Categories
Sekolah

Dari Arena Latihan Persiapan Wisuda Siswa Bintaraloka 2023

Siang itu setelah penyelenggaraan PAT kelas 7 dan 8, tampak lagi geliat kesibukan di aula Bintaraloka satu.

Pengisi acara tari, dokumentasi Bu Sherly

Lagu-lagu mengalun merdu dari para vokalis Bintaraloka, diiringi musik band yang begitu mantap. Selain itu suara gamelan yang mengiringi tarian atau pager ayu dan pager bagus membuat suasana terasa begitu manis.

Salah satu pengisi acara vokal, dokumentasi Bu Sherly

Ya, dalam beberapa hari ini dilakukan latihan untuk para pengisi acara pelepasan siswa kelas sembilan atau wisuda yang rencananya akan diadakan pada pertengahan bulan Juni 2023.

Sie acara wisuda, dokumentasi pribadi
Arahan dari Mister Sony, dokumentasi pribadi

Sie acara tampak begitu sibuk. Berbagai arahan diberikan pada siswa yang akan tampil. Berkali-kali Mister Sony dan tim mengingatkan siswa, baik tentang ekspresi, tampilan, penghayatan, juga posisi saat tampil di panggung nanti.

Sebagian pengisi acara wisuda dari paski, dokumentasi pribadi
Salah satu band pengisi acara, dokumentasi pribadi
Salah satu band pengisi acara, dokumentasi pribadi

Siswa pengisi acara yang berasal dari kelas tujuh, delapan dan sembilan, memperhatikan berbagai arahan itu dengan sungguh sungguh.

Jason, salah satu pengisi acara wisuda, dokumentasi pribadi

Ada berbagai latihan yang dilakukan meliputi : latihan pembawa bendera, pager ayu dan pager bagus, band, tari, puisi, juga vokal.

Yang membuat siswa lebih bersemangat, latihan siang itu juga dihadiri oleh panitia wisuda yang berasal dari orang tua.

Panitia wisuda dari orang tua, dokumentasi pribadi
Penabuh gamelan, dokumentasi Bu Sherly

Harapannya dengan latihan yang sungguh-sungguh, nantinya semua siswa yang bertugas bisa mempersembahkan tampilan yang maksimal di acara wisuda nanti.

Selamat berlatih dan tetap semangat….!

Categories
Cerita

Antara Cwi Mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara Inul Daratista

Siapa tidak kenal cwi mie Malang? Hmm, hidangan lezat yang sangat menggugah selera ini memang tiada duanya. Dari aromanya yang menggoda sudah terbayang bagaimana kelezatannya.

Cwie mie atau kami sering juga menyebutnya dengan pangsit mie banyak disebut sebagai salah satu kuliner asli Malang.

Cwie mie biasanya disajikan dengan taburan ayam yang dicincang halus dan dilengkapi oleh daun sawi.

Rasa bumbu mie dan kuahnya gurih serta lezat. Perpaduan antara kaldu rebusan ayam, cincangan bawang putih, seledri, daun bawang, bawang goreng, membuat cwie mie benar-benar maknyus rasanya.

Di Bintaraloka ada kedai yang selalu menyajikan cwi mie yang lezat yaitu kedai Mas Rizal.

Kedai ini juga menyediakan siomay Wonton juga jamur krispi. Tapi yang paling saya suka adalah cwi mienya.

Kedai Mas Rizal di kantin Bintaraloka, dokumentasi pribadi

Ada sebuah cerita unik dalam dua hari ini Ternyata ada hubungan di antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara. Iya, benar.. Mie Burung Daranya Inul Daratista.
Tidak percaya? Simak terus ceritanya..😊

Setiap hari kedai mie Mas Rizal selalu menaburkan bau yang menggoda bagi kami. Setiap aroma cwi mie menguar rasanya perut langsung berontak. Cacing-cacing dalam perut menari-nari minta segera diberi mie.

Cwi mie mentah dalam kemasan, dokumentasi pribadi

Nah, suatu hari saya ingin sekali membeli cwi mie. Sesudah menyelesaikan sedikit pekerjaan, laptop saya sleep dan bergegas menuju kantin. Cwi mie Mas Rizal jadi tujuan utama saya.

