Cerpen Anak-Anak Ramadhan: Gara-Gara Capung

Mentari bersinar begitu terik. Kami bersandar di bawah pohon mangga di tengah lapangan kampung. Tempat favorit kami. Teduhnya pohon mangga yang rimbun membuat suasana panas tidak begitu terasa.

Hari ini lelah sudah kami bertualang. Kami adalah trio Yayan, Bobi dan aku yang kemana -mana selalu bersama. Di mana ada Yayan pasti di situ ada aku dan Bobi.

Bermain bertiga membuat  hari-hari selalu mengasyikkan. Meski kami tahu, orang-orang kampung menganggap salah satu di antara kami, yaitu Yayan,  nakal dan sulit diatur.

Barangkali karena Yayan hanya tinggal berdua dengan ibunya. Bapak Yayan sudah lama meninggal. Ibu Yayan, Bu Surti adalah seorang penjahit. Sehari-hari beliau selalu sibuk dan akhirnya Yayan menyibukkan diri sendiri dengan main tiada henti.

Karena  tak kenal waktu itulah orang kampung memberinya sebutan anak nakal. ‘Kloyongan‘ saja kata para orang tua kami. Saat habis ashar, di mana kami semua harus mengaji, Yayan tetap bermain hingga menjelang Maghrib baru pulang. Entah kemana saja anak itu.

Karena itu sedapat mungkin orang tua selalu mencegah kami bermain dengan Yayan.
Kloyongan saja, tidak tahu waktu , nanti!” begitu selalu kata ibuk mengingatkan aku ketika Yayan tampak menungguku di depan rumah.

Ah, ibuk tidak tahu asyiknya sih… Yayan selalu bisa membuat sesuatu yang biasa jadi istimewa, begitu bisik hatiku.

Ya, membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa adalah keahlian Yayan.

Pernah kami bermain di sungai mencari ikan kecil-kecil. Kami menamakannya ikan cemplu. Dengan berbekal plastik,  berjam- jam kami bermain di sungai dan bergurau hingga menjelang Ashar.

Tidak puas hanya menempatkannya di plastik, Yayan pulang mengambil ember dan kembali ke sungai. Jadilah kami hari itu berlomba mencari ikan cemplu dan memasukkannya ke dalam ember.

Kami baru berhenti bermain tatkala salah satu dari kami, Anto, kesurupan. Tiba-tiba saja Anto bicara tak tentu arah sambil bertingkah liar. Kami bahkan ditantang berkelahi satu- satu, hingga kami begitu takut dibuatnya.

Segera kami dibantu orang kampung untuk menenangkan Anto. Menurut Mbah Paijo, ‘orang pintar’ di kampung kami, ternyata Anto  ‘kemasukan’, gara- gara kami bergurau dan tertawa- tawa terlalu keras di sungai hari itu.

Bagaimana cerita hari ini?  Petualangan hari ini kami isi dengan mencari bekicot di sekitar sungai. Bekicot-bekicot itu kami jual pada Pak Miseri, peternak bebek di kampung kami. Lumayanlah uang hasil penjualan bisa untuk membeli es gandul buat berbuka puasa nanti sore.

Lelah mencari bekicot membawa kami bertiga duduk di bawah pohon siang ini. Semilir angin membuat mata terasa mengantuk, berkali-kali kulihat Bobi menguap lebar.

Dari kejauhan bunyi gareng pung meramaikan suasana. Kata ibuk, kalau gareng pung sudah terdengar, alamat sebentar lagi musim kemarau.

Membayangkan musim kemarau membuat kerongkonganku tiba-tiba terasa kering.  Entah mengapa matahari bulan Ramadhan selalu terasa lebih panas dari bulan biasa.  Menunggu saat buka rasanya lamaa sekali.

Ah,  tak sabar rasanya menikmati es gandul Mas Jojo yang selalu stand by di depan langgar tiap sore hari. Apalagi uang dari Pak Miseri sudah menunggu manis dalam kantong celana kami.

Capung, sumber gambar: Tahura Bandung

“Cari capung, yuk?” kata Yayan tiba-tiba.
Kami memandang Yayan takjub. Rasa kantuk kami langsung hilang. Teman yang satu ini benar-benar tak pernah kehabisan ide dan tak kenal lelah.

Bobi langsung mengucek matanya dan menggeliat sebentar. Yap! Tanpa banyak kata kami langsung setuju dengan ajakan Yayan.

