IFP, Media untuk Pembelajaran yang Lebih Bermakna

Sebuah layar besar berukuran 75 inci terpampang di depan ruang kelas. Guru menyentuh ‘tombol’ tertentu  dan sebuah tayangan tampil di layar tersebut.

Tayangan gambar untuk pertanyaan pemantik pembelajaran hari itu. 

Siswa tampak begitu antusias. Serasa menonton layar lebar. Beberapa siswa memberikan komentar, dan beberapa saat kemudian layar berubah fungsi menjadi papan tulis, dan dengan menggunakan stylus pen guru mulai menulis dan menerangkan sebuah materi.

Di atas adalah gambaran suasana pembelajaran dengan menggunakan IFP yang dilaksanakan di sekolah. Ya, sekitar tiga bulan yang lalu sekolah kami mendapatkan bantuan IFP dari pemerintah. 

Apakah IFP itu?

Pembelajaran menggunakan IFP, dokumentasi Selviska

IFP (Interactive Flat Panel) adalah perangkat layar sentuh digital interaktif berukuran besar (all-in-one) yang menggabungkan fungsi monitor, proyektor, papan tulis, dan komputer. 

Bantuan Interactive Flat Panel (IFP) atau “Smart Board” 75 inci adalah program digitalisasi pendidikan pemerintah tahun 2025 (Inpres No. 7/2025) untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Ada  288.865 unit didistribusikan ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran interaktif. 

Penggunaan IFP dalam pembelajaran memungkinkan pembelajaran yang lebih menarik, variatif juga interaktif. 

Berbagai simulasi atau pembelajaran interaktif bisa dibuat.

Sebagai contoh, saat pembelajaran matematika Persamaan Linier Satu Variabel, guru bisa membuat simulasi persamaan yang ekivalen dalam bentuk neraca dengan beban tertentu. Secara bergantian siswa diminta maju ke depan untuk memindahkan beban yang ada dan membuat posisi neraca dalam keadaan yang setimbang. Posisi neraca yang setimbang adalah ilustrasi untuk persamaan yang ekivalen (ruas kanan dan kiri sama).

Masih dalam pembelajaran matematika, siswa bahkan bisa ‘battle’, adu cepat dalam  mencari penyelesaian sebuah persamaan dengan temannya.

Siswa belajar dengan IFP, Dokumentasi Diah

Demikian juga saat pembelajaran Bahasa Indonesia yang membahas materi iklan, guru bisa menayangkan berbagai contoh iklan yang sudah disiapkan sebelumnya lalu mengajak siswa bersama- sama membuat iklan dengan menggunakan aplikasi tertentu.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan IFP, dokumentasi Eka

“Seru,”

” Mirip HP, hanya saja bentuknya lebih besar, ” komentar beberapa siswa senang. 

Tentu saja. Pemakaian IFP mirip sekali dengan penggunaan gadget, benda yang sangat akrab bagi siswa.

Hadirnya IFP di sekolah membawa nuansa baru dalam pembelajaran di sekolah. Guru- guru dituntut untuk belajar menggunakannya termasuk membuat rancangan pembelajaran yang menarik dengan menggunakan IFP .  Agar semua guru bisa melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan IFP, maka dibuat jadwal untuk mengatur penggunaan ya.

Lalu apa peran guru agar pembelajaran dengan menggunakan IFP bisa maksimal?

1. Sebagai fasilitator dan pemantap. 

IFP membuat pembelajaran lebih menyenangkan, dokumentasi Anggita

IFP memang bisa menampilkan video, diagram 3D, atau kuis interaktif yang memantik rasa ingin tahu, meski demikian, gurulah yang harus mengambil alih untuk memantapkan konsep. Misalnya, setelah menampilkan simulasi tentang neraca yang setimbang untuk persamaan linier satu variabel guru bertanya, “Nah, dari ilustrasi ini, menurut kalian apakah persamaan yang ekivalen itu?” 