Aih, ternyata karena istirahat PAT lebih panjang daripada biasanya, cwi mie dan makanan yang lain sudah ludes diserbu anak-anak. Saya hanya menjumpai kursi dan meja kosong, demikian juga banyak dari para penjual sudah pada pulang.

“Mau cari apa, Bu?” tiba-tiba seorang teman menyapa saya.
“Mau cari pangsit, Bu, kehabisan,” jawab saya. Saya biasa menamakan cwi mie dengan pangsit.

Bumbu dan topping cwi mie, dokumentasi pribadi

Teman saya langsung menawarkan sesuatu yang menarik.
“Bu Yuli mau pangsit? Tapi dimasak sendiri?”
Aha, pangsit tapi dimasak sendiri? Sesuatu yang baru bagi saya.
“Lha , Ibu bagaimana?” saya balik bertanya.
“Saya beli dua, yang satu buat Bu Yuli, satu buat saya..,”
Alhamdulillah….Saya tersenyum lebar. Rezeki ini namanya.

Ternyata selain dalam bentuk matang, Mas Rizal juga menjual cwi mie dalam bentuk mentah.

Setelah mengucapkan terima kasih sebuah kotak dus kecil saya terima dengan hati gembira. Asyik, pulang mau buat pangsit, pikir saya.

Sampai di rumah, saya langsung mengecek magic jar. Nasi habis. Tak apa.. saya punya pangsit, pikir saya.

Kompor saya nyalakan, di atasnya saya beri panci kecil dengan air setengah panci. Kotak dus saya buka, dan mangkuk saya siapkan di sampingnya.
Tapi lho….kok isinya bumbu-bumbu dan topping ya?
Ada kecap, kuah, bawang daun, bawang goreng, pangsit , cabe, daging ayam giling, dan krupuk .

“Kok tidak ada mie nya ya, Buk?” tanya anak saya.
Saya juga heran.
“Mungkin paketannya begitu ya, Le? Pakai mie Burung Dara di kulkas saja wes,” jawab saya memutuskan.

Cwi mie Burung Dara yang Mak nyus, dokumentasi pribadi

Tanpa banyak tanya, mie Burung Dara saya rebus dan dicampur dengan bumbu-bumbu yang ada di kotak tadi. Rasanya? Hmm, wenak.. saya makan berdua dan langsung habis.

Selesai makan tiba-tiba ada pesan masuk lewat WhatsApp saya. Walah, dari teman yang mentraktir mie tadi.

Intinya beliau minta maaf karena sesampai di rumah dan membuka dosnya, ternyata isinya cuma mie. Topping dan bumbunya ada pada saya.

He..he.. kami tertawa. Mungkin ada miskomunikasi sehingga ketika mie dijadikan satu dengan mie, dan bumbu dengan bumbu oleh Mas Rizal, hal tersebut tidak disampaikan pada pembeli, sehingga kami berpikir bahwa satu dos kecil itu isinya lengkap; mie, bumbu dan toppingnya.

“Besok saya ganti ya, Bu..,” kata teman saya.
Waduh, mana ada ceritanya orang mentraktir merasa bersalah dan mentraktir lagi. Saya langsung menolak.

Tapi begitulah, besok menjelang pulang sudah ada dos kecil cwi mie di meja saya. Dua pula.
“Bu, pangsitnya sudah tak letakkan di meja, tadi sama Mas Rizal sudah ditulisi biar tidak salah ,” kata teman saya menjelang pulang.

“Terima kasih, Bu,” jawab saya.
Duh, tidak enak juga.. tapi lha sudah dibelikan mau bagaimana lagi?

Pulang sekolah, seperti kemarin kompor langsung saya hidupkan dan merebus air setengah panci. Mau masak pangsit, pikir saya.

Tas berisi pangsit saya buka. Dua kotak tersaji manis di sana dengan tulisan yang begitu rapi : “1 porsi lengkap cwi mie mentah”.
Aha, mantap ini, pikir saya. Ketika air mendidih, kotak saya buka… dan .. alamak… mie nya tidak ada lagi.

