Categories
Cerita

Di Chatten Waktu Berhenti dan Obrolan Tak Pernah Usai

Chatten Koffie en Plaats , sumber gambar: Ajak Dolan

Mobil kami terus berjalan menembus lalu lintas kota Batu yang tidak begitu ramai untuk ukuran akhir pekan.

Sesudah melalui jalanan aspal juga makadam dan kadang berkelok-kelok, akhirnya kami sampai di tujuan. Chatten Koffie en Plaats, sebuah cafe yang terletak di daerah Bumiaji kota Batu.

Chatten. Sebuah kata dalam bahasa Belanda yang berarti ngobrol. Logo cafe  ada di mana mana bergambar tiga orang yang sedang mengobrol. Hal yang menggambarkan konsep cafe ini yang menyediakan tempat agar pengunjungnya bisa mengobrol dengan hangat.

Dari parkiran, kami segera menuju cafe. Sebuah bangunan berbentuk bulat unik dengan taman di sekitarnya ada di hadapan kami.

Gambar-gambar di dinding dengan nuansa vintage membawa kita merasakan nuansa tahun 1960 an. 

Depan Chatten Koffie en Plaats, dokumentasi Andre

Kami terus memasuki halaman cafe. Bunga bunga kecil yang bermekaran di sekitar taman seolah tersenyum menyambut kehadiran kami.

Kehadiran pohon botol dan Walisongo di depan cafe membuat keunikan Chatten kian terasa.

Diterangkan bahwa pohon botol adalah tanaman khas dari Queensland Australia. Pohon ini memiliki toleransi terhadap kekeringan dan tingginya bisa mencapai 25 meter.

Pohon botol dan Walisongo, dokumentasi pribadi

Sedangkan tanaman di sekitarnya dinamakan walisongo karena dalam setiap tangkai tanaman terdiri dari 9 helai daun.

Kami terus masuk ke cafe dan menuju tempat duduk di bagian luar. Suasana terasa demikian segar. Ada hijau di mana-mana. Mata seolah dimanjakan dengan keindahan pemandangan sawah, area kebun jeruk juga berbagai pepohonan di sekitar kami.

Suasana di Chatten, dokumentasi Andre

Dari kejauhan Gunung Panderman dan Arjuno tampak tegak berdiri kokoh.

Sesudah memesan makanan, kamipun memilih tempat di dalam cafe bagian atas. 

“Di atas pemandangannya lebih bagus,” kata Mbak yang menyambut kedatangan kami.

Berbeda dengan di bagian luar, di cafe bagian dalam suasana terasa sangat sejuk. Dan benar apa yang dikatakan Mbak tadi, di atas pemandangan  tampak begitu indah. 

Salah satu keistimewaan Chatten adalah, dari tingkat paling atas kita bisa melihat keindahan pemandangan kota Batu dengan view 360 derajat.

Pemandangan Batu dari ketinggian, dokumentasi pribadi

Suasana di atas begitu nyaman, pengunjung belum begitu banyak. Sengaja kami pilih tempat duduk di sofa karena kami datang berdelapan. Pertimbangannya dengan duduk- duduk di sofa ngobrol bisa lebih hangat sekaligus gayeng. He..he… serasa ngobrol di rumah sendiri.

Pesanan mulai datang. Capuccino, lemon tea, wedang uwuh, pisang goreng, kentang goreng dan hidangan yang lain.

Kombinasi lapar dan dingin membuat makan terasa demikian nikmat.

Suasana di lantai dua, dokumentasi pribadi

Sambil menikmati aneka hidangan berbagai cerita mengalir hangat, diiringi tawa dan canda di antara kami. 

Sesudah semua hidangan habis, kami segera  sholat dilanjutkan dengan berjalan-jalan di sekitar cafe untuk mencari spot- spot yang bagus buat berfoto.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Berarti sudah sekitar dua jam kami ada di Chatten.

Berfoto dengan latar belakang Chatten Koffie en Plaats (pengarah gaya dan dokumentasi Mbak Wiwin)

Aih, begitu cepat rasanya waktu berlalu. Lampu- lampu taman mulai dihidupkan, dan pengunjung semakin banyak yang datang.

Bergegas kami menuju parkiran. Mas Andre dari dolan 4six, teman setia kami sudah siap mengantar ke destinasi berikutnya.

“Sudah siap?” tanya Mas Andre ramah.

“Siyaap,” jawab kami hampir bersamaan. Sesudah ngobrol dan tertawa bersama, hati terasa begitu ringan.

Kian terasa betapa bahagia itu sederhana. Dari duduk, ngobrol dan ngopi bareng teman, ia akan tercipta dengan sendirinya .

Categories
Uncategorized

“Permisi Mbak, Kami Mau Naik Kuda dan Gajah…”

Jumat siang itu tiba-tiba saya mendapat untuk makan siang dari teman grup Sidohealing. Meski semula agak ragu menerima ajakan tersebut (takut kalau ada agenda tertentu sesudah sholat jumat, juga karena saya dititipi cucu), namun sungguh ajakan itu sangat menggoda.

