Nikmati Sejuknya Alam dan Lezatnya Olahan Ikan di Waduk Mahoni Dempok

Jam masih menunjukkan pukul sebelas. Mobil yang kami naiki meninggalkan jalan Diponegoro Bululawang.

“Ini lanjut ke mana? Sengkaling atau Dempok? Atau Masjid Tiban Turen?” tawar Mas Andre driver kami.

Setelah berunding sejenak, kami memutuskan bahwa hari itu kami akan jalan- jalan ke Dempok.

“Nanti di sana kita bisa menikmati aneka hidangan ikan di tepi semacam telaga,” kata Mas Andre.

Wah, menarik ini, pikir kami.

Pemandangan dalam perjalanan menuju Dempok, dokumentasi pribadi

Perjalanan terus dilanjutkan melalui jalan yang tak begitu ramai. Di kiri kanan jalan pemandangan sawah ataupun kadang tebu yang serba hijau sangat memanjakan mata.

Setelah hampir satu jam perjalanan, sekitar pukul dua belas kamipun tiba di tempat wisata Mahoni Dempok.

Berlokasi di Dusun Dempok, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, Mahoni Dempok adalah sebuah tempat wisata berkonsep alam. Tempat wisata ini berupa waduk. 

Masuk tempat wisata, dokumentasi pribadi Buz

Dikutip dari buku Sedimentasi Waduk, Sisinggih, dkk. (2021: 3), waduk adalah tampungan air buatan manusia yang dilakukan dengan membuat bending atau bendungan di sungai. 

Meskipun hanya berupa tampungan air, Waduk Dempok punya banyak daya tarik. Di sini kita bisa menikmati panorama yang indah, berperahu, naik kuda, belanja ikan segar ataupun menikmati hidangan olahan ikan di warung-warung lesehan di sekitarnya.

Kita bisa lesehan di bagian dalam warung ataupun di gazebo yang ada di depannya.

Pepohonan di sekitar gazebo dan warung, dokumentasi pribadi

 Dinamakan Mahoni Dempok mungkin karena di sekitarnya banyak ditanami pohon mahoni. 

Ya, di antara gazebo, warung dan tempat parkir, banyak tumbuh pohon mahoni yang membuat suasana terasa sejuk.

Ketika kami sampai di Dempok, mendung demikian tebal. Angin yang sesekali berhembus agak kencang membuat suasana terasa agak dingin. 

Waduk Dempok, dokumentasi pribadi

Setelah membayar tiket per orang tiga ribu rupiah, kamipun masuk. Pengunjung tidak begitu ramai saat itu sehingga kami bisa lebih leluasa melihat pemandangan di sekitarnya.

Di dekat waduk ada tempat berjualan ikan segar yang penjualnya didominasi oleh para wanita.

“Ikannya..ikannya…,” kata beberapa pedagang sambil menyodorkan dagangannya. Di sini ikan ikan segar tidak ditimbang tapi dimasukkan dalam baskom baskom kecil atau keranjang- keranjang.

Menawar ikan segar, dokumentasi pribadi

Ikan dan udang yang dijual adalah hasil tangkapan dari waduk Dempok.

“Ini berapa, Buk?” tanya teman saya sambil menunjuk dua keranjang ikan gurame. Tiap keranjang berisi tiga ekor gurame besar.

“Seratus ribu,” kata pedagang tadi

“Kalau ditambah udang?” tanya teman saya lagi.

“Satu baskom dua puluh ribu, berarti seratus dua puluh ribu,” jawab si pedagang.

“Tidak boleh kurang?” jawab teman saya lagi.

Tawar menawar pun terjadi. Setelah sepakat dengan harga, kami membeli dua keranjang gurame dan satu baskom udang yang dipindah dalam kresek.

Ikan siap dimasak , dokumentasi pribadi

Uniknya di Dempok ini, ikan segar yang sudah kita beli bisa kita bawa ke warung untuk dimasakkan sesuai permintaan kita.

Ikan segera kami bawa ke warung sekitarnya untuk diolah menjadi ikan bakar dan udang goreng tepung. 

Tak begitu lama menunggu di gazebo,  pesanan kami pun datang. Enam buah ikan gurame bakar, udang goreng tepung, nasi, urap sayur, terong goreng dan yang tak boleh ketinggalan yaitu sambel.

