Belajar Membuat Batik Topeng Malangan, Sebuah Cara Menghargai Karya Seni yang Penuh Filosofi

Bau lilin yang dipanaskan menguar ke mana- mana. Kain mori putih dibeber di atas meja yang sudah dilapisi spon berair dan ditutup plastik kaca.

Dengan hati-hati, narasumber mencelupkan alat pembuat cap dengan motif tertentu ke dalam lilin panas, lalu segera meletakkan cetakan tadi dengan agak menekan ke atas kain.

Membuat batik cap, dokumentasi pribadi

Cetakan dibuka, dan taraa.. motif cantik langsung tercipta di atas kain tadi.

Sekelompok anak memperhatikan keterangan narasumber, sementara yang lain memvideo ataupun mencatat segala keterangan yang disampaikan.

Proses pewarnaan, dokumentasi pribadi

Beberapa pertanyaan yang muncul dijawab dengan sabar oleh Pak Afaf, sang narasumber hingga siswa merasa puas.

Di atas adalah gambaran suasana ketika siswa SMP Negeri 3 Malang melakukan Outdoor Learning ke SMKN 7 Malang. Outdoor Learning ini bertujuan untuk mengajak siswa praktek membuat batik topeng Malang.

Pengarahan dari Pak Vigil dan Bu Ari, dokumentasi pribadi

ODL dilaksanakan pada hari Rabu, 18 Oktober 2023 dengan diikuti lebih dari 300 peserta yang terdiri atas siswa dan guru pendamping.

Siap berangkat ODL, dokumentasi pribadi

Pemberangkatan peserta dari SMP Negeri 3 ke SMKN 7 dilaksanakan pukul tujuh pagi dengan menggunakan 25 buah mikrolet. Sebelum berangkat, ketua projek tema dua yaitu Pak Vigil memberikan arahan pada siswa di aula Bintaraloka bersama Ibu Ari Susani. 

Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi
Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi
Di dalam mikrolet , dokumentasi pribadi

Menurut Pak Afaf, bukan hanya SMP Negeri 3 Malang, bahkan siswa dari negeri Jiran kita Malaysia, juga tertarik belajar pembuatan batik di SMKN 7 Malang.

Belajar membuat batik topeng Malang adalah salah satu kegiatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema kedua yaitu Batik Topeng Malangan Karya Cipta Bintaraloka.

Projek ini mengambil dimensi berkebhinekaan global, kreatif, mandiri dan gotong royong 

Mengapa harus batik?

Berbagai motif batik hasil karya SMKN 7, dokumentasi pribadi

Batik sebagai karya Bangsa Indonesia harus kita hargai dan kita lestarikan keberadaannya. 

Batik merupakan perpaduan antara seni dan teknologi leluhur bangsa Indonesia.

Hal yang membuat batik memiliki daya tarik dibanding motif kain yang lain adalah karena corak motifnya banyak mengandung makna dan penuh dengan filosofi yang erat akan adat dan budaya dalam kehidupan manusia. 

Motif batik yang lain, dokumentasi pribadi

Indonesia memiliki beragam motif batik yang memiliki fislosofinya masing-masing. Sebutlah batik kawung yang merupakan motif batik yang bentuknya berupa bulatan mirip buah kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai aren atau kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. 

Motif kawung bermakna kesempurnaan, kemurnian dan kesucian.  Motif kawung menyimbolkan kekosongan nafsu dan hasrat duniawi, sehingga menghasilkan pengendalian diri yang sempurna. 

Ada juga motif batik truntum. Batik ini menggambarkan cinta yang selalu bersemi, karenanya saat upacara pernikahan, mempelai biasanya mengenakan batik truntum.

Indonesia memiliki banyak batik khas karena hampir tiap daerah memiliki corak khasnya masing-masing. Ada batik Blitar, Tulungagung, Madura, Solo, Jogja bahkan Malangan.

