Belajar dari Bapak, Menanamkan Kegemaran Membaca dengan Cara yang Sederhana

Malam semakin larut.  Sinar lampu tempel yang diletakkan di sudut ruangan sesekali bergoyang tertiup angin. Ya,  malam itu listrik mati di kampung kami.

Bayangan-bayangan di dinding kamar membuat siluet tertentu dan kadang menimbulkan rasa seram. Namun itu semua tak kami perhatikan.  Ada yang lebih menarik. Di depan kami bertiga bapak tengah asyik membawakan ceritanya.

Mahabharata, Sumber gambar: Kaori Nusantara

Malam itu bapak bercerita tentang Mahabarata.  Perseteruan antara Pandawa dan Kurawa.  Cerita yang begitu panjang kini sampai pada klimaksnya.

Kami terpukau dengan cerita bapak.  Gemuruh kereta di padang Kurusetra seolah begitu jelas tergambar di benak kami.

“Mengapa Karna tidak bergabung di Pandawa saja Pak? ” tanya saya saat itu.  Bapak tersenyum sambil mengemukakan alasan yang sulit diterima akal anak kecil seusia saya.

Bagaimana bisa persaudaraan dikalahkan oleh pertemanan? Lagipula kalau Karna bergabung dengan Pandawa pasti perang itu tidak terlalu panjang.  Kesaktian Pandawa akan berlipat-lipat dan dalam waktu singkat Kurawa akan kalah, pikir saya saat itu.

Bapak mengakhiri ceritanya ketika adik saya yang masih kecil mulai menguap.

“Wes,  ayo bubuk semua, ” kata bapak sambil menutup ceritanya.  Kami segera mengambil tempat masing-masing dan memejamkan mata.  Bayangan perang masih tergambar dalam ingatanku,  namun langsung berganti dengan mimpi yang lain.  Kami pulas tertidur.

Ritual bercerita sebelum tidur selalu dilakukan bapak setiap malam ketika kami masih kecil. Bahkan ketika kami sudah duduk di SD pun  bapak masih sering bercerita.  Terutama  tentang sejarah dan wayang.

Sejarah berdirinya Singasari tuntas diceritakan sejak Ken Arok memesan keris pada Empu Gandring,  hingga terbunuhnya tujuh orang oleh keris bertuah tersebut. Ketika itu saya duduk di kelas 4 SD,dan bapak  bercerita detail namun dengan bahasa yang bisa kami mengerti.

 Satu hal yang sangat saya ingat tentang bapak adalah kegemaran beliau membaca. Di sela kegiatannya bapak selalu membaca. Apa saja. Koran, majalah, bahkan komik.

Kompas, Sinar Harapan,  Suara Indonesia sering ada di meja ruang tamu. Bapak membelinya eceran.  Kadang ada juga serial komik Si Buta dari Goa Hantu yang dipinjam dari persewaan komik tidak jauh dari rumah saya.

 Gemar membaca membuat bapak tahu segalanya.  Paling tidak itu pandangan saya saat itu.  Bapak selalu bisa menjelaskan dengan gamblang apapun yang saya tanyakan.  Membaca benar- benar membuat pintar,  pikir saya. 

Dari membeli koran eceran Bapak beralih ke berlangganan Kompas.  Datangnya setiap sore hari.  Siapa pembacanya?  Bapak tentu saja.  Kami semua belum bisa membaca.

Suatu saat Mas yang mengantar koran menawarkan majalah Bobo pada bapak.  Ya,  karena dia tahu ada tiga anak kecil  di rumah.  Tanpa berpikir panjang Bapak langsung mengiyakan. 

Bobo, Sumber gambar : Gramedia digital

“Lha anak-anak’ kan belum bisa baca? ” protes ibuk.  Bapak cuma tersenyum.  “Gak apa-apa.., biar mereka cepat bisa baca.. ” jawab Bapak. 

Mulailah saat itu majalah Bobo setia mendatangi kami setiap Kamis sore.  Karena belum bisa membaca kami selalu menunggu bapak membacakan cerita, terutama cergamnya.

Dari cerita bapak kami mulai kenal dengan Bobo yang pintar dan sayang adik-adiknya,  Coreng yang suka menggambar,  Upik yang suka mainan bebek,  Bibi Titi Teliti yang cerewet dan sangat perfeksionis juga Bibi Tutup Pintu yang tidak suka melihat pintu rumah terbuka.

