Categories
Reportase

Cafe Sawah, Sensasi Makan Bersama di antara Cantiknya Hamparan Sawah

Waktu kira- kira menunjukkan pukul setengah satu siang ketika mobil kami memasuki kawasan Cafe Sawah. Langit mulai meredup, tidak sepanas tadi ketika kami meninggalkan Santerra de Laponte.

Berfoto dekat pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Cafe Sawah Pujon Kidul berlokasi di Desa Wisata Pujon Kidul, Pujon, Malang, Jawa Timur. Kawasan ini termasuk wilayah Desa Wisata Pujon Kidul.

Jalan menuju kawasan Cafe Sawah dipenuhi oleh pedagang yang menjual aneka baju, cindera mata, aneka sayur, buah, hasil bumi juga aneka makanan.

Pintu masuk Cafe Sawah, dokumentasi pribadi

Ya, Pujon yang terletak di dataran tinggi terkenal sebagai penghasil sayuran dan buah-buahan. Karenanya di kiri kanan jalan banyak dijual brokoli, wortel, jeruk, sawi, kentang, terong, cabe, tomat, bahkan bentul dan jahe.

Penjual pohon keju, dokumentasi pribadi

Sebelum masuk Cafe Sawah kami mampir untuk membeli pohong keju dan tahu. Mbak penjual pohong bercerita bahwa Cafe Sawah dibuka sampai sekitar jam setengah enam sore. Dan selama liburan ini pengunjung demikian banyak.

Perjalanan dilanjutkan. Kami melewati tempat wisata petik sawi. Tampak di situ beberapa anak dengan dipandu para petani diajak untuk memetik sawi.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi

Sampai di bagian dalam Cafe Sawah, kami langsung menuju tempat makan. Berbagai hidangan disajikan di sini dengan nuansa yang begitu akrab.

Wisata petik sawi, dokumentasi pribadi
Menuju tempat makan, dokumentasi pribadi

Kami bisa mengambil sendiri hidangan yang sangat familiar dengan keseharian kami. Nasinya ada tiga macam, nasi putih, nasi jagung dan nasi empog. Sementara pendamping nasi adalah urap, karedok, sayur pedas, sayur tewel, sayur belalo, bakwan, mendol , ayam goreng dan banyak lagi. Pendeknya semua lezat dan sedap.

Aneka hidangan yang akrab di lidah, dokumentasi pribadi

Saya sendiri mengambil nasi empog, tewel, belalo, mendol, telor dan sambal. Subhanallah.. mantap sekali rasanya. Ditambah dengan minumnya sari jeruk hangat.

Pemandangan cafe sawah dari tempat makan, dokumentasi pribadi

Makan siang kali ini benar benar terasa beda. Tentu saja, makan bersama sambil melihat hamparan sawah di kaki gunung memiliki sensasi tersendiri. Aih, sungguh nikmat Tuhan yang mana yang akan kamu dustakan?

Kolam dengan ikan yang besar dan jinak, dokumentasi

Setelah makan kami berfoto foto sebentar. Sejuknya hawa, indahnya sawah dan kecipak ikan di kolam, sungguh pemandangan yang menyegarkan mata.

Dekatvkolam ikan Cafe Sawah , dokumentasi pribadi

Acara terakhir adalah … belanja. Nah, ini acara yang sangat menyenangkan. Segarnya sayuran dan aneka hasil bumi membuat kami ingin membeli apa saja.

Penjual bentul, dokumentasi pribadi
Berbelanja aneka sayuran, dokumentasi pribadi
Puas berbelanja, dokumentasi pribadi

Di antara teman-teman ada yang membeli tomat, sawo, bentul, klampok, mangga dan slada. Saya sendiri membeli tomat dan terong. Wah, bisa dibayangkan bagian belakang mobil langsung penuh usai belanja di kawasan Cafe Sawah.

Matahari semakin turun ke barat. Explore di Cafe Sawah berakhir, dan saatnya kami meneruskan perjalanan ke Paralayang dan Taman Langit…

Salam jalan-jalan…😀

Baca juga :

Categories
Reportase

Santerra de Laponte, Indahnya Hamparan Bunga dan Pesona Replika Bangunan Mancanegara

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke WhatsApp saya.
“Bu, saya sudah dapat dua penumpang, dan sekarang otw Mbareng,”
Aha, akhirnya jadi juga apa yang sudah kami rencanakan beberapa hari ini. Healing-healing  bersama pesonatrans_dolan4six.

