“Kutunggu depan perpustakaan umum ya…,” Sebuah pesan masuk WhatsApp saya pagi itu. Dari seorang teman SD. Aha, pagi ini kami memang berjanji untuk jalan-jalan di Car Free Day Jl. Ijen Malang.
Sepeda motor saya langsung melaju menembus dinginnya Kota Malang. Di sepanjang jalan Kawi juga jalan Gelanggang sudah banyak orang berolahraga ringan.
Banyak pejalan kaki di CFD, dokumentasi pribadi
Suasana Jl. Ijen begitu ramai. Ada yang berjalan sendiri, tapi lebih banyak yang jalan bareng teman atau keluarga. Selain berjalan, banyak pula yang bersepeda, senam, berkumpul bersama komunitas ataupun sekedar duduk-duduk di tepi jalan.
Sesuai namanya yaitu Car Free day, tidak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas. Kalaupun ada kendaraan, itu adalah sepeda pancal atau sepeda listrik. Tapi tidak begitu banyak.
Di area parkir, dokumentasi pribadi
Karenanya hawa terasa begitu segar. Lain sekali dengan suasana Jl Ijen di hari biasa yang selalu dipadati kendaraan yang lalu lalang.
Saya terus berjalan menuju tempat senam, tepatnya di depan perpustakaan umum. Pengunjung sudah begitu banyak. Ada panggung kecil yang didirikan tepat di pertigaan Jl Ijen dan Semeru untuk tempat para pemandu.
Senam dengan iringan lagu campur sari, dokumentasi pribadi
Tak berapa lama iringan musikpun berkumandang. Lagunya? Campur sari!
Ada lagu Didi Kempot, Niken Salindri, Via Vallen dan banyak lagi.
Kami bergerak mengikuti para pemandu. Gerakan senam semi bergoyang.. he..he.. gayeng sekali.
Ketika irama campur sari berganti dengan lagu lain yang lebih menghentak, satu persatu di antara kami mulai keteteran.
“Jalan-jalan saja yuk.., ” ajak saya pada teman teman.
“Iya, jalan-jalan saja,” kata yang lain. Semua sudah ngos-ngosan mengikuti senam aerobik yang baru saja dimulai.
Penjual balon, dokumentasi pribadi
Kamipun berjalan-jalan sambil ngobrol sepanjang Jalan Ijen dan sekitar Dempo.
CFD benar- benar bagai magnet bagi warga Malang. Di sepanjang jalan yang kami lalui tampak berbagai macam aktivitas. Ada yang berjualan makanan, mainan, promosi event tertentu, bertemu teman lama dan banyak lagi.
Dinosaurus, tempat yang diserbu anak anak, dokumentasi pribadi
CFD juga merupakan sarana hiburan yang murah bagi anak-anak kecil. Ada tempat menyewa kendaraan scooter, naik dokar, belajar menggambar, memancing ikan dan berbagai permainan yang lain.
Setelah berjalan-jalan, kami memasuki area museum Brawijaya yang setiap hari Minggu digunakan para pedagang untuk berjualan. Di sepanjang jalan masuk museum banyak pedagang makanan, asesoris, baju atau barang yang lain.
Duduk-duduk di CFD, dokumentasi pribadi
Khasnya emak-emak jalan-jalan kurang lengkap rasanya tanpa belanja. Dari melihat-lihat akhirnya ada beberapa barang yang kami beli.
Membeli bumbu rentengan, dokumentasi pribadi
Ya, pagi hari di CFD bukan sekedar jalan-jalan ataupun bertemu teman. Buktinya pagi itu kami mendapatkan bros, aneka bumbu rentengan berupa kemiri, merica, bawang, makaroni, ebi, bahkan kami juga membeli penambal panci. He..he… Lengkap pokoknya.
Mbak Sur menuju rumah dengan wajah ceria. Kupon berwarna hijau muda dikipas- kipaskannya. Sesekali senandung kecil mengiringi langkah kakinya.
Berkali- kali dipandanginya kertas seukuran kartu pos itu.
Matanya berbinar-binar membaca tulisan di bagian belakangnya. Betapa tidak? Hidup lagi sulit-sulitnya tiba-tiba ada pembagian kupon untuk paket sembako gratis.