Bertiga kami mencari lidi dengan ujung diberi semacam getah sebagai perekat. Harapannya dengan lidi berperekat tersebut kaki atau sayap capung akan menempel sehingga bisa kami tangkap.

Tanpa kenal lelah kami kembali ke lapangan mengejar capung yang terbang ke sana kemari. Begitu capung menempel pada lidi, ekornya kami ikat dengan benang dan capung tetap bisa terbang, tapi tidak lepas dari tangan kami.

Akhirnya kami mendapatkan masing masing seekor capung. Tak lama ‘bergurau’ dengan binatang-binatang itu, tiba tiba terdengar azan Dhuhur berkumandang.

Kami langsung menghentikan permainan. Ya, sesibuk apapun, saat sholat kami harus segera sholat. Itu pesan orang tua kami. Kalau saat sholat tidak segera ke langgar, pasti ibuk kami akan mencari kami walau ke ujung dunia sampai ketemu.

“Ayo nang langgar..!” kataku

“Capungnya?” tanya Bobi ragu.
“Lepas saja.. kasihan,” kataku sambil melepas capungku. Masa capung mau dibawa sholat? pikirku.

Bobi segera melepas capungnya juga. Sementara urusan capung kami lupakan dan bergegas kami menuju rumah untuk mengambil sarung.

Dengan berkalung sarung kami menuju tempat wudhu. Gemericik air wudhu terasa begitu menggoda. Betapa segar, pikirku.

“Eits, gak boleh kumur..,” kata Bobi ketika aku hampir mengarahkan air ke mulutku. Ups, baru ingat. Ini puasa. Kalau berkumur di atas Dhuhur kata Mbah Hambali guru ngaji kami makruh hukumnya. Lebih baik tidak dilakukan.

Begitu qomat berbunyi aku segera mengambil tempat di belakang imam. Seperti biasa makmumnya cuma empat orang.  Mas Jojo tukang qomat,  dan kami bertiga.

Namun ada yang menarik perhatian kami hari ini.  Yang menjadi imam bukan Mbah Hambali seperti biasanya. Kali ini imam kami masih agak muda. Orangnya tinggi, berkopyah bundar putih dan bersorban..
Mungkin Mbah Hambali sedang pergi, pikirku.

“Allahu Akbar..”
Suara imam memberi tanda sholat dimulai. Tapi hei, mana Yayan? Dari tempat wudhu dia tidak juga segera sholat.

Aku segera takbiratul ihram. Berdiri tenang di belakang imam bersama Bobi dan Mas Jojo. Ketika mulai membaca Fatihah dalam hati tiba-tiba Yayan berdiri di sebelahku. Syukurlah, pikirku.

Ketika rakaat kedua tiba-tiba ada yang terbang berputar-putar di depanku. Aku mendongak.  Astaga.. capung! Pasti punya Yayan, pikirku.  Bukankah punya Bobi dan punyaku sudah dilepas?

Capung mulai berputar, hinggap kesana-kemari dengan benang masih terikat di ekornya. Sholatku mulai kacau. Mataku tak henti menatap pergerakan si capung. Dan  kurasakan Yayan di sebelahku mulai gelisah.

Saat tahiyat akhir capung melakukan manuver berani dengan hinggap di kopyah imam sholat. Astaghfirullah…!  Sholat kami batal sudah.

Aku dan Bobi menoleh ke Yayan sambil menunjuk si capung. Pelan-pelan Yayan meraih benang dan mencoba menariknya. Nakalnya, si capung tak mau menurut sehingga kopyah imam bergerak-gerak.

Kulihat Yayan begitu pucat, apalagi berbarengan dengan itu imam menoleh, mengucap salam  sambil menatap Yayan dengan tajam meski cuma sekilas.

Saat dzikir habis sholat, tubuh kami begitu gemetar. Sungguh, aku tidak pernah merasakan ketakutan seperti hari itu

Habis sholat satu per satu kami salim pada imam dengan begitu tawadhuk. Ya, itu adalah wujud permintaan maaf atas kenakalan kami.

Yayan pulang paling akhir. Temanku yang sangat pemberani itu tiba-tiba tampak lemah tak berdaya. Tangan kanannya masih erat memegang benang agar capung tidak membuat ulah lagi. Sementara di depannya imam sholat duduk tenang sambil menatap Yayan.

