“Le, hari ini ibuk tidak masak, kemarin belum ngisi kulkas. Nanti beli soto saja ya,” kata saya pagi itu. Jam sudah menunjukkan pukul 06.20. Saya harus cepat cepat berangkat.
Hari Senin selalu identik dengan ketergesaan dan agak malas. Badan rasanya masih mager.
Mungkin masih terbawa dengan libur dua hari kemarin. Apalagi suasana kota Malang sekarang sedang dingin-dinginnya.
Katanya jika di daerah lain di Indonesia ada dua musim, yaitu kemarau dan hujan, maka di Malang ada tiga musim yaitu kemarau, hujan dan musim maba.
Musim maba atau mahasiswa baru setiap sekitar Agustus selalu ditandai dengan bediding alis hawa yang begitu dingin. Musim yang membuat tidur terasa enak tapi juga agak malas berkegiatan. Inilah yang menyebabkan kemarin sore kami tidak belanja ke pasar sehingga kulkas jadi kosong.
“Iya Buk, nanti aku belanjakan saja,” kata anak saya.
“Tidak beli soto?” tanya saya .
“Kami masak saja,” jawab anak saya.
“Pinter,” jawab saya sambil tersenyum.
Saya mengambil sejumlah uang di dompet lalu saya berikan pada “anak lanang”.
“Mas tadi masak, ini tinggal anter, sekalian ke kampus,” jawabnya.
Aih, saya sungguh terharu.
“Iya Le, sampai satpam ibuk di misscall ya,”
Singkat kata bekal sudah sampai ke tangan saya. Sesudah saya letakkan di meja, saya kembali mengajar. Jam sepuluh, ketika saat istirahat tiba, saya segera ke ruang guru untuk menikmati bekal tadi
Kok ‘antep’ ya, pikir saya sambil membuka tas tempat bekal. Setelah bekal saya keluarkan, olala, ternyata memang diletakkan dalam tupperware besar. Tempat makan bundar dengan diameter kira-kira 25 cm dan ketebalan 5 cm itu penuh dengan makanan.
Nasi, sambal goreng tempe tahu kecap dan oseng sawi. Hmm, pintar sekali. Nasinya ditekan- tekan supaya padat sehingga muat nasi banyak. Ooh, ini yang membuat bekal terasa antep, pikir saya.
Ada empat ruang dalam Tupperware. Ruang paling besar diisi nasi, kedua dan ketiga diisi oseng tempe tahu dan sawi dan yang ke empat juga lauk, tapi bentuknya agak lain.
Saya cermati benar- benar lauk tersebut . Warnanya kuning kecoklatan dengan bentuk persegi. Seperti nugget. Tapi bukan.. kalau nugget ini terlalu lembek..
Setelah saya teliti lagi, alamak, ternyata kue kabin yang bercampur dengan kuah kecap dari sambel goreng tempe tahu.
Kok aneh ya? Karena penasaran, saya segera whatsapp anak saya. “Le, terima kasih bekalnya ya.., enak,”
” He..he.., iya Buk, tadi di bekal juga ada kue kabin. Ibuk kan suka kabin. Buat camilannya..,”
Belum sempat bertanya, ternyata sudah dijelaskan tentang isi tupperware tadi.
Lucu sekali. Seperti anak kecil saja. Dalam bekal diisi camilan pula. Rupanya ketika bekal diantar ke sekolah, Si Mas lupa pesan pada adiknya supaya berhati- hati membawanya, agar kuah sambel goreng kecap tidak bercampur dengan kabin.
Alhamdulillah sarapan yang lezat dengan bekal yang dikirimi anak lanang. Sekotak bekal yang dibuat dengan penuh cinta.. ada kabin kuah kecapnya pula…
Diana membuka notes tebal di hadapannya. Benda yang selalu setia menemani hari-harinya. Notes coklat besar yang penuh berisi catatan pesanan kue dari para pelanggannya.
Matanya terus menjelajahi tulisan di tanggal-tanggal terakhir. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tulisan Bu Tejo cake marmer 8 untuk tanggal …
Deg…. “Mateng aku…, ternyata cake marmer nya besok diambil, padahal besok pesanan lumpur Mbak Miska harus jadi,” pikirnya.
