Categories
Cerita

Bujuk Rayu, Tentang Sedapnya Rasa dan Rayuan Aroma

Rawon mendol, sumber gambar: Klik Times

“Jangan coba-coba merayuku”  balas saya dalam sebuah chat di grup perpesanan siang itu. Emoticon tertawa saya sematkan di bagian akhir.

He..he.. mengapa seperti itu? 

Tiba-tiba saja hari itu teman- teman mengajak maksi di sebuah kedai. Bujuk Rayu namanya. Dari namanya saja rasanya sudah menggelitik. Ada nuansa hangat, genit sekaligus menggoda.

“Letaknya dimana?” tanya saya

“Pasar Klojen, yang dulu Kopi Klojen,” jawab teman saya.

Aha,  dekat sekali. Pasar Klojen hanya sekitar lima menit dari sekolah. Jadi bukan dekat, tapi duekat. Kopi Klojen dulu pernah menjadi tempat jagongan kami. Berubah nama? Wah, harus dicek bareng ini..

Kedai Bujuk Rayu yang berlokasi di daerah Pasar Klojen, sumber gambar: tiktok kedai Bujuk Rayu

Ketika jam maksi tiba, tanpa menunggu lama kami menuju kedai Bujuk Rayu. Sebagian naik grab, sebagian naik motor. Tepat seperti yang diperkirakan, sepuluh menit kami sudah berkumpul di kedai, meski formasi kurang lengkap karena seorang teman berhalangan hari itu.

Suasana ramainya maksi sangat terasa. Hal ini ditandai dengan banyaknya pengunjung kedai di jam itu. Maklumlah, jam dua belas siang adalah jam yang tepat untuk mengisi perut bersama.

Menurut pengamatan saya,  mungkin juga pengunjung yang banyak ini dikarenakan ada pertemuan dari komunitas tertentu.

“Enaknya pesan apa?” 

Berempat kami menekuni daftar menu yang yang ada. Senyum kami langsung mengembang.

 He..he… Nama menunya unik, dan memancing rasa ingin tahu. Coba bayangkan, nasi karam, nasi ceria, nasi rayu dan nasi sayang.

Teh kampung, dokumentasi pribadi

“Apa ya? ” tanya saya bingung. Asli. Saya tidak mengerti makanan apa yang disajikan kedai ini.

Nasi karam itu apa? Saya pikir semula nasinya banyak disiram kuah sehingga nasinya karam. Pastinya soto atau rawon.

Lha nasi rayu itu apa? Nasi ceria? Nasi sayang? Aih..

“Langsung pesan di resepsionis saja, sambil tanya,” kata teman saya. Sebuah cara yang jitu memang , karena setiap nama hanya resepsionis yang bisa menjelaskan. 

Dengan menahan senyum kami menerima penjelasan dari resepsionis. Nasi rayu artinya nasi rawon (tapi nanti akan kami tanyakan, yu nya itu apa), nasi karam artinya nasi kare ayam dan nasi ceria berarti nasi ceker, ahaay…

Bersama owner Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ahfi

Sungguh sebuah cara yang kreatif dalam mengemas nama- nama hidangan.  Istilah yang unik , menggelitik membuat pembeli tertarik untuk bertanya dan akhirnya membeli.

Setelah diskusi sejenak akhirnya kami memesan tiga nasi rayu alias rawon, tiga mendol, dan telor asin. Minumnya teh kampung hangat dan es teh kampung.  kampung. Teh kampung? Ya, maksudnya teh biasa, teh dengan rasa kebanyakan yang sering kita nikmati.

Tak berapa lama pesanan kami pun datang, tiga nasi rayu dengan ditemani mendol dan telor asin dalam piring kecil. Tak ketinggalan tahu petis sebagai desert. Sedep pol.  Petisnya sangat terasa.

Suapan demi suapan ditemani obrolan membuat tak terasa hidangan habis tak bersisa. 

Luar biasa. Rasa lapar, vibes yang nyaman, dan keramahan layanan membuat jagongan di Bujuk Rayu terasa demikian singkat. Apalagi kami juga diajak ngobrol dengan ownernya yang ramah.

Sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma

“Wah, sudah jam satu, ayo kembali ke sekolah,” kata salah satu di antara kami. Bergegas kami menuju parkiran. Dua orang naik sepeda motor, dua orang naik miktolet.

Menu di Kedai Bujuk Rayu, dokumentasi Ami

Aih, siang yang menyenangkan. Perut kenyang dan hati senang. 

Sst, sepertinya kami siang itu benar-benar terbujuk rasa dan terkena rayuan aroma kedai Bujuk Rayu..

Categories
Renungan

Filsafat Ronggowarsito , Wolak-walik Ing Zaman

Ronggowarsito, dokumentasi pengajian filsafat MJS

Ngelmu kuwi kelakone kanti laku artinya ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori

Ngaji Filsafat Dr Fahruddin Faiz

Sekilas tentang Ronggowarsito

Ronggowarsito adalah pujangga terakhir Jawa dari Kasunanan Surakarta. Beliau adalah cucu dari Yosodipuro II yang juga merupakan  pujangga keraton ini.

Nama asli Ronggowarsito adalah Bagus Burhan. Di masa kecilnya beliau agak nakal dan pernah  dipondokkan di Pesantren Gabang Tinatar Ponorogo di bawah asuhan Kiai Kasan Besari.

Setelah mondok beliau mengalami momen ‘mletik’ (pencerahan) dan kemudian terus belajar mendalami sastra dan spiritualitas.

Ronggowarsito mempunyai banyak karya dalam wujud serat. Beliau hidup di masa Pakubuwono VII, VIII, dan IX.

Ronggowarsito tidak disukai oleh Pakubuwono IX juga Pemerintah Belanda. 

Pakubuwono IX menganggap ayah Ronggowarsitolah yang menyebabkan ayahnya Pakubuwono VI ditangkap Belanda. Sementara Pemerintah Hindia Belanda tidak suka pada Ronggowarsito karena Ronggowarsito dianggap menghasut rakyat lewat karya-karyanya.

Filsafat sejarah Ronggowarsito bersifat  spekulatif futuristik. Maknanya, filsafat ini menceritakan masa lalu sekaligus masa depan, sehingga sedikit berbau ramalan

Ronggowarsito adalah orang yang waskito, weruh sakdurunge winarah, bisa membaca sesuatu yang tidak bisa dibaca orang kebanyakan.

Dijelaskan oleh Pak Faiz bahwa ada dua kompetensi yang harus dimiliki oleh orang yang waskito yaitu:

1. Sambegana (cerdas)

2. Nawang Krida mampu menangkap tanda alam (jeli)

Gabungan dari kedua kompetensi tersebut membuat seseorang bisa melihat peristiwa yang akan datang berdasarkan gejala yang muncul (ilmu titen).

Untuk membangun pribadi yang waskito ada dua proses yang dilalui yaitu ngelmu ( mencari ilmu) dan laku (tirakat dalam proses, juga implementasi).

Dalam filsafat Jawa kita kenal istilah ngelmu kuwi kelakone kanti laku yang berarti ilmu pengetahuan sejati hanya bisa dicapai melalui usaha, praktik, dan perbuatan nyata, bukan sekadar teori.

Mencari ilmu bukan sekedar mencari pengetahuan, tapi juga harus diimbangi ‘laku’ pembersihan diri. Mengapa? Karena badan kita ibarat wadah, yang harus dibersihkan sebelum dimasuki ilmu. 

Bukankah kita harus membersihkan wadah dahulu sebelum memasukkan sesuatu ke dalamnya?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Categories
Serba-serbi

Dari Ayam Natalan sampai Takut Musyrik,  Sebuah Obrolan di Pasar Pagi

Ilustrasi belanja di pasar, sumber gambar: Info Cikarang

Hari masih begitu pagi, tapi di sudut pasar sebuah bedak sudah begitu ramai. Bedak Mbak Atun, penjual sayuran, buah dan berbagai belanjaan. 

Di samping karena penjualnya ramah, bedak Mbak Atun banyak dikunjungi karena lengkap, juga bukanya paling pagi. Tahu sendiri ‘kan, ibu-ibu di pagi hari pasti super sibuk, karenanya bedak yang paling pagi selalu menjadi ‘jujugan’.

