Permainan gitar sebagai pembuka lagu ini begitu cantik dan menggoda. Gaya Nuno Bettencourt, musikus asal Portugal ini dalam memetik gitar, juga caranya menghayati lagu demikian memukau.
Lagu ini tersimpan begitu lama di laptop saya. Bagus memang. Suara Gary Cherone dan irama gitar Nuno Bettencourt adalah paduan yang begitu pas. Kolaborasi yang begitu menarik. Cukup dua orang, namun bisa membuat pendengarnya tak bosan-bosan mendengar atau berlama-lama memandang aksi keduanya.
Melalui lagu ini Nuno menunjukkan kelasnya sebagai gitaris yang begitu handal, dan dalam perjalanannya Nuno adalah salah satu gitaris terbaik dunia dengan permainan rythm yang sangat wow..
Lagu istimewa ini diciptakan oleh Nuno dan Gary Cherone di sekitar tahun 1990, dan sampai sekarang masih terasa sedap dinikmati. Benar-benar lagu yang tak lekang oleh waktu.
More Than Words bercerita secara ringkas bahwa cinta itu lebih dari sekadar kata-kata, dan lebih baik ditunjukkan melalui tindakan nyata.
Menurut Nuno Bettencourt, lagu ini tercipta karena kata I love you mulai kehilangan maknanya karena sudah terlalu sering diucapkan.
More Than Words pernah dipopulerkan kembali oleh Westlife, sebuah boyband legendaris asal Irlandia di tahun 1999. Tapi saya pribadi lebih suka versi aslinya. Mungkin karena versi asli telah banyak menyimpan kenangan manis.
Sumber gambar: The Hive Asia
Ya, keindahan sebuah lagi sering tak lepas dari kenangan yang dibawanya.
Berikut adalah lirik lengkap dari lagu More Than Words.
More Than Words
Saying “I love you” Is not the words I want to hear from you It’s not that I want you Not to say but if you only knew How easy, it would be to show me how you feel More than words is all you have to do to make it real Then you wouldn’t have to say that you love me ‘Cause I’d already know What would you do If my heart was torn in two? More than words to show you feel That your love for me is real What would you say If I took those words away? Then you couldn’t make things new Just by saying “I love you” La-di-da, da-di-da Di-dai-dai-da More than words La-di-da, da-di-da Now that I’ve tried to Talk to you and make you understand All you have to do is close your eyes And just reach out your hands and touch me Hold me close, don’t ever let me go More than words is all I ever needed you to show Then you wouldn’t have to say that you love me ‘Cause I’d already know What would you do If my heart was torn in two? More than words to show you feel That your love for me is real What would you say If I took those words away? Then you couldn’t make things new Just by saying “I love you”
Berikut adalah lagu More Than Words versi Extreme dan Westlife. Mana yang lebih anda suka? Mari sejenak kita nikmati dengan ditemani secangkir kopi.. 😀
Malam semakin larut. Sinar lampu tempel yang diletakkan di sudut ruangan sesekali bergoyang tertiup angin. Ya, malam itu listrik mati di kampung kami.
Bayangan-bayangan di dinding kamar membuat siluet tertentu dan kadang menimbulkan rasa seram. Namun itu semua tak kami perhatikan. Ada yang lebih menarik. Di depan kami bertiga bapak tengah asyik membawakan ceritanya.
Mahabharata, Sumber gambar: Kaori Nusantara
Malam itu bapak bercerita tentang Mahabarata. Perseteruan antara Pandawa dan Kurawa. Cerita yang begitu panjang kini sampai pada klimaksnya.
Kami terpukau dengan cerita bapak. Gemuruh kereta di padang Kurusetra seolah begitu jelas tergambar di benak kami.
“Mengapa Karna tidak bergabung di Pandawa saja Pak? ” tanya saya saat itu. Bapak tersenyum sambil mengemukakan alasan yang sulit diterima akal anak kecil seusia saya.
