Categories
Serba-serbi

Nasehat Baik di Balik Kelezatan Makanan Tradisional “Tetel”

Matahari pagi bersinar lembut. Langit begitu cerah. Di hari ketiga lebaran, kami bersama sama berangkat dari Mojosari menuju Babat Lamongan untuk bersilaturahmi.

Setelah perjalanan yang cukup lama (kira kira dua jam) sampailah kami di Babat. Layaknya lebaran pertemuan demikian hangat dan akrab. Anak anak kecil langsung bertemu, kenal dan main bersama , sementara para orang tua mengobrol bersama tentang apa saja.

Hal yang sangat menarik, ketika kami berpamitan pulang, tiba- tiba tuan rumah berkata, ” Kami sudah buatkan tetel buat oleh oleh, Bu,” 

Aha, tetel… Makanan yang sudah lama sekali tidak kami jumpai. Ya, tetel hanya kami dapati saat ada hari- hari istimewa saja.

Silaturahmi Lebaran, dokumentasi pribadi

“Wah, istimewa ini,” 

“Tambah enak kalau digoreng, Bu,”

“Aih, mantap, tetel goreng sembari ngopi,” jawab saya sambil tersenyum 

Tentang Tetel

Tetel sebelum digoreng, dokumentasi pribadi

Tetel atau jadah  adalah makanan tradisional yang terbuat dari ketan, kelapa parut, sedikit garam dan pandan.

Cara membuatnya adalah sebagai berikut:

1. Cuci beras ketan rendam semalam,  lalu tiriskan sampai bener-benar  tiris, 

2. Kukus beras ketan dengan daun pandan kurang lebih 30 menit.

3. Keluarkan beras ketan, taruh di baskom besar kemudian campur dengan kelapa parut dan garam sampai benar-benar tercampur rata

4.Kukus lagi kira kira 50 menit atau sampai matang.

5. Masukkan ke dalam baskom besar yang sudah dialasi daun pisang lalu tumbuk sampai lumat dan halus, kemudian boleh dicetak atau dibungkus daun pisang seperti lontong.

Tetel bagi masyarakat Jawa adalah makanan yang harus ada pada saat-saat istimewa, seperti pernikahan ataupun silaturahmi seperti sekarang ini. Mengapa? Ada filosofi yang mendalam dari makanan yang tampilannya tampak begitu bersahaja ini.

Tetel dalam bungkusan daun pisang, dokumentasi pribadi

Tetel terbuat dari beras ketan yang bersifat lengket antara satu dan yang lain. 

Ketan dalam masyarakat Jawa bermakna Ngraketne iketan atau mempererat ikatan (persaudaraan).

Diharapkan dengan hidangan ini kita selalu mengingat akan  kerukunan dengan saudara atau sesama kita.

Pembuatan tetel yang memerlukan waktu yang panjang, mulai dari meniriskan, memasak, menghaluskan hingga mencetak atau membungkus menunjukkan kesabaran dan ketelatenan. Hal tersebut menunjukkan kita harus sabar dan gigih dalam perjuangan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam tetel ada kelapa yang mengandung santan atau santen (dalam bahasa Jawa). Hal ini  bermakna nyuwun pangapunten (mohon maaf)  atas segala kesalahan yang diperbuat.

Ya, manusia adalah tempatnya salah. Karenanya di hari yang begitu istimewa ini mari  saling meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan.

Tetel bisa dihidangkan dengan dipotong -potong langsung disajikan di piring, atau digoreng terlebih dahulu, seperti yang saya lakukan sore ini.

Tetel goreng dan kopi, hidangan yang sangat nikmat, sumber gambar: jadah_ketan

Sepiring tetel ditemani segelas kopi  terasa begitu nikmat. Tetel bukan hanya berbicara tentang makanan, tetapi ada banyak nasehat baik yang terkandung dari makanan yang empuk, lezat dan gurih ini.

Categories
Cerita

Ngopi dalam Pandangan Filosofi Jawa

Ibarat secangkir kopi, kehidupan berisi hal yang pahit dan manis yang semua disatukan dalam kehangatan. (Quotes)

“Sudah ngopi?”