“Berapa semuanya Mbak?” tanya Mbak Menik sambil mengeluarkan dompetnya. Sudah sepuluh menit yang lalu Mbak Menik belanja. Ia adalah pembeli pertama di bedak pagi ini.

 Mbak Atun segera membuka kresek merah besar, memasukkan belanjaan satu per satu dan mulai menghitung. Koordinasi yang bagus antara mata, tangan dan mulut membuat kalkulatornya otomatis bekerja.

“Tempe lima ribu, lombok tiga ribu, tomat dua ribu, tahu, terong, cambah,….,”

“Semua empat puluh lima ribu tiga ratus, penglaris pagi ini, ” kata Mbak Atun dengan senyumnya yang paling manis.

“Oh , tambah telornya satu kilo,” kata Mbak Menik tiba-tiba. Ia baru ingat hari ini Dito,  anaknya ingin dibuatkan bali telor.

“Sekilo berapa?” tanya Mbak Menik lagi.

Mbak Atun menyebut sebuah harga.

“Ya ampuun, naik lagi?” seru mbak Menik heran.

“Kemarin saya beli belum segitu?” protesnya lagi.

“Naik sedikit, yang penting masih ada telor ‘kan?” jawab Mbak Atun sabar. Tangannya terus memasukkan butiran-butiran berwarna coklat itu ke timbangan.

“Ayamnya natalan, libur bertelor,” seloroh seorang pembeli, yang sontak membuat yang lain tertawa. Mbak Menik juga.

“Natal ayamnya natalan, rioyo ayamnya riayan, lha ayam-ayam Iki kok manja ya.. males ngendhog..,” tambah yang lain.  Tawa semakin ramai. Meski demikian tangan ibu-ibu terus bekerja memilih  belanjaan yang akan dibeli.

“Lha iya ta… ayam kan bisa capek,.. saking dia gak gampang ‘sambat’ seperti manusia..,” tambah yang lain. Rupanya ia pembela ayam. Suasana makin gayeng. 

Ilustrasi menimbang telur, sumber gambar: Radar Kediri

Tiba-tiba seorang pembeli baru datang dan langsung protes. Dengan agak kesal dia langsung mendekati penjual.  

“Semangkane pucat Mbak Atun..,” katanya agak keras.

 Rupanya ia komplain karena semangka yang dibeli kemarin warnanya kurang merah seperti contoh yang ada.

Mbak Atun diam sejenak. Tapi seperti biasa dia punya jurus yang jitu untuk menjawab.

“Waduh, maaf.., tiap hari digantung.., sampai pucet semangkane..,” jawabnya.

“Keweden paling..,” timpal pembeli yang lain. Maksudnya semangka itu karena tiap hari digantung wajahnya jadi pucat karena ketakutan.

Pembeli yang komplain tadi ikut senyum mendengar alasan yang se ‘ngawur’ itu.  

“Mbak Atun, saya sudah, tolong dihitung,” kata Mbak Mona sambil meletakkan belanjaannya dekat “kasir”. Ya, Mbak Atun adalah penjual merangkap kasir setiap harinya.

Seperti tadi Mbak Atun mengeluarkan kresek merah dan mulai menghitung.

“Tempe lima ribu, tahu…., kentang.., semua dua puluh empat ribu,” kata Mbak Atun.

“Tahunya cuma satu? Kok dikit?” tanya Mbak Atun. 

“Ini ada yang baru, tahu sutera, sedikit mahal tapi wenakk pol,” tambah Mbak Atun sambil menyodorkan tahu berwarna putih dengan merek tertentu. He..he.. Mbak Atun jadi SPG sekarang.

Mbak Mona mengamati tahu dalam mika bening di tangannya.

“Kane lop , pokoknya, cuma sepuluh ribu,” kata Mbak Atun sambil mengacungkan jempolnya.Kane lop adalah istilah Malangan untuk enak pol atau enak sekali.

“Masak sih?” tanya Mbak Mona lagi.

