Gemilang, One Hit Wonder dari Krakatau yang Menyimpan Banyak Kenangan

Tempatku tuju, segala angan dan harapan

tempat ku padu, cita-cita dan impian

tempat ku pacu, setiap langkah yang berarti

tetap menyatu, dalam hasrat dan tujuanku selalu  (reff. lagu Gemilang by Krakatau)

“Gemilang” adalah single yang dinyanyikan oleh grup musik Indonesia, Krakatau. Lagu ini diciptakan oleh Dwiki Dharmawan, pemain keyboard dari band tersebut. Dengan lirik oleh Mira Lesmana.

Lagu yang menceritakan kegemilangan dan memberi semangat dalam memecahkan masalah dengan jiwa remaja tersebut dirilis pada tahun 1987. Suara centil dari Trie Utami membuat lagu ini terasa sedap untuk dinikmati. 

Pada tahun 2010, Andien membawakan kembali lagu “Gemilang” dengan aransemen  oleh Nikita Dompas

Dari Wikipedia, lagu ini  pernah mendapat ulasan positif dari Rolling Stone Indonesia yang menempatkan lagu ini sebagai peringkat ke-62 lagu berbahasa Indonesia terbaik sepanjang masa.

Rolling Stone Indonesia adalah majalah musik Indonesia yang diadopsi dari franchise terbitan Amerika Serikat. 

Krakatau, sumber gambar: Kumparan

Dalam perjalanan musiknya Krakatau memiliki dua single yaitu Gemilang dan La Samba Primadona yang keduanya dirilis tahun 1987. Dua-duanya enak dinikmati, tapi lagu “Gemilang” adalah  one hit wonder  membawa cerita tersendiri bagi saya.

Lagu “Gemilang” sangat terkenal di kala saya masih duduk di SMA.  Hampir tiap hari kami bisa mendengar lagu ini lewat radio. Kala itu kami  sering  berkirim lagu lewat beberapa stasiun radio, seperti TT 77 atau KDS 8, dan “Gemilang” adalah lagu yang sering direquest.

Mendengarkan lagu ini membuat saya kembali teringat pada masa di mana kami bersemangat untuk mencari ilmu, dengan bumbu keakraban dan kekonyolan bersama teman-teman. Ya, judul syair lagu ini adalah gambaran jiwa kami yang penuh semangat untuk menuju masa depan yang lebih gemilang.

Lagu ini mengingatkan saya pada seorang sahabat, teman sekelas saat SMA. Sebuah pertemanan yang akhirnya membuat saya menjadi guru matematika. Bagaimana bisa? 

Nah, begini ceritanya..

SMA Tugu, sumber gambar: Malang Surya

Teman saya ini sebutlah namanya Anna, orangnya ‘rame’, hampir sama dengan saya. Karena punya ‘frekuensi’ yang hampir sama, di kelas satu SMA kami langsung kenal dan akrab. 

Anna punya teman yang jauh lebih banyak dari saya. Belum satu bulan di SMA, temannya sudah ada di mana-mana, termasuk di kelas lain.

Meski ‘rame’ kami punya komitmen sama yaitu tidak main- main saat pelajaran. Kami sama-sama suka IPA dan Bahasa Inggris dan olah raga. Bedanya jika saya suka fisika dan Kimia, Anna lebih suka biologi. Karenanya di kelas dua kami terpisah karena saya memilih jurusan A1 (ilmu fisika) dan Anna memilih A2 ( ilmu biologi).

Bagaimana dengan matematika? Kami bisa matematika, tapi kurang begitu suka. Mungkin karena materi kelas satu SMA hampir sama dengan SMP, jadi kurang menantang sepertinya.

Lucunya saat itu kami juga punya kakak idola yang sama. Maksudnya naksir orang yang sama, yaitu kakak kelas yang pintar berorganisasi sekaligus menonjol dalam mata pelajaran. Kalau kata kami saat itu wajahnya mirip Iwan Fals. He..he…

Tapi begitulah naksir kami tak pernah serius. Sekedar suka pokoknya.

