Perayaan Hari Ibu, dari Doorprize , Fashion Dadakan, hingga Makan Bersama

Sebuah  sore yang istimewa (21/12). Rintik hujan tidak menghalangi semangat ibu-ibu  untuk datang di tempat yang ditentukan. Dengan berkebaya dan kain panjang ibu-ibu tampak begitu cantik. Tampilan mereka begitu berbeda dengan kesehariannya. Ya, ibu-ibu PKK RT 11 RW 03 Kelurahan Bareng hari ini merayakan Hari Ibu bersama-sama.

Hari Ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, tanggal ini resmi dikukuhkan sebagai Hari Nasional

Hari Ibu adalah peringatan  untuk memberikan penghormatan kepada para ibu dan perempuan Indonesia yang telah berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan, serta untuk memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat. 

Pemenang Doorprize, dokumentasi RT11

Dalam perjalanannya, peringatan Hari Ibu  fokus pada penghargaan akan betapa besar jasa dan peran ibu dalam keluarga dan masyarakat.

Ya, ibu adalah pelita sekaligus denyut jantung dalam sebuah keluarga. Pelita, karena ia ibarat penerang yang membuat hati anak anaknya merasa bahagia sekaligus nyaman. 

Denyut jantung karena ibu adalah pusat kehidupan, penggerak kebahagiaan, dan perekat yang memastikan seluruh anggota keluarga tetap terhubung dan berjalan harmonis.

Seperti jantung yang memompa darah yang memberi kehidupan ke seluruh tubuh, ibu adalah sumber utama energi dan cinta yang tak ternilai. 

Perayaan Hari Ibu di RT 11 /RW 03 sore ini berjalan meriah. Diawali mars lagu Hari Ibu acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Ketua PKK RT. Intinya Ibu Ketua berharap semua Ibu-ibu senantiasa sehat dan gembira dalam menjalankan peran sehari harinya baik di keluarga maupun masyarakat.

Fashion dadakan, dokumentasi RT11

Sebuah kejutan terjadi. Tiba-tiba saja setiap ibu harus melakukan peragaan busana. 

Wow, luar biasa, sama sekali kami tidak membayangkan jika harus berjalan di tengah tengah peserta dengan gaya yang agak “kemayu” bak foto model.

Layaknya ibu yang selalu siap untuk semua peran kehidupan, para peragawati dadakan bisa menjalankan semua tugasnya dengan baik dengan iringan tepuk tangan meriah para penontonnya.

Gembira mendapatkan hadiah Doorprize, dokumentasi RT11

Sesudah fashion show, acara dilanjutkan dengan pengundian atau kopyokan doorprize. Hmm, kopyokan selalu meriah dan menjadi ciri khas dari acara ibu-ibu PKK. 

Wajah ceria tampak dimana-mana, apalagi dari para pemenang yang mendapat hadiah doorprize hari itu.

Sebelum acara dilanjutkan dengan makan bersama, dilakukan pemotongan tumpeng oleh Ibu penasehat yang diserahkan pada Ibu ketua PKK.

Setelah berfoto-foto sejenak, tibalah acara yang ditunggu-tunggu yaitu makan bersama. Aha…

Makan bersama , dokumentasi RT11

Berbagai hidangan hasil olahan para ibu disajikan didaun pisang yang memanjang di tengah ruangan. Ada nasi putih, nasi jagung, urap sayur, ayam kecap, bakwan jagung, mendol, rempah dan banyak lagi.

Sungguh, menikmati hidangan bersama dalam suasana yang guyub rukun adalah nikmat Tuhan yang begitu besar.

Bahagia itu sederhana, ia bisa tercipta lewat kebersamaan di antara kita

“Ayo urapnya enak, sedep,”

“Wih, jangan pedesnya, mantap,”

“Bakwan dan mendolnya, enak,”

Berbagai komentar membuat suasana kian terasa hangat.

Ketika hari semakin sore, acarapun ditutup dengan tukar-menukar kado dan berfoto bersama. 

Sebuah sore yang luar biasa. Hari itu ibu-ibu PKK RT 11 RW 03 Kelurahan Bareng merayakan Hari Ibu dengan sederhana namun penuh rasa hangat dan bahagia.

Bahagia itu sederhana, ia bisa tercipta lewat kebersamaan di antara kita. Ngobrol, menikmati hidangan bersama dengan joke joke ringan, bisa membuat hati terasa ringan dan gembira. 

