Menjaga Lisan, Sebuah Amalan Penting di Bulan Ramadhan

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Di pagi hari itu, Rabu (14/03) kembali dilaksanakan pengajian pagi di ruang guru Bintaraloka. Kali ini pematerinya adalah Ustadzah Galuh Mahanani, ibu guru  pengampu BK SMP Negeri 3 Malang.

Ustadzah Galuh mengulas tentang pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan kita sehari-hari. Lebih- lebih kita yang memiliki peran sebagai guru sekaligus orang tua.

Tentang Pentingnya Menjaga Lisan

Ustadzah Galuh, dokumentasi pribadi

Puasa bukan hanya mengajak kita untuk menahan lapar dan dahaga , namun juga menjaga lisan dari perkataan yang tidak baik

Lisan adalah anugerah Allah yang begitu besar bagi manusia. Dengan lisan kita bisa berkomunikasi antar sesama manusia. Dengan lisan pula kita bisa menyampaikan ide, pikiran juga nasehat dari satu orang ke orang yang lain.

Agama kita mengajarkan agar kita menjaga hubungan baik dengan Allah juga dengan sesama manusia. Berkaitan dengan hal tersebut sangat penting bagi kita untuk menjaga lisan dari segala perkataan yang bisa menyinggung atau menyakiti hati sesama manusia.

Ilustrasi menggunakan lisan untuk hal yang kurang baik, sumber gambar : Tribun Palu

Jangan gunakan lisan kita untuk berkata yang sia sia, menggunjing, berdusta dan perbuatan buruk lainnya.

Sebagai seorang guru atau orang tua kita harus lebih berhati hati pada lisan atau perkataan kita. Karena ucapan kita pada anak ataupun siswa kita ibaratnya doa.

Semarah atau sejengkel apapun, jangan sampai terucap kata yang tidak baik dari lisan kita. Jika kita ingin berucap buruk karena sesuatu hal, maka sebaiknya kita menahannya dengan diam. Seperti  hadits berikut ini:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Ya, menjaga lisan sangat penting untuk dilakukan. Lisan yang buruk hanya akan menyakiti hati orang lain dan akhirnya membawa kita ke dalam perpecahan.

Seperti sebuah nasehat bijak yang mengatakan: Kalau pedang lukai tubuh, masih ada harapan sembuh, tapi kalau lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari?

Salam Ramadhan 😊

Mengapa Kehidupan di Dunia Bisa  Diibaratkan  Air Hujan? 

Pada hari Rabu (14/03), kembali dilaksanakan pengajian pagi di ruang guru. Kali ini giliran Ustadzah Lilik Mufida yang menyampaikan butiran mutiara hikmah di bulan Ramadhan yang mulia ini.

Dalam tausiyah pagi ini Ustadzah Lilik menyampaikan tentang kehidupan dunia yang bisa diibaratkan air.

Air adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Tanpa air kita manusia bahkan mahluk hidup yang lain pasti tak akan bisa bertahan hidup.

Tapi mengapa kehidupan di dunia bisa diibaratkan air?

Ustadzah Lilik Mufida, dokumentasi pribadi

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 45 Allah Ta’ala berfirman :

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا كَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِهٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ فَاَصۡبَحَ هَشِيۡمًا تَذۡرُوۡهُ الرِّيٰحُ‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ مُّقۡتَدِرًا

Artinya: “Dan buatkanlah untuk mereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian (tumbuh-tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS Kahfi ayat 45)

Dijelaskan dalam Tafsir Al-Qurtubi bahwa orang-orang bijak berkata: Sesungguhnya Allah menyerupakan dunia dengan air, karena:

1. Air tak akan pernah menetap dalam satu tempat (selalu bergerak menuju ke tempat yang lebih rendah). Demikian juga dunia, tidak pernah tetap pada satu orang.

2. Air tak akan pernah tetap pada satu kondisi, situasi dan keadaan. Ia akan selalu berubah. Demikian juga dunia.

3. Air akan pergi dan tidak tetap ada. Demikian juga dunia, akan sirna dan tidak kekal.

4. Siapapun tidak akan mampu masuk ke dalam air dengan tanpa basah. Demikian juga dunia, siapapun tidak akan selamat dari fitnah dan wabahnya.

5. Air ketika digunakan sekadarnya saja, ia akan bermanfaat dan menumbuhkan. Tapi ketika melebihi kadar itu, ia akan membahayakan dan merusak. 

Air selalu bergerak mencari tempat yang lebih rendah, sumber gambar: Pngtree

Demikian juga dengan dunia, secukupnya darinya akan bermanfaat, dan lebih dari cukup akan membawa mudharat.

