Mengunjungi Jemaah yang Baru Pulang Haji, Sebuah Tradisi untuk Silaturahmi dan Motivasi

Berkunjung ke rumah sesama muslim yang baru pulang dari Ibadah haji adalah sebuah tradisi yang sering kita lakukan sejak dulu. Hal yang sangat menyenangkan, apalagi jika yang berhaji adalah famili ataupun teman dekat kita.  

Seperti yang kami lakukan pada hari Selasa (2/7) kemarin ketika orang tua teman kami (Ibu Ahfi)  baru pulang dari Ibadah Haji.

Berlima kami berangkat dari sekolah pagi itu. 

hujan gerimis yang mengguyur kota Malang  tidak mengurangi semangat kami untuk meneruskan perjalanan ke daerah Wagir Malang.

Kedatangan kami disambut dengan begitu hangat. Kami duduk di karpet. Berbagai macam kue terhidang manis  menemani obrolan yang mengalir tiada henti. 

Obrolan tentang apa saja, yang paling banyak adalah tentang pengalaman beliau yang berhaji selama di tanah suci, dan tentu saja disertai cerita yang kadang lucu namun sarat dengan pelajaran yang bermakna.

Tentang Tradisi Mengunjungi Orang yang Pulang dari Ibadah Haji

Suasana silaturahmi, dokumentasi pribadi

Sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia jika ada orang saudara, tetangga atau kenalan yang baru pulang dari menunaikan ibadah haji maka kita akan bersilaturahmi kepadanya.

Ada bermacam-macam tujuan bersilaturahmi, bisa melepas rindu, ikut berbahagia dan meminta doa agar bisa segera ‘ketularan’ bisa melaksanakan ibadah haji.

Jamaah haji yang baru tiba tentunya menyambut kedatangan tamu yang hadir dengan penuh sukacita. 

Biasanya akan dihidangkan juga makanan khas dari Arab seperti kurma, kismis, dan yang lain. Satu yang tak boleh dilupakan adalah air zamzam.  Ya, meskipun disuguhkan dalam gelas mungil, kehadiran air zamzam seolah penyambung kerinduan dan harapan para tamu untuk bisa segera mengunjungi tanah suci.

Berfoto sebelum pulang, dokumentasi pribadi

Dari NU Online dalam artikel berjudul Tradisi Menyambangi Orang Baru Pulang Haji, dasar dari mengunjungi orang yang baru pulang dari ibadah haji adalah dari kitab Hasyiyah Qaliyubi yang ditulis oleh Syihabuddin al-Qaliyubi salah satu ulama kenamaan dari Madzhab Syafi’i.

Diterangkan dalam kitab itu bahwa  bagi orang yang berhaji dianjurkan mendoakan atau memintakan ampunan kepada orang yang tidak berhaji meskipun orang tersebut tidak memintanya.

Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak berhaji disunahkan untuk meminta didoakan agar dosanya diampuni. Para ulama menyebutkan bahwa waktunya sampai 40 hari dihitung sejak kedatangannya.

Hujan di luar masih terus turun. Di tengah gayengnya perbincangan, semangkuk bakso disajikan dan membuat suasana di antara kami terasa semakin hangat.

Sekitar pukul setengah satu hujan mulai reda. Setelah didoakan oleh tuan rumah, kami segera berpamitan dan melakukan perjalanan kembali ke sekolah. 

Sungguh sebuah kunjungan yang indah. Kunjungan kali ini bukan hanya bermakna silaturahmi namun juga memberikan motivasi bagi kami agar segera bisa berkunjung ke Tanah Suci guna melaksanakan ibadah haji.

Keterangan: foto-foto by Aqilah

Yuli Anita

Leave a Comment

Your email address will not be published.

11 views