Hotel Pelangi, Saksi Sejarah yang Berulangkali Ganti Nama

Jam menunjukkan sekitar pukul 12 siang. Ruang makan hotel sudah mulai ramai oleh para peserta pelatihan. Saya segera mengambil piring. Saya pilih nasi, sop, ayam goreng, tempe dan jus jeruk sebagai minumannya.

Saya mengambil tempat duduk di meja makan yang berisi empat orang. Tiga orang teman  sudah duduk sambil menikmati hidangan. Teman yang mendadak kenal pas pelatihan. Sama sama guru dari SMP, SMA dan SMK di kabupaten dan kota Malang.

Suasana ruang makan, dokumentasi pribadi

Sambil menikmati hidangan kami ngobrol ringan. Tentang apa saja. Yang terbanyak adalah tentang daerah sekitar hotel tempat kami mendapatkan pelatihan.

Lagu diperdengarkan di ruang makan dengan suara yang tidak terlalu keras. Geef Mij Maar Nasi Goreng” (Beri Aku Nasi Goreng). Sebuah lagu yang digubah oleh Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort atau Tante Lien pada tahun 1977.

Lagu yang bercerita tentang kerinduan Wieteke pada makanan Indonesia.

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei

Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij..

Belum selesai. Selanjutnya suasana dihangatkan oleh lagu Bunga Anggrek (Als de Orchideen Bloeien) gubahan Ismail Marzuki.

Vibesnya benar-benar terasa…Kuno tapi menyenangkan.

*****

Hotel Pelangi di malam hari, dokumentasi pribadi

Sejak tanggal 18 Agustus kemarin saya mendapatkan tugas untuk mengikuti sebuah pelatihan menulis. Pelatihan ini diikuti oleh guru guru SD, SMP, SMA dan SMK yang ditunjuk.

Pelatihan yang dilaksanakan sampai tanggal 20 Agustus ini diadakan di Hotel Pelangi Jl. Merdeka Selatan sekitar Alun alun Merdeka Malang. 

Sangat menarik, karena hotel yang berjarak kira kira 10 menit perjalanan dengan sepeda motor dari rumah ini setiap hari saya lewati. Tapi tak pernah sekalipun saya menginap di sini.

Dulu sekali saya pernah masuk ke sini karena  mendapat undangan untuk halal bihalal, tapi itu sudah lebih dari 10 tahun yang lalu.

Tentang Hotel Pelangi

Hotel Pelangi termasuk salah satu bangunan kuno di Kota Malang, dokumentasi pribadi

Begitu mendengar kata Hotel Pelangi banyak di antara teman-teman saya yang memberi tanggapan menarik. Horor, singup, antik dan banyak lagi. Semua berintikan pada satu hal yaitu hotel ini termasuk bangunan kuno, dan seperti lazimnya bangunan kuno pasti ada cerita cerita ‘lain’ di baliknya.

Hotel ini memang sangat menarik. Nuansa lampau sangat terasa, hingga tak salah jika sejak tahun 2016 hotel ini dimasukkan sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

Syarat sebuah bangunan dapat dijadikan cagar budaya di antaranya memiliki usia lebih dari 50 tahun, masa jaya juga lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai sejarah, dan Hotel Pelangi telah memenuhi semua itu.

Hotel Lapidoth, sumber gambar: ngalam Wearemania.net

Hotel yang dibangun pada tahun 1860 ini semula bernama Hotel Lapidoth, sesuai nama pendirinya yaitu Abraham Lapidoth, seorang pengusaha Belanda yang tinggal di Malang.

Lapidoth membangun hotel ini karena melihat prospek yang bagus dari Malang sebagai tempat wisata, dan benar saja di masa itu Hotel Lapidoth ternyata mendapat banyak kunjungan wisatawan.

Seiring berjalannya waktu di tahun 1870 dimana di Indonesia sedang dilakukan tanam paksa, di Malang sedang digalakkan penanaman kopi dan tebu. 