Kakak idola kami ini ada di kelas 3 IPA 5 yang kelasnya di tingkat atas, sementara kami yang masih kelas 1 menempati kelas bawah.

Zaman itu kelas tiga masuk jam tujuh pagi, dan kelas satu masuk jam dua belas. Jadi kelasnya bergantian. 

Demi bertemu idola kami ( tepatnya melihat) kami rela datang jam setengah dua belas dan pura-pura baca mading di bawah tangga untuk menunggu Sang Idola lewat. 

Begitu dia  lewat, kamipun saling bisik-bisik,”Itu tuh anaknya..,” Sang Idola terus berjalan. Entah tahu atau pura-pura tidak tahu dengan keributan kami. Duuh.. 

Jika dia sudah lewat, kami segera kembali ke kelas. Urusan selesai. Ingin kenal lebih jauh dengan Sang Idola? Tidak juga. Bahkan sampai luluspun kami tidak pernah bicara dengan idola kami itu. Ha..ha…

Karena punya koneksi dengan sekolah sebelah lumayan banyak, Anna selalu tahu sekolah sebelah mengadakan acara apa. 

Ah ya, saya bersekolah di SMA Tugu. Ada tiga sekolah di situ. Dan aula yang posisinya di tengah dipakai ketiga sekolah secara  bergantian. 

Suatu saat terjadilah sebuah peristiwa yang membuat saya menjadi ‘pecinta’ matematika.

Ketika itu dalam sebuah jam pelajaran matematika, sesudah diterangkan kami diberi tugas oleh ibu guru kami. Lima belas soal. 

Ya, guru zaman dulu kalau memberi tugas memang buanyak. Tujuannya jelas, supaya kami terbiasa mengerjakan soal dalam berbagai model.

Dalam waktu satu jam pelajaran (45 menit) seluruh soal selesai kami kerjakan. Sementara teman- teman masih sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka. 

Waduh, waktu masih kurang 45 menit lagi. Sama-sama ‘gabut’ istilah anak sekarang, Anna berbisik pada saya. “Di aula ada mode show.. , lihat yuk..,” ajaknya. Mode show adalah istilah untuk fashion kala itu.

Sejenak saya terdiam. Ada perang dalam hati saya. Perang antara bisikan syaitan dan malaikat. Bisikan syaitan mengajak saya ke aula mengikuti ajakan Anna, malaikat memaksa saya bersabar sejenak menunggu saat pembahasan soal tiba.

Saya melihat ke arah Bu Guru matematika  yang sedang asyik mengerjakan sesuatu. Hati saya terus berperang. Celakanya yang menang adalah si syaitan.

” Apik ya…,” bisik saya pada Anna.

“Yo mesti ta..,” bisiknya lagi sambil tersenyum.

Anna menuliskan sesuatu di kertas lalu diberikan pada saya. Suasana kelas masih sepi, semua sibuk mengerjakan tugas.

“Aku izin ke kamar mandi, susul dalam waktu dua menit,” katanya  di kertas. 

Tanpa menunggu jawaban saya  Anna pun izin ke kamar mandi. Dua menit berselang saya ikut-ikutan izin. Ibu guru matematika mengangguk sambil meneruskan pekerjaannya.

Jarak dari kamar mandi putri ke aula lumayan jauh. Tapi demi tekad yang membara untuk melihat mode show kami terus berjalan ke sana. 

Suasana aula tampak demikian meriah. Beberapa model berjalan di panggung dengan iringan musik yang menghentak penuh semangat. 

Wajah -wajah ayu tampak di mana-mana. Mereka melenggak lenggok memperagakan busana yang demikian cantik. Busana kertas. Amazing. Kertas bisa disulap menjadi baju seindah itu. Kami begitu terkesima dibuatnya. Benar kata Anna. Acaranya memang apik.

Terlalu asyik melihat peragaan busana, tak terasa sudah hampir satu jam pelajaran kami berdiri di situ. 