“Kok bisa lupa se…,” pikirnya gemas.
Diliriknya jam dinding di atas sofa. Sudah menunjukkan pukul 11 malam. Jam segini baru saja ia selesai membersihkan dapur setelah sejak pagi tadi membuatkan kue kering kemasan untuk cindera mata sebuah acara pernikahan.
Ilustrasi memasak di dapur, sumber gambar PNG tree
Pikirannya langsung menerawang membayangkan stok terigu, kentang, telur dan gula dapurnya.
Setelah sedikit mereka-reka hitungan, Diana langsung bernafas lega. “Aman wes,” pikirnya. Cukup untuk membuat cake dan lumpur besok.
Diana menghembuskan nafas panjang. Badan rasanya lelah, tapi lega. Pesanan kuenya besok pagi diambil, berarti ada uang masuk.
Ya, beberapa hari ini Yeni minta seragam baru karena roknya terlalu pendek.
Maklumlah, anak usia SMP memang pertumbuhannya pesat. Sepertinya baru kemarin anak itu tampak mungil dengan seragam merah putihnya.
Sekarang di tahun kedua SMP tiba-tiba saja badannya mekar dan tingginya hampir sama dengan ibuknya.
Diana memejamkan matanya. Besok pagi ia harus sudah mulai ‘umek’ lagi di dapur. Episode cake marmer dan kue lumpur. Cake diambil habis Maghrib, kue lumpur diambil Ashar.
Perpaduan rasa lelah dan kantuk membuat matanya terasa kian berat.
Bunyi jam dinding seperti hipnotis yang pelan-pelan membawanya ke alam mimpi.
***
“Nduk, tolong belikan kardus besar, ” kata Diana pada Yeni, anak perempuan semata wayangnya. Hari sudah menjelang sore. Dapur begitu lekat dengan harum aroma kue.
Di meja makan, kue lumpur dan delapan marmer cake sudah tertata manis.
“Sebentar Buk,” jawab Yeni sambil terus memandang hapenya.
Diana memandang gemas.
“Ayo ta..agak cepet.. sebentar lagi Mbak Miska ke sini, lumpurnya mau buat tahlilan,” tambahnya.
Tanpa banyak kata Yeni langsung berangkat ke toko di seberang jalan.
“Mbak Diana.., assalamualaikum,”
Sebuah suara terdengar begitu renyah menyapa. Mbak Miska, sang pemilik suara langsung masuk rumah. Demi melihat kue lumpur yang ‘menul-menul’ di meja Mbak Miska berseru,
“Walah, cantiknya .. lumpurku.,”
Diana yang sedang memasukkan kue lumpur dalam tenong menghentikan pekerjaannya sejenak.
“Lha iya lah .. yang buat yo cantik kok…, ” katanya sambil tertawa.
“Lebih cantik yang pesen,” timpal Mbak Miska. Tawa keduanya kembali berderai.
Sepeninggal Mbak Miska Diana langsung menuju ke dapur. Sedapnya kopi yang dibuatkan Yeni langsung menggelitik hidungnya dan membangkitkan simpul-simpul syaraf ingatannya.
Ya, ingatan pada kenangan lama yang membuatnya jadi seperti ini.
Hari- hari Diana selalu diwarnai dengan berbagai kesibukan membuat kue. Ya, kue dan kue. Putu ayu, donat, cake , lapis, roti kukus tak henti-henti keluar dari dapurnya.
Ilustrasi membuat kue, sumber gambar: PNG tree
Aroma dapurnya adalah wujud optimisme dalam rumahnya. Aroma yang menunjukkan bawa roda ekonominya terus berputar
Semenjak berpisah dengan Tarno, suaminya, Diana memutuskan untuk lebih menekuni usaha kuliner. Tepatnya usaha kue, berangkat dari kegemarannya memasak sejak masa sekolah.
KDRT, sebuah kata yang klise. Tapi itulah yang menyebabkan ia berpisah dengan suaminya.
