Warna- warni bunga di Poetoek Soeko tersenyum ramah menyambut kedatangan kami pagi itu. Sejauh mata memandang lautan bunga ada di mana-mana. Bunga kenikir, Iler, bunga matahari, juga zinia.
Aih , bunga yang terakhir ini benar- benar saya suka.
Beberapa kali kami berfoto dengan latar bunga yang memikat ini. Bagi saya warna warni zinia seolah memberikan energi dan kesegaran tersendiri.
Lautan zinia di Poetoek Soeko, dokumentasi pribadi
Perkenalan saya dengan zinia berawal ketika saya masih kecil. Saat itu di halaman rumah kami ada tanaman bunga yang berjajar cantik. Rupanya tanaman itu tumbuh karena benihnya yang disebar memanjang di dekat jemuran.
Suatu pagi tiba-tiba saya melihat bunga-bunga mulai mekar, meski ada beberapa yang masih kuncup.
“Wah, cantiknya,” kata saya dengan kagum. Kupu-kupu yang hinggap di atas bunga langsung terbang. Mungkin kaget dengan teriakan saya.
“Buk, ini bunga apa?” tanya saya pada ibuk yang sedang menjemur cucian. Ibuk tersenyum.
“Kembang kertas.. bagus ya .,”kata Ibuk. “Wah, warna- warni ya.. seperti kertas lipat,” cetus saya.
Benar, dalam pandangan saya bunga itu dinamakan kembang kertas pasti karena berwarna- warni seperti kertas lipat.
Ibuk tertawa sambil terus melanjutkan pekerjaannya. Dialog yang singkat, tapi cukup membuat saya terus memperhatikan zinia di depan rumah tiap hari.
Warna zinia di depan rumah bermacam-macam. Ada pink, merah, putih dan ungu. Karena warna yang beraneka itulah tiap hari saya selalu berharap zinia yang lain segera berbunga dan menerka-nerka warna apa lagi yang akan muncul.
Sekilas tentang Zinia
Warna-warni zinia, sumber gambar: Dunia Tumbuhan.com
Zinia adalah bunga berupa semak dan perdu kecil yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Zinia memiliki mahkota bunga yang sangat tipis dan kaku mirip dengan lembaran kertas, karenanya ia banyak dikenal sebagai kembang kertas.
Bunga ini memiliki ciri bunga majemuk yaitu terdiri dari beberapa bunga kecil yang disebut floret dan tersusun rapat pada dasar bunga.
Ada berbagai warna bunga zinia yaitu putih dan krim hingga merah muda, merah, ungu, hijau, kuning, aprikot, jingga, salmon, dan perunggu.
Tidaklah sulit menanam bunga zinia karena bunga cantik ini bisa tumbuh meski hanya ditebar saja di atas tanah.
Dari berbagai sumber selain berwarna cantik, zinia juga menyimpan banyak manfaat. Di antaranya bisa untuk mengatasi bisul, gatal, hepatitis dan banyak lagi.
Berfoto di sekitar zinia di Poetoek Soeko, dokumentasi pribadi
Di balik kesederhanaannya tersimpan keindahan dan berbagai manfaat dari Si Cantik Zinia.
Namun satu hal yang membuat saya menyukai zinia adalah bunga ini selalu mengingatkan saya pada taman di depan rumah saya di masa lalu.
Taman yang tak begitu luas, namun menyimpan berbagai kenangan tentang keindahan dan kehangatan masa kecil kami.
Siapa tidak kenal cwi mie Malang? Hmm, hidangan lezat yang sangat menggugah selera ini memang tiada duanya. Dari aromanya yang menggoda sudah terbayang bagaimana kelezatannya.
Cwie mie atau kami sering juga menyebutnya dengan pangsit mie banyak disebut sebagai salah satu kuliner asli Malang.
Cwie mie biasanya disajikan dengan taburan ayam yang dicincang halus dan dilengkapi oleh daun sawi.
Rasa bumbu mie dan kuahnya gurih serta lezat. Perpaduan antara kaldu rebusan ayam, cincangan bawang putih, seledri, daun bawang, bawang goreng, membuat cwie mie benar-benar maknyus rasanya.