Karakter yang muncul dari keluarga Bobo begitu khas dan terasa sangat akrab bagi kami. Bapak juga sering mengambil Bobo sebagai contoh saat memberikan nasehat pada kami. 

Ketika kami tidak suka makan wortel, bapak mengatakan, ” Kenapa Bobo tidak pakai kacamata?  Karena dia suka makan wortel., matanya jadi sehat.. “

Atau ketika kami malas gosok gigi, bapak berkata,  “Gigi Bobo sangat putih meski cuma dua, kenapa?  Karena dia rajin gosok gigi.., “

He.. He..  Akibatnya kami rajin makan sayur begitu juga gosok gigi,

Tokoh yang lain juga membuat kami makin jatuh hati.  Bona gajah kecil berbelalai panjang yang suka berkorban demi kebahagiaaan teman-temannya,  Rong-rong kucing putih yang jadi sahabat Bona. Nirmala yang baik hati, Oki yang usil, Juwita yang suka menolong dan Si Sirik yang selalu berhasil dikalahkan Juwita.

Kehadiran majalah Bobo menjadi sesuatu yang sangat kami tunggu-tunggu.

“Bobonya datang…, ” suara ibuk yang memberitahu kami saat Bobo datang bisa langsung membuyarkan konsentrasi bermain kami. 

Kami segera berebut Bobo,  membuka-buka untuk melihat gambarnya lalu membawanya ke Bapak. Dengan senang hati bapak menghentikan kegiatannya lalu mulai bercerita.

Sesudah bercerita biasanya bapak membaca cerpen Bobo atau rubrik lain di majalah Bobo.  Saat seperti itu biasanya saya duduk di samping bapak dengan penuh rasa ingin tahu, berharap bapak mau bercerita tentang cerpen tersebut.

“Bagus ya Pak? ” tanya saya. 

Bapak tersenyum. “Apik..  Makanya pinter baca, biar tahu ceritanya.. ”  goda Bapak.

Buku Karl May, sumber gambar: goodreads

Sungguh,  sejak itu saya makin semangat belajar membaca.  Hingga saat masih kelas nol saya sudah mulai bisa membaca.  Saya benar-benar ingin bisa membaca cerpen cerpen yang ada di Bobo seperti Bapak. 

Waktu terus berjalan kegemaran membaca saya kian menjadi.  Seperti Bapak saya suka membaca cerita fiksi dan sejarah.  Kami sering terlibat pembicaraan tentang berbagai cerita  yang habis kami baca.

Masuk SMP buku yang saya baca semakin banyak.  Buku-buku Enid Blyton,  Tintin,  Alfred Hitcock,  Karl May, Kosasih dan banyak lagi. 

Senangnya, bapak selalu ikut membaca buku-buku saya dan sesudahnya kami obrolkan bersama.  Biasanya yang menjadi bahan obrolan kami adalah  pelajaran yang ada di dalam buku tersebut atau hal-hal yang lucu.

Kegemaran membaca akhirnya menurun juga pada anak- anak saya. Mungkin karena setiap hari mereka sering melihat ibuk atau bapaknya membaca.

Apa yang saya gunakan untuk lebih meningkatkan minat baca mereka? Bobo lagi!  Majalah yang tetap menyimpan pesona.  Kehadiran tokoh-tokoh baru di dalamnya seperti Dungdung,  Lobi lobi,  G Jun,  membuat majalah ini semakin  mengikuti zaman.

Tidak ada hari tanpa bacaan.  Selain Bobo buku apapun dilahap anak-anak.  Tentunya saya tetap mengontrol bacaan mereka. Secara berkala kami ke perpustakaan kota atau persewaan komik untuk mencari buku yang kami inginkan.

Bapak, Sumber gambar: ig effendyyusa

 Kebiasaaan membaca terus dibawa anak-anak. Hingga ketika mereka kuliah  di luar kota,  saat pulang, di tas mereka selalu ada buku baru.

 “Buat Ibuk,, ” katanya.

Seperti kebiasaan di masa kecil mereka, habis membaca buku bagus saya selalu  diminta untuk membaca dan lalu kami bicarakan bersama. Biasanya yang kami bicarakan adalah hal -hal yang unik dan menarik dari buku itu.