Bayangkan, siapa yang tahan jika tiap pulang kerja, wajah suami selalu sumpek, marah-marah, bahkan suka membanting berbagai barang yang ada di dekatnya?
Kemarahan Tarno kadang dengan alasan yang tidak jelas. Masalah pekerjaan, capek, dan yang terakhir ia mendengar cerita dari teman- temannya bahwa Tarno punya ‘simpanan’, di luar kota.
Ooh, makanya Mas Tarno sering tidak pulang dengan berbagai macam alasan, pikirnya.
Sebagai seorang wiraswasta yang mulai berjaya Tarno sering keluar kota dan mempunyai banyak koneksi di mana-mana. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya ‘kecantol’ orang lain yang lebih cantik dari Diana tentunya.
Sakit hati Diana mendengarnya. Harga dirinya meronta. Sungguh, dikhianati seperti itu membuat stok kesabarannya habis. Emosinya memuncak, apalagi tatkala pulang dari kerja Tarno tiba-tiba marah- marah sambil membanting alat- alat dapur yang ada di sekitarnya.
Begitu Tarno meraih panci serbaguna yang ada di meja dan akan membantingnya, Diana langsung berteriak. “Stop, sudah cukup Mas..,tidak usah mbanting panci itu. Kreditannya belum lunas, kalau kamu sudah tidak suka sama aku, ‘buyar’ saja wes,”
Ya, panci serbaguna, alat memasak yang sudah lama diimpikannya itu baru saja dibelinya dari PKK bulan kemarin.
Buyar. Mendengar kata itu Tarno seketika menghentikan tangannya dan keluar rumah.
Diana menangis sambil memunguti barang pecah belah yang berserakan di lantai. Semua ambyar, seambyar hatinya.
Yeni yang sejak tadi bersembunyi di dalam kamar langsung berlari memeluk ibuknya.
Sejak hari itu Tarno semakin jarang pulang ke rumah dan proses perceraian antara keduanya terus dilakukan.
Setelah proses yang lumayan panjang, merekapun resmi bercerai. Diana begitu bersyukur. Ia merasa lebih plong karena tidak selalu dikejar rasa takut akan amarah suaminya setiap hari.
Di satu sisi, secara ekonomi ia benar- benar harus mulai dari nol. Uang dari Tarno tidak pernah diberikan kepadanya dengan berbagai alasan. Tarno bahkan seperti lupa pada Yeni yang saat itu masih duduk di kelas tiga SD.
Sejak saat itu kebutuhan sehari-hari, bayar air, listrik dan sekolah Yeni menjadi tanggungan Diana.
Dalam kondisi seperti itu membuat kue menjadi satu- satunya harapan. Hobi yang yang agak lama ditinggalkannya, kini akan coba ditekuninya kembali.
Aneka kue, sumber gambar : Endeus TV
Dengan sedikit tabungannya Diana mengambil kursus membuat kue dan sesudahnya ia mulai berani menerima pesanan kue dalam berbagai varian.
Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Karena ketekunannya, namanya semakin berkibar. Dalam berbagai event di kampung seperti tahlilan, khitanan juga pernikahan, Diana mulai banyak menerima pesanan kue.
Selain itu Diana menjadi pemasok tetap di Toko Kue “Amanah”, satu- satunya toko kue di kampungnya.
Kue donat buatannya sangat terkenal. Siapa yang tak kenal donat buatan Diana yang empuk, lezat juga cantik?
“Mbak Diana.., ambil marmer..,” sebuah suara langsung membuyarkan lamunan Diana. Bergegas, ia membuka pintu.
“Monggo Bu Tejo..,” katanya ramah.
Tanpa diperintah, Yeni langsung keluar membawakan dos-dos berisi cake marmer pada Bu Tejo.
“Wiih… Ayune..,” kata Bu Tejo begitu membuka satu dos kue. Ia tampak begitu puas dengan cake marmer buatan Diana.
“Mbak , untuk Minggu depan pesen lagi ya… empat.. buat oleh-oleh besan di Jakarta,” tambah Bu Tejo sambil memberikan beberapa lembar uang pada Diana.
Diana tersenyum senang, “Inggih, siap…apa sih yang tidak buat Bu Tejo..?”