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung dalam jalan-jalan siang hari itu.
Tujuan langsung ditetapkan setelah rapat sebentar di depan kelas 9.1. Matahari Food Court.

Aha, sudah lama sekali saya tidak ke sini.

Sekitar pukul setengah dua belas grab yang kami pesanpun datang. Berenam kami segera naik dan cuz…. langsung menuju lokasi.

Food court siang itu sudah mulai ramai. Saatnya kantor-kantor istirahat makan siang.

Kesibukan di berbagai stand tampak begitu nyata. Penjual berbagai makanan sibuk melayani pembelinya. Ada yang berjualan soto Lamongan, berbagai masakan China, lalapan, bakso dan banyak lagi.

Sambil pesan, saya memperhatikan keadaan sekitar. Rupanya persis di depan tempat duduk kami adalah lokasi bermain anak-anak, makanya suaranya ramai sekali.

Suara melodi dari berbagai alat permainan terdengar sangat menggoda, ditambah dengan warna-warni lampu yang ada. Melihat semua itu Si kecil Kimi sudah mulai gelisah.
“Ayo, main Uti…, ” bisiknya pada saya. Mula-mula saya menolak dengan alasan Kimi masih pakai seragam sekolah. Tapi demi
melihat Kimi terus- menerus melihat tempat bermain sayapun tidak tega.

“Bu, saya ke tempat bermain sebentar ya..,” kata saya sambil mengajak Kimi ke tempat permainan.

Teman-teman mengiyakan sambil meneruskan obolan sembari menunggu pesanan.

Melihat mobil- mobilan ataupun kendaraan dengan hiasan bermacam-macam binatang membuat mata Kimi berbinar.

Naik mobil mobilan, dokumentasi pribadi

“Boleh naik kuda, Uti?” pintanya.
“Boleh …,” jawab saya otomatis. Ketika mau saya naikkan , lho saya baru sadar kalau saya tidak pernah sama sekali masuk arena permainan semacam itu. Prosedur mainnya bagaimana saya tidak tahu. Mateng aku ..

Bergegas saya menuju Mbak penjaga mainan. “Mbak, mau naik kuda,” kata saya pada si Mbak.
Mbaknya melihat saya sejenak, lalu sambil menahan senyum ia berkata,
“Ibu beli coin dulu,”
“Oh, ya? Untuk naik kuda bayarnya berapa?” tanya saya lagi.
“Satu coin. Percoin harganya dua ribu,” jawab Si Mbak ramah.

Naik kuda kudaan, dokumentasi pribadi

“Oh, begitu ya, saya beli tiga coin ,” kata saya sambil mengeluarkan uang enam ribu.
“Mau naik kuda sama naik gajah Mbak,” lanjut saya

Setelah menerima tiga coin , Kimi segera saya naikkan ke atas kuda-kudaan. Ada masalah lagi, coinnya dimasukkan di mana?

Saya melihat ke Mbak Penjaga lagi. Mau tanya, tapi malu..
“Tunggu ya, Nduk,”kata saya sambil mencari di bagian mana dari kuda itu yang bisa dimasuki coin.
Tiba-tiba,
“Uti, coinnya masuk sini,” kata Kimi sambil menunjukkan lubang mirip celengan.
Aha, benar saja.. begitu coin masuk, klunting…. kuda langsung bergoyang naik turun selama sekian menit.

Setelah kuda berhenti bergoyang, kami masih punya dua coin. Buat mainan apa ini? batin saya.

Mulanya mau saya naikkan gajah. Tapi karena mainan gajah tidak ada pegangannya, Kimi segera saya naikkan mobil-mobilan.

Dua coin dimasukkan. Saya pikir mobilnya jalan, eh, ternyata gerakan mobil sama bergoyang-goyang seperti kuda, naik turun, tapi dengan durasi yang lebih lama.

“Uti,kok lama sih…?” kata Kimi mulai bosan. Lha iya, habis digoyang goyang kuda, kok sama mobil digoyang goyang lagi.

Sesudah tiga coin habis, kami segera menuju meja. Aha, sepiring bakmi, tiga porsi lalapan dan KFC buat Kimi telah tersedia. Tak ketinggalan sari jeruk sebagai penutup hidangan.

Subhanallah. Makan siang yang terasa menyenangkan. Tidak hanya lezat dan akrab, namun juga memberikan pengalaman yang lucu sekaligus memalukan.

Setiap membayangkan betapa culunnya saya saat bilang sama Si Mbak bahwa Kimi mau naik kuda dan gajah, saya tersenyum sendiri. Hadeeh, malu-maluin. Si Mbak mana peduli kita mau naik apa saja? Yang penting kan beli coin..