tangan meriah para penontonnya.

Gembira mendapatkan hadiah Doorprize, dokumentasi RT11

Sesudah fashion show, acara dilanjutkan dengan pengundian atau kopyokan doorprize. Hmm, kopyokan selalu meriah dan menjadi ciri khas dari acara ibu-ibu PKK. 

Wajah ceria tampak dimana-mana, apalagi dari para pemenang yang mendapat hadiah doorprize hari itu.

Sebelum acara dilanjutkan dengan makan bersama, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Ibu penasehat yang diserahkan pada Ibu ketua PKK.

Setelah berfoto-foto sejenak, tibalah acara yang ditunggu-tunggu yaitu makan bersama. Aha…

Makan bersama , dokumentasi RT11

Berbagai hidangan hasil olahan para ibu disajikan didaun pisang yang memanjang di tengah ruangan. Ada nasi putih, nasi jagung, urap sayur, ayam kecap, bakwan jagung, mendol, rempah dan banyak lagi.

Sungguh, menikmati hidangan bersama dalam suasana yang guyub rukun adalah nikmat Tuhan yang begitu besar.

Bahagia itu sederhana, ia bisa tercipta lewat kebersamaan di antara kita

“Ayo urapnya enak, sedep,”

“Wih, jangan pedesnya, mantap,”

“Bakwan dan mendolnya, enak,”

Berbagai komentar membuat suasana kian terasa hangat.

Ketika hari semakin sore, acarapun ditutup dengan tukar-menukar kado dan berfoto bersama. 

Sebuah sore yang luar biasa. Hari itu ibu-ibu PKK RT 11 RW 03 Kelurahan Bareng merayakan Hari Ibu dengan sederhana namun penuh rasa hangat dan bahagia.

Bahagia itu sederhana, ia bisa tercipta lewat kebersamaan di antara kita. Ngobrol, menikmati hidangan bersama dengan joke joke ringan, bisa membuat hati terasa ringan dan gembira. 

Makan bersama, dokumentasi RT11

Ya, setiap ibu berhak untuk merasa bahagia, karena bahagia seorang ibu bukan hadiah untuk dirinya sendiri, tapi oksigen bagi keluarganya.

“Jalan-jalan” Hingga Memasak Bersama, Cerita Sambut Tahun Baru 2026

“Jadi absen,Buk?” tanya anak saya selepas sholat Maghrib. Hujan baru saja reda. Sejak sore tadi Malang diguyur hujan yang lumayan deras.

“Jadi Le, antar Ibuk ya?” jawab saya sambil melipat mukena dan memasukkannya ke dalam gulungan sajadah.

Tanpa banyak bicara anak saya segera mengeluarkan sepeda motor  dan saya mengikutinya dari belakang.

“Tolong mie nya direbus sebentar, sosisya dipotong ya Le, nanti ibuk pulang tinggal masak,” pesan saya pada anak saya yang paling kecil.

“Inggih siyap,”

Di liburan akhir semester ini kami para guru tetap harus absen pagi dan sore, kecuali yang cuti. Pagi hari absen jam 07.00 dan sore hari pukul 15.00. Jika ada tugas piket kami akan stand by di sekolah untuk menyelesaikan tugas atau membuat persiapan untuk semester depan.

Di hari terakhir tahun 2025 saya mendapat tugas piket ke sekolah. Lumayanlah, bisa mencicil pekerjaan, bertemu dan ngobrol dengan teman-teman.

Kayutangan di malam jelang tahun Baru, dokumentasi pribadi

Sesudah bersih-bersih dan menyelesaikan tugas perpustakaan, kami satu tim piket sepakat untuk pulang saat Dhuhur.

“Jangan lupa absen lagi jam tiga ya,” kata teman saya di parkiran.

“Oke,” jawab yang lain.

Jelang jam tiga langit kota Malang begitu mendung. Hawa mau hujan sangat terasa. Dan tepat seperti perkiraan saya, habis Ashar hujan turun. Mula-mula rintik, dan makin lama makin deras.

“Tetap ke sekolah, Buk?” tanya anak saya.

“Nunggu terang saja, Le, ” jawab saya.

Ternyata hujan sore itu turun tak henti-henti. Wah, tak berani keluar kalau hujan seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini banjir sering terjadi di kota kami.

Akhirnya habis Maghrib hujan mulai reda dan saya segera bersiap ke sekolah untuk absen.

“Anggap saja jalan-jalan tahun baruan,” kata anak saya.

Kami tertawa. Dari dulu sampai sekarang kami tidak pernah punya agenda merayakan malam pergantian tahun. Ya, malam tahun baru sepertinya identik dengan hujan, jadi paling enak dirayakan di rumah saja, dengan baca, nulis atau nonton film. Jika tidak karena absen, sungguh kami lebih suka tahun baruan di rumah daripada jalan-jalan. He..he..