“Bisa saja,” dengan gayanya yang kenes Bu Tejo berpamitan.
Yeni masuk kamar. Rumah kembali terasa sepi. Diana diam. Ia sungguh tak menyangka, dalam kondisi sulit, ternyata justru hobinya yang bisa menjadi penolong. Ia tidak bisa membayangkan, seandainya tak punya ketrampilan membuat kue, bagaimana nasib keluarga kecilnya?
Alhamdulillah…Terima kasih Gusti, selalu paring rezeki..
Sebuah sepeda motor besar berhenti di depan sekolah. Pengendaranya memakai helm kaca gelap dan kacamata hitam. Bergegas saya mendekatinya.
“Sekarang ya Bude?”
“Ayo Le, jawab saya sambil duduk di boncengan,”
Ya, sore itu, keponakan saya yang sedang kuliah di semester enam jurusan DKV mengajak saya untuk menghadiri pemeran karya yang di adakan di sebuah gedung di Universitas Negeri Malang.
Sumber gambar: posko memori
Pameran ini diisi karya para mahasiswa. Tujuannya adalah untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah mereka. Mata kuliah apa, saya lupa namanya, tapi yang jelas saya diajak ke sana untuk meliput.
Kata keponakan, tugas yang dilakukan ini harus dipublikasikan, dan begitu mendengar kata publikasi dia langsung ingat budenya.
Hobi Membaca, Menulis dan Kompasiana
Semenjak berkenalan dengan Kompasiana, hobi membaca dan menulis saya kian menjadi. Mengapa? Dengan banyak membaca tulisan teman-teman, saya semakin terpacu untuk terus menulis.
Banyak orang hebat di Kompasiana, dan dari mereka saya banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang berisi namun tetap enak dibaca.
Seiring berjalannya waktu, menulis bukan lagi sekedar kesenangan bagi saya, tapi juga kebutuhan. Karenanya sangat tidak enak kalau beberapa hari tidak menulis.
Akibatnya setiap mengikuti event tertentu, pasti akan saya jadikan tulisan.
Sering menulis membuat saya ditarik menjadi penulis web sekolah. Tugas saya cukup datang di event sekolah, menulis lalu upload di web.
Barokah lain dari hobi menulis adalah saya jadi sering mendapat undangan dari teman untuk mengikuti event tertentu guna membuat semacam liputan. He..he…sok sok an jadi wartawan ini…
Dalam sebuah event , dokumentasi pribadi
Lalu berapa bayarnya? Tidak ada. Mendapat ucapan terima kasih, melihat yang saya buatkan tulisan merasa senang saja sudah membuat hati saya ikut senang.
Kadang saya menulis tentang rekreasi jamaah pengajian, acara jalan-jalan bersama teman-teman, acara arisan juga acara pameran seperti yang saya lakukan sore itu.
Kami terus berjalan menuju lokasi pameran. Sepanjang kiri kanan jalan dipenuhi dengan berbagai dekorasi. Hingga akhirnya sampailah kami di pintu masuk. Setelah mengisi buku tamu kami pun masuk ruang pameran.
Jalan menuju ruang pameran, dokumentasi pribadi
Keponakan saya memperkenalkan saya pada teman-temannya. Rupanya beberapa dari mereka sudah mendapat cerita tentang saya. Sekilas saya dengar ada yang berbisik. “Bude, ya?”
Keponakan saya mengiyakan.
Saya terus berkeliling. Mungkin karena tahu bahwa tujuan saya ke situ adalah untuk meliput, tiap pertanyaan yang saya ajukan selalu dijawab dengan lengkap.
Bertanya ke sana-sini membuat pembicaraan di antara kami tidak canggung lagi. Dan dengan akrab mereka memanggil saya “Bude”.
Ah ya, tulisan tentang liputan ini saya upload di Kompasiana dengan judul “Memorabilia”, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil
Suatu saat ketika kuliahnya hampir berakhir, keponakan saya harus mengadakan pameran lagi.
“Bude, saget liputan malih?”
“Oh, bisa Le .. kapan?”