Mengaji, sumber gambar: Bersedekah.com

Entah bagaimana lanjutan cerita hari itu kami tak tahu. Yang jelas sejak saat itu kulihat Yayan begitu rajin mengaji di langgar.

Ya, sebuah kejutan manis bagi kami semua, ternyata imam sholat  adalah guru ngaji kami yang baru pengganti Mbah Hambali yang sudah mulai sepuh. Namanya Ustad Imam dan sangat memperhatikan Yayan.

Sekarang jangankan tidak datang mengaji, terlambat saja Yayan tidak berani.

Tentu saja. Sebagai hukuman atas masalah capung itu, Ustad Imam memberi tugas Yayan untuk qomat setiap hari sebelum sholat Ashar dimulai.

Sekian..

Salam Ramadhan 😊



Berkah Rezeki dengan Berbagi

Ramadhan hari ke duapuluh empat kini kita masuki bersama. Tinggal beberapa hari kita berada dalam bulan yang mulia ini.

Bulan yang penuh dengan keberkahan. Betapa di bulan ini diam menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, pahala berlipat ganda, diampuni segala dosa dan diijabah segala doa.

Sebagai mahluk sosial manusia pasti membutuhkan kehadiran manusia lain.
Ya, manusia diciptakan oleh Allah dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang dalam kondisi lebih ada pula yang kekurangan. Karenanya berbagi sangat penting dilakukan demi terciptanya kehidupan yang harmonis.

Berbagi takjil, dokumentasi BDI

Bulan Ramadhan adalah bulan berbagi.
Di antara amal baik yang dicontohkan nabi Muhammad Saw adalah suka berbagi. Dalam keseharian beliau, nabi sangat dermawan. Dan kedermawanan tersebut semakin bertambah saat memasuki bulan Ramadhan.

Nabi selalu mengingatkan agar kita tidak takut untuk berbagi. Jangan takut miskin karena berbagi.

Sebagaimana sabda beliau yang berbunyi : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Berbagi bisa dilakukan melalui pemberian zakat , infak dan sedekah.
Lalu apakah perbedaan antara zakat, infak dan sedekah?

Perbedaan yang pertama adalah besaran zakat memiliki ketentuan tersendiri yang harus dipenuhi, sedangkan infak dan sedekah besar pemberiannya bebas, tidak terikat oleh ketentuan apapun.

Perbedaan yang kedua, zakat termasuk rukun Islam sedangkan infak dan sedekah tidak termasuk rukun Islam.

Dalam zakat , infak dan sedekah ada keberkahan. Yang dimaksud dengan berkah adalah bertambahnya kebaikan. Ya, ada tersimpan banyak kebaikan dari zakat, infak dan sedekah.

Seperti firman Allah dalam QS Al Baqarah 261 yang artinya:
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, lagi Maha Mengetahui.”

Banyak kebaikan dari kegiatan berbagi, dokumentasi BDI

Ada banyak hikmah dari berbagi, di antaranya adalah:

  1. Semakin dicintai sesama manusia. Orang yang suka berbagi akan disukai sesamanya. Bagaimana tidak? Dengan berbagi seseorang bisa melepaskan sesama dari kesulitan. Orang seperti ini tidak hanya akan dicintai oleh yang diberi, tapi juga orang-orang sekitarnya.
  2. Memperdalam rasa syukur.
    Dengan berbagi seseorang akan banyak bersyukur karena bisa merasakan kelebihan harta yang diberikan Allah kepadanya sehingga sebagian bisa diberikan pada orang lain yang memerlukan.
  3. Memberikan rasa bahagia pada orang lain dan diri sendiri
    Selain bisa memberikan rasa bahagia pada penerima sedekah, berbagi membuat diri merasa lebih berarti dan memberikan rasa bahagia di hati.
  4. Meningkatkan kepedulian sosial. Berbagi membuat kita lebih peka terhadap penderita orang lain. Sering bersentuhan dengan orang yang kekurangan membuat kita bisa merasakan kesulitan mereka hingga akhirnya bisa lebih peduli pada sesama.
  5. Menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan.
    Berbagi tidak hanya membahagiakan si penerima, tapi juga menginspirasi penerima untuk berbuat kebaikan pada orang lain supaya bisa merasakan kebahagiaan yang serupa.
Menebar bahagia dengan berbagi, Sumber gambar: Yatim Mandiri

Demikian sedikit ulasan tentang berbagi dan hikmahnya. Semoga kita tergolong orang-orang yang suka berbagi.

