Categories
Cerita

Bujuk Rayu, Tentang Sedapnya Rasa dan Rayuan Aroma

Rawon mendol, sumber gambar: Klik Times

“Jangan coba-coba merayuku”  balas saya dalam sebuah chat di grup perpesanan siang itu. Emoticon tertawa saya sematkan di bagian akhir.

He..he.. mengapa seperti itu? 

Tiba-tiba saja hari itu teman- teman mengajak maksi di sebuah kedai. Bujuk Rayu namanya. Dari namanya saja rasanya sudah menggelitik. Ada nuansa hangat, genit sekaligus menggoda.

“Letaknya dimana?” tanya saya

“Pasar Klojen, yang dulu Kopi Klojen,” jawab teman saya.

Aha,  dekat sekali. Pasar Klojen hanya sekitar lima menit dari sekolah. Jadi bukan dekat, tapi duekat. Kopi Klojen dulu pernah menjadi tempat jagongan kami. Berubah nama? Wah, harus dicek bareng ini..

Kedai Bujuk Rayu yang berlokasi di daerah Pasar Klojen, sumber gambar: tiktok kedai Bujuk Rayu

Ketika jam maksi tiba, tanpa menunggu lama kami menuju kedai Bujuk Rayu. Sebagian naik grab, sebagian naik motor. Tepat seperti yang diperkirakan, sepuluh menit kami sudah berkumpul di kedai, meski formasi kurang lengkap karena seorang teman berhalangan hari itu.

Suasana ramainya maksi sangat terasa. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengunjung kedai di jam itu. Maklumlah, jam dua belas siang adalah jam yang tepat untuk mengisi perut bersama.

Menurut pengamatan saya,  mungkin juga pengunjung yang banyak ini dikarenakan ada pertemuan dari komunitas tertentu.

“Enaknya pesan apa?” 

Berempat kami menekuni daftar menu yang yang ada. Senyum kami langsung mengembang.

 He..he… Nama menunya unik, dan memancing rasa ingin tahu. Coba bayangkan, nasi karam, nasi ceria, nasi rayu dan nasi sayang.

Teh kampung, dokumentasi pribadi

“Apa ya? ” tanya saya bingung. Asli. Saya tidak mengerti makanan apa yang disajikan kedai ini.

Nasi karam itu apa? Saya pikir semula nasinya banyak disiram kuah sehingga nasinya karam. Pastinya soto atau rawon.

Lha nasi rayu itu apa? Nasi ceria? Nasi sayang? Aih..

“Langsung pesan di resepsionis saja, sambil tanya,” kata teman saya. Sebuah cara yang jitu memang , karena setiap nama hanya resepsionis yang bisa menjelaskan. 

Dengan menahan senyum kami menerima penjelasan dari resepsionis. Nasi rayu artinya nasi rawon (tapi nanti akan kami tanyakan, yu nya itu apa), nasi karam artinya nasi kare ayam dan nasi ceria berarti nasi ceker, ahaay…

Bersama owner Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ahfi

Sungguh sebuah cara yang kreatif dalam mengemas nama- nama hidangan.  Istilah yang unik , menggelitik membuat pembeli tertarik untuk bertanya dan akhirnya membeli.

Setelah diskusi sejenak akhirnya kami memesan tiga nasi rayu alias rawon, tiga mendol, dan telor asin. Minumnya teh kampung hangat dan es teh kampung.  kampung. Teh kampung? Ya, maksudnya teh biasa, teh dengan rasa kebanyakan yang sering kita nikmati.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang, tiga nasi rayu dengan ditemani mendol dan telor asin dalam piring kecil. Tak ketinggalan tahu petis sebagai desert. Sedep pol.  Petisnya sangat terasa.

Suapan demi suapan ditemani obrolan membuat tak terasa hidangan habis tak bersisa. 

Luar biasa. Rasa lapar, vibes yang nyaman, dan keramahan layanan membuat jagongan di Bujuk Rayu terasa demikian singkat. Apalagi kami juga diajak ngobrol dengan ownernya yang ramah.

Sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma

“Wah, sudah jam satu, ayo kembali ke sekolah,” kata salah satu di antara kami. Bergegas kami menuju parkiran. Dua orang naik sepeda motor, dua orang naik miktolet.

Menu di Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ami

Aih, siang yang menyenangkan. Perut kenyang dan hati senang. 

Sst, sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma kedai Bujuk Rayu..

Categories
Cerita

Ngopi, Sebuah Cerita tentang Pergeseran Makna dan Budaya

Cappucino, dokumentasi pribadi

Jam masih menunjukkan pukul sebelas siang ketika sepeda motor saya masuk sebuah pelataran parkir bangunan cafe. Cafe yang lumayan besar dengan arsitektur dan mebel yang bernuansa kuno. 

Di teras ada jajaran kursi rotan dan pintu depannya berbentuk kupu tarung berwarna hijau. Khas bangunan lawas. Nama kafe tertulis besar besar di bagian atas bangunan dengan warna hijau senada dengan warna pintu. Bento Kopi, sebuah Cafe yang terletak di jalan Ade Irma Suryani 5 Malang.

Bento Kopi, dokumentasi pribadi

Saya segera masuk, dan tiga orang teman sudah menunggu di dalam. Ya, hari ini kami sedikit mengadakan pertemuan setelah sekian lama tidak bersua.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa ngopi bareng,” ungkap kami dengan wajah-wajah ceria.

Kami segera membaca buku menu yang tersedia di meja. 

“Pesan apa?” tanya teman saya yang bertugas untuk mencatat. 

Satu- satunya teman dari generasi milenial ini sangat sigap dalam segala urusan. Dalam urusan perngopian ia selalu bertugas melakukan survey lapangan baik tentang kemudahan transportasi ataupun menu jika kami akan mengunjungi suatu tempat. Karena kesigapan ini acara-acara ngopi selalu gayeng dan lancar.

Setelah sedikit berunding kami memutuskan untuk pesan minuman leci, blueberry, coklat dan cappucino. Sementara untuk makanan adalah pisang goreng, mendoan, lumpia dan menu nasi karena ada teman yang belum sempat sarapan.

Memilih menu, dokumentasi pribadi

Sejenak kami tertawa. Katanya ngopi, lha kopinya kok cuma satu? 

Tak perlu menunggu lama, minuman dan makanan yang kami pesan pun datang.

” Sudah semua pesanannya ya Kak?” kata mbak waiters dengan ramah.

“Sudah, terima kasih..,” jawab kami tak kalah ramah

Tentang kopi dan Budaya Ngopi

Hidangan teman ngopi, dokumentasi pribadi

Siapa yang tidak kenal kopi? Biji yang menjadi cikal bakal minuman yang sangat nikmat ini ternyata bukan tanaman asli Indonesia.

Adalah VOC yang membawa bibit kopi arabika ini ke Jawa dari Malabar (India). Di Hindia penanaman kopi dilakukan pertama kali di sekitar Batavia dan Priangan dan dilanjutkan dengan penanaman dalam skala besar di abad 18. Penanaman dilaksanakan di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) dan Sumatera (dataran tinggi Gayo, Mandailing). 

Di masa ini kopi Jawa (Java Coffee) menjadi komoditas internasional yang termasyhur. Saat itu minum kopi adalah kebiasaan elit kolonial serta sebagian kecil bangsawan pribumi yang berpengaruh, sementara rakyat yang menanam kopi justru tidak pernah menikmatinya karena hampir seluruh hasil panen harus disetorkan VOC.

Pada akhir abad ke 19 budaya minum kopi makin menyebar. Kopi mulai diminum oleh para priyayi, saudagar dan masyarakat urban. Kopi juga mulai menjadi bagian hidangan keluarga, ketika ada tamu atau pertemuan -pertemuan.

Seiring berjalannya waktu mulai muncul warung kopi Tionghoa (kophi-tiam) yang menjadi cikal bakal tempat “ngopi” sebagai aktivitas sosial, terutama bagi kaum lelaki untuk berdiskusi dan saling bertukar informasi.