Setelah menentukan hari dan tanggalnya, siang itu ketika jam istirahat saya dijemput dari sekolah untuk kembali meliput pameran karyanya.
Gajah Mada, Umakarta, dokumentasi pribadi
Kali ini karyanya mengangkat tema Mahapatih Gajah Mada. Jadi ceritanya ia membuat berbagai merchandise yang dikaitkan dengan kebesaran Gajah Mada sebagai tugas akhir kuliahnya.
Sama dengan liputan sebelumnya, di lokasi pameran wajah- wajah ramah menyapa saya. “Bagaimana kabarnya Bude?”
He..he… Saya membalas sapaan mereka dengan gembira. Senang sekali rasanya bertemu lagi dengan mereka. Kami berbincang sejenak, lalu saya mulai mengamati karya- karya yang dipamerkan sambil beberapa kali memotret.
Jika dihitung selama keponakan kuliah ada empat kali saya diminta meliput pamerannya. Ada yang di UM, Dewan Kesenian Malang (DKM) juga Malang Creative Centre (MCC).
Yang paling unik adalah ketika saya meliput di MCC. Mengapa? Pameran dikemas dengan gaya kekinian. Peserta pameran banyak yang mengenakan cosplay.
Bersama Naruto, dokumentasi pribadi
Saya yang tidak ikut bercosplay jadi tampak aneh. Bahkan ketika antre lift, di sekitar saya adalah Naruto dan teman-temannya.
Bukan sekedar hobi, gara- gara menulis saya mempunyai banyak kesempatan untuk mendatangi berbagai event, memotret dan menuliskannya.
Menulis membuat saya mendapatkan sebuah profesi baru, yaitu ‘wartawan’. Wartawan yang siap membantu publikasi bagi keponakan jika memerlukan.
tetap menyatu, dalam hasrat dan tujuanku selalu (reff. lagu Gemilang by Krakatau)
“Gemilang” adalah single yang dinyanyikan oleh grup musik Indonesia, Krakatau. Lagu ini diciptakan oleh Dwiki Dharmawan, pemain keyboard dari band tersebut. Dengan lirik oleh Mira Lesmana.
Lagu yang menceritakan kegemilangan dan memberi semangat dalam memecahkan masalah dengan jiwa remaja tersebut dirilis pada tahun 1987. Suara centil dari Trie Utami membuat lagu ini terasa sedap untuk dinikmati.
Pada tahun 2010, Andien membawakan kembali lagu “Gemilang” dengan aransemen oleh Nikita Dompas
Dari Wikipedia, lagu ini pernah mendapat ulasan positif dari Rolling Stone Indonesia yang menempatkan lagu ini sebagai peringkat ke-62 lagu berbahasa Indonesia terbaik sepanjang masa.
Rolling Stone Indonesia adalah majalah musik Indonesia yang diadopsi dari franchise terbitan Amerika Serikat.
Krakatau, sumber gambar: Kumparan
Dalam perjalanan musiknya Krakatau memiliki dua single yaitu Gemilang dan La Samba Primadona yang keduanya dirilis tahun 1987. Dua-duanya enak dinikmati, tapi lagu “Gemilang” adalah one hit wonder membawa cerita tersendiri bagi saya.
Lagu “Gemilang” sangat terkenal di kala saya masih duduk di SMA. Hampir tiap hari kami bisa mendengar lagu ini lewat radio. Kala itu kami sering berkirim lagu lewat beberapa stasiun radio, seperti TT 77 atau KDS 8, dan “Gemilang” adalah lagu yang sering direquest.
Mendengarkan lagu ini membuat saya kembali teringat pada masa di mana kami bersemangat untuk mencari ilmu, dengan bumbu keakraban dan kekonyolan bersama teman-teman. Ya, judul syair lagu ini adalah gambaran jiwa kami yang penuh semangat untuk menuju masa depan yang lebih gemilang.
Lagu ini mengingatkan saya pada seorang sahabat, teman sekelas saat SMA. Sebuah pertemanan yang akhirnya membuat saya menjadi guru matematika. Bagaimana bisa?
Nah, begini ceritanya..