“Lhaa, gak percaya sama saya,” kata Mbak Atun sambil tersenyum.

Mbak Mona tertawa. “Lha..ngapain percaya sama sampeyan.., musyrik itu.., gak jadi beli wes,” kata Mbak Mona sambil meletakkan kembali tahu sutera di tangannya lalu ngeloyor pergi. Ia baru ingat, kembaliannya tadi cuma enam ribu. Berarti kurang empat ribu untuk sekotak tahu sutera.

Pengunjung tertawa melihat Mbak Atun yang kena batunya. 

Walah.., musyrik tenan percaya sama bakulnya,” timpal seorang pembeli yang disambut gelak tawa yang lain juga Mbak Atun.

Semua kembali pada kesibukaannya. Ada yang memilih sayur, ikan teri, pepaya, tak ketinggalan tempe dan tahu. Mbak Atun juga  kembali sibuk, jadi penjual, kasir sekaligus promosi. Ramai sekaligus gayeng, meski kadang pembeli protes tentang ini dan itu.

“Walah, tempenya jadi cilik-cilik Iki…,” 

Ilustrasi belanja di pasar, sumber gambar: Sonora.id

Pagi di bedak Mbak Atun selalu penuh cerita. Tawar-menawar, seloroh teman, sambat, terasa begitu akrab dan hangat. Pasar pagi bukan sekedar tempat transaksi, melainkan tempat dimana cerita tulus dan kadang lucu terjalin di antara para pengunjung yang mayoritas ibu-ibu.

Seiring mentari yang semakin meninggi, keramaian di bedak Mbak Atunpun beringsut untuk kembali dirindukan kedatangannya di esok hari.

Arti istilah :

Bedak : semacam toko, tempat berjualan

Bakul : penjual

Rioyo : Hari Raya

Sambat : mengeluh

Categories
Renungan

Optimislah, Karena Masih Ada Allah

Sumber gambar: Freepik

Ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim

Pengajian Filsafat

Setiap orang ingin melakukan perubahan yang lebih baik dalam hidupnya. Namun ada kecenderungan untuk menunggu momen yang tepat dalam melakukan perubahan itu. Misal menunggu nanti kalau mencapai usia tertentu, menunggu jika lulus ujian dan sebagainya. 

Apa akibatnya? Karena menunggu momentum, akhirnya perubahan tidak segera dieksekusi.

Kesalahan yang sering kita lakukan adalah berharap di moment tertentu itu akan ada kekuatan luar biasa yang mendorong kita melakukan perubahan, padahal hakekatnya semua itu hanyalah penundaan terhadap eksekusi yang akan kita lakukan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah hakekatnya semangat untuk melakukan eksekusi atas perubahan yang ingin kita lakukan harus tumbuh dari dalam jiwa kita sendiri.

Sebuah nasehat mengatakan bahwa ketika ada dorongan dari dalam hati kita untuk melakukan sebuah kebaikan hakekatnya Allah sedang mengabulkan satu doa kita yaitu Ihdinas shirotol Mustaqim.

Bukankah kita sering mengucapkan doa ini yang berarti Ya Allah, tunjukkan kami ke jalan yang lurus? Jadi jika ada desir gerak hati untuk melakukan kebaikan mari segera dieksekusi semampu kita.

Apa yang sering membuat kita menunda? Keraguan dan kecemasan, atau over thinking.

Terlalu banyak pertimbangan membuat kita selalu ragu dalam mengeksekusi kebaikan.

Lalu bagaimana cara kita melawan rasa cemas dan ragu untuk melakukan sesuatu?

Sumber gambar: Beautynesia

1. Tanyakan pada dirimu apakah kemungkinan terjelek yang mungkin terjadi jika hal tersebut kita lakukan?

2. Lakukan hal-hal yang bisa meminimalisir terjadinya  hal buruk tersebut.

3. Jika sudah terjadi, bertindaklah dengan tenang untuk memperbaiki hal buruk tersebut.

Optimisme 

Dalam hidup ini sangat penting bagi kita untuk menanamkan optimisme. Optimislah, Allah akan mengabulkan keinginanmu.

