Categories
Cerita

Cerpen Anak-Anak Ramadhan: Gara-Gara Capung

Mentari bersinar begitu terik. Kami bersandar di bawah pohon mangga di tengah lapangan kampung. Tempat favorit kami. Teduhnya pohon mangga yang rimbun membuat suasana panas tidak begitu terasa.

Hari ini lelah sudah kami bertualang. Kami adalah trio Yayan, Bobi dan aku yang kemana -mana selalu bersama. Di mana ada Yayan pasti di situ ada aku dan Bobi.

Bermain bertiga membuat  hari-hari selalu mengasyikkan. Meski kami tahu, orang-orang kampung menganggap salah satu di antara kami, yaitu Yayan,  nakal dan sulit diatur.

Barangkali karena Yayan hanya tinggal berdua dengan ibunya. Bapak Yayan sudah lama meninggal. Ibu Yayan, Bu Surti adalah seorang penjahit. Sehari-hari beliau selalu sibuk dan akhirnya Yayan menyibukkan diri sendiri dengan main tiada henti.

Karena  tak kenal waktu itulah orang kampung memberinya sebutan anak nakal. ‘Kloyongan‘ saja kata para orang tua kami. Saat habis ashar, di mana kami semua harus mengaji, Yayan tetap bermain hingga menjelang Maghrib baru pulang. Entah kemana saja anak itu.

Karena itu sedapat mungkin orang tua selalu mencegah kami bermain dengan Yayan.
Kloyongan saja, tidak tahu waktu , nanti!” begitu selalu kata ibuk mengingatkan aku ketika Yayan tampak menungguku di depan rumah.

Ah, ibuk tidak tahu asyiknya sih… Yayan selalu bisa membuat sesuatu yang biasa jadi istimewa, begitu bisik hatiku.

Ya, membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa adalah keahlian Yayan.

Pernah kami bermain di sungai mencari ikan kecil-kecil. Kami menamakannya ikan cemplu. Dengan berbekal plastik,  berjam- jam kami bermain di sungai dan bergurau hingga menjelang Ashar.

Tidak puas hanya menempatkannya di plastik, Yayan pulang mengambil ember dan kembali ke sungai. Jadilah kami hari itu berlomba mencari ikan cemplu dan memasukkannya ke dalam ember.

Kami baru berhenti bermain tatkala salah satu dari kami, Anto, kesurupan. Tiba-tiba saja Anto bicara tak tentu arah sambil bertingkah liar. Kami bahkan ditantang berkelahi satu- satu, hingga kami begitu takut dibuatnya.

Segera kami dibantu orang kampung untuk menenangkan Anto. Menurut Mbah Paijo, ‘orang pintar’ di kampung kami, ternyata Anto  ‘kemasukan’, gara- gara kami bergurau dan tertawa- tawa terlalu keras di sungai hari itu.

Bagaimana cerita hari ini?  Petualangan hari ini kami isi dengan mencari bekicot di sekitar sungai. Bekicot-bekicot itu kami jual pada Pak Miseri, peternak bebek di kampung kami. Lumayanlah uang hasil penjualan bisa untuk membeli es gandul buat berbuka puasa nanti sore.

Lelah mencari bekicot membawa kami bertiga duduk di bawah pohon siang ini. Semilir angin membuat mata terasa mengantuk, berkali-kali kulihat Bobi menguap lebar.

Dari kejauhan bunyi gareng pung meramaikan suasana. Kata ibuk, kalau gareng pung sudah terdengar, alamat sebentar lagi musim kemarau.

Membayangkan musim kemarau membuat kerongkonganku tiba-tiba terasa kering.  Entah mengapa matahari bulan Ramadhan selalu terasa lebih panas dari bulan biasa.  Menunggu saat buka rasanya lamaa sekali.

Ah,  tak sabar rasanya menikmati es gandul Mas Jojo yang selalu stand by di depan langgar tiap sore hari. Apalagi uang dari Pak Miseri sudah menunggu manis dalam kantong celana kami.