Ya,  betapa sejarah kembali berulang seperti cerita saya dan bapak di masa lalu.

Akhirnya melalui bapak saya belajar bahwa menularkan kegemaran membaca bisa ditempuh dengan cara yang begitu sederhana,  yaitu memberikan contoh dan ngobrol bersama.

Ada kebahagiaan dalam membaca, Sumber gambar : Pngtree

Membaca tidak hanya membuat pengetahuan bertambah. Dalam membaca dan saling bercerita ada kesenangan juga memperkuat ikatan emosi di antara kami bersama.

Screening, Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Kesehatan Siswa

Hari Kamis suasana di sekitar perpustakaan dan UKS tidak seperti biasanya.  Kesibukan tim UKS sudah tampak sejak pagi.  Meja-meja di tata rapi bahkan sampai di area gazebo juga.

Ya,  hari itu adalah pelaksanaan screening kesehatan untuk seluruh siswa kelas 7 SMP Negeri 3 Malang.

Suasana di gazebo, dokumentasi UKS

Screening kesehatan adalah program yang dilaksanakan oleh Puskesmas terdekat dan UKS. Tujuan screening adalah untuk memeriksa kondisi kesehatan siswa, juga sebagai deteksi awal dari masalah kesehatan yang mungkin dialami siswa. Pemeriksaan bisa dilakukan secara langsung atau wawancara.

Apa saja yang diperiksa saat screening kesehatan siswa? Banyak. Termasuk di antaranya adalah pemeriksaan gizi yang meliputi tinggi badan dan berat badan, kebersihan diri yang meliputi kebersihan rambut,kuku dan kulit, kesehatan gigi,  mata ( visus mata dan tes buta warna),  kesehatan reproduksi dan tensi.

Pemeriksaan gigi, dokumentasi UKS

Dari hasil screening, puskesmas  memberikan feedback pada siswa untuk diberitahukan kepada orang tua supaya segera periksa ke puskesmas jika ada masalah dengan kesehatan siswa, seperti resiko hipertensi atau buta warna, gigi berlubang atau masalah kesehatan yang lain

Pemeriksaan tensi, dokumentasi UKS

Feedback dari hasil screening diharapkan ditanggapi secara positif oleh orang tua dengan membawa putera- puterinya ke puskesmas untuk periksa jika ada masalah kesehatan yang muncul.

Direncanakan minggu depan juga akan dilakukan screening secara online pada siswa kelas 8 dan 9 dengan link yang dikirim oleh Puskesmas. 

Pemeriksaan buta warna dokumentasi UKS
Wawancara, dokumentasi UKS

Screening kesehatan yang dilakukan secara online tidak hanya meliputi kesehatan fisik,  namun juga meliputi kesehatan mental emosional dan intelegensi kelas 7, 8 dan 9.

Perlu disadari bersama bahwa sekolah bukan hanya wadah belajar yang sebatas mempelajari berbagai pelajaran dan sesudahnya pulang ke rumah. Namun sekolah adalah juga tempat pembentukan karakter siswa yang salah satunya adalah karakter peduli pada kebersihan dan kesehatan.

Sebagian dari tim UKS, dokumentasi UKS

Usaha Kesehatan Sekolah sebagai program pemerintah memiliki program pokok pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.  Diharapkan melalui UKS sekolah dapat ikut meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan siswa yang harmonis dan optimal,  sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas.

Salam UKS…Sehat dimulai dari saya…!

Sebuah Perayaan Cinta di Bintaraloka

Wahai Abi

Wahai Umi

Wahai Akhi

Kami Badan Dakwah Islam

Serukan Kebenaran

Tinggalkan Kemungkaran  x2

Ref…

Ghirah kami membara

Demi Islam nan Jaya

Tegakkan Jihad Sabilillah

Mengharap akan ridho-Nya

Tegakkan Jihad  Sabilillah

Mengharap akan ridho-Nya …

(Lagu Mars BDI, tempo : bersemangat, irama lagu: Hubbul Wathon)

Di balik lagu Mars BDI , dokumentasi pribadi

Dengan berjajar rapi dan mengenakan dresscode hitam putih siswa yang  tergabung dalam kegiatan Badan Dakwah Islam menyanyikan lagu Mars BDI dengan penuh semangat. Lagu yang digubah oleh Bapak Muhaimin ini dinyanyikan dengan koreografi Ibu Utin Kustianing.