Bagaimana bisa persaudaraan dikalahkan oleh pertemanan? Lagipula kalau Karna bergabung dengan Pandawa pasti perang itu tidak terlalu panjang. Kesaktian Pandawa akan berlipat-lipat dan dalam waktu singkat Kurawa akan kalah, pikir saya saat itu.
Bapak mengakhiri ceritanya ketika adik saya yang masih kecil mulai menguap.
“Wes, ayo bubuk semua, ” kata bapak sambil menutup ceritanya. Kami segera mengambil tempat masing-masing dan memejamkan mata. Bayangan perang masih tergambar dalam ingatanku, namun langsung berganti dengan mimpi yang lain. Kami pulas tertidur.
Ritual bercerita sebelum tidur selalu dilakukan bapak setiap malam ketika kami masih kecil. Bahkan ketika kami sudah duduk di SD pun bapak masih sering bercerita. Terutama tentang sejarah dan wayang.
Sejarah berdirinya Singasari tuntas diceritakan sejak Ken Arok memesan keris pada Empu Gandring, hingga terbunuhnya tujuh orang oleh keris bertuah tersebut. Ketika itu saya duduk di kelas 4 SD,dan bapak bercerita detail namun dengan bahasa yang bisa kami mengerti.
Satu hal yang sangat saya ingat tentang bapak adalah kegemaran beliau membaca. Di sela kegiatannya bapak selalu membaca. Apa saja. Koran, majalah, bahkan komik.
Kompas, Sinar Harapan, Suara Indonesia sering ada di meja ruang tamu. Bapak membelinya eceran. Kadang ada juga serial komik Si Buta dari Goa Hantu yang dipinjam dari persewaan komik tidak jauh dari rumah saya.
Gemar membaca membuat bapak tahu segalanya. Paling tidak itu pandangan saya saat itu. Bapak selalu bisa menjelaskan dengan gamblang apapun yang saya tanyakan. Membaca benar- benar membuat pintar, pikir saya.
Dari membeli koran eceran Bapak beralih ke berlangganan Kompas. Datangnya setiap sore hari. Siapa pembacanya? Bapak tentu saja. Kami semua belum bisa membaca.
Suatu saat Mas yang mengantar koran menawarkan majalah Bobo pada bapak. Ya, karena dia tahu ada tiga anak kecil di rumah. Tanpa berpikir panjang Bapak langsung mengiyakan.
Bobo, Sumber gambar : Gramedia digital
“Lha anak-anak’ kan belum bisa baca? ” protes ibuk. Bapak cuma tersenyum. “Gak apa-apa.., biar mereka cepat bisa baca.. ” jawab Bapak.
Mulailah saat itu majalah Bobo setia mendatangi kami setiap Kamis sore. Karena belum bisa membaca kami selalu menunggu bapak membacakan cerita, terutama cergamnya.
Dari cerita bapak kami mulai kenal dengan Bobo yang pintar dan sayang adik-adiknya, Coreng yang suka menggambar, Upik yang suka mainan bebek, Bibi Titi Teliti yang cerewet dan sangat perfeksionis juga Bibi Tutup Pintu yang tidak suka melihat pintu rumah terbuka.
Karakter yang muncul dari keluarga Bobo begitu khas dan terasa sangat akrab bagi kami. Bapak juga sering mengambil Bobo sebagai contoh saat memberikan nasehat pada kami.
Ketika kami tidak suka makan wortel, bapak mengatakan, ” Kenapa Bobo tidak pakai kacamata? Karena dia suka makan wortel., matanya jadi sehat.. “
Atau ketika kami malas gosok gigi, bapak berkata, “Gigi Bobo sangat putih meski cuma dua, kenapa? Karena dia rajin gosok gigi.., “
He.. He.. Akibatnya kami rajin makan sayur begitu juga gosok gigi,
Tokoh yang lain juga membuat kami makin jatuh hati. Bona gajah kecil berbelalai panjang yang suka berkorban demi kebahagiaaan teman-temannya, Rong-rong kucing putih yang jadi sahabat Bona. Nirmala yang baik hati, Oki yang usil, Juwita yang suka menolong dan Si Sirik yang selalu berhasil dikalahkan Juwita.