Malang semakin mendapat banyak kunjungan dari pengusaha dan pekerja, dan nama hotel berubah menjadi Hotel Malang.

Pada tahun 1908 setelah Abraham Lapidoth meninggal, hotel ini berpindah pengelolaannya pada pemerintah Hindia Belanda. Nama hotel berubah menjadi Hotel Palace.

Pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia, termasuk juga Kota Malang nama hotel berubah lagi menjadi Hotel Asoma.

Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1945 ketika Jepang kalah, hotel kembali beralih nama menjadi Hotel Palace. 

Tahun 1947 Hotel Pelangi dibumihanguskan Belanda, sumber gambar: Malang Tugu.id

Di masa agresi militer pertama tahun 1947 ketika Malang dibumi hanguskan, Hotel Palace mengalami imbasnya dan mengalami kerusakan di bagian menara kembarnya.

Akhirnya hotel ini dibeli oleh seorang pengusaha kontraktor dari Banjarmasin yang bernama H. Sjachran Hoesin. Tahun 1953 hotel ini diberi nama Hotel Pelangi. Arsitektur hotel tetap dipertahankan dengan nuansa kolonial yang demikian kental.

Berjalan dan menikmati interior hotel ini membawa kita seolah terlempar ke masa lalu. Di bagian pintu masuk ruang makan terdapat tulisan Lodji coffeeshop dengan angka tahun 1915.

Depan pintu masuk ruang makan, dokumentasi pribadi

Potret Malang Tempo Dulu yang bertebaran di mana mana membuat kita teringat pada masa lalu, seperti jalan kereta api di Embong Brantas, Kantor Pos, gambar bemo kendaraan bermotor di saat itu dan banyak lagi.

Foto Pasar Besar tempo dulu, dokumentasi pribadi
Kantor Pos tempo dulu, dokumentasi pribadi

Lukisan keramik yang ada di ruang makan juga tampak demikian cantik, menggambarkan suasana pedesaan Belanda di masa lalu.

Lukisan keramik suasana desa Belanda, dokumentasi pribadi

Balkon yang ada di ruang makan juga tampak unik. Saya langsung membayangkan film zaman dulu yang ada adegan pesta atau berdansa bersama, lalu sang pemilik pesta muncul di balkon. Aha…

Ada berbagai cerita yang mewarnai hotel ini sehingga hotel ini agak angker menurut sebagian orang. Tidak salah kalau sebelum berangkat pelatihan teman saya berkata dengan nada bergurau,” Nanti kabari kalau sudah ketemu dengan Noni Belanda ya…,” Waduh… .

Sejarah Hotel Pelangi, dokumentasi pribadi

Begitulah sedikit cerita tentang Hotel Pelangi. Dengan arsitektur dan nuansa yang demikian khas, hotel ini telah berulang kali ganti nama, sebagai penanda dan saksi sejarah berbagai peristiwa yang terjadi di Malang kota tercinta. 

Salam dari Kota Malang.

Ini Film Horor, Jadi Tolong Hargai Saya, Sebuah Review Film “Rumah Dinas Bapak”

“Jadi nonton yang jam berapa?” tanya anak saya Minggu pagi itu. Ia memang berjanji akan mengajak saya melihat Rumah Dinas Bapak, film Dodit yang terbaru.  Demi melihat ekstra film ini ketika kami menonton film Sekawan Limo, saya benar-benar penasaran dengan film ini. 

“Ini horor ‘kan? Jam satu siang saja ya Le..,” kata saya. 

He.. he..sengaja saya pilih jam satu siang karena cuaca terang benderang. 

Aslinya saya memang agak penakut, kurang suka film horor. Tapi karena pemain utamanya Dodit, saya langsung kepingin lihat. Bagaimana bisa tampilan seperti Dodit hendak menakut-nakuti para penonton, pikir saya 

Akhirnya deal, kami menonton film jam 13.15 di Dieng Cyber Mall yang jaraknya kira-kira 15 menit dengan berkendara sepeda motor dari rumah kami.