Suasana pertokoan di Kayutangan jelang Tahun Baru, dokumentasi pribadi

Sepeda kami terus berjalan menyusuri jalan yang basah. Suasana terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda akan adanya keramaian perayaan Tahun Baru. 

Mungkin karena ada himbauan agar tahun ini kita merayakan tahun baru dengan nuansa yang lebih sederhana, tidak ada mercon,kembang api atau sejenisnya. Beberapa orang tampak baru keluar dari masjid atau langgar sehabis Maghriban.

Dari Kasin sepeda kami menuju Talun, lalu berbelok ke Kayutangan. Kayutangan di jam setengah tujuh malampun tidak begitu ramai. Mungkin karena habis hujan. 

Lampu- lampu pertokoan dan cafe yang berwarna-warni membuat suasana terasa meriah. Semakin malam pastinya pengunjung akan semakin banyak.

Sepeda kami terus menuju Alun- alun Bunder. Balaikota tampak semarak dengan lampu di mana-mana. Cafe-cafe bersolek untuk menarik para pengunjungnya.

Suasana Tugu di malam jelang tahun Baru, dokumentasi pribadi

“Nanti pulangnya beli bubur kacang hijau yuk? Dibawa pulang saja,” kata saya yang langsung dijawab dengan anggukan anak saya. Aih, dingin-dingin begini bubur kacang hijau hangat plus ketan hitam pasti enak. Kami punya langganan tetap di dekat Pasar Bareng.

Sampai di sekolah, dan melakukan finger print kami pun pulang. Rute sekarang lewat Celaket dan Kayutangan. Suasana mulai semakin ramai. Pejalan kaki semakin banyak dan alamak.., hujan turun lagi.

Sekolah di malam hari, dokumentasi pribadi

Mula-mula titik titik air , tapi lama- kelamaan deras juga. Aduh, tidak bawa jas hujan pula, pikir saya cemas.

“Gak usah mampir bubur kacang hijau Le, langsung pulang saja,”  teriak saya di tengah derasnya hujan. Sepeda kami melaju semakin kencang, dan syukurlah pas azan Isyak kami  tiba di rumah.

“Deres ya?” tanya si kecil sambil membukakan pintu pagar. 

“Dueres Le…, sudah siap ya?” tanya saya begitu melihat mie rebus, irisan sosis , bawang dan tomat sudah siap di meja makan.

“Sudah la…,”

“Markimas.., mari kita masak,” jawab saya bersemangat. Setelah ganti baju sebentar kamipun  bersama-sama memasak. Mie goreng Jawa ala ibuk, begitu anak-anak menyebutnya.

Mie goreng Tahun Baru, dokumentasi pribadi

Bau bumbu digongso berpadu dengan suara derasnya hujan malam itu. Ramai.

Sekitar 15 menit kemudian, taraa… satu mangkuk besar mie sudah siap dinikmati. Agak pucat memang, karena kecapnya habis dan mau keluar rumah hujannya deras sekali.

“Makan yuk,” kata saya kemudian.

Sebuah komando yang tak perlu diulang karena pasukan langsung datang ke meja makan dengan membawa piring dan sendok masing-masing. Ternyata lapar, dingin dan hujan adalah kombinasi tepat untuk menuntaskan sebuah hidangan dalam waktu yang cepat.

Ya, satu mangkuk besar mie goreng langsung tandas.

Alhamdulillah, tak apalah gagal menikmati bubur kacang hijau. Yang jelas lezat dan hangatnya mie goreng mewarnai suasana malam tahun baru kami kali ini.

Akhirnya Selamat Tahun Baru 2026, semoga tahun yang akan datang lebih banyak memberikan kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.

Playlist “Bapak”, Lagu-lagu yang Setia Menemani di Kala Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang turun dari langit, sering membuat genangan, kadang juga kenangan..

(quotes hujan)

Di bulan-bulan seperti ini, hujan kian rajin membasahi bumi. Bukan hanya membuat suasana terasa basah, namun kedatangan hujan bisa membangkitkan perasaan nostalgia, karena suara rintik, aroma petrichor, dan udara yang sejuk, sering memicu ingatan pada masa lalu, membuka kembali lembaran kenangan bersama orang-orang tercinta.

Aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya saat hujan adalah membaca dengan ditemani minuman hangat, atau mendengarkan musik. Hal yang terakhir ini paling sering saya lakukan bersama bapak dulu.

Ya, di sore hari, bapak biasanya masih harus menuntaskan jahitannya dan saya selalu membantu beliau. Saya bagian memasang kancing, sementara Bapak membersihkan benang- benang di antara jahitan. Kegiatan itu biasanya kami lakukan bersama dengan diiringi alunan musik kesukaan kami.

