Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

Anita Math >> Cerita >> Ribuan Langkah dan Kenangan di Singapura

“Ibuk kuat jalan agak jauh?” tanya anak saya . Ketika itu kami dalam perjalanan menuju Stasiun MRT Bencoolen. Sebuah stasiun yang paling dekat dari hotel kami.

“Wah ngenyek kamu Le, ibuk tiap hari jalan lho.. minimal 4000 langkah,” kata saya sambil tertawa diikuti anak saya.

Tapi benar lho. Setiap hari saya selalu upayakan jalan, jalan dan jalan. Menurut rekomendasi dari berbagai sumber idealnya satu hari kita berjalan sekitar 10.000 langkah. Tapi saya tidak sampai sebanyak itu,  sekuatnya saja, yang penting gerak terus. Setiap hari jalan dari ruang guru, perpustakaan dan kelas-kelas total bisa mencapai hampir 4000 langkah.

Jalan kaki. Nah, ternyata aktivitas satu ini banyak sekali kami lakukan di Singapura. Ya, kemana-mana kami banyak jalan atau naik MRT. Di samping murah, nyaman kami juga lebih banyak waktu untuk berbincang bincang.

Banyak berjalan kaki di Singapura, dokumentasi pribadi

Berjalan tidak terasa melelahkan karena banyak sekali pejalan kaki di sini. Tata kota yang bersih dan nyaman membuat jalan kaki terasa mengasyikkan. Sambil ngobrol kami bisa melihat pemandangan di sekitar kami.

“Kemana kita hari ini?” tanya saya sambil terus melangkah.

“Kita ke stasiun, lalu naik MRT arah Bayfront,” jawab anak saya sambil membuka map di HP nya.

Ya, hari itu kami akan menuju kawasan Marina Bay, sebuah tempat wisata yang sangat terkenal di Singapura.

Melihat map di Garden Bay, dokumentasi pribadi

Di stasiun Bencoolen kami segera naik MRT. Setelah beberapa pemberhentian sampailah kami di Bayfront, sebuah stasiun dekat area Marina Bay.

Pagi di Marina Bay terasa begitu segar. Matahari bersinar cerah. Dari kejauhan pemandangan teluk yang berwarna biru tampak begitu indah. Airnya beriak lembut diterpa angin pagi. Marina Bay Sands berdiri megah dengan tiga tiangnya yang menjulang, dan dibagian atasnya dihias oleh Sands Sky Park, sebuah kapal yang melayang di angkasa.

Pagi di Marina Bay, dokumentasi pribadi

Di sekelilingnya taman hijau Gardens by the Bay menawarkan pemandangan yang tak kalah menakjubkan. Supertree Grove, pohon-pohon baja raksasa yang dililit tanaman hidup berdiri perkasa dengan dihiasi kicauan  burung di sekitarnya. Banyak orang yang berolahraga raga atau berjalan- jalan seperti yang kami lakukan pagi itu.

Pohon raksasa di Marina Bay, dokumentasi Zahri

 Di hari sebelumnya sebenarnya kami sudah datang ke Kawasan Telok Ayer yang berada di seberang Marina Bay. Jadi pagi itu, dari kejauhan kami bisa memandang kawasan Telok Ayer dari Marina Bay.

Sands Sky Park di malam hari, dokumentasi Zahri

Kawasan ini benar-benar hidup ketika senja tiba. Saat matahari mulai terbenam, kota mulai bercahaya. Lampu-lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Central Business District mulai bersinar, menciptakan kerlip gemerlap di atas air. 

Perahu yang berjalan di atas air sambil membawa para wisatawan membuat pemandangan terasa begitu syahdu. 

Singapore Flyer, dokumentasi Zahri

Dari kejauhan tampak Singapore Flyer berdiri perkasa. Singapore Flyer adalah sebuah bianglala raksasa setinggi 165 meter yang dengan wahana ini kita bisa melihat  pemandangan 360 derajat kota Singapura, termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia saat cuaca cerah. 

Di antara berbagai bangunan yang ada, tampak Merlion berdiri tegak menjadi ‘penjaga’ dan menyemburkan air dari mulutnya dengan tenang. Merlion seolah saksi perpaduan antara mitos dan modernitas yang ada di Marina Bay.

Di sekitar patung Merlion, dokumentasi pribadi

Tiga hari di Singapura membuat kami semakin rajin berjalan kaki. Aplikasi penghitung langkah di HP saya menunjukkan angka lebih dari 10 ribu langkah tiap harinya.

Aih, jalan kaki benar benar menjadi aktivitas yang sangat menyenangkan, apalagi bersama orang tersayang.

Sepulang jalan- jalan saya langsung sholat, selonjor di hotel sambil ngobrol dan ngeteh bersama anak saya.

“Ibuk besok Minggu dijemput jam berapa?”sebuah notif pesan masuk di WhatsApp saya. Dari anak saya di Malang. Saat itu hari Sabtu, hari ketiga saya di Singapura.

“Menurut rencana pesawat tiba di Juanda jam sembilan , Le,”

“Baik, besok kami tunggu di Juanda,” jawabnya lagi.

Malam hari kami segera packing- packing. Ya, semanis apapun perjalanan, semua harus berakhir. Besok dengan pesawat pukul setengah delapan saya akan terbang ke Juanda sementara anak saya langsung kembali ke Tokyo.

“Ibuk jaga kesehatan ya, jangan lupa olah raga, nanti kita jalan-jalan lagi,” kata anak saya di bandara.

“Iya Le, baik-baik di negeri orang, jaga diri, jangan lupa sholat,” kata saya terharu.

Sore di Telok Ayer, dokumentasi pribadi

Ketika jam menunjukkan pukul tujuh lebih kami berpisah karena gate kami berbeda. Ada haru yang terasa dalam hati. Sungguh, perjalanan ini sangat memukau , menyenangkan dan mengharukan. Tuhan Maha Baik. Dia telah memberikan kesempatan pada saya untuk melakukan perjalanan yang tak pernah saya bayangkan.

Di balik keramaian bandara Changi yang tak pernah tidur, kami pun melangkah menuju destinasi masing-masing. Sebelum masuk pesawat saya sempatkan melihat aplikasi penghitung langkah kaki di HP. Lima ribu langkah lebih untuk pagi ini. 

Selamat tinggal, Singapura. Terima kasih telah menjadi saksi betapa Tuhan menghadirkan keajaiban dalam bentuk pertemuan ibu dan anak yang begitu dirindu. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan untuk bertualang lagi di hari-hari mendatang.

Salam jalan-jalan…

Yuli Anita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post

“Hidup Pak Bejo..!”

Mbak Sur menuju rumah dengan wajah ceria. Kupon berwarna hijau muda dikipas- kipaskannya. Sesekali senandung…

Bapak dan Gulai Terlezat di Dunia

Membaca topik pilihan Kompasiana tentang makanan berempah ingatan saya langsung tertuju pada jenis makanan satu…

Wartawan Itu Bernama “Bude”

Sebuah sepeda motor besar berhenti di depan sekolah. Pengendaranya memakai helm kaca gelap dan kacamata…