Jangan takut untuk berbagi. Karena hakekatnya memberi adalah menerima. Ya, dari tiap pemberian itu kita akan menerima balasan yang lebih baik dari Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Salam Ramadhan.

Disarikan dari pengajian KALBU “Berkah Rizki dengan Berbagi” dan sumber lain.

Tujuh Pelajaran Berharga yang Bisa Diambil dari Puasa Ramadhan

Hari demi hari berlalu Tak terasa kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Waktu demikian cepat berlalu. Tak lama lagi bulan yang mulia ini akan meninggalkan kita.

Seperti kita ketahui bersama ada tiga fase dalam bulan Ramadhan. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfiroh dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” Sepuluh terakhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannya atau akhirnya.

Di saat seperti ini sudah selayaknya kita bertanya pada diri kita sendiri apakah kita sudah memanfaatkan setiap fase bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya?

Melaksanakan sholat Tarawih, salah satu amalan di bulan Ramadhan, Sumber gambar: islami.co

Sudahkah kita mengisi Ramadhan kita dengan berbagai amalan ibadah sesuai apa yang diperintahkan agama?

Apakah kita sudah mengambil berbagai pelajaran dari bulan Ramadhan?

Membaca Al Qur’an, satu amalan di bulan puasa, sumber gambar: keluarga

Ya, hakekatnya Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan pelajaran berharga. Disarikan dari pengajian Filsafat dari KH Fahrudin Faiz , ada tujuh pelajaran utama yang bisa diambil dari bulan Ramadhan . Pelajaran tersebut adalah:

  1. Kepatuhan
    Puasa mengajarkan kita untuk patuh pada perintah Allah. Dengan puasa kita berusaha menahan makan, minum dan hal hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh hingga matahari terbenam. Kita melaksanakan semua dengan patuh karena semua itu adalah perintah Allah.
  2. Riyadhoh ( latihan)
    Dengan puasa kita berusaha berlatih menahan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Harapannya dengan latihan tersebut kita bisa menahan hawa nafsu selama sebelas bulan berikutnya.
  3. Pengorbanan
    Melalui puasa kita belajar berkorban. Ya, kita mengorbankan kesenangan kita misalnya untuk makan dan minum di siang hari demi melaksanakan perintah Allah.
  4. Penyucian
    Puasa adalah sarana bersih-bersih lahir dan batin. Melalui puasa Ramadhan selama satu bulan penuh kita menghindar dari segala perbuatan tercela yang biasa merusak pahala puasa kita. Harapannya sesudah bulan Ramadhan kita bisa masuk ke bulan berikutnya dengan hati yang fitri.
  5. Perjuangan
    Puasa adalah perjuangan. Menahan hawa nafsu adalah perjuangan yang begitu besar. Seperti sabda nabi yang berbunyi :”Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits riwayat Ibnu Najjar dari Abu Dzarr).
  6. I’tibar (memberikan pelajaran pada manusia)
    Puasa menyadarkan diri kita betapa lemahnya manusia. Segagah dan sekuat apapun kita ternyata setelah tidak makan dan minum mulai terbit fajar hingga matahari terbenam tubuh akan terasa lemas.
  7. Keikhlasan
    Tidak ada yang mengetahui apakah kita puasa atau tidak. Yang tahu hanya diri kita sendiri dan Allah. Karenanya dengan puasa kita belajar melakukan ibadah secara ikhlas, hanya mengharapkan pahala dari Allah SWT .
Bersedekah, sumber gambar: Wajibbaca.com

Demikian tujuh pelajaran yang bisa diambil dari puasa Ramadhan. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan pada kita untuk melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan ini, dan semoga senantiasa dibukakan hati dan pikiran kita, sehingga kita bisa mengambil pelajaran berharga dari ibadah puasa Ramadhan yang kita laksanakan.

Semoga bermanfaat dan salam Ramadhan:)

Catatan dari Penyelenggaraan Penilaian Akhir Tahun Kelas 3.6 dan 2.4

Pagi yang cerah di Bintaraloka. Siswa tampak berbaris di depan ruang kelas . Di dekat pintu masuk kelas, pengawas sesekali mengingatkan siswa yang kurang rapi. Ketua kelas memberikan komando pada teman-temannya.