Capung, sumber gambar: Tahura Bandung

“Cari capung, yuk?” kata Yayan tiba-tiba.
Kami memandang Yayan takjub. Rasa kantuk kami langsung hilang. Teman yang satu ini benar-benar tak pernah kehabisan ide dan tak kenal lelah.

Bobi langsung mengucek matanya dan menggeliat sebentar. Yap! Tanpa banyak kata kami langsung setuju dengan ajakan Yayan.

Bertiga kami mencari lidi dengan ujung diberi semacam getah sebagai perekat. Harapannya dengan lidi berperekat tersebut kaki atau sayap capung akan menempel sehingga bisa kami tangkap.

Tanpa kenal lelah kami kembali ke lapangan mengejar capung yang terbang ke sana kemari. Begitu capung menempel pada lidi, ekornya kami ikat dengan benang dan capung tetap bisa terbang, tapi tidak lepas dari tangan kami.

Akhirnya kami mendapatkan masing masing seekor capung. Tak lama ‘bergurau’ dengan binatang-binatang itu, tiba tiba terdengar azan Dhuhur berkumandang.

Kami langsung menghentikan permainan. Ya, sesibuk apapun, saat sholat kami harus segera sholat. Itu pesan orang tua kami. Kalau saat sholat tidak segera ke langgar, pasti ibuk kami akan mencari kami walau ke ujung dunia sampai ketemu.

“Ayo nang langgar..!” kataku

“Capungnya?” tanya Bobi ragu.
“Lepas saja.. kasihan,” kataku sambil melepas capungku. Masa capung mau dibawa sholat? pikirku.

Bobi segera melepas capungnya juga. Sementara urusan capung kami lupakan dan bergegas kami menuju rumah untuk mengambil sarung.

Dengan berkalung sarung kami menuju tempat wudhu. Gemericik air wudhu terasa begitu menggoda. Betapa segar, pikirku.

“Eits, gak boleh kumur..,” kata Bobi ketika aku hampir mengarahkan air ke mulutku. Ups, baru ingat. Ini puasa. Kalau berkumur di atas Dhuhur kata Mbah Hambali guru ngaji kami makruh hukumnya. Lebih baik tidak dilakukan.

Begitu qomat berbunyi aku segera mengambil tempat di belakang imam. Seperti biasa makmumnya cuma empat orang.  Mas Jojo tukang qomat,  dan kami bertiga.

Namun ada yang menarik perhatian kami hari ini.  Yang menjadi imam bukan Mbah Hambali seperti biasanya. Kali ini imam kami masih agak muda. Orangnya tinggi, berkopyah bundar putih dan bersorban..
Mungkin Mbah Hambali sedang pergi, pikirku.

“Allahu Akbar..”
Suara imam memberi tanda sholat dimulai. Tapi hei, mana Yayan? Dari tempat wudhu dia tidak juga segera sholat.

Aku segera takbiratul ihram. Berdiri tenang di belakang imam bersama Bobi dan Mas Jojo. Ketika mulai membaca Fatihah dalam hati tiba-tiba Yayan berdiri di sebelahku. Syukurlah, pikirku.

Ketika rakaat kedua tiba-tiba ada yang terbang berputar-putar di depanku. Aku mendongak.  Astaga.. capung! Pasti punya Yayan, pikirku.  Bukankah punya Bobi dan punyaku sudah dilepas?

Capung mulai berputar, hinggap kesana-kemari dengan benang masih terikat di ekornya. Sholatku mulai kacau. Mataku tak henti menatap pergerakan si capung. Dan  kurasakan Yayan di sebelahku mulai gelisah.

Saat tahiyat akhir capung melakukan manuver berani dengan hinggap di kopyah imam sholat. Astaghfirullah…!  Sholat kami batal sudah.