Ajakan yang begitu hangat dan paling saya sukai. Ngopi berarti duduk , rehat sebentar dari segala kesibukan yang kadang membuat suntuk.

Ngopi berarti ngobrol bersama, tertawa untuk sekedar melepas endorphine dari otak agar kita bisa tertawa bahagia dan kuat menghadapi kenyataan. Aha…

Tidak harus di cafe untuk ngopi. Di sekolah, rumah, atau di mana saja kita bisa ngopi bareng. Karena sesederhana apapun kopi ia tetap enak untuk dinikmati.

Sesederhana apapun kopi, ia tetap enak untuk dinikmati, dokumentasi pribadi

Karena ngopi kental dengan nuansa akrab dan hangat maka kedai-kedai tempat ngopi didesain dengan suasana hangat. 

Suasana dimana kita bisa ngobrol dan bercengkerama tanpa merasa terganggu dengan kedatangan pengunjung lain. 

My Kopi O, Jl. Tenes, dokumentasi pribadi

Lihatlah suasana di Kawisari Kayutangan, My Kopi O, Kho Kopitiam Kayutangan ataupun Kopi Jaya..(kedai-kedai tersebut adalah kedai yang pernah saya kunjungi bersama teman teman pecinta kopi). Nuansa yang langsung bisa dirasakan begitu memasukinya adalah hangat dan akrab.

Meski tidak semua pengunjung kedai kopi memesan kopi (ada yang pesan jahe, teh, serai dan lain lain), namun istilah  ‘ngopi’ tidak pernah tergantikan.

Jarang-jarang kita dengar istilah ngeteh apalagi njahe..He..he…

Ditemani kopi, dokumentasi pribadi

Ada banyak manfaat dari ngopi. Menurut ilmu kesehatan, kandungan kafein dalam kopi dapat membantu konsentrasi, meningkatkan kewaspadaan, memperbaiki suasana hati serta mengurangi risiko depresi. 

Selain itu jurnal Practical Neurology menjelaskan bahwa manfaat minum kopi dapat mencegah penurunan fungsi kognitif otak, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.

Ditemani kopi, dokumentasi pribadi

Di antara berbagai manfaat itu tahukah pembaca , bahwa ada filosofi Jawa yang sangat menarik tentang Ngopi? Filosofi yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan. Apa itu?

Yuk, mari kita simak..

1. Ngopi artinya ‘ngolah pikir’. Mengolah pikiran. Kopi yang pahit bisa diolah menjadi lebih manis. Maknanya dalam hidup kadang ada banyak masalah, makanya kita harus pandai-pandai berpikir agar masalah itu bisa terpecahkan dan menjadi pelajaran manis bagi kita. 

2. Sepahit-pahitnya kopi, masih bisa dibuat manis (legi). Legi mengandung arti ‘legowo ning ati’ atau hatinya berlapang dada. Ikhlas dalam menerima semua lakon kehidupan. 

3. Agar menjadi manis maka kopi perlu ditambah gula atau gulo. Gula terbuat dari tebu. Gulo artinya ‘gulangane roso’. 

Gulangane roso bermakna bahwa kita harus bisa mengelola perasaan dengan baik untuk menghadapi segala masalah kehidupan. 

3. Tebu artinya ‘anteb ning kalbu’ yaitu mantab hatinya. Ketetapan dan kemantapan hati membuat kita bisa berpikir lebih jernih dalam menghadapi segala masalah kehidupan. 

4. Kopi biasanya disajikan dalam cangkir. Cangkir artinya ‘nyancangne pikir’ (menguatkan pikiran). Kuatkan pikiran untuk menghadapi masalah yang datang silih berganti.

5. Orang Jawa mengatakan minuman kopi adalah wedang kopi.  Wedang artinya ‘wejangan sing marahi padang’. Artinya mari saling memberikan nasehat yang dapat menentramkan hati. 

6. Sebelum disajikan, wedang kopi harus diaduk atau diudheg. Udheg adalah ‘usahane ojo nganti mandheg’ atau berusaha jangan sampai berhenti. 

7. Mengaduk kopi selalu menggunakan sendok (ya iya lah… masa garpu). Sendok bermakna ‘sendhekno marang sing nduwe kautaman’ yaitu pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. 