Tidak main-main. Isi per paket adalah beras lima kilo, gula satu kilo dan minyak dua liter. Gratis. Sekali lagi gratis. Siapa yang tidak kepingin?
Kalau ditotal harga satu paket tersebut kira kira 125.000. Wow, betapa baik hati orang yang membagi- bagi paket ini.
Sembako, sumber gambar: merdeka.com
“Eits.., jangan ndlereng..,” kata Mbak Ipah yang hampir bertabrakan di gang. Keduanya kebetulan berpapasan.
“Aduh, sepurane.., ” kata Mbak Sur malu.
“Dari Pak Rahmat juga?” tanya Mbak Sur demi melihat Mbak Ipah membawa kupon yang sama
Mbak Ipah tersenyum lebar.
“Ya iyalah…,” katanya ringan.
“Alhamdulillah, dapat gratisan.. pas garapan bapaknya sepi,” lanjut Mbak Ipah.
Mas Parno, suami Mbak Ipah adalah tukang talang. Di musim kemarau seperti ini garapan talang sepi. Tentu saja, tidak ada hujan berarti tidak ada masalah talang bocor dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
“Sama…, pesenan jajanku ya sedang sepi .., mungkin karena tahun ajaran baru, orang butuh seragam, tidak butuh jajan,” timpal Mbak Sur. Keduanya tertawa.
“Eh, ngomong-ngomong sumbangan ini dari mana ya?” tanya Mbak Ipah.
Mbak Sur memandang teman bicaranya dengan heran. “Lha tadi kan diterangkan Mbak Wati?” Jawabnya.
“Iya, pas diterangkan tadi Cenik menangis, terpaksa kutinggal keluar sebentar, beli jajan buat Si Cenik,” jawab Mbak Ipah. Cenik adalah anak Mbak Ipah yang paling kecil. Balita berumur satu tahun itu selalu ikut ke mana saja ibunya pergi.
“Oalah, ceritanya Pak Bejo kan mau nyalon lagi,” jawab Mbak Sur lagi.
“Pak Bejo lurah kita? Mau nyalon lagi?”
“Iya.., istilahnya sekarang beliau petahana begitu,” jawab Mbak Sur meyakinkan.
“Ooh, lha ini untuk apa?” tanya Mbak Ipah sambil menunjukkan kuponnya. Polos.
“Halah…., ya biasa lah..,” kata Mbak Sur sambil tersenyum kecil.
“Kaum ‘Golek lemah‘ seperti kita kan selalu diingat pas ada pergantian lurah,”
“Golek lemah?” tanya Mbak Ipah tidak mengerti.
Setengah tertawa Mbak Sur menjawab, “Golongan Ekonomi lemah,”
Mbak Ipah ikut tertawa.
“Alhamdulillah.., rapopo.., rezeki jangan ditolak..,” kata Mbak Ipah yang disambung derai tawa keduanya.
***
Pagi yang cerah. Sebuah tenda terpal didirikan di depan rumah Pak Bejo. Beberapa kursi sofa diletakkan di depan sementara di belakang deretan kursi plastik sudah berjajar rapi.
Hidangan pala pendem diletakkan dalam piring-piring dan tak ketinggalan minuman dalam kemasan tertata rapi di dekatnya.
Pak Rahmat ketua RT 20 sekaligus orang kepercayaan Pak Bejo sibuk mondar-mandir memberikan briefing ke sana- sini.
Alunan musik campur sari membuat suasana semakin gayeng. Satu demi satu tamu-tamu mulai hadir. Tamu hari itu adalah seluruh warga desa ‘Makmur Selalu’.
Semakin siang tamu yang datang semakin banyak. Pak Bejo duduk di depan ditemani istri tercinta.
Bu Bejo yang demikian gandes luwes melemparkan senyum pada para hadirin. Dasar orangnya ayu, batik hijau yang dikenakan sarimbit dengan sang suami membuat penampilannya makin ayu.
Beberapa warga terutama kaum wanita menatap Bu Bejo dengan kagum bahkan sedikit iri. Duh..
“Monggo, ayo duduk,” kata Bu Bejo ketika Mbak Sur dan Mbak Ipah datang. Mereka segera duduk di tempat yang ditentukan. Di sana sudah ada sekitar lima belas orang warga yang rupanya mendapat tempat khusus.