Dokumentasi pribadi

“Ini film horor, jadi tolong hargai saya,” 

Kalimat itu muncul di awal cerita dan memaksa penonton tertawa melihat gaya Dodit yang sok serius 

Film ini bercerita tentang masa kecil Dodit. Keluarganya harus pindah karena ayah, sang kepala keluarga (diperankan oleh Dodit Mulyanto) mendapat tugas baru di hutan terpencil di kawasan Blitar.

Adegan dibuka dengan pindahan sebuah keluarga menuju daerah lain. Pick up yang berisi berbagai macam barang sudah siap membawa keluarga ini berangkat menuju tempat tugas baru.

Mereka berangkat ke tempat baru pada hari Kamis Kliwon. Ibu (Putri Ayudya), Dodit kecil (Oktavianus Fransiskus), Mbak Lis (Yasamin Jasem), dan Mas Dewo (Elang El Gibran) meski berat hati juga ikut pindah.

Begitu datang di rumah dinas, berbagai pertanda buruk muncul. Tempat yang mereka tinggali ternyata angker dan menyimpan cerita sedih di masa lalu. Rumah mereka ternyata dulunya adalah penjara bagi blandong atau pencuri kayu di zaman penjajahan Belanda.

Di bagian depan rumah terdapat bangunan seukuran kamar yang dulunya dipakai untuk memenjarakan Mimin, kekasih pemilik rumah yang dalam keadaan hamil hingga melahirkan dan meninggal di situ.

Poster dekat pintu masuk bioskop, dokumentasi pribadi

Arwah Mimin yang penasaran selalu melakukan teror pada keluarga yang tinggal di rumah ini setiap hari Kamis Kliwon. 

Akhirnya film ini banyak berisi  teror yang dilakukan Mimin setiap Kamis Kliwon. 

Teror Mimin kian menjadi ketika Mbak Lis melahirkan. Bahkan Mimin berani menculik bayi Mbak Lis dan dibawa ke kamarnya yang merupakan ruangan penjara di rumah itu.

Ketika film dibuka dengan monolog Dodit di atas, saya berpikir pasti film ini tidak begitu menakutkan. Tapi ternyata dugaan saya salah. Film ini terasa menegangkan apalagi settingnya sebagian besar malam hari. 

Sumber gambar : Foto X Dodit Mulyanto, rri co.id

Efek  dari gambar maupun suara berhasil membangun kesan seram film ini. Untungnya ada Kasno dan Sugeng, dua orang pegawai jogowono yang  membuat ketegangan berkurang karena kelucuan mereka.

Kehadiran Mbah Slamet yang menyingkap cerita masa lalu tentang sejarah rumah itu  membuat alur cerita semakin menarik.

Satu hal yang saya catat , bapak, ibu dan Dewo sama sekali tidak pernah diganggu oleh hantu Mimin. Yang sering diganggu adalah Dodit kecil, Mbak Lis, Kasno dan Sugeng. 

Jika diamati, bapak,Ibu, juga Dewo adalah sosok yang lebih tenang dan tidak penakut dibanding yang lain, jadi secara tersirat film ini memberikan pesan bahwa ketenangan dan keberanian membuat makhluk tak kasat mata lebih sulit mengganggu kita.

Sumber gambar : Sonora.id

Meski alur ceritanya amat sederhana, Rumah Dinas Bapak bisa menjadi alternatif hiburan yang menyenangkan bersama keluarga. Film dengan batas usia 13 tahun ke atas ini bisa membuat kita tegang, sekaligus tertawa geli mendengar dialog dan ulah pemain

Sekotak Bekal Penuh Rasa Cinta

“Le, hari ini ibuk tidak masak, kemarin belum ngisi kulkas. Nanti beli soto saja ya,” kata saya  pagi itu. Jam sudah menunjukkan pukul 06.20. Saya harus cepat cepat berangkat.

