Peringatan Idul Adha 1447 H: Luruhkan Ego, Nyalakan Semangat Berbagi dengan Sesama

Allahu Akbar …Allahu Akbar…Allahu Akbar. Laa Ilaha ilallahu Allahu Akbar…Allahu Akbar walillahilhamd

Gema takbir bersahut-sahutan menandai datangnya hari yang mulia. Hari yang sangat ditunggu-tunggu. Hari dimana kita kembali mengenangkan peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas puteranya terkasih Nabi Ismail.

Hari ini kita kita selalu diingatkan bagaimana Ibrahim, dengan tangan gemetar, membaringkan putranya, bukan karena benci, tapi karena cinta yang begitu besar kepada Sang Pencipta. 

Ismail kecil, dengan mata jernih, justru menenangkan ayahnya: “Lakukan apa yang diperintahkan, ayah. Aku ikhlas.” 

Namun, Allah mengganti Ismail dengan domba. Bukan sekadar ujian, itu adalah sebuah pelukan lembut dari Tuhan: “Kamu sudah rela melepaskan yang terkasih. Sekarang, peliharalah rasa cinta itu untuk berbagi.”

Penyembelihan kurban di Hari Raya Idul Adha adalah gambaran dari penyembelihan atas ego kita. Idul Adha mengajak kita untuk menyembelih segala rasa gengsi, mau menang sendiri, iri hati dan banyak lagi sifat merasa “paling” dalam diri kita.

Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka

Membagikan daging kurban adalah ajakan untuk peduli pada sesama dan suka berbagi. Betapa banyak saudara-saudara kita yang berada dalam kondisi di bawah kita , dan sebenarnya membutuhkan uluran tangan kita. Tapi mungkin belum kita sapa atau berbagi dengan mereka.

Saat ego kita luruhkan maka berbagi adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.

Peringatan Hari Raya Idul Adha 1447 H di SMP Negeri 3 Malang

Jamaah sholat Id, dokumentasi Bintaraloka

Peringatan Hari Raya Idul Adha di SMP Negeri 3 Malang dilaksanakan pada hari Rabu (27/05).

Gempita perayaan sudah dilaksanakan sejak Selasa malam hari dengan takbiran bersama yang oleh siswa yang tergabung dalam BDI.

Keesokan harinya pada pukul 06.15 dilaksanakan sholat Id di lapangan volly yang dihadiri oleh guru, kepala sekolah, komite dan siswa SMP Negeri 3 Malang.

Takbiran di malam Idul Adha , dokumentasi pribadi

Dalam sambutan pagi itu Bapak Plt Kepala SMP Negeri 3 Malang Drs Teguh Edy Purwanta mengajak siswa untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tentang bagaimana seorang anak menghormati orang tuanya, dan orang tua yang memberikan teladan pada anaknya.

Bertindak sebagai imam dan khatib sholat pagi itu adalah Ustadz Imam Sabarodin, S.Pd, M.Pd.

Dalam ceramahnya beliau menekankan pada siswa agar selalu berusaha menjadi manusia yang tangguh, rela mengorbankan waktu, mengorbankan ego untuk meraih yang terbaik, meniru keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail as.

Sambutan Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang, dokumentasi Bintaraloka

Sesudah sholat Id, dilaksanakan penyembelihan dan pembagian daging kurban oleh panitia yang bertugas. Tahun ini SMP Negeri 3 Malang menyembelih 8 kambing dan 2 domba yang dagingnya dibagikan pada warga sekolah dan masyarakat sekitar.

Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama

Ibu Tyas Wakahumas
Penimbangan dan pengemasan daging, dokumentasi Bintaraloka

Apresiasi setinggi-tingginya pada jajaran panitia baik dari guru, BDI maupun OSIS yang telah bekerja sedemikian rupa sehingga acara peringatan Hari Raya Idul Adha ini bisa berjalan lancar.

Panitia dari BDI, dokumentasi BDI

“Semoga melalui kegiatan ini kita bisa senantiasa memperkuat keimanan, menghayati arti pengorbanan dan semangat berbagi dengan sesama,” ungkap Ibu Tyas wakahumas SMP Negeri 3 Malang pagi itu.

Filsafat Ronggowarsito , Wolak-walik Ing Zaman

Ngelmu kuwi kelakone kanti laku artinya ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori

Ngaji Filsafat Dr Fahruddin Faiz

Sekilas tentang Ronggowarsito

Ronggowarsito adalah pujangga terakhir Jawa dari Kasunanan Surakarta. Beliau adalah cucu dari Yosodipuro II yang juga merupakan  pujangga keraton ini.

