Rujak Manis Tunjungan Plaza dan Filosofinya

Apa yang terbayang dalam benak pembaca ketika mendengar kata rujak? Hmm, ada yang membayangkan rasa manis, segar bahkan pedas. Ya, rujak adalah jenis makanan khas Indonesia yang mempunyai ciri khas di tiap daerahnya.

Dalam perjalanan ke pernikahan Mas Putera di Tunjungan Surabaya, rombongan Bapak Ibu guru SMP Negeri 3 Malang mampir lagi ke Tunjungan Plaza. Wow, ini adalah kunjungan kedua rombongan Bintaraloka ke tempat yang sama.

Setelah berkeliling Tunjungan Plaza, kamipun meneruskan perjalanan ke Rawon Setan yang lokasinya tidak jauh dari situ.

Dalam perjalanan, langkah kami berhenti di depan sebuah gerobak yang berisi penuh buah-buahan. Aha, ternyata ada penjual rujak manis di sana.

Penjual rujak manis dekat Tunjungan Plaza, dokumentasi pribadi
Antre membeli rujak, dokumentasi pribadi

Beberapa teman langsung memesan rujak manis yang diracik dalam kemasan mika.

Melihat buah-buahan yang akan diolah menjadi rujak manis membuat ingatan saya langsung terlempar ke masa lalu.

Di masa saya kecil, rujakan adalah yang sangat menyenangkan. Rujakan biasanya dilakukan di hari libur atau pulang sekolah bersama teman-teman.

Dalam acara rujakan biasanya ada bagi-bagi tugas di antara kami. Ada yang bertugas membawa mentimun, mangga, jambu, belimbing, cabe , juga gula merah.

Sesudah berkumpul (biasanya di teras atau di kebun) semua bahan diolah sambil ngobrol gayeng di atas tikar yang disediakan.

Ada yang mengupas dan mengiris buah- buahan, ada pula yang meracik bumbu.

Makannya bagaimana? Langsung dimakan bersama (kembul). Wah, bisa dibayangkan… betapa hangat dan seru rasanya.

Rujak dan Sejarahnya

Rujak manis, sumber gambar: CaraMembuat.id

Menurut Sejarawan Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Fadly Rahman, secara etimologi kata rujak adalah turunan dari kata rurujak yang ditemukan di dalam naskah teks Prasasti Jawa Kuno di masa abad ke 10.

Ini menunjukkan bahwa rujak sudah ada di Indonesia sejak zaman dahulu kala.

Di masa kolonial bahkan rujak dianggap sebagai makanan para bangsawan, karena komposisinya menyerupai salad orang Eropa.

Indonesia begitu kaya akan varian rujak. Ada bermacam-macam rujak yang kita kenal, misalnya rujak manis, rujak cingur, rujak gobet, rujak bebeg, bahkan rujak soto.

Rujak cingur, sumber gambar: cookpad.com

Dari semua rujak tersebut, yang paling sering dijumpai adalah rujak manis. Rujak manis atau salad Jawa ini memang spesial. Pembuatannya tidak sulit apalagi jika dikerjakan bersama-sama, dan rasanyapun cocok untuk lidah semua orang.

Buah dari rujak manis bermacam -macam. Bisa buah apa saja yang mudah didapatkan, misalnya nanas, mentimun, mangga muda, pepaya, kedondong dan lain-lain.
Supaya lebih mantap makannya ditambah dengan irisan tahu dan juga kerupuk.. Wah ditanggung mak nyus pokoknya..

Bagaimana dengan bumbunya? Kombinasi gula merah, asam Jawa, cabe, kadang disertai dengan tumbukan kacang dan bawang goreng membuat rasa rujak terasa begitu komplit. Ada rasa segar, asam, gurih, sedap terangkum dalam rasa manis yang begitu kental.

Ada sebuah filosofi menarik yang terkandung dalam sebuah hidangan rujak manis.

Rujak manis yang terdiri dari berbagai macam buah dengan aneka rasa, memberikan pelajaran bahwasanya hidup bisa memiliki beraneka cerita. Ada suka maupun duka, tangis maupun tawa.

Namun jika kita kaji lebih dalam , semua peristiwa itu mengandung pelajaran yang begitu manis di dalamnya.

Seperti halnya rujak, dimana segala macam buah beraneka rasa terangkum jadi satu dalam manis dan sedapnya gula merah.

Aha, bagaimana pendapat pembaca? Salam rujak manis..😊

Yuli Anita

Leave a Comment

Your email address will not be published.

15 views