SMA Tugu, sumber gambar: Malang Surya
Teman saya ini sebutlah namanya Anna, orangnya ‘rame’, hampir sama dengan saya. Karena punya ‘frekuensi’ yang hampir sama, di kelas satu SMA kami langsung kenal dan akrab.
Anna punya teman yang jauh lebih banyak dari saya. Belum satu bulan di SMA, temannya sudah ada di mana-mana, termasuk di kelas lain.
Meski ‘rame’ kami punya komitmen sama yaitu tidak main- main saat pelajaran. Kami sama-sama suka IPA dan Bahasa Inggris dan olah raga. Bedanya jika saya suka fisika dan Kimia, Anna lebih suka biologi. Karenanya di kelas dua kami terpisah karena saya memilih jurusan A1 (ilmu fisika) dan Anna memilih A2 ( ilmu biologi).
Bagaimana dengan matematika? Kami bisa matematika, tapi kurang begitu suka. Mungkin karena materi kelas satu SMA hampir sama dengan SMP, jadi kurang menantang sepertinya.
Lucunya saat itu kami juga punya kakak idola yang sama. Maksudnya naksir orang yang sama, yaitu kakak kelas yang pintar berorganisasi sekaligus menonjol dalam mata pelajaran. Kalau kata kami saat itu wajahnya mirip Iwan Fals. He..he…
Tapi begitulah naksir kami tak pernah serius. Sekedar suka pokoknya.
Kakak idola kami ini ada di kelas 3 IPA 5 yang kelasnya di tingkat atas, sementara kami yang masih kelas 1 menempati kelas bawah.
Zaman itu kelas tiga masuk jam tujuh pagi, dan kelas satu masuk jam dua belas. Jadi kelasnya bergantian.
Demi bertemu idola kami ( tepatnya melihat) kami rela datang jam setengah dua belas dan pura-pura baca mading di bawah tangga untuk menunggu Sang Idola lewat.
Begitu dia lewat, kamipun saling bisik-bisik,”Itu tuh anaknya..,” Sang Idola terus berjalan. Entah tahu atau pura-pura tidak tahu dengan keributan kami. Duuh..
Jika dia sudah lewat, kami segera kembali ke kelas. Urusan selesai. Ingin kenal lebih jauh dengan Sang Idola? Tidak juga. Bahkan sampai luluspun kami tidak pernah bicara dengan idola kami itu. Ha..ha…
Karena punya koneksi dengan sekolah sebelah lumayan banyak, Anna selalu tahu sekolah sebelah mengadakan acara apa.
Ah ya, saya bersekolah di SMA Tugu. Ada tiga sekolah di situ. Dan aula yang posisinya di tengah dipakai ketiga sekolah secara bergantian.
Suatu saat terjadilah sebuah peristiwa yang membuat saya menjadi ‘pecinta’ matematika.
Ketika itu dalam sebuah jam pelajaran matematika, sesudah diterangkan kami diberi tugas oleh ibu guru kami. Lima belas soal.
Ya, guru zaman dulu kalau memberi tugas memang buanyak. Tujuannya jelas, supaya kami terbiasa mengerjakan soal dalam berbagai model.
Dalam waktu satu jam pelajaran (45 menit) seluruh soal selesai kami kerjakan. Sementara teman- teman masih sibuk berkutat dengan pekerjaan mereka.
Waduh, waktu masih kurang 45 menit lagi. Sama-sama ‘gabut’ istilah anak sekarang, Anna berbisik pada saya. “Di aula ada mode show.. , lihat yuk..,” ajaknya. Mode show adalah istilah untuk fashion kala itu.
Sejenak saya terdiam. Ada perang dalam hati saya. Perang antara bisikan syaitan dan malaikat. Bisikan syaitan mengajak saya ke aula mengikuti ajakan Anna, malaikat memaksa saya bersabar sejenak menunggu saat pembahasan soal tiba.
Saya melihat ke arah Bu Guru matematika yang sedang asyik mengerjakan sesuatu. Hati saya terus berperang. Celakanya yang menang adalah si syaitan.
” Apik ya…,” bisik saya pada Anna.
“Yo mesti ta..,” bisiknya lagi sambil tersenyum.