Di Bintaraloka ada kedai yang selalu menyajikan cwi mie yang lezat yaitu kedai Mas Rizal.
Kedai ini juga menyediakan siomay Wonton juga jamur krispi. Tapi yang paling saya suka adalah cwi mienya.
Kedai Mas Rizal di kantin Bintaraloka, dokumentasi pribadi
Ada sebuah cerita unik dalam dua hari ini Ternyata ada hubungan di antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara. Iya, benar.. Mie Burung Daranya Inul Daratista. Tidak percaya? Simak terus ceritanya..😊
Setiap hari kedai mie Mas Rizal selalu menaburkan bau yang menggoda bagi kami. Setiap aroma cwi mie menguar rasanya perut langsung berontak. Cacing-cacing dalam perut menari-nari minta segera diberi mie.
Cwi mie mentah dalam kemasan, dokumentasi pribadi
Nah, suatu hari saya ingin sekali membeli cwi mie. Sesudah menyelesaikan sedikit pekerjaan, laptop saya sleep dan bergegas menuju kantin. Cwi mie Mas Rizal jadi tujuan utama saya.
Aih, ternyata karena istirahat PAT lebih panjang daripada biasanya, cwi mie dan makanan yang lain sudah ludes diserbu anak-anak. Saya hanya menjumpai kursi dan meja kosong, demikian juga banyak dari para penjual sudah pada pulang.
“Mau cari apa, Bu?” tiba-tiba seorang teman menyapa saya. “Mau cari pangsit, Bu, kehabisan,” jawab saya. Saya biasa menamakan cwi mie dengan pangsit.
Bumbu dan topping cwi mie, dokumentasi pribadi
Teman saya langsung menawarkan sesuatu yang menarik. “Bu Yuli mau pangsit? Tapi dimasak sendiri?” Aha, pangsit tapi dimasak sendiri? Sesuatu yang baru bagi saya. “Lha , Ibu bagaimana?” saya balik bertanya. “Saya beli dua, yang satu buat Bu Yuli, satu buat saya..,” Alhamdulillah….Saya tersenyum lebar. Rezeki ini namanya.
Ternyata selain dalam bentuk matang, Mas Rizal juga menjual cwi mie dalam bentuk mentah.
Setelah mengucapkan terima kasih sebuah kotak dus kecil saya terima dengan hati gembira. Asyik, pulang mau buat pangsit, pikir saya.
Sampai di rumah, saya langsung mengecek magic jar. Nasi habis. Tak apa.. saya punya pangsit, pikir saya.
Kompor saya nyalakan, di atasnya saya beri panci kecil dengan air setengah panci. Kotak dus saya buka, dan mangkuk saya siapkan di sampingnya. Tapi lho….kok isinya bumbu-bumbu dan topping ya? Ada kecap, kuah, bawang daun, bawang goreng, pangsit , cabe, daging ayam giling, dan krupuk .
“Kok tidak ada mie nya ya, Buk?” tanya anak saya. Saya juga heran. “Mungkin paketannya begitu ya, Le? Pakai mie Burung Dara di kulkas saja wes,” jawab saya memutuskan.
Cwi mie Burung Dara yang Mak nyus, dokumentasi pribadi
Tanpa banyak tanya, mie Burung Dara saya rebus dan dicampur dengan bumbu-bumbu yang ada di kotak tadi. Rasanya? Hmm, wenak.. saya makan berdua dan langsung habis.
Selesai makan tiba-tiba ada pesan masuk lewat WhatsApp saya. Walah, dari teman yang mentraktir mie tadi.
Intinya beliau minta maaf karena sesampai di rumah dan membuka dosnya, ternyata isinya cuma mie. Topping dan bumbunya ada pada saya.
He..he.. kami tertawa. Mungkin ada miskomunikasi sehingga ketika mie dijadikan satu dengan mie, dan bumbu dengan bumbu oleh Mas Rizal, hal tersebut tidak disampaikan pada pembeli, sehingga kami berpikir bahwa satu dos kecil itu isinya lengkap; mie, bumbu dan toppingnya.