Sebelumnya kami sudah pernah melakukan perjalanan bersama pesonatrans_dolan4six, tepatnya ke Bedengan.

Indahnya bunga berbadu dengan replika bangunan Eropa, dokumentasi Buz
Replika berbagai bangunan mancanegara, dokumentasi pribadi

Nah, karena penasaran ingin healing lagi, berempat kami kembali menggunakan jasa biro perjalanan ini untuk jalan-jalan. Kali ini destinasi kami adalah ke daerah Pujon.

Bu Ari berperan sebagai guide. Ya, Bu Ari sangat faham dengan daerah Batu dan Pujon, dan sering mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah sana.

Bahkan sambil bergurau kami mengatakan beliau adalah penguasa daerah Batu dan Pujon.

Bu Ari, sangat memahami daerah Batu dan Pujon, dokumentasi pribadi

Setelah melakukan perbincangan lewat grup WhatsApp, akhirnya diputuskan tujuan wisata adalah Santerra de Laponte, Cafe Sawah, Paralayang dan Taman Langit.

Setelah barang sejam perjalanan, sekitar pukul sepuluh mobil kami mulai memasuki kawasan wisata Santerra de Laponte.  Kami segera turun , sementara driver sekaligus fotografer kami Mas Rudy lebih memilih menunggu dengan sabar di mobil.

Bunga begonia yang berjajar rapi di kiri kanan jalan seakan menyambut kedatangan kami. Warnanya yang merah sedikit oranye menyala tertimpa sinar matahari.

Indahnya bunga begonia di kiri kanan jalan, dokumentasi pribadi
Deretan bunga lili , dokumentasi pribadi

Aih, bunga yang begitu cantik. Saya tiba-tiba ingat di masa kecil, saya dan teman-teman sering bermain-main bunga ini karena banyak tumbuh di kampung kami. Tapi tentu saja tidak secantik begonia yang kami lihat pagi ini.

Bunga lili dan tapak dara juga berjajar indah. Warnanya yang merah menyala dan oranye benar benar memanjakan penglihatan kami.

Tapak dara oranye, Dokumentasi pribadi

Kami segera masuk menuju tempat pembelian tiket. Di antara bunga-bunga yang ada di sekitar kami banyak dipasang peringatan-peringatan ataupun peraturan bagi para pengunjung Santerra de Laponte.

Membeli tiket, dokumentasi pribadi

Setelah membeli tiket masing masing Rp30.000,00 kamipun masuk lokasi wisata. Ah ya, harga tiket termasuk vocher untuk membeli minuman dan bunga di Santerra de Laponte.

Papan peringatan pengunjung, dokumentasi pribadi
Papan peringatan pengunjung, dokumentasi pribadi

Cantik dan menarik, itu kesan saya begitu terus masuk semakin jauh lokasi wisata ini.
Ya, konsep dari Santerra de Laponte adalah taman rekreasi beribu bunga yang dipadu dengan replika bangunan mancanegara. Ada sekitar 700 jenis tanaman bunga di sini. Luar biasa. Semua tertata dengan rapi dan indah.

Semua sudut tertata rapi dan indah di Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi
Satu sudut Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi

Di Santerra de Laponte juga terdapat  banyak replika bangunan dengan nuansa Korea, Jepang dan Eropa terutama  Belanda. Ya, hal tersebut tampak pada bangunan kincir angin, banyaknya pohon sakura dan replika bangunan rumah dan pertokoan yang berwarna-warni.

Di antara replika bangunan, dokumentasi Buz

Di tempat ini juga disediakan persewaan baju bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi berfoto dengan mengenakan pakaian dari Jepang, Belanda atau Korea. Aha, sangat menarik. Banyak pengunjung yang antri ataupun berfoto di lokasi tersebut.

Berfoto dengan latar belakang pertokoan Korea, dokumentasi Buz

Tempat rekreasi yang terletak di Jalan Truno Joyo, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon ini tidak hanya menyajikan hamparan bunga yang begitu cantik dan spot foto yang menarik.
Santerra de Laponte  juga menyediakan berbagai wahana permainan seperti Rainbow Slide, Virtual Reality, Perahu Putar, Mini Outbound, Trampolin, Istana Balon, Mini Flying Fox, Santerra Flight, House Of Terror, Mobil Golf, Cinema 7D, Ontang-Anting, Robot Electric, Komedi Putar juga Bombom Car.