“Ayo balik kelas.., dicari Bu guru nanti,” ajak saya panik demi melihat jam aula sudah menunjukkan pukul setengah dua, berarti sepuluh menit lagi bel istirahat berbunyi. 

Anna ikut kaget. Bergegas kami kembali ke kelas. Dan alamak… Bu guru matematika sudah siap di depan pintu kelas menunggu kedatangan kami.

“Dari mana?” tanya beliau tidak ramah.

Kami menunduk. Sungguh, sebengal apapun kami tidak bisa berbohong di depan guru kami. 

Dengan jujur kamipun berkata bahwa kami keterusan melihat mode show di aula. 

Bu Tutik, guru kami kembali bertanya, “Pekerjaan kalian sudah selesai?”

“Sudah, Bu,” jawab kami cepat. 

Bu Tutik mengangguk. Apakah jawaban tersebut membuat posisi kami jadi aman? Tidak.., karena sebagai hukumannya kami berdua harus mengerjakan ke lima belas soal di papan tulis nanti di pertemuan berikutnya.

“Kalau ada pertanyaan dari temanmu, kalian yang menjawab,” kata Bu Tutik sambil meninggalkan kami.

Saya sungguh tak menyangka itulah tonggak pertama saya mulai tekun bermatematika. Sebelumnya saya bisa matematika, tapi untuk diri saya sendiri. Tapi karena diultimatum seperti itu maka sebelum pelajaran matematika saya harus punya persiapan lebih. 

Akhirnya buku pekerjaan matematika saya menjadi begitu lengkap. Saya selalu siap menerangkan sewaktu-waktu ada pertanyaan. Teman- teman yang  mengalami kesulitanpun banyak yang minta diterangkan, bahkan sampai datang ke rumah.

Sebuah hukuman yang manis, hingga akhirnya selepas SMA saya kuliah di IKIP jurusan matematika. 

“Kamu jadi guru matematika saja, kalau menerangkan enak,” kata teman-teman ketika kami memilih jurusan. Biyuh…

Tahun demi tahun berlalu hingga saya menjadi guru dan Anna sukses dengan bisnisnya di luar pulau. Sesekali kami bertemu saat reuni, dan beberapa kali berwhatsapp. 

Beberapa tahun yang lalu ia mengirim sebuah pesan yang sangat mengejutkan.

“Cikgu, terima kasih ya, anakku sudah diajar matematika,” katanya.

Saya sedikit bingung. Ini tidak pernah ketemu ibuknya kok tiba-tiba mengatakan anaknya saya ajar?

“Anak yang mana?” tanya saya.

Sambil menyebut nama seorang siswa, Anna berkata, “Dia anakku, kemarin baru lulus dari SMP, matematikanya kamu yang ngajar, sengaja gak tak kasih tahu.. aku pingin tahu kamu ngajarnya bagaimana..ha..ha.., “

Oalah, Anna… Sungguh kamu tetap seperti yang dulu.., pikir saya gemas.

Krakatau, sumber gambar: SpundCloud

Sampai sekarang setiap kali melewati SMA Tugu, saya selalu teringat cerita masa-masa itu. Masa SMA ketika kita punya begitu banyak mimpi. Masa yang begitu lucu, konyol tapi tetap memicu kita untuk meraih masa depan yang lebih gemilang.

Tempat kutuju segala angan dan harapan…

Tempat kupacu cita-cita dan impianku…

Cerita tentang CFD, Bukan Sekedar Jalan-jalan Bersama Teman

“Kutunggu depan perpustakaan umum ya…,” Sebuah pesan masuk WhatsApp saya pagi itu. Dari seorang teman SD. Aha, pagi ini kami memang berjanji untuk jalan-jalan di Car Free Day Jl. Ijen Malang.

Sepeda motor saya langsung melaju menembus dinginnya Kota Malang. Di sepanjang jalan Kawi juga jalan Gelanggang sudah banyak orang berolahraga ringan.