Saya tertawa geli. Salah lagi ini. Kompor segera saya matikan dan lari ke warung beli Mie Burung Dara lagi.. he..he…

Ada WhatsApp masuk lagi. Tanpa saya buka saya sudah tahu isinya. Pasti teman saya di rumah sedang masak mie, dan bumbunya katut di kotak saya.

Sore itu saya kembali makan cwi mie yang spesial. Bumbu racikan Mas Rizal, plus Mie Burung Dara.

Nah, benar ‘kan, ada hubungan tertentu antara cwi mie Mas Rizal dan Mie Burung Dara punya Inul Daratista?

Mie Burung Dara…
Enaknya nyambung terus ….

NB: terima kasih traktirannya Bu Ari ..😀🙏

Categories
Sekolah

Persiapan Jelang Konser Musik Nusantara, Sebuah Catatan Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Suara musik mengiringi siswa yang sedang menyanyi bersama. Tidak hanya menyanyi, ada juga gerak dan kadang ditambah dengan drama.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka
Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka

Satu atau beberapa orang berperan menjadi penata gaya, sementara yang lain menjalankan peran masing-masing sebaik-baiknya. Ada yang membawa alat musik, ataupun properti tertentu.

Latihan pesiapan konser, dokumentasi Bintaraloka

Jika ada gerakan atau lagu yang kurang pas, maka akan diulang di latihan berikutnya. Bapak /Ibu guru pendamping kelas sesekali memberikan pengarahan pada siswa jika ada masalah.

Berbagai alat musik digunakan, dokumentasi pribadi

Di atas adalah gambaran pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema tiga di Bintaraloka.

Acara puncak dari Projek tema tiga adalah Konser Musik Nusantara yang akan diadakan tanggal 14 Juni 2023 di lapangan volly.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi pribadi

Dalam persiapan ini siswa bekerja dengan sungguh-sungguh. Tentu saja. Konser Musik Nusantara adalah konser mereka. Sukses ataupun tidaknya konser tergantung pada kerja keras dan kekompakan mereka.

Semua hal berkaitan dengan konser seperti; perencanaan, konsep, alat musik yang digunakan dan lainnya semua murni dari siswa. Sebagai bekal, sebelumnya siswa sudah mendapat banyak materi tentang aransemen musik, juga materi tari dari berbagai narasumber.

latihan di gazebo, dokumentasi pribadi

Narasumber yang sudah memberikan materi adalah Pak Vigil dan Pak Fabi untuk lagu dan musik, dan Kak Y untuk seni tari.

Sesuai dengan dimensi dari Profil Pelajar Pancasila, ada tiga tujuan utama dari projek Konser Musik Nusantara, yaitu:

  1. Berkebhinnekaan global : Peserta didik diharapkan mampu mengenal dan mengidentifikasi ciri
    khas kebudayaan daerah di Indonesia.
  2. Bergotong royong : Peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi
    dengan sukarela agar kegiatan projek yang dikerjakan dapat berjalan dengan lancer dan
    mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.
  3. Kreatif : Peserta didik diharapkan mampu menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan yang
    orisinal dari kegiatan projek yang sudah mereka lakukan dalam bentuk pameran karya ciri khas
    kebudayaan daerah di Indonesia.

Dalam pelaksanaan projek, tentunya sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Dengan kata lain peran serta orang tua lewat paguyuban sangat diperlukan untuk kesuksesan penyelenggaraan Konser Musik Nusantara ini.

Menggunakan berbagai properti, dokumentasi Bintaraloka

Di sini tampak bahwa sinergi yang baik antara sekolah dan orang tua akan menunjang kelancaran dari proses pembelajaran di sekolah.

Suasana latihan di kelas, dokumentasi Bintaraloka

Hari Jumat tanggal 26 Mei kemarin, adalah hari terakhir latihan bagi siswa kelas tujuh untuk persiapan konser, dan nantinya sesudah PAT latihan akan dilanjutkan kembali.