“Lho..,, Pak No,” kata Mbak Sur sambil duduk di sebelah Pak No. Jika ada pemberian sumbangan, Mbak Sur, Pak No dan Mbak Ipah selalu masuk dalam daftar penerima nya. Mereka warga RT 20.
“Inggih, Mbak Sur.., ambil rezeki,” kata Pak No sambil tertawa
Pandangan mata tamu langsung terfokus pada pembawa acara yang mulai membacakan susunan acara hari itu.
Singkat kata hari itu adalah syukuran ulang tahun Pak Bejo, sekaligus beliau meminta doa restu pada yang hadir karena akan mencalonkan diri lagi saat pemilihan lurah sebentar lagi.
Hadirin bertepuk tangan. Apalagi saat Pak Bejo membawakan pidatonya dengan santun dan teduh. Intinya marilah memilih pemimpin yang berpengalaman sekaligus peka pada kebutuhan warga.
“Hidup Pak Bejo..!” teriak yang hadir. Ya, untuk apa memilih orang yang tidak peka pada kebutuhan warganya? Harusnya tiap pemimpin mempunyai kepekaan dan empati bukan?
Hadirin semakin semangat sekaligus terharu tatkala Pak Bejo mengatakan bahwa pemberian sumbangan sembako pada warga yang kurang mampu adalah wujud empati dan kasih sayang seorang pemimpin pada warga yang dipimpinnya.
“Dan kasih sayang lah yang membuat hidup kita lestari dan penuh harmoni,” kata Pak Bejo di akhir pidatonya.
Suasana haru makin menyergap.
“Hidup Pak Bejo!”
Suara Pak Rakhmat langsung diikuti yang lain.
“Hidup Pak Bejo!”
Tak mau kalah, dengan menjinjing tas berisi paket sembako di tangan kiri, tangan kanan Mbak Sur mengepal ke atas.
“Supaya tetap ‘bejo’, kita harus pilih Pak Bejo!” teriaknya.
Sejenak hadirin terpesona dengan pilihan kata Mbak Sur. Dan tak lama kemudian mereka membalas dengan teriakan, “Pilih Pak Bejo!”
Suasana semakin hangat. Musik mengalun tiada henti. Berbagai jenis hidangan disediakan. Soto, rawon, pecel juga rujak. Dua hidangan yang terakhir untuk mereka yang mulai ada masalah dengan kolesterol.
“Ayo tambah, ” kata Pak Rahmat ramah.
Pak Min segera menuju ke stand pecel. Ini piring kedua setelah tadi ia menikmati rawon.
Pak Rahmat lari ke belakang sebentar karena tadi dijawil oleh Bu Bejo.
“Inggih Bu?” kata Pak Rakhmat sesampai mereka di dekat dapur.
“Semua sudah beres to? Pesan bapak apa tadi?”
“Oh, sampun… Beres, semua sudah dibayar, termasuk tenda, catering juga timses,” kata Pak Rahmat senang.
Bu Bejo tersenyum lega.
“Kekurangannya?”
“Pokoknya beres Bu, pakai jimpitan warga dulu, dana ‘lain-lain’ juga dipakai..,” bisiknya.
Bu Bejo tersenyum senang. Musik terus mengalun , makanan terus dihidangkan , semua gayeng, semua seneng.
Sesekali kembali terdengar teriakan,”Hidup Pak Bejo!”
*********
Tulisan ini diikutkan dalam sayembara cerpen Pulpen Kompasiana xvi
Tentang penulis: Yuli Anita, guru matematika yang sedang belajar menulis cerpen.
Kami Pramuka Indonesia Manusia Pancasila Satyaku ku darmakan Darmaku kubaktikan.. (Hymne Pramuka)
Pagi terasa begitu segar. Lapangan volley sejak tadi sudah dipenuhi siswa yang berkegiatan. Dengan seragam Pramuka, hasduk dan topi mereka begitu bersemangat mengikuti komando dari ketua regu. Setiap siswa tampak membawa dua bendera kecil berwarna merah dan kuning.
Semaphore, dokumentasi pribadi
Bendera digerak-gerakkan sesuai dengan bunyi pesan yang hendak disampaikan. Suasana demikian menyenangkan. Ramai, namun semua tetap serius memperhatikan arahan ketua regu dengan gerakan benderanya.
