Ketika Terapi Menulis Membuahkan Prestasi

Seorang siswa mendekati saya malu-malu. Dengan tersenyum ia menyapa saya yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di perpustakaan.

“Ya, Nadia?” tanya saya ramah. Nadia adalah salah satu siswa yang rajin ke perpustakaan. Anaknya sangat pendiam dan lebih sering menenggelamkan diri dalam buku buku bacaan saat istirahat.

Nadia semakin mendekat lalu berkata pelan. “Bu, saya punya naskah cerpen, boleh saya kirim ke Ibu? Barangkali bisa dimuat di majalah?’ 

Saya tersenyum surprise. “Tentu boleh, Nadia suka nulis ya?” tanya saya.

“Suka, Bu,” jawabnya singkat. Masih malu-malu.

“Saya tunggu,” jawab saya lagi.

Singkat kata keesokan harinya cerpenpun dikirim pada saya. 

Tentang Nadia, ia adalah siswa saya di kelas tujuh dan  seorang teman BK bercerita pada saya bahwa anak ini sedang menghadapi masalah yang serius 

“Kenapa Nadia, Bu?” tanya saya heran.

“Anak ini mempunyai kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri. Dengan menggunakan cutter dia sering membuat “barcode” di pergelangan tangannya,” jelas teman saya.

“Astaga, anak sekecil itu? Kenapa dia melakukan hal itu?”

Dijelaskan secara singkat bahwa kecenderungan itu muncul karena ia sering merasa tidak dihargai, dibanding bandingkan dan merasa dirinya tidak berarti. Karena tidak ada teman bicara, untuk melampiaskan kekecewaannya Nadia mengikuti trend saat itu yaitu menyilet pergelangan tangannya. Ada banyak hasil guratan benda tajam itu di lengan kecilnya.

“Apa perasaan Nadia setelah melukai tangannya?” tanya saya lagi.

“Menurut keterangannya, Nadia merasa puas, bebannya lepas dan lega setelah menyileti lengannya,” lanjut teman saya.

Teman saya bercerita ebih lanjut bahwa setelah mengadakan konsultasi berkali-kali baik dengan Nadia maupun orang tuanya, diketahui bahwa Nadia mempunyai hobi menulis. Karenanya ia memutuskan membuat hobbi ini menjadi sarana untuk meringankan masalah Nadia, terutama yang berkaitan dengan kecenderungannya untuk menyakiti diri sendiri.

Ilustrasi membaca buku di perpustakaan, gambar by : Gemini AI

“Nadia, silakan membuat tulisan di sini ketika keinginan untuk melukai dirimu tiba-tiba muncul,” kata teman saya sambil menyodorkan sebuah buku kosong di sebuah sesi konseling.

Nadia menerima buku itu. Dan sejak saat itu setiap ada kecenderungan untuk menyakiti dirinya ia mengalihkan keinginan tersebut dengan menulis dan menulis. 

Hari demi hari berlalu. Suatu saat sesudah duduk di kelas dua Nadia mendatangi guru BKnya sambil bercerita bahwa ia mempunyai sebuah tulisan.

Teman saya begitu gembira. Nadia sepertinya sudah tidak sependiam dulu lagi.

“Coba hubungi tim majalah, barangkali naskahmu bisa diterbitkan di majalah,” kata teman saya saat itu.

Dan akhirnya Nadia menemui saya seperti sekarang ini.

Naskah sudah dikirim, dan saya mulai membaca cerpen Nadia yang lumayan panjang. Ada sekitar empat halaman folio.

Ceritanya berkisar pada seorang anak introvert yang berteman dengan anak,-anak dari dunia lain. Mungkin ini juga menggambarkan suasana hatinya. Oh ya, menurut teman BK, Nadia banyak mempunyai teman ‘imajinasi’, karena ia merasa kurang bisa berteman dengan orang sekitarnya.