Makan bersama, dokumentasi RT11

Ya, setiap ibu berhak untuk merasa bahagia, karena bahagia seorang ibu bukan hadiah untuk dirinya sendiri, tapi oksigen bagi keluarganya.

“Jalan-jalan” Hingga Memasak Bersama, Cerita Sambut Tahun Baru 2026

“Jadi absen,Buk?” tanya anak saya selepas sholat Maghrib. Hujan baru saja reda. Sejak sore tadi Malang diguyur hujan yang lumayan deras.

“Jadi Le, antar Ibuk ya?” jawab saya sambil melipat mukena dan memasukkannya ke dalam gulungan sajadah.

Tanpa banyak bicara anak saya segera mengeluarkan sepeda motor  dan saya mengikutinya dari belakang.

“Tolong mie nya direbus sebentar, sosisya dipotong ya Le, nanti ibuk pulang tinggal masak,” pesan saya pada anak saya yang paling kecil.

“Inggih siyap,”

Di liburan akhir semester ini kami para guru tetap harus absen pagi dan sore, kecuali yang cuti. Pagi hari absen jam 07.00 dan sore hari pukul 15.00. Jika ada tugas piket kami akan stand by di sekolah untuk menyelesaikan tugas atau membuat persiapan untuk semester depan.

Di hari terakhir tahun 2025 saya mendapat tugas piket ke sekolah. Lumayanlah, bisa mencicil pekerjaan, bertemu dan ngobrol dengan teman-teman.

Kayutangan di malam jelang tahun Baru, dokumentasi pribadi

Sesudah bersih-bersih dan menyelesaikan tugas perpustakaan, kami satu tim piket sepakat untuk pulang saat Dhuhur.

“Jangan lupa absen lagi jam tiga ya,” kata teman saya di parkiran.

“Oke,” jawab yang lain.

Jelang jam tiga langit kota Malang begitu mendung. Hawa mau hujan sangat terasa. Dan tepat seperti perkiraan saya, habis Ashar hujan turun. Mula-mula rintik, dan makin lama makin deras.

“Tetap ke sekolah, Buk?” tanya anak saya.

“Nunggu terang saja, Le, ” jawab saya.

Ternyata hujan sore itu turun tak henti-henti. Wah, tak berani keluar kalau hujan seperti ini. Apalagi akhir-akhir ini banjir sering terjadi di kota kami.

Akhirnya habis Maghrib hujan mulai reda dan saya segera bersiap ke sekolah untuk absen.

“Anggap saja jalan-jalan tahun baruan,” kata anak saya.

Kami tertawa. Dari dulu sampai sekarang kami tidak pernah punya agenda merayakan malam pergantian tahun. Ya, malam tahun baru sepertinya identik dengan hujan, jadi paling enak dirayakan di rumah saja, dengan baca, nulis atau nonton film. Jika tidak karena absen, sungguh kami lebih suka tahun baruan di rumah daripada jalan-jalan. He..he..

Suasana pertokoan di Kayutangan jelang Tahun Baru, dokumentasi pribadi

Sepeda kami terus berjalan menyusuri jalan yang basah. Suasana terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda akan adanya keramaian perayaan Tahun Baru. 

Mungkin karena ada himbauan agar tahun ini kita merayakan tahun baru dengan nuansa yang lebih sederhana, tidak ada mercon,kembang api atau sejenisnya. Beberapa orang tampak baru keluar dari masjid atau langgar sehabis Maghriban.

Dari Kasin sepeda kami menuju Talun, lalu berbelok ke Kayutangan. Kayutangan di jam setengah tujuh malampun tidak begitu ramai. Mungkin karena habis hujan. 

Lampu- lampu pertokoan dan cafe yang berwarna-warni membuat suasana terasa meriah. Semakin malam pastinya pengunjung akan semakin banyak.

Sepeda kami terus menuju Alun- alun Bunder. Balaikota tampak semarak dengan lampu di mana-mana. Cafe-cafe bersolek untuk menarik para pengunjungnya.

Suasana Tugu di malam jelang tahun Baru, dokumentasi pribadi

“Nanti pulangnya beli bubur kacang hijau yuk? Dibawa pulang saja,” kata saya yang langsung dijawab dengan anggukan anak saya. Aih, dingin-dingin begini bubur kacang hijau hangat plus ketan hitam pasti enak. Kami punya langganan tetap di dekat Pasar Bareng.