Rainbow Slide, dokumentasi pribadi

Karena areanya yang begitu luas yaitu sekitar 4ha, Santerra de Laponte juga menyediakan sewa sepeda dan mobil golf untuk berkeliling lokasi.

Berkeliling dengan mobil di Santerra de Laponte, dokumentasi pribadi

Jika kita lelah berkeliling, disediakan cafe sekaligus tempat rehat sambil melihat keindahan Gunung Banyak sebagai view-nya. Benar-benar tempat yang indah dan mengesankan.

Rehat, di belakang adalah view Gunung Banyak, dokumentasi pribadi

Sesudah azan Dhuhur berkumandang kami bersiap untuk kembali ke mobil. Tapi sebelumnya kami menggunakan voucher untuk membeli empat gelas minuman. Dua minuman coklat, satu lemon tea dan satu lychee tea

Sebenarnya kami juga hendak menggunakan voucher pembelian tanaman. Tapi tidak jadi karena kami pikir akan kesulitan meletakkannya di dalam mobil.

Tempat pembelian tanaman, dokumentasi pribadi
Menuju pintu keluar, dokumentasi pribadi

Seiring dengan mentari yang semakin naik kami meninggalkan Santerra de Laponte. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir bunga-bunga di kiri kanan kami seolah memberikan senyum yang terindah.

Ya, dengan perawatan dan kasih sayang yang baik, dengan senang hati tanaman akan mempersembahkan keindahannya bagi semesta.

Santerra de Laponte dilihat dari atas, dokumentasi pribadi

Akhirnya selamat tinggal Santerra de Laponte. Keindahan dan kecantikanmu akan senantiasa terpatri dalam ingatan kami.

Salam bunga…🤗

Categories
Reportase

Sebuah Pagi di Car Free Day

Rungkad……Entek entekan
Kelangan kowe sing paling tak sayang
Stop mencintaimu
Gawe aku ngelu

Lagu dari Happy Asmara menghentak semangat kami pagi itu. Pertigaan Jalan Semeru dan Ijen sudah dipenuhi manusia. Ada yang menggunakan kostum komunitas masing-masing, banyak pula yang tidak. Tiap orang mengambil jarak sekitar dua lengan agar tidak saling bertabrakan ketika melakukan gerakan.

Pas di pertigaan ada sebuah panggung kecil untuk para pemandu senam.

Suasana Car Free Day, dokumentasi pribadi

Aha, itu adalah suasana Car Free Day di kawasan Semeru dan Ijen pagi ini.

Suasana Car Free Day kota Malang seperti biasa selalu ramai. Event yang di adakan setiap hari Minggu itu sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Semua bergerak ( atau bergoyang?) selaras irama mengikuti sang pemandu senam. Ada sekitar lima orang yang menjadi pemandu senam di atas panggung. Gerakannya lincah, gemulai namun bertenaga.

Bergerak bersama , bergoyang bersama, dokumentasi pribadi

Wajah ceria tampak di mana-mana. Sedikit berlawanan dengan cuaca kota Malang pagi ini yang begitu mendung.

Selesai lagu Rungkad, irama mulai sedikit selow. Lagu Malang Seger berkumandang. Peserta senam semakin banyak, semua bergoyang sesuai irama. Saya dan dua orang teman menjadi bagian dari semuanya

Ketika irama beralih lebih keras, mulai dilakukan senam aerobik. Nah, ini…. Gerakan kami mulai tak karuan.

Ya, kami jarang ikut senam bersama seperti ini, jadi gerakannya jadi sering salah. Kami berpandangan sejenak lalu tertawa.

Jalan-jalan di CFD, dokumentasi pribadi

“Gak apa-apa… yang penting keluar keringat..,” kata teman saya menghibur diri, dan kamipun terus bergerak dengan penuh semangat.

Setelah empat lagu dan berkeringat, kamipun beranjak meninggalkan tempat senam. Jalan-jalan, itu agenda kami pagi itu.

Bagi kami warga Malang, Car Free Day selalu memiliki magnet tersendiri. Di kawasan itu tua, muda, anak kecil ikut bergembira bersama. Ada yang berjalan-jalan bersama keluarga, bertemu komunitas, bermain, mencari hiburan, promosi kegiatan, dan yang lainnya.