Anna menuliskan sesuatu di kertas lalu diberikan pada saya. Suasana kelas masih sepi, semua sibuk mengerjakan tugas.
“Aku izin ke kamar mandi, susul dalam waktu dua menit,” katanya di kertas.
Tanpa menunggu jawaban saya Anna pun izin ke kamar mandi. Dua menit berselang saya ikut-ikutan izin. Ibu guru matematika mengangguk sambil meneruskan pekerjaannya.
Jarak dari kamar mandi putri ke aula lumayan jauh. Tapi demi tekad yang membara untuk melihat mode show kami terus berjalan ke sana.
Suasana aula tampak demikian meriah. Beberapa model berjalan di panggung dengan iringan musik yang menghentak penuh semangat.
Wajah -wajah ayu tampak di mana-mana. Mereka melenggak lenggok memperagakan busana yang demikian cantik. Busana kertas. Amazing. Kertas bisa disulap menjadi baju seindah itu. Kami begitu terkesima dibuatnya. Benar kata Anna. Acaranya memang apik.
Terlalu asyik melihat peragaan busana, tak terasa sudah hampir satu jam pelajaran kami berdiri di situ.
“Ayo balik kelas.., dicari Bu guru nanti,” ajak saya panik demi melihat jam aula sudah menunjukkan pukul setengah dua, berarti sepuluh menit lagi bel istirahat berbunyi.
Anna ikut kaget. Bergegas kami kembali ke kelas. Dan alamak… Bu guru matematika sudah siap di depan pintu kelas menunggu kedatangan kami.
“Dari mana?” tanya beliau tidak ramah.
Kami menunduk. Sungguh, sebengal apapun kami tidak bisa berbohong di depan guru kami.
Dengan jujur kamipun berkata bahwa kami keterusan melihat mode show di aula.
Bu Tutik, guru kami kembali bertanya, “Pekerjaan kalian sudah selesai?”
“Sudah, Bu,” jawab kami cepat.
Bu Tutik mengangguk. Apakah jawaban tersebut membuat posisi kami jadi aman? Tidak.., karena sebagai hukumannya kami berdua harus mengerjakan ke lima belas soal di papan tulis nanti di pertemuan berikutnya.
“Kalau ada pertanyaan dari temanmu, kalian yang menjawab,” kata Bu Tutik sambil meninggalkan kami.
Saya sungguh tak menyangka itulah tonggak pertama saya mulai tekun bermatematika. Sebelumnya saya bisa matematika, tapi untuk diri saya sendiri. Tapi karena diultimatum seperti itu maka sebelum pelajaran matematika saya harus punya persiapan lebih.
Akhirnya buku pekerjaan matematika saya menjadi begitu lengkap. Saya selalu siap menerangkan sewaktu-waktu ada pertanyaan. Teman- teman yang mengalami kesulitanpun banyak yang minta diterangkan, bahkan sampai datang ke rumah.
Sebuah hukuman yang manis, hingga akhirnya selepas SMA saya kuliah di IKIP jurusan matematika.
“Kamu jadi guru matematika saja, kalau menerangkan enak,” kata teman-teman ketika kami memilih jurusan. Biyuh…
Tahun demi tahun berlalu hingga saya menjadi guru dan Anna sukses dengan bisnisnya di luar pulau. Sesekali kami bertemu saat reuni, dan beberapa kali berwhatsapp.
Beberapa tahun yang lalu ia mengirim sebuah pesan yang sangat mengejutkan.
“Cikgu, terima kasih ya, anakku sudah diajar matematika,” katanya.
Saya sedikit bingung. Ini tidak pernah ketemu ibuknya kok tiba-tiba mengatakan anaknya saya ajar?
“Anak yang mana?” tanya saya.
Sambil menyebut nama seorang siswa, Anna berkata, “Dia anakku, kemarin baru lulus dari SMP, matematikanya kamu yang ngajar, sengaja gak tak kasih tahu.. aku pingin tahu kamu ngajarnya bagaimana..ha..ha.., “
Oalah, Anna… Sungguh kamu tetap seperti yang dulu.., pikir saya gemas.