Tetap semangat semuanya, tunjukkan perform terbaik kalian saat konser nanti, dan semoga kita semua semakin mencintai budaya Nusantara.

Salam Pelajar Pancasila…😀

Categories
Reportase

Kajoetangan Heritage, Sebuah Perjalanan yang Tak Terlupakan

Kayutangan selalu menyimpan banyak cerita. Siang ini selepas Dhuhur kami menginjakkan kaki kembali di Kajoetangan. Salah satu destinasi wisata kebanggaan Arema ini kembali menyapa kedatangan kami.

Berfoto di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Sepeda motor kami parkir di depan Telkom dan… perjalanan pun dimulai. Berenam, kami teman satu alumni SD Bareng menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage kota Malang.

Menuju Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Di depan gang kami segera mengisi buku tamu. Ada tanda masuk yang harus dibayar. Tidak mahal, cukup lima ribu rupiah. Tapi sebagai gantinya kami mendapat foto bangunan di Kampoeng Kajoetangan tempo dulu.

Mengisi buku tamu, dokumentasi pribadi

Setelah mengisi buku tamu kamipun terus berjalan di gang besar yang membawa kami menuju tempat-tempat yang lain. Tiba-tiba seorang ibu dengan ramah mengajukan toples yang berisi kue kering. “Monggo, onbitjkoek,” kata Si Ibu.

Onbitjkoek, dokumentasi pribadi

Kami mengambilnya masing-masing satu. Aih, sambutan yang manis, pikir kami.

Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi
Di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Berjalan di sepanjang Kampoeng Kajoetangan, melewati jembatan dekat sungai, melihat rumah tua dan pernak perniknya adalah sebuah pesona tersendiri. Di beberapa tempat selalu kami sempatkan berfoto bersama. Biasalah, emak-emak. Soal foto pasti nomor satu. Tak perlu ditanya lagi.

Berfoto ala emak emak, dokumentasi pribadi
Di sebuah rumah tua, dokumentasi pribadi

Kampung yang pernah mendapatkan penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno sebagai salah satu dari 75 Desa Wisata Terbaik Indonesia Bangkit ini terus berbenah untuk menjadi destinasi wisata yang semakin menarik.

Penghargaan dari Menparekraf Sandiaga Uno untuk Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Hanya sayang siang ini tidak begitu banyak yang bisa kami lihat. Seandainya kami datang sore atau lebih pagi mungkin banyak hal yang bisa kami eksplor. Seperti rumah Jacoeb, atau para penjual yang berada di Kampoeng Kajoetangan.

Rumah Jacoeb, salah satu rumah tua di Kampoeng Kajoetangan Heritage, dokumentasi pribadi

Lelah berkeliling Kampoeng, sekitar pukul setengah dua siang kami segera keluar. Namun sebelum pulang, kami sempatkan dulu mampir ke bakso Telkom yang berada tak jauh dari Kampoeng Kajoetangan.

Hangatnya bakso Telkom, dokumentasi pribadi Nor

Hmm, bakso yang lezat dan harga yang bersahabat menutup perjalanan kami siang itu.

Ya, sebuah perjalanan yang tak terlupakan. Perjalanan yang manis, semanis persahabatan dan keakraban yang terjalin di antara kami selama ini.

Categories
Reportase

Hangatnya Ngopi Sore di Kajoetangan

Sebuah sore di Kajoetangan. Seperti biasa banyak yang lalu lalang di trotoar jalan ini. Ada yang pulang kerja, pulang sekolah atau bahkan baru berangkat bekerja.

Bangku- bangku yang ada mulai banyak terisi manusia.

Sore di Kajoetangan, dokumentasi pribadi

Ada yang tampak menunggu seseorang  dan yang banyak adalah duduk-duduk bersama teman.

Ya, setelah aktivitas seharian, duduk dan rehat sebentar bisa sedikit mengurai kepenatan yang ada di kepala juga di badan.

Lalu lalang kendaraan tidak mengganggu keasyikan para penikmat sore di Kajoetangan. Apalagi sejak diberlakukannya arus searah , yang membuat Kajoetangan menjadi tempat yang nyaman karena kendaraan yang lewat tidak begitu padat.