Latihan semaphore, dokumentasi pribadi
Ya, pagi itu para siswa sedang melakukan kegiatan semaphore, sebuah acara dari kegiatan Aktualisasi Pramuka.
Apakah Aktualisasi Pramuka itu?
Pengarahan sebelum kegiatan dilakukan, dokumentasi pribadi
Dari situs Kemdikbud diperoleh keterangan bahwa sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib ada di sekolah, Pramuka bisa dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu kegiatan Pramuka Reguler, Aktualisasi Pramuka dan Pramuka Blok.
Pelatih dan dewan galang, dokumentasi pribadi
Pramuka reguler adalah kegiatan Pramuka yang bersifat sukarela dan diadakan di gugus depan.
Pramuka blok adalah kegiatan Pramuka yang dilaksanakan setahun sekali dalam bentuk perkemahan dan dilakukan penilaian umum.
Sedangkan aktualisasi Pramuka adalah kegiatan wajib dalam bentuk penerapan sikap dan keterampilan yang dipelajari didalam kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan Kepramukaan secara rutin, terjadwal, dan diberikan penilaian formal.
Bongkar Pasang tenda salah satu aktivitas aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi
Kegiatan aktualisasi Pramuka yang dilaksanakan sekolah dalam tiga hari ini dilaksanakan oleh kelas delapan sementara kelas tujuh melaksanakan MPLS dan kelas sembilan mendapatkan materi penguatan pendidikan karakter.
Jelang apel pembukaan, dokumentasi pribadi
Pembukaan Aktualisasi Pramuka dilakukan oleh Ibu Kepala Sekolah pada hari Senin (15/7) pagi. Sesudah pembukaan siswa melaksanakan berbagai kegiatan, dalam wujud pemberian materi dan mengerjakan tugas tertentu untuk kemudian dilakukan penilaian.
PBB, dokumentasi pribadi
Materi juga kegiatan yang dilakukan siswa meliputi PBB tongkat, bongkar pasang tenda dome, Morse dan semaphore. Adapun pemberi materi adalah dari dewan Galang juga pelatih Pramuka.
Siswa tampak begitu bersemangat. Setiap kegiatan dilakukan dengan antusias mulai dari hari pertama hingga hari ketiga.
Salam Pramuka, dokumentasi pribadi
Seperti yang diungkapkan Kak Evi, diharapkan lewat kegiatan ini siswa bisa menjadi lebih mandiri, mampu bekerja sama dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Pagi itu saya tiba tiba mendapatkan kiriman semangkuk bubur dari seorang teman. “Bubur Suro,” katanya. Aha.., senang sekali..karena teman saya ini pintar sekali memasak. Ia sering menerima pesanan berbagai macam masakan.
Sepulang teman saya, dengan tak sabar saya membuka wadah plastik dalam bentuk mangkuk tersebut. Pasti lezat, pikir saya. Dan tara…. Tampak sajian cantik di depan saya. Isinya bubur, sambal goreng , rawis, telor dadar dan kacang. Tak lupa ada seledri sebagai pemanis. Sendok segera saya ambil, dan segera saya icipi. Hmmm, tidak hanya cantik, bubur Suro ini juga demikian lezat.
Tentang Bubur Suro
Bubur Suro, Sumber gambar: Kompas.com
Suro adalah adaptasi dari kata Asyura (10 Muharam). Karenanya bubur Suro dibuat setiap bulan Muharam. Ada yang membuatnya tanggal 1 Muharam ataupun 10 Muharam. Bubur Suro terbuat dari beras yang dimasak dengan aneka bumbu dan rempah tradisional seperti santan, serai, dan daun salam.
Ada yang membuatnya dengan bahan baku nasi, ada pula yang dari beras. Rasa bubur Suro lebih gurih dibandingkan bubur biasanya.
Bubur Suro biasanya didampingi oleh berbagai lauk yang berbeda-beda sesuai daerahnya.
Tradisi membuat bubur Suro mulai ada sejak masa Sultan Agung. Bubur Suro ini mempunyai makna rasa syukur atas segala berkah dan keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT.
Sedikit tentang Sultan Agung, beliau adalah raja besar Mataram yang mempunyai banyak keahlian, baik dalam ilmu politik, sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Sultan Agung berusaha menyesuaikan kebudayaan Hindu, Islam dan Jawa. Karena itu dalam budaya Jawa kita mengenal kalender Jawa yang banyak memiliki kesamaan dengan kalender Hijriyah.