Krakatau, sumber gambar: SpundCloud
Sampai sekarang setiap kali melewati SMA Tugu, saya selalu teringat cerita masa-masa itu. Masa SMA ketika kita punya begitu banyak mimpi. Masa yang begitu lucu, konyol tapi tetap memicu kita untuk meraih masa depan yang lebih gemilang.
“Kutunggu depan perpustakaan umum ya…,” Sebuah pesan masuk WhatsApp saya pagi itu. Dari seorang teman SD. Aha, pagi ini kami memang berjanji untuk jalan-jalan di Car Free Day Jl. Ijen Malang.
Sepeda motor saya langsung melaju menembus dinginnya Kota Malang. Di sepanjang jalan Kawi juga jalan Gelanggang sudah banyak orang berolahraga ringan.
Banyak pejalan kaki di CFD, dokumentasi pribadi
Suasana Jl. Ijen begitu ramai. Ada yang berjalan sendiri, tapi lebih banyak yang jalan bareng teman atau keluarga. Selain berjalan, banyak pula yang bersepeda, senam, berkumpul bersama komunitas ataupun sekedar duduk-duduk di tepi jalan.
Sesuai namanya yaitu Car Free day, tidak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas. Kalaupun ada kendaraan, itu adalah sepeda pancal atau sepeda listrik. Tapi tidak begitu banyak.
Di area parkir, dokumentasi pribadi
Karenanya hawa terasa begitu segar. Lain sekali dengan suasana Jl Ijen di hari biasa yang selalu dipadati kendaraan yang lalu lalang.
Saya terus berjalan menuju tempat senam, tepatnya di depan perpustakaan umum. Pengunjung sudah begitu banyak. Ada panggung kecil yang didirikan tepat di pertigaan Jl Ijen dan Semeru untuk tempat para pemandu.
Senam dengan iringan lagu campur sari, dokumentasi pribadi
Tak berapa lama iringan musikpun berkumandang. Lagunya? Campur sari!
Ada lagu Didi Kempot, Niken Salindri, Via Vallen dan banyak lagi.
Kami bergerak mengikuti para pemandu. Gerakan senam semi bergoyang.. he..he.. gayeng sekali.
Ketika irama campur sari berganti dengan lagu lain yang lebih menghentak, satu persatu di antara kami mulai keteteran.
“Jalan-jalan saja yuk.., ” ajak saya pada teman teman.
“Iya, jalan-jalan saja,” kata yang lain. Semua sudah ngos-ngosan mengikuti senam aerobik yang baru saja dimulai.
Penjual balon, dokumentasi pribadi
Kamipun berjalan-jalan sambil ngobrol sepanjang Jalan Ijen dan sekitar Dempo.
CFD benar- benar bagai magnet bagi warga Malang. Di sepanjang jalan yang kami lalui tampak berbagai macam aktivitas. Ada yang berjualan makanan, mainan, promosi event tertentu, bertemu teman lama dan banyak lagi.
Dinosaurus, tempat yang diserbu anak anak, dokumentasi pribadi
CFD juga merupakan sarana hiburan yang murah bagi anak-anak kecil. Ada tempat menyewa kendaraan scooter, naik dokar, belajar menggambar, memancing ikan dan berbagai permainan yang lain.
Setelah berjalan-jalan, kami memasuki area museum Brawijaya yang setiap hari Minggu digunakan para pedagang untuk berjualan. Di sepanjang jalan masuk museum banyak pedagang makanan, asesoris, baju atau barang yang lain.
Duduk-duduk di CFD, dokumentasi pribadi
Khasnya emak-emak jalan-jalan kurang lengkap rasanya tanpa belanja. Dari melihat-lihat akhirnya ada beberapa barang yang kami beli.
Membeli bumbu rentengan, dokumentasi pribadi
Ya, pagi hari di CFD bukan sekedar jalan-jalan ataupun bertemu teman. Buktinya pagi itu kami mendapatkan bros, aneka bumbu rentengan berupa kemiri, merica, bawang, makaroni, ebi, bahkan kami juga membeli penambal panci. He..he… Lengkap pokoknya.