All About Koffie by Kawisari, dokumentasi pribadi

Sore itu seorang teman mengajak saya ngopi di Kajoetangan sepulang sekolah. Aha, ajakan yang menarik. Apalagi sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu.

Dari banyak tempat ngopi di Kajoetangan, pilihan kami jatuh pada All About Koffie by Kawisari . Sebuah cafe bernuansa heritage dan begitu kental dengan budaya Jawa.

Kami memilih duduk di luar saja. Alasannya sederhana.  Biar sambil ngopi kami bisa merasakan kehangatan suasana Kajoetangan dengan melihat orang yang lalu lalang di sekitar kami.

Kami duduk di kursi dengan meja bundar kecil di antara kami. Tak lama menunggu,  pesananpun  datang.  Secangkir kopi tubruk untuk saya, dan teh serai untuk teman saya. Ditambah dengan singkong goreng dengan taburan keju yang garing dan terasa begitu gurih.

Kopi tubruk dan teh serai, dokumentasi pribadi

Harum kopi dan aroma teh serai menguar di antara kami. Aroma yang membuat suasana menjadi semakin  akrab hingga obrolan terus mengalir hangat. Obrolan tentang apa saja. Tentang sekolah, ujian, anak-anak dan banyak lagi.

Sesekali ada tawa di antara kami ketika obrolan berkisar pada hal-hal yang lucu. Biasalah, emak-emak selalu gayeng kalau sedang ngobrol.

Duduk di All About Koffie by Kawisari memang menimbulkan rasa yang berbeda. Cafe yang demikian unik dan cantik, bahkan sejak dari desain luarnya.

Suasana nostalgia di dalam cafe, dokumentasi pribadi

Suasana yang diusung cafe adalah Malang Tempo Doeloe. Dari berbagai sumber yang saya baca ternyata sebelum menjadi cafe, di sini dulu berdiri salon Madame Fung yang sangat berjaya di tahun 1935-an.

Belum banyak perubahan pada interiornya, demikian juga etalase-etalase yang dipakai sehingga suasana nostalgia sangat terasa saat kita memasuki cafe ini.

Sesuai dengan namanya, All About Koffie by Kawisari menyajikan kopi yang berasal dari perkebunan kopi Kawisari, milik Tugu Hotels di Desa Ngadirenggo, Wlingi, Jawa Timur. Ini bisa dilihat di keterangan yang ada di dekat pintu masuk.

Tentang perkebunan Kawisari, dokumentasi pribadi

Perkebunan ini ada sejak tahun 1870 dan berada pada ketinggian sekitar 1.000 mdpl.

Dengan lahan seluas kira kira 850 hektare, perkebunan ini selalu menjadi tonggak penghasil kopi Robusta dan Arabica premium di Jawa Timur.

Begitu juga dengan hasil kebun lainnya seperti sayur organik, buah-buahan, bahkan madu kopi. Semua bahan tersebut dibawa ke All About Koffie by Kawisari sehingga tercetus konsep “from farm to table”.

From farm to table, dokumentasi pribadi

Karenanya All About  Koffie by Kawisari tidak hanya menyediakan kopi, tapi juga makanan dan dessert dengan harga  yang cukup terjangkau, sehingga bisa menjadi tempat yang cocok bagi semua kalangan.

Yang unik, desain yang ditampilkan di tempat ini menggambarkan suasana kehidupan penduduk desa Kawisari . Penduduk desa ini dikenal dengan budaya kekeluargaan, kebersamaan, dan kesederhanaannya yang kuat.

Suasana bagian dalam cafe, dokumentasi pribadi

Senja mulai turun. Kopi di cangkir, dan singkongpun mulai tandas. Meski obrolan belum lagi berhenti, tapi sudah saatnya kami harus kembali.

Bergegas kami menuju tempat parkir dan mengambil sepeda untuk segera pulang.

Aha, duduk sebentar sambil ngopi bersama teman benar-benar bisa mengurai segala kekusutan yang ada di kepala.

Sore itu kami berpisah dengan satu pertanyaan yang sama. Kapan ngopi lagi?

He..he..