Deretan warung di tempat wisata Mahoni Dempok, dokumentasi pribadi
Hidangan olahan ikan, dokumentasi Ahfi

Wuih, benar benar hidangan yang mantap. Nasi hangat, sambal ditambah dengan rasa lapar plus udara dingin membuat kami tambah dan tambah lagi. 

Makan di tempat terbuka dengan angin yang sesekali bertiup membuat suasana terasa begitu nyaman.

“Ada yang mau pesan untuk dibawa pulang?” tawar teman saya. Ya, sambal juga urapnya terasa demikian mak nyus. Pasti orang rumah senang dibawakan oleh oleh ini.

“Pesan udang saja,” 

“Saya ikan goreng tepung…,”

Berfoto di depan pasar ikan, dokumentasi pribadi

Alhasil semua pesan untuk dibawa pulang, dan akhirnya kami semua pulang dengan membawa paling tidak satu kresek oleh oleh untuk dibawa ke rumah.

Semakin sore suasana semakin ramai. Tampaknya tempat ini sering dijadikan lokasi untuk acara acara tertentu.

“Ada yang mau berperahu?”

Sebenarnya saya ingin juga, tapi hari sudah terlalu sore dan kami harus segera pulang. Padahal ongkos naik perahu hanya 5000 rupiah per orang.

Sesudah membayar semua pesanan bergegas kami menuju parkiran. 

Tempat sewa perahu , dokumentasi pribadi

Perjalanan kami hari itupun berakhir. Udara semakin dingin dan mendung semakin tebal. 

Waduk Dempok, deretan pohon mahoni, semangat para penjual di pasar ikan, lezatnya hidangan aneka olahan ikan pasar adalah cerita harmoni denyut kehidupan masyarakat  dengan alam sekitarnya.

Sampai bertemu lagi Mahoni Dempok, semoga suatu saat kami bisa duduk- duduk lagi di gazebo, menikmati lezatnya hidangan ikan, bercengkerama menikmati  indahnya persahabatan , atau bahkan bisa berperahu bersama. Aha…

Pohong Keju, Hidangan yang Membuat Singkong “Naik Kasta”

Dalam sebuah perjalanan seorang teman tiba-tiba nyeletuk. “Hmm, wenak ya… pohong keju…,” 

Rupanya teman saya melihat sebuah tempat penjualan pohong atau singkong  keju yang ada di pinggir jalan.

Serempak kami menoleh. 

“Pohong keju memang gurih,” jawab teman saya yang lain.

“Pohong keju memang wenak pol. Dibanding pohong goreng biasa ia lebih gurih dan empuk,” tambahnya lagi.

Ya, pohong keju memang gurih dan menggoda. Meski namanya pohong keju, hidangan ini sering juga disajikan tanpa keju. Kata keju mungkin diberikan karena rasanya yang empuk dan gurih.

Penjual singkong keju, sumber gambar : UMKM line

“Itu pohong “keju” Bu,” tambah Mas driver grab kami. Pengucapannya bulan keju tapi “keju” dengan huruf e seperti pada kata “tebu” 

 Dalam bahasa Jawa “keju” artinya badan yang pegal atau sakit semua.

“Kenapa “keju”?” tanya saya sambil menahan senyum

“‘Kan proses membuatnya panjang, dikukus, dimasukkan air dingin, dikasih bumbu, digoreng, jadi pohongnya “keju” semua,” jawab Si Mas yang disambung tawa kami bersama. Bisa saja. 

Tentang Pohong atau Singkong

Tanaman singkong, sumber gambar : dinas pertanian

Siapa yang tidak kenal singkong? Bahan makanan yang sangat merakyat ini sangat mudah dijumpai dimana-mana. Di pasar, tukang sayur ataupun ditanam di halaman rumah.

Meski demikian populer di Indonesia, ternyata singkong bukan tanaman asli Indonesia. Ya, tanaman ini sebenarnya berasal dari Amerika Selatan.

Dilansir dari Tempo, singkong (Manihot esculenta) pertama kali dibudidayakan oleh suku Maya di Yucatan, Meksiko. 