2. Guru sebagai sumber kehangatan dan empati.

Meskipun canggih, IFP tidak akan bisa   memeluk siswa yang sedang sedih, menangkap keraguan di mata siswa, termasuk juga memberikan senyum tulus saat seorang anak berhasil menjawab pertanyaan sulit. 

Interaksi hangat seperti menepuk pundak, kontak mata, dan mendengarkan cerita siswa adalah ranah eksklusif yang tidak boleh diabaikan guru.

3. Pengendali dinamika kelas.

IFP bisa membuat siswa antusias, bahkan mungkin terlalu antusias. Di sini guru berperan penting untuk mengatur ritme pembelajaran . Tentang kapan harus fokus ke IFP, kapan diskusi kelompok, dan kapan harus hening sejenak untuk refleksi.

Akhirnya hadirnya IFP bisa membuat pembelajaran di sekolah lebih menarik jika kita bisa menggunakannya dengan tepat. 

IFP hanyalah alat yang membantu pelaksanaan pembelajaran. Alur jalannya pembelajaran dan kebermaknaannya tetap tergantung pada peran guru di dalam kelas.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah IFP dirancang untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Guru bukan “operator” IFP yang terus fokus menekan-nempel layar sepanjang waktu, sehingga interaksi hangat dan pembelajaran bermakna hilang.

Bisa diibaratkan, IFP adalah jendela ajaib yang bisa membawa dunia ke dalam kelas, tetapi gurulah yang tetap menjadi pemandu wisata yang hangat, penuh perhatian, dan memastikan semua siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna dari “perjalanan” belajar tersebut.

Salam Edukasi

Bioskop Kelud : Tentang Misbar Hingga Jejak Sekolah Kartini di Kota Malang

Asli, saya senyum- senyum sendiri membaca tulisan Kompasianer Kaekaha yang berjudul  “Menyaksikan Layar Perak, Ludruk, dan Ketoprak Berbagi Panggung di “Misbar” Karto Dasil”. Tulisan yang bercerita tentang serunya nonton film, ketoprak dan wayang di daerahnya kala itu, di area yang dikelola oleh Pak Karto Dasil, “raja hiburan” di daerahnya.

Membaca baris demi baris tulisan itu, saya benar- benar tergelitik dan bisa merasakan suasananya. Mengapa? Tidak jauh dari tempat tinggal saya, dulu ada sebuah bioskop yang sangat fenomenal di Kota Malang yaitu Kelud. Sebuah gedung bioskop yang selalu dikunjungi banyak orang karena harga karcisnya yang sangat murah, dan suasananya.., persis dengan yang digambarkan Kompasianer Kaekaha dalam tulisannya.

Di masa itu, sekitar tahun 80 an bioskop menjadi tempat hiburan yang banyak disuka. Dalam ingatan saya bioskop-bioskop di Kota Malang saat itu adalah Ria, Agung, Merdeka, Malang Theater, Surya, Tenun dan Kelud. Saya hafal nama nama bioskop tersebut karena setiap sore ada acara berita-berita film di radio kami di rumah.

Bioskop di Malang, sumbergambar : Suara.com

Di saat rata-rata karcis masuk bioskop sekitar seribu rupiah, Kelud saat itu mematok dua ratus rupiah. Bayangkan. Dengan harga sekian, banyak sekali yang bisa masuk ke sana. Tua, muda, besar, kecil, tumplek blek di akhir pekan. Apa lagi jika film yang diputar film Rhoma Irama. Waoow, ditanggung sejak Sabtu siang, teman teman saya (saat itu saya masih duduk di SD) akan ramai bercerita tentang rencana nonton ke Kelud nanti malam.

“Aku sama Masku,” jawab beberapa teman ketika kami berbincang tentang dengan siapa nanti malam akan nonton bioskop.

