Categories
Reportase

Ando & Ali: Dua Pemanah Ulung Bintaraloka yang Siap Menaklukkan Tantangan Baru

Cabang olahraga panahan mungkin bukanlah yang paling popular di Indonesia. Dibandingkan dengan sepak bola ataupun bulu tangkis, cabang olahraga ini tidak terlalu banyak memikat mata. Akan tetapi, masih banyak anak muda yang menekuni cabang olahraga ini dan terbukti mampu mendulang segudang prestasi, baik pada level terbawah hingga bahkan menaklukkan kompetisi level provinsi.

Pada momen kali ini, saya mendapatkan kesempatan berbincang dengan dua siswa SMP Negeri 3 Malang yang telah malang melintang di dunia panahan, memenangkan berbagai macam penghargaan dan menorehkan nama mereka sebagai dua orang rising star di kancah panahan provinsi Jawa Timur. Keduanya adalah Ando Juliant Chamelo (14) dan Gusti Muhammad Ali (14). Keduanya merupakan siswa kelas 9.7 SMP Negeri 3 Malang yang juga merupakan atlet panahan andalan Kota Malang di berbagai kejuaraan panahan selama beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tidak, dalam rentang waktu mereka bersekolah di SMP Negeri 3 Malang, keduanya telah menorehkan berbagai prestasi, seperti Ando – Sapaan dekat Ando Juliant Chamelo – yang telah menyabet juara 1 individu Kejuaraan provinsi kelompok umur panahan Jawa Timur 2022, juara 2 individu Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, juara 2 individu SPA CUP 9 INDOOR ARCHERY TOURNAMENT 2024, dan masih banyak lagi.

Gambar 1. Deretan prestasi Ando Juliant Chamelo di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Tak ingin kalah dari kompatriotnya, Ali – Sapaan dekat Gusti Muhammad Ali – juga kerap mendulang pundi prestasi, mulai dari Juara 1 Aduan Beregu Divisi Compound Putra Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XIII Provinsi Jawa Timur 2022, JUARA 2 Mixteam Compound U-15 Kejuaraan Piala Danrindam V/Brawijaya tahun 2022, 6. Juara 2 Total Mix Team Compound U15 Pada Kejuaraan Panahan Piala Dankormar 2023, dan sejumlah prestasi lain yang akan terlalu banyak jika harus disebutkan satu persatu.

Gambar 2. Deretan prestasi Gusti Muhammad Ali di dunia panahan selama duduk di bangku SMP.

Deretan prestasi ini tentu melambungkan nama Ando dan Ali di dunia panahan kota Malang, dan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai kedua siswa berprestasi tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi saya.

Pewawancara (P): Untuk memulai wawancara singkat kali ini, saya ingin bertanya sesuatu yang sederhana terlebih dahulu. Sejak kapan kalian tertarik dengan dunia panahan dan apa momen yang membuat kalian berdua terjun ke dalam dunia ini?

Ando: Saya memulai (latihan) sejak kelas 1 di sekolah dasar. Saat itu, saya inging menekuni olahraga yang disunnahkan Nabi (Muhammad SAW), dan setelah saya pikirkan dengan hati-hati, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba panahan.

Ali: Kalau saya baru tertarik memulai Latihan di kelas 2 sekolah dasar. Ketika itu, saya tidak sengaja melihat latihannya dan saya ingin mencoba karena panahan ini berbeda dengan olahraga lainnya.

Keduanya memiliki alasan yang cukup unik, dan hal tersebut mungkin cukup untuk menggugah rasa penasaran mereka untuk mencoba. Akan tetapi, memulai rutinitas yang baru dan menekuninya secara konsisten adalah kedua hal yang berbeda. Oleh karena itu, tak lupa saya menanyakan, apa hal pertama yang membuat mereka berdua ‘jatuh cinta’ terhadap dunia panahan.

Ando: Mungkin karena waktu pertama kali ikut kompetisi, saya berhasil naik (podium), jadi saya mungkin kecanduan terhadap panahan.

Ali: Kalau saya justru kebalikannya. Ketika saya pertama kali ikut kompetisi, saya justru gagal masuk podium, sementara kakak saya yang memulai lebih lambat justru berhasil masuk. Perasaan iri tersebut yang membakar semangat saya untuk menekuni panahan lebih lanjut.

