Hari Kamis (23/01) pagi itu lapangan basket Bintaraloka sudah dipenuhi mikrolet. Ya, ada sekitar 24 mikrolet yang siap mengantar 281 siswa untuk melaksanakan Outdoor Learning (ODL).
ODL kali ini dilaksanakan dalam rangka belajar membuat batik topeng Malangan yang merupakan bagian dari rangkaian acara Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan tema Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka.
Siap berangkat ODL, dokumentasi pribadi
Pemberangkatan siswa ke SMKN 7 Malang dilaksanakan di lapangan volley. Dalam kesempatan tersebut Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang, Drs Teguh Purwanta memberikan nasehat agar siswa melaksanakan ODL dengan sungguh-sungguh.
Briefing dari Kepala Sekolah , Dokumentasi Naufal
Selain briefing pada siswa , Bapak Kepala Sekolah juga melaksanakan briefing pada para sopir angkot yang akan membawa anak- anak menuju lokasi ODL.
Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang bersama para sopir angkot yang akan membawa siswa ODL, dokumentasi P.DianBerangkat ODL, dokumentasi Naufal
Sekitar pukul tujuh satu demi satu mikrolet meninggalkan halaman sekolah menuju SMKN7 Malang yang berlokasi di Jalan Satsui Tubun IV Kebonsari Malang.
Sesampai di lokasi ODL siswa disambut dengan hangat. Setelah sambutan dari SMP Negeri 3 dan SMKN 7, siswa langsung mendapat materi sekaligus praktik cara membuat batik cap Malangan.
Penandatanganan MOU, dokumentasi Naufal
Dalam acara tersebut juga dilaksanakan penandatanganan MOU kerjasama antara SMP Negeri 3 Malang dan SMKN 7 Malang untuk pemberian pelatihan pembuatan batik pada siswa SMP Negeri 3 Malang.
Peserta ODL di SMKN 7 Malang, dokumentasi Naufal
Pelatihan pembuatan batik dilakukan secara bergantian pada kelompok kelompok siswa. Bau lilin menguar kemana mana. Siswa tampak sibuk memberi cap dan mengisi batiknya dengan warna yang sudah disiapkan.
Belajar membuat batik cap, dokumentasi Bintaraloka
Dengan sabar tim dari SMKN 7 Malang memberikan bimbingan pada masing masing kelompok.
Di akhir acara siswa berfoto dengan batik hasil karya mereka dengan didampingi wali kelas masing masing.
Berfoto bersama batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Ada wajah bangga ketika siswa menunjukkan batik-batik hasil karya mereka bersama.
Tanggapan positif dari siswa bermunculan. Rata rata mereka sangat menyukai acara ODL kali ini. Bapak Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang juga hadir untuk memberikan dukungan pelaksanaan ODL ini.
Ketua Komite SMP Negeri 3 Malang, pendamping dan pemateri ODL, dokumentasi Naufal
“Sangat menyenangkan terutama saat membuat batik capnya,” demikian diungkapkan oleh Keysha dan Jihan, peserta ODL dari kelas 8.9.
Berfoto bersama, dokumentasi Bintaraloka
“Kegiatan yang sangat bermanfaat karena kita bisa melestarikan batik Malangan,” ungkap Ashraf siswa kelas 8.2.
“Harapannya semoga ke depan kerjasama antara SMPN 3 dan SMKN 7 Malang dalam pembelajaran batik ini bisa lebih ditingkatkan lagi,” ungkap Pak Dian koordinator projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila kelas 8.
Pagi yang istimewa. Sekitar pukul tujuh kurang, sembilan buah truk sudah siap di depan sekolah. Para siswa berbaju olahraga dan siap dengan berbagai macam perbekalannya. Ya, hari itu perjalanan Outdoor Learning (ODL) ke Candi Jago dan Candi Kidal yang berlokasi di Tumpang akan dimulai.
Sebelum berangkat, siswa mendapatkan pengarahan dari Bapak Kepala Sekolah dan panitia. Dalam kesempatan tersebut disampaikan hal hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan siswa selama ODL.
Pengarahan dari Bapak Kepala Sekolah, dokumentasi NaufalPengarahan dari tim ODL, dokumentasi Naufal
Setelah pengarahan, sekitar pukul setengah delapan 281 siswapun berangkat dengan didampingi para guru.
ODL kali ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila kelas 8 yang mengambil tema Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka.
Bapak Kepala Sekolah melepas keberangkatan siswa untuk ODL, dokumentasi pribadi
Apakah Batik Topeng Malangan itu?
Batik berasal dari kata amba dan titik. Amba artinya menulis dan titik artinya titik. Jadi maksudnya batik dibuat dari rangkaian gambar atau tulisan titik- titik.