“Besok saya ganti ya, Bu..,” kata teman saya. Waduh, mana ada ceritanya orang mentraktir merasa bersalah dan mentraktir lagi. Saya langsung menolak.
Tapi begitulah, besok menjelang pulang sudah ada dos kecil cwi mie di meja saya. Dua pula. “Bu, pangsitnya sudah tak letakkan di meja, tadi sama Mas Rizal sudah ditulisi biar tidak salah ,” kata teman saya menjelang pulang.
“Terima kasih, Bu,” jawab saya. Duh, tidak enak juga.. tapi lha sudah dibelikan mau bagaimana lagi?
Pulang sekolah, seperti kemarin kompor langsung saya hidupkan dan merebus air setengah panci. Mau masak pangsit, pikir saya.
Tas berisi pangsit saya buka. Dua kotak tersaji manis di sana dengan tulisan yang begitu rapi : “1 porsi lengkap cwi mie mentah”. Aha, mantap ini, pikir saya. Ketika air mendidih, kotak saya buka… dan .. alamak… mie nya tidak ada lagi.
Saya tertawa geli. Salah lagi ini. Kompor segera saya matikan dan lari ke warung beli Mie Burung Dara lagi.. he..he…
Ada WhatsApp masuk lagi. Tanpa saya buka saya sudah tahu isinya. Pasti teman saya di rumah sedang masak mie, dan bumbunya katut di kotak saya.
Sore itu saya kembali makan cwi mie yang spesial. Bumbu racikan Mas Rizal, plus Mie Burung Dara.
Nah, benar ‘kan, ada hubungan tertentu antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara punya Inul Daratista?
Maghrib hampir menjelang. Tiga anak kecil masih berkutat dengan alat permainannya di serambi depan. Gadget. Apa lagi? Jika dulu permainan identik dengan berlarian ke sana kemari, sekarang bermain adalah duduk diam dengan gadget di tangan.
Permainan di layar tampak demikian seru. Mata ketiganya tak henti menatap layar yang menyajikan gambar berwarna-warni.
“Aku nyilih,” kata salah seorang di antara mereka. Ya, ada tiga anak , tapi gadget cuma dua. Pastinya salah satu hanya jadi penonton atau syukur-syukur jika dipinjami.
“Nih..,” kata pemilik gadget pada temannya. Dengan sigap si peminjam meraih gadget lalu memainkan permainan yang sama dengan gerakan jemari yang tak kalah lincah.
“Belum dibelikan HP, Yan?” tanya anak pertama. Si peminjam tadi, Yayan, cuma menggeleng. Sambil memusatkan konsentrasi pada koordinasi antara mata dan jemarinya. Permainan semakin seru.
Anak bermain game, sumber gambar: Manado Post
“Galak gampil mu dapat berapa?” “Tujuh ratus lima puluh ribu.. ,” jawab Yayan “Hah…? Banyak sekali? Mbok beli HP?” tanya temannya lagi heran. Yayan menghela nafas. Matanya tak lepas dari layar permainannya.
“Belum boleh sama ibuk ku Don,..,” “Lha kenapa?” “Masih kurang katanya,” “Iya sih, kata Masku kira – kira satu juta seratus sudah dapat HP bagus,” jawab Doni, si penanya sok tahu.
“Besok bulikku datang dari Surabaya..biasanya ngasih galak gampil banyak. Mudah-mudahan bisa untuk tambahan beli HP..,” tambah Yayan.
“Iya.. kalau kita main bertiga tambah asyik. Gak usah saling meminjam,” timpal Aris, anak ketiga yang dari tadi hanya jadi pendengar karena asyik dengan permainannya.
“Yayan…, Ayo maghriban,” sebuah teriakan membuyarkan konsentrasi ketiganya.
“Sedikit lagi, Buk..,” jawab Yayan malas. Duuh, kok cepat sekali sih Maghribnya. Heran, kemarin waktu puasa Maghrib terasa lama sekali datangnya sekarang puasanya habis, Maghrib seolah datang lebih cepat.
“Ayo..Ndang… Sudah qomat itu…,”tambah ibu Yayan yang sudah memakai atasan mukenah, siap berangkat ke langgar.