Topeng sebagai motif khas batik Malangan, dokumentasi pribadi

Lalu apa ciri khas batik Malangan? Batik Malangan sering menggunakan ornamen topeng, tugu, singa, dan bunga teratai sebagai motif utama.

Tugu berasal dari relief candi di Malang dan monumen kota Malang. Bunga teratai adalah bunga yang disukai Kendedes dan tumbuh disekitar monumen Tugu.

Singa merupakan simbol yang sering digunakan penduduk Malang sebagai supporter kesebelasan Arema, sedangkan topeng Malang merupakan kebudayaan dan seni asli dari daerah Malang.

Berkaitan dengan usaha melestarikan batik dan kebudayaan seni asli Malang inilah siswa diajak belajar membuat batik topeng Malang.

Dalam ODL ini siswa mendapat paparan tentang cara membuat batik tulis dan batik cap. Karena tingkat kesulitan batik tulis lebih tinggi, saat praktik siswa diajak  membuat batik cap.

Alat untuk membuat batik cap, dokumentasi Iqbal
Lilin dan canting, dokumentasi Iqbal

Ada tiga tahap utama dalam pembuatan batik cap yaitu pembuatan motif, pewarnaan dan ngelorot atau penghilangan lilin.

Penyempurnaan motif dengan menggunakan canting, dokumentasi pribadi
Proses ngelorot, dokumentasi pribadi

Proses pembuatan motif dan pewarnaan dilaksanakan di SMKN 7 sedangkan ngelorot dilaksanakan di SMP Negeri 3 Malang.

Kegiatan yang luar biasa. Siswa tampak begitu antusias. Apalagi batik-batik cantik yang tercipta adalah hasil desain mereka sendiri.

Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa , dokumentasi Bintaraloka
Batik karya siswa, dokumentasi Bintaraloka

Akhirnya semoga kegiatan ini bisa meningkatkan kecintaan siswa pada batik, sehingga mereka akan semakin menghargai batik sebagai karya cipta asli anak negeri yang penuh filosofi.

Baca juga:

Antara Saya dan Kompasiana

Perkenalan saya dengan Kompasiana terjadi  tiga tahun yang lalu. Tepatnya Oktober 2020, ketika pandemi sedang merajalela di negeri ini. 

Semua berawal dari anjuran anak saya yang juga menggeluti dunia kepenulisan. Anak saya membuatkan akun Kompasiana ketika tahu saya punya banyak tulisan di blog.

“Daripada dibaca sendiri, ‘kan lebih baik kalau yang baca banyak, Buk?” katanya saat itu. Saya menurut saja. Lagipula senang juga jika tulisan saya dibaca oleh banyak orang.

Apa yang saya peroleh dari Kompasiana setelah tiga tahun bergabung? Banyak. Yang paling bisa dirasakan, kepercayaan diri dalam menulis semakin tinggi.

Semula saya agak ragu apakah tulisan saya bisa dinikmati pembaca atau tidak. Tapi komentar dan apresiasi teman- teman sungguh meningkatkan semangat dan rasa percaya dalam diri saya untuk terus menulis.

 Hingga tahun ketiga ini, hampir 500 tulisan yang sudah saya buat. Kalau dihitung rata rata satu tulisan tiap dua hari. Bagi saya cukup lumayan, meski banyak teman yang jauh lebih produktif daripada saya.

Bersama Kompasianer Mbak Naz, dokumentasi pribadi

Tulisan yang saya buat banyak berkisar tentang dunia sekolah. Ya, saya menulis apa yang saya lihat. Di samping untuk bercerita,  saya juga ingin memberi inspirasi pada siswa saya bahwa menulis adalah dunia yang mengasyikkan. 

Hal lain yang saya dapatkan dari Kompasiana adalah banyak teman. Bergabung di grup KPB, Kompasianer Pendidik juga Pulpen membuat kami bisa saling bertegur sapa. 

Saya merasa mempunyai banyak saudara dari Sabang sampai Merauke, bahkan sampai manca negara.