Sampai di sekolah, dan melakukan finger print kami pun pulang. Rute sekarang lewat Celaket dan Kayutangan. Suasana mulai semakin ramai. Pejalan kaki semakin banyak dan alamak.., hujan turun lagi.

Sekolah di malam hari, dokumentasi pribadi

Mula-mula titik titik air , tapi lama- kelamaan deras juga. Aduh, tidak bawa jas hujan pula, pikir saya cemas.

“Gak usah mampir bubur kacang hijau Le, langsung pulang saja,”  teriak saya di tengah derasnya hujan. Sepeda kami melaju semakin kencang, dan syukurlah pas azan Isyak kami  tiba di rumah.

“Deres ya?” tanya si kecil sambil membukakan pintu pagar. 

“Dueres Le…, sudah siap ya?” tanya saya begitu melihat mie rebus, irisan sosis , bawang dan tomat sudah siap di meja makan.

“Sudah la…,”

“Markimas.., mari kita masak,” jawab saya bersemangat. Setelah ganti baju sebentar kamipun  bersama-sama memasak. Mie goreng Jawa ala ibuk, begitu anak-anak menyebutnya.

Mie goreng Tahun Baru, dokumentasi pribadi

Bau bumbu digongso berpadu dengan suara derasnya hujan malam itu. Ramai.

Sekitar 15 menit kemudian, taraa… satu mangkuk besar mie sudah siap dinikmati. Agak pucat memang, karena kecapnya habis dan mau keluar rumah hujannya deras sekali.

“Makan yuk,” kata saya kemudian.

Sebuah komando yang tak perlu diulang karena pasukan langsung datang ke meja makan dengan membawa piring dan sendok masing-masing. Ternyata lapar, dingin dan hujan adalah kombinasi tepat untuk menuntaskan sebuah hidangan dalam waktu yang cepat.

Ya, satu mangkuk besar mie goreng langsung tandas.

Alhamdulillah, tak apalah gagal menikmati bubur kacang hijau. Yang jelas lezat dan hangatnya mie goreng mewarnai suasana malam tahun baru kami kali ini.

Akhirnya Selamat Tahun Baru 2026, semoga tahun yang akan datang lebih banyak memberikan kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.

Playlist “Bapak”, Lagu-lagu yang Setia Menemani di Kala Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang turun dari langit, sering membuat genangan, kadang juga kenangan..

(quotes hujan)

Di bulan-bulan seperti ini, hujan kian rajin membasahi bumi. Bukan hanya membuat suasana terasa basah, namun kedatangan hujan bisa membangkitkan perasaan nostalgia, karena suara rintik, aroma petrichor, dan udara yang sejuk, sering memicu ingatan pada masa lalu, membuka kembali lembaran kenangan bersama orang-orang tercinta.

Aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya saat hujan adalah membaca dengan ditemani minuman hangat, atau mendengarkan musik. Hal yang terakhir ini paling sering saya lakukan bersama bapak dulu.

Ya, di sore hari, bapak biasanya masih harus menuntaskan jahitannya dan saya selalu membantu beliau. Saya bagian memasang kancing, sementara Bapak membersihkan benang- benang di antara jahitan. Kegiatan itu biasanya kami lakukan bersama dengan diiringi alunan musik kesukaan kami.

Dalam pandangan saya untuk urusan “unen-unen” bapak punya selera yang istimewa.

Tape deck, sumber gambar: Carousel

Di bupet kecil kami ada tape merek Sony , amplifier Sansui dan equalizer yang ukurannya cukup besar. Merek equalizer nya saya lupa. Perangkat itulah yang sehari-hari menemani bapak dalam menjahit.

Sebagai pengiring menjahit biasanya bapak menyetel dengan volume yang tidak terlalu keras, yang jelas musik harus ada. Berbeda dengan di pagi hari saat bersih-bersih atau membangunkan kami, bapak akan menyetel dengan volume yang agak keras, agar semua bersemangat dan segera melakukan berbagai aktivitas.