Dengan malas Yayan mengembalikan HP pada temannya, lalu ketiganya bergegas menuju ke langgar yang tak jauh dari rumah.
Malam semakin larut. Meski jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan ibuk belum menyuruh Yayan dan Sari untuk segera tidur. Maklumlah , liburan masih kurang empat hari lagi.
Yayan duduk di kelas lima sedangkan Sari masih duduk di TK. Keduanya sedang asyik menonton sebuah acara televisi.
“Pak.., Bulik Surti kapan ya ke Malang?” tanya Yayan mendekati bapaknya. “Mungkin besok Le, kenapa?” tanya bapak balik. “Kangen sama Bulikmu?”
Yayan tersenyum. Demikian juga ibuk yang sedang menyiapkan bumbu-bumbu untuk jualan besok pagi. Ya, ibuk adalah penjual pecel dan lontong sayur di depan rumah setiap pagi. Malam hari adalah saat ibuk menyiapkan bumbu dan membuat berbagai macam masakan.
Bulik Surti adalah adik bapak satu-satunya. Bulik Surti mempunyai usaha warung yang cukup besar di Surabaya. Karenanya uangnya banyak, dan yang paling disenangi Yayan, Bulik sangat ‘loman’. Apalagi pada Yayan yang begitu akrab dengan Dadik anak Bulik Surti satu satunya.
“Pak, kalau galak gampil ku itu buat beli HP kurang berapa ya?”tanya Yayan lagi. Bapak menghela nafas . Diletakkannya obeng yang dari tadi dipakai untuk memperbaiki magic jar yang rusak.
“Kenapa harus beli HP? Pinjam punya ibuk atau bapak ‘kan bisa?” jawab bapak lagi.
Yayan mulai cemberut. “Tidak enak Pak.. pinjam-pinjam terus.., lagipula HP bapak dan ibuk kurang support kalau buat nge-game..,” “Halah, game-game terus ae.. sebentar lagi sudah masuk sekolah, Le…,” jawab bapak sambil kembali meneruskan pekerjaannya.
Wajah Yayan semakin mendung. Bapak selalu begitu, pikirnya. “Yayan, ayo ndang tidur sana..,” kata ibuk sambil menggendong Sari yang tertidur di bangku menuju ke kamar. Yayan mengikuti ibuk dari belakang.
“Buk, aku jadi dibelikan HP atau tidak?” tanya Yayan sambil membaringkan tubuhnya di dipan. Ada dua dipan di kamar mereka. Satu buat Sari, satu buat Yayan.
Uang galak gampil, sumber gambar: Bareksa
“Jadi Le.., tapi kan masih kurang uangnya?” jawab ibuk sabar. “Mudah-mudahan besok Bulik Surti datang ya Buk? Biasanya galak gampilnya banyak,” kata Yayan lagi.
“Hush, tidak boleh arep-arep begitu.. tidak baik,” kata ibuk mengingatkan.
Yayan tersenyum kecil. Guru agamanya juga bilang begitu. Tidak boleh mengharap bahkan minta uang saat lebaran. Mengurangi keikhlasan silaturahmi katanya.
Tapi dari lebaran ke lebaran tiap anak pasti hafal siapa saja saudara yang selalu memberi galak gampil. Utamanya yang jumlahnya banyak.
Ibuk keluar dari kamar anak-anak. Meninggalkan Yayan yang masih berkutat dengan bayangannya tentang HP baru.
“Belum selesai Pak?” tanya ibuk sambil mendekati bapak masih asyik dengan obeng , mur dan dan peralatan lainnya. “Sedikit lagi..,” jawab bapak singkat.
“Pak, uang Yayan bagaimana?” bisik ibuk hati-hati. Bapak menghela nafas panjang. “Yang 300 kemarin dipakai bayar listrik sama air kan? Tapi minggu depan ada yang minta tolong membetulkan atap dapur. Nanti kita ganti,” jawab bapak tak kalah pelan.