Aku dan Bobi menoleh ke Yayan sambil menunjuk si capung. Pelan-pelan Yayan meraih benang dan mencoba menariknya. Nakalnya, si capung tak mau menurut sehingga kopyah imam bergerak-gerak.

Kulihat Yayan begitu pucat, apalagi berbarengan dengan itu imam menoleh, mengucap salam  sambil menatap Yayan dengan tajam meski cuma sekilas.

Saat dzikir habis sholat, tubuh kami begitu gemetar. Sungguh, aku tidak pernah merasakan ketakutan seperti hari itu

Habis sholat satu per satu kami salim pada imam dengan begitu tawadhuk. Ya, itu adalah wujud permintaan maaf atas kenakalan kami.

Yayan pulang paling akhir. Temanku yang sangat pemberani itu tiba-tiba tampak lemah tak berdaya. Tangan kanannya masih erat memegang benang agar capung tidak membuat ulah lagi. Sementara di depannya imam sholat duduk tenang sambil menatap Yayan.

Mengaji, sumber gambar: Bersedekah.com

Entah bagaimana lanjutan cerita hari itu kami tak tahu. Yang jelas sejak saat itu kulihat Yayan begitu rajin mengaji di langgar.

Ya, sebuah kejutan manis bagi kami semua, ternyata imam sholat  adalah guru ngaji kami yang baru pengganti Mbah Hambali yang sudah mulai sepuh. Namanya Ustad Imam dan sangat memperhatikan Yayan.

Sekarang jangankan tidak datang mengaji, terlambat saja Yayan tidak berani.

Tentu saja. Sebagai hukuman atas masalah capung itu, Ustad Imam memberi tugas Yayan untuk qomat setiap hari sebelum sholat Ashar dimulai.

Sekian..

Salam Ramadhan 😊



Categories
Cerita

Di Makam Bapak

Suasana TPU demikian sepi. Hari masih begitu pagi. Pohon-pohon besar yang tumbuh di sepanjang jalan menuju makam daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Sesekali burung- burung kecil mencerecet sambil terbang dari satu pohon ke pohon yang lain.

Berdua kami berjalan di antara makam- makam. Dekat mushola TPU langkah kami berhenti. Kami memandang ke sana kemari dengan lebih teliti.

“Seingatku di daerah sini, Mas,” kataku sambil terus memeriksa nisan-nisan di sekitarku. Mas diam. Matanya tetap  memperhatikan sekitarnya lebih seksama.

“Iya.., aku juga ingat tak jauh dari mushola ini.. ,” jawab Mas kemudian.  Rasa penasaran terus membuatnya mencari-cari seperti halnya aku.  Membaca nama demi nama dari nisan-nisan tersebut.

“Masa hilang?” kataku resah.
Mas mendesah. Ada kesedihan tergambar di wajahnya. Hari ini seperti tahun- tahun terakhir ini  kami gagal menemukan makam bapak.

Bapak meninggal di akhir tahun 90 an. Cukup lama. Saat itu aku dan Mas kira-kira di awal usia dua puluhan.

Jarak usia yang tak terpaut jauh membuat kami begitu akrab. Kemana-mana bersama, sering juga bersama bapak.

Tapi itu dulu. Sejak bapak meninggal dan kami berumah tangga semua tiba-tiba berubah.

Aku tinggal di Malang bersama ibuk sementara Mas merantau dan akhirnya tinggal dengan keluarganya di luar kota.

Komunikasi jarang kami lakukan. Ya, kami sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Merintis keluarga dari nol bukan hal yang mudah dan itu membuat kami konsentrasi dengan kehidupan kami masing-masing.

Akan halnya ibuk, beliau menyusul bapak beberapa tahun kemudian. Ya, kondisi kesehatan ibuk terus menurun sejak kepergian bapak.

Kepergian bapak dan ibuk membuat kami makin jarang bertemu. Bahkan lebaran pun kadang kami tak saling berkunjung. Saat lebaran Mas berkumpul dengan keluarga besar istrinya, demikian juga aku.