Wajah cerah tampak di mana mana.  Tidak seperti yang kami khawatirkan ternyata hari itu matahari terang benderang seolah tidak menyisakan hujan yang begitu deras mengguyur kota Malang sehari sebelumnya.

Peserta Maulid, dokumentasi BDI

Seluruh siswa yang beragama Islam kelas 7,8 dan 9 berbusana muslim dan khidmat mengikuti acara perayaan Maulid Nabi Muhammad saw yang di gelar di lapangan sekolah.

Tentang Perayaan Maulid Nabi

Maulid Nabi hakekatnya adalah perayaan akan cinta kita pada Nabi Muhammad saw.  Nabi akhir zaman yang membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang.

Pembacaan Maulid Diba’, dokumentasi Anggita

Nabi yang diutus Allah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).  Nabi yang membawa contoh akhlak mulia. 

Ya,  siapa yang tak kenal akhlak nabi? 

Beliau yang selalu berprasangka baik, tidak pernah berbuat keburukan, tidak berkata kasar dan tidak pernah marah. Bahkan, beliau selalu mendoakan kebaikan kepada orang yang berbuat keji kepadanya.

Sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 21, bahwa Allah Swt berfirman:

Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Sebagai umat Islam kita wajib mencintai Rasulullah Muhammad saw. Seperti firman Allah  dalam surat Ali Imron, ayat 31:

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 Artinya: Katakanlah wahai Muhammad (kepada ummatmu) jika kalian cinta kepada Allah, patuhlah kepadaku (Muhammad), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, sebab Allah maha pengampun dan penyayang

 Allah memerintahkan kita agar patuh dan mengikuti Rasulullah karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah melontarkan perkataan berdasarkan dari hawa nafsunya sendiri, sebab seluruh perintah dan larangan yang diucapkan adalah murni bersumber dari wahyu. Oleh karena itu cinta kepada Rasulullah sama halnya cinta kepada Allah.

Ada banyak cara kita mencintai Rasulullah, di antaranya adalah melakukan sunah-sunahnya,  memperbanyak shalawat,mencintai keluarga, sahabat, dan umat muslim, mempelajari shirah nabawiyah, juga rajin berdoa

Dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad saw Bintaraloka mengadakan berbagai macam kegiatan.  Kegiatan pagi itu diawali dengan pembacaan gema wahyu Ilahi oleh Ayra Firna Derlen dan sari tilawah oleh Zahra Rianty Derlen. Sesudahnya acara lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars BDI dan pembacaan sholawat Diba’ yang dimotori oleh siswa BDI. 

Mahalul Qiyam, dokumentasi BDI

Sesudah pembacaan sholawat, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Kepala sekolah dan mauidhotul khasanah yang disampaikan oleh Ustad Abdul Wahid, S.PdI, M.PdI.

Melalui mauidhotul khasanahnya  Ustad Abdul Wahid  menyampaikan tentang perlunya kita mencintai Rasulullah.

Diriwayatkan bahwa begitu gembiranya Abu Lahab dalam menyambut kelahiran nabi Muhammad , dia memerdekakan seorang budak bernama Tsuwaibah di hari kelahiran Nabi.

Atas tindakannya ini meski Abu Lahab adalah seorang kafir dan selalu memusuhi nabi , dia mendapat keringanan siksa kubur di setiap hari Senin.

Sesudah mauidhotul khasanah siswa menuju kelas masing masing untuk makan bersama kue-kue yang sudah dibawa dari rumah. 

Sekitar 30 menit kemudian acara lomba-lombapun dimulai.  Berbagai acara lomba yang diadakan pagi itu adalah lomba:

Cerdas Cermat PAI, dokumentasi Anggita

1. Adzan

2. Tartil

3. Pidato PAI

4. Desain infografis

5. Desain poster

6. Kaligrafi

7. Asmaul Husna

8. Cerdas cermat PAI

Dengan penilai atau juri tiap nomor lomba adalah dua orang bapak/ ibu guru yang bertugas.

Lomba asmaul Husna, dokumentasi pribadi
Penampilan peserta lomba asmaul Husna, dokumentasi pribadi

Secara umum lomba-lomba berjalan lancar dan meriah.  Ya,  setiap kelas wajib mengirimkan perwakilannya untuk berlaga di setiap nomor lomba, sehingga tidak ada siswa yang tidak terlibat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.