Berbaris sebelum masuk kelas, dokumentasi pribadi

Setelah semua sudah siap, satu per satu siswa memasuki ruang kelas. Ya, hari itu Penilaian Akhir Tahun kelas 9 akan segera dimulai.

Warga Bintaraloka begitu bersemangat pagi itu. Bulan Ramadhan bukan alasan bagi kita semua untuk bermalas-malasan.

Tetap semangat, dokumentasi pribadi

Penilaian Akhir Tahun (PAT) adalah ulangan yang diadakan di setiap akhir semester genap. Untuk kelas sembilan jadwal PAT selalu lebih dahulu daripada kelas tujuh dan delapan.

Pengawas sebelum memasuki ruangan, dokumentasi pribadi
Pengarahan di hari pertama, dokumentasi pribadi

Mengapa demikian? Agenda akhir tahun kelas sembilan begitu padat. Mulai dari ujian praktik, PAT, dan diakhiri dengan ujian tulis.

Pelaksanaan PAT, dokumentasi pribadi
Pelaksanaan PAT, dokumentasi pribadi

Kegiatan PAT diikuti oleh 8 kelas program tiga tahun dan satu kelas program dua tahun. Total jumlah peserta adalah 289 siswa, dan tersebar di sembilan ruangan.

PAT yang dilaksanakan mulai tanggal 3 hingga 11 April 2023 kali ini dilaksanakan berbasis kelas. Maksudnya satu ruang berisi 32 siswa (satu kelas).

Scan barcode kehadiran, dokumentasi pribadi

Untuk pertama kali PAT dilaksanakan dengan menggunakan SIM sekolah. Karenanya sebelum pelaksanaan PAT beberapa kali uji coba dilaksanakan.
Koordinasi antara sekolah, pihak Web Master juga bagian jaringan dilaksanakan intensif agar PAT berjalan lancar.

Penanganan siswa yang mengalami kendala dalam pelaksanaan PAT, dokumentasi pribadi

Di hari pertama pelaksanaan PAT terdapat banyak kendala yang dijumpai. Maklumlah, sesuatu yang baru pastinya perlu waktu untuk penyesuaiannya. Siswa yang bermasalah segera menghubungi operator yang siap di ruang staf untuk dicarikan solusinya.

PAT berlangsung mulai pukul setengah delapan sampai sekitar pukul setengah sebelas. Sesudah PAT siswa kelas sembilan langsung pulang, sementara bapak/ibu guru mengoreksi PAT soal essay.

Koreksi soal essay, dokumentasi pribadi
Koreksi soal essay, dokumentasi Bu Utien
Koreksi soal essay, dokumentasi P. Vigil

Kelancaran PAT tidak lepas dari dukungan bapak/ibu guru pengawas, panitia , sarpras, juga pihak Master Web yang terus mendampingi pelaksanaan PAT dari awal hingga akhir. Ya, kerjasama dari berbagai pihak sangat diperlukan demi kelancaran event ini.

Panitia menyiapkan map, dokumentasi pribadi
Menyiapkan tab, dokumentasi pribadi
Panitia PAT, dokumentasi pribadi

PAT berakhir pada hari Selasa 11 April 2023 dan ditutup dengan acara evaluasi bersama wakakur dan kepala sekolah.

Acara evaluasi juga diisi dengan ucapan terima kasih atas kekompakan dan kerjasama yang baik dari seluruh panitia penyelenggara PAT.

Tidak ada gading yang tak retak, meski sudah diusahakan dengan bekerja sebaik-baiknya tentunya masih dijumpai kekurangan di sana-sini. Semoga kekurangan yang ada di PAT kali ini bisa dijadikan acuan untuk perbaikan penilaian-penilaian berikutnya.

Peserta PAT, dokumentasi Bu Utien
Peserta PAT, dokumentasi pribadi
Peserta PAT, dokumentasi Pak Imam

Dari kesalahan-kesalahan yang ada kita akan terus belajar dan belajar, harapannya semoga pelaksanaan event penilaian ke depan bisa lebih baik daripada PAT yang sudah berlalu.

Salam Bintaraloka 😊

Menjadi Manusia yang Dirindukan Surga

Surga adalah tempat di akhirat yang diciptakan Allah SWT untuk orang yang beriman dan bertakwa. Surga merupakan balasan Allah atas amal kebaikan yang dilakukan manusia selama hidup di dunia.