Dalam pandangan saya untuk urusan “unen-unen” bapak punya selera yang istimewa.

Tape deck, sumber gambar: Carousel

Di bupet kecil kami ada tape merek Sony , amplifier Sansui dan equalizer yang ukurannya cukup besar. Merek equalizer nya saya lupa. Perangkat itulah yang sehari-hari menemani bapak dalam menjahit.

Sebagai pengiring menjahit biasanya bapak menyetel dengan volume yang tidak terlalu keras, yang jelas musik harus ada. Berbeda dengan di pagi hari saat bersih-bersih atau membangunkan kami, bapak akan menyetel dengan volume yang agak keras, agar semua bersemangat dan segera melakukan berbagai aktivitas.

Bapak selalu menyetel musik sesuai suasana. Pagi hari ketika kami memerlukan semangat ada lagu-lagu Queen, Deep Purple dan sejenisnya. Menjelang siang lagu lagu manis mulai mengisi ruang dengar kami seperti lagu dari Jim Reeves, Pat Boone, Mat Monroe, semakin siang menuju ke sore ada berbagai instrumen yang mempermanis suuasana seperti dentingan gitar Francis Goya, atau alunan piano Richard Clayderman.

Untuk kaset, Bapak punya koleksi yang begitu banyak. Seingat saya 150 lebih dalam berbagai genre musik. Ada pop, jazz, rock, bahkan keroncong.

Ya, dalam keseharian kami selalu ada musik dan musik. Bapak secara tak sengaja membentuk selera kami dan mendengarkan musik adalah tali yang menghubungkan ingatan kami terhadap momen-momen tertentu.

Suatu malam bapak berkata kepada saya ketika kami mendengarkan lagu A Whiter Shade of Pale dari Procol Harum. Saat itu saya sedang mengerjakan PR di samping beliau yang membetulkan jahitan.

” Mbesok kalau kamu dengar lagu-lagu ini pasti ingat Bapak, Nduk,” kata beliau di tengah obrolan kami. Saya hanya tertawa saat itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, ketika beliau sudah tiada lagu- lagu bapak selalu membangkitkan kenangan akan hangatnya kebersamaan dengan beliau dimanapun saya berada.

Ya,dalam banyak kesempatan ketika bepergian saya sering berhenti sejenak ketika tiba-tiba mendengarkan lagu kesukaan bapak. 

Suatu saat, pas jalan-jalan di Kayutangan bersama anak saya, tiba- tiba seorang pengamen menyanyikan lagu A Whiter Shade of Pale. Saya langsung berhenti.

“Ayo dengar lagu dulu Le,” kata saya sambil duduk di kursi yang ada di trotoar sampai lagu habis. Seiring mengalirnya lagu itu kenangan akan Bapak terus tergambar. Ya, saya benar benar merasakan momen ketika kami sedang ngobrol berdua di ruang tamu saat itu.

Demikian juga ketika anak saya wisuda di UGM, saya langsung mbrebes mili ketika kelompok paduan suara menyanyikan lagu Close to You. Ya, lagu dari Carpenter ini adalah juga favorite bapak.

Ketika era tape mulai tergerus dengan kedatangan MP3 dan yang lain, saya berusaha kembali mengumpulkan lagu- lagu kenangan itu lewat Spotify.  Melalui playlist yang saya buat saya bisa merasakan kembali keindahan kenangan mendengarkan lagu lagu bersama orang-orang tercinta terutama bapak.

Saya punya beberapa macam playlist dengan judul “Bapak”. Ya, genre musik yang disukai bapak beraneka ragam. Playlist yang pertama berisi lagu lagu instrumen, ada lagu- lagu dari Paul Mauriat, Francis Goya, Richard Clayderman, Idris Sardi di sana. Playlist kedua berisi lagu lagu manis dari Elvis Presley, Jim Reeves, Pat Boone, juga Bimbo. Playlist berikutnya berisi lagu-lagu slowrock dari Queen, Deep Purple, Scorpion dan sejenisnya.

Playlist-playlist itu yang setia menemani saya sekarang ketika menikmati sore yang dihiasi hujan, karena setiap tetes hujan bulan hanya sekadar membuat genangan, melainkan juga membuka lembaran kenangan. 

Melalui alunan lagu-lagu dari playlist “Bapak”, beliau selalu hadir kembali dalam rindu. Mengingatkan saya kembali pada dialog-dialog kecil, tawa, dan kehangatan sore-sore yang basah. 

Ya, hujan selalu bisa merajut kembali kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di balik rintiknya, ada cinta yang terus mengalun, seiring alunan musik kesukaan saya dan bapak.