Batik mulai dikembangkan pada masa kerajaan Mataram dan berlanjut di masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Pada mulanya batik hanya digunakan dalam keraton untuk pakaian para raja dan keluarganya. Seiring dengan perkembangan zaman batik kemudian diproduksi oleh masyarakat umum dan menjadi populer sebagai pakaian.
Batik topeng Malangan adalah batik dengan menggunakan motif atau gambar topeng Malangan.
Kegiatan projek ini selain berusaha melestarikan batik, sekaligus juga mengajak siswa lebih mencintai topeng Malangan dengan cara menuangkannya dalam desain batik mereka.
Mengapa ODL kali ini mengambil tujuan ke candi Jago dan Candi Kidal? Di samping karena keduanya mempunyai lokasi yang berdekatan, kedua obyek tersebut adalah candi yang kaya akan relief. Diharapkan dengan kunjungan ini siswa mendapat banyak inspirasi untuk karya batik mereka nantinya.
Tentang Candi Jago dan Candi Kidal
Berfoto bersama di Candi Jago, dokumentasi Bintaraloka
Candi Jago terletak di dusun Jago Kecamatan Tumpang dan sering disebut sebagai Candi Tumpang.
Menurut Kitab Negarakertagama, candi Jago atau Jajaghu bercorak agama Budha dan dibangun di kisaran tahun 1268-1280 sebagai penghormatan untuk Raja Singasari ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana.
Candi Jago adalah candi yang kaya relief. Bagian dasar hingga dinding teratas candi ini dipenuhi pahatan relief .
Pahatan paling bawah menggambarakan ajaran Buddha cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna.
Pada dinding teras kedua terpahat lanjutan cerita Kunjarakarna dan petikan kisah Mahabarata dalam ajaran Hindu, yaitu Parthayajna dan Arjuna Wiwaha.
Pada dinding tubuh candi Jago dipenuhi dengan pahatan relief cerita Hindu, yaitu peperangan Krisna dan Kalayawana.
Tidak jauh dari Candi Jago terdapat Candi Kidal yang berlokasi di desa Rejokidal kecamatan Tumpang.
Kegiatan di Candi Kidal, dokumentasi Bintaraloka
Candi Kidal dibangun pada 1248 hingga tahun 1260, setelah Cradha atau upacara pemakaman Raja Anusapati.
Tujuan pembangunan candi ini adalah untuk mendarmakan Anusapati, agar mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa.
Pada Candi Kidal terdapat relief yang berkisah tentang legenda Garudeya (Garuda) yang dipahatkan pada kaki candi.
Dalam mitos kesusastraan Jawa Kuno disebutkan Garudeya adalah seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).
Tugas siswa dalam ODL ke Candi Jago dan Candi Kidal kali ini adalah mengamati gambar- gambar relief yang ada, mengabadikannya dalam laporan sekaligus menjadikan gambar- gambar tersebut sebagai inspirasi untuk membuat desain batik mereka.
Relief Candi, dokumentasi Naufal
Siswa begitu antusias mengikuti cerita sekaligus keterangan dari narasumber di setiap candi. Berkali kali mereka memotret obyek-obyek yang dianggap perlu diabadikan, juga membuat catatan.
Berbagai kesan muncul dari siswa maupun pendamping. Siswa mengatakan ini momen yang sangat menyenangkan karena mereka bisa belajar sekaligus mengenal motif-motif dan ukiran yang ada pada candi.
“Ini adalah pertama kali saya pergi ke candi,” kata Naufal salah seorang peserta ODL.
Salah seorang pendamping yatu Ibu Ami mengatakan bahwa siswa sangat antusias dengan kegiatan ini. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul, seperti: Bagaimana saat itu candi bisa berdiri dengan kuat sampai sekarang dan banyak relief yang berbeda cerita di masing masing tingkat candinya? Apakah dibantu jin? atau ditempel pakai putih telur?
Dengan sabar, Bapak Imam juru kunci candi menerangkan bahwa candi bisa berdiri kuat dengan relief yang begitu banyak disebabkan batu yang digunakan untuk membuat candi demikian kuat. Penyebab yang lain adalah orang-orang zaman dahulu banyak tirakatnya, banyak melakukan pendekatan kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga dengan doa dan ijin dari Tuhan akhirnya candi bisa berdiri dengan kokoh.
Siswa peserta ODL, dokumentasi Naufal
Sekitar pukul 10.30 kegiatan ODL berakhir, dan siswa serta guru pendamping segera kembali ke sekolah.
Hari yang luar biasa. Pagi itu siswa tidak hanya belajar untuk mendapatkan inspirasi seni, tapi juga diajak untuk lebih memahami dan mencintai Nusantara dengan berbagai peninggalan bersejarahnya.
Bau lilin yang dipanaskan menguar ke mana- mana. Kain mori putih dibeber di atas meja yang sudah dilapisi spon berair dan ditutup plastik kaca.
Dengan hati-hati, narasumber mencelupkan alat pembuat cap dengan motif tertentu ke dalam lilin panas, lalu segera meletakkan cetakan tadi dengan agak menekan ke atas kain.