Gusti Ali dalam sebuah event, dokumentasi Ali

Ya, Ali sendiri terlahir di keluarga pemanah, dimana kedua saudara kandungnya juga menekuni olahraga yang sama. Tak heran, jiwa kompetitif Ali sudah terbentuk semenjak ia memasuki kompetisi untuk pertama kalinya.

Berbicara tentang jiwa kompetitif, tentu saya tak lupa untuk bertanya persaingan mereka. Kedua siswa tersebut telah malang melintang di dunia panahan, tentu saya juga tertarik dengan rivalitas mereka berdua di atas lapangan. Sayangnya, hal tersebut tidak pernah terjadi, mengingat keduanya tidak tergabung dalam kategori yang sama.

Ando: Iya, kami tidak pernah bermain di satu kompetisi yang sama. Ali sendiri tergabung dalam kategori Compound, sedangkan saya ada di kategori Recurve.

Compound dan Recurve sendiri adalah dua dari banyaknya kategori di dunia panahan. Ando menjelaskan bahwa perbedaan mendasar dari kedua kategori tersebut terletak dari busur panah dan jarak targetnya.  Untuk kategori Compound, busur yang digunakan memiliki system katrol yang meringankan beban saat ditarik, sehingga tantangan yang diberikan pada kategori ini adalah untuk menembak target yang jauh lebih kecil. Sedangkan untuk kategori Recurve, busur yang digunakan jauh lebih sederhana, sehingga meskipun target diletakkan sedikit lebih jauh, diameter dari target sendiri memang lebih besar.

P: Di samping menjadi atlet panahan, kalian berdua kan juga berstatus sebagai siswa. Bagaimana cara kalian menyeimbangkan kegiatan sehari-hari antara panahan dan pembelajaran?

Ali: Berdasarkan pengalaman saya, untuk menjaga agar tidak terlalu tertinggal di dalam kelas, saya selalu bertanya teman atau guru terkait tugas yang telah diberikan dan ikut mengerjakannya ketika Latihan panahan saya selesai.

Ando: Kalau saya punya pendekatan berbeda. Saya tahu kalua dengan rutin latuhan panahan, saya akan tertinggal di bidang akademis dibandingkan dengan teman-teman saya. Karena itu, saya selalu membulatkan tekad untuk paling tidak harus masuk ke dalam podium di setiap kompetisi yang saya ikuti untuk membayar pengorbanan tersebut.

Ya, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan menyeimbangkan kehidupan mereka sebagai siswa dan atlet panahan. Namun, pada akhirnya, waktu telah membuktikan bahwa pendekatan mereka berdua jauh dari kata salah. Selain berhasil meraih berbagai prestasi di dunia panahan, kedua siswa yang telah lulus dari SMP Negeri 3 Malang sejak tanggal 3 Juni 2025 tersebut telah mendapatkan satu kursi di sekolah impian mereka masing-masing; Ando dengan satu kursi di MAN 2 Kota Malang dan Ali dengan satu kursi di SMA Taruna Nusantara Magelang, dua sekolah dengan tuntutan akademik tinggi.

Keduanya berhasil membuktikan bahwa status mereka sebagai atlet tidak menjadi penghalang bagi keduanya untuk berprestasi di bidang akademis.

P: Saya penasaran, menurut kalian berdua, apa Pelajaran terpenting yang dapat kalian peroleh dari dunia panahan dan kalian terapkan di sekolah?

Ando: Yang jelas nomor satu bagi saya adalah kesabaran. Hal ini (kesabaran) adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia. Tanpa kesabaran, mustahil seseorang bisa meraih kesuksesan di olahraga ini.

Wawancara dengan Ando dan Ali, dokumentasi pribadi

Ali: Di samping kesabaran, fokus juga menjadi kunci. Karena, pada akhirnya, di dalam pertandingan, yang paling penting adalah diri saya sendiri. Saya tidak akan pernah bisa mempengaruhi lawan saya untuk mendapatkan nilai yang lebih kecil dari saya, sehingga memusatkan pikiran saya untuk meraih hasil yang terbaik tanpa terdistraksi oleh pemain lainnya adalah kunci penting untuk memenangkan kompetisi.

Kesabaran adalah kunci utama di dunia panahan, seperti halnya peran jantung dalam tubuh manusia.