Berkunjung ke makam hanya kami lakukan menjelang puasa dan lebaran. Meski sesudah sholat kami selalu mendoakan   ibuk  dan bapak.

Sejak kepergian ibuk kami tak pernah mengunjungi makam bersama-sama. Sungguh, berbagai kesibukan membuat kami menyepelekan kebersamaan di antara kami. Padahal kebersamaan itu dulu selalu mengisi hari kami.

Ketika tiba-tiba makam bapak tak ditemukan sekitar empat tahun yang lalu,  kami mulai saling menyalahkan. Kami memang belum memasang kijing untuk makam bapak.

Sumber gambar: suara.com

“Kamu kan yang di Malang? Kok bisa hilang?”
“Kalau jarang diziarahi ya nanti dipakai orang lain..,”kata Mas saat itu.
“Lha Mas kan juga anak bapak? Kenapa Mas jarang ziarah?” balasku tak mau kalah. Sungguh, rasa penyesalan dan amarah membuat aku merasa ‘tak terima’ saat itu.

Sejak saat itu komunikasi di antara kami semakin jarang. Ketika ziarah ke makam ibuk, Mas biasanya tidak berkabar padaku. Demikian juga aku. Tak pernah sekalipun menyinggung masalah makam bapak atau ibuk. Biarlah ziarah menjadi urusan kami sendiri-sendiri.

Namun tahun ini beda. Usia yang semakin bertambah mungkin membuat kami lebih bijak untuk menerima dan memaafkan segala kekurangan kami.

Menjelang Ramadhan tahun ini tiba-tiba  Mas datang ke Malang dan mengajakku ziarah ke makam ibuk dan bapak. Dan itu yang membawa kami berdua ke TPU pagi ini.

Makam ibuk lebih mudah dicari karena lokasinya dekat dengan makam keluarga yang lain. Makam bapak yang agak jauh. Dan celakanya ‘hilang’ pula.

Kenyataan yang menyedihkan. Makam bapak sendiri sampai hilang!.
Anak macam apa kami ini, sesalku.

Lelah mencari kamipun berhenti. Dalam jarak antara beberapa nisan kami duduk terpekur dalam diam.

Doa-doa mulai kami langitkan. Meski makam bapak tak ditemukan bukankah Allah maha mendengar semua doa?

Selesai berdoa mataku mulai membasah. Rasa sesal kembali menelusup dalam hati.

Sungguh rasa berdosa ini selalu muncul  sejak makam bapak tak ditemukan.

Sumber gambar: Hi tekno.com

Bapak, maafkan kami.. betapa  kami tak bisa hanya  sekedar untuk  merawat makam bapak.

Diam-diam kuamati Mas yang masih khusyuk dalam doanya.
Mas tampak semakin tua. Guratan-guratan  usia mulai menghiasi wajahnya. Beberapa rambut putih mulai bermunculan tak ubahnya diriku.

Ketika Mas mengusap wajahnya sebagai tanda selesai berdoa, aku segera berdiri  untuk segera meninggalkan makam.

Tapi entah mengapa seakan ada yang menahan langkah kakiku. Seperti ada yang mencegahku meninggalkan area pemakaman.

“Jangan pulang dulu.., cari lagi..,” bisik hatiku.

Kembali kuamati nisan di sekitarku satu persatu.
“Ayo.. ,” kata Mas yang sudah menungguku.
“Sek.. tunggu..,” kataku pada Mas.

Mataku tiba-tiba berhenti pada nisan tak bernama tidak jauh dari tempatku berdiri. Segera kuhampiri nisan itu. Rupanya tertutup lumut yang lama sudah mengering.

“Kenapa?” tanya Mas heran.
“Jangan-jangan ini Mas?” kataku sambil membersihkan nisan itu. Mas segera mendekat sambil  membawa potongan batu kecil untuk membantuku. Dan .. tiba tiba sebuah tulisan muncul di situ. Nama bapak!