Jika dalam kalender Hijriyah tahun baru ditandai dengan tanggal satu Muharam, maka dalam kalender Jawa dinamakan satu Suro.
Yang khas dalam penyajian bubur suro ini selalu ada unsur biji-bijian. Seperti yang saya terima hai ini unsur biji bijian ya adalah kacang.
Bubur Suro, dokumentasi pribadi Ami
Mengapa demikian? Hal tersebut merujuk dari kitab I’anah Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati juz 2/267 yang menceritakan tentang bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan umatnya saat terjadi bencana banjir. Penyelamatan itu terjadi pada tanggal 10 Muharam atau Asyura.
Dalam kitab tersebut diterangkan bahwa sesudah banjir besar dan terombang ambing di lautan Nabi Nuh pun berlabuh dan turun dari kapal. dalam kondisi lapar, sementara perbekalan mereka sudah habis.
Nabi Nuh lalu memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang ada. Nah, serentak umat Nabi Nuh mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Ada yang membawa dua genggam biji gandum, biji adas, biji kacang ful, dan ada pula yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.
Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, memasaknya, dan setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama. Meskipun tidak banyak, semua merasa kenyang karena berkah doa Nabi Nuh.
Tampilan lain bubur Suro, sumber gambar: Kompas.com
Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa tradisi penyajian bubur Suro selalu diikuti dengan berbagai ubo rampe yang meliputi sirih lengkap, kembar mayang dan sekeranjang buah-buahan.
Sirih lengkap menggambarkan penghormatan pada para leluhur, kembar mayang yang terdiri atas untaian bunga mawar merah, putih, juga untaian melati dan daun pandan.
Bunga mawar dan putih menggambarkan bahwa kita harus terus bersemangat melakukan segala langkah kita yang dilandasi dengan niat yang suci. Pada akhirnya apa yang kita lakukan bertujuan untuk mengharumkan kehidupan umat manusia seperti yang dilambangkan dengan harumnya melati dan daun pandan serta memberikan ‘kemanisan ‘ atau kebahagiaan yang dilambangkan dengan hadirnya aneka buah-buahan.
Sebuah filosofi yang indah. Meskipun sekarang penyajian bubur Suro tidak disertai dengan berbagai ubo rampe, saling mengantar bubur Suro masih dilakukan dengan semangat berbagi dan ungkapan rasa syukur atas segala karunia Ilahi.
Sekawan artinya empat, dan limo artinya lima. Jika kita berlima sekarang ini , berarti satu dari kita bukan manusia (dialog dalam film Sekawan Limo)
Catatan tentang film Sekawan Limo ini saya buat setelah Rabu siang saya diajak anak saya nonton di Dieng Cyber Mall. Film dimulai pukul 13.15 dan diakhiri pukul 15.15 wib.
Ulasan tentang Sekawan Limo sudah pernah ditulis oleh beberapa Kompasianer. Jujur, saya tertarik melihat film ini karena membaca review dari teman-teman di Kompasiana.
Sehari sebelum review itu tayang, saya berjalan-jalan ke Matos dan membaca poster film ini di Cinepolis.
Poster Sekawan Limo, dokumentasi pribadi
“Sepertinya bagus ya Buk?” kata anak saya.
“Horor ya..,” kata saya
“Pasti banyak misuhnya,” tambah saya sambil tertawa ketika melihat wajah Bayu Skak ada di sana.
Ya, saya pernah melihat film dari Bayu Skak sebelumnya yang berjudul Yo Wis Ben. Dan memang disitu banyak dialog yang memunculkan satu kata khas daerah Malang dan Surabaya.
Bagi yang terbiasa menggunakannya kata tersebut tidak kasar, bahkan justru menggambarkan keakraban. Namun bagi yang tidak biasa, kata tersebut terasa kasar dan kami menyebutnya “misuh”.
Membelu tiket masuk, dokumentasi pribadi
Mulanya saya kurang berminat juga karena ini film horor. Tapi ketika diterangkan dalam review bahwa film ini mengandung unsur komedi tapi juga mengharukan, saya jadi tertarik.