8. Setelah diaduk, ditunggu sebentar supaya panas wedang kopi berkurang atau rodo adem.

Adem artinya ‘Ati digowo Lerem’ yaitu hati menjadi tenang. 

9. Yang terakhir, jika sudah adem tinggal diseruput.  Seruput, maknanya ‘sedoyo rubedo bakal luput’. Maksudnya semoga semua terhindar dari segala godaan.

Ditemani kopi, dokumentasi pribadi

Nah, itulah makna ngopi menurut falsafah Jawa. Menarik bukan? Ya, khasnya orang Jawa selalu mengambil pelajaran dari hal- hal ataupun penamaan benda-benda sederhana di sekitar kita. 

Bagaimana? Sudahkah anda ngopi hari ini? Dari semua filosofi itu ada satu singkatan kekinian yang sangat mengena tentang kopi. Ya, kopi adalah minuman yang dibutuhkan Ketika Otak Perlu Inspirasi. Ahay….

Categories
Serba-serbi

Hangatnya Semangkuk Kolak dan Berbagai Filosofinya

Ada yang istimewa di hari Jumat pagi itu. Ya, selepas doa bersama dan istighotsah yang dilaksanakan seluruh warga sekolah, ada kesibukan tersendiri di dapur Bintaraloka.

Memotong waluh, dokumentasi Bu Ami
Memasak kolak, dokumentasi pribadi

Tampak beberapa guru mengupas dan memotong pisang, nangka dan waluh. Sementara di kompor, satu panci besar santan sedang dimasak.

Aha, rupanya sedang ada kesibukan membuat hidangan istimewa berupa kolak.

Tentang kolak

Santan , pisang, dan daun pandan direbus bersama, dokumentasi pribadi


Dari berbagai sumber didapatkan keterangan bahwa kolak berasal dari kata khalik yang artinya pencipta.

Zaman dulu para wali menggunakan adat dan kebiasaan setempat sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ada banyak hidangan yang dipakai sebagai media penyebaran agama. Hidangan hidangan tersebut mempunyai filosofi tertentu dan kolak adalah salah satunya.

Nama kolak yang berasal dari kata khalik mengandung makna bahwa kita harus selalu mengingat pada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Pembuatan kolak sendiri tidak begitu rumit. Pertama, siapkan bahan berupa santan kelapa, gula merah atau gula putih, daun pandan dan isian kolak. Isi bisa bermacam-macam sesuai selera. Yang digunakan sebagai isi siang itu adalah waluh, pisang dan nangka.

Kedua, rebus semua bahan jadi satu , kecuali nangka. Ya, nangka dimasukkan terakhir saat santan sudah mendidih supaya aromanya tidak hilang.

Jika sudah mendidih, masukkan kolak ke dalam mangkuk dan siap untuk dinikmati.

Apa filosofi lain dari kolak?

Kolak sudah hampir matang, dokumentasi pribadi

Kolak selalu menggunakan santan (santen dalam bahasa Jawa). Santen bermakna pangapunten atau mohon maaf. Artinya sebagai sesama manusia kita harus bisa saling memaafkan karena manusia tempatnya salah. Kita sering melakukan kesalahan pada sesama baik disengaja maupun tak disengaja.

Dalam kolak sering digunakan umbi-umbian atau polo pendem. Maknanya jika sudah saling memaafkan mari kita pendam segala kesalahan yang sudah dilakukan.

Kolak selalu mempunyai rasa manis, maknanya dengan selalu mengingat pada Sang Khalik, saling memperbaiki hubungan dengan sesama manusia semoga hidup kita akan terasa manis.

Hmm, filosofi indah dari sebuah hidangan kolak. Dan ups… Ternyata kolak sudah matang dan siap dinikmati.

Siap untuk dinikmati , dokumentasi pribadi

Mari kita nikmati hangatnya semangkuk kolak lengkap dengan keindahan filosofinya…. 🙂

Categories
Serba-serbi

Rujak Manis Tunjungan Plaza dan Filosofinya

Apa yang terbayang dalam benak pembaca ketika mendengar kata rujak? Hmm, ada yang membayangkan rasa manis, segar bahkan pedas. Ya, rujak adalah jenis makanan khas Indonesia yang mempunyai ciri khas di tiap daerahnya.