Pada ayat lain, Allah mengingatkan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau belaka.

Demikian gambaran kehidupan dunia yang diibaratkan air dalam Al Qur an. Betapa Allah memberikan banyak pelajaran dan hikmah dari apa-apa yang ada di sekitar kita. Bahkan dari hal-hal yang kita anggap begitu sederhana.

Salam Ramadhan 😊

Senandung Al I’tirof di Pagi Itu

Selasa pagi itu (12/03) sesudah tausiyah dari Ustadz Nur Rohmat, acara pengajian pagi di ruang guru diisi dengan pembacaan puisi dan menyenandungkan sholawat Al I’tirof bersama-sama dengan dipandu oleh Ustadzah Ratri.

Suara Ustadzah Ratri yang begitu lembut membuat senandung I’tirof pagi itu terasa begitu syahdu.

Al I’tirof adalah sebuah syair terkenal karya Abu Nawas. Seperti judulnya yang berarti pengakuan, syair ini bercerita tentang pengakuan dosa dari seorang hamba pada Tuhannya.

Ustadzah Ratri, dokumentasi Galuh

Tentang Abu Nawas

Beberapa di antara kita mungkin mengenal Abu Nawas sebagai tokoh yang lucu dan banyak akal. Tapi lebih dari itu Abu Nawas seorang penyair sufi terkenal  hidup di kota Bagdad pada abad ke-8 Masehi di masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Khalifah Al-Amin.  

Abu Nawas atau Abu Nuwas memiliki nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami. Ia lahir di Kota Ahvaz di negeri Persia. Dalam tubuhnya mengalir darah Arab dan Persia.

Di masa mudanya, Abu Nawas menyukai kehidupan hura-hura, menyukai pesta pora dan dekat dengan minum minuman. Karena itu syair-syairnya di masa itu banyak bertemakan tentang anggur dan cinta.

Kepiawaiannya membuat syair tak perlu diragukan, buktinya dalam kondisi mabuk ia bisa membuat syair yang tidak ada tandingannya saat itu.

Syairnya mulai berubah tema ketika ia semakin tua dan suatu saat ia harus dipenjara. Sejak itu tema syair Abunawas semakin religius seperti tema pertaubatan dan masa penantian di hari tua.

Abu Nawas atau Abu Nuwas, sumber gambar: Kompas.com

Berikut adalah  syair terkenal dari Abu Nawas yang berjudul Al I’tirof atau pengakuan:

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku. Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

Dosaku bagaikan bilangan pasir. Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

Umurku ini setiap hari berkurang. Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

Wahai, Tuhanku! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Beberapa kalangan mengatakan bahwa syair itu adalah gambaran kecerdikan Abu Nawas yang berusaha merayu Tuhan karena takut akan dosa-dosa yang pernah diperbuat di masa lalu, sementara kian hari ajal semakin dekat.

Syair yang sungguh sarat makna dan sering disenandungkan hingga saat ini, seperti yang kami lakukan di pagi itu.

Ya, setiap hari kita terus berjalan menuju kembali kepada-Nya, lalu kepada siapa kita mengharap belas kasih dan ampunan selain pada Dia Sang Pemilik Segala?

Wallahu a’lam bissawab

Referensi : pengajian filsafat KH Fahruddin Faiz

Berbagai Manfaat Puasa bagi Kesehatan (Tausiyah Ramadhan 2)

Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat” HR Abu Hurairah

Tak terasa sudah sepuluh hari kita bersama sama menjalani bulan Ramadhan yang mulia ini. Bulan yang penuh keutamaan karena banyak hikmah yang terkandung di dalamnya.

Untuk lebih menghayati hikmah yang terkandung dalam Bulan Ramadhan, Selasa pagi (11/02) Ustadz Nur Rohmat memberikan sedikit tausiyah tentang Manfaat Puasa Bagi Kesehatan.

Ustadz Nur Rohmat, dokumentasi Galuh

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana kita semua diwajibkan untuk berpuasa, seperti firman Allah dalam QS Al Baqarah 183 :

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Diterangkan oleh Ustadz Nur Rohmat bahwa banyak sekali manfaat puasa bagi kesehatan. Dengan background biologi yang demikian kental, beliau menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan dengan begitu gamblang

1. Puasa adalah kesempatan bagi tubuh kita untuk melakukan detoksifikasi, selama puasa tubuh akan mengalami pengurangan beban pencernaan dan mengalihkan energinya untuk membuang sampah dan sisa metabolisme. Disini tubuh melakukan proses autofagi yaitu proses pembersihan diri dengan membuang sel sel yang rusak atau tidak berguna.