Selalu ada hal baik dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita,

Selalu optimis membuat kita lebih ceria dalam menghadapi hidup, sebaliknya rasa pesimis membuat kita muram dan tidak semangat dalam menghadapi hidup.

Mari kita camkan nasehat berikut ini:

Tangkapan layar pribadi

Selalu ada kebaikan dari setiap peristiwa yang menimpa diri kita, karena itu optimislah, jangan selalu murung dan bermuram durja. Optimislah, karena masih ada Allah. Apa yang tidak mungkin bagi Dia yang Maha Segala?

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz

Categories
Renungan

Selamat Datang Tahun 2026, Perlukah Kita Mereset Diri Kita Sendiri?

Sumber gambar: Beautynesia

Kemuliaan manusia terletak pada ilmu, dan ilmu kita peroleh dari belajar, karenanya mari terus belajar

Fahruddin Faiz

Selamat Tahun Baru 2026 pembaca… Setiap memasuki tahun baru kita akan selalu berharap bahwa hidup kita di tahun yang kita masuki ini akan jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Pengajian Fahruddin Faiz kali ini dimulai dengan sebuah pertanyaan : mungkinkah kita melakukan reset atas hidup kita? Kembali dari settingan awal, mulai nol lagi?

Tentu bisa. Jika hidup terasa demikian ruwet, jalan yang kita tempuh terasa tidak karuan, sepertinya kita perlu melakukan reset kembali terhadap hidup kita.

Nah bagimana tahapan untuk melakukan reset ini?

1. Berhenti sebentar, hentikan rutinitas dan luangkan waktu, untuk melakukan refleksi. Apa saja langkah yang kita lakukan selama ini?

2. Berikan jeda atau ruang kosong untuk kita melakukan evaluasi diri. Apa sebenarnya yang kita inginkan? Apa yang kita rindukan? Mengapa saya selalu merasa gelisah dan tidak nyaman? 

3. Tuliskan hal hal apa saja yang diinginkan, ditambahkan, dipertahankan dan apa yang ingin kita lepaskan dengan jujur.

4. Melepaskan beban lama. Hal ini  berkaitan dengan masalah yang terus membebani dan seperti ‘tak pernah selesai’. Beban ini berkaitan dengan masalah hubungan sosial, kebiasaan ataupun pola pikir. 

Jika masalah tersebut tidak penting, membebani pikiran dan tidak produktif lepaskan saja. Termasuk di dalamnya hubungan dengan orang lain yang bersifat toksik, lepaskan saja. 

Sumber gambar: Pixabay

Jika kita tidak mau melepaskan, kita akan tetap terbebani dengan masalah yang tidak kunjung selesai

5. Tentukan ulang arah tujuan yang lebih baik. Misal kita ingin lebih rajin, lebih sholeh di tahun mendatang. Sebagai catatan, hidup kita harus punya arah. Tanpa arah kita kita tidak akan pernah  tahu apakah hidup kita mengalami progres atau tidak.

6. Lakukan aktivitas untuk sampai pada tujuan dan dimulai dari hal- hal kecil. Buat rutinitas baru untuk mencapai tujuan. Aktivitas kecil yang Istiqomah lebih bermakna daripada aktivitas besar tanpa mengukur kemampuan diri. Lakukan habit yang kecil tapi bermanfaat.

7. Cari circle yang cocok, jika tidak ada bangun circle yang bagus. Buat lingkungan baru, cari teman yang satu visi, orang yang bisa memberikan dukungan pada kita, karena kemajuan kita sangat dipengaruhi oleh dukungan orang sekitar kita.

8. Dukungan aspek spiritual. Buang kebiasaan lama yang kurang bagus dan mulai melakukan tahap yang lebih tinggi dalam beragama. Beragama yang sadar makna, tidak asal- asalan.

Marilah kita mencoba mereset hidup kita, memaknai hidup sesuai keinginan kita sesuai versi kita. Tidak perlu terlalu peduli apa komentar orang lain atas diri kita, yang penting kita terus berusaha lebih baik lagi menurut versi kita sendiri.

Disarikan dari Pengajian Filsafat oleh Dr Fahruddin Faiz