“Aku sama tetanggaku,”

“Aku dewe an (sendirian),”

Lho .., kok dewean? Ya, di masa itu anak kecil nonton sendirian di Kelud bukan barang aneh. Anak- anak ini bisa masuk tanpa karcis pula. Caranya? Tinggal menggandeng tangan orang dewasa yang akan masuk bioskop sambil berbisik,”Lek, melok Lek,” alias “Om..ikut ya Om…,”

He..he.., cara ini sering kami namakan ‘nrombol’ .

Tapi tentu saja dengan karcis semurah itu penonton bisa mendapatkan fasilitas yang sederhana sekali. Jika di gedung bioskop lain di sediakan kursi yang bagus, semacam sofa atau kursi rotan, maka di Kelud tempat duduknya berupa lonjoran bangku besi panjang. Tempat menonton juga berupa lapangan beratapkan langit alias terbuka. Ya, terbuka. Jadi kalau hujan penonton pasti bubar, atau misbar (gerimis bubar).

Layar bioskop Kelud sekarang, sumber gambar: Kompas.com

Hal yang bisa dijumpai di Kelud tapi tidak di bioskop lain adalah kita bisa bertepuk tangan atau bersorak saat melihat adegan film. Misal jagoan kita menang, banyak penonton yang bertepuk tangan karena gembira.

Seiring berjalannya waktu, untuk memberikan layanan yang lebih bagus pihak bioskop membuat tempat duduk di balkon. Di sini tempat duduknya lebih bagus dan ada atapnya sehingga ketika hujan atau gerimis penonton tetap aman. Tentu saja karcis balkon lebih mahal daripada karcis biasa.

Bioskop Kelud benar- benar mewarnai denyut kehidupan kami, orang Bareng. Ya, saat itu jarang sekali orang punya televisi, akhirnya untuk mencari hiburan ya larinya ke gedung bioskop. Dan gedung bioskop paling terjangkau harga karcisnya adalah Kelud.

Suasana kampung kami akan sepi sehabis Maghrib tatkala Kelud memutar film India. Kalau tidak salah tiap hari Rabu Kelud memutar film-film dari negeri Amitabh Bacan ini. Film dengan durasi panjang, penuh drama dan air mata tapi juga banyak dihiasi tarian. Dan jangan heran, ketika yang diputar film India, saat bubaran kita akan banyak melihat penonton pulang dengan wajah habis menangis. Nangisi film India.. he..he..

Kehadiran Kelud juga membuat roda ekonomi warga sekitar kian menggeliat. Banyak yang berjualan di Kelud, entah kacang, gorengan, juga es. Bahkan ada teman saya berjualan es lilin dalam bioskop. Karena berjualan di dalam, otomatis setiap hari dia bisa melihat film yang ditayangkan. Dan terus terang, ini sering membuat kami yang tidak diperbolehkan nonton film di Kelud benar benar merasa iri.

Ketika hampir setiap rumah mempunyai televisi, dan film-film menarik semakin banyak diputar di televisi, era bioskop semakin meredup, dan lama-kelamaan Keludpun ikut gulung tikar tergilas oleh perubahan zaman.

Jejak Sekolah Kartini

Sekolah Kartini di Jl. Kelud, sumber gambar: Kliktimes.com

Kelud ternyata bukan hanya menyimpan cerita tentang dunia film dan bioskop. Dari berbagai sumber informasi ternyata di sini dulu pernah berdiri  Sekolah Kartini atau Kartinischool. 

Menurut Agung Buana, pemerhati sejarah Kota Malang, di lokasi bioskop ini pada tahun 1915 pernah didirikan Sekolah Kartini oleh Menteri Pendidikan Belanda waktu itu, Jacques Henrij Abendanon.

Karena Sekolah Kartini, maka semua siswanya adalah perempuan. Di sekolah ini para siswi tidak hanya belajar tentang berbagai ilmu pengetahuan, tapi juga  bagaimana mengasah keterampilan dalam kehidupan sehari-hari

Karena gudang kopi dekat sekolah ini membutuhkan perluasan, maka beberapa waktu kemudian aktivitas Sekolah Kartini pindah tidak jauh dari lokasi semula yaitu ke  SD Negeri Bareng 1 Malang. 