Dalam ceritanya Nadia mengisahkan tokoh utama yang tidak mempunyai teman di dunia nyata, merasa dikucilkan dan akhirnya dia menemukan teman-teman dunia khayal yang sangat menyenangkan. 

Di akhir cerita Sang Tokoh mengikuti teman- temannya menuju dunia khayal yang lebih menyenangkan daripada dunia nyata.

Saya langsung terhenyak melihat endingnya. Suram sekali.

Segera saya hubungi guru BK untuk lebih melakukan pendekatan pada Nadia sambil menunjukkan cerpen itu.

“Kok mengkhawatirkan ya Bu?” kata saya saat itu.

Agar cerpen bisa memberikan vibes positif pada pembacanya saya memanggil Nadia.

“Nduk, cerpen ini kami masukkan majalah, tapi tolong endingnya diganti sedikit bisa?”

“Diganti bagaimana Bu?’

“Tokoh utamanya jangan mati, buat yang happy ending,” jawab saya.

Nadia mengangguk dan tersenyum. Ia siap mengubah akhir cerita tulisannya, sementara itu teman saya BK secara berkala tetap berkomunikasi dengan Nadia.

Beberapa hari berlalu dan Nadia kembali mengirimkan tulisannya dengan ending yang berbeda.

“Wah, bagus tulisanmu, nanti dimuat di majalah ya,” kata saya senang. Setelah sekali lagi saya baca naskah cerpen Nadia,  nuansa suram sudah jauh berkurang.

Nadia tersenyum dan seperti biasa ia hanya menjawab singkat,”Terima kasih, Bu,”

“Sama-sama,” 

Sungguh saya ikut merasa gembira. Setidaknya saya berusaha mengajak Nadia untuk melihat bahwa dunia tidak sesuram yang ia kira.

Mempunyai tulisan yang dimuat di majalah adalah sebuah kebanggan tersendiri. Dengan wajah gembira, setelah penerbitan majalah Nadia  mendekati saya sambil berkata,” Saya masih punya cerita yang lain, Bu,” katanya senang.

Ilustrasi purnawiyata, gambar by: Gemini AI

Hari purnawiyata kemarin menjadi hari yang sangat mengejutkan bagi saya dan guru BK Nadia. Betapa tidak? Saat pengumuman nilai absolut, ternyata Nadia mendapatkan nilai 100 untuk Bahasa Indonesia. Luar biasa.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

“Bu, Nadia..!” bisik saya pada teman BK yang duduk di samping saya.

“Subhanallah…,” kata teman saya speechless.

Sungguh mengharukan ketika kami melihat Nadia maju ke depan di antara para peraih nilai absolut untuk mendapatkan penghargaan. Rupanya kegemaran membaca dan menulis secara otomatis mengasah kemampuan Nadia dalam bidang literasi sehingga ia bisa meraih prestasi yang yang sangat membanggakan ini.

Jika banyak teori yang mengungkapkan bahwa menulis bisa menjadi terapi, hari itu kami telah membuktikannya. Menulis bukan hanya terapi, tapi juga bisa membuahkan prestasi.

Wisata Terop Bersama ke Desa Sukorejo Kabupaten Tulungagung

Zulhijjah atau Bulan Besar adalah bulannya wisata terop. Ya, wisata terop adalah istilah kami untuk berkunjung ke pernikahan seseorang, dan bulan Zulhijjah seperti sekarang ini banyak menjadi pilihan bagi pasangan yang akan menikah.

Mengapa banyak yang memilih Bulan Besar sebagai bulan pernikahan? Beberapa alasan di antaranya adalah karena Nabi Muhammad SAW menikahkan putri kesayangannya, Sayyidah Fatimah, dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib pada awal bulan Zulhijjah.

Selain itu Zulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan mulia (bulan haram) dalam Islam. Melangsungkan pernikahan di bulan ini dianggap sebagai bentuk ibadah untuk mengharapkan pahala dan keberkahan berlipat ganda. 