Kopi sebagai hidangan terus mengalami perkembangan. Lama-kelamaan mulai dikenal apa yang dinamakan kopi tubruk, kopi instan termasuk juga kopi latte.

Sekitar tahun 2000 an terjadi booming budaya cafe yang membuat cafe menjadi third place selain rumah dan tempat bekerja/sekolah.

Pembukaan cafe di berbagai tempat menciptakan ruang publik baru yang menjadi tempat bertemu ataupun sekedar bersantai dan ngobrol dalam suasana yang hangat.

Ngopi bersama teman, dokumentasi pribadi

Hidangan yang disajikan di cafe semakin beragam. Bukan hanya kopi, tapi juga teh, jus, minuman herbal atau bahkan es krim.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi  bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama

Cafe juga menyajikan berbagai kudapan agar pelanggan lebih asyik ngobrol di dalamnya. Di sini makna ngopi mulai bergeser dari sekedar minum kopi bareng menjadi  sebuah aktivitas bersosialisasi dengan atau tanpa kopi.

Orang datang ke kafe tidak selalu untuk kopi tapi bisa coklat, jus, atau makanan ringan, dan aktivitasnya tetap disebut “ngopi”, seperti yang kami lakukan hari ini.

Di era yang berjalan serba cepat, aktivitas ngopi bareng teman seolah memberikan ruangan pada kita untuk sejenak ‘bernapas’, menghentikan semua kegiatan dan menikmati jeda bersama.

Lewat interaksi dan obrolan sederhana, justru bisa tercipta suasana yang segar,  hangat, lepas, ceria dan penuh tawa.

Jadi, sudahkah anda ngopi hari ini?

Categories
Cerita Reportase

Ketika Surat Cinta Bercerita 

Foto bersama siswa, orang tua dan wali kelas setelah penerimaan rapor, dokumentasi kelas 9.2

Seorang ibu sedang menunduk membaca surat yang ada di tangannya. Lama ia terdiam sebelum akhirnya melipat kembali surat tersebut dan memasukkan lagi ke dalam amplopnya. Di surat tersebut ada ornamen cantik lukisan dengan menggunakan crayon berwarna biru.

Dengan sedikit mengusap ujung matanya Si Ibu tersenyum. “Terima kasih Bu, semoga anak anak sukses ya,” katanya penuh haru.

Sang wali kelas mengangguk sambil tersenyum. 

Di atas adalah gambaran suasana pengambilan rapor pagi ini. Ya, hari ini sekolah kami membuat skenario baru untuk penerimaan rapor siswa yaitu dengan pemberian surat cinta. 

Tentang Surat Cinta

Surat cinta salah seorang siswa, dokumentasi Buz

Kapan terakhir kali anda menulis surat cinta? Anak zaman sekarang mungkin tidak begitu familiar dengan benda satu ini. Beda dengan generasi lawas seperti saya misalnya. Di zaman belum ada HP mengungkapkan perasaan hati lewat surat adalah hal yang biasa.  Apalagi pada seseorang yang spesial, kita biasanya punya ribuan kosa kata untuk diungkapkan dalam sebuah surat.

Lain dengan zaman sekarang. Di zaman yang serba cepat ini mengungkapkan perasaan cukup dengan menggunakan berbagai aplikasi perpesanan yang ada di hp masing masing. Mungkin sudah tak ada lagi kata kata yang panjang sedikit mendayu seperti di masa lalu. Serba singkat, lugas dan seperlunya.

Surat Cinta dan Penerimaan Rapor

Siswa menyerahkan rapor pada orang tua, dokumentasi Buz

Nah, apa hubungan antara surat cinta dan penerimaan rapor hari ini? Sebagai sebuah inovasi penerimaan rapor, kali ini sekolah kami membuat skenario baru dalam penerimaan rapor siswa di akhir semester gasal 2025/2026.