Kehadiran majalah Bobo menjadi sesuatu yang sangat kami tunggu-tunggu.
“Bobonya datang…, ” suara ibuk yang memberitahu kami saat Bobo datang bisa langsung membuyarkan konsentrasi bermain kami.
Kami segera berebut Bobo, membuka-buka untuk melihat gambarnya lalu membawanya ke Bapak. Dengan senang hati bapak menghentikan kegiatannya lalu mulai bercerita.
Sesudah bercerita biasanya bapak membaca cerpen Bobo atau rubrik lain di majalah Bobo. Saat seperti itu biasanya saya duduk di samping bapak dengan penuh rasa ingin tahu, berharap bapak mau bercerita tentang cerpen tersebut.
Sungguh, sejak itu saya makin semangat belajar membaca. Hingga saat masih kelas nol saya sudah mulai bisa membaca. Saya benar-benar ingin bisa membaca cerpen cerpen yang ada di Bobo seperti Bapak.
Waktu terus berjalan kegemaran membaca saya kian menjadi. Seperti Bapak saya suka membaca cerita fiksi dan sejarah. Kami sering terlibat pembicaraan tentang berbagai cerita yang habis kami baca.
Masuk SMP buku yang saya baca semakin banyak. Buku-buku Enid Blyton, Tintin, Alfred Hitcock, Karl May, Kosasih dan banyak lagi.
Senangnya, bapak selalu ikut membaca buku-buku saya dan sesudahnya kami obrolkan bersama. Biasanya yang menjadi bahan obrolan kami adalah pelajaran yang ada di dalam buku tersebut atau hal-hal yang lucu.
Kegemaran membaca akhirnya menurun juga pada anak- anak saya. Mungkin karena setiap hari mereka sering melihat ibuk atau bapaknya membaca.
Apa yang saya gunakan untuk lebih meningkatkan minat baca mereka? Bobo lagi! Majalah yang tetap menyimpan pesona. Kehadiran tokoh-tokoh baru di dalamnya seperti Dungdung, Lobi lobi, G Jun, membuat majalah ini semakin mengikuti zaman.
Tidak ada hari tanpa bacaan. Selain Bobo buku apapun dilahap anak-anak. Tentunya saya tetap mengontrol bacaan mereka. Secara berkala kami ke perpustakaan kota atau persewaan komik untuk mencari buku yang kami inginkan.
Bapak, Sumber gambar: ig effendyyusa
Kebiasaaan membaca terus dibawa anak-anak. Hingga ketika mereka kuliah di luar kota, saat pulang, di tas mereka selalu ada buku baru.
“Buat Ibuk,, ” katanya.
Seperti kebiasaan di masa kecil mereka, habis membaca buku bagus saya selalu diminta untuk membaca dan lalu kami bicarakan bersama. Biasanya yang kami bicarakan adalah hal -hal yang unik dan menarik dari buku itu.
Ya, betapa sejarah kembali berulang seperti cerita saya dan bapak di masa lalu.
Akhirnya melalui bapak saya belajar bahwa menularkan kegemaran membaca bisa ditempuh dengan cara yang begitu sederhana, yaitu memberikan contoh dan ngobrol bersama.
Ada kebahagiaan dalam membaca, Sumber gambar : Pngtree
Membaca tidak hanya membuat pengetahuan bertambah. Dalam membaca dan saling bercerita ada kesenangan juga memperkuat ikatan emosi di antara kami bersama.
Masa sekolah selalu menyimpan banyak cerita. Ketika sekolah pasti ada guru yang memberikan kesan pada diri kita. Misal karena keramahannya, kelembutannya, kedisiplinannya bahkan ke’galak’annya. Berikut adalah kisah tentang satu guru saya yang termasuk galak dan membuat takut pada kami para siswanya. Tapi ternyata di balik kegalakannya ada pelajaran berharga dan hikmah yang bisa dipetik di kemudian hari.