Bapak selalu menyetel musik sesuai suasana. Pagi hari ketika kami memerlukan semangat ada lagu-lagu Queen, Deep Purple dan sejenisnya. Menjelang siang lagu lagu manis mulai mengisi ruang dengar kami seperti lagu dari Jim Reeves, Pat Boone, Mat Monroe, semakin siang menuju ke sore ada berbagai instrumen yang mempermanis suuasana seperti dentingan gitar Francis Goya, atau alunan piano Richard Clayderman.

Untuk kaset, Bapak punya koleksi yang begitu banyak. Seingat saya 150 lebih dalam berbagai genre musik. Ada pop, jazz, rock, bahkan keroncong.

Ya, dalam keseharian kami selalu ada musik dan musik. Bapak secara tak sengaja membentuk selera kami dan mendengarkan musik adalah tali yang menghubungkan ingatan kami terhadap momen-momen tertentu.

Suatu malam bapak berkata kepada saya ketika kami mendengarkan lagu A Whiter Shade of Pale dari Procol Harum. Saat itu saya sedang mengerjakan PR di samping beliau yang membetulkan jahitan.

” Mbesok kalau kamu dengar lagu-lagu ini pasti ingat Bapak, Nduk,” kata beliau di tengah obrolan kami. Saya hanya tertawa saat itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, ketika beliau sudah tiada lagu- lagu bapak selalu membangkitkan kenangan akan hangatnya kebersamaan dengan beliau dimanapun saya berada.

Ya,dalam banyak kesempatan ketika bepergian saya sering berhenti sejenak ketika tiba-tiba mendengarkan lagu kesukaan bapak. 

Suatu saat, pas jalan-jalan di Kayutangan bersama anak saya, tiba- tiba seorang pengamen menyanyikan lagu A Whiter Shade of Pale. Saya langsung berhenti.

“Ayo dengar lagu dulu Le,” kata saya sambil duduk di kursi yang ada di trotoar sampai lagu habis. Seiring mengalirnya lagu itu kenangan akan Bapak terus tergambar. Ya, saya benar benar merasakan momen ketika kami sedang ngobrol berdua di ruang tamu saat itu.

Demikian juga ketika anak saya wisuda di UGM, saya langsung mbrebes mili ketika kelompok paduan suara menyanyikan lagu Close to You. Ya, lagu dari Carpenter ini adalah juga favorite bapak.

Ketika era tape mulai tergerus dengan kedatangan MP3 dan yang lain, saya berusaha kembali mengumpulkan lagu- lagu kenangan itu lewat Spotify.  Melalui playlist yang saya buat saya bisa merasakan kembali keindahan kenangan mendengarkan lagu lagu bersama orang-orang tercinta terutama bapak.

Saya punya beberapa macam playlist dengan judul “Bapak”. Ya, genre musik yang disukai bapak beraneka ragam. Playlist yang pertama berisi lagu lagu instrumen, ada lagu- lagu dari Paul Mauriat, Francis Goya, Richard Clayderman, Idris Sardi di sana. Playlist kedua berisi lagu lagu manis dari Elvis Presley, Jim Reeves, Pat Boone, juga Bimbo. Playlist berikutnya berisi lagu-lagu slowrock dari Queen, Deep Purple, Scorpion dan sejenisnya.

Playlist-playlist itu yang setia menemani saya sekarang ketika menikmati sore yang dihiasi hujan, karena setiap tetes hujan bulan hanya sekadar membuat genangan, melainkan juga membuka lembaran kenangan. 

Melalui alunan lagu-lagu dari playlist “Bapak”, beliau selalu hadir kembali dalam rindu. Mengingatkan saya kembali pada dialog-dialog kecil, tawa, dan kehangatan sore-sore yang basah. 

Ya, hujan selalu bisa merajut kembali kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di balik rintiknya, ada cinta yang terus mengalun, seiring alunan musik kesukaan saya dan bapak.

Catatan Kecil di Kala Hujan, Dari Atap Bocor hingga Listrik Njeglek

Di musim penghujan seperti ini, tiap hari jelang jam dua siang, sudah bisa dipastikan  Malang akan tertutup mendung. Beranjak menuju jam tiga, mendung berubah jadi hujan yang langsung membasahi kota.

Jas hujan, jaket adalah dua hal yang tidak boleh dilupakan. Lebih lebih tiap hari saya pulang jam tiga sore. 

Perjalanan pulang ditemani hujan adalah hal yang biasa. Jalanan macet, karena jam pulang sekolah atau bekerja, ditambah dengan galian di beberapa ruas jalan karena perbaikan gorong-gorong membuat perjalanan saat hujan terasa lebih lamban.