Penerimaan rapor biasanya menjadi momen yang menegangkan bagi siswa maupun orang tua. Di moment itu siswa akan mendapatkan kumpulan nilai yang telah mereka peroleh dalam satu semester sebagai hasil kerja keras mereka. Momen ini bisa menjadi momen yang tidak menyenangkan utamanya bagi siswa yang nilainya pas pasan. Rasa tegang dan takut membuat kecewa terasa begitu menghantui.

Demikian juga bagi orang tua. Moment ini terasa begitu menegangkan, utamanya jika siswa sering bermasalah. Aduh, jangan jangan ada cerita macam macam ini.., atau jangan jangan harus ke BK dulu karena anak bermasalah.

Nah, sekolah kami hendak mengubah paradigma rapotan yang menegangkan menjadi rapotan yang berkesan dan lebih meningkatkan bonding antara orang tua dan anak.

Lalu bagaimana skenarionya?

Pengaraham kepala sekolah, dokumentasi pribadi

Kira kira tiga hari sebelum penerimaan rapor siswa diminta menuliskan surat cinta pada orang tua masing-masing. Ya, surat yang dibuat siswa untuk orang tuanya berisikan ungkapan rasa sayang, juga harapan ataupun perasaan, cita cita dan keinginan dalam hati mereka.

Semua surat wajib ditulis tangan dan dimasukkan dalam amplop tertutup, lalu dikumpulkan di wali kelas. Ya, surat tertutup rapat bahkan wali kelas pun tak bisa membukanya.

Di hari penerimaan rapor, orang tua dan siswa wajib hadir di sekolah. Pada jam yang ditentukan, di mana orang tua masih mendapat pengarahan dari kepala sekolah di aula, siswa siap di depan kelas masing-masing dengan membawa rapor dari wali kelas.

Setelah pengarahan orang tua masuk kelas, dan wali kelas membagikan ‘surat cinta’ dari siswa pada orang tua masing-masing.

“Surat ini ditulis oleh anak anak untuk bapak/ibu,” kata wali kelas sambil membagikan tersebut.

Orang tua tampak surprise. Apalagi di amplop surat ada beragam tulisan tangan anak anak.

“Untuk bunda,”

“Buat ayah tercinta”

“Dariku untuk bunda,”

Suasana mulai terasa mengharukan ketika para orang tua membuka surat-surat tersebut.

“Mengharukan, saya jadi lebih tahu apa harapan anak saya,” ungkap salah satu orang tua.

“Saya jadi tahu bahwa anak saya ternyata tidak se “cuek” yang saya kira,” kata yang lain.

“Sungguh moment yang tak terlupakan, membaca surat dari anak saya, yang menulisnya kapan juga kami tidak tahu,” kata seorang bapak.

Siswa dan orang tua, dokumentasi Buz

Sebuah hari yang istimewa. Penerimaan rapor bukan sekedar laporan nilai. Lewat acara rutin ini sekolah berusaha membangun bonding yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Betapa banyak anak yang sulit berkomunikasi dengan orang tua, entah karena kesibukan atau hambatan lain. Lewat moment ini sekolah berusaha menjembatani agar ada saling pengertian di antara mereka. Paling tidak masing- masing mengerti bahwa sebenarnya mereka saling menyayangi, hanya karena hambatan komunikasi, kadang rasa sayang itu tidak bisa tersampaikan.

Pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya

Lewat moment ini orang tua juga bisa lebih memahami apa yang ada dalam benak anak. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan lisan kadang lebih nyaman diungkapkan lewat tulisan.

Diskusi hangat orang tua dan wali kelas, dokumentasi kelas 9.2

Akhirnya pada dasarnya seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Ia hanya inginkan orang tua yang selalu ada dan mau mendengarkan isi hatinya.

Kehadiran dan keterbukaan komunikasi dengan orang tua jauh lebih berharga bagi perkembangan jiwa anak daripada pencapaian materi atau standar kesempurnaan sosial. 

Dengan menjadi “tempat pulang” yang hangat dan menerima, orang tua telah memberikan fondasi yang kuat untuk  masa depan anak yang lebih baik.