******.
Bel panjang berbunyi menunjukkan datangnya saat istirahat. Kami menghela napas lega. Selesai sudah dua jam pelajaran matematika.
Bu Milah menata buku- buku besar di hadapannya lalu memandang kami. “Ya, siapkan! “ Tanpa senyum, selalu seperti itu.
Tanpa banyak kata ketua kelas memberikan komando dengan lantang dan kami serempak mengikutinya. Selesai mengucap salam, Bu Milah meninggalkan kelas, dan kamipun bertebaran ke luar kelas untuk memanfaatkan waktu istirahat yang hanya dua puluh menit.
Bu Milah adalah satu guru kami yang sangat disiplin. Tegas dalam menegakkan aturan dan tidak segan segan menegur kami yang melanggar. Karena sikapnya yang seperti itu kami anak anak SMP menafsirkannya sebagai kereng, galak bahkan jahat.
Nomor kode Bu Milah adalah 13. Lengkap sudah. Angka menakutkan untuk guru galak, pikir kami saat itu.
Bu Milah selalu mendapat jam pertama di kelas kami. Mungkin karena beliau mengajar matematika jadi diletakkan di jam jam awal saat pikiran masih segar.
Senin jam pertama sesudah upacara bendera adalah saat bertemu Bu Milah. Ya, karena beliau juga walikelas kami , saat itu juga dimanfaatkan untuk pembinaan wali kelas. Biasanya pembinaan berisi bagaimana belajar yang baik, mengatur waktu dengan benar dan yang paling banyak adalah tentang disiplin.
Bu Milah paling tidak suka jika kami datang terlambat, apapun alasannya. Juga pada siswa yang tidak masuk tanpa keterangan. Itu akan beliau usut sampai tuntas.
Pernah ada teman yang sedikit- sedikit tidak masuk sekolah. Melihat hal tersebut Bu Milah langsung melakukan home visit, dan hasilnya keesokan harinya teman saya langsung rajin masuk tiap hari. Tidak pernah membolos lagi sampai naik kelas dua.
Mulai dari hal yang paling kecil Bu Milah menerapkan aturan dalam kelasnya. Contohnya saat memulai pelajaran dimana pada mapel lain kami mengucap salam sambil duduk, di kelas matematika kami harus memberi salam sambil berdiri.
Saat itu Bu Milah akan berkeliling melihat kelengkapan seragam kami. Termasuk ikat pinggang , kaos kaki bahkan rambut. Apakah terlalu panjang untuk siswa putra atau tidak rapi untuk siswa putri. Jika semua sudah rapi baru memberikan salam dan pelajaran dimulai.
Masih tentang salam, saat mengucapkannya tidak boleh tolah toleh. Jika ada yang seperti itu salam harus diulang.
Ada lagi satu aturan dalam pembelajaran matematika yaitu jangan sampai waktu diterangkan kita mainan bolpoin. Mungkin karena saat itu anak anak banyak yang suka mainan bolpoin. Maklumlah saat itu pilot cetetan adalah barang mewah.
Suatu ketika, saat Bu Milah menerangkan, ada seorang teman bermain bolpoin dengan cara dicetet-cetet. Beliau langsung berhenti dan bolpoin diminta, untuk selanjutnya dikembalikan lewat orang tuanya saat rapor semesteran.
Untuk melibatkan pengawasan orang tua dalam pembelajaran, Bu milah selalu meminta kembali kertas ulangan yang sudah dibagikan dan harus sudah ditanda tangani orang tua. Nah, apa akibatnya? Sebelum ulangan kami belajar sungguh sungguh supaya bisa mengerjakannya dengan baik. Sebab jika hasil ulangan bagus tidak masalah.. Tapi kalau dapat jelek haduuuh. Takut sekali rasanya mau minta tanda tangan orang tua.
Tidak hanya ulangan yang ditandatangani, buku PR juga. Akibatnya dibandingkan buku pekerjaan mapel yang lain buku PR matematika kami paling lengkap dan rapi. Bagaimana tidak? Sebelum masuk tas harus ditandatangani bapak/ibuk lebih dahulu. Malu kalau pekerjaannya acak acakan.