Garapan bapak sebagai tukang serabutan memang sedang sepi. Tidak seperti biasanya, tidak ada yang minta tolong memperbaiki sesuatu pada bapak di sekitar Lebaran tahun ini. Garapan baru ada mulai minggu depan.
Ibuk mengangguk. Berarti uang yang dipercayakan padanya tinggal 450 ribu. Ah, makin jauh dari HP impian Yayan, pikir ibuk.
Semua diam. Hanya televisi yang masih terus menyiarkan acara komedi yang makin lama terasa semakin tidak lucu.
Sambil mengupas bawang ibuk terus memutar otak memikirkan jawaban untuk pertanyaan tentang HP dari Yayan besok dan besok nya lagi.
Arti istilah:
Galak gampil : THR lebaran Nyilih : pinjam Arep arep : mengharapkan Ndang : cepat
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaha illallah huwallahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd
Gema takbir bersahut-sahutan menandakan Hari Kemenangan telah tiba. Setelah satu bulan menjalani puasa Ramadhan kini saatnya kita kembali dipertemukan dengan bulan Syawal.
Suasana silaturahmi, dokumentasi pribadi
Ada rasa gembira sekaligus sedih. Gembira karena saat kemenangan telah tiba, sedih karena berpisah dengan Ramadhan, bulan yang begitu mulia.
Lebaran identik dengan silaturahmi. Setelah sholat Id, pagi ini acara kami adalah silaturahmi. Pagi dengan tetangga, agak siang silaturahmi dengan saudara.
Doa bersama, dokumentasi Wachid
Silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang berarti jalinan kasih sayang atau hubungan kasih sayang
Ada banyak manfaat dari silaturahmi, di antaranya adalah membawa kemudahan rezeki, umur yang panjang, serta limpahan kebaikan dan hidayah oleh Allah SWT.
Di tahun ini Silaturahmi Keluarga Besar Bani KH M. Abd. Hadi kembali digelar. Pertemuan dilaksanakan di Riverfront Resort blok A-21.
Undangan silaturahmi, dokumentasi Wachid
Silaturahmi kali ini terasa begitu menyenangkan sekaligus mengharukan. Tiga tahun kami tidak bisa menjalankan kegiatan ini dengan bebas. Pandemi membuat kami harus menahan diri.
Berjumpa kembali secara langsung dengan kerabat hari ini banyak membuat kami pangling. Banyak sekali perubahan yang terjadi selama dua tahun ini. Lebih-lebih melihat keponakan yang semakin besar-besar.
Para keponakan, dokumentasi pribadi
Kerabat yang datang dari berbagai usia, cemilan dan makanan yang beraneka macam, membuat suasana terasa demikian hangat. Apalagi di antara hidangan tersebut ada juga bakso Malang yang tentu saja tak boleh dilewatkan.
Suasana silaturahmi, dokumentasi Wachid
Sekitar habis Ashar kami pamit pulang karena ada agenda lain yaitu mengunjungi keluarga di Bareng Kulon. Benar-benar hari yang melelahkan tapi menyenangkan.
Berbagai macam hidangan, dokumentasi Wachid
Akhirnya selalu ada banyak cerita dari Lebaran. Semoga Lebaran tahun ini memberikan berkah dan kebahagiaan pada kita semua, dan semoga Allah mengampuni semua dosa kita sehingga di hari yang Fitri ini kita kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H , mohon maaf lahir dan batin.
Lebaran dan baju baru seolah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Meski banyak yang berpendapat bahwa lebaran tak harus berbaju baru, tapi mengenakan baju baru saat lebaran adalah kebahagiaan tersendiri. Tidak hanya bagi anak kecil, semua akan merasa bahagia jika berbaju baru pas lebaran.
Menyiapkan baju lebaran selalu mengingatkan saya di masa kecil. Lebaran yang penuh kenangan utamanya yang berkaitan dengan persiapan baju baru.
Lebaran dan baju baru, Sumber gambar: CNN
Ya, bapak dan ibuk saya adalah penjahit. Karenanya kami hampir tidak pernah membeli baju jadi di toko. Semua baju lebaran dirancang sekaligus dijahit ibuk dan bapak.