Berdatangan ke CFD, dokumentasi pribadi

Begitu banyaknya yang datang di CFD dimanfaatkan oleh para pedagang untuk menjajakan dagangannya. Dagangan bisa berupa makanan, baju, aksesoris juga mainan.

Penjual mainan di CFD, dokumentasi pribadi

Pedagang mainan ada di mana-mana. Persewaan mainan juga. Ada persewaan scooter yang mematok harga Rp10.000 tiap15 menit pemakaian. Wah, sangat menarik. Apalagi saya lihat penyewa scooter selalu datang silih berganti.

Persewaan scooter anak anak, dokumentasi pribadi

Di CFD kita juga bisa naik dokar (delman). Ongkosnya Rp10.000 perorang untuk satu kali naik. Sebenarnya kami ingin juga naik, tapi saat itu penumpang didominasi anak kecil, akhirnya kami mundur dulu.

Dokar dengan tarip Rp10.000,00 per orang, dokumentasi pribadi

Setelah sekian tahun tidak ke CFD, ada banyak yang berbeda. Salah satunya yang sangat mencolok adalah makanan yang dijual.

Satu stand makanan yang begitu laris adalah stand yang menjual makanan kekinian. Nama makanannya banyak yang menggunakan bahasa asing sehingga kami tidak berani mampir.

Makanan kekinian, dokumentasi pribadi

He..he.. benar benar kurang update. Masalahnya sebenarnya cuma takut tidak cocok di lidah saja.

Setelah berputar-putar di lokasi perbelanjaan yang berada di halaman Museum Brawijaya, kami memutuskan untuk istirahat dan makan soto ayam di pujasera. Menurut informasi dari teman- teman, pujasera ini selalu buka meski tidak pas penyelenggaraan CFD.

Soto ayam maknyus, dokumentasi pribadi

Nah, di pujasera ini makanan yang dijual cukup akrab dengan lidah kami. Seperti rawon, ayam geprek, soto ayam, soto daging dan lain-lain. Minumnya? Kami pilih es degan saja. Tapi esnya sedikit, maklum, hari masih pagi.

Duduk di pujasera sambil mengamati lalu lalang orang-orang sungguh mengasyikkan. Kebetulan di dekat Pujasera adalah stand mainan anak berupa kolam tempat memancing. Banyak sekali anak kecil yang duduk di situ dengan didampingi orang tuanya.

Kolam pemancingan anak anak, dokumentasi pribadi

Tak lama menunggu, soto ayam yang kami pesan datang. Wow, satu mangkuk penuh. Nasi, soto ayam, telur, sambel dan kerupuk. Benar-benar hidangan pagi yang mantap.

Setelah makan kami melanjutkan perjalanan. Pulang, itu tujuan utama. Ya, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Saatnya kami melakukan kegiatan yang lain di rumah.

Dalam perjalanan pulang saya menyempatkan diri mampir ke pedagang aksesoris. Biasalah, emak-emak, selalu tidak tahan melihat barang-barang cantik. Di situ kami membeli beberapa jepit dan karet pengikat rambut.

Membeli aksesoris, dokumentasi pribadi

Menuju tempat parkir, kami harus melewati tempat kami senam tadi. Di lokasi senam pengunjung semakin banyak, irama lagu semakin menghentak dan tampak pesertanya banyak yang masih muda. Aih, cocok sekali dengan iramanya.

Di tempat parkir bergegas kami mengambil sepeda. Setelah mengucapkan terima kasih pada Mas parkir sepeda kami melaju keluar lokasi CFD di sepanjang jalan Semeru.

Tampak banyak pengunjung yang berdatangan, demikian pula yang pulang seperti kami. Ada yang sekedar berkeringat seperti kami, banyak pula yang pulang dengan membawa banyak belanjaan.

Ada yang datang dan pergi, di CFD. Ada yang datang untuk berkegiatan ataupun rehat dari segala kegiatan yang sudah dilakukan selama satu minggu.

Ya, meski banyak yang berubah dari waktu ke waktu, CFD tetap menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi warga Malang setiap hari Minggu.

Semoga bermanfaat, salam Minggu pagi…😊

Categories
Serba-serbi

Sebuah Catatan Sie Konsumsi Idul Qurban 1444 H

Siang itu tiba-tiba sebuah grup baru muncul di whatsapp saya. Aha, grup di dalam grup. Sebuah fenomena yang selalu muncul sekarang ini.