Banyaknya aturan membuat kami takut juga saat menjelang pembelajaran matematika. Tapi semua itu membuat kami lebih berhati-hati dan mengerjakan tugas sebaik baiknya. Melihat Bu Milah tersenyum puas dengan pekerjaan kami adalah hal yang sangat membahagiakan.
Melalui aturan Bu Milah juga sebenarnya ada hal hal baik yang bisa diambil, seperti menghargai orang lain, menghormati guru juga menjaga etika dan kerapian.
Satu hal yang sangat saya rasakan adalah karena takut dengan pelajaran Bu Milah, buku pekerjaan matematika saya jadi begitu lengkap dan rapi. Saya berani maju ke depan kelas hingga akhirnya teman teman yang kurang paham banyak bertanya pada saya. Mungkin ini yang akhirnya menjadikan saya guru matematika sampai saat ini. He.. He..
Meskipun mengajar dengan metode seperti itu kurang relevan di masa sekarang, tapi saya yakin dibalik galaknya seorang guru ada banyak hikmah dan tujuan baik di dalamnya.
Ilustrasi Si Burik, sumber gambar : ayamkalkun.com
Mbak Menik menatap suaminya dengan dongkol. Betapa tidak? Sejak pagi hingga jam sudah menunjukkan pukul delapan Mas Marno masih berasyik-asyik dengan ayam -ayam katenya. Ayam ayam kecil itu benar benar membuatnya cemburu. Jealous kalau kata anak sekarang.
Yang memberi makanlah.. Memberi vitamin… Bahkan mengajak bicara. Ya ampuun. Gemes melihatnya. Padahal bangun tidur yang pertama dilakukan Mbak Menik di dapur adalah membuatkan kopi suami tercinta. Tapi sesiang ini ia tak juga disapa.
“Duh Mas, pitiiik ae, ” protesnya. “Sik… Diluk.., ” kata Mas Marno tanpa menoleh. Mbak Menik menatap jam dinding. Duuh, Pak Mus penjual sayuran sudah hampir datang ini, pikirnya. Apalagi persediaan bumbu habis, minyak nipis, Tempe dan tahu apalagi.
Mas Marno kembali menghisap rokoknya. “Buriiik…, ” katanya sambil menjentikkan jarinya pada si ayam. Yang dipanggil seakan mengerti dan dengan genitnya mendekati Mas Marno. Mas Marno tertawa senang sambil menyebarkan jagung halus yang langsung dipatuk oleh Si Burik.
“Ayo, kalian mau ikut? ” kata Mas Marno pada empat ayam yang lain. Semua langsung merubung ikut makan jagung halus yang disebar.
Dari kelima ayamnya Si Burik paling disayangi Mas Marno. Tubuhnya kecil montok dan bulu-bulu nya yang berwarna campuran hitam dan putih berkilauan tertimpa sinar matahari.
Sumber gambar: DuniaBelajar
“Mas, masak apa ini? ” tanya Mbak Menik sekali lagi. Mas Marno menoleh sekilas. “Sembarang wes… Pokok ada sambel.., “jawabnya. “Lha uangnya?” kata Mbak Menik gemas. “Bon dulu sama Pak Mus.. Nyatet, ” jawabnya ringan. Mbak Menik semakin jengkel. “Nyatet.. Nyatet.. Catetanku sudah banyak, Mas, ” katanya setengah menangis.
Tanpa banyak kata ia bergegas menuju pick up di jalan yang berisi aneka belanjaan. Bicara dengan suaminya saat seperti itu percuma. Hanya bikin naik darah saja.
“Pak Mus, nyatet nggeh.., “kata Mbak Menik sambil meraih bayam dan tempe. “Lha monggo…, ” jawab Pak Mus ramah. Ia sudah lama menjadi langganan ibu-ibu di kampung Manggis. Tidak ada yang nakal saat berhutang, yang penting administrasi beres, tak ada masalah.