Ando Juliant Chamelo

Meskipun mereka berdua tidak menjelaskan bagaimana mereka menerapkan hal tersebut di sekolah, kedua konsep tersebut – sabar dan fokus – adalah hal yang penting dimiliki setiap orang, tidak hanya di dunia panahan ataupun sekolah, akan tetapi juga di semua lini kehidupan di Masyarakat.

P: Lantas, setelah memenangkan berbagai kompetisi, apa yang menjadi target kalian berdua di masa depan? Apa yang menjadi target untuk jangka pendek dan jangka panjang?

Ali: Untuk target jangka pendek, tentu saya ingin berprestasi di Kejurnas (Kejuaraan Nasional). Meskipun ini adalah sesuatu yang sulit karena saingannya adalah atlet terbaik seluruh negeri, saya tetap ingin berusaha untuk menjadi salah satu dari mereka.

Ando: Sama, saya juga mempunyai target untuk Kejurnas. Untuk jangka panjang sendiri, saya ingin masuk ke dunia hukum, antara kepolisian atau kejaksaan.

Ali: Oh, untuk jangka panjang, saya ingin menjadi dokter umum atau tentara.

Pada akhirnya, kedua siswa tersebut memang menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai target jangka panjang di dunia panahan. Namun, saya tidak terlalu kecewa terhadap hal tersebut, karena pada akhirnya, keduanya telah dibentuk secara karakter di dunia panahan, dan saya juga yakin bahwa dimana pun mereka berada, kedua siswa tersebut, Ando dan Ali, akan mampu untuk tetap berprestasi sebagaimana mereka telah menaklukkan berbagai arena panahan hingga saat ini.  

Penulis : Achmad Zulfikar

Editor : Yuli Anita

Categories
Reportase

Pramesti Suryaputri, Siswi Aktif yang Gemar Bereksplorasi

Pramesti Wikrama Cetta Suryaputri.

Nama yang panjang dan cukup unik ini pertama kali terdengar di telinga saya beberapa hari lalu, ketika tawaran untuk mewawancarai siswa berprestasi datang kembali. Ketika saya mulai melakukan research, saya cukup terkejut melihat segudang prestasi yang telah ia raih. Meskipun nama siswi yang akrab dipanggil Pramesti tersebut jarang terdengar di telinga orang awam, siswi SMP Negeri 3 Malang berusia 14 tahun ini telah meraih sejumlah penghargaan baik di lingkup kota Malang atau bahkan sampai provinsi Jawa Timur.

Mulai dari menyabet Poomsae Individual Cadet Putri Indonesia Super Fighting Taekwondo Championship yang diadakan pada bulan Desember tahun 2023 silam, juara 2 Poomsae grup 012 piala PJ Walikota Malang pada bulan Mei tahun ini, juara 1 F poomsae grup 87 Taekwondo Championship Jatim Reborn dua minggu kemudian, hingga yang terbaru, juara 1 F poomsae frup 055 kejuaraan taekwondo Jatim Open pada awal Agustus lalu, semua berhasil ia sabet, melejitkan namanya sebagai salah satu rising star di dunia taekwondo Jawa Timur.

Gambar 1. Pramesti ketika memenangkan kompetisi Taekwondo awal Agustus silam. Sumber: Dokumentasi Pribadi Pramesti.

Akan tetapi, prestasi Pramesti tidak hanya berhenti sampai di situ.

Di samping aktif di bidang taekwondo, ia juga kerap mengikuti perlombaan di bidang lainnya, seperti kala ia memenangkan kompetisi desain batik yang diadakan oleh DWP BMKG Jawa Timur pada tahun 2023 atau bahkan Olimpiade Pendidikan Agama Islam Tingkat Nasional yang berhasil Pramesti menangkan dua tahun silam. Selain itu, kini, ia juga masih aktif sebagai sekretaris 1 Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMPN 3 Malang, menjadikan Pramesti sebagai salah satu atau bahkan mungkin siswi teraktif yang pernah saya temui sepanjang hidup saya.

Oleh karenanya, bertemu dengan Pramesti dan mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai siswi kelas 9 SMPN 3 Malang ini pada hari Jum’at silam (16/08) merupakan sebuah kehormatan bagi saya. Segudang pertanyaan pun telah saya siapkan untuk menggali informasi terkait pribadi sang siswi.