Saling menyapa, menunjukkan foto makanan pas sarapan atau makan siang, membuat pertemanan kami terasa demikian akrab. Ya, betapa banyak keunikan di daerah kami masing-masing. 

Lewat grup whatsapp, biasanya kami juga bertukar tips atau hal hal penting lainnya.

Pertemanan bahkan bisa berlanjut sampai copy darat juga.

Copy darat pernah saya lakukan dengan Mbak Naz dan Bu Yayuk. 

Dengan Mbak Naz kami pernah ketemuan di Matos (Malang Town Square). Ketika itu Mbak Naz mengantar putrinya mencari tempat kost di daerah Malang karena putrinya diterima di Universitas Negeri Malang.

Dengan Bu Yayuk bahkan kami pernah menikmati Mie Bakar Celaket bersama. Gara- gara Kompasiana kami sadar bahwa kami sebenarnya tetangga dekat sekali.

Sekolah Bu Yayuk di SMP Cor Jesu dan saya di SMP Negeri 3 Malang. Hanya sepuluh menit jalan kaki. 

Bersama Bu Yayuk saya pernah diajak berjalan-jalan menjelajah SMP Cor Jesu yang ternyata sangat mempesona.

Di dalam museum mini SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Ternyata banyak sekali benda-benda bersejarah di sana.  Waktu itu saya diajak menikmati benda benda koleksi museum mini Malang Ursulin Gallery,  seperti piano buatan Jerman sekitar tahun 1895, koleksi foto-foto lawas mengenai bangunan CorJesu sebelum dan sesudah agresi militer Belanda 21 Juli 1947. 

Bersama Kompasianer Yayuk di SMP Cor Jesu, dokumentasi pribadi

Bahkan benda-benda administrasi sekolah seperti rapor dan buku tata usaha di masa lalu tersimpan rapi dalam sebuah kotak kaca besar

Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan itu saya dapatkan karena berkenalan dengan Bu Yayuk lewat Kompasiana.

Lewat Kompasiana juga akhirnya saya bisa bertemu kakak kelas saya semasa SMA, penulis yang sangat produktif Pak Budi Susilo.

Ikut serta dalam berbagai event lomba adalah moment yang sangat menyenangkan. Lebih-lebih ketika menang dan mendapat hadiah. Wow… Sesuatu rasanya..

Tumbler hadiah dari event lomba KPB, dokumentasi pribadi

Ya, banyak yang saya peroleh setelah tiga tahun bergabung di Kompasiana. Saling silaturahmi , dan berbagi inspirasi dengan sesama Kompasianer, itu yang paling membahagiakan. 

Sebenarnya saya ingin sekali ikut Kompasianival sebagai ajang pertemuan dengan teman teman Kompasianer. Namun sepertinya belum bisa karena di samping jauh, juga diadakan pas agenda kegiatan agak padat.

Singkatnya antara saya dan Kompasiana ada kedekatan yang sangat. Setidaknya itu menurut perasaan saya, karena beberapa teman atau siswa memanggil saya dengan sebutan Bu Kompasiana atau Bu Kompas. He..he.. padahal antara keduanya sangat berbeda.

Akhirnya menjelang ulang tahunnya yang ke 15, saya berharap semoga Kompasiana  senantiasa menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami untuk berbagi cerita , inspirasi dan menebar kehangatan silaturahmi.

Salam Kompasiana 😊

Layaknya Sebuah Pesta, Mari Merayakan Demokrasi dengan Gembira

Suasana politik negeri yang kian menghangat dengan dimulainya pendaftaran paslon peserta Pemilu rupanya menular di Bintaraloka tercinta. 

Betapa tidak? Bintaraloka juga sibuk mempersiapkan pemilihan Ketua OSIS atau Pilketos minggu-minggu ini.

Jika yang di pusat pemerintahan masih sibuk dengan pendaftaran paslon peserta pilpres,  Bintaraloka sudah mulai disibukkan dengan kampanye dan debat calon kandidat ketua OSIS. 