Mbak Menik menyodorkan belanjanya ke Pak Mus untuk dihitung. “Beres, duapuluh ribu, catet nggih? “ “Nggih Pak Mus,” jawab Mbak Menik sambil bergegas meninggalkan Pak Mus. Duuh, sungkan sebenarnya.. Tapi lha bagaimana lagi. Masak tidak makan, pikirnya.
“Mbak Menik, tunggu! ” sebuah suara tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mbak Rena? Tumben? Setelah berbasa-basi keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sedikit berbisik-bisik dan…Cling, wajah Mbak Menik tiba-tiba berseri-seri.
Pagi kembali merekah. Mas Marno sedang menikmati kopinya. Tak seperti biasanya istrinya tak banyak protes. Senyumnya tampak begitu manis.
“Mau dimasakkan apa? ” tanya Mbak Menik sambil duduk di depan suaminya. “Aku kok kepingin lodeh ya? ” jawab Mas Marno senang. Pagi ini cuaca kelihatan begitu bersahabat. “Lodeh, mendol, bakwan? “tanya Mbak Menik lagi. “Wah, sip itu.., “
Dari kejauhan suara klakson pick up Pak Mus terdengar. Mbak Menik bergegas menuju jalan besar, apalagi ketika dilihatnya Mas Marno menuju kandang ayam-ayam katenya.
Di belokan jalan, Mbak Rena tersenyum menyapanya. ” Adikku seneng lho.. Katanya cantik barangnya.. Ini kurangannya semalam ya.. ,” katanya sambil menyodorkan uang seratusan ribu. Mbak Menik segera memasukkan uang ke saku. Bergegas keduanya menuju pick up Pak Mus.
Ada senyum di wajah Mbak Menik. Ya, seratus dua puluh lima ribu harga yang pantas untuk ayam kate secantik Burik.
Mbak Menik menjalankan Varionya dengan santai. Vario lawas yang setia.
Wajahnya begitu cerah. Tidak ada yang seindah Minggu pagi memang. Minggu pagi selalu membuatnya agak bernafas lega. Ya, tidak tergesa gesa seperti biasanya karena anak sekolah libur, termasuk Nanang putera semata wayangnya yang tiap hari masuk jam setengah tujuh .
“Belanja Mbak? ” tanya Bu Pri di tepi jalan. Sepagi itu Bu Pri sudah pulang dari pasar sambil membawa tas kresek isi belanjaan. “Inggih Bu, monggo, ” jawab Mbak Menik ramah.
Pasar, itu tujuan utama Mbak Menik. Meski tidak terlalu jauh dari rumah ia lebih suka naik motor. Ya, kadang-kadang dari pasar ia juga ingin sedikit berkeliling mencari hawa segar.
Uang lima puluh ribu tersimpan rapi di dompet. Uang terakhir dari Mas Marno dua hari yang lalu.
Dua hari yang lalu Mas Marno dapat order memasang keramik di rumah tetangga. Alhamdulillah sehari diberi 200.000 . Walah, rezeki itu.. Biasanya juga 125-150.000.
Sebagai suami yang baik Mas Marno memberikan semua uangnya pada sang istri tercinta. Yang penting rokok, jangan sampai telat he.. He…
Ini hari ketiga, berarti sudah pantas kalau uangnya tinggal 50.000. Rencananya Mbak Menik mau memasak sop, tempe, tahu dan telor dadar. Sisanya buat uang saku sekolah Nanang besok pagi.
Perkara belanja besok, gampanglah. Pasti ada rezeki, bisik hatinya yakin.
Sebelum belanja Mbak Menik bertekad melakukan survey pasar dulu pagi ini. Bukankah kemarin Pak Presiden sudah resmi mengumumkan kenaikan harga BBM? Apakah ada akibatnya? Wah, pasti harga-harga naik semua. Efek domino kata orang orang pinter. Kenaikan BBM pasti membuat yang lain pada naik.