Hari Senin selalu identik dengan ketergesaan dan agak malas. Badan rasanya masih mager. 

 Mungkin masih terbawa dengan libur dua hari kemarin. Apalagi suasana  kota Malang sekarang sedang dingin-dinginnya. 

Katanya jika di daerah lain di Indonesia ada dua musim, yaitu kemarau dan hujan, maka di Malang ada tiga musim yaitu kemarau, hujan dan musim maba. 

Musim maba atau mahasiswa baru setiap sekitar Agustus selalu ditandai dengan bediding alis hawa yang begitu dingin. Musim yang membuat tidur terasa enak tapi juga agak malas berkegiatan. Inilah yang menyebabkan kemarin sore kami tidak belanja ke pasar sehingga kulkas jadi kosong.

“Iya Buk, nanti aku belanjakan saja,” kata anak saya.

“Tidak beli soto?” tanya saya .

“Kami masak saja,” jawab anak saya.

“Pinter,” jawab saya sambil tersenyum.

Saya mengambil sejumlah uang di dompet lalu saya berikan pada “anak lanang”.

“Beli tempe, tahu, sayur, lombok, tomat, jangan lupa telor,” kata saya. 

Setelah sedikit memberikan pesan yang lain-lain, bergegas saya menuju sepeda motor yang sudah siap di depan.

Sekitar jam sembilan pagi tiba-tiba sebuah pesan masuk lewat WhatsApp saya.

 Dari anak saya yang kecil. 

“Buk, bekal buat ibuk tak anter ya,” kata pesan itu.

Saya tersenyum, anak- anak tahu kalau saya sering lupa makan, makanya sampai dibuatkan bekal.

Bekal hari itu, dokumentasi pribadi

“Lho kok dibuatkan bekal barang, siapa yang masak?” tanya saya .

“Mas tadi masak, ini tinggal anter, sekalian ke kampus,” jawabnya.

Aih, saya sungguh terharu.

“Iya Le, sampai satpam ibuk di misscall ya,”

Singkat kata bekal sudah sampai ke tangan saya. Sesudah saya letakkan di meja, saya kembali mengajar. Jam sepuluh, ketika saat istirahat tiba, saya segera ke ruang guru untuk menikmati bekal tadi 

Kok ‘antep’ ya, pikir saya sambil membuka tas tempat bekal. Setelah bekal saya keluarkan, olala, ternyata memang diletakkan dalam tupperware besar. Tempat makan bundar dengan diameter kira-kira 25 cm dan ketebalan 5 cm itu penuh dengan makanan. 

Nasi, sambal goreng tempe tahu kecap dan oseng sawi. Hmm, pintar sekali.  Nasinya ditekan- tekan supaya padat sehingga muat nasi banyak. Ooh, ini yang membuat bekal terasa antep, pikir saya.

Ada empat ruang dalam Tupperware. Ruang paling besar diisi nasi, kedua dan ketiga diisi oseng tempe tahu dan sawi dan yang ke empat juga lauk, tapi bentuknya agak lain. 

Saya cermati benar- benar lauk tersebut . Warnanya kuning kecoklatan dengan bentuk persegi. Seperti nugget. Tapi bukan.. kalau nugget ini terlalu lembek..

Setelah saya teliti lagi, alamak, ternyata kue kabin yang bercampur dengan kuah kecap dari sambel goreng tempe tahu.

Kok aneh ya? Karena penasaran, saya segera whatsapp anak saya. “Le, terima kasih bekalnya ya.., enak,”

” He..he.., iya Buk, tadi di bekal juga ada kue kabin. Ibuk kan suka kabin. Buat camilannya..,”

Belum sempat bertanya, ternyata sudah dijelaskan tentang isi tupperware tadi. 