Di masa penjajahan Jepang Sekolah Kartini ditutup, karena banyak guru-gurunya ditangkap oleh Jepang. 

Sumber gambar: Kliktimes.com

Sebagai penanda bahwa di daerah ini pernah berdiri Sekolah Kartini, maka wilayah ini dinamakan Jalan Bareng Kartini.

Kini meskipun Gedung bioskop Kelud sudah tak lagi berdiri karena tergilas deru zaman yang serba digital,  bagi kami warga Bareng kehadiran bioskop ini adalah kenangan yang tak terlupakan.

Kelud bukan sekadar tempat hiburan murah; ia adalah saksi bisu kebersamaan, kepolosan, dan cara sederhana bahagia di masa lalu. Dan menariknya, di tanah yang sama, pernah tumbuh cita-cita luhur emansipasi melalui Sekolah Kartini.

Dua lembar sejarah yang berbeda, satu tentang tawa rakyat kecil dengan kebahagiaannya, satu lagi tentang sebuah perjuangan besar lewat dunia pendidikan untuk memajukan kaum perempuan Indonesia.

Salam dari Kota Malang.😊

Explore Blitar: Dengan Sepur Kelinci Kunjungi Candi Penataran

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika sepeda motor saya terhenti di Kayutangan. Rombongan lari yang lumayan panjang membuat kami tidak bisa meneruskan perjalanan beberapa saat.

“Ayo, sudah ditunggu,” kata seorang teman lewat WhatsApp. Aih, pasti semua sudah siap, pikir saya. Ya, rencananya pagi itu kami bersepuluh akan mengadakan jalan jalan ke Blitar.

Jalan- jalan kali ini diadakan oleh teman alumni SD. Sangat menyenangkan. Sudah lama sekali rasanya kami tidak bertemu, apalagi jalan- jalan bersama.

Setelah rapat yang lumayan panjang lewat grup WhatsApp, akhirnya kami memutuskan untuk jalan jalan ke Blitar di hari Sabtu (18/04).

Di stasiun Kota Baru, dokumentasi pribadi

Tujuan sudah ditentukan yaitu tiga destinasi di kota Blitar. Candi Penataran, Penangkaran Rusa dan Masjid Ar Rahman .

Untuk transportasi, ke Blitar kami naik kereta api , sedangkan keliling Blitar menggunakan sepur kelinci. Sepur kelinci? Pasti asyik, pikir saya.

Sekitar jam tujuh lebih lima menit saya tiba di stasiun Kota Baru. Dan benar, teman-teman sudah datang dan mereka tampak berfoto- foto di depan stasiun.

“Sudah lengkap? Ayo masuk sekarang,” kata teman-teman. Sebuah pengumuman memberitahukan bahwa kereta api Doho Penataran arah perjalanan Blitar akan segera datang.

Setelah melakukan cek tiket dan KTP kami segera menunggu dekat jalur dua, tempat kedatangan Doho Penataran nanti.

Wajah- wajah tampak begitu cerah. Tas besar berisi bontotan tak lupa juga dibawa. Begitu kereta api datang, bersama penumpang yang lain kami segera masuk kereta dan tepat pukul 07.29 keretapun berangkat.

Perjalanan pagi yang sangat menyenangkan. Biasalah emak-emak, di kereta kami bertukar makanan dan saling mencicipi. Obrolan mengalir tiada henti, gayeng pokoknya.

Di ruang tunggu stasiun, dokumentasi pribadi

Tepat jam 10.21 kereta kami masuk stasiun Blitar dan di depan pintu kedatangan kami menunggu datangnya kereta kelinci.

Oh ya, bagi yang belum tahu kereta kelinci adalah mobil besar yang dimodifikasi tempat duduknya sehingga semua menghadap ke depan seperti dalam kereta api atau sepur. Satu sepur bisa memuat 10-12 penumpang.