Pewawancara (P): Pramesti adalah salah satu siswi paling serba bisa yang pernah saya temui. Taekwondo bisa, desain batik jago, bahkan akademis pun juga disabet. Pertanyaan pertama saya, dulu waktu Pramesti masih kecil, apa bidang yang paling ditekuni?

Pramesti (Pr): Saya pertama kali menekuni justru di bidang melukis, Kak.

P: Melukis?!

Pr: Iya, Kak. Karena dulu waktu masih kecil saya sering diberikan crayon dan kertas, jadi saya banyak menghabiskan waktu dengan mencorat-coret. Dan karena pengaruh kakak sepupu saya yang gemar melukis menggunakan media cat semprot, saya jadi merasa menggambar itu seru, bahkan hingga saat ini, hobi tersebut masih terbawa dalam diri saya.

Gambar 2. Pramesti dan desain batik karyanya, dokumentasi pribadi Pramesti

Hanya dari pertanyaan pertama, Pramesti berhasil membuat saya tercengang. Dari sederet prestasi yang ia dapat, jujur, saya membayangkan Pramesti menghabiskan masa kecilnya langsung di dunia taekwondo. Hal ini membuka mata saya bahwa siswi di depan saya kali ini adalah siswi multitalenta. Oleh karenanya, didorong rasa penasaran, saya menanyakan bakat apa lagi yang masih terpendam dalam diri Pramesti yang tidak banyak orang tahu.

Pr: Saya juga bermain piano dan gitar, kak.

P: Lalu, prestasi yang didapat mulai kecil hingga kini?

Pr: Justru Fashion show, Kak. Pertama waktu TK, kemudian mewakili sekolah dalam lomba desain dan model. Saya juga bermain piano solo dalam ajang FLS2N, dan saya juga sempat mengikuti kelas renang, dan ketika saya masuk SMPN 3 Malang ini, saya tergabung dalam ekstrakurikuler Olimpiade IPA, dan yang terbaru, saya juga sedang sibuk sebagai sekretaris 1 OSIS SMPN 3 Malang.

Dari semua daftar kegiatan yang ia ikuti, tentu ada satu potongan kecil yang hilang, yakni taekwondo.

P: Lalu, sejak kapan Pramesti mulai menekuni taekwondo?

Pr: Saya terjun di bidang taekwondo sejak kelas 8 SMP, Kak.

Gambar 3. Aksi Pramesti ketika berlaga di ajang Taekwondo. Sumber: Dokumentasi pribadi Pramesti

Dua tahun. Hanya dalam waktu dua tahun, Pramesti berhasil menyabet berbagai penghargaan bergengsi taekwondo di Tingkat kota Malang maupun provinsi Jawa Timur. Selain talenta, semua prestasi ini juga merupakan cerminan dari kerja keras yang ia jalani tiap hari.

P: Lantas dengan kegiatan sepadat itu, bagaimana cara Pramesti menyeimbangkannya dengan kewajiban di sekolah?

Pr: Untungnya, saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam studi saya. Meskipun terkadang, karena waktu Latihan taekwondo jatuh pada malam hari, saya harus mengerjakan tugas dan mencicil belajar ketika waktu istirahat di sekolah, saya tidak merasa terlalu terbebani.

Mungkin bagi Pramesti, hal yang ia katakan bukanlah sebuah beban, akan tetapi bagi saya yang menjadi pendengar, saya dapat membayangkan seberapa melelahkan semua kegiatan yang ia tekuni. Mungkin, inilah yang sering disebut dalam berbagai cerita epos, bahwa untuk mendaki ke puncak, selalu dibutuhkan pengorbanan besar dalam perjalanannya.

P: Lantas, dengan kegiatan sebanyak itu, apa yang sebenarnya Pramesti ingin capai?

Pr: Karena saya tahu, setiap bertambah umur, bertambah dewasa pikiran, maka berubah pulla lah cita-cita tiap orang. Karena itu saya merasa saya membutuhkan banyak recana, untuk jikalau saya gagal di satu rencana, saya masih mempunyai opsi yang lain untuk menyiapkan masa depan saya. Boleh dibilang, saat ini, saya masih dalam masa eksplorasi, Kak.