Suasana debat dan penyampaian program kandidat ketua OSIS, dokumentasi pribadi

Pilketos sendiri nantinya akan dilaksanakan pada tanggal 24:Oktober 2023 bersamaan dengan pelaksanaan Lomba Bulan Bahasa.

Ada tiga kandidat yang beradu program hari ini. Berikut adalah kandidat dan rincian program mereka:

1. Pramesti -Kirana

Kandidat ini mengusung program unggulan Bintaraloka Science Day dan Bintaraloka Fun Writing untuk meningkatkan kompetensi siswa SMP Negeri 3 Malang dalam bersains, juga menulis. Slogan Pramesti dan Kirana adalah: Melangkah Maju Pilih Nomor Satu

Kandidat 1 dan programnya, dokumentasi Jasmine

2. Sybia-Medinna

Dengan program unggulan Finding Talent, Bintaraloka Belajar Bersama, ECO Friendly day, juga voice box, Sybia dan Medinna ingin meningkatkan iklim belajar di Bintaraloka yang kondusif juga kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan sekitar.

Slogan kandidat ini adalah: Raih Cita dengan Cinta, Pilih Nomor Dua.

Kandidat 2:dan programnya, dokumentasi Jasmine

3. Ailsa-Fachri

Dengan slogan ‘Tunjukkan Inovasi, Gerakkan Aksi No 3 Berkolaborasi’, Ailsa dan Fachri mengusung program unggulan Pentas Seni Tahunan, Bintaraloka berbicara dan Bintaraloka Bersuara. Fachri adalah satu-satunya kandidat putra dalam Pilketos tahun ini.

Kandidat 3 dan programnya, dokumentasi Jasmine

Nah, itu adalah program dari masing-masing kandidat. Sangat menarik bukan? Semua pada intinya adalah untuk kemajuan sekolah kita tercinta SMP Negeri 3 Malang.

Program tidak hanya disampaikan lewat kampanye, tapi juga tempelan poster atau banner yang dipasang di jalan-jalan yang strategis di lingkungan sekolah.

Poster kandidat dipasang di dinding sekolah, dokumentasi pribadi

 Dalam acara debat pagi ini, para kandidat juga diminta menjawab pertanyaan dari Ibu Uci, mister Sony dan Pak Aksan berkaitan dengan disiplin, karakter dan kebersihan sekolah.

Dengan dipandu oleh MC Regan dan Amira, acara berlangsung gayeng dan seru.

Layaknya calon politisi mereka bisa menjawab dengan baik pertanyaan yang disampaikan. Ya, sebagai calon pemimpin mereka harus bisa mengambil langkah yang tepat dalam memecahkan suatu masalah.

Para pemberi pertanyaan, Bu Uci, Mr Sony dan Pak Aksan, dokumentasi pribadi

Pertanyaan tidak hanya datang dari guru namun juga dari siswa. Ya, layaknya sebuah pesta, pilketos adalah sebuah pesta demokrasi yang harus disambut dengan gembira dan penuh semangat.

Pembawa acara Regan dan Amira, dokumentasi pribadi

Semua pihak ikut terlibat dalam pilketos ini, baik panitia, calon maupun pemilih.

Bapak/Ibu guru pendamping siswa, dokumentasi pribadi
Bapak/Ibu guru PPG, dokumentasi pribadi

Karenanya ayo tentukan pilihanmu! Jangan golput. Karena bagaimanapun wajah Bintaraloka ke depan ditentukan oleh para calon pemimpin yang ada di dalamnya.

Salam Bintaraloka 😊

Baca juga:

Antara Jemblem, Goplem dan The Smokie

Tentunya pembaca bertanya-tanya. Apa hubungan antara jemblem, goplem dan The Smokie? Aha, ada kaitan yang begitu erat antara ketiganya. Chemistrynya begitu istimewa. Setidaknya bagi saya. 