“Ini kan tulisanku, Dik,” kata Mas gembira. Dengan gerakan yang lebih cepat nisan kami bersihkan. Ada nama, lahir dan wafat bapak di situ. 

Kami saling berpandangan. Rasa haru dan syukur berpadu jadi satu. Melihat tulisan itu tiba-tiba aku ingat saat meninggalnya bapak. Ketika itu Mas membuat tulisan itu sementara aku memegang kaleng cat kecil di sebelahnya. Bagaimana warna hatiku saat itu, sungguh aku masih bisa membayangkannya.

Kami kembali berdoa. Kini benar- benar di depan makam bapak. Lama.

Ketika matahari semakin naik kamipun meninggalkan TPU. Berbeda dengan tadi, suasana tak begitu sepi. Beberapa pengunjung TPU mulai berdatangan.

Berdua kami menuju pintu keluar.
Mas merangkul pundakku seperti dulu. Hatiku begitu hangat sekaligus terharu. Betapa kebersamaan diantara kami sangat terabaikan selama ini.

Categories
Cerita Musik

Tears in Heaven, Mengingat Kematian adalah Satu Cara Menghargai Kehidupan

Denting gitar yang lembut membuat nuansa sedih lagu ini begitu terasa. Sebelumnya saya sudah pernah mendengarkan lagu ini. Enak, namun sedih, begitu kesan saya.

Lama tidak pernah nyetel lagu tersebut semalam tiba tiba saya menemukan lagu ini dari sebuah aplikasi tiktok dan liriknya dimunculkan pula.

Saya langsung tertarik begitu melihat teksnya. Hati langsung trenyuh membaca teks tersebut kata demi kata. Apalagi ketika tahu ternyata ada sebuah cerita di balik penciptaan lagu ini.

http://puiaht.blogspot.com/2015/09/tears-in-heaven-eric-clapton.html

Lagu ini menggambarkan kesedihan Eric Clapton ketika buah hatinya, Conor yang berusia empat tahun meninggal karena jatuh dari lantai 53 apartemen yang ditinggalinya.

Kesedihan yang mendalam membuat Eric menyepi dan merenung. Setelah selesai dalam periode berkabung, ia diminta menulis lagu untuk soundtrack film Rush (1991).

Kemudian ditulislah lagu ini bersama Will Jennings. Lagu ini sukses di Amerika dan Kanada, Eropa, serta Asia dan Amerika Selatan.

Menurut penjelasan Eric, lagu ini menjadi salah satu alat baginya untuk menyembuhkan diri.

Ternyata menulis lagu dan menyanyikannya menjadi suatu terapi yang berguna untuk menghilangkan segala kesedihan yang ada di dalam dada.

Jika kita perhatikan dengan seksama nuansa kehilangan sangat terasa di lagu ini.

Mari kita amati sejenak lagu Tears in Heaven berikut ini:

Tears in Heaven (Air mata di surga)

Would you know my name
Akankah kau kenali namaku
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
Would you feel the same
Akankah perasaanmu sama
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
I must be strong and carry on
Aku harus tegar dan bertahan
’cause I know I don’t belong here in heaven…
Karena kutahu surga bukan tempatku…

Would you hold my hand
Akankah kau genggam tanganku
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
Would you help me stand
Akankah kau bantu aku berdiri
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
I’ll find my way through night and day
Kan kutemukan jalan tuk lewati siang dan malam
’cause I know I just can’t stay here in heaven…
Karna kutahu aku tak bisa tinggal di sini, di surga…

Time can bring you down, time can bend your knees
Waktu bisa meruntuhkanmu, waktu membuatmu bertekuk lutut
Time can break your heart, have you begging please…begging please
Waktu bisa patahkan hatimu, memaksamu memohon-mohon

Beyond the door there’s peace I’m sure
Di luar pintu kuyakin ada kedamaian
And I know there’ll be no more tears in heaven…
Dan kutahu takkan ada lagi air mata di surga…

Would you know my name
Akankah kau kenali namaku
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
Would you feel the same
Akankah perasaanmu sama?
If I saw you in heaven?
Jika kujumpai kau di surga?
I must be strong and carry on
Aku harus tegar dan bertahan
’cause I know I don’t belong here in heaven…
Karena kutahu surga bukan tempatku…

Seperti apa yang dirasakan Clapton, kita mungkin pernah bertanya tentang hal serupa ketika orang yang disayangi tiba tiba meninggallkan kita.