Berkendara di saat hujan tidak masalah, namun demikian jika hujan deras sekali atau disertai petir saya lebih baik menunggu di sekolah. Ya, demi keamanan, karena banyak pohon-pohon tua di sepanjang jalan, yang rawan sekali jika diterjang hujan deras.

Bisa roboh atau patah dahan yang bisa membahayakan pengendara yang lewat.

Datangnya musim hujan selalu diharapkan. Ya, hujan adalah rahmat. Ada keberkahan dalam tiap tetesan air hujan.

Meski demikian sering juga timbul masalah jika hujan terlalu deras. 

Menurut Prediksi BMKG Musim Hujan 2025/2026 di Indonesia akan mengalami puncaknya  di sekitar bulan November hingga Desember. Orang Jawa sering menamakan Desember itu artinya gedhe-gedhene sumber (mata air sedang dalam kondisi yang paling besar). Makanya bulan-bulan ini seolah tiada hari tanpa hujan.

Malang di kala hujan, sumber gambar : InfoMalang.com

 Masalah klise yang timbul di rumah saya saat hujan yang terlalu deras adalah adanya kebocoran di titik titik tertentu. Maklumlah rumah sudah lawas, lama tak direnovasi, gentengnya gampang melorot 

Belum lagi dengan ulah kucing yang suka kejar-kejaran di atas genting. Kalau di atas ada “glodhakan” alamat ada genting melorot lagi. Jika sudah demikian pasti kami akan meminta tolong pada Pak Anto tukang langganan kami untuk menata genteng  ditambah melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang lain.

Ada satu peristiwa yang membuat kami  minta bantuan Pak Anto di bulan November ini, dan ini bukan masalah bocor.

Ketika itu hari Minggu. Hujan sangat deras dan petir bersahut-sahutan. Lewat grup-grup pertemanan informasinya hujan deras merata di mana mana.

“Medeni ya Le,” kata saya ketika membaca di ruang tengah bersama anak saya.

Hujan yang begitu deras membuat atap kamar atas yang terbuat dari galvalum menimbulkan suara yang ‘ramai’.

“Duaaar..!” Sebuah petir mengagetkan kami.

“Hape dimatikan!” kata saya.

Ngeri rasanya mendengar suara petir sedahsyat itu. Katanya pas hujan berpetir kita tidak boleh hape an. 

Tak lama kemudian..

“Dhuaaar,” sebuah petir yang lebih keras membuat kami terkejut.

“Astaghfirullah,” teriak saya.

Dan “sreeet!” tiba- tiba lampu mati. Sekilas tadi saya seperti melihat secercah cahaya di belakang kulkas.

Hari itu masih menunjukkan pukul tiga, tapi suasana rumah gelap seperti Maghrib.

“Coba cek ke depan!” 

Anak saya segera melakukan pengecekan. 

MCB (Mini Circuit Breaker) adalah perangkat keamanan yang berfungsi untuk memutus aliran listrik secara otomatis ketika terjadi kelebihan beban (overload) atau korsleting (hubungan singkat.

MCB, dokumentasi pribadi

“Ooh, njeglek!” kata anak saya ketika melihat MCB dalam posisi “off”. 

Begitu tombol di “on” kan ternyata listrik njeglek lagi.

“Ada yang konslet, Le,” 

Ya, pengalaman saya kalau MCB tidak bisa di “on” kan berarti ada yang konslet.

Saya segera menelepon tukang langganan dan memintanya untuk datang ke rumah.

“Nunggu terang, nggeh,” kata Pak Anto

“Nggeh,”

Akhirnya sore itu kami tidak bisa berkegiatan seperti biasanya.

Hujan deras ditambah lampu mati, sumpek sekali rasanya. Mau ke dapur untuk sekedar merebus air atau memasak jadi enggan.

Untungnya habis Maghrib Pak Anto datang dengan membawa sebuah senter besar. Aih, orang yang  benar benar kami tunggu.

Tanpa banyak cakap, setelah tahu masalahnya Pak Anto mulai memeriksa aliran listrik, lampu lampu termasuk kabel televisi dan kulkas di rumah. 

“Tolong semua lampu dan alat listrik di “off” kan. Steker dicopot semua,” kata Pak Anto pada anak saya.