Sekitar pukul 14.00 acara lomba berakhir,  dan pengumuman nanti akan dijadwalkan oleh Bapak/Ibu guru PAI bersama BDI.

Sie konsumsi, dokumentasi pribadi

Kelancaran acara Maulid Nabi ini tidak luput dari kerja keras bapak/ibu guru termasuk sie konsumsi yang sudah sibuk di dapur menyiapkan hidangan sejak pagi.

Bersama sebagian anggota BDI, dokumentasi Aneira

Semoga perayaan Maulid kali ini semakin meningkatkan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad saw sehingga di yaumil qiyamah nanti kita akan mendapatkan syafaat dan berkumpul bersama beliau .

Sesuai sabda Nabi Muhammad saw:  ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai’,” (Muttafaq ‘alaih).

Allahumma sholli ‘ala Muhammad..

Duka dan Doa Kami Untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Dua hari ini mendung menggayut kota Malang.  Sinar matahari tidak begitu cerah. Beberapa daerah dihiasi gerimis kecil. Alam seolah mewakili suasana hati kami yang sedang berduka.

Malang benar-benar berduka. Begitu banyak korban yang jatuh di Stadion Kanjuruhan gara-gara menonton sepak bola. Postingan teman-teman di grup wa banyak bercerita tentang korban di Stadion Kanjuruhan.  Banyak video amatir beredar berisi barisan ambulan yang membawa jenazah korban.

Kejadian yang sungguh tak pernah diduga.  Sepak bola yang biasanya menjadi hal yang menyenangkan,  hari ini ternyata menyisakan cerita yang memilukan.  Korban tragedi Kanjuruhan begitu banyak.  Hampir dua ratus nyawa melayang gara- gara sepak bola. 

Tragedi Kanjuruhan, sumber gambar: JPNN.com

Sabtu malam menjelang tragedi saya bersepeda bersama anak saya.  Tak seperti biasanya suasana jalan tak begitu ramai,  padahal sekitar Jalan Kawi dan Ijen biasanya lumayan ramai.

“Kok agak sepi ya, Le? ” tanya saya heran.

“Arema main,  Buk.., pada berangkat ke Kanjuruhan, ” jawabnya.

“Ooh…,”Saya langsung maklum.

Di sekitar tempat tinggal saya setiap ada pertandingan Arema suasana selalu menjadi agak sepi. 

Banyak yang berbondong-bondong ke Kanjuruhan,  terutama anak -anak muda.  Mereka selalu datang ke stadion dengan penuh cinta. Ya,  cinta pada club sepak bola kebanggaan kota Malang .

Para orang tua selalu memberikan izinnya, karena menonton bola adalah kesenangan bersama.

Sampai malam hari kami tidak mendengar berita apa- apa tentang pertandingan tersebut. Namun begitu terkejutnya kami ketika Minggu pagi di grup RT maupun grup sekolah sudah ramai dengan berita dan foto-foto peristiwa Kanjuruhan. Rupaya terjadi kerusuhan semalam.

Korban yang jatuh demikian banyak.  Dalam sehari jumlah korban terus merangkak naik.  Suasana terasa agak menegangkan . Apalagi ketika ada pemberitahuan dari Dinas Pendidikan bahwa masing -masing sekolah harus mendata barangkali ada siswanya yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan. 

Mulailah kami para wali kelas mengumumkan di grup orang tua barangkali ada yang putera puterinya menjadi korban atau belum pulang sejak semalaman. 

Alhamdulillah semua siswa selamat. Ada satu siswa yang ikut menonton,  tapi bisa sampai di rumah dengan selamat meski matanya masih pedih. 

Rasa syukur kami masih berbalut kesedihan.

Ada beberapa sekolah yang ternyata siswanya menjadi korban peristiwa tersebut. Baik SMA,  SMK maupun SMP.

Agak siang ada pengumuman dari Pak RT bahwa ada warga kampung kami yang menjadi korban peristiwa Kanjuruhan.  Yang dua orang adalah suami istri, sementara satunya anak seusia SMA.

Yang membuat kami begitu terharu adalah suami istri ini meninggalkan seorang anak yang masih kecil.  Kira- kira kelas satu atau dua SD.