Nama asli Ronggowarsito adalah Bagus Burhan. Di masa kecilnya beliau agak nakal dan pernah  dipondokkan di Pesantren Gabang Tinatar Ponorogo di bawah asuhan Kiai Kasan Besari.

Setelah mondok beliau mengalami momen ‘mletik’ (pencerahan) dan kemudian terus belajar mendalami sastra dan spiritualitas.

Ronggowarsito mempunyai banyak karya dalam wujud serat. Beliau hidup di masa Pakubuwono VII, VIII, dan IX.

Ronggowarsito tidak disukai oleh Pakubuwono IX juga Pemerintah Belanda. 

Pakubuwono IX menganggap ayah Ronggowarsitolah yang menyebabkan ayahnya Pakubuwono VI ditangkap Belanda. Sementara Pemerintah Hindia Belanda tidak suka pada Ronggowarsito karena Ronggowarsito dianggap menghasut rakyat lewat karya-karyanya.

Filsafat sejarah Ronggowarsito bersifat  spekulatif futuristik. Maknanya, filsafat ini menceritakan masa lalu sekaligus masa depan, sehingga sedikit berbau ramalan

Ronggowarsito adalah orang yang waskito, weruh sakdurunge winarah, bisa membaca sesuatu yang tidak bisa dibaca orang kebanyakan.

Dijelaskan oleh Pak Faiz bahwa ada dua kompetensi yang harus dimiliki oleh orang yang waskito yaitu:

1. Sambegana (cerdas)

2. Nawang Krida mampu menangkap tanda alam (jeli)

Gabungan dari kedua kompetensi tersebut membuat seseorang bisa melihat peristiwa yang akan datang berdasarkan gejala yang muncul (ilmu titen).

Untuk membangun pribadi yang waskito ada dua proses yang dilalui yaitu ngelmu ( mencari ilmu) dan laku (tirakat dalam proses, juga implementasi).

Dalam filsafat Jawa kita kenal istilah ngelmu kuwi kelakone kanti laku yang berarti ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori.

Mencari ilmu bukan sekedar mencari pengetahuan, tapi juga harus diimbangi ‘laku’ pembersihan diri. Mengapa? Karena badan kita ibarat wadah, yang harus dibersihkan sebelum dimasuki ilmu. 

Bukankah kita harus membersihkan wadah dahulu sebelum memasukkan sesuatu ke dalamnya?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Optimislah, Karena Masih Ada Allah

Ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim

Pengajian Filsafat

Setiap orang ingin melakukan perubahan yang lebih baik dalam hidupnya. Namun ada kecenderungan untuk menunggu momen yang tepat dalam melakukan perubahan itu. Misal menunggu nanti kalau mencapai usia tertentu, menunggu jika lulus ujian dan sebagainya. 

Apa akibatnya? Karena menunggu momentum, akhirnya perubahan tidak segera dieksekusi.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah berharap di moment tertentu itu akan ada kekuatan luar biasa yang mendorong kita melakukan perubahan, padahal hakekatnya semua itu hanyalah penundaan terhadap eksekusi yang akan kita lakukan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah hakekatnya semangat untuk melakukan eksekusi atas perubahan yang ingin kita lakukan harus tumbuh dari dalam jiwa kita sendiri.

Sebuah nasehat mengatakan bahwa ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim.

Bukankah kita sering mengucapkan doa ini yang berarti Ya Allah, tunjukkan kami ke jalan yang lurus? Jadi jika ada desir gerak hati untuk melakukan kebaikan mari segera dieksekusi semampu kita.

Apa yang sering membuat kita menunda? Keraguan dan kecemasan, atau over thinking.

Terlalu banyak pertimbangan membuat kita selalu ragu dalam mengeksekusi kebaikan.

Lalu bagaimana cara kita melawan rasa cemas dan ragu untuk melakukan sesuatu?

Sumber gambar: Beautynesia

1. Tanyakan pada dirimu apakah kemungkinan terjelek yang mungkin terjadi jika hal tersebut kita lakukan?

2. Lakukan hal-hal yang bisa meminimalisir terjadinya  hal buruk tersebut.

3. Jika sudah terjadi, bertindaklah dengan tenang untuk memperbaiki hal buruk tersebut.

Optimisme 

Dalam hidup ini sangat penting bagi kita untuk menanamkan optimisme. Optimislah, Allah akan mengabulkan keinginanmu.