Categories
Cerita Reportase

Membuat Topeng Malangan, Bukan Hanya Tentang Mencintai Budaya Malang dan Kearifan Lokal

Topeng Malangan, sumber gambar: Kemdikbud

“Terima kasih Eyang Gatot,”

Demikian yang diucapkan siswa ketika sebuah sesi kegiatan kokurikuler berakhir. 

Sesudah kurang lebih selama sembilan puluh menit siswa diajak belajar tentang sejarah dan filosofi topeng Malangan bersama, acara hari itu ditutup dengan foto bersama seluruh peserta, guru pendamping dan narasumber.

Belajar sejarah dan filsafat topeng Malangan adalah salah satu sesi kegiatan siswa pada kegiatan kokurikuler. Kegiatan yang fokus pada pembangunan karakter siswa kali ini mengambil tema pembuatan topeng Malangan dan difokuskan pada siswa kelas sembilan.

Pengetahuan tentang sejarah dan filosofi Topeng peng Malangan sangat penting agar siswa bisa lebih memahami dan menghayati cerita di balik keunikan topeng Malangan, sekaligus lebih menghargai topeng Malangan sebagai salah satu kekayaan budaya Nusantara.

Bapak Gatot Kasujono narasumber hari itu adalah seorang seniman sekaligus kolektor topeng Malangan. Beliau menggeluti dunia topeng sejak tahun 1986, dan sampai sekarang memiliki sekitar 1500 koleksi topeng.

“Semua karena tidak sengaja,” tutur Pak Gatot ketika saya bertanya kenapa tiba-tiba jatuh cinta pada Topeng Malangan.

Berawal ketika beliau mendapat tugas untuk kuliah di Jogjakarta sekitar tahun delapan puluhan. “Saya kuliah di Geodesi,” kata Pak Gatot lagi.

“Lha.., dari Geodesi ke Topeng Malangan sepertinya jauh jaraknya ya, Pak?” tanya saya yang disambut dengan tawa Pak Gatot.

Berbincang dengan Pak Gatot , dokumentasi Buz

“Ketika itu saya kan kos, Bu. Nah, pas libur saya merasa bosan, tidak ada yang dikerjakan( istilah sekarang mungkin gabut) di kos kosan, dan akhirnya diajak teman jalan jalan ke Gunung Kidul. Di sana saya menemukan sebuah kampung di mana kegiatan penduduknya mayoritas adalah pembuat topeng. Dari situ rasa cinta saya pada topeng berawal.”

Kecintaan pada topeng diwujudkan Pak Gatot dengan terus belajar. Beliau pernah belajar pada generasi ke empat dari Mbah Moen, seorang maestro Topeng Malangan dari sanggar Asmorobangun Pakisaji Malang.

Setelah pensiun dari Perhutani, Pak Gatot terus aktif di membuat topeng Malangan dan setiap tahun diundang menjadi narasumber Topeng Malangan di SMP Negeri 3 Malang.

Dalam penjelasan pada siswa siang itu  Pak Gatot menerangkan bahwa Topeng Malangan adalah seni tradisional dari Malang, Jawa Timur, berupa seni pertunjukan drama tari yang menggunakan topeng kayu berkarakter. 

Seni ini sudah ada sejak zaman  kerajaan kuno dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta religiusitas yang tinggi. Topeng Malangan sering dipentaskan dengan mengangkat cerita, dengan pementasan yang mengangkat cerita-cerita seperti Panji. 

Warna warni Topeng Malangan mempunyai filosofi tersendiri, sumber gambar: Radar Malang

Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan, contoh : warna merah melambangkan watak pemberani dan pemarah (misalnya, Klana Sewandana), warna putih menggambarkan watak suci, lembut, dan baik hati (misalnya, Dewi Sekartaji), hijau menggambarkan sifat baik hati (misalnya, Panji Asmoro Bangun), kuning menggambarkan watak senang dan gembira (misalnya, Dewi Ragil Kuning) dan warna hitam melambangkan kebijaksanaan.