Eksplorasi. Mungkin itulah kata kuncinya mengapa Pramesti masih bersemangat mengikuti berbagai kegiatan. Cara berpikir yang logis, tentu, tapi tak banyak dapat ditemui di kalangan remaja saat ini.

P: Lalu, apa yang sekarang Pramesti sedang fokuskan?

Pr: Mungkin saat ini, saya sedang terpaku di bidang olimpiade IPA, taekwondo, dan menggambar.

P: Bagaimana dengan rencana tahun ini?

Pr: Untuk bidang olimpiade, saya sempat melihat informasi yang beredar terkait kompetisi yang diadakan platform Ruang Guru, dan saya cukup tertarik untuk mengikutinya. Sedangkan untuk taekwondo, saat  ini, saya sedang menunggu turunnya informasi terkait kompetisi internasional yang diadakan di negara Korea Selatan dan mungkin saya akan mengikuti beberapa kompetisi antar pelajar juga.

Target yang tinggi telah dipatok oleh pramesti untuk dirinya sendiri. Tak akan mudah memang. Akan tetapi, saya dapat melihat keyakinan pada raut wajah Pramesti.

P: Mungkin ini akan jadi pertanyaan terakhir hari ini.Tadi, Pramesti menyinggung cita-cita yang akan berubah seiring bertambah usia. Lantas, apa cita-cita Pramesti saat ini?

Pr: Antara ingin menjadi dokter militer atau bekerja di Lembaga BMKG, karena orang tua saya bekerja di sana.

Sekali lagi, cita-cita yang tinggi dipatok oleh Pramesti terhadap dirinya sendiri. Jujur, ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan siswi SMP yang telah mengetahui apa yang diinginkannya sejak remaja dan telah berusaha keras sejak dini. Akan tetapi, rasa khawatir tentu tak bisa luput, mengingat pada akhirnya, ia hanyalah seorang pelajar biasa.

P: Apakah Pramesti pernah mengalami burn out? Tiba-tiba berpikir, kenapa sih Pramesti harus seaktif ini? Lalu, apa yang Pramesti lakukan untuk mengatasinya?

Pr: Tentu pernah, ya Kak. Biasanya, kalua masih di tahap bosan, mungkin keluar jalan-jalan sebentar atau main game bisa jadi solusi. Kemudian, saya juga sering cerita kepada orang tua saya dan meminta nasihat kepada mereka, dan syukurlah, mereka selalu mendukung saya dalam setiap kegiatan yang saya lakukan.

Mungkin di situlah semua kekuatan dalam diri Pramesti berasal. Tidak bermaksud mengerdilkan semua jerih payah yang telah ia lakukan, akan tetapi, keberadaan orang tua yang selalu mendukung dari belakang dapat dikatakan sebagai alasan terkuat kenapa Pramesti dapat terus melangkah ke depan.

Selain berbicara tentang kegiatannya, kami juga membicarakan banyak hal, terkait hobi, sekolah, dan terkait teman-teman sekitarnya. Dari percakapan tersebut, saya semakin yakin terhadap impresi pertama saya, bahwa Pramesti adalah seorang eksplorator sejati, dan masa depan yang luas akan selalu terbentang di hadapannya, buah dari investasi yang telah ia tanam sejak kini.

Penulis : Achmad Zulfikar

Editor : Yuli Anita

Categories
Reportase

Titah Gayatri, Sang Petarung di Atas Papan Hitam-Putih

Namanya Titah Gayatri. Jika melihat sekilas dari perawakannya saja, banyak orang mungkin akan berpikir ia hanya siswi SMP biasa, sedang berharap-harap cemas akan masuk SMA mana. Akan tetapi, tidak akan ada yang menyangka bahwa di balik tubuh gadis mungil tersebut, tersimpan segudang prestasi yang ia telah pupuk sejak dini, siap dituai sewaktu-waktu.

Berawal dari medali perunggu yang ia raih pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur untuk kelompok usia tujuh tahun di tahun 2015, karir siswi SMP Negeri 3 Malang tersebut melonjak drastis pasca Pandemi Covid-19 empat tahun silam. Berbagai penghargaan ia sabet, mulai dari medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022, Juara 3 Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri sebulan setelahnya, hingga yang terbaru adalah Juara 3 JAPFA Chess festival 2023 kategori putri kelompok usia 14 tahun.