Proses autofagi dalam sel, sumber gambar : hellosehat

2. Berkurangnya nutrisi yang masuk dalam tubuh membuat kita merasa lapar. Para ahli mengatakan bahwa saat lapar stem sel akan banyak memproduksi leukosit yang akan memakan zat-zat asing yang memasuki tubuh ( antigen). Dengan demikian tubuh akan terangsang untuk membentuk antibodi sehingga meningkatkan kekebalan tubuh.

3. Puasa akan mengurangi kadar lemak dalam tubuh. Selama berpuasa, ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan energi diperoleh dari pembakaran cadangan lemak. Lemak berlebihan dalam tubuh akan merusak sistem keseimbangan dan kekebalan.

4. Puasa membantu proses penurunan berat badan.

Wasana kata, jika tubuh manusia diibaratkan mesin, maka saat puasa ini Sang Pembuat Mesin sedang ingin melakukan perbaikan dan pemeliharaan di sana-sini. 

Bersama Ustadz Nur Rohmat, dokumentasi pribadi Soni

Karenanya marilah kita laksanakan puasa di bulan Ramadhan ini sebaik- baiknya agar bisa mendapatkan banyak berkah, di mana salah satunya yang sangat penting adalah berkah kesehatan. Seperti Hadits yang berbunyi: 

“Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat”

Semoga bermanfaat dan Salam Ramadhan.

Perlunya Melakukan Ruqyah Diri Sendiri (Tausiyah Ramadhan 1)

Pernahkah pembaca merasa berangkat ke tempat kerja dengan tergesa-gesa? Anak di rumah tidak bisa cepat, ada yang makannya rewel, baju lupa belum disetrika, kaos kaki si kecil hilang … Ditambah lagi jalanan macet, ketemu pengemudi yang seenaknya sendiri.. duh…, benar benar membuat jengkel.

Berbagai peristiwa pagi yang sering membuat suntuk. Belum masuk kelas, hati sudah demikian sumpek rasanya.

Jika rasa marah terus terpendam di dada, bukan mustahil siswa kita yang akan terkena getahnya.

 Entah dengan penyajian pembelajaran yang jadi kurang menarik, atau guru jadi baper, tidak bisa menahan emosi dan lain sebagainya.

Tausiyah di hari Kamis pagi, dokumentasi Galuh

Berkaca dari hal tersebut maka perlu bagi para guru untuk meruqyah diri sendiri sebelum masuk ke kelas bertemu dengan para siswa agar hati menjadi tenang. Karena bukan mustahil, siswa juga datang ke sekolah dengan membawa berbagai masalah mereka dari rumah.

Tentang Ruqyah dan Manfaatnya

Ruqyah, dalam konteks Islam, berfungsi sebagai terapi penyembuhan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa untuk meredakan gangguan atau penyakit, baik fisik maupun non-medis seperti gangguan jin atau sihir. 

Berbagai manfaat dari ruqyah adalah untuk penyembuhan dari penyakit, perlindungan dari berbagai gangguan baik yang bersifat fisik maupun non medis, penyembuhan spiritual dari gangguan jin, sihir dengan memanfaatkan ayat ayat Al-Qur’an dan doa doa.

Ruqyah bisa dilakukan oleh ustadz, orang tua ataupun orang orang yang sholeh dan bertaqwa. Meski demikian tidak menampik kemungkinan bahwa ruqyah bisa dilakukan oleh diri sendiri.

Peserta tausiyah, dokumentasi Galuh

Ruqyah pada diri sendiri bisa dilakukan dengan membaca Alfatihah, QS Al Falaq, QS An Nas, QS Al Ikhlas, dan doa-doa yang ada dalam Al Quran.

Ya, membaca doa-doa yang ada dalam Al Qur’an akan menimbulkan ketenangan hati. Seperti firman Allah dalam QS (Ar-Ra‘d [13]:28)

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram 

Dengan sering melakukan ruqyah pribadi diharapkan hati kita bisa menjadi lebih tenang, sabar dan siap menghadapi siswa yang sudah menunggu siraman ilmu para guru mereka. 

Yang perlu kita ingat keberhasilan ruqyah sangat bergantung pada keimanan dan ketakwaan orang yang diruqyah dan orang yang meruqyah, serta keyakinan bahwa kesembuhan berasal dari Allah SWT. 

Ya, bukankah segala kebaikan hanya bersumber pada Dia Sang Pemilik alam semesta?

Keterangan:

Disarikan dari tausiyah Ramadhan hari pertama oleh Bapak Teguh Edy Purwanta