Dalam sejarahnya, tanaman singkong pertama kali diperkenalkan ke Kongo, Afrika oleh Portugis pada 1558. Portugis kemudian memperkenalkan tanaman ini ke Maluku dengan bibit tanaman singkong dari Brasil. 

Tidak hanya Portugis, Spanyol juga mengenalkan singkong ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Bahkan kata telo kaspe untuk nama singkong, diperkirakan berasal dari bahasa Portugis dan Spanyol.

Telo berasal dari kata Castilla, sebuah daerah di Spanyol yang ikut berperan dengan penyebaran singkong ini, sedangkan kaspe adalah adaptasi dari kata cassava yang berasal dari bahasa Portugis. Bahasa Inggris juga menggunakan kata cassava untuk singkong.

Sebagai hidangan sehari-hari singkong bisa dikukus, digoreng atau jika ingin lebih menarik diolah menjadi hidangan tertentu. 

Banyak sekali hidangan yang merupakan hasil olahan singkong ini seperti kolak, sawut, jemblem, goplem, gethuk, cenil, gatot dan banyak lagi.

Pohong keju di antara berbagai hidangan di cafe, dokumentasi pribadi

Nah, di antara banyak hidangan tersebut, sebuah hidangan yang membuat singkong ‘naik kasta’ adalah pohong keju alias singkong keju.

Betapa tidak? Dengan diolah menjadi singkong keju, harga singkong bisa berlipat lipat. Singkong tidak hanya tampil di kedai kedai sederhana ataupun warung gorengan, tapi juga masuk di cafe atau rumah makan.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, saya pernah mencicipi sepiring  singkong keju bersama teman-teman seharga seratus ribu rupiah. Luar biasa. Padahal singkong goreng di kampung saya harganya seribu rupiah saja.

Gurih dan sedapnya singkong keju membuat hidangan ini banyak disukai anak-anak muda. Terbukti banyaknya tempat penjualan singkong keju di jalan-jalan.

Tampilan cantik pohong keju, dokumentasi Ami

Seorang teman yang putranya tergolong gen z mengatakan, ” Anak  saya kurang suka singkong kukus atau dikolak, tapi pas saya belikan singkong keju, malah doyan,” 

Nah, tertarik dengan pembuatan singkong keju ini saya bertanya pada teman saya yang pintar memasak, tentang bagaimana cara membuat singkong keju ini.

Cara Membuat Singkong Keju

Bahannya cukup satu kilogram singkong, bumbu yang terdiri dari bawang, kunyit, garam dan ketumbar serta minyak secukupnya.

Bagaimana cara membuatnya?

1. Singkong dikupas, potong sesuai selera. 

2. Kukus sampai terlihat melethek (merekah) walaupun masih keras. 

3. Angkat, selagi panas masukkan dalam air dingin yang sudah berbumbu. 

4. Setelah terlihat lebih merekah, angkat dan tiriskan. 

5. Cicipi rasakalau kurang boleh diberi bumbu lagi. 

6. Digoreng pada minyak banyak dan panas, api sedang . 

7. Cukup sekali dibalik, kering diangkat. 

8. Dingin sajikan boleh dengan toping keju parut atau bumbu tabur. 

9. Dimaem. Pakai sambel lebih mantap.

Singkong keju dan susu jahe, dokumentasi pribadi

Ups, pesanan singkong keju dan susu jahe saya sudah datang. Berarti tulisan ini harus segera diakhiri.

Wasana kata, singkong keju bukan sekedar cerita tentang cemilan. Hidangan ini menunjukkan bahwa kreativitas bisa membuat singkong  yang sederhana bisa ‘naik kasta’ dan bisa memikat lidah berbagai generasi.

Jadi, jika pembaca belum mencobanya, tak ada salahnya untuk membuat hidangan pohong keju yang sedap, empuk dan gurih ini.

Salam kuliner…

Menyusuri Jejak Sang Proklamator: Refleksi di Museum, Perpustakaan dan Makam Bung Karno

Mobil kami berjalan laju di tengah  lalu lintas kota Blitar yang tidak begitu ramai.

“Selanjutnya kita ke Museum?” tanya Bu Ari pada Mas Andre driver kami.

“Siapp,” jawab Mas Andre. Jawaban favorit kami. Ya, Mas Andre selalu siap mengantar kami ke mana saja.