“Di sini Mbak.., ” kata Mas Pardi tukang parkir pasar sambil menunjuk tempat yang kosong. Bergegas Mbak Menik memarkir sepedanya. “Jangan dikunci setir ya, ” kata Mas Pardi lagi. “Inggih Mas, ” kata Mbak Menik sambil mengangguk dan tersenyum, lalu bergegas masuk pasar.
Survey dimulai. “Tempe pinten, Mbak? “ “Halaah, tetap.. Dua ribu, tahu dua ribu limaratus.., ” jawab si penjual. Mbak Menik tersenyum lega. Diraihnya dua tempe dan satu tahu. Perasaan agak beda, pikirnya. Oh ya, irisannya agak kecil. Meski sedikit Mbak Menik bisa merasa. Tapi tak apa-apalah. Setelah membayar, bergegas ia menuju penjual telor.
“Telor pinten Bu? “ “28.000 sekilo.., ” jawab si penjual. Walah.. Katanya turun.. Masih mahal ternyata. “Sekilo? ” tanya penjual lagi. “Seperempat saja, ” kata Mbak Menik tersenyum. Penjual ikut tersenyum , sambil mulai menimbang telor.
“Ayam pinten? ” tanya Mbak Menik lagi. Kebetulan penjual telor juga berjualan ayam dan aneka bumbu. “Tiga puluh tiga..” Penjual menyodorkan telor pada Mbak Menik “Ayamnya berapa? ” tanya si penjual. “Besok saja, ” jawab Mbak Menik tersenyum. Manis..
Tujuan akhir ke pedagang sayur. “Sop- sopan lima ribu, ” kata Mbak Menik sambil menyodorkan uang sepuluh ribuan. “Yang lima ribu lombok sama tomat, ” tambahnya. Ya, apapun lauknya sambel harus ada. Karena itu stok lombok dan tomat tidak boleh kosong di tempat bumbu.
Dengan sigap pedagang sayur memasukkan aneka sayur untuk sop. Kubis, wortel, kentang, buncis, seledri, brambang daun, dan terakhir memasukkan lombok dan tomat.
“Wortelnya kok cuma dua? Biasanya tiga?” protes Mbak Menik. Pedagang sayur tertawa renyah. Ia sudah mendapat banyak protes pagi ini. ” BBM naik Mbak… Alamat naik semua ini, ” katanya sambil memberikan kresek berisi sop- sopan.
“Wah, alamat kalau sudah naik lupa turun ini, ” kata pembeli di sebelahnya. “Lha iya ta.. Semua kalau sudah naik ya sulit turunnya,” jawab pedagang sayur. Pembeli pada tertawa. Mbak Menik juga. Meski agak masam kali ini.
Waduh, sudah tempenya kecil, sayur sopnya sedikit pula. Alamat makan juga dikurangi.. Gak apa apa wes.. yang penting beras jangan ikut naik. Malah susah itu, hibur Mbak Menik pada dirinya sendiri.
“Ya, nasib wong cilik ya.. Manut ae wes..,” kata pembeli yang lain lagi. “Lha gak manut terus mau apa? Gak usah dipikir.. Marahi mumet.., ” kata penjual sayur sambil tertawa. “Iya wes, dijalani bareng saja, ” timpal Mbak Menik disambut tawa renyah yang lain. Dengan sigap pembeli yang lain memilih sayuran. Mbak Menik menerima kresek dan segera menuju parkiran pasar.
Setelah membayar parkir, mesin dihidupkan, dan Vario mulai berjalan pelan. Tidak ada acara keliling mencari hawa segar pagi ini. Semua harus dihemat.
Angin bertiup perlahan. Lewat depan kios Pak Man penjual jamu terdengar lagu yang hits akhir akhir ini:
Joko Tingkir ngombe dhawet Jok dipikir marahi mumet…
Mbak Menik tersenyum, tapi juga puyeng memikirkan trik apa yang harus dilakukan untuk menjaga stabilitas dapur dan ketahanan pangan di rumahnya.