Grup Sie Konsumsi Qurban. Ya, saya dan sebelas orang teman tergabung dalam sie konsumsi di perayaan Idul Adha tahun ini.

Bu Ami sebagai ketua sie langsung mengajak kami berdiskusi. Aih, Idul Adha masih kurang sekitar empat atau lima hari lagi, tapi diskusi sudah terasa begitu intens.

Apa yang didiskusikan? Tentu saja tentang menu dan pembagian tugas. Ada dua menu yang direncanakan yaitu nasi pecel untuk sarapan dan nasi sop untuk makan siang.

Nah, karena sarapan dilaksanakan sesudah sholat Id, maka tugas merebus sayuran untuk pecel dibagi-bagi. Ada yang kebagian sayur kacang panjang, bayem, kenikir, sawi juga cambah. Sayur dibawa dalam kondisi matang ke sekolah, demikian pesan dari Bu Ami.

Dialog di grup konsumsi, dokumentasi pribadi

Tentang bumbu pecel, langsung dibeli dari Blitar (ada teman yang khusus bertugas untuk mendatangkan bumbu pecel tersebut). Bumbu pecel yang agak meragukan statusnya. Bagaimana tidak? Dia didatangkan dari Blitar tapi namanya bumbu pecel khas Kediri. Nah….

Tentang dadar jagung dan perkedel sudah didatangkan dari Manggar, kerupuk dari Arjosari, rempeyek dari Sawojajar. Pokoknya semua lauk sudah datang pagi itu dengan tampilan yang begitu cantik.

Kegiatan sie konsumsi dimulai pagi benar. Ketika semua sholat Id, sie konsumsi menata hidangan di dapur. Nah, ini salah satu barokah lebaran yang berbeda. Beberapa teman sie konsumsi sudah berlebaran di hari Rabu, karenanya hari Kamis sudah lodhang, tidak melaksanakan sholat Id, jadi bisa melakukan kesibukan di dapur.

Karena saya sholat Id di hari Kamis, sayuran yang saya bawa saya letakkan di meja dan langsung saya tinggal sholat ke aula. Alhamdulilah sayuran tersebut langsung digabungkan dengan sayuran yang lain oleh teman-teman.

Ada sedikit insiden pagi itu. Tiba-tiba bumbu pecel ketlisut! Bisa dibayangkan betapa paniknya. Duh.., makan pecel tanpa bumbu.. apa kata dunia??

Tapi untunglah, berkat kejelian teman-teman, bumbu segera ditemukan dan langsung dieksekusi (dihancurkan) di mangkok besar.

Selesai sholat Id, kegiatan sarapan dimulai. Ustadz Dedi dan bapak-bapak yang lain sarapan di ruang guru, sementara kami dan anak- anak di dapur.

Sebelum sarapan pagi di ruang guru, dokumentasi BBC SMP3
Sarapan pagi BDI, dokumentasi pribadi

Mantap sekali menu pagi itu. Nasi pecel dengan kulup sawi, kacang panjang, cambah, bayam, kenikir, juga bunga turi. Lauknya bakwan, telur mata sapi, kerupuk, dan rempeyek. Rempeyeknya ada beberapa varian. Rempeyek kacang, teri juga gremut. Subhanallah. Nikmat Tuhan Yang mana yang akan kamu dustakan?

Selesai sarapan, lanjut dengan kegiatan berikutnya. Apa kegiatannya? Membuat sayur sop.

Kegiatan mengupas wortel, ucet, memotong brokoli dan tempe terasa mengasyikkan. Ya iya lah, jika para ibu bertemu pasti ada banyak diskusi yang terjadi. Yang jelas sambil tangan terus bekerja diskusi tentang masalah kekinian berjalan dengan seru.

Sementara kami memotong sayuran, ternyata Bu Ami kehilangan bumbu lagi. Walah, kali ini bumbu sop dan teman-temannya.

Berita kehilangan sampai diumumkan lewat mic sekolah. Alhamdulilah tas berisi bumbu ditemukan. Ternyata tas tersebut terbawa ke kelas delapan.

Banyak sekali sayuran yang dipotong-potong pagi itu. Tempe juga mencapai 200 potong lebih. Tapi semua terasa gayeng ketika dikerjakan bersama.