Dengan segudang prestasi di genggamannya, saya merasa sangat antusias ketika mendapatkan kesempatan untuk berbincang ringan dengan Titah Gayatri pada hari Selasa (04/06). Darinya, saya mendapatkan banyak pandangan tentang lika-liku perjalanan atlet catur muda dalam mengejar mimpinya.

Bincang ringan dengan Titah Gayatri, pecatur berprestasi SMP Negeri 3 Malang.

Pewawancara (P): Let’s start with a general question. Mengapa catur? Sejak kapan mengenal papan catur dan apa yang membuat seorang Titah Gayatri mulai tertarik bermain catur?

Titah Gayatri (TG): Saya mulai bermain catur dari umur lima tahun, Mas.

P: Lima tahun?!

Jujur, saya cukup terkejut mendengar jawaban Titah. Saya yang memiliki keponakan berusia sekitar lima menuju enam tahun tahu persis betapa sulitnya mengajak anak seusia tersebut untuk duduk diam dan berkonsentrasi selama lebih dari setengah jam, belum pula mengajarkan konsep catur yang bisa dibilang rumit bahkan untuk orang dewasa sekalipun.

Pujian tidak hanya layak dilayangkan kepada Titah dan bakat luar biasanya, melainkan juga kepada pihak keluarga dan pelatih yang mampu bersabar membimbing Titah sejak dini.

TG: Iya, Mas. Saya mulai bermain catur sejak umur lima tahun. Waktu itu, ayah dan kakek yang mengenalkan saya kepada permainan papan catur ini.

P: Kalau begitu, profesi kakek dan ayah Titah..?

TG: Keduanya adalah pelatih catur.

Setelah menggali lebih dalam, putri bungsu dari empat bersaudara ini mengungkapkan bahwa ia memang berasal dari keluarga catur. Selain ayah dan kakeknya, ketiga kakak Titah juga bergelut di bidang catur. Bahkan, kakak laki-lakinya, Nayaka Budhidharma (18) telah mendapatkan gelar master FIDE (FM) di tahun ini, bertengger nyaman di posisi 26 dalam jajaran pecatur terbaik nasional saat ini.

Nayaka Budhidharma, Kakak dari Titah Gayatri dan pecatur nasional bergelar Master FIDE. Source:FIDE.

Akan tetapi, bukan Nayaka yang menjadi tokoh utama di wawancara kali ini, melainkan Titah yang sedang berjuang mengikuti jejak keberhasilan sang kakak.

P: Lalu, apa catur di mata Titah Gayatri saat ini? Apakah sekedar hobi? Lifestyle? Atau sudah menjadi mimpi yang ingin dikejar?

TG: Saat ini, mungking lebih ke mimpi yang ingin dikejar. Saya bahkan sedang berada di posisi saya lebih bersemangat untuk bermain catur daripada belajar.

P: Lantas, adakah kesulitan di sekolah karena harus bergelut di bidang catur juga?

TG: Kesulitan sih ada. Tapi mungkin banyak yang berasal dari diri saya sendiri, seperti susah menghafal di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) atau tidak mengerti materi pelajaran menjelang ujian. Untungnya, hingga saat ini saya masih tidak pernah mengalami kesulitan di sekolah akibat terlalu focus di bidang catur.

Setelah bertanya pada ibu Yuli Anita, wali Kelas dari Titah Gayatri, beliau mengungkapkan bahwa Titah sendiri masuk dalam golongan siswa yang pintar. Meskipun berada di kelas empat semester dan harus menyelesaikan Pendidikan jenjang SMP hanya dalam waktu dua tahun, Titah masih selalu konsisten mendapat nilai di atas rata-rata. Hal ini membuktikan bahwa meskipun Titah sudah membulatkan tekad pada dunia catur, sekolah masih menjadi prioritas utamanya hingga kini.

P: Apa yang menyebabkan perubahan pola pikir tersebut? Sejak kapan Titah menganggap bahwa catur bukan hanya sekedar hobi saja?

TG: Mungkin sejak pandemi Covid-19 ya, Mas. Meskipun sebelumnya, saya juga sudah memiliki prestasi, tapi karena saya masih terlalu kecil, saya belum pernah membayangkan ingin menjadi apa ketika dewasa kelak. Akan tetapi, ketika sekolah berubah menjadi dari rumah, saya menggunakan banyak waktu luang saya untuk belajar lebih dalam tentang catur. Setelah sekian lama, saya mulai berpikir, kenapa tidak?