Ada kejadian lucu di sini. Seorang teman yang bagian pesan sepur tiba- tiba hpnya rusak dan tak bisa dihubungi. Karena merasa bertanggung jawab atas perjalanan ini, ia langsung mencari lokasi sepur kelinci di arah yang berlawanan dengan kami. Bingung saling mencari (tidak ada HP pula), akhirnya teman ini meminta bantuan polisi untuk diantar ke lokasi sepur kelinci. Ya ampun… Mau jalan jalan saja kok sampai melibatkan Pak Polisi.. he..he..

Sepur kelinci, dokumentasi pribadi

Setelah sampai parkiran kereta kelinci, driver kami Pak Ali langsung mempersilakan kami masuk, dan taraa….. perjalanan Explore Blitarpun siap dimulai.

Kereta kami terus berjalan menembus lalu lintas Blitar yang tidak begitu ramai. Jendela samping yang terbuka membuat suasana terasa sejuk. Beberapa di antara kami mengeluarkan perbekalan karena tidak sempat sarapan tadi pagi.

Dalam sepur kelinci , dokumentasi pribadi

Setelah satu jam perjalanan, kami memasuki kawasan wisata Candi Penataran.

Tentang Candi Penataran

Cantiknya Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Candi Panataran termasuk komplek candi yang terbesar di Jawa Timur dan merupakan peninggalan kerajaan Kediri dan Majapahit.

Berlokasi di Desa Penataran Kecamatan Nglegok Blitar, candi ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, dan berjarak kira-kira 12 km dari pusat kota.

Selain berfungsi sebagai tempat suci pemujaan Dewa Siwa dan candi negara (state temple) pada masa Kediri hingga Majapahit, candi ini juga digunakan untuk upacara penangkalan bahaya Gunung Kelud serta tempat penyucian diri. 

Ada banyak Relief di sekitar dinding candi. Relief tersebut menceritakan tentang Ramayana dan Krisnayana.

Relief sekitar candi, dokumentasi pribadi

Di tempat wisata ini saya menyempatkan diri untuk mencicipi nasi soto yang dijual oleh kedai di luar area candi. Kombinasi rasa lapar dan sedapnya nasi soto hangat membuat makan jadi lahap. Ditambah lagi, dari kedai ini kami bisa melihat Candi Penataran dari kejauhan. Aih.., cantik sekali.

Di Penataran kami tidak hanya belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah

Soto lezat di siang itu, dokumentasi pribadi
Pemandangan candi dari kejauhan, dokumentasi pribadi

Memasuki wilayah Candi, kami segera mengisi buku dan berkeliling di area candi. Karena akhir pekan, pengunjung hari itu lumayan banyak. Ada rombongan keluarga, bahkan sekolah.

Cuaca yang cerah dan hawa yang panas tidak membuat semangat kami surut. Apalagi beberapa teman sudah siap dengan payung dan topi.

Berjalan- jalan di area candi , berfoto bersama atau makan bekal bareng di bawah pohon serasa waktu diajak berhenti sejenak merayakan kembali kehangatan pertemanan kami di masa sekolah. Indahnya masa sekolah, gurau dan canda sesekali menghiasi perbincangan kami kala itu.

Ya, di Penataran kami tidak hanya sedang belajar sejarah, tapi juga merawat sejarah kecil tentang persahabatan di masa sekolah.

“Ayo, jam 12.15 segera balik ke parkiran,” kata seorang teman yang menjadi leader kami. Saya melirik arloji. Jam 12.10. Wah, benar-benar waktu terasa berjalan begitu cepat.

Setelah berfoto bersama (untuk yang ke sekian kalinya), bergegas kami menuju sepur kelinci yang sudah setia menanti.