Film ini bercerita tentang lima orang yang melakukan pendakian ke gunung Madyopuro. Lima orang tersebut baru bertemu di lokasi (kecuali Bagas dan Leni) yang akhirnya bergabung menjadi satu rombongan.
Banyak peristiwa yang mereka alami selama melakukan pendakian. Dalam film ini digambarkan pergulatan dalam diri masing-masing tokohnya yaitu Bagas, Leni, Dicki, Andrew dan Juna dengan masalah yang membebani diri masing-masing.
Dokumentasi pribadi
Ya, setiap tokoh di sini mempunyai masalah masing-masing sehingga punya tujuan yang berbeda dalam perjalanan mendaki Gunung Madyopuro.
Leni ingin menghapus rasa berdosa karena ia merasa menjadi penyebab meninggalnya ibunya, Dicki ingin mencari jimat di Gunung Madyopuro karena ia terlibat judi online sehingga mempunyai banyak hutang.
Juna yang sering di-bully karena anak koruptor, juga Andrew yang kekasihnya hamil dan hubungannya kurang direstui oleh orang tuanya karena keluarga mereka berbeda ‘kasta’. Satu satunya tujuan yang paling sederhana adalah Bagas yang ingin mengantar Leni karena ia suka pada gadis ini.
Ada satu mitos yang mengatakan bahwa jumlah pendaki dalam satu rombongan harus genap, dan dalam perjalanan mereka tidak boleh menoleh ke belakang.
Di sini cerita berjalan semakin asyik. Karena jumlah mereka dalam satu rombongan adalah lima akhirnya mereka mulai sadar bahwa satu di antara mereka bukan manusia alias dhemit.
Rasa curiga mulai timbul di antara mereka karena dalam perjalanan mereka terus berputar-putar dan selalu dibayangi hantu masing-masing.
Menoleh ke belakang. Kata yang berlawanan dengan mitos ini ternyata justru menjadi kunci pemecahan masalah.
Di depan pintu masuk, dokumentasi pribadi
Dengan petunjuk Bagas yang mengajak mereka ‘menoleh ke belakang’, akhirnya satu per satu Leni, Juna, Andrew, Dicki bisa berdamai dengan diri mereka, memaafkan masa lalu mereka dan berusaha memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuat.
Dengan menoleh ke belakang. Kita bisa berdamai dengan masa lalu, memaafkan kesalahan diri dan berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi. Karena masalah seharusnya dihadapi, bukan dihindari.
Berdamai dengan diri sendiri, menerima dengan ikhlas atas semua masalah sangat diperlukan agar langkah ke depan kita lebih ringan. Mungkin karena itu, tokoh Bagas tidak pernah didatangi sosok hantu, karena ia bisa ikhlas atas masalah yang dihadapi. Masalah yang tidak ringan sebenarnya, karena Bagas yatim piatu sejak kecil.
Mulai awal hingga akhir kita diajak tertawa, tegang, sekaligus terharu secara berganti-ganti. Kadang di titik di mana kita sangat terharu karena dialog-dialog yang tercipta (seperti dalam adegan ketika dhemit yang sesungguhnya mengaku), tiba-tiba kita dibuat tertawa oleh celetukan- celetukan para tokohnya.
Di samping kesetiakawanan dan kegigihan, sekilas film ini juga memberikan pelajaran tentang betapa jahatnya bullying, judi online juga jangan sampai kita melakukan korupsi. Mengapa? Bukan hanya pelaku korupsi yang mendapatkan hukuman, tapi keluarganya juga akan mendapat sanksi dari orang sekitarnya.
Salut pada Sekawan Limo yang hampir seluruh adegannya diisi dengan bahasa daerah. Munculnya dialek Malang, Surabaya bahkan Jogja membuat kita merasakan perbedaan di antara kita terasa begitu indah dan unik.
Menariknya film ini juga menggandeng Kartolo dan Ning Tini, pasangan seniman ludruk yang sangat terkenal. Meski muncul cuma sebentar, dialog antara Kartolo sebagai dukun dan Dicky membuat film ini terasa semakin segar.
Satu catatan terakhir, mungkin sebaiknya kosa kata khas Malang dan Surabaya yang saya sebut di atas sebagai ‘ misuh’ itu dikurangi agar dialog tidak terkesan kasar sehingga film bisa lebih enak untuk dinikmati..😃