Banyak pejalan kaki di CFD, dokumentasi pribadi

Suasana Jl. Ijen begitu ramai. Ada yang berjalan sendiri, tapi lebih banyak yang jalan bareng teman atau keluarga. Selain berjalan, banyak pula yang  bersepeda, senam, berkumpul bersama komunitas ataupun sekedar duduk-duduk di tepi jalan. 

Sesuai namanya yaitu Car Free day, tidak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas. Kalaupun ada kendaraan, itu adalah sepeda pancal atau sepeda listrik. Tapi tidak begitu banyak.

Di area parkir, dokumentasi pribadi

Karenanya hawa terasa begitu segar. Lain sekali dengan suasana Jl Ijen di hari biasa yang selalu dipadati kendaraan yang lalu lalang.

Saya terus berjalan menuju tempat senam, tepatnya di depan perpustakaan umum. Pengunjung sudah begitu banyak. Ada panggung kecil yang didirikan tepat di pertigaan Jl Ijen dan Semeru untuk tempat para pemandu.

Senam dengan iringan lagu campur sari, dokumentasi pribadi

Tak berapa lama iringan musikpun  berkumandang. Lagunya? Campur sari! 

Ada lagu Didi Kempot, Niken Salindri, Via Vallen dan banyak lagi. 

Kami bergerak mengikuti para pemandu. Gerakan senam semi bergoyang.. he..he.. gayeng sekali.

Ketika irama campur sari berganti dengan lagu lain yang lebih menghentak, satu persatu di antara kami mulai keteteran. 

“Jalan-jalan saja yuk.., ” ajak saya pada teman teman.

“Iya, jalan-jalan saja,” kata yang lain. Semua sudah ngos-ngosan mengikuti senam aerobik yang baru saja dimulai.

Penjual balon, dokumentasi pribadi

Kamipun berjalan-jalan sambil ngobrol sepanjang Jalan Ijen dan sekitar Dempo. 

CFD benar- benar bagai magnet bagi warga Malang. Di sepanjang jalan yang kami lalui tampak berbagai macam aktivitas. Ada yang berjualan makanan, mainan, promosi event tertentu, bertemu teman lama dan banyak lagi.

Dinosaurus, tempat yang diserbu anak anak, dokumentasi pribadi

CFD juga merupakan sarana hiburan yang murah bagi anak-anak kecil. Ada tempat menyewa kendaraan scooter, naik dokar, belajar menggambar, memancing ikan dan berbagai permainan yang lain. 

Setelah berjalan-jalan, kami memasuki area museum Brawijaya yang setiap hari Minggu digunakan para pedagang untuk berjualan. Di sepanjang jalan masuk museum banyak pedagang makanan, asesoris, baju atau barang yang lain. 

Duduk-duduk di CFD, dokumentasi pribadi

Khasnya emak-emak jalan-jalan kurang lengkap rasanya tanpa belanja. Dari melihat-lihat akhirnya ada beberapa barang yang kami beli. 

Membeli bumbu rentengan, dokumentasi pribadi

Ya, pagi hari di CFD bukan sekedar jalan-jalan ataupun bertemu teman. Buktinya pagi itu kami mendapatkan bros, aneka bumbu rentengan berupa kemiri, merica, bawang, makaroni, ebi, bahkan kami juga membeli penambal panci. He..he… Lengkap pokoknya.

Salam dari kota Malang..

“Hidup Pak Bejo..!”

Mbak Sur menuju rumah dengan wajah ceria. Kupon berwarna hijau muda dikipas- kipaskannya. Sesekali senandung kecil mengiringi langkah kakinya.  

Berkali- kali dipandanginya  kertas seukuran kartu  pos itu. 

Matanya berbinar-binar membaca tulisan di bagian belakangnya. Betapa tidak? Hidup lagi sulit-sulitnya tiba-tiba ada pembagian kupon untuk paket sembako gratis. 

Tidak main-main. Isi per paket adalah beras lima kilo, gula satu kilo dan minyak dua liter. Gratis. Sekali lagi gratis. Siapa yang tidak kepingin? 