Berfoto di depan Candi Penataran, dokumentasi pribadi

Semangaat, perjalanan ke tujuan berikutnya yaitu penangkaran rusa dan Masjid Ar Rahman sudah menanti. Bagaimana cerita pengalaman kami berikutnya? Tunggu kisah selanjutnya ya…

Salam jalan-jalan…😀

Sumber Gempong Indahnya Wisata Sawah di Kaki Gunung Penanggungan

Jam masih menunjukkan pukul delapan lebih ketika mobil kami memasuki area Tempat Wisata Sumber Gempong. Jalannya yang berkelok dan tak begitu lebar membuat pengemudi harus berhati-hati. Dengan dipandu oleh tukang parkir mobil terus berjalan menuju area parkir yang sudah ditentukan.

Dalam perjalanan tersebut dari kejauhan hamparan sawah dengan beberapa dangau membuat pemandangan terasa demikian segar. Sungai yang berkelok kelok tampak berkilau airnya ditimpa sinar matahari, sementara Gunung Penanggungan berdiri kokoh, merangkul semua keindahan yang ada di sekitarnya.

Berfoto di sekitar sawah, Dokumentasi Ima

Berenam kami segera turun menuju pintu masuk area wisata. Saat itu Lebaran hari ke empat. Sesudah bersilaturahmi ke rumah famili di Mojosari, dalam perjalanan pulang ke Malang kami mampir ke tempat ini.

Pengunjung lumayan banyak dan rata rata membawa anak.kecil

 Suasana demikian ramai, tapi masih terasa nyaman untuk berjalan-jalan sambil menikmati segarnya udara persawahan.

Sumber Gempong adalah obyek wisata berupa sumber mata air alami yang dikelilingi oleh hamparan sawah terasering yang sangat indah. 

Berlokasi di Tanah Kas Desa seluas 4 Ha yang berada di Dusun Sukorame Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas Mojokerto, tempat ini sering dimanfaatkan oleh beberapa hotel untuk dijadikan rujukan paket tambahan bagi tamu hotel. Hawanya sejuk karena terletak di ketinggian 700-1200 mdpl.

Sumber Gempong, pemandangan sawah di kaki gunung, dokumentasi Ima

 “Gempong atau nggempong“ bisa diartikan sebagai  suatu lokasi yang banyak terdapat genangan air dan tidak akan kering walaupun saat musim kemarau. 

Pada tahun 2021 dengan adanya program pengembangan wisata,  Pemerintah Desa Ketapanrame fokus pembangunan kawasan wisata Sumber Gempong dengan sumber dana yang diperoleh dari laba usaha Bumdesa tahun sebelumnya. 

Pemandangan sawah di kaki gunung sungguh terasa menyejukkan mata. Tidak jauh dari situ, dari bawah sebuah pohon besar terdapat sebuah sumber air yang mengalir deras. Air ini sebagian dimanfaatkan untuk irigasi sawah, sebagian lagi dipakai untuk pemeliharaan ikan koi.

Kolam ikan koi, dokumentasi pribadi

Ada berbagai wahana di Sumber Gempong ini, seperti sepeda air, kolam renang , kereta kelinci mengelilingi sawah, sepeda layang, termasuk juga melihat dari dekat cara menanam padi di sawah.

 Mengasyikkan, iku kesan yang tercipta saat memasuki area wisata ini. Dengan tiket delapan ribu rupiah perorang kita bisa berjalan-jalan, berswafoto atau menikmati berbagai wahana yang disebutkan di atas. Tentu saja di setiap wahana kita harus membeli tiket dengan harga tertentu.

Harga tiket tiap wahana terhitung ramah di kantong. Untuk naik kereta sawah per orang dikenakan sepuluh ribu rupiah, naik sepeda air duapuluh ribu rupiah, dan satu sepeda bisa dipakai dua anak kecil dan dua orang dewasa. 

Naik sepeda air, dokumentasi pribadi

 Harga makanan juga tidak terlalu mahal. Bayangkan, rujak cingur harganya duabelas ribu rupiah, mie cup besar delapan ribu rupiah, tidak ada kenaikan yang mencolok seperti yang biasa terjadi di tempat-tempat wisata.