Tidak percaya? Let’s check itu out!

Hari itu pembicaraan di Sidohealing ramai membahas mengenai makanan. Mulai dari wingko, gandhos, klepon, bugis, jemblem sampai goplem. 

Saya sendiri tidak tahu kenapa diskusi begitu intens. Ah ya, mungkin gara-gara masalah tape goreng kok dinamakan rondo royal. 

He..he… Kata ‘rondo royal’ selalu mengingatkan saya ketika SD dulu. Di soal THB soal ini keluar dan jawaban saya ditertawakan ibuk.

Persisnya saat itu pertanyaannya adalah Rondo royal iku jenenge ….

Rondo royal atau tape goreng, sumber gambar: cookpad

Nah dengan semangat saya yang waktu itu yang duduk di kelas tiga SD menjawab: wong sing senengane ngekek i.. (orang yang suka memberi). 

Lha benar ‘kan? Royal kan artinya suka memberi?

Oleh ibuk baru dijelaskan kalau ‘rondo royal’ itu nama lain tape goreng. He .he… Jauh sekali ya..

Nah, dari ‘rondo royal’ pembicaraan terus berkembang ke jenis makanan lain. Biasalah, yang namanya perempuan masalah makanan selalu jadi isu yang menarik. 

Mulai dari klepon yang punya nama lain kue kaget nyemprot, bugis yang cara membungkusnya begitu khas, iwel-iwel sampai akhirnya ke masalah jemblem dan goplem. 

Klepon atau kue kaget nyemprot, sumber gambar: cookpad

Dari pembicaraan itu saya baru tahu bahwa jemblem mempunyai saudara kembar yang bernama goplem.

Dua hidangan dari singkong itu memang sangat familier bagi kita. Ciri khasnya adalah terbuat dari singkong dan tengahnya ada gula merah lalu digoreng. 

Bedanya jemblem dibuat dari singkong mentah diparut dan dicampur dengan parutan kelapa, lalu tengahnya diberi gula merah, dibentuk bulat lalu digoreng. 

Sedangkan goplem dibuat dari singkong matang yang dihaluskan dan ditengahnya diberi gula merah, dibentuk bulat lalu digoreng. Goplem kadang dinamakan juga dengan getuk goreng.

Goplem, sumber gambar: cookpad

Jemblem maupun goplem enak dihidangkan hangat-hangat, apalagi disertai kopi hitam. Kane lop ..pokoknya..

Dalam bahasa Jawa jemblem maupun goplem mempunyai arti yang hampir sama yaitu chubby. Hmm… Mengingatkan saya pada pipi seseorang…😀✌️

Lalu apa hubungan jemblem goplem dan The Smokie? 

Nah, ini cerita zaman saya kecil.. Bapak saya adalah penggemar The Smokie, Deep Purple, Rod Steward dan seangkatannya. Tiap pagi bapak selalu nyetel lagu mereka di tape kecil merk Sharp dan dimasukkan salon sehingga suaranya jadi keras. 

Lagu yang paling saya hafal adalah I’m Sailingnya Rod Steward dan If You Think You Know How to Love Me dari The Smokie. 

Lagu yang populer di kisaran tahun 1979 ini mempunyai beat yang asyik ditambah suara penyanyinya yang serak menawan 

Nah tiap pagi bapak nyetel lagu ini keras keras, sambil makan jemblem yang dibeli dari tetangga saya. Ah, ya, tugas saya tiap pagi adalah beli jemblem hangat tersebut. 

Jemblem, sumber gambar: sharing memasak

Sambil ngopi dan yang lain ngeteh, kami menikmati jemblem diiringi suara Rod Steward dan The Smokie yang ciamik.  

Aih, benar-benar pagi yang penuh kehangatan, ada minuman, cemilan dan musik. Mantap tenan…..

Bahkan sampai sekarang saat mendengar lagu The Smokie yang berjudul If You Think You Know How to Love Me, saya mesti ingat jemblem..