Nah, di bulan Zulhijjah ini, tepatnya Minggu (31/05) kami menghadiri pernikahan dari seorang teman yang tinggal di desa Sukorejo, kec. Karangrejo Tulungagung yaitu Moch. Alfatan Widyastanto atau sering kami panggil dengan panggilan akrab Mas Fathan.

Mas Fathan adalah mantan pegawai tata usaha SMP Negeri 3 Malang yang sejak tahun 2025 dipindah tugaskan ke SMP Negeri 5 Malang.

Persiapan berangkat ke Tulungagung, dokumentasi Shinta

Keberangkatan rombongan kami ke Tulungagung ini terdiri atas 13 orang dari  guru dan tenaga kependidikan baik yang masih aktif di SMP Negeri 3 Malang, berdinas di tempat lain, atau sudah purna.

Pukul 07.00 wib rombongan  berangkat dan diharapkan sampai di tempat tujuan sekitar pukul 10.00 wib.

Prosesi temu manten , dokumentasi pribadi

Kehadiran rombongan dari SMP Negeri 3 Malang disambut hangat oleh keluarga mempelai, sekaligus mempersilakan kami mengikuti prosesi temu manten.

Setelah acara prosesi selesai dan dilanjutkan dengan ramah tamah, rombonganpun berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Malang.

Selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz
Mengikuti acara temu manten , dokumentasi Buz

Bukan sekedar silaturahmi dan menghadiri undangan diharapkan acara ini bisa memperkuat kebersamaan di antara kami. Karena kebersamaan yang bagus adalah pondasi yang kuat bagi sekolah untuk membangun langkah ke depan yang lebih baik. 

Berfoto bersama manten, dokumentasi Shinta

Akhirnya selamat berbahagia Mas Fathan dan Mbak Candra Mey Sinta. Semoga berbahagia, samawa dan diberkahi Allah dengan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Surat-surat untuk Pak Edi

Seorang laki-laki duduk di bangku marmer depan kelas. Alat kebersihan, sapu dan pel  disandarkan di tembok di sebelahnya. Sambil sesekali mengelap peluh, ia membuka surat dengan sampul warna-warni dan mulai membacanya.

Di tangannya yang satu beberapa surat dalam amplop tertutup sudah menunggu untuk dibaca pula.

Satu surat dilipat kembali. Ada senyum sekaligus haru di wajahnya.

“Wah, dapat surat nih,” tanya teman saya menggoda.

“Inggih Bu, dari anak-anak,” jawabnya sambil tersenyum seperti biasanya.

Pak Edi adalah salah satu cleaning service di sekolah kami. Orangnya ramah juga rajin. Ramah, karena ia selalu menyapa orang orang yang lewat di sekitarnya , dan rajin karena Pak Edi selalu melakukan tugas dengan penuh tanggung jawab. Pokoknya di mana ada Pak Edi, lingkungan langsung bersih, baik itu kamar mandi koridor, ataupun lobby.

“Wah, banyak suratnya,” kata teman saya lagi. 

“Mboten semerap niki, lare-lare,” jawab Pak Edy sambil menunjukkan surat-surat yang sudah dibacanya.

Menulis surat pribadi adalah salah satu materi pelajaran Bahasa Indonesia kelas 7. Di era yang serba digital ini surat menyurat memang semakin jarang dilakukan. Meski demikian, surat pribadi tetap relevan sebagai media komunikasi yang personal, mendalam, dan abadi.

Diterangkan oleh salah satu guru bahasa Indonesia, bahwa dalam pelajaran menulis surat pribadi ini siswa diberi kebebasan untuk menulis surat dan mengirimkannya pada seseorang. Orang yang dituju bebas, boleh orang tua, guru, teman ataupun saudara. Dan uniknya ternyata banyak siswa yang mengirim surat pada Pak Edi, mungkin karena Pak Edi yang ramah pada anak anak.