Setelah berjalan sepanjang bedengan sawah, kami menyempatkan diri untuk naik kereta sawah, mencoba sepeda air, juga memberi makan ikan koi yang besar-besar dan jinak. Aih, ikan koi yang melenggok ke sana ke mari seolah memberikan salam pada kedatangan kami. 

Di Sumber Gempong, desiran angin, suara gemericik air dan aroma sawah adalah satu kesatuan simponi yang memberikan ketenangan hati.

Dangau di sekitar sawah, dokumentasi pribadi

Beberapa keluarga tampak menggelar tikar di tempat- tempat tertentu sambil membuka perbekalan  dan makan bersama. Oh ya, di sini juga menyediakan persewaan tikar bagi siapa yang ingin merasakan sensasi makan bersama di alam terbuka, atau sekedar duduk-duduk di tepi sawah.

Naik kereta sawah, dokumentasi pribadi

Wisata Sumber Gempong imenjadi salah satu icon Wisata desa di Kabupaten Mojokerto dan menjadi tujuan wisata oleh masyarakat baik wisatawan domestik maupun luar kota. Menurut informasi, dalam satu hari tempat ini dikunjungi sekitar 500 orang di hari biasa,  dan jika hari libur kunjungan bisa mencapai 2000 orang.

Setelah menikmati mie cup dan minuman hangat kami segera menuju parkiran untuk meneruskan kembali perjalanan ke Malang. Hari semakin siang ketika mobil kami terus berjalan meninggalkan area parkir 

Deretan sawah, liuk air sungai juga jerit anak kecil semakin jauh tertinggal di belakang kami. Sebagai pelengkap silaturahmi, Sumber Gempong dengan keindahan alam dan petualangan di dalamnya adalah  cerita yang menghangatkan hati kami di hari yang Fitri.

Salam Lebaran

Adit dan Ayam Warna-warni

Adit terbangun.  Tiba-tiba ia merasa berada di tempat yang begitu asing. Semua tampak besar.  Kursi,  meja,  bahkan tempat tidurnya.

“Bunda? ” panggilnya.  Namun tidak ada sedikitpun jawaban.

“Bunda…! ” katanya lagi sambil menoleh ke kiri dan kanan. Tetap sepi.  Tiba-tiba sesosok mahluk berbulu kuning bergerak mendekatinya.  Adit mengucek-kucek matanya.  Mahluk berbulu kuning itu memiliki sepasang sayap, sepasang kaki dan paruh.  Di ujung paruhnya ada sedikit titik merah.

“Cika.! ” teriaknya.  Tapi mengapa begitu besar?  Ukurannya menjadi empat atau lima kali tubuh Adit. Demi mendengar namanya dipanggil Cika melihat Adit dengan matanya yang hitam pekat.  Adit tiba-tiba merasa takut,  mata itu sama sekali tidak ramah.  Tak berapa lama di belakang Cika tiba-tiba muncukl mahluk kuning yang lain.  Besarnya sama tapi paruhnya agak kehitaman.

“Ciko..! “teriak Adit.  Tapi seperti Cika,  Cikopun memandang Adit tak ramah. 

Adit tiba-tiba ingat bukankah Cika dan Ciko sudah mati diterkam Bony kucing tetangga? Cika dan Ciko adalah anak-anak ayam yang dibeli oleh Bunda tiga hari yang lalu di pasar.  Sebenarnya bunda tidak mau membelikan Adit anak-anak ayam itu karena Adit kurang pandai merawat.  Buktinya anak-anak ayam yang terdahulu mati, entah karena tidak diberi makan atau tercebur dalam selokan. Tapi karena Adit menangis,  akhirnya oleh bunda Adit dibelikan dua anak ayam yang diberi nama Cika dan Ciko.  Bunda selalu berpesan agar Adit menjaga Cika dan Ciko baik-baik.  Namun apa yang terjadi?