Lucu sekali. Seperti anak kecil saja. Dalam bekal diisi camilan pula. Rupanya ketika bekal diantar ke sekolah, Si Mas lupa pesan pada adiknya supaya berhati- hati membawanya, agar kuah sambel goreng kecap tidak bercampur dengan kabin.

Alhamdulillah sarapan yang lezat dengan bekal yang dikirimi anak lanang. Sekotak bekal yang dibuat dengan penuh cinta.. ada kabin kuah kecapnya pula…

Salam Kompasiana 

Matur Nuwun Gusti, Selalu Paring Rezeki

Diana membuka notes tebal di hadapannya. Benda yang selalu setia menemani hari-harinya. Notes coklat besar yang penuh berisi catatan pesanan kue dari para pelanggannya.

Matanya terus menjelajahi tulisan di tanggal-tanggal terakhir. Tiba-tiba pandangannya tertumbuk pada tulisan Bu Tejo cake marmer 8 untuk tanggal …

Deg…. “Mateng aku…, ternyata cake marmer nya besok diambil, padahal besok pesanan lumpur Mbak Miska harus jadi,” pikirnya.

“Kok bisa lupa se…,” pikirnya gemas.

Diliriknya jam dinding di atas sofa. Sudah menunjukkan pukul 11 malam. Jam segini baru saja ia selesai membersihkan dapur setelah sejak pagi tadi membuatkan kue kering kemasan untuk cindera mata sebuah acara pernikahan.

Ilustrasi memasak di dapur, sumber gambar PNG tree

Pikirannya langsung menerawang membayangkan stok terigu, kentang, telur dan gula dapurnya.

Setelah sedikit mereka-reka hitungan, Diana langsung bernafas lega. “Aman wes,” pikirnya. Cukup untuk membuat cake dan lumpur besok.

Diana menghembuskan nafas panjang. Badan rasanya lelah, tapi lega. Pesanan kuenya besok pagi diambil, berarti ada uang masuk. 

Ya, beberapa hari ini Yeni minta seragam baru karena roknya terlalu pendek. 

Maklumlah, anak usia SMP memang pertumbuhannya pesat. Sepertinya baru kemarin anak itu tampak mungil dengan seragam merah putihnya. 

Sekarang di tahun kedua SMP tiba-tiba saja badannya mekar dan tingginya hampir sama dengan ibuknya.

Diana memejamkan matanya. Besok pagi ia harus sudah mulai ‘umek’ lagi di dapur. Episode cake marmer dan kue lumpur. Cake diambil habis Maghrib, kue lumpur diambil Ashar. 

Perpaduan rasa lelah dan kantuk membuat matanya terasa kian berat.

Bunyi jam dinding seperti hipnotis yang pelan-pelan membawanya ke alam mimpi.

***

“Nduk, tolong belikan kardus besar, ” kata Diana pada Yeni, anak perempuan semata wayangnya. Hari sudah menjelang sore. Dapur begitu lekat dengan harum aroma kue.

Di meja makan, kue lumpur dan delapan marmer cake sudah tertata manis.

“Sebentar Buk,” jawab Yeni sambil terus memandang hapenya.

Diana memandang gemas. 

“Ayo ta..agak cepet.. sebentar lagi Mbak Miska ke sini, lumpurnya mau buat tahlilan,” tambahnya. 

Tanpa banyak kata Yeni langsung berangkat ke toko di seberang jalan.

“Mbak Diana.., assalamualaikum,” 

Sebuah suara terdengar begitu renyah menyapa.  Mbak Miska, sang pemilik suara langsung masuk rumah. Demi melihat kue lumpur yang ‘menul-menul’ di meja Mbak Miska berseru,

“Walah, cantiknya .. lumpurku.,” 

Diana yang sedang memasukkan kue lumpur dalam tenong menghentikan pekerjaannya sejenak. 

“Lha iya lah .. yang buat yo cantik kok…, ” katanya sambil tertawa.