Menunggu kedatangan Ibu Khofifah di rumah korban, dokumentasi Eddy

Menjelang pemakaman, Ibu Khofifah  menyempatkan mengunjungi rumah korban di daerah kami. 

Sedih sekali rasanya.  Menonton sepak bola yang selama ini adalah bagian penting dari kesenangan kami semua kini tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyeramkan.  Korban yang berjatuhan mayoritas muda usia.  Bahkan ada pula anak kecil. 

Tahlil dan doa bersama, dokumentasi Imam

Sebagai ungkapan duka pagi ini lapangan sekolah sudah dipenuhi siswa.  Mereka duduk dengan rapi sambil membawa Qur an. Ya,  hari ini upacara bendera tiap hari Senin diganti dengan doa bersama untuk korban peristiwa Kanjuruhan. 

Sekolah yang lain juga melaksanakan kegiatan yang serupa.  Kiriman foto dari seorang teman menunjukkan kegiatan doa bersama dan sholat ghoib untuk para korban Kanjuruhan.

Lantunan surah Yasin dan tahlil membuat kami semakin tertunduk.  Sungguh,  apalah daya manusia.  Kapan harus menghadap Sang Kuasa manusia tak pernah mengetahuinya.

Tiada yang menyangka,  mereka yang berangkat dengan riang gembira ternyata pulang tinggal nama.

Sumber gambar: tangkapan layar pribadi

Hari ini betapa banyak orang tua atau anak yang menangis karena kehilangan orang-orang tercinta.

Siapa yang harus bertanggung jawab kiranya biar yang berwenang mengusut masalah ini sampai tuntas. 

Tidak ada pertandingan sepak bola yang setara dengan nyawa manusia. Yang pergi tak akan kembali.  Kini yang tersisa adalah rasa takut dari keluarga untuk mengizinkan anak atau orang tuanya menuju ke stadion hanya untuk sekedar melihat pertandingan sepak bola. 

Ya, sepak bola kali ini menyisakan trauma, kesedihan juga air mata.

Memorabilia, Karena Ada Ribuan Kenangan di Masa Kecil

Malam itu saya berkesempatan melihat pameran yang diadakan di UM gedung B1.  Pameran bertajuk Posko Memori ini  diadakan oleh program studi Desain Komunikasi Visual ini diikuti oleh mahasiswa dan umum. 

Posko Memori, dokumentasi pribadi panitia

Suasana tidak begitu ramai namun menyenangkan. Mungkin karena durasi pameran yang  dua hari membuat yang datang silih berganti sehingga tidak sampai terjadi kerumunan.  Hal yang patut diapresiasi.  Dengan pengunjung yang tak terlalu padat kami bisa berlama lama menikmati karya yang disajikan dan sesekali bertanya pada yang stand by di sana.

Ada sekitar 80 karya yang disajikan dalam berbagai tehnik.  Kreatifitas peserta pameran dalam hal ini benar-benar patut diacungi jempol. Ada yang berupa kolase,  digital,  sketsa tangan ataupu karya permainan yang mengingatkan kita pada masa kecil.

Kembali ke masa lalu, dokumentasi pribadi

Terlempar ke masa lalu.  Itu yang sangat terasa tatkala kami menikmati karya itu satu persatu.  Tema Memorabilia yang diusung benar benar sukses membawa para penikmatnya berkelana kembali ke masa kecil.

Banyak hal yang diangkat oleh mahasiswa tentang masa kecil dalam karya mereka.  Pada umumnya gambaran tentang masa kecil yang bisa dilihat dari karya- karya yang ditampilkan adalah keceriaan,  petualangan dan kenangan bersama orang tercinta.

Tentang indahnya kenangan masa kecil bisa tampak pada karya Back To The Past  yang mengungkapkan bahwa masa kecil merupakan masa masa yang begitu menarik untuk diingat dan diceritakan kembali. Menceritakannya kembali membuat kita sejenak melupakan segala masalah yang timbul di masa dewasa., atau juga karya berjudul The Mirror  yang menceritakan orang gadis berumur 20 tahun yang menemukan cermin ajaib dan mempertemukannya dengan dirinya saat kecil. Bayangan itu lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.