Kalau ditotal harga satu paket tersebut kira kira 125.000. Wow, betapa baik hati orang yang membagi- bagi paket ini.

Sembako, sumber gambar: merdeka.com

“Eits.., jangan ndlereng..,” kata Mbak Ipah yang hampir bertabrakan di gang. Keduanya kebetulan berpapasan. 

“Aduh, sepurane.., ” kata Mbak Sur malu.

“Dari Pak Rahmat juga?” tanya Mbak Sur demi melihat Mbak Ipah membawa kupon yang sama

Mbak Ipah tersenyum lebar.

“Ya iyalah…,” katanya ringan.

“Alhamdulillah, dapat gratisan.. pas garapan bapaknya sepi,” lanjut Mbak Ipah. 

Mas Parno, suami Mbak Ipah adalah tukang talang. Di musim kemarau seperti ini garapan talang sepi. Tentu saja,  tidak ada hujan berarti tidak ada masalah talang bocor dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

“Sama…, pesenan jajanku ya sedang sepi .., mungkin karena tahun ajaran baru, orang butuh seragam, tidak butuh jajan,” timpal Mbak Sur. Keduanya tertawa. 

“Eh, ngomong-ngomong sumbangan ini dari mana ya?” tanya Mbak Ipah.

Mbak Sur memandang teman bicaranya dengan heran. “Lha tadi kan diterangkan Mbak Wati?” Jawabnya.

“Iya, pas diterangkan tadi Cenik menangis, terpaksa kutinggal keluar sebentar, beli jajan buat Si Cenik,” jawab Mbak Ipah. Cenik adalah anak Mbak Ipah yang paling kecil. Balita berumur satu tahun itu selalu ikut ke mana saja ibunya pergi.

“Oalah, ceritanya Pak Bejo kan mau nyalon lagi,” jawab Mbak Sur lagi.

“Pak Bejo lurah kita? Mau nyalon lagi?” 

“Iya.., istilahnya sekarang beliau petahana begitu,” jawab Mbak Sur meyakinkan.

“Ooh, lha ini untuk apa?” tanya Mbak Ipah sambil menunjukkan kuponnya. Polos.

“Halah…., ya biasa lah..,” kata Mbak Sur sambil tersenyum kecil.

“Kaum ‘Golek lemah‘ seperti kita kan selalu diingat pas ada pergantian lurah,” 

“Golek lemah?” tanya Mbak Ipah tidak mengerti.

Setengah tertawa Mbak Sur menjawab, “Golongan Ekonomi lemah,”

Mbak Ipah ikut tertawa. 

“Alhamdulillah.., rapopo.., rezeki jangan ditolak..,” kata Mbak Ipah yang disambung derai tawa keduanya.

***

Pagi yang cerah. Sebuah tenda terpal didirikan di depan rumah Pak Bejo. Beberapa kursi sofa diletakkan di depan sementara di belakang deretan kursi plastik sudah berjajar rapi. 

Hidangan pala pendem diletakkan dalam piring-piring dan tak ketinggalan minuman dalam kemasan tertata rapi di dekatnya.

Pak Rahmat ketua RT 20 sekaligus orang kepercayaan Pak Bejo sibuk mondar-mandir memberikan briefing ke sana- sini.

Alunan musik campur sari membuat suasana semakin gayeng. Satu demi satu tamu-tamu mulai hadir. Tamu hari itu adalah seluruh warga desa ‘Makmur Selalu’.

Semakin siang tamu yang datang semakin banyak. Pak Bejo duduk di depan ditemani istri tercinta. 

Bu Bejo yang demikian gandes luwes melemparkan senyum pada para hadirin. Dasar orangnya ayu, batik hijau yang dikenakan sarimbit dengan sang suami membuat penampilannya makin ayu.

Beberapa warga terutama kaum wanita menatap Bu Bejo dengan kagum bahkan sedikit iri. Duh..