Rasa terima kasih dan penghargaan anak anak pada Pak Edi terungkap dalam surat-surat mereka berikut ini:

Surat dari anak anak, dokumentasi Ahfi
Surat dari anak-anak, dokumentasi Ahfi

Ada ‘mutiara berharga’ yang bisa diambil dari kegiatan menulis surat pribadi ini seperti menumbuhkan rasa hormat dan empati pada orang lain, peduli pada orang-orang sekitar kita, termasuk juga menghargai aneka profesi yang ada di sekitar kita. Ya, setiap pekerjaan yang memberikan kemaslahatan bagi orang banyak adalah mulia dan layak dihormati.

Surat dari anak anak, dokumentasi Ahfi

Bagi Pak Edi sendiri hadirnya surat-surat istimewa pagi itu adalah kejutan manis. Ia tak menduga, kerjanya selama ini ternyata mendapat apresiasi dari anak-anak yang setiap hari menyapanya.

Pak Edi melipat surat-surat yang habis dibaca, lalu memasukkannya ke dalam saku.  Ia kembali tersenyum,  sungguh hadirnya surat-surat itu membuatnya kian bersemangat dalam melaksanakan  tugasnya dari hari ke hari.

Belajar Kesabaran dan Keuletan dari Novel “Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng”

Judul Buku: Bonsai Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng 

Penulis/Pengarang: Pralampita Lembahmata

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 

Tahun Terbit: 2011

Tebal Halaman: 520

Saya menemukan buku ini di rak ketika kami melakukan penataan ulang atas buku-buku perpustakaan sekolah. Bukan buku baru, tapi sangat menarik untuk dijadikan bahan renungan.

Novel yang lumayan tebal ini langsung menarik perhatian saya begitu melihat daftar isinya. Ya, dari daftar isi tersebut bisa dilihat bahwa latar kejadian di novel ini adalah mulai zaman Mataram hingga zaman Reformasi.

Cina Benteng adalah komunitas etnis Tionghoa peranakan yang menetap di sekitar wilayah Kota Tangerang, Banten. Leluhur Cina Benteng datang dari Tiongkok dan sudah berasimilasi dengan penduduk setempat sejak awal abad ke 15.

Kaum peranakan ini mula-mula tinggal di kawasan pantai Utara, Teluknaga, kemudian menyusuri Cisadane ke pedalaman dan mendirikan Born Tek Bio pada tahun 1684 sebagai awal eksistensi mereka di Tangerang.

Buku ini bercerita tentang keluarga Boenarman yang merupakan salah satu keluarga keturunan Cina Benteng. 

Boenarman yang mempunyai usaha peternakan babi ini suatu saat terpikat pada filosofi sebuah bonsai. Ia kemudian bermimpi untuk memiliki sebatang pohon kerdil yang akan menjadi pusaka, “prasasti hidup” bagi keluarganya, melampaui kekayaan materi . 

Ketertarikan Boenarman diwujudkan dengan mulai merawat sebatang hinoki cypress pada tahun 1909.

Hinoki Cypress, Love My Bonsai

Boenarman merawat dengan penuh ketekunan dan berusaha meresapi filosofi kesabaran, keteguhan, dan kerendahan hati yang diajarkan oleh “guru tak berlisan” ini .

Bonsai ini akhirnya terus menjadi saksi bisu cerita keluarga Boenarman selama hampir satu abad, mengikuti perjalanan hidup keturunannya melintasi berbagai peristiwa dari zaman ke zaman.

Di masa  kolonial dan pendudukan Jepang, bonsai diselamatkan oleh Boenadi anak Boenarman dengan cara menyembunyikannya dari incaran tentara Jepang.

