Categories
Renungan

Filsafat Ronggowarsito , Wolak-walik Ing Zaman

Ronggowarsito, dokumentasi pengajian filsafat MJS

Ngelmu kuwi kelakone kanti laku artinya ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori

Ngaji Filsafat Dr Fahruddin Faiz

Sekilas tentang Ronggowarsito

Ronggowarsito adalah pujangga terakhir Jawa dari Kasunanan Surakarta. Beliau adalah cucu dari Yosodipuro II yang juga merupakan  pujangga keraton ini.

Nama asli Ronggowarsito adalah Bagus Burhan. Di masa kecilnya beliau agak nakal dan pernah  dipondokkan di Pesantren Gabang Tinatar Ponorogo di bawah asuhan Kiai Kasan Besari.

Setelah mondok beliau mengalami momen ‘mletik’ (pencerahan) dan kemudian terus belajar mendalami sastra dan spiritualitas.

Ronggowarsito mempunyai banyak karya dalam wujud serat. Beliau hidup di masa Pakubuwono VII, VIII, dan IX.

Ronggowarsito tidak disukai oleh Pakubuwono IX juga Pemerintah Belanda. 

Pakubuwono IX menganggap ayah Ronggowarsitolah yang menyebabkan ayahnya Pakubuwono VI ditangkap Belanda. Sementara Pemerintah Hindia Belanda tidak suka pada Ronggowarsito karena Ronggowarsito dianggap menghasut rakyat lewat karya-karyanya.

Filsafat sejarah Ronggowarsito bersifat  spekulatif futuristik. Maknanya, filsafat ini menceritakan masa lalu sekaligus masa depan, sehingga sedikit berbau ramalan

Ronggowarsito adalah orang yang waskito, weruh sakdurunge winarah, bisa membaca sesuatu yang tidak bisa dibaca orang kebanyakan.

Dijelaskan oleh Pak Faiz bahwa ada dua kompetensi yang harus dimiliki oleh orang yang waskito yaitu:

1. Sambegana (cerdas)

2. Nawang Krida mampu menangkap tanda alam (jeli)

Gabungan dari kedua kompetensi tersebut membuat seseorang bisa melihat peristiwa yang akan datang berdasarkan gejala yang muncul (ilmu titen).

Untuk membangun pribadi yang waskito ada dua proses yang dilalui yaitu ngelmu ( mencari ilmu) dan laku (tirakat dalam proses, juga implementasi).

Dalam filsafat Jawa kita kenal istilah ngelmu kuwi kelakone kanti laku yang berarti ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori.

Mencari ilmu bukan sekedar mencari pengetahuan, tapi juga harus diimbangi ‘laku’ pembersihan diri. Mengapa? Karena badan kita ibarat wadah, yang harus dibersihkan sebelum dimasuki ilmu. 

Bukankah kita harus membersihkan wadah dahulu sebelum memasukkan sesuatu ke dalamnya?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Yuli Anita

By Yuli Anita

"The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go."

Leave a Reply

Your email address will not be published.