“Monggo, ayo duduk,” kata Bu Bejo ketika  Mbak Sur dan Mbak Ipah datang. Mereka segera duduk di tempat yang ditentukan. Di sana sudah ada sekitar lima belas orang warga yang rupanya mendapat tempat khusus.

“Lho..,, Pak No,” kata Mbak Sur sambil duduk di sebelah Pak No. Jika ada pemberian sumbangan, Mbak Sur, Pak No dan Mbak Ipah selalu masuk dalam daftar penerima nya. Mereka warga RT 20.

“Inggih, Mbak Sur.., ambil rezeki,” kata Pak No sambil tertawa 

Pandangan mata tamu langsung terfokus pada pembawa acara yang mulai membacakan susunan acara hari itu.

Singkat kata hari itu adalah  syukuran ulang tahun Pak Bejo, sekaligus beliau meminta doa restu pada yang hadir karena akan mencalonkan diri lagi saat pemilihan lurah sebentar lagi.

Hadirin bertepuk tangan. Apalagi saat Pak Bejo membawakan pidatonya dengan santun dan teduh. Intinya marilah memilih pemimpin yang berpengalaman sekaligus peka pada kebutuhan warga. 

“Hidup Pak Bejo..!” teriak yang hadir. Ya, untuk apa memilih orang yang tidak peka pada kebutuhan warganya? Harusnya tiap pemimpin mempunyai kepekaan dan empati bukan?

Hadirin semakin semangat sekaligus terharu tatkala Pak Bejo mengatakan bahwa pemberian sumbangan sembako pada warga yang kurang mampu adalah wujud empati dan kasih sayang seorang pemimpin pada warga yang dipimpinnya.

“Dan kasih sayang lah yang membuat hidup kita lestari dan penuh harmoni,” kata Pak Bejo di akhir pidatonya.

Suasana haru makin menyergap.

“Hidup Pak Bejo!” 

Suara Pak Rakhmat langsung diikuti yang lain. 

“Hidup Pak Bejo!”

Tak mau kalah, dengan menjinjing tas berisi paket sembako di tangan kiri, tangan kanan Mbak Sur mengepal ke atas. 

“Supaya tetap ‘bejo’, kita harus pilih Pak Bejo!” teriaknya. 

Sejenak hadirin terpesona dengan pilihan kata Mbak Sur. Dan tak lama kemudian mereka membalas dengan teriakan, “Pilih Pak Bejo!” 

Suasana semakin hangat. Musik mengalun tiada henti. Berbagai jenis hidangan disediakan. Soto, rawon, pecel juga rujak. Dua hidangan yang terakhir untuk mereka yang mulai ada masalah dengan kolesterol.

“Ayo tambah, ” kata Pak Rahmat ramah.

Pak Min segera menuju ke stand pecel. Ini piring kedua setelah tadi ia menikmati rawon.

Pak Rahmat lari ke belakang sebentar karena tadi dijawil oleh Bu Bejo.

“Inggih Bu?” kata Pak Rakhmat sesampai mereka di dekat dapur.

“Semua sudah beres to? Pesan bapak apa tadi?” 

“Oh, sampun… Beres, semua sudah dibayar, termasuk tenda, catering juga timses,” kata Pak Rahmat senang.

Bu Bejo tersenyum lega.

“Kekurangannya?”

“Pokoknya beres Bu, pakai jimpitan warga dulu, dana ‘lain-lain’ juga dipakai..,” bisiknya.

Bu Bejo tersenyum senang. Musik terus mengalun , makanan terus dihidangkan , semua gayeng, semua seneng. 

Sesekali kembali terdengar teriakan,”Hidup Pak Bejo!”

*********

Tulisan ini diikutkan dalam sayembara cerpen Pulpen Kompasiana xvi

Tentang penulis: Yuli Anita, guru matematika yang sedang belajar menulis cerpen.