Apakah yang dia lakukan ‘di sana’? Apakah dia merasakan kerinduan dan kesedihan yang saya rasakan? Apakah dia bisa melihat saya? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang tak pernah ada jawabannya.

Ya, kematian adalah misteri Ilahi yang manusia tak pernah tahu ada cerita apa di baliknya. Pun juga bagaimana kehidupan sesudah mati, kita tak pernah bisa membayangkannya.
Kita hanya bisa mengimani bahwa ada kehidupan sesudah mati dan pembalasan atas semua kebaikan atau kejahatan yang kita lakukan, seperti yang dijanjikan oleh kitab suci kita.

Mengingat kematian hakekatnya mengajak kita untuk menghargai kehidupan. Kehidupan adalah anugerah yang begitu besar. Melaluinya kita bisa mencari bekal sebanyak banyaknya sebelum kematian itu datang menghampiri.

Ya, mari kita hargai kehidupan dengan cara mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat sebagai bekal kehidupan di sana kelak. Supaya kita punya bekal yang cukup, sehingga tidak ada lagi air mata yang menetes di surga. No more tears in heaven..

Categories
Cerita

Selalu Ada Kenangan di Kayutangan

Willingly I’ll be yours…
Willingly I’ll wait for you….
All my love and all my life
I will give for you..
Only you..

Lagu Willingly yang pernah populer sekian puluh tahun yang lalu seolah menyambut kedatangan kami di Kayutangan malam itu.

Musisi jalanan, dokumentasi pribadi

Cuaca begitu bersahabat. Hujan yang tiap sore turun membasahi kota Malang malam itu tiada turun. Paling tidak untuk kawasan sekitar Kayutangan.

Berempat kami berjalan sepanjang trotoar Kayutangan. Meski pernah tinggal di Kayutangan saya benar-benar pangling dengan Kayutangan di waktu malam.

Tempat-tempat ngopi, atau untuk duduk -duduk santai dan berfoto benar-benar dibuat untuk memanjakan pengunjung yang ingin melepaskan penat di malam hari.

Jalan- jalan, dokumentasi pribadi

Tempat- tempat ngopi didesain bernuansa tempo dulu, juga orkes jalanan yang menyanyikan tembang-tembang lawas membuat jalan-jalan terasa gayeng dan menyenangkan.

Setelah jalan- jalan kami di mampir di kedai yang di dalamnya menjual aneka makanan dan minuman. Setelah pilih- pilih berbagai makanan akhirnya pilihan kami jatuh pada bakso, teh dan angsle.

Salah satu kedai di Kajoetangan, dokumentasi pribadi
Angsle, dokumentasi pribadi

Lagu-lagu terus dilantunkan. Dari Kopi Dangdut sampai lagu lagu Peter Pan. Terasa sedap dalam pendengaran.

Ah, perjalanan yang manis. Empat orang yang lama tidak bertemu saling menumpahkan cerita masa lalu. Bahkan dua di antara kami, Ika dan Ludi, mereka bersahabat ketika SMP, dan 40 tahun tidak pernah bertemu.

Depan Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Perjalanan ke Kayutangan malam itu sungguh membuka kenangan lama dan menciptakan kenangan baru. Kami tertawa bersama, sambil mengingat kenangan lucu di masa lalu.

Malam semakin larut. Musisi jalanan terus beraksi dengan lagu lagu andalan mereka. Lalu lalang pengunjung Kayutangan datang dan pergi silih berganti.