Sesudah semua di “off” kan, Pak Anto menghidupkan MCB. Aman. Tidak “njeglek” seperti tadi.

“Nah, sekarang kita hidupkan lampunya satu persatu mulai dari ruang tamu,” katanya

Anak saya menghidupkan lampu satu persatu. Jika tidak “njeglek” berarti aman, jika “njeglek” berarti lokasi konslet ada di situ.

Setelah semua lampu dihidupkan, ternyata  aman, nah giliran terakhir mau menghidupkan kulkas ternyata anak saya mendapati stop kontak kulkas hangus separo. 

“Berarti lokasi konslet ada di situ,” kata Pak Anto.

Memperbaiki stop kontak, sumber gambar: Empat Pilar.com

MCB kembali dimatikan dan Pak Anto membongkar stop kontak sementara anak saya bagian membawa senter.  Setelah dibetulkan akhirnya semua teratasi.

“Ini kabelnya terlalu kecil untuk kulkas Mbak, harus diganti,” katanya.

Menurut Pak Anto sambaran petir dapat menciptakan lonjakan tegangan listrik yang sangat besar dan jika ukuran kabel terlalu kecil maka ia akan terbakar.

Oh, makanya tadi pas hujan deras suara “sreeet…. !” sebelum mati lampu muncul dari arah kulkas, pikir saya.

Saran Pak Anto berikutnya kami harus mengganti kabel kabel yang tidak sesuai ukurannya supaya lebih aman.

Tipsnya lagi jika terjadi korsleting dan MCB mati atau “njeglek” adalah :

1. Cabut semua peralatan elektronik. Cabut semua steker dari stop kontak, terutama jika kita  curiga ada salah satu peralatan elektronik yang rusak.

2.  Periksa dengan hati-hati kabel-kabel di sekitar area yang bermasalah. Cari tanda-tanda kerusakan seperti kabel yang terkelupas, terbakar, atau sambungan yang longgar. 

3. Periksa juga stop kontak, sakelar, dan kap lampu. Jika ada yang meleleh atau terlihat rusak, segera perbaiki atau ganti. 

4. Ganti atau perbaiki bagian yang rusak dan sebaiknya menghubungi ahlinya.

“Matur nuwun, Pak Anto,” 

Kami mengantar Pak Anto sampai pintu ketika semua sudah beres.

“Sami-sami,” 

Pak Anto segera pulang menembus gelapnya malam. Hujan masih turun rintik-rintik.

Sungguh hari yang luar biasa. Hari itu kami mendapat pelajaran berharga agar waspada dengan berbagai kejadian ketika hujan deras. Hari ini tidak ada masalah bocor, ternyata ganti masalah listrik.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip doa yang diucapkan Nabi ketika hujan turun. 

Allahumma shoyyiban nafi’an” yang artinya “Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat”. Ya, semoga hujan yang turun membawa kebaikan dan keberkahan bagi kita semua.

Sekedar berbagi cerita, salam hangat 😊

Konsultasi Pengisian Survey IPLM ke Perpustakaan Umum Kota Malang

Pada hari Selasa (18/11) perpustakaan SMP Negeri 3 Malang mengirimkan Ibu Yuli Anita dan Ibu Eka untuk melakukanĀ  konsultasiĀ  pengisian survey ILPM ke Perpustakaan Umum Kota Malang.

IPLM adalah singkatan dari Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat, sebuah ukuran statistik untuk menilai sejauh mana pemerintah daerah dan masyarakat berupaya membina perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat guna menciptakan budaya literasi. 

Indeks ini mengukur berbagai aspek, seperti pemerataan layanan perpustakaan, koleksi, dan tenaga perpustakaan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui literasi.Ā 

Pengisian IPLM, dokumentasi pribadi

Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur dan mengevaluasi upaya peningkatan literasi masyarakat, terutama melalui pengembangan perpustakaan.Ā 

ILPM melibatkan berbagai unsur, termasuk pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten/kota), lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan media massa. 

Hasil yang diperoleh dari survey ini ke depan akan dijadikan dasar penyusunan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan kualitas masyarakat melalui literasi dan akses terhadap informasi.Ā 

Sesudah pendampingan pengisian survey dilaksanakan dengan menyertakan berbagai bukti dukung untuk keabsahan data yang dituliskan di survey.