Dari Kampung Coklat, destinasi berikutnya adalah Makam sekaligus Museum dan Perpustakaan Bung Karno.

Ini adalah kunjungan saya kedua ke Makam Bung Karno. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu saya ke sini bersama teman- teman SD.

Suasana jalan menuju museum terasa lebih ramai dari biasanya. Sangat berbeda. Ya, banyak orang mengenakan baju putih dan bawahan hitam di jalanan.

“Ada apa ya? Sepertinya ada acara?” tanya saya. Saya ingat, dulu pernah diberi tahu oleh Bapak penarik becak di daerah museum ini bahwa di Bulan Juni selalu ada banyak acara di Blitar terutama di area Makam Bung Karno.

“Bulan Bung Karno, Bu. Bung Karno itu lahir di bulan Juni, wafat di bulan Juni dan menemukan Pancasila tanggal 1 Juni,” kata Si Bapak waktu.

Mobil kami terus melaju menuju parkiran. Turun dari mobil kami kami bisa membaca beberapa spanduk yang terpasang di jalan jalan.

Ternyata hari itu bertepatan dengan diadakannya haul Bung Karno. Kami baru sadar bahwa kami datang ke Museum pas hari wafatnya Bung Karno yaitu tanggal 21 Juni.

Tentang Makam,  Perpustakaan dan Museum Bung Karno 

Koleksi lukisan Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Perpustakaan dan Museum Bung Karno  ini berlokasi di kompleks Makam Bung Karno Jl. Kalasan No. 1, Blitar, Jawa Timur.

Komplek makam sendiri menempati area seluas 1,8 hektar dan dibagi menjadi tiga yaitu halaman, teras, dan pendopo/mausoleum. Pembagian  ini sesuai dengan kepercayaan Jawa mengenai tiga tahap kehidupan  yaitu janin, kehidupan, kematian.

 Proses pembangunan Museum Bung Karno diketuai oleh Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo, arsitek asal ITB, dan  diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 3 Juli 2004.

Pesan Bung Karno, Koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Dalam museum ini kita bisa lebih mengenal sosok besar tersebut lewat berbagai barang koleksi yang dipamerkan, seperti jas yang digunakan Bung Karno saat mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, koper yang digunakan Bung Karno saat keluar masuk tahanan,  termasuk koleksi keris yang demikian kental dengan budaya Jawa.

Dalam museum ini juga dipamerkan berbagai macam lukisan dan foto- foto, seperti rumah masa kecil Bung Karno atau Kusno (nama kecil beliau), foto di masa sekolah, masa perjuangan, pesan-pesan, juga foto-foto ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI pertama.

Sebuah foto yang sangat mengesankan bagi saya adalah ketika Bung Karno sungkem pada Ibunda beliau Ida Ayu Nyoman Rai. 

Foto Bung Karno sungkem pada Ibunda, koleksi Museum Bung Karno, dokumentasi pribadi

Foto ini dibuat pada tahun 1953 ketika Bung Karno melakukan kunjungan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Foto yang menunjukkan betapa besar bakti beliau pada sosok Ibunda ini seolah memberikan nasehat bahwa setinggi apapun jabatan seseorang, Ibunda adalah tetap sosok yang yang harus kita hormati dan kita sayangi, karena beliaulah yang selalu tulus berdoa di setiap langkah kita .

Di museum ini juga banyak miniatur yang menunjukkan rumah tempat Bung Karno diasingkan. Seperti rumah di Bengkulu, Ende juga Brastagi.

Dari Museum kami masuk ke area perpustakaan yang berada di sampingnya persis.

Bung Karno adalah sosok yang gemar membaca, karena itu perpustakaan, museum dan makam dijadikan dalam satu kompleks.

Ah ya, kami sempat berfoto-foto di depan patung besar Bung Karno yang sedang membaca.

Berfoto di depan patung Bung Karno, dokumentasi Buz
Berfoto di depan patung Bung Karno sedang membaca, dokumentasi Buz

Begitu masuk museum , bau buku dan kamper langsung menyambut kedatangan kami. Aura adem dan nyaman sangat terasa. Setelah mengisi daftar tamu, kami mulai masuk menyusuri lorong di sekitar rak buku.