“Lebih cantik yang pesen,” timpal Mbak Miska. Tawa keduanya kembali berderai.

Sepeninggal Mbak Miska Diana langsung menuju ke dapur. Sedapnya kopi yang dibuatkan Yeni langsung menggelitik hidungnya dan membangkitkan simpul-simpul syaraf ingatannya. 

Ya, ingatan pada kenangan lama yang membuatnya jadi seperti ini.

Hari- hari Diana selalu diwarnai dengan berbagai kesibukan membuat kue. Ya, kue dan kue. Putu ayu, donat,  cake , lapis, roti kukus tak henti-henti keluar dari dapurnya. 

Ilustrasi membuat kue, sumber gambar: PNG tree

Aroma dapurnya adalah wujud optimisme dalam rumahnya. Aroma yang menunjukkan bawa roda ekonominya terus berputar 

Semenjak berpisah dengan Tarno, suaminya,  Diana memutuskan untuk lebih menekuni usaha kuliner. Tepatnya usaha kue, berangkat dari kegemarannya memasak sejak masa sekolah.

KDRT, sebuah kata yang klise. Tapi itulah yang menyebabkan ia berpisah dengan suaminya. 

Bayangkan, siapa yang tahan jika tiap pulang kerja, wajah suami selalu sumpek, marah-marah, bahkan suka membanting berbagai barang yang ada di dekatnya?

Kemarahan Tarno kadang dengan alasan yang tidak jelas. Masalah pekerjaan, capek, dan yang terakhir ia mendengar cerita dari teman- temannya bahwa Tarno punya ‘simpanan’, di luar kota.

Ooh, makanya Mas Tarno sering tidak pulang dengan berbagai macam alasan, pikirnya.

Sebagai seorang wiraswasta yang mulai berjaya Tarno sering keluar kota dan mempunyai banyak koneksi di mana-mana. Kondisi tersebut akhirnya membuatnya ‘kecantol’ orang lain yang lebih cantik dari Diana tentunya.

Sakit hati Diana mendengarnya. Harga dirinya meronta. Sungguh, dikhianati seperti itu membuat stok kesabarannya habis. Emosinya memuncak, apalagi tatkala pulang dari kerja Tarno tiba-tiba marah- marah sambil membanting alat- alat dapur yang ada di sekitarnya.

Begitu Tarno meraih panci serbaguna yang ada di meja dan akan membantingnya, Diana langsung berteriak. “Stop, sudah cukup Mas..,tidak usah mbanting panci itu. Kreditannya belum lunas, kalau kamu sudah tidak suka sama aku, ‘buyar’ saja wes,” 

Ya, panci serbaguna, alat memasak yang sudah lama diimpikannya itu baru saja dibelinya dari PKK bulan kemarin.

Buyar. Mendengar kata itu Tarno seketika menghentikan tangannya dan  keluar rumah.

Diana menangis sambil memunguti barang pecah belah yang berserakan di lantai. Semua ambyar, seambyar hatinya.

Yeni yang sejak tadi bersembunyi di dalam kamar langsung berlari memeluk ibuknya.

Sejak hari itu Tarno semakin jarang pulang ke rumah dan proses perceraian antara keduanya terus dilakukan.

Setelah proses yang lumayan panjang, merekapun resmi bercerai. Diana begitu bersyukur. Ia merasa  lebih plong karena tidak selalu dikejar rasa takut akan amarah suaminya setiap hari.

Di satu sisi, secara ekonomi ia benar- benar harus mulai dari nol. Uang dari Tarno tidak pernah diberikan kepadanya dengan berbagai alasan. Tarno bahkan seperti lupa pada Yeni yang saat itu masih duduk di kelas tiga SD.

Sejak saat itu kebutuhan sehari-hari, bayar air, listrik dan sekolah Yeni menjadi tanggungan Diana.