Tukang ojek, penjual kopi sibuk di tepi jalan untuk mengais rezeki. Kayutangan terus berdenyut tiada henti.

Ya, selalu ada kenangan di Kayutangan.

Categories
Cerita

Sebuah Cerita Tentang Pertemuan Sore Itu

Sore itu sebuah pesan masuk hp saya. Aha, pesan yang begitu singkat. Hanya berupa foto tanpa kata-kata. Tapi itu sudah jelas menunjukkan bahwa saya ditunggu di Mie Jogja yang berlokasi di Jalan Arjuno.

Berkas- berkas persiapan ujian praktek di sekolah langsung saya beresi. Setelah berpamitan, saya menuju parkiran. Ya, Vario biru yang setia segera saya pacu menuju Mie Jogja.

Suasana Mie Jogja tidak begitu ramai. Saya segera menuju meja posisi tengah  Dua orang sudah menunggu di sana. Dua orang teman SMP. Yep, kami dulu bersekolah SMP Negeri 1 yang berlokasi di Jl. Lawu 12 Malang.

Depan Mie Jogja, dokumentasi pribadi

Betapa lama kami tidak bertemu. Teman saya yang satu ini sudah sejak lama merantau dan tinggal di Bandung sementara saya dan teman  satunya lagi setia tinggal di kota Malang.

Bagaimana rasanya bertemu dengan sahabat lama? Ah, sesuatu sekali. Pembicaraan mengalir tiada henti. Apalagi bawaan kami yang sama sama rame, alias suka ngomong.

Berbagai topik kami jelajahi. Mulai dari tanaman, topik kekinian, nostalgia SMP dan yang terakhir makanan.

Mengapa monstera dinamakan janda bolong? Aha, itu menjadi bahan diskusi kami yang menarik sore itu. Saya baru tahu ternyata  janda bolong berasal dari bahasa Jawa yaitu kata ron do (Podo) bolong atau daun daunnya pada bolong.

Kata rondo bolong akhirnya lebih dikenal dengan nama janda bolong. Wow, penjelasan yang mantap.

Hidangan yang tersaji berupa bakmie goreng dan teh panas membuat suasana sore itu semakin hangat dan akrab. Berkali kali ada gelak tawa di antara kami. Ya,  kekonyolan di masa lalu selalu menarik untuk diceritakan kembali.

Hasil praktik membuat kue, dokumentasi pribadi

Dari berbagai masalah, pembicaraan berakhir ke cara membuat kue. Wah, ini saya yang paling suka. Meski saya tidak pandai membuat kue, namun jika mereka praktek paling tidak pasti kebagian tester. He..he..

Bagaimana jika dua ahli membuat kue bertemu? Seru pastinya. Ada berbagai tips yang muncul. Bagaimana membuat kue gulung yang tidak pecah, menggunakan open tanpa api atas dan banyak lagi. Dan untuk lebih mantapnya hasil pembicaraan sore itu ditindaklanjuti dengan  praktek bersama esok hari. Nah, benar kan perkiraan saya? Tester…tester…

Ketika hari semakin sore pertemuan di Mie Jogja pun kami sudahi. Selesai? Belum. Acara dilanjutkan dengan pertemuan di Bareng. Pembicaraan tentang makanan dan kue terus berlanjut hingga sekitar jam delapan malam.

Aih, itulah jika emak- emak lama tidak bertemu. Segala kangen dan rindu ditumpahkan jadi satu dengan berbagai cerita yang tiada habisnya. Ramai pula.

Pertemuan yang ramai , dokumentasi pribadi

Ya, bukankah perempuan punya begitu banyak stock kosa kata setiap harinya? Satu perempuan mempunyai 20.000 kosa kata yang diucapkan tiap harinya. Jika hari ini ada 3 perempuan bisa dibayangkan bagaimana meriahnya.

He..he..