Pada era revolusi dan pasca kemerdekaan keluarga Boenadi menghadapi tragedi rasial pasca proklamasi. Pada peristiwa tersebut etnis Tionghoa menjadi sasaran kekerasan dan hotel milik Boenadi dibakar, serta menantunya menjadi korban pembantaian .

Orde Baru adalah masa dari Meily (cucu Boenarman). Saat itu gelombang demonstrasi Malari 1974 terjadi dan mengancam kehidupan keluarga ini. Meski hanya kehilangan harta benda, trauma dan kewaspadaan terus menghantui mereka.

Puncak kerusuhan berikutnya adalah Mei 1998. Pada masa tersebut keluarga ini kembali porak-poranda akibat kerusuhan  yang meluluhlantakkan banyak warga Tionghoa, meninggalkan luka fisik dan psikis yang mendalam .

Di tengah setiap badai sejarah yang menerpa, bonsai tersebut tetap teguh berdiri dan menjadi bagian dari keluarga ini. 

Saya membaca novel ini dua kali. Ya, di momen membaca yang kedua ini terasa benar keindahannya. Betapa setiap cerita yang disajikan ada pelajaran berharga yang bisa diambil.

Sebagian daftar isi buku, dokumentasi pribadi

Di awal terasa alur cerita berjalan begitu lambat, tapi ternyata di situlah keistimewaannya. Lewat bab yang ada, kita seolah diajak merenung, menekuri setiap jejak peristiwa yang menimpa keluarga ini.

Gaya bahasa Pralampita yang sederhana tapi membumi adalah daya tarik lain dari novel ini. Munculnya Bahasa Indonesia yang sesekali dicampur Bahasa Hokkien membuat dialog dalam novel ini terasa hidup.

Novel ini  memberikan pelajaran bahwa lebih dari sekadar tanaman, bonsai adalah pengingat bahwa manusia harus ulet dan tabah dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, seperti halnya bonsai yang tetap tumbuh subur dalam potnya yang sempit dan dangkal.

Osob Kiwalan, Identitas dan Perekat Budaya Orang Malang 

“Nakam?”

“Oges lecep ya,”

“Oyi wes,”

“Sebenarnya kepingin oskab,”

“Oskab apa lecep?”

“Lecep ae wes, oskab kapan kapan ae..,”

Di atas adalah sekelumit percakapan antara dua orang yang ada di sebuah kedai. Dari bahasa yang digunakan pembaca pasti bisa menebak dari mana kedua orang tersebut berasal. Ya, dari Malang. Mengapa ? Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa khas Malangan yang dinamakan Osob Kiwalan atau Boso Walikan atau Bahasa yang kosa katanya dibaca terbalik.

Jadi jika kita membaca sebuah tulisan biasanya dari kiri ke kanan, dalam Osob Kiwalan kata dibaca dari kanan ke kiri. Mirip tulisan Arab ya..? Tidak juga. Nanti di uraian selanjutnya pembaca akan bisa melihat keunikan alat komunikasi satu ini.

Penggunaan Osob Kiwalan membuat suasana terasa hangat dan akrab. Osob Kiwalan membuat pemakainya merasa sesaudara, ya sama- sama orang Malang. Apalagi saat berada di luar kota, dan tiba-tiba ada yang menyapa kita dengan Osob Kiwalan ini. Yoopo kabare Sam? Wah, pasti sangat beda rasanya.

Bukan sekedar unik dan penambah keakraban Osob Kiwalan ternyata mempunyai sejarah yang ada kaitannya dengan Perang Kemerdekaan. Ya, bahasa ini tercipta saat Belanda melakukan aksi agresi militer satu (1947) dan agresi militer dua (1948) di Kota Malang.

Aksi yang bertujuan untuk menguasai kembali daerah Malang itu benar- benar merepotkan para pejuang saat itu. Di samping persenjataan Belanda yang lebih canggih, mereka juga dibantu oleh mata-mata yang dari masyarakat setempat yang berkhianat dengan menjadi informan untuk Belanda.