Beberapa buku yang sudah dibaca ada di atas meja. Luar biasa, buku- buku yang sangat bagus. Kebanyakan buku sejarah, ataupun tokoh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Ketika jam sudah menunjukkan jam setengah dua kami bergegas mencari mushola untuk sholat Dhuhur.

Sesudah sholat rencananya kami langsung menuju makam yang tidak jauh dari perpustakaan.

Di perpustakaan Bung Karno, dokumentasi pribadi

Untuk menuju makam kami harus melalui beberapa tangga naik. Ternyata di area makam baru saja ada acara, dan ketika kami tiba di sana ada kesibukan pembongkaran tenda- tenda sesudah dipakai acara di pagi harinya.

Dari baliho besar yang ada di depan makam, di bulan ini ada acara Haul ke 55 Bung Karno. Tiga acara besar dalam haul tersebut diadakan pada tanggal 6, 20 dan 21 Juni.

Baliho Haul Bung Karno ke 55, dokumentasi pribadi

 Acara meliputi doa dan tahlil, kenduri brokohan, selametan Akbar, pagelaran wayang kulit, pengajian dan ziarah nasional.

Sebagai catatan Bung Karno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 dan wafat pada tanggal 21 Juni 1970.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga, saatnya kami harus meninggalkan lokasi menuju destinasi berikutnya. Apalagi langit sudah tampak mendung.

Sebelum balik ke mobil kami sempat berfoto-foto dan membeli asesoris kecil- kecil seperti gelang, cincin dari manik-manik pada pedagang yang berjajar di sepanjang jalan. 

Membeli gelang dan cincin manik-manik, dokumentasi pribadi

Berjalan-jalan di Perpustakaan, Museum juga area Makam Bung Karno ini membuat kita bisa begitu merasakan aura semangat, perjuangan dan kegigihan Sang Proklamator.

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri

Bung Karno

Semangat dan cita-cita yang tak henti menginspirasi generasi masa kini agar tetap gigih dalam perjuangan untuk  menghadapi berbagai macam tantangan yang ada.

Ya, kita semua terus berjuang. Meski dalam bentuk yang berbeda dengan masa Bung Karno dulu, tidak berarti perjuangan kita lebih ringan, bahkan bisa jadi lebih berat.

Tekadkan semangat juang, dokumentasi Buz

Bukankah Bung Karno sendiri pernah mengatakan bahwa, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Satu Hari di Blitar, Sebuah Perjalanan Manis di Kampung Coklat

“Saya OTW dari Arjosari,”

Sebuah pesan singkat masuk WhatsApp saya. Bergegas saya menyiapkan tas yang berisi berbagai macam perbekalan (isinya cuma makanan ringan, mukena dan minyak kayu putih), dan taraaa, kami siap untuk melakukan perjalanan pagi itu.

Jam baru menunjukkan pukul delapan lebih ketika ,mobil kami terus melaju di tengah ramainya lalu lintas kota Malang. Kali ini perjalanan kami lakukan berenam. Tiga orang dewasa, dua remaja dan satu anak kecil.

Oh ya, tiga orang dewasa sudah termasuk Mas Andre driver, teman, sekaligus fotografer kami.

“Ini ke mana saja?” tanya Mas Andre pada kami.

“Ke mana dulu terserah Mas Andre, yang penting destinasi kita ada empat yaitu Kampung Coklat, Museum Bung Karno, Cafe de Karanganjar dan Candi Penataran,” jawab kami. Ya, sesuai rencana hari ini kami akan melakukan perjalanan ke Blitar, atau istilah kerennya eksplor Blitar.

“Siyaap..,” jawab Mas Andre ramah.

Perjalananpun dimulai.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Kondisi lalu lintas normal saja. Tidak terlalu ramai juga tidak sepi. Mungkin libur sekolah baru saja dimulai sehingga masih banyak yang menikmati liburan di rumah. 

Memasuki Kabupaten Blitar terasa suasana yang sedikit berbeda di Malang. Jalan di sini tidak terlalu ramai, tidak terlalu lebar namun suasananya begitu nyaman.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di kawasan Kampung Coklat. Sebuah bangunan tinggi dengan dominasi warna coklat seolah menyapa kehadiran kami.