Membuat batik cap, dokumentasi pribadi
Cetakan dibuka, dan taraa.. motif cantik langsung tercipta di atas kain tadi.
Sekelompok anak memperhatikan keterangan narasumber, sementara yang lain memvideo ataupun mencatat segala keterangan yang disampaikan.
Proses pewarnaan, dokumentasi pribadi
Beberapa pertanyaan yang muncul dijawab dengan sabar oleh Pak Afaf, sang narasumber hingga siswa merasa puas.
Di atas adalah gambaran suasana ketika siswa SMP Negeri 3 Malang melakukan Outdoor Learning ke SMKN 7 Malang. Outdoor Learning ini bertujuan untuk mengajak siswa praktek membuat batik topeng Malang.
Pengarahan dari Pak Vigil dan Bu Ari, dokumentasi pribadi
ODL dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Oktober 2023 dengan diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri atas siswa dan guru pendamping.
Siap berangkat ODL, dokumentasi pribadi
Pemberangkatan peserta dari SMP Negeri 3 ke SMKN 7 dilaksanakan pukul tujuh pagi dengan menggunakan 25 buah mikrolet. Sebelum berangkat, ketua projek tema dua yaitu Pak Vigil memberikan arahan pada siswa di aula Bintaraloka bersama Ibu Ari Susani.
Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi
Menurut Pak Afaf, bukan hanya SMP Negeri 3 Malang, bahkan siswa dari negeri Jiran kita Malaysia, juga tertarik belajar pembuatan batik di SMKN 7 Malang.
Belajar membuat batik topeng Malang adalah salah satu kegiatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema kedua yaitu Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka.
Projek ini mengambil dimensi berkebhinekaan global, kreatif, mandiri dan gotong royong
Mengapa harus batik?
Berbagai motif batik hasil karya SMKN 7, dokumentasi pribadi
Batik sebagai karya Bangsa Indonesia harus kita hargai dan kita lestarikan keberadaannya.
Batik merupakan perpaduan antara seni dan teknologi leluhur bangsa Indonesia.
Hal yang membuat batik memiliki daya tarik dibanding motif kain yang lain adalah karena corak motifnya banyak mengandung makna dan penuh dengan filosofi yang erat akan adat dan budaya dalam kehidupan manusia.
Motif batik yang lain, dokumentasi pribadi
Indonesia memiliki beragam motif batik yang memiliki fislosofinya masing-masing. Sebutlah batik kawung yang merupakan motif batik yang bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris.
Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian. Motif kawung menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna.
Ada juga motif batik truntum. Batik ini menggambarkan cinta yang selalu bersemi, karenanya saat upacara pernikahan, mempelai biasanya mengenakan batik truntum.
Indonesia memiliki banyak batik khas karena hampir tiap daerah memiliki corak khasnya masing-masing. Ada batik Blitar, Tulungagung, Madura, Solo, Jogja bahkan Malangan.
Topeng sebagai motif khas batik Malangan, dokumentasi pribadi
Lalu apa ciri khas batik Malangan? Batik Malangan sering menggunakan ornamen topeng, tugu, singa, dan bunga teratai sebagai motif utama.
Tugu berasal dari relief candi di Malang dan monumen kota Malang. Bunga teratai adalah bunga yang disukai Kendedes dan tumbuh disekitar monumen Tugu.
Singa merupakan simbol yang sering digunakan penduduk Malang sebagai supporter kesebelasan Arema, sedangkan topeng Malang merupakan kebudayaan dan seni asli dari daerah Malang.
Berkaitan dengan usaha melestarikan batik dan kebudayaan seni asli Malang inilah siswa diajak belajar membuat batik topeng Malang.
Dalam ODL ini siswa mendapat paparan tentang cara membuat batik tulis dan batik cap. Karena tingkat kesulitan batik tulis lebih tinggi, saat praktik siswa diajak membuat batik cap.
Alat untuk membuat batik cap, dokumentasi IqbalLilin dan canting, dokumentasi Iqbal
Ada tiga tahap utama dalam pembuatan batik cap yaitu pembuatan motif, pewarnaan dan ngelorot atau penghilangan lilin.
Penyempurnaan motif dengan menggunakan canting, dokumentasi pribadi Proses ngelorot, dokumentasi pribadi
Proses pembuatan motif dan pewarnaan dilaksanakan di SMKN 7 sedangkan ngelorot dilaksanakan di SMP Negeri 3 Malang.
Kegiatan yang luar biasa. Siswa tampak begitu antusias. Apalagi batik-batik cantik yang tercipta adalah hasil desain mereka sendiri.
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Akhirnya semoga kegiatan ini bisa meningkatkan kecintaan siswa pada batik, sehingga mereka akan semakin menghargai batik sebagai karya cipta asli anak negeri yang penuh filosofi.