Dalam perjalanan ke pernikahan Mas Putera di Tunjungan Surabaya, rombongan Bapak Ibu guru SMP Negeri 3 Malang mampir lagi ke Tunjungan Plaza. Wow, ini adalah kunjungan kedua rombongan Bintaraloka ke tempat yang sama.

Setelah berkeliling Tunjungan Plaza, kamipun meneruskan perjalanan ke Rawon Setan yang lokasinya tidak jauh dari situ.

Dalam perjalanan, langkah kami berhenti di depan sebuah gerobak yang berisi penuh buah-buahan. Aha, ternyata ada penjual rujak manis di sana.

Penjual rujak manis dekat Tunjungan Plaza, dokumentasi pribadi
Antre membeli rujak, dokumentasi pribadi

Beberapa teman langsung memesan rujak manis yang diracik dalam kemasan mika.

Melihat buah-buahan yang akan diolah menjadi rujak manis membuat ingatan saya langsung terlempar ke masa lalu.

Di masa saya kecil, rujakan adalah yang sangat menyenangkan. Rujakan biasanya dilakukan di hari libur atau pulang sekolah bersama teman-teman.

Dalam acara rujakan biasanya ada bagi-bagi tugas di antara kami. Ada yang bertugas membawa mentimun, mangga, jambu, belimbing, cabe , juga gula merah.

Sesudah berkumpul (biasanya di teras atau di kebun) semua bahan diolah sambil ngobrol gayeng di atas tikar yang disediakan.

Ada yang mengupas dan mengiris buah- buahan, ada pula yang meracik bumbu.

Makannya bagaimana? Langsung dimakan bersama (kembul). Wah, bisa dibayangkan… betapa hangat dan seru rasanya.

Rujak dan Sejarahnya

Rujak manis, sumber gambar: CaraMembuat.id

Menurut Sejarawan Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Fadly Rahman, secara etimologi kata rujak adalah turunan dari kata rurujak yang ditemukan di dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno di masa abad ke 10.

Ini menunjukkan bahwa rujak sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Di masa kolonial bahkan rujak dianggap sebagai makanan para bangsawan, karena komposisinya menyerupai salad orang Eropa.

Indonesia begitu kaya akan varian rujak. Ada bermacam-macam rujak yang kita kenal, misalnya rujak manis, rujak cingur, rujak gobet, rujak bebeg, bahkan rujak soto.

Rujak cingur, sumber gambar: cookpad.com

Dari semua rujak tersebut, yang paling sering dijumpai adalah rujak manis. Rujak manis atau salad Jawa ini memang spesial. Pembuatannya tidak sulit apalagi jika dikerjakan bersama-sama, dan rasanyapun cocok untuk lidah semua orang.

Buah dari rujak manis bermacam -macam. Bisa buah apa saja yang mudah didapatkan, misalnya nanas, mentimun, mangga muda, pepaya, kedondong dan lain-lain.
Supaya lebih mantap makannya ditambah dengan irisan tahu dan juga kerupuk.. Wah ditanggung mak nyus pokoknya..

Bagaimana dengan bumbunya? Kombinasi gula merah, asam Jawa, cabe, kadang disertai dengan tumbukan kacang dan bawang goreng membuat rasa rujak terasa begitu komplit. Ada rasa segar, asam, gurih, sedap terangkum dalam rasa manis yang begitu kental.

Ada sebuah filosofi menarik yang terkandung dalam sebuah hidangan rujak manis.

Rujak manis yang terdiri dari berbagai macam buah dengan aneka rasa, memberikan pelajaran bahwasanya hidup bisa memiliki beraneka cerita. Ada suka maupun duka, tangis maupun tawa.

Namun jika kita kaji lebih dalam , semua peristiwa itu mengandung pelajaran yang begitu manis di dalamnya.

Seperti halnya rujak, dimana segala macam buah beraneka rasa terangkum jadi satu dalam manis dan sedapnya gula merah.

Aha, bagaimana pendapat pembaca? Salam rujak manis..😊