Dekat pintu masuk Kampung Coklat , dokumentasi pribadi
Dinding -dinding yang penuh informasi, dokumentasi pribadi

Berbagai informasi mengenai coklat ada di mana-mana. Sangat cocok jika Kampung Coklat ini menyatakan dirinya sebagai tempat wisata edukasi tentang coklat.

Setelah membeli tiket kami pun masuk. Dua puluh ribu per orang, sangat murah untuk tempat wisata edukasi sebagus itu.

Sejarah coklat dan Kampung Coklat

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Mendengar kata coklat, yang sering tergambar dalam benak kita adalah minuman berwarna coklat yang sedap dan manis, atau bahkan permen kecil kecil dalam bentuk batangan dengan rasanya yang begitu khas. Tidak salah, tapi dengan melihat tanaman coklat dan buahnya, kita akan memahami bahwa untuk mengolah biji coklat  menjadi minuman, permen atau campuran kue tentu memerlukan proses yang  lumayan panjang.

Coklat adalah bahan makanan yang diperoleh dari biji tanaman kakao (Theobroma cacao), yang merupakan tanaman tropis. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dan sudah dibudidayakan di berbagai daerah tropis di seluruh dunia.

Sejarah coklat, dokumentasi Ayu

Dikutip dari history.com, coklat pertama kali dikonsumsi  oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Sekitar tahun 1544 coklat mulai masuk benua Eropa lewat Spanyol, di mana saat itu delegasi dari Guatemala  mengunjungi Istana Spanyol dan membawa hadiah yang di antaranya adalah minuman cokelat. 

Di awal abad ke-17, cokelat mulai banyak disuka dan menjadi minuman yang digemari di kalangan istana di Eropa. 

Coklat akhirnya menyebar di kalangan kaum elit Eropa dan seiring berjalannya waktu permintaan akan coklat terus meningkat dan makin terkenal di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sejarah Kampung Coklat, dokumentasi Ayu

Mengenai sejarah Kampung Coklat sendiri, bermula di tahun 2004 ketika seorang peternak ayam bernama H. Kholid Mustofa mengalami kebangkrutan akibat wabah flu burung. 

Kholid lalu merintis usahan baru dengan merawat 120 pohon kakao milik keluarganya yang ditanam pada tahun 2000 di lahan seluas 750 meter persegi.

 Sejak saat itu, ia mulai fokus menjalankan usaha tersebut dan mempertimbangkan untuk membuka lapangan pekerjaan demi kesejahteraan para petani coklat di daerahnya.

Melalui magang di PTPN XII Penataran, Nglegok, Blitar dan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Kholid terus mendalami teknik budidaya kakao yang benar

Kholid terus berusaha memberikan edukasi lewat kelompok-kelompok taninya tentang budidaya kakao ini.

Usaha Kholid terus maju dengan semakin banyaknya bibit kakao yang dikembangkan dan berakibat semakin banyaknya coklat yang dipasok ke tempat industri pengolahan coklat.

Tidak berhenti di situ, Kholid lalu belajar bagaimana cara mengolah coklat sendiri yang kemudian dipasarkan di Blitar dan Solo..

Pada puncaknya pada tahun 2014 Kholid  memutuskan untuk membuat wisata edukasi tentang coklat yang diberi nama Kampung Coklat dan berlokasi di jalan Banteng Blorok 18, Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar,

Potongan-potongan cerita sejarah coklat, termasuk sejarah berdirinya Kampung Coklat ini ditampilkan dalam bentuk gambar-gambar yang ada di dinding di sepanjang jalan yang kita lalui.

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tempat wisata ini. Selain mengetahui tentang coklat yang meliputi sejarah, budidaya dan pengolahannya, kita juga  bisa mendapatkan pengetahuan tentang manfaat coklat bagi kesehatan.

Kami sebenarnya ingin melihat cara pengolahan coklat, tapi sayang saat itu stand pengolahan coklat sedang tutup. Namun tak apa, banyak masih banyak tempat menarik lainnya yang bisa kami kunjungi.