Sebagai keluarga penjahit kami pasti punya buku mode blad. Buku mode blad adalah buku yang berisi berbagai macam model pakaian. Mode blad selalu diletakkan di ruang tamu untuk orang yang akan menjahitkan pakaian.
Dua minggu menjelang lebaran kami mulai sibuk mencari dan merancang model. Ilham didapat dari buku mode blad lalu dimodifikasi.
Biasanya model dan kain baju kakak dan adik saya dikembar karena keduanya sama-sama laki-laki. Sementara saya paling berbeda karena perempuan sendiri dan dapat paling banyak. He..he.. Mengapa? Karena saya paling rajin membantu bapak memasang kancing, menyetrika baju ataupun membeli perlengkapan jahit, seperti jarum, benang , resluiting dan lainnya.
Di antara semua pelanggan bapak , yang paling saya ingat ada satu pelanggan yang selalu menjahitkan untuk sekeluarga tiap menjelang lebaran. Pelanggan favorit kami.
Penjahit, sumber gambar: tribun Bogor
Mengapa favorit? Pelanggan ini puteranya lima. Jadi sekali menjahitkan ada tujuh stel baju. Untuk ibu , bapak, dan kelima anaknya. Senang? Tentu saja. Banyak jahitan berarti bapak mempunyai banyak uang bukan?
Di zaman itu penjahit sedang berjaya. Toko baju tidak sebanyak sekarang. Akibatnya dua minggu menjelang lebaran bapak mulai menolak jahitan yang diminta untuk berlebaran. Saat seperti itu biasanya bapak hanya mau menerima jahitan yang akan dipakai sesudah lebaran.
Saat itu di rumah ada lemari besar khusus untuk kain para pelanggan . Kami namakan itu lemari garapan. Ketika menjelang lebaran, lemari itu sampai tidak bisa ditutup saking penuhnya. Bisa dibayangkan betapa banyak jahitan bapak saat itu.
Banyaknya jahitan bapak kadang membuat kami anak-anaknya khawatir. Jangan- jangan bapak tidak punya waktu untuk menjahit baju kami bertiga? Apakah lebaran kami juga berbaju baru?
Kadang dua hari menjelang lebaran, baju kami masih berupa potongan kain. Duh, benar-benar hati jadi deg-degan. Jangan-jangan bapak lupa dengan baju-baju kami saling banyaknya baju pelanggan yang harus diselesaikan.
Tapi kekhawatiran kami itu tak pernah terjadi. Bapak dan ibuk sering melembur baju baru kami di malam takbiran, dan baru disetrika esok hari menjelang sholat Id. Yang jelas, pas lebaran kami pasti mengenakan baju baru
Masa kejayaan penjahit mulai meredup ketika toko-toko baju banyak berdiri di mana-mana. Ya, orang-orang banyak yang lebih memilih untuk membeli pakaian jadi.
Alasannya bajunya bisa langsung dipakai, dan modelnya bermacam-macam pula. Sementara kalau menjahitkan harus menunggu beberapa hari baru bisa dipakai.
Sampai akhirnya jahitan bapak semakin sepi dan bapak pindah profesi. Sesekali bapak masih menerima jahitan dan yang banyak adalah permak. Ya, biasanya dari orang yang membeli baju di toko, lalu karena ukuran yang kurang pas, baju dibawa ke rumah untuk dipermak.
Toko baju, sumber gambar: Kompas.com
Begitu sepinya jahitan, bahkan kamipun akhirnya ikut-ikutan membeli baju jadi saat lebaran. Sudah tidak ada lagi kesibukan menyiapkan baju lebaran di malam takbiran.
Tahun demi tahun berlalu, keberadaan penjahit di kampung semakin tergusur. Bapak sudah lama meninggal. Tapi nuansa persiapan menyambut kedatangan lebaran, termasuk persiapan baju barunya selalu mengingatkan saya pada suara deru mesin jahit bapak di ruang tengah.
Suara deru mesin yang membuat kami begitu bahagia. Karena suara mesin itu menggambarkan ramainya jahitan bapak. Ramainya jahitan bapak berarti sangu lebaran yang akan kami terima nanti pasti akan banyak. Aha..😀