Buat pembaca, yuk mencoba nyruput kopi sambil dengar The Smokie… Jemblem atau goplemnya jangan lupa ya..😀

Dari Arena Kemah Blok Bintaraloka di Merkusi Camping Ground Wagir

Tak seperti biasa hari di hari Jumat sekitar pukul 13.00 itu banyak siswa sudah berkumpul di lapangan volly Bintaraloka.

Mereka siap dengan seragam Pramuka lengkap, tas ransel yang berisi berbagai macam barang, juga tak ketinggalan tentunya tongkat pramuka.

Aha, adalah Kemah Blok Pramuka Kelas 3.5 dan 2.3 yang menjadi agenda kami hari itu.

Tentang Pramuka Blok

Apel pembukaan Perkemahan Pramuka Blok, dokumentasi pribadi

Pramuka blok adalah salah satu cara pelaksanaan kegiatan Pramuka di sekolah.

Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 12 ayat 1b menyatakan bahwa setiap siswa pada tingkat satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. 

Peserta yang datang dibriefing Kak Gerry, dokumentasi pribadi

Karenanya, di tiap satuan pendidikan terdapat kegiatan ekstrakurikuler untuk mewadahi minat dan bakat siswa. Dan Praja Muda Karana (Pramuka) mulai tahun pelajaran 2017/2018 ditetapkan sebagai ekstrakurikuler wajib bagi peserta didik.

Ada tiga macam model penyelenggaraan kegiatan Pramuka di sekolah yaitu reguler, aktualisasi dan model blok.

Siap mengikuti Perkemahan Pramuka Blok, dokumentasi pribadi

Untuk siswa kelas 3.5 dan 2.3 di Bintaraloka penyelenggaraan Pramuka dilaksanakan dengan model blok.

Dengan model blok, berbagai macam kegiatan Pramuka dipadatkan dalam satu waktu tertentu sehingga sesudahnya tidak ada lagi kegiatan Pramuka setiap minggunya.

Kegiatan Kemah Blok Bintaraloka

Senam bersama, salah satu kegiatan Pramuka blok, dokumentasi Bintaraloka

Sebelum berangkat menuju lokasi perkemahan, pada siswa dilakukan pembekalan. Pembekalan berkisar tentang apa saja yang harus dilakukan peserta, dan berbagai kegiatan yang akan di lakukan di bumi perkemahan nantinya.

Pembekalan sebelum berangkat, dokumentasi pribadi

Sesudah pembekalan dirasa cukup, peserta berangkat dengan naik truk. Ada sekitar 300 lebih peserta dan pendamping yang mengikuti acara ini.

Jalanan yang berkelok naik membawa kami semua menuju satu tempat sore itu. Ada beberapa truk dan mobil yang berangkat bersama-sama dari Bintaraloka. Ya, Lembah Merkusi menjadi tujuan kami.

Tiba di lokasi perkemahan , dokumentasi pribadi
Semangat peserta perkemahan, dokumentasi pribadi
Peserta berdatangan, dokumentasi pribadi

Merkusi Camping Ground adalah bumi perkemahan yang berada di Jalan Raya Precet, Dusun Precet, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir. Jika dari pusat Kota Malang, tempat tersebut dapat ditempuh dengan jarak sekitar 19,5 kilometer. 

Tiba di lokasi, dokumentasi pribadi

Letaknya yang berdekatan dengan Gunung Kawi membuat lembah Merkusi dipenuhi dengan pemandangan indah. Hal tersebut tampak dari panorama sekitar jalan yang kami lalui, juga saat siswa melakukan jelajah alam. 

Sekitar pukul setengah empat truk sampai di bumi perkemahan. Meski hari masih sore, udara mulai terasa dingin dan mendung yang agak tebal membuat suasana menjadi agak redup.

Pendamping kelas , dokumentasi pribadi

Setelah meletakkan seluruh barang bawaan, semua siap mengikuti apel. Apel dipimpin oleh Ibu Kepala SMP Negeri 3 Malang, dengan pratama Daffa dari kelas 3.5.6.