Animal Feeding, dokumentasi pribadi
Kebun kakao, dokumentasi Buz

Selain berbagai informasi tentang coklat, di sini kita juga bisa melihat Kebun Kakao yaitu perkebunan coklat, juga Animal Feeding yang merupakan tempat peternakan berbagai macam binatang.

Lahan keduanya begitu luas, karenanya jika tidak ingin berjalan kaki, pengunjung bisa naik kendaraan yang disediakan untuk berkeliling di sekitar Kampung Coklat.

Di kebun coklat , dokumentasi pribadi

Tak ketinggalan berbagai wahana permainan anak juga ada. Oh ya, kami sempat naik Perahu Ceria. Apa itu? Dengan tiket sepuluh ribu rupiah per orang, kami bersama naik  perahu di sepanjang sungai kecil yang di kiri kanannya banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman. Sangat mengasyikkan. Benar-benar membuat hati ceria.

Perahu Ceria, dokumentasi Buz

Dua jam  mengitari Kampung Coklat sepertinya belum bisa menuntaskan rasa ingin tahu kami tentang coklat dan segala pernak- perniknya. Maksud hati ingin menjelajah lebih jauh lagi, namun kami harus segera meneruskan perjalanan menuju destinasi yang lain.

Sebelum meninggalkan Kampung Coklat kami sejenak duduk di cafe untuk menikmati aneka minuman coklat dan cemilan. Suasana ramai kian terasa. Semakin siang pengunjung semakin banyak.

Gallery Coklat tempat membeli oleh oleh, dokumentasi pribadi

Paduan kopi dan coklat dari minuman hangat yang saya pesan terasa begitu sedap juga manis. Saya tiba tiba tersenyum membaca sebuah quotes di salah satu sudut area ini.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya, he..he…, bisa saja.

Cinta tidak menjanjikan ujung yang manis, tapi coklat menjanjikan manis di setiap ujungnya

Kampung Coklat

Setelah belanja oleh-oleh sebentar di Gallery Coklat, kami segera menuju parkiran untuk melanjutkan perjalanan. 

Sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kampung Coklat bukan sekedar tempat wisata, tapi kaya akan edukasi, baik lewat informasi di sudut-sudutnya, maupun berbagai wahana yang ada di dalamnya.

Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Kampung Coklat

Blitar ternyata menyimpan banyak cerita, padahal ini baru destinasi pertama. Seperti coklat, perjalanan kali ini terasa begitu hangat dengan kenangan manis yang tak terlupakan.  

Rintik Hujan

Karya : Maulidya Hanifah

“Apakah kau tahu, bahwa sunyi pun bisa berbicara?” tanya lelaki itu, dengan suara setenang kabut yang menggantung di pucuk-pucuk pinus, di pagi yang belum sepenuhnya bangun dari lelapnya. 

Ia berdiri di balik jendela berbingkai kayu mahoni, tangannya bersedekap, sementara matanya menembus tirai hujan yang jatuh tanpa jeda, menyulam simfoni lembut di atas atap seng rumah tua itu.

Perempuan itu, yang duduk di kursi rotan berkeriut halus, hanya menatap cangkir teh di genggamannya. Uapnya melayang, berputar-putar seperti kenangan yang enggan luruh, menggulung dalam pusaran waktu yang rapuh.

“Kau tak perlu menjawab,” lanjut lelaki itu, bibirnya nyaris tak bergerak, seolah kata-kata itu keluar langsung dari dinding dadanya. 

“Karena aku tahu, kau telah lama memahami: bahwa suara paling jujur tak lahir dari mulut, tetapi dari jeda antara dua tarikan napas.”

Dan diam pun turun, lebih dalam dari pekat hujan yang merintik. Diam yang memekakkan; diam yang sarat; diam yang menggema dalam ruang-ruang batin, seperti gema lonceng tua di gereja yang terlupa.

Tiba-tiba, suara jam berdentang tiga kali: dang, dang, dang. Seperti aba-aba dari masa lalu yang tak ingin terlupakan. Lalu, ia melangkah pelan, sepatu kulitnya mengeluarkan bunyi berderak—membelah hening seperti pisau mengiris kain beludru.