Dalam kondisi seperti itu membuat kue menjadi satu- satunya harapan. Hobi yang yang agak lama ditinggalkannya, kini akan coba ditekuninya kembali.

Aneka kue, sumber gambar : Endeus TV

Dengan sedikit tabungannya Diana mengambil kursus membuat kue dan sesudahnya ia mulai berani menerima pesanan kue dalam berbagai varian. 

Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Karena ketekunannya, namanya semakin berkibar. Dalam berbagai event di kampung seperti tahlilan, khitanan juga pernikahan,  Diana mulai banyak menerima pesanan kue.

Selain itu Diana menjadi pemasok tetap di Toko Kue “Amanah”, satu- satunya toko kue di kampungnya. 

Kue donat buatannya sangat terkenal. Siapa yang tak kenal donat buatan Diana  yang  empuk, lezat juga cantik?

“Mbak Diana.., ambil marmer..,” sebuah suara langsung membuyarkan lamunan Diana. Bergegas, ia membuka pintu.

“Monggo Bu Tejo..,” katanya ramah.

Tanpa diperintah, Yeni langsung keluar membawakan dos-dos berisi cake marmer pada Bu Tejo. 

“Wiih… Ayune..,” kata Bu Tejo begitu membuka satu dos kue. Ia tampak begitu puas dengan cake marmer buatan Diana.

“Mbak , untuk Minggu depan pesen lagi ya… empat.. buat oleh-oleh besan di Jakarta,” tambah Bu Tejo sambil memberikan beberapa lembar uang pada Diana. 

Diana tersenyum senang, “Inggih, siap…apa sih yang tidak buat Bu Tejo..?”

“Bisa saja,” dengan gayanya yang kenes Bu Tejo berpamitan. 

Yeni masuk kamar. Rumah kembali terasa sepi.  Diana diam. Ia sungguh tak menyangka, dalam kondisi sulit, ternyata justru hobinya yang bisa menjadi penolong. Ia tidak bisa membayangkan, seandainya tak punya ketrampilan membuat kue, bagaimana nasib keluarga kecilnya?

Alhamdulillah…Terima kasih Gusti, selalu paring rezeki.. 

Cerpen ini dimuat di Kompasiana Sabtu 10082024

Wartawan Itu Bernama “Bude”

Sebuah sepeda motor besar berhenti di depan sekolah. Pengendaranya memakai helm kaca gelap dan kacamata hitam. Bergegas saya mendekatinya.

“Sekarang ya Bude?”

“Ayo Le, jawab saya sambil duduk di boncengan,”

Ya, sore itu, keponakan saya yang sedang kuliah di semester enam jurusan DKV mengajak saya untuk menghadiri pemeran karya yang di adakan di sebuah gedung di Universitas Negeri Malang.

Sumber gambar: posko memori

Pameran ini diisi karya para mahasiswa. Tujuannya adalah untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah mereka. Mata kuliah apa, saya lupa namanya, tapi yang jelas saya diajak ke sana untuk meliput.

Kata keponakan, tugas yang dilakukan ini harus dipublikasikan, dan begitu mendengar kata publikasi dia langsung ingat budenya.

Hobi Membaca, Menulis dan Kompasiana 

Semenjak berkenalan dengan Kompasiana, hobi membaca dan menulis saya kian menjadi. Mengapa? Dengan banyak membaca tulisan teman-teman, saya semakin terpacu untuk terus menulis.

Banyak orang hebat di Kompasiana, dan dari mereka saya banyak belajar bagaimana membuat tulisan yang berisi namun tetap enak dibaca.

Seiring berjalannya waktu, menulis bukan lagi sekedar kesenangan bagi saya, tapi juga kebutuhan. Karenanya sangat tidak enak kalau beberapa hari tidak menulis.

Akibatnya setiap mengikuti event tertentu, pasti akan saya jadikan tulisan. 