Dokumentasi pribadi

 

Latih Mandiri dan Kerjasama Melalui Kegiatan Aktualisasi Pramuka

Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku ku darmakan
Darmaku kubaktikan..
(Hymne Pramuka)

Pagi terasa begitu segar. Lapangan volley sejak tadi sudah dipenuhi siswa yang berkegiatan. Dengan seragam Pramuka, hasduk dan topi mereka begitu bersemangat mengikuti komando dari ketua regu. Setiap siswa tampak membawa dua bendera kecil berwarna merah dan kuning.

Semaphore, dokumentasi pribadi

Bendera digerak-gerakkan sesuai dengan bunyi pesan yang hendak disampaikan. Suasana demikian menyenangkan. Ramai, namun semua tetap serius memperhatikan arahan ketua regu dengan gerakan benderanya.

Latihan semaphore, dokumentasi pribadi

Ya, pagi itu para siswa sedang melakukan kegiatan semaphore, sebuah acara dari kegiatan Aktualisasi Pramuka.

Apakah Aktualisasi Pramuka itu?

Pengarahan sebelum kegiatan dilakukan, dokumentasi pribadi

Dari situs Kemdikbud diperoleh keterangan bahwa sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang wajib ada di sekolah, Pramuka bisa dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu kegiatan Pramuka Reguler, Aktualisasi Pramuka dan Pramuka Blok.

Pelatih dan dewan galang, dokumentasi pribadi

Pramuka reguler adalah kegiatan Pramuka yang bersifat sukarela dan diadakan di gugus depan.

Pramuka blok adalah kegiatan Pramuka yang dilaksanakan setahun sekali dalam bentuk perkemahan dan dilakukan penilaian umum.

Sedangkan aktualisasi Pramuka adalah kegiatan wajib dalam bentuk penerapan sikap dan keterampilan yang dipelajari didalam kelas yang dilaksanakan dalam kegiatan Kepramukaan secara rutin, terjadwal, dan diberikan penilaian formal.

Bongkar Pasang tenda salah satu aktivitas aktualisasi Pramuka, dokumentasi pribadi

Kegiatan aktualisasi Pramuka yang dilaksanakan sekolah dalam tiga hari ini dilaksanakan oleh kelas delapan sementara kelas tujuh melaksanakan MPLS dan kelas sembilan mendapatkan materi penguatan pendidikan karakter.

Jelang apel pembukaan, dokumentasi pribadi

Pembukaan Aktualisasi Pramuka dilakukan oleh Ibu Kepala Sekolah pada hari Senin (15/7) pagi. Sesudah pembukaan siswa melaksanakan berbagai kegiatan, dalam wujud pemberian materi dan mengerjakan tugas tertentu untuk kemudian dilakukan penilaian.

PBB, dokumentasi pribadi

Materi juga kegiatan yang dilakukan siswa meliputi PBB tongkat, bongkar pasang tenda dome, Morse dan semaphore. Adapun pemberi materi adalah dari dewan Galang juga pelatih Pramuka.

Siswa tampak begitu bersemangat. Setiap kegiatan dilakukan dengan antusias mulai dari hari pertama hingga hari ketiga.

Salam Pramuka, dokumentasi pribadi

Seperti yang diungkapkan Kak Evi, diharapkan lewat kegiatan ini siswa bisa menjadi lebih mandiri, mampu bekerja sama dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Salam Pramuka..

Berbagai Filosofi di Balik Kelezatan Bubur Suro

Pagi itu saya tiba tiba mendapatkan kiriman semangkuk bubur dari seorang teman. “Bubur Suro,” katanya. Aha.., senang sekali..karena teman saya ini pintar sekali memasak. Ia sering menerima pesanan berbagai macam masakan.

Sepulang teman saya, dengan tak sabar saya membuka wadah plastik dalam bentuk mangkuk tersebut. Pasti lezat, pikir saya. Dan tara…. Tampak sajian cantik di depan saya. Isinya bubur, sambal goreng , rawis, telor dadar dan kacang. Tak lupa ada seledri sebagai pemanis.
Sendok segera saya ambil, dan segera saya icipi. Hmmm, tidak hanya cantik, bubur Suro ini juga demikian lezat.