Menggoreng ratusan tempe, dokumentasi pribadi

Eits, ada tambahan lagi. Es cao dan es goder yang cantik dan penuh pesona. Kedua jenis minuman ini ditata dan disajikan khusus oleh dua ibu guru cantik, Bu Fia dan Bu Triana.

Ibu-ibu cantik, menyajikan es cantik, dokumentasi pribadi
Es goder cantik, dokumentasi pribadi

Tatkala bagian penyembelihan minta disediakan kopi, alamak, kami kehilangan gula.

Ada masalah, ada solusi! Dengan sigap Bu Any belanja gula,kopi, dan gelas kertas juga..
Ibu guru satu ini memang keren, padahal semua itu disambi dengan jualan es cao dan es goder. Eh…

Berjualan es keliling, dokumentasi Bu Tjatur

Lepas sholat dhuhur adalah saat makan siang. Untuk makan siang kami menggunakan area kantin. Sayur sop, nasi, bakwan, perkedel, telur ceplok, kerupuk, sambal sudah tersaji manis di meja makan.

Sebagian teman nasi sop, dokumentasi pribadi

Anak anak mulai berdatangan untuk makan. Untuk menghindari agar sendok sayur tidak nyemplung dalam sop, maka ada petugas khusus penciduk sayur sop.

Melayani anak anak makan siang, dokumentasi Bu Ami
Makan siang, dokumentasi pribadi
Makan siang, dokumentasi pribadi

Setelah rombongan anak- anak selesai makan, ganti rombongan guru-guru dan TU.

Maem dulu.., dokumentasi pribadi
Makan siang, dokumentasi pribadi
Makan siang, Dokumentasi pribadi

Banyak sekali yang harus dilayani hari itu, karenanya kami menanak nasi lagi sebelum rombongan guru datang. Padahal sebelumnya yang sudah disiapkan adalah nasi dalam satu termos besar dan empat magic jar. Alhamdulilah semua habis.

Sie konsumsi stand by di daerah kantin, dokumentasi pribadi

Sementara itu di bagian penyembelihan Bu Utin selalu woro- woro pada siswa agar yang belum makan segera makan. Ya, jangan sampai siswa sakit atau masuk angin gara-gara lupa makan.

Menjelang Ashar sampai pada tugas akhir kami yaitu membungkus nasi dan lauk yang masih ada. Semua harus kembali didistribusikan agar tidak terbuang percuma.

Sekitar pukul setengah empat kegiatan sie konsumsi berakhir. Dapur dan kantin kembali bersih, dan kami bisa pulang kembali.

Dapur bersih kembali, dokumentasi pribadi

Sebuah kerja tim yang luar biasa. Ruwet, namun tim begitu solid dan mantap. Kerja tim yang dimulai pagi hingga sore menghasilkan hidangan yang memberikan ‘kekuatan’ pada semua panitia yang bertugas.

Ya, bukankah dengan asupan gizi yang baik, semua panitia bisa melaksanakan semua tugas dengan baik? Karenanya tidak berlebihan jika Bu Utin mengatakan bahwa Sie konsumsi adalah penentu nasib Panitia Qurban. He..he…✌️✌️

Salam Bintaraloka…

Categories
Reportase

Sebuah Catatan Tentang Perayaan Hari Raya Idul Adha 1444 H di Bumi Bintaraloka

Pagi ini udara terasa begitu dingin. Bulan Juni dan Juli seperti biasa selalu diwarnai dengan adanya ‘bedhidhing’ di Kota Malang. Sisa hujan yang turun semalam membuat banyak ruas jalan menjadi basah.

Jam masih menunjukkan pukul enam kurang sepuluh. Meski demikian, sudah banyak orang berada di jalanan dengan mengenakan busana muslim, atau mengenakan mukenah yang akan digunakan untuk sholat. Ya, hari ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1444 H.

Seperti halnya perayaan Hari Raya Idul Fitri, perayaan Idul Adha tahun ini juga tidak bersamaan. Sebagian teman kami melaksanakan sholat Id kemarin, dan sebagian lagi hari ini.

Tak apa, perbedaan adalah hal yang biasa, karena masing-masing punya dasar dan alasan sendiri.

Malam takbiran Idul Adha, Dokumentasi BBC SMP3

Perayaan Idul Adha di Bintaraloka hari ini diawali dengan pelaksanaan sholat Id di aula Bintaraloka satu. Sholat Id diikuti oleh sebagian Bapak/Ibu guru yang beragama Islam dan siswa kelas 7 dan 8.