Selalu ada hal baik dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita,

Selalu optimis membuat kita lebih ceria dalam menghadapi hidup, sebaliknya rasa pesimis membuat kita muram dan tidak semangat dalam menghadapi hidup.

Mari kita camkan nasehat berikut ini:

Tangkapan layar pribadi

Selalu ada kebaikan dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita, karena itu optimislah, jangan selalu murung dan bermuram durja. Optimislah, karena masih ada Allah. Apa yang tidak mungkin bagi Dia yang Maha Segala?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Selamat Datang Tahun 2026, Perlukah Kita Mereset Diri Kita Sendiri?

Kemuliaan manusia terletak pada ilmu, dan ilmu kita peroleh dari belajar, karenanya mari terus belajar

Fahruddin Faiz

Selamat Tahun Baru 2026 pembaca… Setiap memasuki tahun baru kita akan selalu berharap bahwa hidup kita di tahun yang kita masuki ini akan jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Pengajian Fahruddin Faiz kali ini dimulai dengan sebuah pertanyaan : mungkinkah kita melakukan reset atas hidup kita? Kembali dari settingan awal, mulai nol lagi?

Tentu bisa. Jika hidup terasa demikian ruwet, jalan yang kita tempuh terasa tidak karuan, sepertinya kita perlu melakukan reset kembali terhadap hidup kita.

Nah bagimana tahapan untuk melakukan reset ini?

1. Berhenti sebentar, hentikan rutinitas dan luangkan waktu, untuk melakukan refleksi. Apa saja langkah yang kita lakukan selama ini?

2. Berikan jeda atau ruang kosong untuk kita melakukan evaluasi diri. Apa sebenarnya yang kita inginkan? Apa yang kita rindukan? Mengapa saya selalu merasa gelisah dan tidak nyaman? 

3. Tuliskan hal hal apa saja yang diinginkan, ditambahkan, dipertahankan dan apa yang ingin kita lepaskan dengan jujur.

4. Melepaskan beban lama. Hal ini  berkaitan dengan masalah yang terus membebani dan seperti ‘tak pernah selesai’. Beban ini berkaitan dengan masalah hubungan sosial, kebiasaan ataupun pola pikir. 

Jika masalah tersebut tidak penting, membebani pikiran dan tidak produktif lepaskan saja. Termasuk di dalamnya hubungan dengan orang lain yang bersifat toksik, lepaskan saja. 

Sumber gambar: Pixabay

Jika kita tidak mau melepaskan, kita akan tetap terbebani dengan masalah yang tidak kunjung selesai

5. Tentukan ulang arah tujuan yang lebih baik. Misal kita ingin lebih rajin, lebih sholeh di tahun mendatang. Sebagai catatan, hidup kita harus punya arah. Tanpa arah kita kita tidak akan pernah  tahu apakah hidup kita mengalami progres atau tidak.

6. Lakukan aktivitas untuk sampai pada tujuan dan dimulai dari hal- hal kecil. Buat rutinitas baru untuk mencapai tujuan. Aktivitas kecil yang Istiqomah lebih bermakna daripada aktivitas besar tanpa mengukur kemampuan diri. Lakukan habit yang kecil tapi bermanfaat.

7. Cari circle yang cocok, jika tidak ada bangun circle yang bagus. Buat lingkungan baru, cari teman yang satu visi, orang yang bisa memberikan dukungan pada kita, karena kemajuan kita sangat dipengaruhi oleh dukungan orang sekitar kita.

8. Dukungan aspek spiritual. Buang kebiasaan lama yang kurang bagus dan mulai melakukan tahap yang lebih tinggi dalam beragama. Beragama yang sadar makna, tidak asal- asalan.

Marilah kita mencoba mereset hidup kita, memaknai hidup sesuai keinginan kita sesuai versi kita. Tidak perlu terlalu peduli apa komentar orang lain atas diri kita, yang penting kita terus berusaha lebih baik lagi menurut versi kita sendiri.

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Menghayati Siklus Kehidupan Manusia Melalui Tembang Macapat

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah pengajian yang membahas tentang penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang dilakukan oleh para wali songo.

Pengajian ini merupakan bagian dari pembukaan acara Cinta Menulis Al Qur’an yang saya tulis sebelumnya.

Dalam ceramah pagi itu disampaikan bahwa menulis Al Qur’an bersama seperti kegiatan kami pagi itu adalah sebuah cara untuk menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya, seperti halnya wali songo yang dulu menyebarkan agama Islam dengan pendekatan ini.