Begitu kreatifnya orang Malang, maka untuk menghadapi musuh dalam selimut ini mereka menciptakan Osob Kiwalan atau bahasa walikan yang hingga sekarang banyak dan pada akhirnya menjadi identitas budaya masyarakat Malang.

Bahasa walikan saat itu banyak digunakan oleh orang Malang yang berada di garis demarkasi atau perbatasan antara wilayah Indonesia dengan jajahan Belanda.

Pasukan yang paling banyak menggunakan Osob Kiwalan ini adalah para pejuang di bawah pimpinan Mayor Hamid Roesdi, pejuang asli Malang yang juga menjadi pemimpin  Gerilyawan Rakyat Kota (GRK), yaitu sebuah gerakan pemuda Malang untuk melawan penjajah Belanda.

Patung Mayor Hamid Rusdi, Sumber gambar: Metro

Sampai sekarang patung Mayor Hamid Rusdi bisa kita lihat berdiri gagah di Jalan Simpang Balapan Malang.

Lalu bagaimana cara membalik kata dalam Osob Kiwalan ini? Bukan sekedar membalik urutan huruf atau fonem, Osob Kiwalan juga memperhatikan kenyamanan pengucapan atau istilahnya “enak di lidah”.

Ada beberapa cara untuk membalik kata dalam Osob Kiwalan, yaitu:

1. Pembalikan Huruf secara  Langsung

Teknik ini membalik posisi huruf secara keseluruhan tanpa mengubah susunan bunyi.

Contoh:

Arek menjadi Kera

Boso menjadi Osob

Bayar menjadi Rayab

2. Membalik huruf dengan sedikit melakukan pengubahan dengan prinsip “Enak Dirungokno” (Nyaman Didengar). Jadi pembalikan tidak dilakukan secara kaku.

 Contoh:

Malang menjadi Ngalam

Mlebu menjadi ublem

Meskipun prinsipnya dibalik, tidak semua kata harus dibalik secara kaku. Jika kata yang dibalik sulit diucapkan, maka susunannya akan disesuaikan agar tetap terdengar enak dan mudah diucapkan.

3. Pembalikan Suku Kata

Beberapa kata tidak dibalik huruf demi huruf, melainkan per suku kata, terutama untuk kata yang memiliki konsonan ganda. 

Contoh:

Sembarang menjadi ngarambes

4. Membalik Kata Umum dalam Kalimat, jadi yang dibalik hanya kata kata umum, tidak semua kata.

Contoh:

“Awakmu wis budal” menjadi “Awakmu wis ladub” (ladub = budal/berangkat).

Iyo Mas, aku melok menjadi oyi sam, ayas kolem

Dalam osob kiwalan sering kali imbuhan dipertahankan atau menyesuaikan agar kata yang diucapkan tetap mudah dipahami.

Meskipun unik , namun menurut jajak pendapat yang dilakukan Times Indonesia pada tahun 2025, Osob Kiwalan ini semakin lama semakin ditinggalkan.

Jajak pendapat yang dilakukan pada anak muda dengan rentang usia 17-27 tahun tersebut menghasilkan data bahwa bahasa yang unik dan kreatif ini sangat menarik namun sulit dipahami.

Pengaruh media sosial dan banyaknya pendatang di Kota Malang membuat komunikasi orang Malang lebih banyak dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia daripada Osob Kiwalan ini. Hal ini ikut andil atas semakin menurunnya jumlah pemakai Osob Kiwalan. 

Sebuah bahasa lambat laun akan punah jika pemakainya semakin lama semakin sedikit. Berkaca dari hal tersebut,  adalah tanggung jawab kita bersama terutama orang Malang untuk terus berusaha agar Osob Kiwalan yang menjadi identitas dan perekat budaya orang Malang ini tidak semakin hilang tergerus oleh arus perubahan zaman.

Bagaimana pembaca? Utujes?