Acara pemberian materi sejarah dan filosofi topeng Malangan ini berlangsung hangat, lebih-lebih ketika di sela sela acara, seorang siswa dari ekskul menari maju memperagakan tari topeng Bapang 

Antusias siswa ditandai dengan munculnya berbagai pertanyaan dari siswa yang dijawab satu persatu oleh narasumber.

Siswa menarikan tari Topeng, dokumentasi Buz
Siswa banyak bertanya di sesi pemberian materi, dokumentasi pribadi

Ya, dedikasi serta rasa cinta Pak Gatot pada topeng Malangan membuat beliau sabar meladeni pertanyaan anak- anak.

“Semoga semakin banyak anak anak yang cinta Topeng Malangan, dan pembuatan topeng supaya diikuti dengan pagelaran tari topeng agar filosofinya semakin terasa,” ungkap Pak Gatot di akhir perbincangan kami hari itu.

Pagelaran Tari Topeng Malangan, sumber gambar: Hotel Tugu Malang
Ciri khas topeng Malangan adalah  memiliki warna-warni dan ekspresi sesuai karakter yang diperankan

Menjelang pukul dua Pak Gatot segera berpamitan. Kami mengantar beloau sampai depan parkiran. Semangat yang luar biasa. Di usianya yang ke 72, beliau masih naik sepeda motor sendiri dari Jl. Dr Cipto menuju Sawojajar dua.

Hari yang luar biasa. Hari ini kami semua belajar bahwa membuat  topeng Malangan bukan hanya tentang mencintai budaya dan kearifan lokal. Tapi lebih dari itu, ada banyak pelajaran tentang  kesabaran, kesetiaan  dan ketekunan  di dalamnya.

Categories
Cerita

Semangkuk Kasih Sayang dalam Hidangan Bubur Kacang Hijau

Bubur kacang hijau dengan es serut, dokumentasi pribadi

“Kacang hijau saja,” jawab saya ketika teman saya menyodorkan buku menu pada saya. Siang itu di jam makan siang kami kembali duduk di sebuah cafe dekat sekolah.

“Kacang hijau lagi?” tanya teman saya sambil tersenyum. Sebulan yang lalu saya  makan ke sini dan saya pesan kacang hijau.

Saya ikut tersenyum. “Iya, kacang hijau ,” tambah saya.

Dalam hal makanan atau minuman saya bukan tipe orang yang suka mencoba-coba. Jika suka dengan satu jenis makanan atau minuman saya selalu pesan menu yang sama. Monoton kata anak saya. Setia dan konsisten kata saya.

“Ganti, Buk.. masak itu terus?” tanya anak saya suatu saat. Ketika itu saya diajak makan di suatu tempat dan saya memilih kacang hijau untuk minumnya.

“Gpp, Nduk enak kacang hijaunya,” jawab saya. Anak saya cuma tertawa sambil menuju tempat pemesanan makanan. Alhasil tak terlalu lama satu gelas es kacang hijau tersaji di depan saya, seperti hari ini

Pelan saya mulai mengaduk kacang hijau di depan saya. Kacang hijau yang gurih campur santan, manisnya gula merah, ditambah dengan serutan es dan sedikit susu membuat tampilan hidangan di depan saya kian menggoda.

Sesuap demi sesuap kacang hijau membuat saya terlempar ke masa lalu. Sungguh, bukan tanpa alasan jika saya suka kacang hijau. Tidak hanya karena rasanya yang lezat, namun rasa kacang hijau langsung mengingatkan saya pada ibuk saya.

Ibuk saya bukan orang yang pintar masak. Ya, ibuk selalu tidak punya waktu yang banyak untuk memasak karena ibuk selalu membantu bapak saya menjahit. Karenanya

masakan ibuk selalu sederhana karena harus diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Meski sederhana masakan ibuk selalu lezat luar biasa menurut saya. Yang selalu membuat saya kangen adalah sayur sop, tempe dan tahu serta sambal tomat bikinan ibuk. Sederhana, namun begitu akrab di lidah. Tidak ada ayam atau daging goreng, tapi menikmati masakan ibuk selalu membuat saya ingin tambah dan tambah.