“Kau tahu,” katanya lagi, kini menatap bayangan wajahnya sendiri di jendela, yang tersamar oleh gerimis dan waktu, “kita ini hanya tokoh-tokoh dalam bab yang ditulis oleh perasaan. Bukan logika. Maka, jangan salahkan aku bila jalan yang kupilih tak bisa kau terima, sebab aku berjalan bukan dengan kepala, tetapi dengan luka.”

Perempuan itu mengangkat wajahnya. Wajah yang dulu sering kau sebut sebagai pelabuhan, kini hanya pulau terpencil yang dilupakan peta. Suaranya serak, namun tak lelah:

“Luka pun bisa salah jalan, bila ia dipandu dendam.”

Lelaki itu tertawa kecil. Tapi tawa itu lebih mirip cicit engsel pintu yang lama tak dibuka—kering, berat, dan menyakitkan.

“Barangkali. Tapi, bukankah setiap luka juga mengandung arah? Bukankah darah selalu mengalir ke hilir, bukan ke hulu?”

Di luar, angin menderu. Sehelai daun jatuh, menari dalam pusaran takdirnya. Hujan belum reda, tetapi cerita telah mulai meluber dari dinding-dinding kamar.

Mereka berdua berdiri dalam sunyi, di bawah tirai hujan yang tak juga menepi, dalam jeda yang lebih panjang dari kalimat mana pun yang sempat mereka ucapkan.

Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka, bukan kata-kata yang keluar, melainkan aroma tanah basah yang telah menunggu sejak awal: menanti siapa pun yang cukup berani untuk pulang tanpa penjelasan.

Dan bumi terus berputar, meski hati manusia terhenti di satu titik kenangan. Di kamar tua itu, yang warnanya tak lagi bisa dikenali apakah kelabu atau hanya terkena bias waktu, lelaki itu melangkah ke rak tua, menarik sebuah kotak kayu yang penuh debu.

“Ini milik Ayahku,” gumamnya. “Dulu, setiap kali hujan datang, ia selalu membukanya. Katanya, hujan membawa roh-roh masa lalu pulang.”

Perempuan itu mengangkat alisnya. “Roh-roh?”

Ia mengangguk. “Bukan dalam arti supranatural. Tapi roh kenangan—arwah yang terbuat dari tawa yang tak selesai, tangis yang tertahan, dan kalimat yang tak pernah sempat diucapkan.”

Ia membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada tumpukan kertas—surat-surat, puisi, potongan koran, dan sebuah pita rekaman kecil. Satu per satu dibacanya, suaranya rendah, serak, dan seperti membaca doa bagi masa silam:

Aku mencintaimu seperti laut mencintai karang: tak pernah menjanjikan tenang, tapi selalu pulang.”

Bila kelak kau tak temukan aku dalam doa-doamu, percayalah, aku tersesat dalam doaku sendiri.”

Kita ini seperti dua titik koma yang dipaksa berhenti menjadi titik.”

Perempuan itu tak tahan lagi. Ia bangkit, melangkah ke arah jendela yang basah, dan bersandar di sisinya.

“Kenapa kau simpan semua ini?”

“Karena aku tak pernah tahu cara melupakan tanpa harus membunuh bagian diriku sendiri.”

Aku pernah percaya, bahwa semua yang patah akan tumbuh kembali, tapi kadang, yang tumbuh hanya bayang-bayangnya saja.

Di luar, petir menyambar, cahaya sesaat memperlihatkan wajah mereka berdua—yang tak lagi sama seperti saat dulu bertemu. Ada kerutan baru, ada cahaya yang padam, dan ada tatapan yang tak bisa diartikan selain dengan kesepian.

“Aku pernah percaya, bahwa semua yang patah akan tumbuh kembali,” kata perempuan itu. “Tapi kadang, yang tumbuh hanya bayang-bayangnya saja.”

Lelaki itu tersenyum getir. Ia duduk kembali, memeluk kotak kayu itu seperti seorang anak kecil memeluk kenangan ibunya.

Tentang penulis:

Dokumentasi pribadi Mauli

Maulidya Hanifah adalah siswi kelas 9 di SMPN 3 Malang. Ia aktif dalam organisasi OSIS dan menjabat sebagai Wakil Ketua BDI. Maulidya juga menjadi bagian dari tim kader literasi sekolah, tak heran ia sering terlihat membaca buku di Perpustakaan Bintaraloka.