Tentang Bubur Suro

Bubur Suro, Sumber gambar: Kompas.com

Suro adalah adaptasi dari kata Asyura (10 Muharam). Karenanya bubur Suro dibuat setiap bulan Muharam. Ada yang membuatnya tanggal 1 Muharam ataupun 10 Muharam.
Bubur Suro terbuat dari beras yang dimasak dengan aneka bumbu dan rempah tradisional seperti santan, serai, dan daun salam.

Ada yang membuatnya dengan bahan baku nasi, ada pula yang dari beras. Rasa bubur Suro lebih gurih dibandingkan bubur biasanya.

Bubur Suro biasanya didampingi oleh berbagai lauk yang berbeda-beda sesuai daerahnya.

Tradisi membuat bubur Suro mulai ada sejak masa Sultan Agung. Bubur Suro ini mempunyai makna rasa syukur atas segala berkah dan keselamatan yang diberikan oleh Allah SWT.

Sedikit tentang Sultan Agung, beliau adalah raja besar Mataram yang mempunyai banyak keahlian, baik dalam ilmu politik, sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Sultan Agung berusaha menyesuaikan kebudayaan Hindu, Islam dan Jawa. Karena itu dalam budaya Jawa kita mengenal kalender Jawa yang banyak memiliki kesamaan dengan kalender Hijriyah.

Jika dalam kalender Hijriyah tahun baru ditandai dengan tanggal satu Muharam, maka dalam kalender Jawa dinamakan satu Suro.

Yang khas dalam penyajian bubur suro ini selalu ada unsur biji-bijian. Seperti yang saya terima hai ini unsur biji bijian ya adalah kacang.

Bubur Suro, dokumentasi pribadi Ami

Mengapa demikian? Hal tersebut merujuk dari kitab I’anah Thalibin karya Abu Bakr Syata al-Dimyati juz 2/267 yang menceritakan tentang bagaimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan umatnya saat terjadi bencana banjir. Penyelamatan itu terjadi pada tanggal 10 Muharam atau Asyura.

Dalam kitab tersebut diterangkan bahwa sesudah banjir besar dan terombang ambing di lautan Nabi Nuh pun berlabuh dan turun dari kapal. dalam kondisi lapar, sementara perbekalan mereka sudah habis.

Nabi Nuh lalu memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang ada. Nah, serentak umat Nabi Nuh mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka. Ada yang membawa dua genggam biji gandum, biji adas, biji kacang ful, dan ada pula yang membawa biji himmash (kacang putih), sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.

Selanjutnya Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul itu, memasaknya, dan setelah matang mereka menyantapnya bersama-sama. Meskipun tidak banyak, semua merasa kenyang karena berkah doa Nabi Nuh.

Tampilan lain bubur Suro, sumber gambar: Kompas.com

Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa tradisi penyajian bubur Suro selalu diikuti dengan berbagai ubo rampe yang meliputi sirih lengkap, kembar mayang dan sekeranjang buah-buahan.

Sirih lengkap menggambarkan penghormatan pada para leluhur, kembar mayang yang terdiri atas untaian bunga mawar merah, putih, juga untaian melati dan daun pandan.

Bunga mawar dan putih menggambarkan bahwa kita harus terus bersemangat melakukan segala langkah kita yang dilandasi dengan niat yang suci. Pada akhirnya apa yang kita lakukan bertujuan untuk mengharumkan kehidupan umat manusia seperti yang dilambangkan dengan harumnya melati dan daun pandan serta memberikan ‘kemanisan ‘ atau kebahagiaan yang dilambangkan dengan hadirnya aneka buah-buahan.

Sebuah filosofi yang indah. Meskipun sekarang penyajian bubur Suro tidak disertai dengan berbagai ubo rampe, saling mengantar bubur Suro masih dilakukan dengan semangat berbagi dan ungkapan rasa syukur atas segala karunia Ilahi.

Artikel ini dimuat di Kompasiana 140724