Ya, berbeda dari remaja lainnya yang banyak menghabiskan waktu mereka di kala pandemi dengan hanya bermain Tiktok atau aplikasi sejenisnya, Titah memutuskan untuk memanfaatkannya secara produktif dengan memperdalam ilmu catur yang ia miliki. Hal tersebut berbuah manis dua tahun pasca pandemi, ketika Titah baru saja menjadi siswi SMP Negeri 3 Malang. Ia berhasil menyabet medali emas pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur kelompok usia 13 tahun pada bulan September 2022 serta meraih Juara 3 pada Festival Catur Pelajar Nasional kategori SMP putri pada bulan Oktober di tahun yang sama, sebuah lonjakan prestasi yang luar biasa dalam kurun waktu dua tahun.

Titah Gayatri ketika memenangkan medali emas Kejuaraan Provinsi Jawa Timur 2022 kategori putri KU 13.
Titah Gayatri, peraih juara 3 ajang JAPFA Chess Festival 2023 kategori putri KU 14.

P: Adakah sesuatu yang Titah belajar banyak dari dunia catur dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

TG: Mungkin karena catur adalah olahraga yang menuntut akurasi tinggi dalam waktu terbatas, yang paling banyak diterapkan adalah manajemen waktu dan selalu berpikir untuk beberapa Langkah ke depan.

P: Dan mungkin ini akan menjadi pertanyaan terakhir saya hari ini. Apa target yang ditetapkan untuk diri sendiri di tahun ini dan apa harapan seorang Titah Gayatri untuk karir caturnya di masa depan?

TG: Untuk tiap tahun, target yang saya tetapkan selalu sama, yaitu memenangkan kejuaraan nasional. Karena jika saya berhasil berprestasi di kejuaraan nasional, besar kemungkinan bagi saya untuk diberangkatkan ke luar negeri (Untuk kompetisi internasional). Sedangkan untuk harapannya, saat ini saya masih tetapkan di gelar FIDE Master Wanita (WFM) terlebih dahulu. Setidaknya, gelar WFM ini adalah lower ceiling saya. Untuk harapan setelah itu, saya akan pikirkan lagi setelah satu (harapan gelar WFM) ini tercapai.

Kejuaraan nasional. Setelah memenangkan medali emas di kejuaraan provinsi Jawa Timur dua tahun silam, Titah mengalihkan targetnya menuju kejuaraan tertinggi di Indonesia. Dan benar katanya, mereka yang mampu meraih gelar di gelaran ini mendapatkan kesempatan besar untuk diberangkatkan oleh Persatuan Catur Indonesia (PERCASI) menuju kompetisi internasional.

Dan melihat dari perjalanan karirnya, memenangkan kejuaraan nasional bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Titah. Buktinya, ia mampu meraih 6 poin dari 9 permainan di kejuaraan nasional pertamanya tahun lalu, dimana Titah berhasil menduduki posisi 9 di klasemen akhir. Jika ia mampu lolos menuju kejuaraan nasional tahun ini di Gorontalo, pengalaman dari tahun lalu akan menjadi bekal berharga untuk meraih hasil yang lebih baik lagi.

Statistik akhir Titah Gayatri pada gelaran kejuaraan nasional 2023.

Selain berbincang masalah catur, saya juga sempat bertanya seputar pribadi Titah; mulai dari hobi, keseharian, hingga masalah sekolah. Dari pembicaraan tersebut, saya sedikit banyak dapat melihat seperti apa diri Titah Gayatri yang sebenarnya.

Meskipun bertubuh kecil dan agak pendiam, Titah Gayatri adalah sosok yang ambisius. Dan meskipun di dunia catur profesional, ia bukanlah sosok super jenius yang mampu menggemparkan jagat dunia layaknya para pecatur ulung India, Titah adalah seorang petarung. Demi mewujudkan mimpi-mimpinya, Titah adalah seorang petarung tangguh di atas papan hitam-putih yang siap membantai lawan-lawannya.

Penulis: Achmad Zulfikar.

Editor: Yuli Anita.