Satu hal yang paling menyenangkan bagi kami adalah ketika ibuk membuat kudapan seperti kolak, dawet dan sejenisnya. Tapi dari semuanya yang paling kami suka adalah bubur kacang hijau. Aha.., 

Bubur ini mempunyai rasa khas. Ada paduan gurih, manis, lezat dan kadang ditambah dengan parutan jahe yang membuat bubur kacang hijau mempunyai aroma yang khas. Harum dan sedap.

 Ibuk membuat bubur kacang hijau di saat saat istimewa seperti bulan puasa, atau saat hari Minggu, sehingga terpatri dalam ingatan kami bahwa bubur kacang hijau adalah bubur yang istimewa.

“Ayo, dihabiskan, banyak vitaminnya,” selalu begitu pesan ibuk. Pesan yang terus kami ingat hingga kami yakin bahwa kacang hijau adalah minuman yang lezat sekaligus sehat. Tidak perlu diragukan memang, karena dari berbagai informasi tentang makanan sehat, kacang hijau ternyata mengandung protein nabati, karbohidrat kompleks, serat pangan, vitamin (terutama folat/B9, B kompleks, C, E, K) dan mineral penting seperti zat besi, magnesium, fosfor, kalium, kalsium, serta zinc.

Kenangan dengan kacang hijau tidak hanya itu. Di masa kecil, hampir setiap hari saya diajak ke rumah Mbah yang tepat berada di depan pasar Bareng. Ya, bapak adalah penduduk asli Bareng sehingga banyak teman-teman ngobrol Bapak di sana.

Nah, persis di depan rumah Mbah ini ada penjual es campur yang menyediakan juga es kacang hijau dan kacang hijau hangat. Kami adalah pelanggan setia warung tersebut, karena ketika orang dewasa  sibuk ngobrol kami anak- anak dipesankan kacang hijau dan makan bersama di ruang dalam.

Makanan dan Kenangan

Makanan dan kenangan? Ya, kita sering merasakan jenis makanan tertentu terasa begitu lezat karena ada kenangan yang membumbuinya.  

Ada yang suka sekali makan pangsit karena mengingatkan ketika makan bareng dengan teman di kosan ketika hari hujan, atau suka sambel bawang karena mengingatkan ketika pertama kali belajar memasak dan banyak lagi contoh yang lain.

Ketika membaui kacang hijau plus jahe saya selalu ingat pada kacang hijau buatan ibuk dan kebersamaan kami saat itu.

Pendek kata makanan bagaikan jangkar emosional, yang ketika kita menikmatinya, otak tidak hanya mencicipi rasa fisiknya, tetapi juga “mencicipi” kembali emosi positif itu.

Selain di atas, hal lain yang membuat kita mudah mengenang sesuatu lewat makanan  adalah adanya hubungan erat antara indera  penciuman dan memori. 

Bubur kacang hijau, sumber gambar The Asianparent

Indera penciuman (penghidu) adalah indera kita yang memiliki jalur paling langsung ke sistem limbik otak, yaitu pusat emosi dan memori jangka panjang (seperti hippocampus dan amygdala). 

Hal ini berakibat aroma makanan bisa langsung langsung membangkitkan emosi dan kenangan sebelum kita sempat memprosesnya secara rasional. 

Tentu pembaca pernah merasakan ketika membaui sebuah makanan, tiba-tiba ingat moment tertentu. Seperti halnya saya, ketika membaui kacang hijau plus jahe selalu mengingatkan saya pada kacang hijau buatan ibuk dan kebersamaan kami saat itu.

Akhirnya bagi saya kacang hijau bukan sekedar hidangan pencuci mulut. Kacang hijau adalah sajian rindu, yang dengan menikmatinya memori saya akan terhubung dengan masa lalu, ketika ibuk dengan senyumnya yang hangat menyajikan mangkuk-mangkuk kasih itu untuk kami semua.

Kompas. (2023). Kenapa Aroma Bisa Memicu Ingatan yang Emosional? https://www.kompas.com/sains/read/2023/06/03/090000023/kenapa-aroma-bisa-memicu-ingatan-yang-emosional-