Agama Islam ada di Pulau Jawa sejak abad ke 11,  tapi mengalami perkembangan yang pesat pada abad 14-15 sejak dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo.

Salah satu penyebab dakwah tersebut mudah diterima adalah karena dakwah dilakukan dengan media budaya yang salah satunya adalah lewat berbagai macam tetembangan.

Tentang Tembang Macapat 

Nembang, sumber gambar: Kompasiana

Tembang Macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki aturan tertentu dikaitkan dengan jumlah baris, jumlah suku kata dan bunyi akhir tiap baris 

Aturan tentang jumlah baris tiap bait dinamakan guru gatra, jumlah suku kata tiap baris dinamakan guru wilangan sedangkan bunyi akhir tiap baris dinamakan guru lagu.

Diperkirakan bahwa macapat muncul jauh sebelum datangnya Islam, dan tembang ini banyak digunakan oleh walisongo dalam menyebarkan agama Islam.

Tembang Macapat ada sebelas macam, mulai dari Maskumambang, Mijil, Sinom, Kinanti , Asmaradana, Gambuh, Dandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh dan Pocung. Tembang- tembang tersebut menunjukkan siklus hidup manusia mulai dari dalam kandungan ibu hingga kembali ke haribaan Sang Khaliq.

Bagaimana penjelasannya?

1. Maskumambang

Maskumambang bermakna mas yang kambang (terapung). Tembang ini melambangkan fase pertama kehidupan manusia yaitu saat masih berada dalam kandungan ibunda.

2. Mijil

Mijil melambangkan biji atau benih yang lahir ke dunia, atau penggambaran tentang kelahiran manusia di dunia. 

Ilustrasi bayi baru lahir, sumber gambar: Alodoc

3. Kinanthi

Kata Kinanti berasal dari ‘kanthi’ yang artinya   tuntunan. Tembang ini mengandung makna tentang pembentukan jati diri, cita-cita serta makna diri. 

4. Sinom

 Sinom artinya daun yang baru tumbuh, dan menggambarkan masa muda atau manusia yang sedang tumbuh dan berkembang.  Masa yang ditandai dengan giat giatnya mencari ilmu dan pembentukan jati diri.

Ilustrasi masa muda mass mencari ilmu, sumber gambar: Alef

5. Asmarandana

Tembang Asmarandana menceritakan kehidupan manusia ketika sedang kasmaran dengan lawan jenisnya. 

6. Gambuh

 Gambuh bercerita tentang bagaimana menjalin hubungan antar manusia. Tembang   ini  mengajarkan kita untuk membangun hubungan dengan Tuhan, kebersamaan, toleransi dan persaudaraan.

7. Dhandhanggula

Tembang Dhandhanggula memiliki makna pengungkapan cita-cita dan harapan kepada manusia. Tembang ini juga menggambarkan suka dan duka yang dialami manusia dalam kehidupan berumah tangga.

8. Durma

Durma menggambarkan sebuah fase kehidupan dimana kita harus banyak berderma pada orang lain. Tahap  dimana manusia mulai bersosialisasi dan berusaha banyak membantu orang lain.

Ilustrasi berbagi, Sumber gambar: MMC Kalteng

9. Pangkur

Pangkur berasal dari kata ‘mungkur’ yang artinya menjauhkan diri dan pergi.

Tembang ini mengajak kita untuk melakukan refleksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

10. Megatruh

Megatruh berasal dari kata yaitu ‘megat’ yang artinya berpisah dan ‘ruh’ yang artinya jiwa. Tembang Megatruh memiliki makna berpisah dengan jiwa, menuju alam keabadian. 

11. Pocung

 Pocung berada adalah fase terakhir dari tembang Macapat.  Pocung menceritakan tentang perjalanan hidup manusia yang paling akhir yaitu kematian.

Tembang ini mengajak kita agar selalu mengingat dan mempersiapkan diri menghadapi datangnya kematian. Sebuah hal yang pasti terjadi dan memutuskan seluruh rangkaian kehidupan manusia di dunia.

Ilustrasi melakukan refleksi diri, sumber gambar: essipeduli

Dengan mengetahui filosofi ini diharapkan kita bisa lebih menghayati berbagai tahapan kehidupan yang dilalui manusia . Tembang Macapat bukan hanya bicara tentang seni, tapi juga nasehat bahwa hidup memiliki berbagai tahapan yang harus di hargai dan dijalani dengan penuh rasa syukur dan bijaksana.