The Mirror, dokumentasi pribadi

Masa kecil adalah masa penuh petualangan.  Lewat bermain mereka juga belajar, seperti diungkapkan dalam karya Let’s We See the World : Dunia anak yang penuh petualangan dan rasa ingin tahu, atau Dream Big : Dunia anak selalu menyimpan impian-impian besar. Seperti jadi astronaut misalnya.

Let’s We See the World, dokumentasi pribadi

Petualangan dan permainan adalah hal yang sangat akrab dengan masa kecil. Seperti terungkap pada karya Di Kala Minggu Pagi. Karya yang bercerita tentang  pandangan anak berusia 8 tahun tentang koran di hari Minggu. Saat itu di mana yang lain sibuk membaca koran Minggu si anak kecil juga ikut sibuk. Ya, sibuk melihat koran. Melihat teka teki silang yang tak mungkin dimenangkannya.

Karena jiwa petualangan mereka yang begitu tinggi tak jarang orang tua memberikan banyak larangan.  Namun dalam memberikan larangan orang tua harus berhati-hati karena dari apa yang dilihat, anak kecil akan mengerjakan. 

What They See, They Do It, dokumentasi pribadi

Hal tersebut diungkapkan dalam karya What They See, They Do It : Anak adalah peniru ulung, apa yang diklakukan orang tua akan terekam dalam memori dan ditiru oleh anak.

Dalam pameran ini juga diungkapkan berbagai macam permainan, jajanan kenangan ataupun kartun yang disukai di masa kecil.

Let’s Play, dokumentasi pribadi

Tentang gembiranya bermain di masa kecil terungkap pada karya Let’s Play , di dalamnya ada  anak kecil bermain engklek dengan wajah ceria. Keceriaannya dilambangkan dengan nuansa warna-warni.

Yang tak kalah menarik adalah Wake Up . Karya ini  mengambil tema Jaran Kepang Jathilan. Berkisah tentang mainan jaran kepang di masa kecil.  Karya ini berusaha mengemas budaya lokal dengan gaya komik Jejepangan

Wake Up, dokumentasi pribadi

Tentang hal yang berkaitan dengan masa kecil ada hal yang sangat menarik yaitu  mainan yang biasanya ada di bagian depan krinyo atau pensil warna-warni.  Jika plastik penutup digerakkan maka gambar harimau akan ikut bergerak. Jadi kesannya harimau sedang berlari.

Kucing Oranye, dokumentasi pribadi

Ada juga permainan ular tangga.  Ah,  permainan yang sangat akrab dengan anak-anak.  Hanya saja pada pameran ini ular diganti sulur sementara tangga diganti bunga. 

Pernak pernik masa kecil terungkap pada karya Launch the Memory, yang mengambil gambar  permen berbentuk kaki atau  hot hot pop.  Juga karya Our Treasure di mana setiap anak mempunyai harta karun, bisa mainan, surat, foto maupun ingatan dengan orang yang sangat berarti , seperti halnya juga gambar perangko kartun anak, ada Doraemon, Sin chan, Chibi Maruko Chan, Power Puff Girl dan yang lain.

Our Treasure, dokumentasi pribadi

Kenangan bersama orang tercinta juga diungkapkan dengan indah seperti karya Comboran  yang bercerita di masa kecil ketika diajak ayah berjalan-jalan di Comboran. Melihat cincin berlama-lama dan makan es tape, juga yang tak kalah menarik adalah Peaceful days Back in the past ,  tatkala kita sering minta digendong dan di gendong di punggung adalah sesuatu yang sangat membahagiakan karena kita bisa melihat banyak segala sesuatu yang sebelumnya tak bisa kita lihat.

Comboran, dokumentasi pribadi

Berbagai serpihan kenangan akhirnya akan membentuk cerita hidup yang berwarna-warni sepeti tertuang dalam karya Journey.

Sebenarnya masih banyak karya karya yang lain.  Kreatifitas peserta benar benar patut diacungi jempol. Caption yang ditampilkan seolah memberi nyawa bagi karya yang disajikan.

Ya,  karya-karya yang dipamerkan Memorabilia sukses membawa pengamatnya sejenak bernostalgia mengingat masa lalu yang penuh kenangan .

Time Flies but Memories Don’t, dokumentasi pribadi

Waktu bisa berlalu, namun kenangan akan tetap abadi seiring berjalannya sang waktu. Time Flies but Memories Don’t.