Dalam bahasa Arab surga disebut Al-Jannah. Al-Jannah diambil dari ungkapan al-hadiqah zatusy-syajar yang artinya kebun atau taman yang terdapat banyak pepohonan.

Banyak ayat dalam Al Quran yang menerangkan tentang surga dan keindahannya. Setiap dari kita pasti ingin masuk surga. Kita semua tentu berharap dan rindu untuk masuk surga di kehidupan akhirat kelak.

Namun ternyata ada golongan manusia yang justru dirindukan surga. Betapa istimewa mereka. Surga menunggu kehadiran mereka.

Ada empat golongan manusia yang dirindukan surga yaitu:

Satu : Orang yang rajin membaca Al Qur’an


Mari kita perhatikan hadits berikut:

Membaca Al Quran, dokumentasi: Bu Utin

Dari Usman bin Affan ra, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Membaca Al Quran adalah ibadah yang mulia dan karena itu setiap muslim wajib mempelajarinya.

Membaca Al Quran, dokumentasi: Bu Utien

Tingkatan dalam belajar Al Qur an meliputi :

  1. Belajar membaca Al Quran. Penting bagi setiap muslim untuk belajar membaca Al Qur’an dengan bacaan yang benar.
  2. Memahami Al Quran. Sesudah bisa membaca Al Quran sebaiknya kita belajar memahami dan menghayati isi kandungan Al Quran.
  3. Mengimplementasikan . Sesudah membaca, menghayati isinya yang terakhir kita mencoba mengimplementasikan Al Qur’an dalam kehidupan kita sehari hari

Dua : Menjaga lisan

Menjaga lisan, sumber gambar: FPSB UII

Betapa pentingnya kita menjaga lisan kita. Ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa selamatnya manusia adalah dari lisan atau kata-katanya.

Al kisah pada suatu saat Lukman Al Hakim diminta menyembelih sapi oleh tuannya. Tuannya berkata , ” Wahai Lukman, sembelihlah seekor sapi yang bagus, lalu bawakan kepadaku bagian tubuh sapi yang terbaik dan terburuk.”

Lukman segera melaksanakan tugas tersebut. Dan ia memberikan bagian tubuh sapi yang terbaik dan terburuk dalam dua buah wadah.

Ketika tuannya membuka apa yang dibawa oleh Lukman, tuannya heran karena kedua wadah berisi lidah sapi.
“Apa maksudnya ini, Lukman?” tanya tuannya kepada Lukman.

Lukman menjawab, “Bagian tubuh yang terbaik adalah lidah, karena jika ia berkata -kata baik , maka selamatlah manusia. Bagian tubuh terburuk juga lidah, karena jika lidah berkata-kata yang kurang baik, maka manusia akan tergelincir dalam kebinasaan.”

Betapa pentingnya kita menjaga lisan agar tidak tergelincir dalam kebinasaan.

Tentang menjaga lisan ini diungkapkan hadits nabi : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” (HR. Bukhari).

Tiga : Suka memberi makan pada orang yang membutuhkan.

Suka berbagi, dokumentasi Bu Utien

Islam mengajar kita agar suka berbagi dan peduli pada orang sekitar kita. Jangan sampai kita sudah melaksanakan banyak ibadah, namun terhalang masuk surga gara- gara tidak peduli pada orang sekeliling kita yang kekurangan.

Melatih kepedulian pada sesama, dokumentasi pribadi

Peduli pada sesama perlu dilatihkan sejak kecil agar kita semua suka berbagi.

Empat : Berpuasa di bulan Ramadhan.

Ilustrasi berbuka di bulan Ramadhan, dokumentasi Bu Utien

Berbahagialah kita yang bisa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan karena kita termasuk manusia yang dirindukan surga.

Karenanya mari kita jaga puasa kita dengan menghindarkan diri dari segala perbuatan yang tercela agar kita bisa memperoleh pahala puasa. Jangan sampai kita tidak mendapat pahala puasa, melainkan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Seperti hadits yang diriwayatkan Imam An-Nasai dan Ibnu Majah: “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”

Akhirnya semoga kita semua senantiasa diberikan petunjuk dan kekuatan agar kita bisa melaksanakan berbagai amal kebajikan yang membawa kita ke dalam golongan manusia yang dirindukan surga. Amiin YRA.

Salam Ramadhan.

Disarikan dari Pengajian KALBU