Sering menulis membuat saya ditarik menjadi penulis web sekolah. Tugas saya cukup datang di event sekolah,  menulis lalu upload di web. 

Barokah lain dari hobi menulis  adalah  saya jadi sering mendapat undangan dari teman untuk mengikuti event tertentu guna membuat semacam liputan. He..he…sok sok an jadi wartawan ini…

Dalam sebuah event , dokumentasi pribadi

Lalu berapa bayarnya? Tidak ada. Mendapat  ucapan terima kasih, melihat yang saya buatkan tulisan merasa senang saja sudah membuat hati saya ikut senang. 

Kadang saya menulis tentang rekreasi jamaah pengajian, acara jalan-jalan  bersama teman-teman, acara arisan juga acara pameran seperti yang saya lakukan sore itu.

Kami terus berjalan menuju lokasi pameran. Sepanjang kiri kanan jalan dipenuhi dengan berbagai dekorasi. Hingga akhirnya sampailah kami di pintu masuk. Setelah mengisi buku tamu kami pun masuk ruang pameran.

Jalan menuju ruang pameran, dokumentasi pribadi

Keponakan saya memperkenalkan saya pada teman-temannya. Rupanya beberapa dari mereka sudah mendapat cerita tentang saya. Sekilas saya dengar ada yang berbisik. “Bude, ya?”

Keponakan saya mengiyakan.

Saya terus berkeliling. Mungkin karena tahu bahwa tujuan saya ke situ adalah untuk meliput, tiap pertanyaan yang saya ajukan selalu dijawab dengan lengkap. 

Bertanya ke sana-sini membuat pembicaraan di antara kami tidak canggung lagi. Dan dengan akrab mereka memanggil saya “Bude”.

Ah ya, tulisan tentang liputan ini saya upload di Kompasiana dengan judul “Memorabilia”, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil

Suatu saat ketika kuliahnya hampir berakhir, keponakan saya harus mengadakan pameran lagi. 

“Bude, saget liputan malih?” 

“Oh, bisa Le .. kapan?”

Setelah menentukan hari dan tanggalnya, siang itu ketika jam istirahat saya dijemput dari sekolah untuk kembali meliput pameran karyanya. 

Gajah Mada, Umakarta, dokumentasi pribadi

Kali ini karyanya mengangkat tema Mahapatih Gajah Mada. Jadi ceritanya ia membuat berbagai merchandise yang dikaitkan dengan kebesaran Gajah Mada sebagai tugas akhir kuliahnya.

Sama dengan liputan sebelumnya, di lokasi pameran wajah- wajah ramah menyapa saya. “Bagaimana kabarnya Bude?” 

He..he… Saya membalas sapaan mereka dengan gembira. Senang sekali rasanya bertemu lagi dengan mereka. Kami berbincang sejenak, lalu saya mulai mengamati karya- karya yang dipamerkan sambil beberapa kali memotret.

Jika dihitung selama keponakan kuliah ada empat kali saya diminta meliput pamerannya. Ada yang di UM, Dewan Kesenian Malang (DKM) juga Malang Creative Centre (MCC). 

Yang paling unik adalah ketika saya meliput di MCC. Mengapa? Pameran dikemas dengan gaya kekinian. Peserta pameran banyak yang mengenakan cosplay. 

Bersama Naruto, dokumentasi pribadi

Saya yang tidak ikut bercosplay jadi tampak aneh. Bahkan ketika antre lift, di sekitar saya adalah Naruto dan teman-temannya.

Bukan sekedar hobi, gara- gara  menulis saya mempunyai banyak kesempatan untuk mendatangi berbagai event, memotret dan menuliskannya. 

Menulis membuat saya mendapatkan sebuah  profesi baru, yaitu ‘wartawan’. Wartawan yang siap membantu publikasi bagi  keponakan jika memerlukan. 

Ya, wartawan itu bernama Bude 😃

Tulisan ini dimuat di Kompasiana 01082024