
Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang ketika sepeda motor saya masuk sebuah pelataran parkir bangunan cafe. Cafe yang lumayan besar dengan arsitektur dan mebel yang bernuansa kuno.
Di teras ada jajaran kursi rotan dan pintu depannya berbentuk kupu tarung berwarna hijau. Khas bangunan lawas. Nama kafe tertulis besar besar di bagian atas bangunan dengan warna hijau senada dengan warna pintu. Bento Kopi, sebuah Cafe yang terletak di jalan Ade Irma Suryani 5 Malang.

Saya segera masuk, dan tiga orang teman sudah menunggu di dalam. Ya, hari ini kami sedikit mengadakan pertemuan setelah sekian lama tidak bersua.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa ngopi bareng,” ungkap kami dengan wajah-wajah ceria.
Kami segera membaca buku menu yang tersedia di meja.
“Pesan apa?” tanya teman saya yang bertugas untuk mencatat.
Satu- satunya teman dari generasi milenial ini sangat sigap dalam segala urusan. Dalam urusan perngopian ia selalu bertugas melakukan survey lapangan baik tentang kemudahan transportasi ataupun menu jika kami akan mengunjungi suatu tempat. Karena kesigapan ini acara-acara ngopi selalu gayeng dan lancar.
Setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk pesan minuman leci, blueberry, coklat dan cappucino. Sementara untuk makanan adalah pisang goreng, mendoan, lumpia dan menu nasi karena ada teman yang belum sempat sarapan.

Sejenak kami tertawa. Katanya ngopi, lha kopinya kok cuma satu?
Tak perlu menunggu lama, minuman dan makanan yang kami pesan pun datang.
” Sudah semua pesanannya ya Kak?” kata mbak waiters dengan ramah.
“Sudah, terima kasih..,” jawab kami tak kalah ramah
Tentang kopi dan Budaya Ngopi

Siapa yang tidak kenal kopi? Biji yang menjadi cikal bakal minuman yang sangat nikmat ini ternyata bukan tanaman asli Indonesia.
Adalah VOC yang membawa bibit kopi arabika ini ke Jawa dari Malabar (India). Di Hindia penanaman kopi dilakukan pertama kali di sekitar Batavia dan Priangan dan dilanjutkan dengan penanaman dalam skala besar di abad 18. Penanaman dilaksanakan di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) dan Sumatera (dataran tinggi Gayo, Mandailing).
Di masa ini kopi Jawa (Java Coffee) menjadi komoditas internasional yang termasyhur. Saat itu minum kopi adalah kebiasaan elit kolonial serta sebagian kecil bangsawan pribumi yang berpengaruh, sementara rakyat yang menanam kopi justru tidak pernah menikmatinya karena hampir seluruh hasil panen harus disetorkan VOC.
Pada akhir abad ke 19 budaya minum kopi makin menyebar. Kopi mulai diminum oleh para priyayi, saudagar dan masyarakat urban. Kopi juga mulai menjadi bagian hidangan keluarga, ketika ada tamu atau pertemuan -pertemuan.
Seiring berjalannya waktu mulai muncul warung kopi Tionghoa (kophi-tiam) yang menjadi cikal bakal tempat “ngopi” sebagai aktivitas sosial, terutama bagi kaum lelaki untuk berdiskusi dan saling bertukar informasi.
Kopi sebagai hidangan terus mengalami perkembangan. Lama-kelamaan mulai dikenal apa yang dinamakan kopi tubruk, kopi instan termasuk juga kopi latte.
Sekitar tahun 2000 an terjadi booming budaya cafe yang membuat cafe menjadi third place selain rumah dan tempat bekerja/sekolah.
Pembukaan cafe di berbagai tempat menciptakan ruang publik baru yang menjadi tempat bertemu ataupun sekedar bersantai dan ngobrol dalam suasana yang hangat.

Hidangan yang disajikan di cafe semakin beragam. Bukan hanya kopi, tapi juga teh, jus, minuman herbal atau bahkan es krim.
Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama
Cafe juga menyajikan berbagai kudapan agar pelanggan lebih asyik ngobrol di dalamnya. Di sini makna ngopi mulai bergeser dari sekedar minum kopi bareng menjadi sebuah aktivitas bersosialisasi dengan atau tanpa kopi.
Orang datang ke kafe tidak selalu untuk kopi tapi bisa coklat, jus, atau makanan ringan, dan aktivitasnya tetap disebut “ngopi”, seperti yang kami lakukan hari ini.
Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama.
Lewat interaksi dan obrolan sederhana, justru bisa tercipta suasana yang segar, hangat, lepas, ceria dan penuh tawa.
Jadi, sudahkah anda ngopi hari ini?
- Filsafat Ronggowarsito , Wolak-walik Ing Zaman - January 5, 2026
- Dari Ayam Natalan sampai Takut Musyrik, Sebuah Obrolan di Pasar Pagi - January 4, 2026
- Optimislah,Karena Masih Ada Allah - January 3, 2026
9 replies on “Ngopi, Sebuah Cerita tentang Pergeseran Makna dan Budaya”
Ketika kopi menjadi sebuah “alasan” untuk FGD 😄
He..he..he…
Ngopi yg menjadi ngeteh, ngejus dan ngemil….
Mantaaap..🤗
Ternyata yang kurindukan bukan kopinya tapi dengan siapa aku menikmati kopi itu.. aseekkk 😆
Mengingatkan saya pada quotes seseorang… 😆
Ehem….. Suit suit .. Suit….
Ketika ngopi menjadi alasan untuk pesan yang bukan kopi 🫢🫢
Berangkat ngopi, pesennya wedang sereh…😀