Mengapa sebagian bapak/ibu guru? Ya, sebagian Ibu /Bapak guru melaksanakan sholat Id di Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang.

Sholat Id di Kantor Dinas Pendidikan, dokumentasi Anna

Di tahun sebelumnya, sholat Id di sekolah selalu dilaksanakan di lapangan, tapi karena kondisi lapangan hari ini basah, sholat dilaksanakan di aula. Bertindak sebagai imam dan Khotib adalah Ustadz Dedi Novianto, S.PdI, M.PdI.

Dalam ceramahnya selain mengajak jamaah untuk selalu meningkatkan iman dan takwa, Ustadz Dedi juga mengajak semua untuk mengikuti teladan Nabi Ibrahim.

Ustadz Dedi Novianto, S.PdI, M.PdI, dokumentasi Bu Any

Sebagaimana kita ketahui bersama, peristiwa Qurban sangat erat kaitannya dengan sejarah Nabi Ibrahim Sang Khalilullah.

Ada dua hal yang harus kita teladani dari sejarah Nabi Ibrahim yaitu keberanian untuk menyatakan dirinya muslim sementara orang-orang sekitarnya masih memegang keyakinan paganisme, dan keberanian untuk berkata tidak pada ajakan orang-orang sekitarnya untuk menyembah berhala.

Sudah saatnya bagi kaum muslimin yang selalu menyebut nama Nabi Ibrahim setiap membaca sholawat melakukan renungan, sudahkah kita melaksanakan teladan Nabiyullah Ibrahim as?

Sesudah sholat Id, acara pagi itu dilanjutkan dengan ramah tamah di ruang guru. Ya, Ustadz Dedi adalah mantan guru PAI SMP Negeri 3 Malang dan sekarang beliau adalah pengawas PAI Kemenag Kota Malang.

Berfoto bersama sesudah sholat Id, dokumentasi BBC SMP3

Sekitar pukul sembilan acara penyembelihan hewan qurban dimulai. Tahun ini ada lima ekor sapi dan tiga ekor kambing yang disembelih di SMP Negeri 3 Malang.

Sesudah disembelih, daging kurban dipotong -potong, dikemas dalam tas kresek dan dibagi-bagikan pada yang berhak menerima.

Memotong daging qurban, dokumentasi Bu Any
Mengemas daging qurban, Dokumentasi Bu Any

Hampir semua guru dan TU terlibat dalam kepanitiaan Idul Adha. Ada yang bertugas di bagian penyembelihan dan pengemasan daging kurban, bagian distribusi, kebersihan , keamanan, konsumsi dan lainnya.

Sie konsumsi, Dokumentasi pribadi
Panitia dari perwakilan kelas, dokumentasi pribadi
Sarapan pagi anggota BDI, dokumentasi pribadi
Siap mengantar es goder, dokumentasi pribadi

Siswa yang terlibat dalam kepanitiaan berasal dari OSIS, BDI juga perwakilan masing-masing kelas 7 dan 8.

Banyak juga di antara panitia, terutama BDI, menginap di sekolah untuk melaksanakan takbiran di malam hari raya Idul Adha.

Sie konsumsi, dokumentasi pribadi

Kelancaran acara perayaan Idul Adha adalah berkat kerjasama yang sangat solid dari semua seksi yang ada.

Makan siang, dokumentasi pribadi
Makan siang, dokumentasi pribadi

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari sebuah perayaan Idul Adha,c mulai dari takbiran, sholat, penyembelihan, sampai pada pembagian daging qurban.

Melalui perayaan qurban kita tidak hanya diajak untuk melakukan ritual ibadah pada Allah SWT, namun juga lebih peduli pada orang-orang sekitar kita.

Dalam agama Islam ada dua macam kesalehan yang harus dimiliki oleh seorang muslim, yaitu kesalehan individual dan kesalehan sosial.

Bersama Amira dan Lili, panitia dari OSIS dan BDI, dokumentasi pribadi

Kesalehan individual atau ritual berkaitan dengan ibadah atau pengabdian diri kita pada Allah, sedangkan kesalehan sosial meliputi bagaimana kita membina hubungan baik dengan sesama manusia.

Dan dalam perayaan Idul Adha, kita semua diajak untuk lebih menghayati kedua kesalehan tersebut.

Semoga bermanfaat, salam Bintaraloka 😊