Dalam apel, Ibu Evy sebagai ketua penyelenggara melaporkan tentang persiapan, jumlah peserta juga kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam perkemahan blok ini.

Ibu Kepala Sekolah menyampaikan pada peserta agar mengikuti kegiatan sebaik-baiknya karena banyak manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ini.

Pendirian tenda putra, dokumentasi pribadi

Setelah apel, peserta mulai mendirikan tenda. Gerimis mewarnai kegiatan ini, sehingga banyak siswa yang mendirikan tenda dengan mengenakan jas hujan.

Mendirikan tenda di tengah gerimis, dokumentasi pribadi
Tetap semangat, dokumentasi pribadi
Tetap semangat meski gerimis, dokumentasi pribadi
Mendirikan tenda di tengah gerimis, dokumentasi pribadi

Meski beberapa peserta sempat mabuk atau masuk angin, tapi dengan kesigapan petugas kesehatan semua bisa segera diatasi dan peserta bisa mengikuti kegiatan kembali.

Ada banyak kegiatan yang diikuti siswa dalam perkemahan ini, di antaranya pemberian materi yang berkaitan dengan pemecahan masalah, ibadah bersama, api unggun yang diisi dengan berbagai kegiatan pensi, olah raga bersama, lomba memasak, lomba teknik kepramukaan juga jelajah alam. 

Api unggun , dokumentasi Bintaraloka

Saat api unggun adalah saat siswa unjuk kebolehan dalam bidang seni. Berbagai atraksi dipamerkan di sini. Bahkan dalam mempersiapkan pensi ini setiap hari siswa berlatih bersama sepulang sekolah.

Dari lomba memasak tampak sekali kreativitas peserta. Bisa dilihat resep yang disajikan sangat beraneka ragam. Sebutlah sop sosis dengan ayam goreng, nasi mawut, nasi goreng, cap cay, tempe tahu ayam asam manis dan banyak lagi.

Suasana lomba memasak , dokumentasi Bintaraloka
Makan bersama , dokumentasi Bintaraloka
Memasak bersama sebagai ajang kreativitas, dokumentasi Bintaraloka

Makan bersama hasil masakan sendiri bersama teman teman di alam terbuka, sungguh sebuah pengalaman yang tidak terlupakan.

Kegiatan jelajah alam adalah kegiatan yang tak kalah menyenangkan. Berjalan menikmati indahnya alam membuat hati dan pikiran terasa segar.

Jelajah alam, dokumentasi Bintaraloka
Jelajah alam, dokumentasi Bintaraloka
Jelajah alam, dokumentasi Bintaraloka
Jelajah alam, dokumentasi Bintaraloka

Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil dari kegiatan perkemahan ini. Diantaranya adalah belajar untuk mandiri, disiplin, tangguh, trampil dan banyak lagi. Intinya semua tujuan tercantum dalam Dasa Dharma Pramuka yang diucapkan saat apel pembukaan sore itu.

Setelah berbagai kegiatan, sekitar habis Dhuhur kegiatan pembongkaran tenda dan apel penutupan dilakukan. 

Akhirnya selesailah kegiatan Kemah Blok Bintaraloka di Camping ground Merkusi Wagir.

Kegiatan yang melelahkan namun juga menyenangkan dan akan memberikan kenangan tersendiri di hati para siswa yang mengikutinya.

Sebagian pendamping, dokumentasi pribadi
Sebagian pendamping, dokumentasi pribadi

Selepas apel, siswa dan pendamping mulai menaiki truk. Perlahan truk beriringan meninggalkan bumi perkemahan menuju Bintaraloka. 

Truk terus melaju melalui jalan yang berkelok- kelok dengan berbagai pemandangan cantik di sekitarnya.

Akhirnya, sayonara Bumi Merkusi, kenangan bersamamu akan tetap terpatri indah di hati kami..