Saat itu Adit memandikan Cika dan Ciko. Bunda sudah mengingatkan supaya jangan berkali-kali dimandikan.  Kasihan.  Tapi Adit sama sekali tidak peduli,  sesudah dimandikan ,kedua anak ayam itu lalu dijemur di dekat teras.  Celakanya ketika ditinggal Adit masuk rumah ,tiba-tiba keduanya diterkam Bony kucing tetangga.  Ada darah berceceran di sekitar teras. Bunda sangat menyesal, bahkan menangis, namun tidak demikian halnya dengan Adit. Bukankah anak ayam banyak dijual di pasar?  Nanti bisa beli lagi,  pikirnya.

Sekarang di depan Adit, Cika dan Ciko dalam ukuran besar memandangnya dengan marah.

 “A.. Apa kabar kalian? ” tanya Adit berusaha ramah.  Cika dan Ciko tidak menyahut.  Di luar dugaan Adit Cika mendekat dan mengangkat Adit dengan paruhnya pada kerah bajunya.

“Heiii… Cika…  Apa yang kamu lakukan? ” teriak Adit ketakutan.

gambar by Gemini AI

Adit dilempar ke halaman,  dan langsung diambil  oleh Ciko.  Tubuhnya diayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan.

“Jangan Cikoo…  Aku takuut! “teriak Adit ngeri.

Adit dijatuhkan lagi, diangkat lagi,  dijatuhkan lagi, diayun-ayun,begitu bergantian oleh Cika dan Ciko. Sekeras apapun Adit berteriak Cika dan Ciko tidak menghiraukannya.

“Cika… Ciko.. Maafkan aku… Hu…. Hu…, ” Adit menangis tersedu-sedu.                              Berkali kali ia memanggil bunda,  tapi bunda tidak datang juga.  Tiba tiba Cika mengangkat Adit dan memasukkan Adit dalam sebuah kaleng besar yang penuh berisi air.

“Blep.. Blep…  Ampuun…! ” Adit yang tidak pandai berenang terengah-engah.

Ciko segera mengangkat Adit lalu meletakkannya di pagar rumah.  Bajunya dikaitkan dipagar sehingga Adit tak bisa bergerak.  Sambil menata nafasnya Adit dimenyusutkan  air yang membasahi tubuhnya.

anak ayam warna-warni, tangkapan layar pribadi

     Panas matahari membuat tubuh Adit terasa sedikit hangat. Hei, kemana dua mahluk tadi? Adit melongokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.  Namun keduanya lenyap begitu saja. Ah,  syukurlah mereka sudah pergi, pikirnya lega.

Tiba-tiba Adit merasa pagar bergoyang goyang.

“Ngeeeeooong…., “

Ternyata di bawah pagar telah berdiri Bony yang menatapnya dengan mata kelaparan.  Ya Tuhan…  Adit langsung lemas dibuatnya.  Seperti Cika dan Ciko,  Bony juga menjadi begitu besar. Bulunya yang hitam, tebal dan cakarnya yang panjang tampak sangat menakutkan. 

“Bunda…… Tolooong…, ” Adit menangis lagi.

“Bunda..  , aku mau diterkam Bony,  tolooong! ” Adit terus berteriak-teriak dan meronta-ronta.

Bony semakin mendekat.  Mulutnya dibuka sehingga taringnya tampak begitu jelas.  Teriakan Adit semakin keras.  Lalu dia merasakan dunianya semakin gelap dan gelap.

 “Bundaaaa….! “

Dan akhirnya…gedebug!!  Adit membuka matanya. Bunda sudah ada di sebelahnya dan segera menggendongnya.

 “Adit mimpi ya?  Pasti lupa berdoa sebelum tidur, ” kata Bunda lembut.

“Maafkan Adit, Bunda,”kata Adit. Dipeluknya bunda erat-erat. Untung semua cuma mimpi. Dalam hati Adit  berjanji akan selalu patuh pada bunda ,  menyayangi anak-anak ayam yang tadi pagi dibelikan di pasar sebagai pengganti Cika dan Ciko, dan tidak akan membeli anak ayam warna-warni lagi.